Aku baru benar-benar memahami arti kehilangan ketika semua pintu yang selama ini kubuka dengan uang Ayu mendadak tertutup dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.
Malam itu aku duduk di tepi ranjang kamar tamu dengan kedua tangan menutupi wajah. Dari ruang tengah terdengar suara Arham menangis, disusul suara Sintia yang menenangkannya dengan nada kesal.
Aku bahkan tidak berani keluar.
Ponselku terus bergetar.
Pesan dari Rian.
Telepon dari pihak katering.
Pesan dari pemilik gedung.
Notifikasi tagihan kartu kredit.
Semuanya datang hampir bersamaan.
Namun yang paling membuatku takut adalah satu pesan singkat dari nomor yang sangat kukenal.
Ayu.
Besok pukul sembilan pagi, datang ke kantor notaris Pak Haris. Jangan terlambat.
Hanya itu.
Tak ada makian.
Tak ada ancaman.
Tak ada kalimat panjang seperti yang biasa keluar ketika kami bertengkar.
Justru karena itulah tubuhku terasa dingin.
Aku meneleponnya berkali-kali.
Tidak diangkat.
Kukirim pesan.
Ayu, kita bisa bicara baik-baik.
Tidak dibalas.
Ayu, aku tahu aku salah.
Tetap tak ada jawaban.
Akhirnya aku mengetik kalimat yang bahkan membuatku sendiri merasa rendah.
Aku masih suamimu.
Pesanku dibaca.
Beberapa detik kemudian, muncul balasan.
Besok. Jam sembilan.
Aku menatap layar lama sekali.
Pintu kamar tiba-tiba dibuka dari luar.
Sintia berdiri di sana sambil menggendong Arham.
Wajahnya terlihat lelah.
“Mas, aku mau tanya.”
“Apa?”
“Kita mau tinggal di sini sampai kapan?”
Aku mengernyit.
“Maksudmu?”
“Ya, rumah ini kan rumah Ayu.”
Aku langsung menegakkan badan.
“Ini juga rumahku.”
Sintia terdiam sesaat, kemudian menggeleng pelan.
“Setahuku sertifikatnya atas nama Ayu.”
Aku menatapnya tajam.
“Kamu sekarang kenapa jadi mempermasalahkan semua itu?”
“Aku cuma nggak mau nanti tiba-tiba disuruh keluar.”
“Siapa yang berani menyuruh kamu keluar?”
Sintia menatapku tanpa ekspresi.
“Ayu.”
Nama itu terdengar seperti tamparan.
Aku bangkit.
“Dia nggak akan berani.”
“Mas.”
“Apa?”
Sintia menurunkan suaranya.
“Kayaknya kamu belum sadar. Dia sudah berani.”
Aku terdiam.
Kalimat itu membuat dadaku seperti ditusuk.
Benar.
Ayu memang sudah berani.
Bahkan mungkin sejak lama.
Hanya saja selama ini aku terlalu yakin bahwa dia tidak akan pernah meninggalkanku.
Aku selalu berpikir perempuan seperti Ayu akan bertahan demi rumah tangga.
Demi nama baik.
Demi keluarga.
Demi kenangan.
Aku salah.
Pagi berikutnya aku tiba di kantor notaris pukul sembilan lewat tujuh menit.
Ayu sudah duduk di sana.
Dia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana hitam. Rambutnya diikat rapi. Tidak ada riasan berlebihan.
Namun entah kenapa, pagi itu aku merasa sedang berhadapan dengan perempuan yang sama sekali berbeda.
Di sampingnya duduk Pak Haris, notaris yang dulu membantu mengurus beberapa dokumen bisnis Ayu.
“Akhirnya datang juga,” kata Ayu.
Aku menarik kursi.
“Kita ngomong berdua saja.”
“Nggak perlu.”
“Ayu.”
“Semua yang mau kubicarakan hari ini berkaitan dengan dokumen. Lebih baik ada saksi.”
Aku menahan emosi.
“Apa maumu?”
Ayu mendorong sebuah map cokelat ke arahku.
Aku membukanya.
Surat permohonan perceraian.
Darahku seperti berhenti mengalir.
“Kamu serius?”
Ayu menatapku lurus.
“Sangat.”
Aku tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Aku hanya tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
“Karena uang?”
“Karena terlalu banyak hal.”
“Aku bisa jelaskan.”
“Aku sudah terlalu sering mendengar penjelasanmu.”
“Aku cuma membantu Sintia!”
“Dengan uangku?”
Aku langsung diam.
Untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan itu, suara Ayu meninggi sedikit.
“Uang yang kamu pakai untuk pestanya, uang yang kamu transfer untuk sewa apartemennya sebelum dia pindah ke rumah kita, uang yang kamu pakai buat beli ponsel baru, biaya rumah sakit anaknya, bahkan cicilan mobil yang katanya untuk operasionalmu. Semua keluar dari rekening milikku.”
Aku menelan ludah.
“Kamu memeriksa semuanya?”
“Tentu.”
Ayu mengeluarkan beberapa lembar mutasi rekening.
Ada stabilo kuning di banyak transaksi.
Terlalu banyak.
Jumlahnya jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.
“Seratus delapan puluh tujuh juta dalam sebelas bulan,” kata Ayu.
Aku mendongak cepat.
“Nggak mungkin.”
“Sangat mungkin.”
“Tapi aku juga ikut menghasilkan uang.”
Ayu tersenyum tipis.
“Itu juga sudah kuhitung.”
Dia menggeser lembar lain.
“Kontribusi penghasilanmu ke rekening rumah tangga dalam sebelas bulan terakhir cuma tiga puluh dua juta.”
Aku terdiam.
Pak Haris tidak berkata apa-apa.
Namun diamnya terasa mempermalukanku.
“Aku suamimu,” kataku akhirnya. “Harusnya nggak ada hitung-hitungan begini.”
Ayu mengangguk pelan.
“Benar. Seharusnya tidak perlu.”
Aku merasa sedikit lega.
Namun kalimat berikutnya menghancurkan harapanku.
“Kalau kamu memperlakukanku sebagai istri, bukan mesin ATM.”
Aku mengepalkan tangan.
“Ayu, jangan berlebihan.”
“Berlebihan?”
Dia tertawa kecil.
“Masih ingat waktu aku demam tinggi dan minta ditemani ke rumah sakit?”
Aku diam.
“Kamu bilang ada rapat.”
Aku menunduk.
“Ternyata kamu sedang menemani Sintia melihat venue pesta.”
“Aku sudah minta maaf.”
“Masih ingat ulang tahun pernikahan kita?”
“Ayu.”
“Kamu lupa.”
Dia menatapku.
“Tapi tiga hari kemudian kamu menyewa restoran untuk ulang tahun Sintia.”
Aku mulai merasa sesak.
“Aku cuma kasihan sama dia.”

“Dan aku capek menjadi orang yang selalu harus memahami rasa kasihanmu pada perempuan lain.”
Tak ada yang bisa kukatakan.
Ayu menarik napas panjang.
“Rumah yang sekarang kamu tempati juga harus dikosongkan.”
Aku langsung menatapnya.
“Apa?”
“Paling lambat tiga hari.”
“Kamu gila?”
“Itu rumah atas namaku.”
“Aku suamimu!”
“Untuk sementara.”
Kalimat itu membuatku bangkit.
Kursiku bergeser kasar.
“Ayu, jangan keterlaluan!”
Pak Haris ikut berdiri.
Namun Ayu tetap duduk.
Tenang.
Tatapannya tidak berubah.
“Aku keterlaluan?” tanyanya. “Selama hampir setahun kamu membiarkan Sintia tinggal dekat dengan kehidupan kita. Kemudian kamu membawanya masuk ke rumahku. Kamu pakai uangku untuk memenuhi permintaannya. Kamu mempermalukanku di depan keluargamu sendiri ketika aku menolak membiayai pesta perempuan itu.”
“Itu bukan cuma untuk Sintia.”
“Siapa yang meniup lilinnya?”
Aku terdiam.
Ayu berdiri.
“Aku tidak menyuruhmu membayar semua uang yang sudah kamu habiskan.”
Aku sedikit terkejut.
“Tapi aku mau kamu keluar dari semua yang kubangun.”
Dia menunjuk dokumen di meja.
“Rekening sudah diamankan. Kartu tambahan sudah dibatalkan. Mobil yang kamu pakai terdaftar atas nama perusahaan, jadi sore ini akan diambil. Rumah dikosongkan dalam tiga hari.”
Wajahku memanas.
“Kamu mau bikin aku jatuh miskin?”
Ayu menatapku seolah pertanyaanku sangat aneh.
“Bukan aku yang membuatmu miskin.”
Dia mendekat sedikit.
“Kamu hanya baru sadar selama ini kamu tidak pernah sekaya yang kamu kira.”
Aku pulang dengan kepala penuh amarah.
Namun ketika sampai di rumah, sebuah mobil derek sedang terparkir di depan pagar.
Mobil SUV yang biasa kupakai sudah dinaikkan setengah badan.
Aku langsung berlari.
“Hei! Itu mobil saya!”
Petugas menunjukkan surat.
“Kami hanya menjalankan tugas, Pak.”
Aku menelepon Ayu.
Kali ini dia mengangkat.
“Apa lagi ini?”
“Sudah kubilang tadi.”
“Kamu serius mengambil mobil?”
“Itu aset perusahaan.”
“Aku pakai buat kerja!”
“Kerja di mana?”
Aku terdiam.
Dua bulan sebelumnya aku memang sudah keluar dari kantor setelah bertengkar dengan atasan.
Namun kepada Ayu aku bilang aku masih bekerja dari rumah.
“Aku sedang cari pekerjaan baru.”
“Semoga cepat dapat.”
Telepon ditutup.
Aku menatap mobil yang dibawa pergi.
Di belakangku, Sintia berdiri di pintu rumah sambil membawa tas besar.
Aku langsung menghampirinya.
“Kamu mau ke mana?”
“Pulang.”
“Pulang ke mana?”
“Ke rumah kakakku di Bekasi.”
Aku membeku.
“Kamu ninggalin aku sekarang?”
Sintia terlihat tidak nyaman.
“Mas, aku punya anak. Aku nggak bisa ikut menghadapi masalah rumah tangga kalian.”
“Masalah ini muncul karena kamu juga!”
Wajah Sintia langsung berubah.
“Jangan salahkan aku!”
“Kamu yang minta pesta!”
“Kamu yang bilang sanggup!”
“Kamu yang minta ponsel!”
“Kamu yang beliin!”
“Kamu tahu uang itu punya Ayu!”
“Tapi aku nggak pernah paksa kamu!”
Suara kami semakin keras.
Arham mulai menangis.
Sintia mengangkat tasnya.
“Aku nggak mau ribut.”
Aku mencengkeram lengannya.
“Sin, jangan pergi.”
Dia menepis tanganku.
“Mas, dari awal aku nggak pernah janji akan hidup sama kamu.”
Kalimat itu membuatku tercekat.
“Apa?”
Sintia menatapku dengan mata tajam.
“Kamu sendiri yang selalu bilang mau bantu aku. Kamu sendiri yang bilang Ayu pelit. Kamu sendiri yang bilang uang di rumah kalian juga hakmu.”
“Tapi kamu bilang kamu sayang sama aku.”
Sintia tertawa kecil.
“Bilang sayang bukan berarti aku mau ikut tenggelam.”
Dadaku terasa kosong.
“Jadi selama ini apa?”
