Dua hari setelah dipermalukan di depan gedung Pratama Medical Group, Nabila duduk di sebuah kantor pengacara kecil di kawasan Menteng dengan telapak tangan dingin dan jantung yang belum berhenti berdebar.
Di seberangnya, Hendrik Wijaya membaca surat tulisan tangan Siti Rahayu tanpa mengatakan apa pun.
Pria berusia sekitar enam puluh tahun itu mengenakan kacamata tipis. Rambutnya sudah memutih, tetapi sorot matanya tajam. Begitu selesai membaca, ia meletakkan surat tersebut perlahan di atas meja.
“Ibumu pernah bilang kamu mungkin akan datang ke sini setelah dia meninggal.”
Nabila menatapnya.
“Jadi Bapak tahu semuanya?”
“Tidak semuanya. Tapi cukup banyak.”
“Uang Rp110 juta setiap bulan itu sebenarnya apa?”
Hendrik berdiri, membuka lemari besi di belakang mejanya, lalu mengeluarkan tiga map tebal berwarna biru.
“Uang tutup mulut.”
Nabila terdiam.
Menurut Hendrik, delapan belas tahun lalu keluarga Pratama membuat kesepakatan dengan Siti. Sebagai imbalan karena Siti tidak mengungkap hubungan Surya dan tidak menuntut pengakuan atas anak yang dikandungnya, Surya wajib memberikan Rp110 juta setiap bulan.
Jumlah itu terdengar besar bagi Nabila.
Namun bagi keluarga Pratama, nilainya bahkan lebih kecil daripada biaya sebuah pesta ulang tahun.
“Anehnya,” lanjut Hendrik, “ibumu tidak pernah menganggap uang itu sebagai kompensasi.”
“Lalu?”
“Dia menyebutnya cicilan.”
Nabila mengernyit.
“Cicilan apa?”
Hendrik tersenyum tipis.
“Cicilan untuk membeli kembali harga dirinya.”
Ia membuka map pertama.
Di dalamnya terdapat ratusan bukti transaksi saham, laporan kustodian, dokumen pembelian obligasi, serta sertifikat kepemilikan melalui beberapa perusahaan investasi.
Siti mulai berinvestasi hanya tiga bulan setelah pembayaran pertama diterima.
Pada awalnya kecil.
Ia membeli saham Pratama Medical Group melalui perusahaan sekuritas.
Ketika menerima dividen, seluruhnya dibelikan saham lagi.
Saat harga saham turun akibat krisis, Siti membeli lebih banyak.
Ketika keluarga Pratama menjual sebagian kepemilikan untuk membangun rumah sakit baru, Siti masuk melalui perusahaan investasi yang berbeda.
Tidak ada mobil baru.
Tidak ada rumah mewah.
Tidak ada tas mahal.
Siti tetap memasak nasi kotak, membersihkan ruang praktik dokter, dan menawar harga cabai di pasar.
Sementara itu, uang Surya diam-diam kembali kepada Surya dalam bentuk sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Kepemilikan.
“Berapa banyak?” bisik Nabila.
Hendrik membuka map kedua.
“Secara langsung dan tidak langsung, ibumu mengendalikan 11,8 persen saham Pratama Medical Group.”
Nabila menatapnya seolah tidak memahami bahasa yang baru saja didengarnya.
“Sebelas koma delapan persen?”
“Itu membuatnya menjadi salah satu pemegang saham individu terbesar di luar keluarga inti.”
Nabila berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.
“Tidak mungkin.”
“Masih ada lagi.”
Hendrik mengeluarkan dokumen berikutnya.
Siti ternyata juga memiliki saham pada perusahaan properti keluarga Pratama, kepemilikan minoritas di dua perusahaan pemasok alat kesehatan, serta hak atas sebuah perusahaan investasi bernama Rahaya Capital.
Total nilai asetnya berdasarkan valuasi terakhir mencapai ratusan miliar rupiah.
Nabila terduduk kembali.
Mendadak ia teringat sandal ibunya yang dilem berkali-kali.
Payung murah yang bocor.
Ponsel dengan layar retak.
Dan malam-malam ketika Siti masih menghitung uang belanja di meja dapur.
“Kenapa Ibu tidak pernah menikmati uangnya?”
Hendrik terdiam cukup lama sebelum menjawab.
“Karena tujuan ibumu bukan menjadi kaya.”
“Lalu apa?”
“Memastikan suatu hari nanti tidak ada keluarga yang bisa memperlakukanmu seperti mereka memperlakukan dia.”
Kalimat itu menghantam Nabila lebih keras daripada penghinaan Rendra.
Air matanya jatuh.
Untuk pertama kalinya setelah pemakaman, Nabila benar-benar menangis.
Namun Hendrik belum selesai.
Ia membuka map ketiga.
“Ini wasiat ibumu.”
Seluruh aset investasi Siti diwariskan kepada Nabila.
Tetapi ada satu syarat.
Nabila tidak boleh menjual saham Pratama Medical Group selama setidaknya tiga tahun.
Selain itu, Siti meninggalkan instruksi agar Hendrik mengaktifkan hak pemegang saham segera setelah kematiannya tercatat secara resmi.

“Apa artinya?”
“Artinya besok pagi dewan direksi Pratama Medical Group akan menerima surat bahwa pemegang 11,8 persen saham mereka telah meninggal dan seluruh haknya berpindah kepadamu.”
Nabila membeku.
Ia langsung teringat Rendra.
Lima lembar uang seratus ribu.
Tawa orang-orang di lobi.
Dan kalimatnya.
Biar nanti kamu tidak bilang keluarga Pratama tidak pernah menyambut kerabat jauh.
Keesokan paginya, suasana lantai empat puluh dua kantor pusat Pratama Medical Group berubah kacau.
Rendra baru selesai memimpin rapat ketika sekretaris perusahaan menyerahkan sebuah dokumen kepadanya.
Wajahnya berubah setelah membaca halaman pertama.
“Apa ini?”
“Notifikasi perubahan kepemilikan saham, Pak.”
“Rahaya Capital?”
“Iya.”
“Siapa pemiliknya?”
Sekretaris itu menelan ludah.
“Siti Rahayu.”
Nama itu membuat Surya Pratama, yang duduk di ujung meja, langsung mengangkat kepala.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, wajah pengusaha berusia enam puluh tiga tahun itu kehilangan ketenangannya.
“Ulangi.”
“Siti Rahayu, Pak.”
Surya berdiri.
Tangannya menekan meja.
“Berapa?”
“Jika seluruh kepemilikan terafiliasi digabungkan, sebelas koma delapan persen.”
Ruangan menjadi sunyi.
Rendra menatap ayahnya.
“Siapa perempuan itu sebenarnya?”
Surya tidak menjawab.
Ia justru meminta seluruh peserta rapat keluar.
Setelah pintu tertutup, ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap Jakarta.
Delapan belas tahun lalu, ia mengira persoalan Siti telah selesai dengan sebuah perjanjian dan transfer bulanan.
Ia bahkan jarang memikirkan ke mana uang itu pergi.
Baginya, Rp110 juta hanyalah biaya untuk menjaga ketenangan keluarga.
Ternyata selama hampir dua dekade, perempuan yang ia buang menggunakan uang tersebut untuk membeli bagian demi bagian dari kerajaan yang membuat Surya merasa tak tersentuh.
“Ayah mengenalnya?” tanya Rendra.
Surya menutup mata.
“Dia ibu dari saudara perempuanmu.”
Rendra pucat.
Ingatan tentang perempuan muda yang jatuh di depan gedung dua hari lalu langsung kembali.
“Kemarin dia datang ke sini.”
Surya berbalik.
“Apa?”
Rendra tidak sempat menjawab.
Pintu terbuka.
Sekretaris perusahaan masuk dengan wajah tegang.
“Pak, perwakilan Rahaya Capital sudah datang.”
“Siapa?”
“Nabila Rahayu.”
Surya tidak pernah membayangkan pertemuan pertama dengan putrinya akan berlangsung di ruang rapat.
Nabila masuk bersama Hendrik dan dua orang staf hukum.
Ia mengenakan blazer sederhana berwarna krem milik ibunya yang telah dikecilkan sedikit oleh penjahit langganan mereka.
Tidak ada perhiasan mahal.
Tidak ada tas bermerek.
Namun kali ini tidak ada petugas keamanan yang berani menyentuhnya.
Surya berdiri terpaku.
Wajah Nabila mengingatkannya pada Siti ketika masih muda.
Terutama matanya.
“Nabila…”
“Pak Surya.”
Panggilan itu membuat dada Surya seperti ditusuk.
Bukan Ayah.
Bukan Papa.
Hanya Pak Surya.
Rendra berdiri di sisi meja dengan wajah kaku.
Nabila melihatnya.
Kemudian ia membuka dompet.
Mengeluarkan lima lembar uang seratus ribu rupiah yang telah disimpannya.
Ia berjalan mendekati Rendra.
Meletakkan uang tersebut di atas meja.
“Ini uang Anda.”
Rendra tidak bergerak.
“Saya bilang akan mengembalikannya.”
“Kapan kamu bilang begitu?”
“Saya mengatakannya kepada diri saya sendiri saat Anda menjatuhkan uang itu di depan saya.”
Wajah Rendra memerah.
Nabila kembali ke kursinya.
“Saya datang bukan untuk mengambil perusahaan keluarga kalian.”
Surya menatapnya.
“Kalau begitu apa yang kamu inginkan?”
“Saya ingin tahu kenapa Ibu saya harus hidup seolah tidak memiliki apa-apa ketika sebenarnya dia punya semua ini.”
Surya tidak mampu menjawab.
Hendrik kemudian menyerahkan sebuah amplop terakhir.
“Bu Siti meminta surat ini dibacakan apabila Pak Surya dan Nabila berada di ruangan yang sama.”
Tangan Nabila gemetar saat membuka surat tersebut.
Tulisan ibunya memenuhi dua halaman.
Surya, jika surat ini dibacakan, berarti aku sudah tidak ada.
Delapan belas tahun lalu, keluargamu bilang anakku akan tumbuh menjadi beban. Mereka bilang aku perempuan yang ingin merebut kekayaanmu. Karena itu aku memutuskan melakukan sesuatu yang mungkin tidak pernah kalian bayangkan.
Setiap rupiah yang kau kirimkan kepadaku, aku kembalikan ke dunia yang kau banggakan.
Aku membeli saham perusahaanmu.
Aku membeli obligasimu.
Aku membeli perusahaan yang menyuplai rumah sakitmu.
Bukan karena aku ingin menghancurkanmu.
Aku hanya ingin memastikan suatu hari nanti, jika anakku berdiri di depan pintu gedungmu, tidak seorang pun bisa mengusirnya hanya karena pakaian yang ia kenakan.
Surya menunduk.
Nabila melanjutkan membaca dengan suara bergetar.
Aku tidak ingin Nabila membencimu.
Kebencian terlalu berat untuk diwariskan kepada anak.
Tetapi aku juga tidak ingin dia tumbuh meminta pengakuan dari seorang laki-laki yang pernah memilih reputasi daripada dirinya.
Karena itu, aku memberinya pilihan.
Kalau dia ingin menjadi bagian dari keluarga Pratama, biarkan keputusan itu datang darinya.
Kalau dia tidak ingin, jangan ganggu hidupnya.
Dan satu hal lagi.
Bambang adalah ayahnya.
Bukan secara darah, tetapi dalam semua hal yang jauh lebih penting daripada darah.
Surya menutup wajah dengan kedua tangan.
Rendra tidak lagi mampu menatap Nabila.
Namun bagian terakhir surat itu justru membuat semua orang terdiam.
Nabila, kalau kamu membaca ini, Ibu minta satu hal.
Jangan jadikan saham itu alat balas dendam.
Gunakan agar orang-orang kecil yang bekerja di rumah sakit tidak diperlakukan seperti Ibu dulu.
Kalau kekuasaan hanya membuatmu bisa menyakiti orang lain, berarti kamu tidak berbeda dari mereka.
Tiga bulan kemudian, Nabila menghadiri rapat umum pemegang saham pertamanya.
Media memenuhi lobi.
Berita mengenai putri rahasia Surya Pratama sudah menyebar setelah perubahan kepemilikan saham diumumkan.
Banyak orang menduga Nabila akan meminta posisi direktur.
Sebagian memperkirakan ia akan menjual sahamnya dengan harga fantastis.
Yang lain yakin ia akan menggugat keluarga Pratama.
Semua salah.
Dalam rapat tersebut, Nabila mengajukan pembentukan program perlindungan pekerja kontrak di seluruh jaringan rumah sakit Pratama.
Asuransi kesehatan.
Dana pendidikan anak.
Perlindungan bagi pekerja kebersihan, keamanan, katering, pengemudi, dan tenaga pendukung lainnya.
Program itu diberi nama Yayasan Siti Rahayu.
Rendra menjadi orang pertama dari keluarga Pratama yang mengangkat tangan mendukung usulan tersebut.
Setelah rapat selesai, ia mengejar Nabila di lorong.
“Nabila.”
Nabila berhenti.
Rendra berdiri beberapa langkah darinya.
“Saya minta maaf.”
Nabila menatapnya cukup lama.
“Karena lima ratus ribu itu?”
“Karena saya melihat pakaianmu sebelum melihat manusianya.”
Nabila tidak langsung menjawab.
Kemudian ia mengangguk kecil.
“Jangan minta maaf kepada saya saja.”
Rendra mengernyit.
“Mulai lihat semua orang yang selama ini tidak pernah kamu lihat.”
Nabila kemudian pergi.
Di luar gedung, Bambang sudah menunggunya.
Bukan dengan SUV.
Bukan dengan sopir.
Ia datang menggunakan motor tua yang selama bertahun-tahun dipakainya mengantar Nabila ke sekolah.
Nabila tertawa ketika melihatnya.
“Bapak serius kita pulang naik ini?”
“Kenapa? Sekarang sudah jadi pemegang saham, tidak boleh naik motor?”
Nabila memeluk Bambang dari belakang.
“Boleh.”
Motor itu melaju meninggalkan gedung pencakar langit keluarga Pratama.
Di lampu merah, Nabila memandang pantulan wajahnya pada kaca sebuah mobil.
Ia akhirnya memahami rahasia terbesar ibunya.
Siti tidak menghabiskan delapan belas tahun untuk membeli sebuah imperium.
Ia sedang membeli kebebasan putrinya sedikit demi sedikit.
Dengan setiap transfer yang dimaksudkan untuk membungkamnya, Siti justru membangun suara yang suatu hari tidak dapat diabaikan siapa pun.
Dan Surya Pratama akhirnya kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada sebelas koma delapan persen saham perusahaannya.
Kesempatan mendengar seorang anak memanggilnya Ayah.
Sementara Bambang, lelaki yang tidak mewariskan satu lembar saham pun kepada Nabila, pulang membawa kekayaan yang selama delapan belas tahun tidak pernah bisa dibeli oleh keluarga Pratama.
Seorang anak yang memeluknya erat dan memanggilnya Bapak.
