SUAMI MENCAMPAKKANKU DAN MEMBELA ASISTENNYA DI ULANG TAHUN ANAKKU SENDIRI, TANPA TAHU LIMA KAKAK KANDUNGKU ADALAH KELUARGA TERKAYA DI KOTA INI!

Ulang tahun keenam Nayla seharusnya menjadi malam yang akan dikenang dengan tawa. Namun beberapa jam setelah lilin berbentuk angka enam ditiup, gadis kecil itu justru tertidur sambil menangis di pangkuan ibunya, di lantai dingin ruang bawah tanah vila keluarga Mahendra di Puncak.

Kirana mengusap perlahan memar di kening putrinya.

Setiap kali melihat bekas benturan itu, dadanya terasa seperti diremas.

Enam tahun ia bertahan.

Enam tahun ia mengira kesabaran bisa membuat Dimas memahami arti keluarga.

Malam itu, Kirana akhirnya sadar bahwa ia salah.

Ponsel tua di tangannya bergetar.

Pesan dari Baskoro masuk.

Kami sudah di gerbang.

Kirana menatap layar beberapa detik. Air matanya jatuh, tetapi kali ini bukan karena takut.

Di luar vila, suara mesin mobil terdengar satu demi satu.

Dimas yang sedang duduk di ruang keluarga bersama Vania langsung berdiri ketika seorang satpam berlari masuk.

“Pak Dimas, ada tamu.”

“Jam segini?”

“Lima mobil, Pak. Mereka bilang mau menjemput Bu Kirana.”

Vania tertawa kecil.

“Mungkin saudara kampungnya.”

Dimas mengambil gelas di meja.

“Suruh pulang.”

Satpam itu tidak bergerak.

Wajahnya pucat.

“Pak, mereka sudah masuk.”

Dimas membanting gelas.

“Siapa yang berani masuk tanpa izin?”

Belum selesai ia bicara, pintu utama vila terbuka.

Seorang pria sekitar empat puluh tahun melangkah masuk mengenakan kemeja gelap sederhana. Di belakangnya muncul empat pria lain.

Tidak ada yang berteriak.

Tidak ada yang membuat keributan.

Justru ketenangan mereka membuat suasana terasa lebih menekan.

Dimas mengenali pria pertama.

Wajah itu beberapa kali muncul di majalah bisnis nasional.

Baskoro Sanjaya.

Direktur utama Sanjaya Capital Group.

Dimas spontan berdiri tegak.

“Pak Baskoro?”

Baskoro tidak menjawab.

Tatapannya menyapu ruangan sebelum berhenti pada Dimas.

“Adik saya di mana?”

Dimas mengernyit.

“Adik?”

Empat pria di belakang Baskoro maju.

Mereka adalah Arga, Reza, Farhan, dan Bagas Sanjaya.

Lima bersaudara yang selama bertahun-tahun dikenal publik sebagai keluarga di balik salah satu kelompok investasi terbesar di Indonesia.

Dimas tertawa gugup.

“Mungkin Bapak salah alamat.”

Baskoro mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto lama.

Di dalam foto itu ada lima pemuda berdiri mengelilingi seorang gadis remaja yang tersenyum lebar.

Gadis itu adalah Kirana.

Wajah Dimas langsung kehilangan warna.

“Mustahil.”

Baskoro mendekat.

“Kirana Sanjaya adalah adik bungsu kami.”

Vania yang sejak tadi berdiri di belakang sofa ikut membeku.

Dimas mencoba tersenyum.

“Pak Baskoro, pasti ada kesalahpahaman. Kirana istri saya.”

“Kalau begitu bawa saya menemuinya.”

Dimas tidak bergerak.

Baskoro menatap pintu menuju koridor belakang.

“Di mana adik saya?”

Kali ini suaranya lebih rendah.

Dimas akhirnya menyerah.

Ia mengambil kunci ruang bawah tanah.

Ketika pintu besi dibuka, Baskoro menjadi orang pertama yang turun.

Langkahnya berhenti di anak tangga terakhir.

Kirana duduk di lantai dengan Nayla dalam pelukan.

Gaun putih anak itu sudah kotor. Keningnya membiru.

Baskoro memejamkan mata sesaat.

Enam tahun lalu, Kirana meninggalkan rumah keluarga Sanjaya setelah seluruh kakaknya menentang pernikahannya dengan Dimas.

Saat itu Baskoro mengatakan sesuatu yang membuat hubungan mereka retak.

“Kalau kamu tetap memilih dia, jangan kembali hanya ketika kamu terluka.”

Kirana benar-benar tidak pernah kembali.

Dan selama enam tahun, kalimat itu menghantui Baskoro.

Sekarang adiknya berada beberapa meter di hadapannya dalam kondisi yang tidak pernah ia bayangkan.

Baskoro berlutut.

“Kirana.”

Kirana menatap kakaknya.

Bibirnya bergetar.

“Maaf, Mas.”

Baskoro langsung menggeleng.

“Jangan minta maaf.”

Ia melepas jaketnya dan menyelimuti Nayla.

Arga menggendong keponakannya dengan hati-hati.

Ketika Nayla terbangun, ia menatap kelima pria asing di sekitarnya.

“Mama, mereka siapa?”

Kirana mengusap rambut putrinya.

“Mereka om kamu.”

Nayla memandang Baskoro.

“Om datang karena Mama telepon?”

Baskoro mengangguk.

Nayla kemudian berkata lirih, “Ayah dorong Nayla.”

Ruangan mendadak sunyi.

Rahang kelima bersaudara itu mengeras hampir bersamaan.

Dimas segera menyela.

“Itu kecelakaan.”

Kirana berdiri.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia menatap suaminya tanpa sedikit pun rasa takut.

“Besok kamu ingin aku menandatangani surat cerai, kan?”

Dimas tidak menjawab.

Kirana melanjutkan.

“Aku akan tanda tangan.”

Vania tampak lega.

Namun Kirana belum selesai.

“Tapi sebelum itu, aku mau melihat rekaman kamera restoran.”

Dimas mendengus.

“Masih saja soal gaun?”

“Kalau aku bersalah, aku akan meminta maaf di depan semua orang.”

Kirana memandang Vania.

“Tapi kalau bukan aku, orang yang memfitnahku harus mengakui semuanya.”

Vania menyilangkan tangan.

“Silakan.”

Baskoro segera meminta stafnya menghubungi restoran.

Manajer restoran ternyata masih menyimpan rekaman CCTV malam itu.

Kurang dari setengah jam kemudian, video dikirim.

Semua berkumpul di ruang keluarga.

Rekaman pertama menunjukkan Kirana dan Nayla memasuki ruang pesta.

Beberapa menit kemudian, kamera koridor merekam Vania datang seorang diri.

Ia berhenti di depan toilet.

Vania membuka tasnya.

Mengeluarkan gaun sutra.

Lalu dengan sengaja menggunting bagian sampingnya.

Wajah Dimas berubah.

“Vania?”

Vania langsung panik.

“Itu bukan seperti yang kamu pikirkan.”

Video berlanjut.

Vania memasukkan gunting ke tas, lalu berjalan menuju meja tempat Nayla duduk.

Ia sengaja meletakkan gaun itu di dekat kursi anak tersebut.

Beberapa menit kemudian ia berteriak menuduh Nayla merusaknya.

Dimas menatap layar tanpa berkedip.

“Kamu bilang Nayla merobeknya.”

“Aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan.”

Vania mundur.

Kirana justru memandang Dimas.

“Enam tahun kamu selalu bilang berutang nyawa kepadanya. Karena itu apa pun yang dia katakan selalu kamu percaya.”

Dimas menoleh.

Kirana mengambil napas.

“Sekarang waktunya kamu tahu siapa yang sebenarnya menyelamatkanmu malam itu.”

Vania mendadak pucat.

“Jangan.”

Kirana menatapnya.

“Kenapa? Takut?”

Enam tahun lalu, sebelum menikah, Kirana sedang berkendara melewati jalur Puncak ketika melihat sebuah mobil kehilangan kendali dan menabrak pembatas jalan.

Mobil itu terbakar.

Kirana menghentikan mobilnya dan berlari.

Ia menarik pengemudi yang tidak sadarkan diri keluar beberapa saat sebelum api membesar.

Pengemudi itu adalah Dimas.

Kirana mengalami luka bakar di lengan dan dibawa ke klinik berbeda oleh warga.

Vania datang beberapa menit kemudian setelah kebakaran terjadi.

Ketika Dimas sadar di rumah sakit, Vania mengaku sebagai orang yang menyelamatkannya.

Dimas mempercayainya.

Kirana mengetahui kebohongan itu beberapa bulan setelah mereka menikah.

Namun ia memilih diam karena menganggap masa lalu tidak penting.

Sekarang Kirana menggulung sedikit lengan bajunya.

Bekas luka bakar panjang masih terlihat.

Dimas menatapnya seolah baru pertama kali melihat bekas luka yang selama ini selalu ia abaikan.

“Tidak mungkin.”

Baskoro mengeluarkan sebuah map.

“Rumah sakit dan kepolisian masih punya laporan kecelakaannya.”

Ia meletakkan salinan dokumen di meja.

Nama saksi dan penolong pertama tercantum jelas.

Kirana Sanjaya.

Dimas terduduk.

Vania mencoba berjalan menuju pintu.

Reza menghalanginya.

“Tunggu.”

Vania mulai menangis.

“Aku melakukan semua itu karena aku mencintai Dimas.”

Kirana menggeleng.

“Kalau kamu mencintainya, kamu tidak perlu membangun hubungan dari kebohongan.”

Vania menatap Dimas.

“Dimas, dengarkan aku. Aku memang berbohong soal kecelakaan itu, tapi selama enam tahun aku selalu ada untukmu.”

Dimas berdiri.

“Dan malam ini kamu membuatku menyakiti anakku sendiri.”

Kirana menatap suaminya tanpa ekspresi.

“Jangan salahkan dia untuk keputusanmu.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada kemarahan.

“Kamu yang memilih tidak melihat CCTV. Kamu yang mengunci kami. Kamu yang mendorong Nayla.”

Dimas tidak mampu membalas.

Pagi menjelang ketika mereka meninggalkan vila.

Sebelum masuk mobil, Dimas mengejar Kirana.

“Kirana, tunggu.”

Kirana berhenti.

“Aku salah.”

Dimas menatap Nayla yang sedang digendong Arga.

“Kasih aku kesempatan.”

Kirana menatap pria yang pernah membuatnya meninggalkan seluruh keluarganya.

Aneh sekali.

Dulu ia mengira kehilangan Dimas adalah hal paling menakutkan dalam hidupnya.

Sekarang, berdiri di hadapan pria itu, ia tidak merasakan apa pun selain lelah.

“Enam tahun lalu aku meninggalkan lima kakakku karena memilihmu.”

Suara Kirana pelan.

“Malam ini kamu membuatku sadar, cinta yang meminta seseorang kehilangan seluruh tempat pulangnya bukan cinta yang sehat.”

Dimas menunduk.

“Aku bisa berubah.”

“Mungkin.”

Kirana mengangguk.

“Tapi perubahanmu bukan lagi tanggung jawabku.”

Ia masuk ke mobil.

Tiga bulan kemudian, perceraian mereka resmi diputus.

Kirana tidak meminta rumah, mobil, maupun saham perusahaan Mahendra.

Ia hanya meminta hak asuh penuh Nayla.

Namun masalah Dimas ternyata belum berakhir.

Audit internal perusahaan Mahendra menemukan sejumlah transaksi mencurigakan yang selama ini dikelola Vania.

Perempuan itu telah memindahkan dana perusahaan melalui beberapa vendor fiktif.

Yang lebih mengejutkan, kecelakaan enam tahun lalu ternyata juga bukan kecelakaan biasa.

Polisi menemukan bukti baru setelah memeriksa ulang laporan lama.

Rem mobil Dimas saat itu sengaja dirusak.

Pelakunya bukan Vania.

Melainkan paman Dimas sendiri, yang saat itu ingin mengambil kendali perusahaan keluarga.

Vania mengetahui fakta tersebut sejak awal dan menggunakan informasi itu untuk mendekati Dimas, tetapi tidak pernah mengungkapkannya karena takut kehilangan posisi.

Dimas akhirnya sadar bahwa selama enam tahun ia mempertahankan orang yang memanfaatkan rasa bersalahnya, sambil menghancurkan perempuan yang benar-benar menyelamatkan hidupnya.

Namun penyesalan datang terlambat.

Setahun kemudian, Kirana kembali aktif dalam bisnis keluarga.

Ia tidak mengambil jabatan tinggi.

Sebaliknya, ia membangun sebuah yayasan yang menyediakan bantuan hukum dan tempat perlindungan sementara bagi perempuan dan anak yang mengalami kekerasan domestik.

Suatu sore, setelah menghadiri pembukaan rumah aman pertama yayasan itu di Bogor, Kirana pulang bersama Nayla.

Di ruang keluarga rumah Baskoro, sebuah kue kecil sudah menunggu.

Lima kakaknya berdiri mengelilingi meja.

Nayla yang kini berusia tujuh tahun tertawa.

“Kenapa ada kue? Ulang tahun Nayla kan masih lama.”

Baskoro tersenyum.

“Ini bukan kue ulang tahun.”

“Lalu buat apa?”

Baskoro menatap Kirana.

“Untuk merayakan satu tahun sejak Mama kamu pulang.”

Kirana terdiam.

Matanya perlahan berkaca-kaca.

Enam tahun lalu ia pergi dari rumah ini dengan keyakinan bahwa keluarga yang menentang pilihannya berarti tidak menyayanginya.

Ternyata ia baru memahami sesuatu setelah melewati semua luka itu.

Kadang orang yang paling mencintai kita bukan orang yang selalu membenarkan keputusan kita.

Melainkan orang yang, bahkan setelah kita menutup pintu selama bertahun-tahun, masih berlari ketika mendengar kita meminta pertolongan.

Nayla menarik tangan ibunya.

“Mama, tiup lilinnya.”

Kirana tersenyum.

Ia melihat lima kakaknya berdiri di seberang meja.

“Bareng-bareng.”

Mereka mendekat.

Saat Kirana hendak meniup lilin, Nayla tiba-tiba bertanya, “Mama mau bikin permintaan apa?”

Kirana memandang putrinya lama.

Kemudian ia menggeleng sambil tersenyum.

“Mama tidak perlu minta apa-apa lagi.”

“Kenapa?”

Kirana menggenggam tangan Nayla dan Baskoro.

“Karena yang Mama cari selama ini ternyata sudah ada di rumah.”

Enam orang dewasa dan seorang anak kecil meniup satu lilin bersama-sama.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Kirana akhirnya mengerti bahwa pulang bukan berarti kalah.

Terkadang, pulang adalah keberanian untuk mengakui bahwa kita pantas diselamatkan, lalu memilih tidak kembali ke tempat yang pernah menghancurkan kita.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang