DIA MEMBAWA BAYINYA KE TEMPAT KERJA KARENA UANGNYA HANYA TERSISA RP45.000, TAPI DI BALIK PINTU TERLARANG, DIA MENEMUKAN ORANG YANG INGIN MENGHANCURKAN HIDUPNYA!

Fitri tidak menjawab.

Perempuan berusia tiga puluh delapan tahun itu berdiri kaku di dekat pintu, sementara dua petugas keamanan di belakangnya saling berpandangan.

Raymond menepuk perlahan punggung Kania yang mulai bergerak dalam tidurnya.

“Sekali lagi saya tanya,” katanya dengan suara rendah. “Bagaimana kamu tahu siapa ayah kandung bayi ini?”

Fitri menelan ludah.

“Saya… pernah dengar Maya cerita.”

Maya langsung menggeleng.

“Tidak pernah.”

Fitri menoleh tajam.

“Mungkin kamu lupa.”

“Saya tidak pernah menyebut nama Arga kepada siapa pun di restoran ini.”

Nama itu akhirnya keluar dari mulut Maya.

Raymond menangkap perubahan kecil di wajah Fitri.

Hanya sepersekian detik, tetapi cukup.

Fitri jelas mengenali nama tersebut.

Raymond berdiri perlahan sambil tetap menggendong Kania.

“Pak Damar,” katanya kepada salah satu petugas keamanan, “tutup pintu.”

Petugas keamanan bertubuh tinggi itu langsung menarik daun pintu hingga tertutup.

Fitri mulai terlihat gelisah.

“Pak Raymond, saya rasa ini berlebihan. Masalahnya sederhana. Maya melanggar aturan dengan membawa bayi ke tempat kerja. Saya hanya menjalankan tanggung jawab sebagai manajer.”

“Kalau hanya soal pelanggaran kerja, kenapa kamu menghubungi ayah bayi ini?”

“Saya pikir itu yang terbaik.”

“Nomornya dari mana?”

Fitri kembali diam.

Raymond mengambil ponselnya dari meja.

“Saya akan bertanya sekali lagi. Kalau jawabanmu masih berubah-ubah, saya akan meminta keamanan memeriksa rekaman CCTV sekarang juga.”

Mata Fitri melebar.

Maya yang berdiri beberapa langkah dari sofa baru menyadari bahwa hampir seluruh area staf Grand Dharma memiliki kamera pengawas.

Termasuk lorong menuju gudang linen.

Fitri berusaha mempertahankan ekspresi tenang.

“Silakan.”

Raymond mengangkat alis.

“Baik.”

Ia menekan sebuah nomor.

“Damar, hubungi ruang kontrol. Minta rekaman koridor linen dari pukul empat sampai lima lewat lima belas.”

Petugas keamanan di dekat pintu mengangguk.

Namun sebelum ia sempat menelepon, Fitri tiba-tiba berkata, “Tidak perlu.”

Ruangan mendadak sunyi.

Maya menatapnya.

Fitri mengusap kedua telapak tangannya.

“Saya yang membuka pintu gudang.”

Dada Maya seperti dihantam sesuatu.

“Apa?”

“Saya cuma ingin mengecek.”

“Lalu Kania?”

“Saya tidak menyentuhnya.”

“Kamu membuka pintu tempat bayi delapan bulan berada sendirian lalu meninggalkannya terbuka?”

“Saya pikir dia tidur.”

Suara Maya naik.

“Kania hampir jatuh dari tangga!”

Kania terbangun akibat suara itu dan mulai merengek.

Raymond segera mengayunkan tubuhnya perlahan.

Anehnya, bayi itu kembali tenang setelah beberapa detik.

Maya menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.

Bayangan tentang apa yang bisa terjadi jika Raymond tidak menemukan Kania di anak tangga paling bawah membuat lututnya lemas.

Satu anak tangga lagi.

Satu gerakan salah.

Satu kepala kecil membentur lantai beton.

Maya menutup mulutnya, berusaha menahan tangis.

Raymond menatap Fitri dengan dingin.

“Kamu tahu ada bayi di sana.”

Fitri tidak menjawab.

“Kamu membuka pintunya.”

Diam.

“Dan kamu juga tahu identitas ayah bayi itu.”

Fitri menunduk.

Raymond menyerahkan Kania kepada Maya.

Begitu berada dalam pelukan ibunya, Kania mencengkeram bagian depan seragam Maya dan menyembunyikan wajahnya di dada sang ibu.

Maya mencium rambut halus putrinya berkali-kali.

“Maafin Mama.”

Suara langkah terdengar dari tangga.

Beberapa detik kemudian, pintu diketuk keras.

“Pak Raymond.”

Damar membuka pintu.

Seorang staf keamanan lain berdiri di luar.

“Pak, ada laki-laki bernama Arga Pradana di lobi. Dia bilang dipanggil Bu Fitri untuk menjemput anaknya.”

Tubuh Maya langsung membeku.

Arga.

Nama itu sudah delapan bulan berusaha ia keluarkan dari hidupnya.

Pria yang meninggalkannya ketika kandungannya memasuki bulan ketujuh.

Pria yang mengatakan belum siap menjadi ayah.

Pria yang dua minggu kemudian justru mengunggah foto pertunangan dengan perempuan lain.

Selama delapan bulan, Arga tidak pernah mengirim satu rupiah pun untuk Kania.

Tidak pernah bertanya apakah anaknya sehat.

Tidak pernah datang saat Kania demam tinggi.

Tidak pernah tahu Maya bekerja dua shift tambahan hanya untuk membeli susu.

Sekarang ia datang untuk “menjemput” anaknya.

“Jangan biarkan dia naik,” kata Maya cepat.

Raymond menatapnya.

“Ada alasan hukum kenapa dia tidak boleh bertemu anak ini?”

Maya menggeleng pelan.

“Tidak ada putusan pengadilan. Tapi Kania tinggal dengan saya sejak lahir. Arga bahkan tidak tercantum dalam kehidupan sehari-harinya.”

Raymond terdiam sejenak.

“Bawa dia ke ruang rapat lantai dasar,” katanya kepada petugas keamanan. “Tidak ke sini.”

Kemudian ia menatap Fitri.

“Kamu ikut.”

Sepuluh menit kemudian, Maya duduk di salah satu kursi ruang rapat sambil memeluk Kania.

Raymond berada di ujung meja.

Fitri duduk dua kursi dari Maya.

Tak lama kemudian, Arga masuk.

Penampilannya jauh berbeda dari terakhir kali Maya melihatnya.

Kemeja mahal.

Jam tangan mengilap.

Rambut tertata rapi.

Namun sorot matanya masih sama.

Selalu terlihat seolah orang lain sedang berutang sesuatu kepadanya.

Begitu melihat Maya, Arga tersenyum tipis.

“Kamu bikin semuanya susah lagi.”

Maya menahan napas.

“Apa maksudmu?”

Arga menarik kursi.

“Aku datang ambil anakku.”

“Kania bukan barang.”

“Aku ayahnya.”

“Delapan bulan terakhir kamu ke mana?”

Arga menghela napas seolah pertanyaan itu melelahkan.

“Aku punya kehidupan.”

“Dan Kania bukan bagian dari kehidupanmu?”

Fitri tiba-tiba menyela.

“Jangan emosional, Maya. Arga datang dengan niat baik.”

Maya menatap keduanya bergantian.

Kemudian sesuatu terasa sangat jelas.

“Kalian saling kenal.”

Fitri langsung diam.

Arga tertawa kecil.

“Ya tentu.”

Raymond menyandarkan punggungnya.

“Seberapa dekat?”

Tidak ada yang menjawab.

Raymond menggeser sebuah tablet ke tengah meja.

“Karena mungkin rekaman CCTV bisa membantu.”

Di layar terlihat koridor gudang linen.

Pukul 16.47.

Fitri muncul.

Ia melihat ke kanan dan kiri sebelum membuka pintu gudang.

Perempuan itu masuk selama hampir dua menit.

Kemudian keluar.

Namun sebelum meninggalkan lorong, Fitri sengaja menahan pintu menggunakan sebuah gulungan kain kecil agar tidak tertutup sempurna.

Tujuh menit kemudian, Kania terlihat merangkak keluar.

Maya menutup mulutnya.

Air matanya langsung jatuh.

Kania merangkak perlahan menyusuri koridor.

Tidak ada seorang pun yang melihatnya.

Bayi itu mengikuti suara atau cahaya menuju ujung lorong.

Lalu menghilang dari jangkauan kamera.

Maya berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Kamu sengaja.”

Fitri ikut berdiri.

“Saya tidak pernah menyuruh dia keluar!”

“Tapi kamu sengaja membiarkan pintunya terbuka!”

“Saya cuma ingin Maya ketahuan!”

Kalimat itu meluncur begitu saja.

Semua orang terdiam.

Fitri baru menyadari kesalahannya beberapa detik kemudian.

Raymond menyilangkan kedua tangan.

“Ketahuan melakukan apa?”

Wajah Fitri pucat.

Arga berdiri.

“Sudahlah. Kita pulang.”

Raymond menatapnya.

“Duduk.”

Arga membalas dengan tatapan tidak suka.

“Anda tidak punya hak menahan saya.”

“Benar. Tapi polisi punya hak menyelidiki seseorang yang sengaja menciptakan situasi berbahaya bagi bayi.”

Fitri menatap Raymond panik.

“Polisi?”

Raymond tidak menghiraukannya.

Maya memandang Fitri dengan suara bergetar.

“Kenapa?”

Untuk pertama kalinya, wajah keras Fitri retak.

Ia duduk kembali.

Karena mungkin tahu semuanya sudah berakhir, perempuan itu akhirnya berkata pelan.

“Arga sepupu suami saya.”

Maya membeku.

“Beberapa bulan lalu dia datang ke rumah kami. Dia cerita soal kamu.”

Arga memukul meja.

“Fitri.”

“Diam!”

Fitri membalas dengan suara tinggi.

Ia menatap Maya.

“Arga bilang kamu sengaja menjauhkan Kania supaya suatu hari bisa menuntut uang besar.”

Maya tertawa pendek dalam keadaan hampir menangis.

“Uang besar?”

Ia mengeluarkan ponselnya.

Membuka aplikasi perbankan.

Lalu meletakkannya di meja.

Saldo Rp45.317 terlihat jelas.

“Kalau saya mau uangnya, kenapa saya hidup begini?”

Fitri terdiam.

Maya melanjutkan.

“Kenapa saya bekerja sampai kaki bengkak? Kenapa saya menunggak kontrakan? Kenapa saya bahkan tidak punya uang membayar orang untuk menjaga anak saya?”

Arga mengalihkan pandangan.

Raymond menatapnya.

“Jadi apa tujuanmu sebenarnya?”

Arga tidak menjawab.

Fitri justru mulai menangis.

“Dia akan menikah bulan depan.”

Maya mengernyit.

“Terus?”

“Keluarga calon istrinya baru tahu kalau Arga punya anak.”

Kini Arga benar-benar kehilangan kesabaran.

“Fitri, tutup mulut!”

Namun semuanya sudah terlambat.

Fitri melanjutkan.

“Keluarga mereka sangat menjaga nama baik. Mereka bilang pernikahan bisa dibatalkan kalau masalah ini tidak diselesaikan.”

Maya menatap Arga.

Pelan-pelan ia memahami.

“Kamu mau mengambil Kania supaya terlihat seperti ayah yang bertanggung jawab?”

Arga mengepalkan rahang.

“Bukan begitu.”

“Atau kamu mau saya menandatangani sesuatu?”

Arga diam.

Itulah jawabannya.

Raymond mengetuk meja dengan satu jari.

“Dokumen apa?”

Fitri mengusap wajahnya.

“Surat persetujuan.”

“Persetujuan apa?”

“Hak pengasuhan.”

Maya merasakan hawa dingin menjalar ke punggung.

Fitri menjelaskan bahwa Arga telah menyiapkan dokumen yang seolah-olah menyatakan Maya menyerahkan hak pengasuhan secara sukarela karena tidak mampu secara ekonomi.

Setelah itu, Kania akan dibawa sementara waktu.

Setelah pernikahan Arga selesai, mereka berencana mengirim bayi itu tinggal bersama kerabat di luar Jakarta.

Maya menatap Arga seolah melihat orang asing.

“Kamu mau menghilangkan anakmu sendiri hanya supaya pernikahanmu tidak batal?”

“Aku juga punya masa depan!”

Maya berdiri.

“Dan Kania tidak?”

Arga ikut berdiri.

“Kamu pikir jadi ibu miskin membuatmu lebih baik dariku? Lihat keadaanmu. Membawa bayi ke gudang restoran. Kamu bahkan tidak mampu bayar pengasuh.”

Ucapan itu menusuk lebih dalam daripada yang Maya ingin akui.

Karena sebagian dari dirinya memang sudah memikirkan hal yang sama berkali-kali.

Apakah dirinya ibu yang buruk?

Apakah cintanya cukup jika uang selalu kurang?

Namun sebelum Maya menjawab, Raymond berbicara.

“Kesulitan finansial tidak sama dengan kelalaian yang disengaja.”

Semua mata tertuju kepadanya.

Raymond menatap Arga.

“Dia membawa anaknya ke tempat kerja karena tidak punya pilihan. Itu memang pelanggaran prosedur dan keputusan berisiko. Tetapi hari ini, orang yang sengaja membuat bayi itu berada dalam bahaya bukan Maya.”

Fitri mulai menangis semakin keras.

Raymond menoleh kepada Damar.

“Hubungi polisi. Simpan salinan CCTV. Jangan izinkan rekaman dihapus.”

Arga segera mengambil tasnya.

“Ini urusan keluarga.”

Raymond menjawab datar.

“Begitu bayi dibiarkan merangkak menuju tangga beton karena tindakan yang disengaja, itu bukan lagi sekadar urusan keluarga.”

Dua hari berikutnya menjadi hari paling melelahkan dalam hidup Maya.

Polisi memeriksa rekaman CCTV.

Ponsel Fitri juga diperiksa setelah ia menyerahkannya dalam proses penyelidikan.

Dari sana, ditemukan percakapan antara Fitri dan Arga selama hampir tiga minggu.

Arga meminta Fitri mencari cara agar Maya kehilangan pekerjaan.

Tujuannya sederhana.

Jika Maya dipecat, menunggak kontrakan, dan semakin kesulitan secara finansial, Arga akan menggunakan kondisi tersebut untuk menekan Maya menandatangani surat pengalihan pengasuhan.

Lebih mengejutkan lagi, dua surat peringatan yang diterima Maya sebelumnya ternyata tidak sepenuhnya wajar.

Salah satu keterlambatan Maya hanya sebelas menit karena KRL mengalami gangguan.

Fitri mencatatnya sebagai keterlambatan empat puluh menit.

Pada kejadian lain, Maya sebenarnya sudah meminta pergantian jadwal secara tertulis, tetapi permintaan itu sengaja tidak dimasukkan ke sistem.

Semua perlahan terbongkar.

Seminggu kemudian, Fitri resmi diberhentikan setelah proses internal perusahaan selesai.

Arga mundur dari tuntutan pengasuhan setelah mengetahui bukti percakapannya telah tersimpan dalam laporan kepolisian.

Namun Raymond tidak langsung membiarkan Maya kembali bekerja seperti biasa.

Pada hari pertama Maya kembali ke Grand Dharma, Raymond memanggilnya ke kantor.

Maya masuk dengan jantung berdebar.

Ia sudah menyiapkan diri menerima konsekuensi.

“Saya tahu saya melanggar aturan,” katanya sebelum Raymond berbicara. “Kalau ada potongan gaji atau surat peringatan, saya terima.”

Raymond mengangguk.

“Kamu memang melanggar aturan.”

Maya menunduk.

“Tapi restoran juga gagal.”

Maya mengangkat kepala.

Raymond meletakkan sebuah dokumen di meja.

“Perusahaan sebesar ini punya hampir seratus karyawan, tapi tidak punya satu pun mekanisme darurat untuk pekerja yang memiliki anak.”

Maya terdiam.

“Saya tidak bisa membenarkan keputusanmu menaruh bayi di gudang,” lanjut Raymond. “Tapi saya juga tidak akan berpura-pura bahwa masalah selesai hanya dengan menghukummu.”

Ia mendorong dokumen tersebut ke arah Maya.

Mulai bulan berikutnya, Grand Dharma bekerja sama dengan sebuah penitipan anak yang berjarak sekitar tiga ratus meter dari restoran.

Perusahaan menanggung sebagian besar biaya untuk karyawan dengan anak di bawah usia lima tahun.

Maya membaca halaman itu dua kali.

Kemudian tiga kali.

“Pak… kenapa?”

Raymond tersenyum tipis.

“Karena aturan yang baik seharusnya mencegah orang melakukan kesalahan, bukan cuma menghukum mereka setelah semuanya terjadi.”

Mata Maya panas.

“Tapi saya tidak minta bantuan khusus.”

“Ini bukan khusus untuk kamu.”

Raymond menunjuk dokumen.

“Ini kebijakan untuk semua.”

Maya mengangguk pelan.

Saat hendak keluar, Raymond memanggilnya.

“Maya.”

“Iya, Pak?”

Raymond terlihat ragu sesaat.

“Saya juga perlu bilang sesuatu soal Kania.”

Maya langsung waspada.

Raymond membuka laci mejanya.

Ia mengambil sebuah foto lama.

Di dalamnya terlihat seorang perempuan muda sedang menggendong bayi.

Raymond menyerahkan foto itu.

“Itu kakak saya.”

Maya menatapnya bingung.

“Dua belas tahun lalu dia meninggal.”

Raymond melihat keluar jendela.

“Dia ibu tunggal. Bekerja di hotel. Suatu hari dia menitipkan anaknya kepada orang yang tidak benar-benar dia percaya karena takut kehilangan pekerjaan.”

Suara Raymond berubah lebih pelan.

“Terjadi kecelakaan.”

Maya tidak bertanya lebih jauh.

Ia tidak perlu.

Sekarang ia mengerti kenapa seorang pemilik restoran yang terkenal dingin bisa duduk hampir setengah jam di sofa sambil menjaga bayi karyawan yang bahkan tidak dikenalnya dekat.

“Ketika saya menemukan Kania di tangga,” kata Raymond, “saya merasa seperti melihat sesuatu yang seharusnya bisa terjadi secara berbeda dua belas tahun lalu.”

Maya memeluk foto itu dengan kedua tangan sebelum mengembalikannya.

Untuk pertama kalinya, ia melihat Raymond bukan sebagai pemilik Grand Dharma.

Hanya sebagai seorang adik yang pernah kehilangan seseorang.

Tiga bulan kemudian, kehidupan Maya belum menjadi sempurna.

Ia masih tinggal di rumah kontrakan sederhana.

Masih menghitung harga susu sebelum membeli.

Masih menyimpan uang receh di kotak kecil dekat tempat tidur.

Namun ia tidak lagi harus menyembunyikan Kania di gudang.

Setiap pukul dua siang, Maya mengantar putrinya ke tempat penitipan anak sebelum masuk kerja.

Setiap pukul sembilan malam, ia menjemput Kania yang biasanya langsung tertidur di pelukannya.

Suatu malam, ketika Maya mengambil Kania, pengasuh menyerahkan mainan kerincingan biru yang dulu sempat hilang.

“Kami menemukan ini di tas lama Kania.”

Maya memegangnya.

Mainan yang sama yang ada bersama putrinya pada hari semuanya berubah.

Ia menggoyangkannya perlahan.

Kania tertawa.

Maya ikut tersenyum.

Dulu ia berpikir hari ketika uangnya hanya tersisa Rp45.000 adalah hari terburuk dalam hidupnya.

Hari ketika ia hampir kehilangan pekerjaan.

Hari ketika bayinya hampir jatuh dari tangga.

Hari ketika orang-orang mencoba menggunakan kemiskinannya untuk mengambil anaknya.

Namun beberapa bulan kemudian, Maya menyadari sesuatu.

Kadang-kadang hidup tidak berubah ketika seseorang akhirnya punya banyak uang.

Hidup berubah ketika kebenaran yang selama ini tersembunyi akhirnya terbuka.

Maya masih belum kaya.

Masih belum aman sepenuhnya.

Tetapi sekarang ia tahu satu hal yang jauh lebih berharga.

Menjadi orang tua yang baik bukan berarti selalu memiliki semua jawaban.

Kadang-kadang itu berarti bertahan ketika pilihan yang tersedia semuanya buruk, mengakui kesalahan tanpa membiarkan orang lain menjadikannya senjata, dan tetap berdiri ketika seseorang mencoba meyakinkan kita bahwa kesulitan hidup membuat kita tidak layak dicintai.

Maya mencium kening Kania.

Di luar, lampu-lampu Menteng menyala satu per satu.

Di tangannya hanya ada sebuah tas kerja, botol susu kosong, dan sisa uang yang masih harus dihitung sampai akhir bulan.

Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Maya tidak merasa sendirian.

Dan bagi seorang ibu yang hampir kehilangan segalanya, itu sudah terasa seperti awal dari kehidupan baru.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang