BARU TIGA HARI MENJADI MENANTU, IBU MERTUAKU MEMECAT ART DAN MELEMPARKAN CELEMEK KE DADA SAYA: “KALAU MAU TINGGAL DI RUMAH KELUARGA WIJAYA, BUKTIKAN KAMU BERGUNA.” SUAMI SAYA DIAM SAJA—SAMPAI SATU TELEPON DARI DAPUR MEMBUAT MAKAN MALAM MEREKA BERUBAH MENJADI AWAL KEHANCURAN

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, saya duduk di meja makan sebagai tamu di rumah yang secara resmi disebut rumah keluarga saya sendiri.

Celemek putih yang sejak pagi menempel di pinggang saya kini terlipat rapi di samping piring.

Tidak ada yang menyentuh makanan.

Surya Wijaya masih memegang ponselnya. Wajahnya yang biasanya tenang berubah tegang, seolah seseorang baru saja memberitahunya bahwa fondasi rumah itu retak dari bawah.

Ratna menatap suaminya.

“Dihentikan sementara itu maksudnya apa?”

Surya menggeleng pelan.

“Tim kredit minta semua proses ditahan sampai evaluasi ulang.”

“Kenapa tiba-tiba?”

“Saya juga belum tahu.”

Arga menatap ayahnya, lalu saya.

Entah karena kalimat terakhir saya, entah karena cara saya melepas celemek, ada sesuatu di wajahnya yang berubah.

“Nadine,” katanya pelan. “Kamu tahu sesuatu?”

Saya mengangkat gelas air dan meneguknya perlahan.

“Saya tahu banyak hal.”

Ratna tertawa pendek.

“Jangan dramatis.”

Saya menoleh kepadanya.

“Ma, bukankah tadi Mama bilang perempuan muda sekarang terlalu dimanja dan harus dibentuk sejak awal?”

Senyumnya menghilang.

Salah satu tamu yang duduk di dekat Ratna menunduk ke piring. Yang lain pura-pura sibuk dengan ponsel.

Arga memperkeras suara.

“Kamu jawab pertanyaan aku.”

Saya menaruh gelas.

“Pertanyaan yang mana?”

“Soal Prameswari Capital.”

“Aku bekerja di sana.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kamu cuma tahu bagian yang mau kamu tahu.”

Ayah Arga menatap saya dengan tajam.

“Posisi kamu sebenarnya apa?”

Saya belum sempat menjawab ketika ponsel saya bergetar.

Nama Maya muncul di layar.

Saya menerimanya.

“Ya?”

Suara kakak saya terdengar jelas dalam keheningan ruang makan.

“Tim legal menemukan dua transaksi pihak terafiliasi yang tidak tercantum di laporan awal. Ada juga pengalihan dana dari proyek Ciputat ke rekening perusahaan lain. Kamu mau kami lanjutkan pemeriksaan?”

Saya menatap Surya.

Wajahnya berubah.

Saya menjawab, “Lanjutkan. Jangan ada yang ditutup.”

“Nadine.”

Surya berdiri.

Saya tetap berbicara ke telepon.

“Dan Maya, Senin saya hadir sendiri.”

“Baik.”

Sambungan terputus.

Arga menatap saya seolah baru mengenal orang asing.

“Kenapa Maya yang memutuskan?”

“Karena dia direktur utama.”

“Lalu kamu?”

Saya tersenyum tipis.

“Salah satu pemegang saham pengendali.”

Tidak ada suara.

Bahkan denting sendok pun tidak terdengar.

Ratna berkedip beberapa kali.

“Apa?”

“Prameswari Capital milik keluarga saya.”

Surya menjatuhkan tubuhnya kembali ke kursi.

Arga berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Kamu bohong sama aku?”

Saya menatapnya.

“Saya tidak pernah bilang saya cuma pegawai.”

“Kamu bilang kamu konsultan.”

“Saya memang konsultan.”

“Kenapa tidak bilang kamu pemilik?”

Saya hampir tertawa mendengarnya.

“Kenapa? Supaya saya tahu lebih cepat bahwa kamu akan menikahi saya dengan cara berbeda?”

Arga terdiam.

Ratna tiba-tiba berdiri.

“Jadi semua ini karena pagi tadi?”

Nada suaranya meninggi.

“Kamu sengaja membekukan pembiayaan perusahaan keluarga hanya karena saya minta kamu membantu pekerjaan rumah?”

Saya menatapnya lama.

“Kalau hanya soal mencuci piring, saya tidak akan peduli.”

“Lalu?”

“Ini soal bagaimana keluarga ini memperlakukan orang yang dianggap tidak punya kuasa.”

Ratna mendengus.

“Jangan ceramah.”

“Sembilan tahun Bu Siti bekerja di rumah ini. Mama memecat dia dalam lima menit karena merasa ada perempuan lain yang bisa menggantikannya gratis. Mama mempermalukan saya di depan teman-teman Mama. Arga melihat semuanya dan diam.”

Saya menoleh kepada suami saya.

“Bahkan ikut tertawa.”

Wajahnya menegang.

“Nadine, masalah rumah jangan dicampur bisnis.”

“Setuju.”

Saya mengangguk.

“Makanya tim saya sedang memeriksa bisnis kalian berdasarkan dokumen bisnis kalian.”

Surya mendadak memukul meja.

“Cukup.”

Semua menoleh.

Dia menatap saya.

“Kalau ada masalah dalam laporan perusahaan, saya akan bertanggung jawab. Tapi jangan jadikan ini permainan balas dendam.”

“Saya tidak sedang balas dendam, Pa.”

Itu pertama kali malam itu saya masih memanggilnya Papa.

“Saya justru sedang melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan enam bulan lalu.”

Wajah Surya memucat.

Saya melanjutkan.

“Prameswari Capital memberi fasilitas karena perusahaan ini menunjukkan arus kas tertentu. Kalau ternyata ada transaksi yang disembunyikan, itu bukan lagi persoalan keluarga.”

Arga menatap ayahnya.

“Transaksi apa?”

Surya tidak menjawab.

Ratna menoleh kepada suaminya.

“Surya?”

Keheningan itu terasa berbeda.

Bukan lagi tentang saya.

Ada rahasia lain di dalam ruangan itu.

Surya menarik napas panjang.

“Kita bicarakan nanti.”

Saya langsung tahu.

Dia tahu.

Arga juga menyadarinya.

“Pa, transaksi apa?”

“Bukan urusan kamu.”

“Saya direktur operasional!”

“Justru itu. Kamu cukup urus pekerjaan kamu.”

Ratna menatap suaminya dengan wajah tegang.

Tamu-tamu mulai berdiri satu per satu, mencari alasan untuk pulang. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, ruang makan yang tadinya penuh empat belas orang hanya menyisakan keluarga inti kami.

Saya bangkit.

Arga mengejar saya sampai ke lorong.

“Kita harus bicara.”

“Saya lelah.”

“Nadine.”

Dia menarik pergelangan tangan saya.

Saya berhenti.

“Lepas.”

Mungkin karena nada suara saya, mungkin karena ekspresi saya, tangannya langsung terlepas.

“Aku suami kamu.”

“Dan?”

Dia seolah tidak percaya saya bisa mengatakan satu kata itu.

“Apa maksudmu dan?”

“Status suami tidak memberi kamu hak untuk mempermalukan istri sendiri.”

“Aku cuma mencoba menjaga Mama.”

“Sambil membiarkan saya diinjak.”

Dia mengusap wajah.

“Oke. Aku salah.”

Saya menatapnya.

Tiga hari lalu, saya mungkin akan langsung luluh.

Malam itu tidak.

“Arga, kamu tidak minta maaf karena sadar kamu salah.”

Saya mendekat sedikit.

“Kamu minta maaf karena baru tahu siapa saya.”

Wajahnya membeku.

Saya masuk ke kamar dan mengunci pintu.

Malam itu saya tidur di sofa.

Bukan karena Arga mengambil tempat tidur.

Saya yang tidak ingin berada di sampingnya.

Senin pagi saya datang ke kantor Prameswari Capital dengan setelan abu-abu sederhana.

Jam sembilan empat puluh, ketika saya memasuki ruang rapat lantai dua puluh tiga, seluruh tim sudah duduk.

Maya berada di ujung meja.

Di sisi seberang, Surya, Arga, direktur keuangan Wijaya Sentosa, dan dua pengacara mereka menunggu.

Ratna tidak hadir.

Mungkin akhirnya dia memahami bahwa kalung berlian tidak punya fungsi di ruang rapat kredit.

Arga berdiri ketika melihat saya.

Saya mengabaikannya.

Maya membuka pertemuan.

“Pemeriksaan awal menemukan empat transaksi material yang tidak diungkap dengan benar.”

Direktur keuangan Wijaya Sentosa langsung menyela.

“Semua transaksi sah.”

“Legal tidak selalu berarti sesuai perjanjian fasilitas.”

Maya mendorong beberapa dokumen ke tengah meja.

Saya membacanya.

Ada pembayaran hampir Rp22 miliar kepada PT Sinar Kencana Utama.

Perusahaan yang baru saya dengar.

Saya menoleh kepada Surya.

“Perusahaan siapa?”

Dia tidak menjawab.

Tim legal kami membuka halaman berikutnya.

“Pemegang saham mayoritasnya atas nama Ratna Wijaya.”

Arga langsung menoleh kepada ayahnya.

“Apa?”

Surya menekan rahangnya.

Saya merasa sesuatu turun di perut saya.

Jadi bukan cuma soal arus kas buruk.

Dana perusahaan yang sedang meminta pembiayaan dari kami ternyata dipindahkan ke perusahaan milik Ratna.

Maya melanjutkan.

“Dalam dua tahun, total transfer mencapai hampir Rp37 miliar.”

Arga menatap ayahnya.

“Kenapa Mama punya perusahaan ini?”

“Investasi keluarga.”

“Kenapa saya tidak pernah tahu?”

Surya membentak, “Karena bukan semua hal harus kamu tahu!”

Saya melihat Arga.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, dia terlihat seperti anak laki-laki yang baru sadar bahwa rumah tempat dia tumbuh ternyata penuh pintu tersembunyi.

Rapat berlangsung dua jam.

Pada akhirnya keputusan kami sederhana.

Fasilitas pembiayaan tidak diperpanjang sebelum Wijaya Sentosa mengembalikan dana, memberikan audit independen, dan melakukan restrukturisasi tata kelola.

Surya menandatangani berita acara dengan tangan gemetar.

Saat semua orang meninggalkan ruangan, Arga tetap duduk.

“Nadine.”

Saya berhenti di pintu.

Dia berjalan mendekati saya.

“Aku tidak tahu soal perusahaan Mama.”

“Saya percaya.”

“Aku juga tidak tahu Papa memindahkan dana.”

“Saya percaya.”

Dia menatap saya, seolah mengharapkan kalimat lain.

Tidak ada.

“Terus kita bagaimana?”

Pertanyaan itu justru membuat dada saya sesak.

Tiga hari pernikahan.

Dua tahun hubungan.

Betapa cepatnya sesuatu yang saya pikir kukuh bisa runtuh.

“Saya pulang ke apartemen saya.”

“Kamu mau pisah?”

“Saya mau berpikir.”

“Nadine, aku bisa berubah.”

Saya memandangnya.

“Kamu mungkin bisa.”

“Kasih aku kesempatan.”

Saya tersenyum tipis.

“Kesempatan itu kamu punya waktu saya masih pakai celemek dan membersihkan meja rumah Mama kamu.”

Mata Arga memerah.

“Saya cuma butuh kamu membela saya satu kali.”

Saya berjalan pergi.

Seminggu kemudian, saya menemui Bu Siti.

Dia tinggal di rumah kecil di Depok bersama anak perempuannya.

Ketika melihat saya datang, wajahnya langsung gugup.

“Bu Nadine?”

Saya membawa sebuah amplop.

“Ini bukan dari keluarga Wijaya.”

Dia menatap saya bingung.

“Saya ingin menawarkan pekerjaan di salah satu rumah singgah yang didanai yayasan keluarga saya. Pengelolaan dapur. Jam kerja tetap. Ada BPJS.”

Matanya langsung berkaca-kaca.

“Saya sudah tua, Bu.”

“Lima puluh tiga bukan tua.”

Dia tertawa kecil sambil mengusap mata.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang tidak saya duga.

“Sebenarnya saya sudah tahu Ibu Ratna tidak suka Ibu sejak sebelum menikah.”

Saya terdiam.

“Kenapa?”

Bu Siti menurunkan suara.

“Karena Pak Surya pernah bilang di meja makan bahwa perusahaan mereka bergantung pada Prameswari Capital.”

Saya merasa napas saya tertahan.

“Arga ada di sana?”

Bu Siti mengangguk perlahan.

“Pak Arga tahu perusahaan keluarga Ibu punya hubungan dengan pembiayaan mereka.”

Dunia saya seperti berhenti.

“Dia tahu?”

“Tidak tahu Ibu pemiliknya. Tapi dia tahu nama keluarga Ibu bukan nama sembarangan.”

Saya pulang tanpa mengingat jalan.

Malamnya, saya menelepon Arga.

Dia menjawab pada dering pertama.

“Nadine.”

“Saya cuma mau tanya satu hal.”

“Apa?”

“Sebelum kita menikah, kamu tahu keluarga saya terhubung dengan Prameswari Capital?”

Sunyi.

Terlalu lama.

Itu sudah menjadi jawaban.

“Nadine, dengar dulu.”

Saya menutup mata.

“Berarti kamu tahu.”

“Aku tahu ayah kamu dulu salah satu pendirinya. Tapi aku tidak tahu sahamnya diwariskan ke kamu.”

“Kenapa tidak pernah bilang?”

“Karena tidak penting.”

Saya tertawa kecil.

“Tidak penting?”

“Nadine, aku menikahi kamu karena aku cinta.”

“Kalau begitu kenapa ayahmu menyuruhmu mendekati saya?”

Hening.

Saya bahkan tidak tahu kenapa saya mengucapkan kalimat itu.

Mungkin naluri.

Mungkin sesuatu dari cara dia diam.

Lalu Arga menarik napas.

Dan dunia saya runtuh untuk kedua kalinya.

“Awalnya memang Papa yang mengenalkan profil kamu.”

Saya tidak bisa bicara.

“Tapi setelah itu perasaan aku sungguhan.”

Saya menatap jendela apartemen.

Lampu Jakarta berkilauan jauh di bawah.

“Awalnya?”

“Nadine.”

“Jadi pertemuan pertama kita di acara bisnis itu bukan kebetulan.”

“Bukan.”

Saya memejamkan mata.

Anehnya, saya tidak menangis.

Mungkin karena bagian paling menyakitkan sudah lewat.

Yang tersisa hanya kejelasan.

Dua bulan kemudian, gugatan cerai saya masuk pengadilan.

Wijaya Sentosa selamat, tetapi hanya setelah Surya mundur dari jabatan komisaris, Ratna mengembalikan sebagian dana, dan audit independen dilakukan.

Arga keluar dari perusahaan ayahnya.

Saya mendengar dia membangun perusahaan kecil bersama dua temannya.

Kami tidak pernah bertemu lagi.

Sampai hampir setahun kemudian.

Saya menghadiri pembukaan pusat pelatihan kerja untuk perempuan berpenghasilan rendah di Jakarta Timur.

Bu Siti sekarang menjadi kepala dapur.

Dia berdiri di depan puluhan peserta, mengenakan celemek putih baru.

Ketika melihat saya, dia tersenyum lebar.

“Ibu Nadine.”

Saya menghampirinya.

Dia memegang ujung celemeknya.

“Dulu saya malu sekali waktu diusir dari rumah itu.”

Saya menggenggam tangannya.

“Sekarang?”

Dia melihat ke arah dapur besar di belakangnya, tempat beberapa perempuan sedang belajar memasak dan mengelola katering.

“Sekarang saya malah bersyukur.”

Saya tersenyum.

Di meja dekat pintu ada sebuah kotak kecil.

Bu Siti menunjuknya.

“Ada titipan.”

Saya membukanya.

Di dalamnya terlipat sebuah celemek putih lama.

Celemek yang dilempar Ratna ke dada saya pada pagi ketiga pernikahan.

Di atasnya ada secarik kertas.

Tulisan tangan Arga.

Saya menemukannya ketika pindah dari rumah. Saya pikir ini milik kamu.

Saya menatap kain itu lama.

Kemudian mengambil pulpen dari meja.

Di bagian dalam celemek, saya menulis satu kalimat.

Nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh siapa yang menyuruhnya melayani.

Saya menyerahkannya kepada Bu Siti.

“Bingkai ini.”

Dia tertawa.

“Serius?”

“Serius.”

Celemek itu akhirnya dipasang di dinding dapur pusat pelatihan.

Bukan sebagai simbol penghinaan.

Bukan sebagai kenangan tentang keluarga Wijaya.

Melainkan sebagai pengingat bahwa orang yang terlihat paling tidak berkuasa di sebuah ruangan terkadang justru sedang memegang pintu menuju masa depan semua orang.

Dan sejak hari itu, setiap perempuan yang masuk ke dapur itu membaca satu kalimat yang sama sebelum mulai bekerja.

Berguna bukan berarti tunduk.

Berguna berarti tahu nilai diri sendiri dan tidak membiarkan siapa pun menentukan harganya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang