“Mbak Ratna, Mbak tahu tidak selama lima belas tahun ini aku tidur berapa jam sehari?”
Meja makan mendadak sunyi.
Ratna menatapku seolah pertanyaanku terlalu remeh untuk dijawab. Agus berhenti mengunyah. Lilis menundukkan wajah. Bahkan Joko akhirnya mematikan rokoknya.
Aku menatap mereka satu per satu.

“Paling lama empat jam. Itu pun terputus-putus.”
Ratna menghela napas.
“Sari, jangan mendramatisir keadaan.”
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam dadaku seperti pecah.
Aku berdiri, masuk ke kamar, lalu kembali membawa tujuh buku bersampul batik yang selama bertahun-tahun kusimpan di lemari.
Kutaruh semuanya di atas meja.
“Ini pengeluaran Ibu selama lima belas tahun.”
Ratna terdiam.
Kubuka buku pertama.
“Popok. Obat. Susu. Biaya kontrol. Ongkos ambulans waktu Ibu sesak. Biaya fisioterapi. Salep luka. Makanan. Semua ada tanggal dan kuitansinya.”
Aku membuka buku berikutnya.
“Kalau uang pensiun kurang, siapa yang menambah?”
Tak seorang pun menjawab.
“Aku.”
Aku menunjuk Joko.
“Kadang Mas Joko.”
Lalu aku menatap Ratna.
“Bukan Mbak.”
Wajahnya mengeras.
“Kamu mau mempermalukan saya?”
“Aku cuma menjawab tuduhan Mbak bahwa pembukuanku tidak jelas.”
Ratna tiba-tiba berdiri.
“Sudahlah. Pokoknya mulai bulan depan ATM pensiun Ibu saya pegang.”
Dia berjalan menuju kursi roda Ibu Hartini.
“Ibu setuju, kan?”
Ibu mengangkat wajah perlahan.
Sejak stroke, bicaranya tidak lagi lancar. Satu kalimat pendek saja terkadang membutuhkan waktu hampir semenit.
Ratna berjongkok.
“Ibu, ATM-nya nanti Ratna pegang saja, ya?”
Bibir Ibu bergerak.
Tidak ada suara.
Ratna langsung berdiri.
“Nah, Ibu diam berarti tidak keberatan.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Namun sebelum aku bicara, tangan Ibu tiba-tiba bergerak.
Jari-jarinya yang kaku mencengkeram ujung taplak meja.
Kemudian beliau berusaha menunjukku.
“S… Sa…”
Semua orang memandangnya.
“Sari?” tanyaku sambil mendekat.
Ibu mengangguk.
Ratna memotong cepat.
“Ibu pasti mau bilang Sari kasih ATM-nya.”
Aku memandangnya tidak percaya.
Tapi malam itu aku memilih diam.
Bukan karena kalah.
Aku hanya baru menyadari sesuatu.
Ratna tidak pulang setelah bertahun-tahun hanya karena uang pensiun empat setengah juta.
Ada sesuatu yang lebih besar.
Dugaanku terbukti dua hari kemudian.
Pagi itu aku sedang mengganti seprai Ibu ketika mendengar suara Ratna dari teras belakang. Dia menelepon seseorang.
Aku tidak berniat menguping sampai mendengar namaku disebut.
“Sari tidak tahu apa-apa.”
Aku berhenti bergerak.
Ratna melanjutkan dengan suara pelan.
“Yang penting sertifikat rumah ketemu dulu. Setelah itu gampang.”
Tanganku membeku.
Rumah yang kami tempati bukan rumah Joko.
Rumah itu milik Ibu Hartini.
Tanahnya sekitar empat ratus meter persegi di Laweyan. Dulu biasa saja, tetapi sekarang harga tanah di kawasan itu sudah naik berkali-kali lipat.
Aku mundur perlahan sebelum Ratna melihatku.
Malamnya aku bertanya kepada Joko.
“Mas, Mbak Ratna sebenarnya pulang karena apa?”
Joko pura-pura sibuk melihat ponsel.
“Ya kangen Ibu.”
“Lima belas tahun tidak kangen, sekarang tiba-tiba kangen?”
Dia diam.
“Mas tahu soal sertifikat rumah?”
Wajah Joko berubah.
Perubahan kecil itu sudah cukup menjadi jawaban.
“Mas.”
“Sari, jangan bikin ribut dulu.”
“Jadi Mas tahu?”
Joko mengusap wajah.
“Mbak Ratna punya utang.”
“Berapa?”
“Katanya hampir satu miliar.”
Aku sampai kehilangan kata-kata.
“Usaha suaminya bermasalah. Rumah di Jakarta juga diagunkan.”
Aku menatap pintu kamar Ibu.
“Jadi dia mau jual rumah Ibu?”
“Belum tentu.”
“Tapi Mas tahu rencananya?”
Joko tidak menjawab.
Dadaku terasa jauh lebih sakit daripada ketika Ratna menyebutku pembantu gratis.
Selama ini aku pikir setidaknya suamiku memahami pengorbananku.
Ternyata ketika keluarganya mulai menghitung harga rumah, dia memilih diam.
Besok paginya Ratna benar-benar meminta ATM Ibu.
Kali ini dia tidak lagi berpura-pura lembut.
“Mana kartunya?”
Aku sedang menyuapi Ibu.
“Di tempat aman.”
“Saya anak kandungnya.”
“Dan uang itu milik Ibu, bukan milik Mbak.”
Ratna membanting tasnya ke sofa.
“Kamu cuma menantu!”
Aku meletakkan mangkuk.
“Betul. Aku cuma menantu.”
Aku berdiri.
“Tapi menantu ini yang membersihkan kotoran Ibu ketika anak kandungnya sedang liburan ke Singapura.”
Wajah Ratna memerah.
“Jaga mulutmu!”
“Anak kandungnya yang lain juga tinggal satu jam dari sini, tapi datang kalau Lebaran.”
Agus yang kebetulan baru masuk langsung berhenti.
“Jangan bawa-bawa saya.”
“Kenapa tidak? Lima belas tahun ini keluarga ini selalu bilang Ibu punya tiga anak. Tapi setiap Ibu demam jam dua pagi, entah kenapa anaknya tinggal satu.”
Aku menunjuk diriku sendiri.
“Dan anehnya, anak itu justru menantu.”
Ratna mengangkat tangannya seperti hendak menamparku.
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh.
Ibu Hartini sedang berusaha berdiri dari kursi rodanya.
“Ibu!”
Aku berlari.
Tubuhnya hampir jatuh, tetapi berhasil kutahan.
Beliau menangis.
Selama bertahun-tahun aku hampir tidak pernah melihat Ibu menangis.
Tangannya menggenggam lenganku.
“Le… ma… ri…”
“Lemari?”
Beliau mengangguk.
“Kamar Ibu?”
Mengangguk lagi.
Aku mendorong kursi rodanya menuju kamar.
Ratna mengikuti.
“Cari apa?”
Ibu menunjuk lemari kayu tua.
Aku membukanya.
Beliau menunjuk bagian bawah.
Di sana hanya ada tumpukan kain batik dan mukena.
Aku mengeluarkannya satu per satu sampai menemukan sebuah kotak biskuit tua.
Ratna langsung maju.
“Itu apa?”
Aku membuka kotaknya.
Di dalamnya terdapat amplop cokelat tebal, sebuah buku tabungan lama, dan kunci kecil.
Ratna merebut amplop itu.
“Ini pasti sertifikat.”
Namun ketika dibuka, wajahnya berubah.
Bukan sertifikat.
Itu surat dari notaris.
Tanggalnya tiga tahun lalu.
Aku membaca perlahan.
Ibu Hartini ternyata sudah membuat akta hibah dan surat wasiat ketika kondisinya masih cukup baik untuk berkomunikasi dengan jelas.
Rumah itu tidak diberikan kepada Ratna.
Tidak juga kepada Agus.
Bahkan tidak kepada Joko.
Rumah itu dihibahkan kepadaku dengan hak tinggal seumur hidup untuk Ibu Hartini.
Ratna menjerit.
“Tidak mungkin!”
Dia merebut dokumen itu dan membaca sendiri.
“Ini pasti Sari yang paksa!”
Ibu Hartini memukul sandaran kursi rodanya.
“Ti… dak!”
Ratna terdiam.
Ibu menunjuk dirinya sendiri.
“A… ku.”
Air mata mengalir di pipinya.
Aku berlutut.
“Ibu yang buat?”
Beliau mengangguk.
Lalu dengan susah payah beliau berkata,
“Ka… mu… ja… ga… Ibu.”
Aku tidak sanggup menahan tangis.
Ratna justru semakin panik.
“Bu, rumah ini warisan anak-anak Ibu!”
Ibu menatapnya.
Tatapan seorang perempuan tua yang tubuhnya lumpuh, tetapi pikirannya ternyata masih menyimpan semuanya.
“Kamu… pu… lang… uang.”
Wajah Ratna pucat.
Ibu menunjukku.
“Sari… pulang… Ibu.”
Ruangan itu benar-benar sunyi.
Kalimatnya tidak sempurna, tetapi kami semua memahami maksudnya.
Ratna pulang karena uang.
Aku selalu pulang karena Ibu.
Namun kejutan belum selesai.
Kunci kecil dalam kotak ternyata adalah kunci laci rahasia di meja rias.
Di sana terdapat puluhan kuitansi transfer.
Aku mengenali nama pengirimnya.
Ratna Puspita.
Tapi bukan transfer kepada Ibu.
Justru sebaliknya.
Selama hampir delapan tahun, Ratna ternyata rutin meminta uang kepada Ibu.
Dua juta.
Lima juta.
Sepuluh juta.
Bahkan pernah dua puluh lima juta.
Totalnya lebih dari tiga ratus juta rupiah.
“Dari mana uang sebanyak ini?” tanyaku.
Joko terlihat sama terkejutnya.
Ibu menunjuk buku tabungan.
Ternyata sebelum stroke semakin parah, Ibu memiliki deposito dan tabungan hasil menjual sebidang sawah peninggalan suaminya.
Ratna telah menghabiskan sebagian besar uang itu dengan berbagai alasan.
Modal butik.
Biaya sekolah anak.
Renovasi rumah.
Masalah usaha suaminya.
Dan selama bertahun-tahun, aku tidak pernah tahu.
Ironisnya, ketika tabungan Ibu hampir habis dan tinggal uang pensiun bulanan, Ratna justru datang menuduhku tidak transparan.
Agus duduk lemas.
“Mbak, kok kami tidak pernah tahu?”
Ratna tidak menjawab.
Dia mengambil tasnya.
Sebelum pergi, dia menatapku penuh kebencian.
“Kamu puas sekarang?”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
Aku mendekatinya.
“Aku tidak pernah ingin rumah ini.”
“Bohong.”
“Aku cuma ingin sekali saja kalian datang bukan ketika ada sesuatu yang bisa diambil.”
Ratna terdiam.
Aku melanjutkan.
“Kalau lima belas tahun lalu Mbak bilang mau gantian jaga Ibu satu malam saja supaya aku bisa tidur, mungkin nilainya lebih besar bagiku daripada rumah ini.”
Ratna pergi tanpa pamit.
Agus dan Lilis menyusul beberapa menit kemudian.
Malam itu tinggal aku, Joko, dan Ibu.
Joko duduk di tepi tempat tidur.
“Maafkan aku, Sar.”
Aku tidak langsung menjawab.
“Aku pengecut.”
Aku menatapnya.
“Mas bukan cuma pengecut.”
Dia menunduk.
“Mas membuatku merasa sendirian di rumah yang katanya keluarga kita.”
Joko menangis.
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku melihat suamiku menangis.
Sejak hari itu, banyak hal berubah.
Joko meminta pindah rute agar lebih sering pulang. Dia mulai belajar mengganti popok Ibu, memandikan, bahkan menyuapi.
Awalnya kikuk.
Pernah popok dipasang terbalik.
Pernah bubur tumpah ke baju.
Tapi aku membiarkannya belajar.
Agus mulai datang setiap Minggu dan membawakan kebutuhan Ibu. Entah karena malu atau benar-benar sadar, aku tidak tahu.
Ratna tidak pernah datang selama hampir setahun.
Sampai suatu sore, sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Ratna turun.
Tidak ada tas mahal.
Tidak ada gelang emas.
Wajahnya tanpa riasan.
Dia membawa satu kantong plastik berisi popok dewasa dan dua kaleng susu.
Aku berdiri di pintu.
Dia menatapku lama.
“Boleh ketemu Ibu?”
Aku mempersilahkannya masuk.
Ketika melihat Ratna, Ibu Hartini menangis.
Ratna berlutut di depan kursi roda.
“Maaf, Bu.”
Hanya dua kata.
Tapi mungkin itulah dua kata yang sudah menunggu lima belas tahun untuk keluar.
Ratna kemudian menoleh kepadaku.
“Sari.”
Aku menatapnya.
“Dulu aku bilang kamu pembantu gratis di rumah ini.”
Dia menelan ludah.
“Ternyata aku salah.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Ratna menggenggam tangan ibunya.
“Yang jadi orang asing justru anak kandungnya sendiri.”
Tiga bulan setelah hari itu, Ibu Hartini meninggal dunia dalam tidur.
Malam sebelumnya aku masih menyuapinya bubur.
Sebelum tidur, beliau menggenggam tanganku lebih lama dari biasanya.
“Sari.”
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, namaku keluar cukup jelas dari bibirnya.
“Iya, Bu.”
“Terima… kasih.”
Aku menangis sambil mencium tangannya.
Setelah pemakaman, notaris datang membawa dokumen terakhir.
Aku kira soal rumah.
Ternyata ada satu surat tulisan tangan Ibu yang dibuat sebelum strokenya memburuk.
Isinya hanya beberapa kalimat.
Anak bukan hanya yang lahir dari tubuh kita. Anak adalah orang yang tetap tinggal ketika tubuh kita tidak lagi berguna bagi siapa pun. Rumah ini kuberikan kepada Sari bukan sebagai bayaran karena merawatku. Tidak ada rumah yang cukup mahal untuk membayar lima belas tahun hidup seseorang. Aku memberikannya karena selama lima belas tahun, dialah yang membuat rumah ini tetap terasa seperti rumah.
Aku membaca surat itu berkali-kali sampai tulisan di kertas mengabur oleh air mata.
Saat itu aku akhirnya mengerti.
Selama lima belas tahun aku merasa sedang menjaga seorang ibu tua yang tidak berdaya.
Padahal diam-diam, Ibu Hartini juga sedang melihat semuanya.
Siapa yang datang.
Siapa yang pergi.
Siapa yang menghitung uangnya.
Dan siapa yang tetap menggenggam tangannya ketika tidak ada lagi yang bisa diambil darinya.
Rumah itu akhirnya tidak kujual.
Kamar Ibu tetap kubiarkan hampir sama.
Tujuh buku pengeluaran bersampul batik kusimpan di lemari.
Bukan untuk membuktikan kepada siapa pun berapa banyak uang yang pernah kukeluarkan.
Melainkan untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa kasih sayang yang paling mahal sering kali tidak tercatat dalam angka.
Ia tercatat dalam malam-malam tanpa tidur, punggung yang sakit, tangan yang keriput karena air, makanan yang disuapkan perlahan, dan keputusan untuk tetap tinggal ketika semua orang lain merasa punya alasan untuk pergi.
