Siti menatap Hendra tanpa berkedip.
“Apa maksud Anda dengan rencana yang lebih besar?”
Hendra tidak langsung menjawab. Pria itu justru merapikan ujung lengan jasnya, seolah percakapan mereka hanya bagian kecil dari urusan bisnis yang membosankan.
“Nadia sudah menjadi bagian dari keluarga Mendoza,” katanya akhirnya. “Ada kewajiban yang harus dia selesaikan.”
“Aku tidak pernah setuju menjadi bagian dari rencana kalian,” potong Nadia dengan suara bergetar.
Rendra menatap istrinya tajam.
“Kamu menandatangani semuanya.”
“Aku menandatangani karena kamu bilang itu perjanjian pranikah.”
“Ketidaktahuan bukan alasan untuk membatalkan tanda tangan.”
Siti langsung memahami sesuatu.
Mereka tidak sekadar menjebak Nadia dalam sebuah pernikahan.
Mereka telah membuat putrinya menandatangani sesuatu tanpa mengetahui isi sebenarnya.
“Apa isi dokumen itu?” desak Siti.
Hendra tersenyum tipis.
“Bu Siti, Anda seharusnya bersyukur. Putri Anda mendapat kehidupan yang tidak akan pernah bisa Anda berikan.”
Ucapan itu menghantam harga diri Siti, tetapi ia tidak terpancing.
“Kalau kehidupan mewah harus dibayar dengan ketakutan, saya lebih memilih Nadia tinggal bersama saya di rumah kontrakan.”
Wajah Rendra mengeras.
“Jaga ucapan Anda.”
“Atau apa?”
Untuk sesaat, tak seorang pun berbicara.
Kemudian terdengar suara langkah tergesa dari lorong belakang.
Nita muncul sambil menggenggam ponselnya.
“Tante.”
Rendra langsung membentak.
“Kamu ngapain di sini?”
Nita berhenti beberapa meter dari mereka.
Wajahnya pucat, tetapi matanya tegas.
“Aku mencari Nadia.”
“Pergi.”
Rendra memberi isyarat kepada dua petugas keamanan.
Salah seorang dari mereka maju.
Namun, sebelum menyentuh Nita, Siti berkata keras, “Jangan sentuh dia.”
Suasana berubah tegang.
Hendra menghela napas.
“Saya tidak suka keributan. Kembali ke ballroom. Kita selesaikan resepsi. Setelah itu semua akan dibicarakan secara kekeluargaan.”
Nadia tertawa kecil.
Tawa yang terdengar seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan tangis.
“Kekeluargaan?”
Ia menatap Rendra.
“Kamu menamparku karena aku makan malam dengan Nita tanpa izin.”
Wajah Rendra berubah.
“Nadia.”
“Kamu mengambil kartu ATM-ku. Kamu mengganti kata sandi email-ku. Kamu memasang pelacak di ponselku.”
“Nadia, cukup.”
“Kamu mengurungku di apartemen selama hampir dua hari.”
Siti menoleh cepat.
Hal terakhir itu belum pernah ia dengar.
“Apa?”
Nadia menutup mulutnya, tetapi sudah terlambat.
Air mata Siti jatuh.
“Dia mengurung kamu?”
Nadia mengangguk perlahan.
Rendra melangkah maju.
“Nadia sedang stres menjelang pernikahan. Jangan percaya semua yang dia katakan.”
Siti tiba-tiba menampar wajah Rendra.
Suara tamparan itu memecah keheningan taman.
Semua orang membeku.
Rendra menatap Siti dengan wajah merah.
Untuk pertama kalinya, topengnya benar-benar hilang.
Tangannya terangkat.
Namun Hendra langsung menahannya.
“Banyak kamera di sekitar sini,” bisiknya.
Kalimat itu membuat Siti menyadari satu hal penting.
Mereka takut pada reputasi.
Jauh lebih takut daripada apa pun.
Siti menarik Nadia ke belakang tubuhnya.
“Kami pergi.”
Hendra menggeleng.
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena pukul dua belas malam nanti, sebuah transaksi harus selesai.”
Nadia memucat.
“Transaksi apa?”
Hendra menatap jam tangannya.
“Perusahaan keluarga kami sedang menghadapi masalah likuiditas.”
Rendra menoleh kepada ayahnya.
“Ayah.”
“Sudah terlambat menyembunyikannya.”
Hendra kembali menatap Siti.
“Beberapa tahun terakhir bisnis logistik berubah. Utang kami besar. Beberapa proyek gagal. Dua bank sudah menolak restrukturisasi.”
Siti bingung.
“Apa hubungannya dengan Nadia?”
Hendra tersenyum tanpa kehangatan.
“Nadia memiliki sesuatu yang sangat kami butuhkan.”
“Apa?”
“Saham.”
Nadia menggeleng.
“Aku tidak punya saham apa pun.”
“Belum.”
Hendra mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto dokumen.
Nama Nadia tercetak jelas di halaman pertama.

Di bawahnya terdapat kalimat mengenai pengalihan kepemilikan sejumlah saham sebuah perusahaan bernama PT Arunika Sentosa.
Nadia semakin bingung.
“Aku tidak pernah mendengar perusahaan itu.”
Siti justru membeku.
Arunika.
Nama itu sangat dikenalnya.
Nama perusahaan kecil milik almarhum suaminya, Arman Prasetyo.
Delapan belas tahun lalu Arman meninggal dalam kecelakaan ketika Nadia masih duduk di sekolah dasar.
Perusahaan yang ia bangun bersama dua teman kampusnya kemudian dianggap bangkrut.
Setidaknya itulah yang selama ini Siti ketahui.
“PT Arunika Sentosa sudah tidak ada,” kata Siti.
Hendra tertawa kecil.
“Justru sekarang perusahaan itu bernilai hampir enam ratus miliar rupiah.”
Siti merasa dunia berputar.
Hendra menjelaskan bahwa sebelum meninggal, Arman memiliki saham pendiri sebesar dua puluh dua persen.
Setelah kematiannya, saham itu tidak pernah benar-benar hilang. Karena sengketa administrasi dan perubahan struktur perusahaan, kepemilikan tersebut tertahan selama bertahun-tahun.
Beberapa bulan sebelumnya, sengketa akhirnya selesai.
Ahli waris sah Arman adalah Nadia.
“Dan kalian tahu semua ini?” suara Siti hampir berbisik.
“Kami melakukan pemeriksaan latar belakang sebelum Rendra mendekati Nadia,” jawab Hendra.
Kalimat itu terasa seperti pisau.
Siti menatap Rendra.
“Kamu mendekati anak saya karena saham?”
Rendra tidak menyangkal.
Nadia terhuyung mundur.
Wajahnya benar-benar kehilangan warna.
“Jadi… pertemuan kita di pameran desain itu…”
“Sudah diatur,” jawab Hendra datar.
Nadia menutup mulut.
Semua kenangan yang selama ini ia anggap romantis runtuh dalam beberapa detik.
Rendra yang sengaja datang ke pameran tempat Nadia bekerja.
Rendra yang tiba-tiba memiliki begitu banyak kesamaan dengannya.
Rendra yang tiga bulan kemudian melamarnya.
Bukan kebetulan.
Semuanya dirancang.
“Dokumen yang kamu tanda tangani kemarin,” kata Rendra, “memberikan kuasa pengelolaan atas aset warisanmu kepada perusahaan keluarga kami setelah pernikahan tercatat.”
Nadia menatapnya dengan jijik.
“Kamu menikahiku untuk mengambil uang ayahku.”
“Aku menikahimu karena itu menguntungkan semua pihak.”
“Semua pihak?”
Suara Nadia pecah.
“Kamu memukulku.”
Rendra menegang.
“Itu karena kamu sulit diatur.”
Nita diam-diam mengangkat ponselnya sedikit lebih tinggi.
Layar perangkat itu masih menyala.
Ia sedang merekam.
Rendra baru menyadarinya beberapa detik kemudian.
“Kamu merekam?”
Ia bergerak cepat merebut ponsel.
Namun Nita mundur.
“Sudah terkirim.”
Wajah Hendra berubah.
“Terkirim ke siapa?”
Nita menatapnya.
“Pengacara.”
Hendra langsung menoleh kepada petugas keamanan.
“Ambil ponselnya.”
Namun sebelum mereka bergerak, terdengar suara lain dari belakang.
“Jangan coba-coba.”
Seorang pria berkemeja putih muncul bersama dua orang lain.
Siti mengenal pria itu.
Pak Bimo.
Teman lama almarhum Arman.
Siti pernah beberapa kali melihatnya ketika Nadia masih kecil, tetapi setelah kematian Arman, hubungan mereka terputus.
“Pak Bimo?”
Bimo berjalan mendekat.
“Nadia menghubungi saya tiga hari lalu.”
Nadia menunduk.
“Aku menemukan nomor Om Bimo di dokumen lama Ayah.”
Bimo mengangguk.
“Nadia curiga setelah Rendra terus memaksanya menandatangani dokumen. Dia mengirimkan salinannya kepada saya.”
Hendra terlihat semakin gelisah.
Bimo mengeluarkan map tipis dari tasnya.
“Sayangnya untuk kalian, dokumen itu tidak sah untuk mengalihkan saham.”
Rendra tertawa mengejek.
“Kami punya pengacara.”
“Saya juga.”
Bimo membuka sebuah lembar.
“Dan saya punya salinan akta pendirian asli Arunika.”
Ia menatap Nadia.
“Arman menambahkan klausul khusus sebelum meninggal.”
Siti menahan napas.
“Jika kepemilikan diwariskan kepada Nadia, saham tidak dapat dialihkan, dijaminkan, atau dikuasakan kepada pasangan tanpa persetujuan wali amanat.”
Hendra mengernyit.
“Siapa wali amanatnya?”
Bimo tidak menjawab.
Ia justru menatap Siti.
Semua mata ikut mengarah kepadanya.
Siti tercekat.
“Saya?”
Bimo mengangguk.
“Arman menunjuk Ibu.”
Siti hampir tidak sanggup berkata-kata.
Selama delapan belas tahun ia mengira suaminya meninggalkan mereka tanpa apa pun selain rumah kecil yang kemudian dijual untuk membayar utang.
Ternyata Arman telah meninggalkan perlindungan yang bahkan tidak ia ketahui.
Rendra terlihat panik.
“Tapi Nadia sudah tanda tangan.”
“Kuasa itu baru berlaku jika disetujui wali amanat.”
Bimo tersenyum tipis.
“Dan saya rasa Bu Siti tidak akan menandatanganinya.”
“Tidak akan pernah,” jawab Siti.
Wajah Hendra memerah.
Namun Bimo belum selesai.
“Ada satu masalah lagi.”
Ia mengambil ponselnya.
“Perusahaan kalian menggunakan ancaman terhadap pekerjaan Bu Siti untuk memaksa Nadia menikah dan menandatangani dokumen.”
“Itu hanya tuduhan,” kata Hendra cepat.
Nita mengangkat ponselnya.
“Sekarang bukan.”
Rendra menatapnya.
Nita melanjutkan dengan suara bergetar, “Semua yang kalian katakan tadi direkam.”
Hendra berusaha menjaga wajahnya tetap tenang.
“Rekaman ilegal tidak punya kekuatan.”
Bimo menggeleng.
“Mungkin bukan satu-satunya bukti. Tapi cukup untuk memulai pemeriksaan.”
Hendra diam.
Untuk pertama kalinya malam itu, pria berkuasa itu terlihat benar-benar takut.
Dari arah ballroom terdengar suara orang-orang berbicara semakin ramai.
Maya dan Paula muncul.
“Tante,” kata Maya cepat. “Beberapa tamu mulai bertanya kenapa pengantin perempuan lama sekali hilang.”
Bimo menatap Nadia.
“Kamu masih punya pilihan.”
Nadia mengusap air matanya.
“Pilihan apa?”
“Kamu bisa pergi diam-diam sekarang.”
Ia berhenti sejenak.
“Atau kamu bisa kembali ke ballroom dan mengakhiri semuanya di depan mereka.”
Siti langsung menoleh kepada putrinya.
“Kamu tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun.”
Nadia menatap ke arah pintu ballroom yang bercahaya.
Selama berbulan-bulan ia hidup dalam ketakutan.
Setiap keputusan harus meminta izin.
Setiap teman dianggap ancaman.
Setiap kesalahan kecil berubah menjadi bentakan.
Malam ini, hampir dua ratus orang sedang menunggu melihat dirinya tersenyum seolah hidupnya sempurna.
Nadia menarik napas panjang.
“Aku mau kembali.”
Rendra mendekat.
“Kamu jangan gila.”
Nadia menatapnya.
Anehnya, kali ini ia tidak mundur.
“Aku baru mulai waras.”
Beberapa menit kemudian, Nadia memasuki ballroom bersama Siti.
Percakapan para tamu perlahan berhenti.
Rendra dan Hendra mengikuti dari belakang.
Pembawa acara segera tersenyum.
“Nah, pengantin kita sudah kembali. Sebentar lagi kita akan melanjutkan acara…”
“Mas, boleh pinjam mikrofonnya?”
Nadia naik ke panggung.
Tangannya gemetar ketika menerima mikrofon.
Ratusan mata mengarah kepadanya.
Siti berdiri di dekat pelaminan.
Nadia menatap para tamu.
“Maaf karena acara malam ini tidak akan berakhir seperti yang direncanakan.”
Rendra naik satu anak tangga.
“Nadia, turun.”
Nadia mengabaikannya.
“Saya tahu banyak orang datang malam ini untuk merayakan pernikahan kami.”
Ia memandang ibunya.
“Lima belas menit lalu, ibu saya menemukan surat yang saya sembunyikan di dalam buket.”
Beberapa tamu mulai berbisik.
“Saya menulis bahwa saya tidak ingin pergi bersama suami saya malam ini.”
Suasana ballroom berubah drastis.
Kamera-kamera mulai terangkat.
Rendra mencoba merebut mikrofon.
Nita berdiri di depannya.
Nadia melanjutkan.
“Saya menikah hari ini karena saya diancam.”
Hendra langsung meminta staf mematikan pengeras suara.
Namun terlambat.
Puluhan ponsel sudah merekam.
Nadia menunjukkan memar samar di lengannya.
“Dan pria yang baru saja menjadi suami saya bukan orang yang saya kenal saat pertama kali bertemu.”
Tangisnya hampir pecah, tetapi ia tetap berbicara.
“Keluarganya mendekati saya karena warisan ayah saya.”
Suara gaduh memenuhi ruangan.
Beberapa tamu yang sebelumnya tersenyum kini menatap keluarga Mendoza dengan curiga.
Seorang pria yang dikenal sebagai mitra bisnis Hendra langsung keluar dari ballroom sambil menelepon seseorang.
Hendra berteriak kepada staf.
“Hentikan acara ini!”
Rendra berhasil naik ke panggung.
Tangannya mencengkeram lengan Nadia.
“Kamu ikut aku sekarang.”
Gerakan itu terlihat semua orang.
Nadia berusaha melepaskan diri.
Sebelum Siti sempat maju, seorang petugas keamanan hotel yang berbeda datang bersama manajer resort.
“Pak, lepaskan tangannya.”
Rendra menoleh marah.
“Ini istri saya.”
Manajer hotel menjawab tegas, “Tetap tidak boleh.”
Rendra akhirnya melepas Nadia.
Tidak lama kemudian, dua anggota kepolisian yang sedang berjaga untuk pengamanan acara masuk ke ballroom setelah menerima laporan keributan.
Bimo menyerahkan rekaman dan salinan dokumen kepada mereka.
Pesta pernikahan mewah keluarga Mendoza malam itu berakhir tanpa potong kue, tanpa tarian pertama, dan tanpa keberangkatan pengantin menuju kamar bulan madu.
Yang tersisa hanya ratusan bunga mahal, makanan yang belum disentuh, dan tamu-tamu yang pulang sambil membawa cerita yang dalam beberapa jam memenuhi media sosial.
Dalam minggu-minggu berikutnya, kehidupan Nadia tidak langsung menjadi mudah.
Ia menjalani pemeriksaan, mengumpulkan bukti, dan mengajukan pembatalan perkawinan melalui proses hukum yang panjang.
Rendra menyangkal semua tuduhan.
Hendra menyewa tim pengacara terkenal.
Namun rekaman, pesan ancaman, hasil pemeriksaan medis atas luka Nadia, serta kesaksian Nita, Maya, dan Paula membentuk gambaran yang sulit dibantah.
Lebih buruk bagi keluarga Mendoza, pemeriksaan terhadap transaksi perusahaan mereka membuka masalah lain.
Beberapa pinjaman bermasalah dan laporan keuangan yang dimanipulasi mulai diperiksa.
Kerajaan bisnis yang selama bertahun-tahun terlihat kokoh perlahan retak bukan karena Nadia merebut sesuatu dari mereka, tetapi karena kebohongan mereka sendiri akhirnya terlihat.
Tiga bulan setelah malam pernikahan itu, Nadia kembali ke studio desain tempatnya dahulu bekerja.
Hari pertama ia datang, ia berdiri cukup lama di depan pintu.
Siti menemaninya.
“Aku takut,” ujar Nadia.
“Takut apa?”
“Takut aku tidak bisa jadi Nadia yang dulu.”
Siti menggenggam tangannya.
“Kamu memang tidak perlu jadi Nadia yang dulu.”
Nadia menatap ibunya.
“Kamu jadi Nadia yang sekarang. Yang sudah tahu bahwa tidak semua sangkar terlihat seperti penjara. Ada yang dihias bunga, lampu kristal, dan cincin berlian.”
Nadia tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, senyum itu benar-benar sampai ke matanya.
Setahun kemudian, sengketa saham Arunika selesai sepenuhnya.
Nilainya jauh lebih besar daripada yang pernah Siti bayangkan.
Namun Nadia tidak menggunakan uang itu untuk membeli rumah mewah atau mobil mahal.
Sebagian besar saham tetap ia simpan.
Dengan dividen pertamanya, Nadia mendirikan sebuah lembaga kecil yang memberikan bantuan hukum dan konseling kepada perempuan yang mengalami kekerasan dalam hubungan.
Ia menamainya Arunika.
Nama perusahaan peninggalan ayahnya.
Nama yang berarti cahaya fajar.
Pada hari peresmian kantor pertamanya di Bandung, Siti menemukan sebuah buket mawar putih di mejanya.
Di sela bunganya terdapat selembar kertas kecil.
Jantungnya sempat berdebar mengingat malam pernikahan itu.
Ia membuka surat tersebut.
Tulisan tangan Nadia memenuhi kertas.
“Ibu, dulu aku menyembunyikan surat di dalam bunga karena aku terlalu takut untuk berbicara. Hari ini aku menaruh surat di tempat yang sama karena aku akhirnya bebas memilih apa yang ingin kukatakan.”
Siti menahan air mata.
Di bagian bawah tertulis satu kalimat lagi.
“Terima kasih karena malam itu Ibu membaca ketakutanku sebelum dunia sempat mendengarnya.”
Siti memandang keluar jendela.
Di halaman kantor, Nadia sedang berbicara dengan beberapa perempuan yang datang untuk meminta bantuan.
Tidak ada gaun pengantin.
Tidak ada lampu kristal.
Tidak ada keluarga kaya yang menjanjikan kehidupan sempurna.
Namun Siti belum pernah melihat putrinya tampak sebahagia itu.
Dan saat itulah ia memahami sesuatu.
Warisan terbesar yang ditinggalkan Arman ternyata bukan saham bernilai ratusan miliar.
Bukan perusahaan.
Bukan uang.
Melainkan sebuah perlindungan terakhir yang memastikan putrinya tidak pernah benar-benar bisa dimiliki oleh siapa pun.
Karena cinta yang sehat tidak pernah membutuhkan ancaman untuk membuat seseorang bertahan.
Dan keluarga bukanlah mereka yang mengurung seseorang demi menjaga nama baik.
Keluarga adalah mereka yang berani membuka pintu ketika orang yang mereka cintai akhirnya meminta diselamatkan.
