AKU MELIHAT MENANTUKU MENUANG LEM SUPER KE KURSI ISTRIKU SAAT ANAKKU BERDIRI MENJAGA PINTU SAMBIL TERTAWA—AKU HANYA MENUKAR KURSI ITU, TAPI SAAT PENGANTIN DIMINTA BERDIRI, SUARA ROBEKAN GAUN MEMBUAT SATU BALLROOM MEMBEKU… DAN MEREKA BELUM TAHU APA YANG AKU SIAPKAN SETELAHNYA

Map hitam di tanganku membuat wajah Arga berubah seketika.

Ia menatap logo Samudra Cipta Investama di sudut map itu, lalu menatapku lagi seolah sedang berusaha menyusun sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah terpikir olehnya.

“Ayah dapat itu dari mana?”

Aku tidak langsung menjawab.

Di sampingku, Ratih masih terlihat bingung. Ia belum mengetahui apa yang terjadi pagi tadi. Ia hanya tahu gaun Nadine tiba-tiba robek dan suasana pesta berubah tegang.

Nadine berdiri beberapa langkah dari kami dengan gaun cadangannya. Wajahnya masih merah karena malu.

“Apa-apaan ini?” tanyanya tajam.

Aku membuka map tersebut.

“Gedung kantor perusahaanmu di Kuningan,” kataku kepada Arga, “milik Samudra Cipta Investama.”

“Aku tahu.”

“Rumah yang kalian tempati di Pondok Indah juga milik perusahaan itu.”

Arga mengerutkan kening.

“Aku juga tahu. Terus?”

Aku menatapnya.

“Delapan puluh dua persen saham Samudra Cipta Investama milikku.”

Suara di sekitar meja kami seakan menghilang.

Arga tidak bergerak.

Nadine bahkan sempat tertawa kecil, seperti menganggapku sedang bercanda.

“Om serius?”

Aku mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.

“Pak Dimas, silakan.”

Kurang dari semenit kemudian, manajer hotel datang bersama seorang pria berkacamata yang dikenali Arga.

Pak Surya.

Direktur operasional perusahaan pemilik gedung kantornya.

Begitu sampai di hadapanku, Pak Surya sedikit membungkuk.

“Selamat siang, Pak Bima.”

Arga langsung pucat.

“Pak Surya?”

Pria itu mengangguk kepada Arga, lalu menyerahkan sebuah amplop kepadaku.

Aku meletakkannya di meja.

Ratih memegang lenganku.

“Bima, sebenarnya ada apa?”

Aku menatap istriku.

Sudah tiga puluh enam tahun perempuan itu mendampingiku. Ia pernah tidur di lantai rumah sakit ketika aku menjalani operasi. Ia pernah menjual perhiasannya saat usahaku hampir bangkrut. Ia membesarkan Arga ketika aku bekerja dari pagi hingga tengah malam.

Dan pagi itu, anak yang dibesarkannya justru berdiri menjaga pintu agar istrinya bisa mempermalukan ibunya sendiri.

“Ada sesuatu yang harus kamu lihat nanti,” kataku.

Arga menarikku menjauh.

“Ayah, jangan bikin keributan di pesta pernikahanku.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

“Keributan?”

“Aku tahu Nadine salah. Tapi Ayah juga sudah membalasnya. Gaunnya rusak. Sudah impas.”

Aku menatap mata anakku.

“Jadi menurutmu masalahnya hanya gaun?”

Arga terdiam.

“Yang ingin dia permalukan itu ibumu.”

“Aku sudah bilang cuma bercanda.”

“Kalau kursinya tidak kutukar, ibumu yang tadi berdiri di depan tiga ratus orang dengan pakaian robek.”

Arga menghela napas kasar.

“Ayah selalu membesar-besarkan masalah.”

Kalimat itu membuatku diam beberapa detik.

Kemudian aku bertanya,

“Kamu tahu siapa yang menjual gelang emasnya supaya kamu bisa membayar uang kuliah semester tujuh?”

Arga memalingkan wajah.

“Kamu tahu siapa yang mengambil deposito pensiunnya ketika usaha pertamamu gagal?”

“Ayah, jangan mulai.”

“Kamu tahu siapa yang tidak membeli mobil baru selama sebelas tahun karena uangnya dipakai untuk modal perusahaanmu?”

“Aku akan mengembalikannya!”

Suaranya meninggi.

Beberapa tamu menoleh.

Aku menurunkan suara.

“Masalahnya bukan uang, Ga.”

Ia menatapku.

“Kami tidak pernah meminta uang itu kembali.”

“Lalu Ayah mau apa?”

“Hormat.”

Arga terdiam.

“Satu hal itu saja.”

Nadine mendekat dengan wajah kesal.

“Kalau Om mau ceramah keluarga, lakukan nanti. Tamu kami masih banyak.”

Aku menatapnya.

“Tamu kalian?”

“Iya.”

“Termasuk seratus dua belas tamu yang tagihan hotelnya dibayar istriku?”

Nadine membuka mulut, lalu menutupnya.

Ratih menatapku.

“Kamu tahu?”

Aku mengangguk.

Dua minggu sebelumnya aku menemukan Ratih diam-diam mencairkan tabungan pribadinya untuk menambah biaya pesta karena keluarga Nadine meminta dekorasi dan katering ditingkatkan.

Ratih bahkan memintaku tidak memberi tahu Arga.

Katanya ia ingin memberikan hadiah terakhir sebelum anak kami benar-benar membangun keluarganya sendiri.

Nadine menyilangkan tangan.

“Jadi sekarang Om mau menghitung semua bantuan?”

“Tidak.”

Aku mengambil tiga dokumen dari map.

“Aku justru ingin berhenti menghitungnya.”

Kuserahkan dokumen pertama kepada Arga.

Itu surat pemberitahuan bahwa masa penggunaan rumah di Pondok Indah berakhir enam puluh hari lagi.

Dokumen kedua adalah pemberitahuan bahwa subsidi sewa kantor yang selama ini dibayarkan melalui perusahaan investasiku dihentikan.

Dokumen ketiga membuat tangannya gemetar.

Pembatalan pengalihan portofolio investasi senilai empat koma delapan miliar rupiah.

“Apa ini?”

“Hadiah pernikahanmu.”

“Ayah bercanda?”

“Tadinya rumah itu akan menjadi milikmu. Kantormu akan kubebaskan sewa selama lima tahun. Dana investasi itu juga akan kuserahkan kepadamu.”

Arga membalik halaman demi halaman.

“Tidak bisa begini.”

“Kenapa tidak?”

“Aku sudah membuat rencana bisnis berdasarkan dana ini.”

Aku menatapnya tajam.

“Padahal aku belum pernah mengatakan dana itu milikmu.”

Arga membeku.

Aku baru menyadari betapa jauh kesalahan yang kulakukan sebagai ayah.

Aku mengira membantu anak berarti menghilangkan kesulitannya.

Ternyata terlalu sering menghilangkan kesulitan membuatnya lupa bahwa setiap kemudahan memiliki sumber.

Nadine merebut dokumen dari tangan Arga.

“Empat koma delapan miliar?”

Ia menatap suaminya.

“Kamu bilang uang itu sudah pasti cair setelah menikah.”

Kalimat itu membuatku mengernyit.

Ratih juga menatap Arga.

“Apa maksudnya?”

Arga segera berkata,

“Nadine, diam.”

Namun Nadine sudah kehilangan kendali.

“Kamu bilang setelah menikah ayahmu akan menyerahkan rumah dan dana investasi. Makanya aku setuju kita pakai uang keluarga untuk renovasi kantor baru.”

Ballroom terasa semakin sunyi.

Aku menatap Arga.

“Jadi kamu sudah menjanjikan hartaku sebelum menerimanya?”

Arga tidak menjawab.

Nadine mulai panik.

“Arga, jelaskan.”

“Aku bilang diam!”

Itulah pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Nadine terlihat takut kepada Arga.

Dan saat itulah Ratih berdiri.

Perempuan yang sepanjang hidupnya selalu memilih mengalah itu meletakkan tasnya perlahan di meja.

“Arga.”

Anakku menoleh.

Ratih tidak menangis.

Justru ketenangannya membuatku merasa lebih sakit.

“Mama cuma mau tahu satu hal.”

“Apa?”

“Pagi tadi sebenarnya terjadi apa?”

Arga melihatku.

Aku mengeluarkan ponsel.

“Bima?”

Aku membuka foto kursi yang dilumuri lem.

Kemudian foto botol lem.

Ratih melihatnya lama.

“Apa ini?”

Aku menjawab pelan.

“Kursimu.”

Ratih tidak langsung memahami.

Sampai aku menjelaskan apa yang kulihat pagi itu.

Wajahnya perlahan kehilangan warna.

Ia menatap Nadine.

Lalu menatap Arga.

“Kamu ada di sana?”

Arga menelan ludah.

“Mama, itu cuma bercanda.”

Ratih mengangguk kecil.

Satu kali.

Kemudian ia tersenyum.

Namun aku mengenal senyum itu.

Itu senyum yang muncul ketika hatinya terlalu sakit untuk menangis di depan orang lain.

“Jadi kamu menjaga pintu?”

Arga tidak menjawab.

“Kamu berdiri di sana sementara istrimu menuangkan lem ke kursi Mama?”

“Mama, dengar dulu.”

“Dan kamu tertawa?”

Arga menunduk.

Ratih menarik napas panjang.

“Tiga puluh tahun lalu, waktu kamu demam sampai kejang, Mama berlari tanpa sandal ke klinik sambil menggendongmu.”

Arga menutup mata.

“Ma…”

“Waktu kamu tidak lolos universitas pilihan pertama, kamu mengurung diri tiga hari. Mama duduk di depan pintu setiap malam karena takut kamu melakukan sesuatu pada dirimu sendiri.”

Suara Ratih mulai bergetar.

“Waktu bisnismu gagal, kamu pulang ke rumah dan menangis di dapur. Kamu bilang kamu merasa menjadi anak yang gagal.”

Arga mengusap wajah.

“Cukup, Ma.”

“Mama bilang apa waktu itu?”

Arga diam.

Ratih menjawab sendiri.

“Mama bilang kamu boleh kehilangan uang, pekerjaan, bahkan harga diri di depan orang lain. Tapi selama kamu masih punya keluarga, kamu selalu punya tempat pulang.”

Air mata akhirnya jatuh di pipinya.

“Hari ini Mama baru sadar, ternyata orang yang kehilangan keluarga itu bukan kamu.”

Ratih mengambil tasnya.

“Aku.”

Ia berjalan keluar ballroom.

Aku mengejarnya.

Namun sebelum keluar, aku berhenti dan menatap Arga.

“Ada satu hal lagi.”

Aku memberi isyarat kepada Pak Dimas.

Layar LED besar di panggung yang sebelumnya menampilkan foto pernikahan berubah menjadi layar hitam.

Arga langsung panik.

“Ayah mau apa?”

“Aku tidak akan memutar rekaman itu di depan tamu.”

Wajahnya sedikit lega.

“Aku tidak akan mempermalukan kalian seperti kalian berniat mempermalukan ibumu.”

Aku menatap Nadine.

“Tapi rekaman CCTV sudah diamankan. Jika salah satu dari kalian mengatakan kepada siapa pun bahwa kerusakan gaun tadi adalah sabotase dariku tanpa menjelaskan apa yang kalian lakukan sebelumnya, rekaman itu akan menjadi jawabannya.”

Nadine tidak berkata apa-apa.

Aku keluar menyusul Ratih.

Kami meninggalkan pesta pernikahan anak tunggal kami sebelum acara selesai.

Di dalam mobil, Ratih tidak bicara hampir dua puluh menit.

Ia hanya menatap jalan tol yang basah setelah hujan.

Kemudian ia bertanya,

“Apakah aku gagal membesarkannya?”

Aku menggenggam tangannya.

“Tidak.”

“Lalu kenapa dia jadi seperti itu?”

Aku tidak punya jawaban.

Mungkin cinta yang tidak disertai batas bisa berubah menjadi racun.

Mungkin kami terlalu sering menyelamatkan Arga sehingga ia tidak pernah belajar konsekuensi.

Atau mungkin manusia memang harus bertanggung jawab atas pilihan yang dibuatnya sendiri.

Tiga hari kemudian, Arga datang ke rumah.

Sendirian.

Ia tampak seperti tidak tidur.

Nadine pergi ke rumah orang tuanya setelah mereka bertengkar soal uang.

Perusahaan Arga ternyata memiliki utang jauh lebih besar daripada yang kami ketahui. Selama hampir setahun ia menutupi masalah arus kas dengan pinjaman jangka pendek karena yakin dana empat koma delapan miliar dariku akan menyelesaikan semuanya.

“Ayah sudah tahu?” tanyanya.

“Baru sekarang.”

“Aku bisa kehilangan perusahaan.”

“Mungkin.”

Ia menatapku tidak percaya.

“Ayah tidak akan membantu?”

Aku menatap anakku.

Dulu, setiap kali wajah itu terlihat ketakutan, naluriku selalu ingin menyelamatkannya.

Kali ini tidak.

“Aku akan membantumu mencari pengacara restrukturisasi dan penasihat keuangan.”

Matanya berbinar sedikit.

“Tapi aku tidak akan membayar utangmu.”

Harapannya langsung hilang.

“Kenapa?”

“Karena untuk pertama kalinya, kamu harus menyelesaikan akibat keputusanmu sendiri.”

Arga menangis.

Bukan tangisan seorang pengusaha.

Bukan tangisan lelaki berusia tiga puluh empat tahun.

Ia menangis seperti anak kecil.

Ratih muncul dari dapur.

Arga langsung berdiri.

“Ma.”

Ratih berhenti.

“Aku minta maaf.”

Ratih tidak menjawab.

Arga berlutut di depannya.

“Aku bodoh.”

Ratih masih diam.

“Aku pikir Mama akan memaafkan apa pun yang kulakukan.”

Kalimat itu membuat Ratih akhirnya menatapnya.

“Mungkin Mama akan memaafkan.”

Arga mengangkat kepala.

“Tapi memaafkan tidak berarti membuat semuanya kembali seperti dulu.”

Ratih menyentuh bahunya.

“Kamu sudah menikah. Bangun keluargamu sendiri. Belajar bertanggung jawab. Kalau suatu hari kamu datang ke rumah ini, datanglah sebagai anak yang ingin bertemu orang tuanya, bukan sebagai orang yang membutuhkan uang.”

Arga menangis semakin keras.

Enam bulan kemudian, perusahaannya selamat setelah restrukturisasi besar.

Ia menjual mobil mewahnya.

Pindah dari Pondok Indah ke apartemen sederhana di Jakarta Selatan.

Separuh karyawannya terpaksa dilepas.

Namun untuk pertama kalinya, Arga membangun sesuatu tanpa jaring pengaman dari kami.

Pernikahannya dengan Nadine hanya bertahan empat bulan.

Bukan karena kursi.

Bukan karena gaun seharga seratus delapan puluh juta.

Nadine menggugat cerai setelah mengetahui rumah, kantor, dan miliaran rupiah yang ia kira akan menjadi bagian kehidupan barunya ternyata tidak pernah menjadi milik Arga.

Suatu sore, hampir setahun setelah pesta itu, Arga datang membawa dua bungkus martabak.

Tidak meminta uang.

Tidak membawa proposal.

Tidak membicarakan bisnis.

Ia hanya duduk di teras bersama kami.

Ratih membuat teh.

Mereka berbicara pelan sampai matahari tenggelam.

Saat hendak pulang, Arga berhenti di pintu.

“Yah.”

“Ya?”

“Aku baru mengerti kenapa Ayah tidak memberikan rumah itu.”

Aku tersenyum.

“Kenapa?”

“Karena kalau Ayah memberikannya, mungkin aku tidak pernah pulang ke rumah yang sebenarnya.”

Aku menatap Ratih.

Ia tersenyum kecil.

Rumah yang sebenarnya rupanya bukan bangunan di Pondok Indah, bukan saham, bukan rekening investasi, dan bukan perusahaan bernilai miliaran rupiah.

Rumah adalah tempat seseorang masih boleh mengetuk pintu setelah menyadari kesalahannya.

Namun pintu itu tidak selalu harus dibuka dengan uang.

Kadang cinta paling besar yang bisa diberikan orang tua kepada anaknya bukan menyelamatkannya dari kejatuhan.

Melainkan membiarkannya jatuh cukup keras untuk belajar berdiri sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang