Kania Pratama tidak pernah menyangka bahwa foto USG yang selama tujuh bulan ia simpan seperti harta paling berharga akan robek di tangan perempuan yang ingin merebut suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, Dimas hanya berdiri di sana.
Tidak membela Kania.
Tidak merebut foto itu dari tangan Sheila.
Tidak juga mengatakan bahwa bayi yang bergerak di dalam perut Kania adalah anak yang selama bertahun-tahun mereka nantikan.

Tatapan Dimas malam itu hanya mengatakan satu hal.
Bagi lelaki itu, pernikahan mereka sudah berubah menjadi angka dalam laporan keuangan.
Tiga bulan setelah meninggalkan Jakarta, Kania melahirkan seorang bayi laki-laki di sebuah rumah sakit di Malang.
Bu Ratna menunggu di luar ruang bersalin sejak sore hingga menjelang subuh. Ketika tangisan bayi akhirnya terdengar, perempuan berusia hampir enam puluh tahun itu menutup wajahnya dan menangis.
Kania justru terdiam.
Perawat meletakkan bayi kecil itu di dadanya.
Rambutnya hitam lebat. Jari-jarinya mungil. Matanya masih terpejam.
Kania menyentuh pipinya dengan ujung jari.
“Namamu Arka,” bisiknya. “Mulai hari ini, kita tidak perlu memohon kepada siapa pun untuk memilih kita.”
Dua minggu sebelumnya, perceraian Kania dan Dimas telah resmi diputus.
Dimas tidak pernah datang ke Malang.
Ia hanya mengirim pengacaranya.
Tidak ada pertanyaan mengenai kondisi kandungan Kania. Tidak ada permintaan untuk melihat anaknya setelah lahir.
Enam bulan kemudian, berita pernikahan Dimas dan Sheila memenuhi portal bisnis dan media sosial.
Pernikahan mereka digelar di sebuah hotel mewah di Jakarta.
Di bawah foto keduanya, tertulis berita bahwa investasi keluarga Tanudidjaja berhasil menyelamatkan jaringan Hotel Danuarta dari ancaman gagal bayar.
Bu Ratna buru-buru mematikan layar ponselnya.
“Jangan dibaca.”
Kania tersenyum kecil sambil menyuapi Arka.
“Saya sudah tidak sakit melihat mereka, Tante.”
Itu tidak sepenuhnya benar.
Namun Kania belajar bahwa luka tidak selalu harus sembuh sebelum seseorang bisa melanjutkan hidup.
Kadang seseorang hanya perlu berhenti menyentuhnya.
Kania menggunakan tabungan yang tersisa untuk membuka usaha kecil penyedia perlengkapan kamar hotel bersama Bu Ratna. Pengalamannya selama bertahun-tahun membantu Dimas mengurus jaringan hotel ternyata berguna.
Usahanya tumbuh perlahan.
Kania bekerja ketika Arka tidur dan berhenti ketika anak itu membutuhkan dirinya.
Tidak ada kantor mewah.
Tidak ada mobil dengan sopir.
Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Kania merasa hidupnya benar-benar miliknya.
Tiga tahun berlalu.
Pada suatu Senin pagi, ketika Kania sedang memeriksa sampel seprai dari pemasok Surabaya, teleponnya berdering.
Nomor Jakarta.
“Bu Kania Pratama?”
“Ya.”
“Saya Aditya Mahendra. Saya pengacara yang menerima dokumen digital dari Ibu tiga tahun lalu.”
Kania langsung mengenali nama itu.
“Ada apa?”
Suara Aditya berubah serius.
“Pak Dimas mengajukan gugatan penetapan status anak.”
Tangan Kania berhenti di atas meja.
“Anak siapa?”
“Arka.”
Kania tertawa pendek karena tidak percaya.
“Selama tiga tahun dia bahkan tidak pernah menanyakan apakah anaknya sehat.”
“Ada masalah warisan di keluarga Danuarta.”
Aditya menjelaskan bahwa ayah Dimas baru saja meninggal. Dalam surat wasiatnya, sebagian besar saham keluarga harus diwariskan kepada keturunan biologis pertama Dimas.
Masalahnya, pernikahan Dimas dan Sheila belum menghasilkan anak.
Artinya, jika Arka terbukti sebagai putra biologis Dimas, anak berusia tiga tahun itu berhak atas saham bernilai sangat besar.
“Jadi sekarang dia ingat punya anak karena saham?”
“Bukan hanya itu.”
Aditya berhenti sejenak.
“Pihak Pak Dimas menyatakan Arka kemungkinan bukan anak biologisnya.”
Darah Kania terasa naik ke kepalanya.
“Apa?”
“Mereka meminta tes DNA.”
Kania hampir menolak.
Namun malam itu, ketika Arka tertidur sambil memeluk boneka dinosaurusnya, Kania memandang wajah anak itu lama.
Ia tidak ingin Arka tumbuh dengan tuduhan yang dibuat orang dewasa demi uang.
Kania akhirnya setuju.
Tes dilakukan di sebuah laboratorium independen di Jakarta dengan pengawasan hukum kedua pihak.
Hari pengambilan sampel menjadi pertemuan pertama Kania dan Dimas setelah tiga tahun.
Dimas tampak berbeda.
Lebih kurus.
Garis wajahnya lebih keras.
Sheila duduk di sebelahnya dengan tas mahal di pangkuan.
Ketika Kania masuk sambil menggandeng Arka, Dimas berdiri spontan.
Tatapannya terpaku pada anak kecil itu.
Arka bersembunyi di belakang kaki ibunya.
Dimas membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Sheila yang berbicara lebih dulu.
“Kita datang untuk pemeriksaan, bukan reuni keluarga.”
Kania menatapnya.
“Saya juga tidak datang untuk reuni.”
Setelah sampel diambil, mereka menunggu tujuh hari.
Hari ketujuh, Aditya menelepon.
“Kania, kamu harus datang ke Jakarta.”
“Kenapa tidak dikirim lewat surel?”
“Karena hasilnya tidak seperti yang kita perkirakan.”
Kania langsung merasa sesuatu yang buruk terjadi.
Dua hari kemudian, mereka berkumpul di kantor laboratorium.
Dokter menyerahkan hasil pemeriksaan kepada kuasa hukum masing-masing.
Dimas membacanya terlebih dahulu.
Wajahnya kehilangan warna.
Sheila merebut kertas itu.
Probabilitas Dimas Danuarta sebagai ayah biologis Arka adalah nol persen.
Ruangan mendadak sunyi.
Dimas menatap Kania.
“Apa maksudnya ini?”
Kania bahkan tidak mampu menjawab.
“Aku tidak pernah bersama laki-laki lain.”
“Tesnya jelas.”
“Kamu pikir aku tidak bisa membaca?”
Suara Kania bergetar untuk pertama kalinya.
Dimas berdiri.
“Jadi selama ini kamu membawa anak orang lain dan menyebutnya anakku?”
Kania menampar Dimas.
Suara tamparan itu memantul di dinding ruangan.
“Jangan pernah menghina anakku.”
Sheila tersenyum tipis.
“Sudah selesai, kan? Arka tidak punya hak atas keluarga Danuarta.”
Namun dokter laboratorium mengangkat tangan.
“Belum.”
Semua orang menoleh.
“Kami menemukan sesuatu yang tidak biasa. Karena hasilnya bertentangan dengan riwayat kehamilan yang disampaikan Ibu Kania, kami melakukan pemeriksaan tambahan setelah mendapat persetujuan kuasa hukum.”
Dokter kemudian meletakkan satu dokumen lain di meja.
“Kami membandingkan profil genetik Arka dengan sampel biologis Ibu Kania.”
Kania merasa napasnya tercekat.
“Hasilnya?”
Dokter memandangnya.
“Arka adalah anak biologis Ibu.”
Kania hampir marah.
“Tentu saja.”
“Tetapi ada temuan lain.”
Dokter menarik napas.
“Data menunjukkan pembuahan kemungkinan dilakukan menggunakan material genetik laki-laki lain.”
Dimas membeku.
Kania menatapnya tidak mengerti.
Tiga tahun lalu, sebelum kehamilannya, Kania dan Dimas memang menjalani program fertilitas setelah empat tahun gagal memiliki anak.
Dokter mereka mengatakan prosedur berhasil menggunakan sampel Dimas.
Kania tidak pernah mempertanyakannya.
Sampai sekarang.
Aditya tiba-tiba membuka laptop.
“Ada sesuatu yang harus kalian lihat.”
Ia menunjukkan salinan dokumen yang dikirim otomatis oleh komputer Kania pada pagi ketika ia meninggalkan Jakarta.
Di antara bukti komunikasi Dimas dan Sheila terdapat foto beberapa berkas restrukturisasi perusahaan.
Salah satunya membawa logo klinik fertilitas yang sama.
Aditya memperbesar halaman itu.
Ada formulir persetujuan perubahan donor material genetik.
Tanda tangan Kania tercantum di sana.
Kania langsung menggeleng.
“Itu bukan tanda tanganku.”
Dimas meraih laptop.
Wajahnya semakin pucat.
Di bagian bawah dokumen terdapat tanda tangan saksi.
Sheila Tanudidjaja.
Semua mata beralih kepadanya.
Untuk pertama kalinya, ketenangan Sheila runtuh.
“Itu cuma dokumen administrasi.”
Aditya menutup laptop perlahan.
“Pemalsuan persetujuan tindakan medis bukan administrasi biasa.”
Dimas berbalik kepada istrinya.
“Kamu tahu soal ini?”
Sheila diam.
Dimas membentak.
“Kamu tahu?”
Sheila akhirnya berdiri.
“Ayahmu yang mengaturnya.”
Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku.
Sheila mengatakan tiga tahun sebelum kebangkrutan Danuarta terungkap, ayah Dimas sudah mengetahui perusahaan mereka berada dalam kondisi kritis.
Ia juga tahu Dimas dan Kania mengikuti program fertilitas.
Pada saat bersamaan, keluarga Tanudidjaja sedang merancang pengambilalihan diam-diam terhadap aset Danuarta.
Kehamilan Kania menjadi masalah.
Jika bayi itu lahir sebagai keturunan biologis Dimas, saham keluarga suatu hari dapat berpindah kepada anak tersebut.
Maka sebuah rencana dibuat.
Sampel Dimas diganti.
Seorang dokter di klinik dibayar.
Dokumen persetujuan dipalsukan.
“Siapa ayah biologis Arka?” tanya Kania dengan suara nyaris tidak terdengar.
Sheila menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
“Kamu bohong.”
“Aku benar-benar tidak tahu. Mereka menggunakan donor anonim.”
Kania menutup mulutnya.
Dunia seolah berputar.
Dimas terduduk.
Selama tiga tahun ia percaya dirinya telah menghancurkan pernikahan demi menyelamatkan perusahaan.
Kini ia baru menyadari bahwa kebangkrutan itu sendiri telah digunakan untuk mengendalikan seluruh hidupnya.
Namun Aditya belum selesai.
“Ada satu hal lagi.”
Ia membuka berkas restrukturisasi perusahaan.
Investasi keluarga Tanudidjaja ternyata bukan dana penyelamatan biasa.
Melalui sejumlah perusahaan perantara, mereka secara bertahap memperoleh hak atas mayoritas aset Danuarta jika Dimas gagal memenuhi kewajiban tertentu.
Dan kegagalan itu telah terjadi enam bulan sebelumnya.
Dimas menatap Sheila.
“Jadi pernikahan kita…”
Sheila tidak menjawab.
“Kamu menikah denganku hanya untuk mengambil perusahaan?”
Sheila tertawa hambar.
“Jangan bersikap seolah kamu korban paling besar di ruangan ini, Dimas. Tiga tahun lalu kamu juga membuang istrimu yang sedang hamil demi uang keluargaku.”
Dimas tidak bisa membantah.
Kania memejamkan mata.
Akhirnya ia mengerti.
Tidak ada satu penjahat tunggal dalam kehancuran rumah tangganya.
Ada orang-orang yang memalsukan dokumen.
Ada keluarga yang menjadikan pernikahan sebagai transaksi.
Tetapi Dimas sendiri telah membuat pilihan.
Ia memilih uang.
Ia memilih diam ketika foto USG anak yang diyakininya sebagai darah dagingnya dirobek.
Tidak ada manipulasi yang bisa menghapus kenyataan itu.
Kasus tersebut kemudian berkembang menjadi penyelidikan pidana terhadap praktik klinik fertilitas, pemalsuan dokumen, dan transaksi perusahaan.
Sheila dan keluarganya menghadapi proses hukum.
Dimas kehilangan kendali atas sebagian besar bisnis yang selama ini ingin ia selamatkan.
Beberapa bulan kemudian, Dimas datang ke Malang.
Kania menemuinya di teras rumah Bu Ratna.
“Aku minta maaf,” katanya.
Kania tidak menjawab.
“Aku tahu maaf tidak cukup.”
“Memang.”
Dimas menunduk.
“Boleh aku bertemu Arka?”
Kania memandang ke halaman.
Arka sedang berlari mengejar gelembung sabun bersama Bu Ratna.
“Kamu datang karena dia anakmu?”
Dimas menggeleng pelan.
“Hasil DNA sudah menjawab itu.”
“Lalu?”
Dimas menatap Arka dari kejauhan.
“Karena selama tujuh bulan aku percaya dia anakku. Aku bicara padanya setiap malam. Aku memilih nama untuknya. Aku mengecat kamarnya.”
Kania tersenyum getir.
“Lalu kamu memilih perusahaan.”
Dimas menundukkan kepala.
“Itulah kesalahan yang akan kubawa seumur hidup.”
Kania tidak langsung mengizinkannya mendekati Arka.
Ia hanya berkata bahwa suatu hari, ketika Arka cukup dewasa, anak itu sendiri yang berhak menentukan siapa yang boleh berada dalam hidupnya.
Dimas menerima keputusan itu.
Sebelum pergi, ia menyerahkan sebuah amplop.
Di dalamnya bukan uang.
Melainkan foto USG yang telah robek tiga tahun lalu.
Dimas ternyata menyimpan separuh bagian yang tertinggal di ruang kerjanya.
Kania mengambil separuh miliknya dari kotak kenangan.
Ketika kedua bagian itu disatukan, garis robek masih terlihat jelas di tengah gambar.
Tidak akan pernah kembali sempurna.
Namun gambar bayi di dalamnya kembali utuh.
Arka berlari menghampiri.
“Ibu lihat apa?”
Kania berjongkok.
“Foto kamu waktu masih kecil sekali.”
Arka mengerutkan hidung.
“Aku di mana?”
“Di perut Ibu.”
“Papa siapa?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Kania terdiam.
Dulu ia takut pada hari ketika pertanyaan itu datang.
Kini ia justru merasa tenang.
Kania memeluk putranya.
“Ibu belum tahu siapa ayah biologismu.”
Arka menatapnya bingung.
Kania mencium dahinya.
“Tapi Ibu tahu satu hal.”
“Apa?”
“Kamu tidak pernah menjadi kesalahan, Arka.”
Anak kecil itu tersenyum lalu kembali berlari menuju halaman.
Kania memandang foto USG di tangannya.
Tiga tahun lalu, orang-orang dewasa menjadikan kehamilannya kontrak bisnis, DNA sebagai alat warisan, dan pernikahan sebagai transaksi.
Mereka mengira darah menentukan siapa yang pantas disebut keluarga.
Namun setelah kehilangan hampir semuanya, Kania memahami sesuatu yang jauh lebih sederhana.
DNA dapat membuktikan dari siapa seseorang dilahirkan.
Tetapi tidak pernah bisa menentukan siapa yang memilih untuk tetap tinggal ketika seluruh dunia pergi.