“Kita teman dekat.”
“Teman dekat?”
Aku hampir tak percaya mendengarnya.
“Teman dekat nggak tidur sambil saling kirim pesan sampai jam dua pagi.”
“Mas, jangan mulai.”
“Teman dekat nggak minta pesta belasan juta!”
“Aku memang salah. Tapi kamu yang membuatku percaya semua itu gampang buat kamu.”
Aku menatapnya lama.
Barulah aku mengerti.
Di depan Sintia, selama ini aku selalu berlagak menjadi laki-laki sukses.
Aku bicara seolah rumah itu milikku.
Mobil itu milikku.
Rekening itu milikku.
Aku membuatnya percaya aku sanggup memenuhi apa pun.
Kini ketika semua topeng itu jatuh, aku bahkan tidak punya apa-apa untuk ditawarkan.
Sintia pergi sore itu.
Tidak menoleh lagi.
Malamnya aku duduk sendirian di ruang keluarga.
Pesta yang kemarin terasa begitu meriah kini seperti mimpi buruk.
Balon dekorasi yang belum sempat dibuang masih terselip di sudut ruangan.
Di meja ada gelas plastik dengan tulisan nama Sintia.
Aku meremasnya sampai penyok.
Untuk pertama kalinya aku tidak marah kepada Ayu.
Aku marah kepada diriku sendiri.
Tiga hari kemudian, aku pindah ke kamar indekos kecil di daerah Tebet.
Sebagian barangku kutitipkan kepada adikku.
Sebagian lagi kujual untuk membayar Rian dan melunasi katering.
Aku bahkan menjual jam tangan pemberian Ayu saat ulang tahunku dua tahun lalu.
Harganya tidak seberapa dibandingkan saat dibeli.
Tetapi cukup untuk membuatku lolos dari laporan polisi.
Perceraian kami berjalan lebih cepat daripada yang kubayangkan.
Ayu tidak menuntut macam-macam.
Dia hanya ingin selesai.
Itu justru yang paling menyakitkan.
Aku sempat datang ke kantornya beberapa minggu kemudian.
Resepsionis menahanku.
“Ada janji, Pak?”
“Saya suaminya Bu Ayu.”
Perempuan itu tersenyum canggung.
“Maaf, Pak. Bu Ayu sedang ada pertemuan.”
Aku duduk hampir satu jam.
Ketika akhirnya Ayu keluar dari lift, dia berjalan bersama dua orang laki-laki yang membahas proyek baru.
Dia melihatku.
Langkahnya berhenti.
“Ayu.”
Dia meminta kedua rekannya berjalan duluan.
“Ada apa?”
Aku berdiri.
“Aku mau minta maaf.”
Ayu diam.
“Serius.”
Untuk pertama kali, aku mengatakan sesuatu tanpa membela diri.
“Aku salah. Bukan cuma soal uang. Aku salah karena merasa kamu akan selalu ada, apa pun yang kulakukan.”
Wajah Ayu melembut sedikit.
“Aku juga salah.”
Aku terkejut.
“Salah apa?”
“Terlalu lama membiarkanmu berpikir begitu.”
Aku menunduk.
“Apa masih ada kesempatan?”
Ayu tidak segera menjawab.
Beberapa detik terasa seperti satu jam.
Kemudian dia menggeleng.
“Kesempatanmu sudah habis, Mas.”
Dadaku terasa runtuh.
“Karena Sintia?”
“Bukan.”
Ayu menatapku.
“Kalau masalahnya hanya Sintia, mungkin luka itu masih bisa sembuh.”
“Lalu?”
“Karena aku sudah nggak percaya sama kamu.”
Aku diam.
“Uang bisa dicari lagi. Rumah bisa dibeli lagi. Bahkan harga diri yang rusak masih bisa dibangun pelan-pelan.”
Suara Ayu tetap tenang.
“Tapi kepercayaan yang dihancurkan berkali-kali nggak selalu punya jalan pulang.”
Dia berbalik.
Aku memanggilnya.
“Ayu.”
Dia berhenti.
“Aku dengar kamu mau buka cabang baru.”
Ayu menoleh sedikit.
“Dari siapa?”
“Adikku.”
Aku memaksakan senyum.
“Selamat.”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ayu tersenyum padaku.
Bukan senyum seorang istri.
Bukan pula senyum perempuan yang masih berharap.
Hanya senyum seseorang yang sudah berdamai.
“Makasih.”
Lalu dia pergi.
Enam bulan kemudian, aku mendapat pekerjaan baru sebagai supervisor di sebuah perusahaan logistik.
Gajinya jauh lebih kecil daripada gaya hidup yang dulu kunikmati.
Aku naik motor bekas.
Tinggal di indekos.
Memasak mi instan ketika tanggal tua.
Anehnya, justru saat itulah aku mulai mengerti nilai uang.
Setiap seratus ribu terasa berarti ketika berasal dari keringat sendiri.
Suatu sore, aku bertemu Rian di minimarket.
Dia menatapku beberapa detik sebelum akhirnya menyapa.
“Gimana kabar?”
“Masih hidup.”
Dia tertawa.
“Kamu berubah.”
Aku tersenyum pahit.
“Harus jatuh dulu ternyata.”
Rian mengangguk.
Kemudian dia berkata sesuatu yang tidak pernah kulupakan.
“Kadang orang bukan berubah karena sadar. Kadang karena semua jalan untuk berbuat seenaknya sudah ditutup.”
Malam itu aku membuka media sosial.
Tanpa sengaja kulihat foto Ayu.
Dia berdiri di depan kantor cabang barunya di Surabaya bersama seluruh tim.
Wajahnya terlihat bahagia.
Di bawah foto itu ada ucapan selamat dari banyak orang.
Jariku sempat ingin mengetik pesan.
Namun akhirnya kuurungkan.
Aku hanya menekan tanda suka.
Beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk.
Bukan dari Ayu.
Dari Sintia.
Mas, apa kabar? Aku lagi butuh bantuan. Arham sakit.
Aku menatap pesan itu lama sekali.
Enam bulan lalu, mungkin aku akan langsung menelepon.
Mungkin aku akan mencari pinjaman.
Mungkin aku kembali melakukan apa saja agar terlihat sebagai penyelamat.
Namun kali ini aku hanya menarik napas.
Kemudian mengetik satu kalimat.
Maaf, Sin. Aku nggak bisa.
Pesan terkirim.
Aku meletakkan ponsel di atas meja.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa bersalah karena berkata tidak.
Saat itulah aku akhirnya memahami apa yang Ayu lakukan kepadaku.
Dia bukan sekadar memblokir rekening.
Dia memutus aksesku pada kehidupan palsu yang membuatku merasa berkuasa atas sesuatu yang tidak pernah benar-benar kumiliki.
Aku kehilangan rumah.
Kehilangan mobil.
Kehilangan Sintia.
Dan kehilangan seorang istri yang pernah mencintaiku dengan tulus.
Namun di balik semua itu, ada satu hal yang perlahan kutemukan kembali.
Diriku sendiri.
Sayangnya, untuk mendapatkannya, aku harus kehilangan Ayu selamanya.
Dan mungkin memang begitulah harga sebuah pelajaran ketika nasihat tidak lagi cukup.
Ada orang yang baru belajar menghargai setelah semuanya diambil.
Ada yang baru belajar setia setelah tak lagi dipercaya.
Ada pula yang baru mengerti arti rumah setelah pintunya benar-benar tertutup.
Aku adalah ketiganya.
Sementara Ayu tidak pernah benar-benar membalas dendam.
Dia hanya berhenti membiarkanku menikmati sesuatu yang bukan hakku.
Ternyata itu sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan seluruh dunia yang selama ini kubangun dari kebohongan.
