Aku menatap tulisan di layar ponsel itu sampai mataku terasa perih.
PROJECT GARUDA — BASKORO GROUP / INTERNAL CONFIDENTIAL.
Di bawah nama folder itu terdapat puluhan subfolder. Invoice Vendor, Tender Pemda, Purchase Order, Rekening Transit, hingga satu folder bernama Permata Supply.
Nama perusahaan Papa.
Jari-jariku mendadak dingin.
Aku langsung menelepon Dion.
Dia mengangkat pada dering pertama.
“Jangan sebut nama siapa pun kalau ada orang di dekatmu,” katanya tanpa salam.
Aku menoleh ke sekeliling ruang tunggu IGD. Hanya ada seorang perawat di meja administrasi dan dua keluarga pasien yang duduk cukup jauh.
“Aku sendirian.”
Dion mengembuskan napas.
“Folder itu ditemukan tiga minggu lalu saat tim audit memeriksa anomali transaksi salah satu distributor. Awalnya kami pikir cuma manipulasi invoice biasa. Ternyata jejaknya mengarah ke Baskoro Group.”
“Seberapa parah?”
Dion diam beberapa detik.
“Kalau dokumennya autentik, sangat parah.”
Dadaku terasa sesak.
Selama bertahun-tahun, Baskoro dikenal sebagai pengusaha konstruksi yang disegani. Perusahaannya menangani proyek apartemen, kawasan komersial, gudang logistik, bahkan beberapa proyek pemerintah daerah.
Di mata publik, dia adalah pria sukses dengan keluarga sempurna.
Di mata keluarganya, rupanya dia adalah orang yang boleh melakukan apa pun tanpa dibantah.
“Kenapa Papa belum pernah bilang?”
“Karena audit belum selesai. Om Hendra juga tidak mau menuduh sebelum bukti lengkap. Tapi malam ini semuanya berubah.”
Aku memejamkan mata.
“Apa hubungannya dengan Permata Supply?”
“Kami menemukan invoice atas nama perusahaan kita yang nilainya dinaikkan sampai tiga kali lipat. Ada tanda tangan digital palsu, purchase order yang tidak pernah kita keluarkan, dan rekening transit yang dibuat seolah-olah milik vendor afiliasi kita.”
Aku langsung berdiri.
“Berapa nilainya?”
“Yang sudah kami temukan sekitar empat puluh dua miliar rupiah.”
Aku merasa darahku turun ke kaki.
Empat puluh dua miliar.
Dion melanjutkan dengan suara rendah.
“Dan itu baru transaksi yang memakai nama perusahaan kita.”
Sebelum sempat bertanya lebih jauh, pintu ruang pemeriksaan terbuka.
Seorang dokter keluar dan memanggil namaku.
Aku segera memutus telepon.
“Bagaimana kondisi Bu Ratna, Dok?”
“Lukanya sudah kami tangani. Tidak ada perdarahan otak berdasarkan pemeriksaan awal, tapi ada memar cukup serius di bahu, lengan, dan punggung.”
Dokter berhenti sebentar.
Ekspresinya berubah.
“Beberapa memar bukan luka baru.”
Aku tahu persis maksudnya.
“Sudah berapa lama?”
“Kami tidak bisa memastikan tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Tapi ada bekas luka dalam beberapa tahap penyembuhan.”
Aku menelan ludah.
Jadi malam ini bukan pertama kalinya.
Aku masuk setelah mendapat izin.
Bu Ratna terbaring dengan perban kecil di pelipis. Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibanding beberapa jam lalu ketika dia tersenyum menyambut tamu di pelaminan.
Aku duduk di samping ranjang.
Beberapa saat kami tidak bicara.
Kemudian dia berbisik.
“Maaf.”
Aku mengernyit.
“Untuk apa?”
“Seharusnya Ibu memperingatkan kamu.”
Kalimat itu membuat tenggorokanku tercekat.
Bu Ratna menatap langit-langit.
“Rendy tidak seperti itu waktu kecil.”
Aku tidak menjawab.
“Dia anak yang lembut. Kalau melihat Ibu menangis, dia selalu duduk di samping Ibu.”
Air mata mengalir dari sudut matanya.
“Tapi semakin besar, semakin dia belajar bahwa cara paling aman hidup di rumah kami adalah menjadi seperti ayahnya.”
Aku menggenggam tangannya.
“Bu, apa yang terjadi malam ini bukan salah Ibu.”
Dia tersenyum pahit.
“Ibu diam terlalu lama, Nadia.”
“Diam karena takut bukan berarti Ibu menyetujui.”
Bu Ratna menoleh kepadaku.
Untuk pertama kalinya, tatapannya berubah.
Bukan hanya takut.
Ada sesuatu seperti keputusan yang baru terbentuk.
“Nadia, kalau Ibu bicara kepada polisi, apakah mereka bisa melindungi Ibu?”
Aku menarik napas.
“Kita akan cari bantuan hukum. Papa juga akan membantu. Tapi keputusan tetap milik Ibu.”
Bu Ratna terdiam lama.
Lalu mengangguk.
“Ibu mau bicara.”
Pagi mulai terang ketika polisi mengambil keterangan awal darinya.
Aku juga menjalani pemeriksaan medis untuk mendokumentasikan bekas tamparan dan memar di pergelangan tangan.
Sekitar pukul tujuh, Papa tiba.
Dia masih mengenakan kemeja putih dan celana bahan gelap. Tidak ada rombongan besar. Hanya Papa dan pengacara keluarga kami, Pak Adrian.
Begitu melihatku, Papa tidak langsung bertanya tentang Rendy atau Baskoro.
Dia memegang kedua bahuku.
“Lihat Papa.”
Aku menatapnya.
“Kamu yakin tidak ada bagian tubuh lain yang sakit?”
Aku menggeleng.
Barulah rahangnya sedikit mengendur.
Papa kemudian menemui Bu Ratna.
Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena aku diminta beristirahat di ruangan lain.
Sekitar setengah jam kemudian, Papa keluar bersama Pak Adrian.
Wajahnya sangat serius.
“Nadia, kita pulang.”
“Aku mau menemani Bu Ratna.”
“Dia tidak sendirian. Pengacara perempuan dari tim Pak Adrian akan mendampinginya. Polisi juga sedang memproses laporannya.”
Aku mengangguk.
Dalam perjalanan menuju rumah Papa di Bandung, ponselku terus bergetar.
Pesan dari Rendy.
Panggilan dari ibu Rendy.
Pesan dari sepupu-sepupunya.
Bahkan beberapa kerabat yang semalam diam kini mendadak ingin menjadi mediator.
Aku tidak membuka satu pun.
Sampai sebuah pesan dari Rendy muncul.
Kamu pikir membawa polisi akan menyelesaikan semuanya? Kamu mempermalukan keluargaku. Pulang sekarang dan kita selesaikan baik-baik.
Satu menit kemudian muncul pesan kedua.
Ayah akan menghentikan semua kontrak dengan perusahaan papamu.
Aku hampir tertawa.
Rendy benar-benar tidak tahu.
Aku mematikan layar.
Saat tiba di rumah Papa, Dion sudah menunggu di ruang kerja bersama tiga laptop dan setumpuk dokumen.
Papa menutup pintu.
“Sekarang kamu perlu tahu semuanya.”
Dion membuka layar pertama.
Selama delapan bulan terakhir, tim audit menemukan pola transaksi mencurigakan antara beberapa anak perusahaan Baskoro Group dengan vendor fiktif.
Nama Permata Supply digunakan untuk membuat dokumen pengadaan palsu.
Material yang sebenarnya dibeli seharga dua miliar dicatat enam miliar.
Selisihnya dialirkan ke perusahaan cangkang.

Dari sana, uang berpindah ke beberapa rekening.
Salah satunya atas nama perusahaan milik seorang kerabat Baskoro.
“Siapa?” tanyaku.
Dion mengklik sebuah dokumen.
Nama yang muncul membuatku tercekat.
Rendy Mahendra.
Suamiku.
Atau lebih tepatnya, pria yang selama enam jam pernah menjadi suamiku dalam pikiranku.
“Tidak mungkin.”
“Lihat tanda tangannya.”
Aku mengenal tanda tangan itu.
Aku melihatnya ratusan kali selama persiapan pernikahan.
Pada kontrak vendor.
Dokumen apartemen.
Bahkan formulir pernikahan kami.
Tanganku mengepal.
“Dia tahu?”
“Sulit mengatakan seberapa banyak. Tapi dia menandatangani dokumen pencairan.”
Dion membuka file lain.
Ada transfer senilai 6,8 miliar rupiah ke rekening perusahaan Rendy.
Tanggalnya dua bulan lalu.
Aku teringat percakapan kami saat itu.
Rendy mengatakan perusahaannya mendapat investor baru.
Aku bahkan mengucapkan selamat.
Ternyata mungkin bukan investor.
Papa duduk di seberangku.
“Papa tadinya berencana menyerahkan hasil audit ke pihak berwenang minggu depan setelah semua bukti diamankan.”
“Kenapa menunggu?”
“Karena kalau Baskoro tahu terlalu cepat, dia bisa menghancurkan bukti.”
Papa memandangku.
“Pernikahanmu membuat situasinya rumit.”
Aku menatap Papa.
“Papa sudah tahu sebelum aku menikah?”
“Papa tahu ada masalah dalam bisnis Baskoro. Papa tidak tahu Rendy terlibat sampai Dion menemukan rekening itu tiga hari lalu.”
Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku bergeser.
“Tiga hari?”
“Nadia.”
“Kenapa Papa tidak bilang?”
“Karena Papa belum punya bukti bahwa Rendy mengetahui sumber uangnya.”
“Kalau Papa bilang, mungkin aku tidak akan menikah!”
Suara kami memenuhi ruangan.
Papa diam.
Untuk pertama kalinya pagi itu, wajahnya menunjukkan rasa bersalah.
“Kamu benar.”
Jawaban sederhana itu justru membuat kemarahanku kehilangan arah.
Papa tidak membela diri.
“Papa salah. Papa terlalu memisahkan bisnis dan kehidupan pribadimu.”
Aku mengusap wajah.
Aku terlalu lelah untuk marah lebih lama.
Siang itu, semuanya bergerak cepat.
Tim hukum mengamankan dokumen.
Auditor membuat salinan forensik.
Papa memerintahkan penghentian sementara seluruh transaksi baru dengan Baskoro Group.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada drama.
Hanya satu email resmi yang menyatakan bahwa semua kerja sama ditangguhkan sampai proses audit selesai.
Efeknya langsung terasa.
Baskoro menelepon Papa 27 kali.
Tidak satu pun dijawab.
Sore harinya, Rendy datang ke rumah.
Satpam menahannya di gerbang.
Dia berteriak meminta bertemu denganku.
Aku melihat dari kamera keamanan.
Tangannya dibebat.
Wajahnya kusut.
“Nadia!”
Suaranya terdengar dari interkom.
“Kita suami istri! Kamu tidak bisa menghilang begitu saja!”
Aku menekan tombol bicara.
“Aku tidak menghilang.”
Dia terdiam mendengar suaraku.
“Aku hanya memilih tidak kembali.”
“Nadia, dengarkan aku. Semalam aku emosi.”
“Kamu menamparku.”
“Aku minta maaf.”
“Kamu mengancamku.”
“Aku panik!”
“Kamu membiarkan ibumu tergeletak di lantai.”
Sunyi.
Aku menatap wajahnya di layar.
“Dan kamu tahu soal Project Garuda.”
Wajah Rendy berubah.
Hanya sepersekian detik.
Tapi cukup.
Aku langsung tahu.
Dia tahu.
“Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.”
“Kamu baru saja menjawab pertanyaanku.”
“Nadia, buka gerbang.”
“Tidak.”
“Aku suamimu!”
“Tidak untuk waktu lama.”
Aku mematikan interkom.
Malamnya, Rendy mengirim lebih dari seratus pesan.
Dari permintaan maaf berubah menjadi ancaman.
Dari ancaman berubah menjadi rayuan.
Kemudian kembali menjadi ancaman.
Aku menyerahkan semuanya kepada Pak Adrian.
Tiga hari kemudian, berita pertama muncul.
Sebuah perusahaan konstruksi besar sedang diperiksa terkait dugaan manipulasi dokumen pengadaan.
Nama Baskoro belum disebut.
Namun dunia bisnis Jakarta kecil.
Telepon mulai berdatangan.
Mitra meminta klarifikasi.
Bank meminta dokumen tambahan.
Dua investor menunda pencairan dana.
Baskoro mulai panik.
Lalu sesuatu yang tidak kami duga terjadi.
Bu Ratna meminta bertemu denganku.
Dia datang ke kantor pengacara mengenakan kemeja sederhana dan celana hitam.
Memar di wajahnya mulai memudar.
Namun langkahnya jauh lebih tegak.
Dia membawa sebuah flashdisk merah.
“Apa ini, Bu?”
“Dua belas tahun.”
Aku tidak mengerti.
“Dua belas tahun Ibu menyimpan salinan dokumen.”
Aku menatapnya.
Bu Ratna tersenyum tipis.
“Baskoro selalu mengira Ibu bodoh karena Ibu tidak pernah ikut bicara soal bisnis.”
Dia meletakkan flashdisk di meja.
“Tapi sebelum menikah, Ibu bekerja sebagai staf administrasi keuangan.”
Pak Adrian langsung mendekat.
“Apa isi flashdisk ini?”
“Catatan transfer. Perjanjian dengan vendor. Rekaman percakapan. Beberapa dokumen yang dia suruh Ibu musnahkan.”
Aku membeku.
“Kenapa Ibu menyimpannya?”
Bu Ratna menatapku.
“Karena suatu hari Ibu berharap punya keberanian untuk pergi.”
Flashdisk itu mengubah segalanya.
Project Garuda ternyata jauh lebih besar dari dugaan kami.
Bukan empat puluh dua miliar.
Setelah semua transaksi ditelusuri, nilai dugaan manipulasi mencapai lebih dari seratus delapan puluh miliar rupiah selama beberapa tahun.
Lebih mengejutkan lagi, Rendy bukan sekadar penerima pasif.
Namanya muncul dalam beberapa komunikasi internal.
Dia membantu membuat perusahaan cangkang.
Dia mengetahui invoice palsu.
Bahkan pernah mengusulkan agar sebagian transaksi menggunakan perusahaan Papa karena reputasinya bersih.
Saat membaca email itu, aku merasa mual.
Kalimatnya pendek.
Pakai nama Permata. Audit mereka rapi, jadi orang tidak akan curiga.
Aku mengenali gaya bahasanya.
Rendy.
Pria yang setiap malam selama dua tahun masa pacaran mengatakan dia mencintaiku.
Ternyata pada saat yang sama, nama keluargaku sedang digunakan sebagai tameng.
Aku akhirnya memahami sesuatu yang lebih menyakitkan daripada tamparannya.
Mungkin pernikahan kami bukan hanya tentang cinta.
Sebulan kemudian, penyelidikan resmi berkembang.
Baskoro dan beberapa eksekutif perusahaannya diperiksa.
Rekening tertentu dibekukan sesuai proses hukum.
Rendy juga dipanggil berkali-kali.
Keluarga besarnya yang semalam berjumlah 18 orang mulai saling menyalahkan.
Beberapa mengubah kesaksian.
Sebagian mengaku tidak melihat apa-apa.
Dua orang akhirnya mengakui bahwa kekerasan terhadap Bu Ratna sudah berlangsung bertahun-tahun.
Orang-orang yang dulu menyuruhku diam kini berlomba menyelamatkan diri.
Aku mengajukan pembatalan dan proses hukum atas pernikahanku dengan pendampingan pengacara.
Aku tidak pernah bertemu Rendy sendirian lagi.
Namun sebelum proses kami selesai, dia meminta satu pertemuan terakhir di kantor pengacara.
Aku menyetujuinya.
Ada dua pengacara di ruangan.
Rendy duduk di seberangku.
Dia terlihat lebih kurus.
“Aku benar-benar mencintaimu,” katanya.
Aku tidak merasakan apa pun.
“Kalau kamu mencintaiku, kenapa menggunakan perusahaan keluargaku?”
Dia menunduk.
“Ayah yang mulai.”
“Aku tidak bertanya siapa yang mulai.”
Rendy terdiam.
“Aku cuma ingin membuktikan bahwa aku bisa sukses seperti dia.”
“Dengan mencuri?”
“Aku terjebak.”
“Tidak.”
Aku menatap matanya.
“Ibumu terjebak. Kamu memilih.”
Wajahnya menegang.
“Aku juga korban Ayah.”
“Mungkin.”
Aku mengangguk.
“Tapi menjadi korban tidak memberi seseorang hak untuk menciptakan korban berikutnya.”
Rendy tidak bisa menjawab.
Aku berdiri.
Sebelum keluar, dia memanggilku.
“Nadia.”
Aku berhenti.
“Kalau malam itu aku tidak menamparmu, apa kita masih akan bersama?”
Pertanyaan itu membuatku diam beberapa detik.
Kemudian aku menoleh.
“Kalau malam itu kamu tidak menamparku, mungkin aku membutuhkan waktu lebih lama untuk mengetahui siapa dirimu.”
Aku keluar.
Enam bulan kemudian, aku bertemu Bu Ratna di sebuah kafe kecil di Jakarta Selatan.
Rambutnya dipotong sebahu.
Dia terlihat berbeda.
Lebih ringan.
Dia sudah tinggal sendiri di apartemen kecil dan mulai membantu sebuah komunitas pendamping perempuan korban kekerasan.
Kami duduk dekat jendela.
Bu Ratna mengaduk kopinya perlahan.
“Tahu tidak apa yang paling Ibu sesali?”
Aku menggeleng.
“Bukan dua puluh delapan tahun pernikahan itu.”
Dia tersenyum.
“Yang paling Ibu sesali adalah setiap kali Ibu berkata pada diri sendiri, mungkin besok dia berubah.”
Aku menggenggam cangkirku.
“Tapi Ibu akhirnya pergi.”
“Karena kamu membuka pintu malam itu.”
Aku tersenyum kecil.
“Bukan saya, Bu.”
Dia menatapku.
“Saya cuma menelepon bantuan. Yang memilih bicara kepada polisi, menyerahkan bukti, dan memulai hidup baru adalah Ibu sendiri.”
Matanya berkaca-kaca.
Lalu dia tertawa pelan.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, tawa itu terdengar benar-benar bebas.
Sebelum pulang, Bu Ratna mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya.
Dia mendorongnya ke arahku.
“Apa ini?”
“Buka.”
Di dalamnya ada cincin platinum.
Cincin kawinku.
Aku langsung mengenal ukiran nama Rendy di bagian dalamnya.
“Dari mana Ibu dapat?”
“Polisi mengembalikan beberapa barang dari vila. Ibu menemukan ini.”
Aku mengambil cincin itu.
Aneh.
Benda yang dulu membuat dadaku sesak sekarang tidak terasa berarti.
Bu Ratna menatapku.
“Mau kamu buang?”
Aku tersenyum.
“Tidak.”
Aku membawa cincin itu ke sebuah pengrajin perhiasan.
Ukiran nama Rendy dihapus.
Cincin dilebur dan dibentuk ulang menjadi liontin kecil.
Tidak ada nama.
Tidak ada tanggal pernikahan.
Hanya satu kata yang kuukir di bagian belakangnya.
Berani.
Karena akhirnya aku mengerti, keberanian bukan berarti tidak takut.
Keberanian adalah saat seseorang tetap membuka pintu meski tahu apa yang mungkin menunggu di baliknya.
Malam pertama pernikahanku memang menghancurkan kehidupan yang kukira akan kumiliki.
Namun malam itu juga menyelamatkan dua perempuan.
Bu Ratna dari rumah yang selama puluhan tahun membuatnya hidup dalam ketakutan.
Dan aku dari masa depan yang mungkin perlahan-lahan akan mengajariku untuk diam.
Rendy pernah mengatakan bahwa perempuan di keluarganya harus belajar menutup mulut jika ingin tetap dianggap sebagai bagian dari keluarga.
Dia benar tentang satu hal.
Aku memang tidak pernah menjadi bagian dari keluarga itu.
Karena pada akhirnya, aku memilih menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih penting.
Diriku sendiri.
