Sementara itu, jauh dari rumah sakit tempat Fajar akhirnya membuka mata, Rina sedang berdiri di sebuah dapur kecil di lantai dua sebuah ruko tua di Bandung.
Perutnya sudah besar.
Tangannya menekan pinggang ketika rasa nyeri kembali datang.
“Bu Rina, duduk dulu,” kata Sari, pemilik toko roti tempat ia bekerja.
Rina menggeleng sambil tetap mengoleskan mentega ke permukaan adonan.
“Sebentar lagi selesai.”
“Kamu hamil tujuh bulan. Dokter sudah bilang jangan terlalu capek.”
Rina tersenyum tipis.
“Kalau saya berhenti kerja, saya bayar kontrakan pakai apa?”
Sari terdiam.
Ia tahu Rina tidak suka dikasihani.
Tujuh bulan sebelumnya, perempuan itu datang ke tokonya dengan satu koper, wajah pucat, dan hanya membawa sebuah buku resep lama. Ia meminta pekerjaan tanpa menjelaskan banyak hal.
Baru beberapa minggu kemudian Sari tahu bahwa Rina sedang hamil.
Dan baru dua bulan kemudian ia tahu bahwa suami Rina ternyata belum mati.
Rina mengetahui kabar itu secara tidak sengaja dari koran lama yang dibawa pelanggan. Di sana tertulis bahwa salah satu korban kecelakaan pesawat yang sebelumnya dianggap meninggal ternyata ditemukan hidup dan sedang dirawat dalam kondisi koma.
Namanya Fajar Santoso.
Sejak hari itu, Rina mencoba menghubungi rumah sakit.
Ia tidak pernah berhasil bicara langsung dengan dokter yang merawat Fajar.
Setiap kali menelepon, seseorang selalu mengatakan keluarga pasien tidak mengizinkan informasi diberikan kepada pihak luar.
Rina pergi ke Jakarta dua kali.
Pertama, ia bahkan tidak berhasil melewati meja keamanan.
Kedua, ia membawa surat nikah.
Tetapi saat menunjukkan identitas, seorang petugas administrasi memandang layar komputer cukup lama lalu berkata, “Maaf, Bu. Di data keluarga pasien, nama Ibu sudah tidak tercantum sebagai kontak.”
Rina merasa darahnya berhenti mengalir.
“Tidak mungkin. Saya istrinya.”
Petugas itu tampak tidak nyaman.
“Saya hanya mengikuti data yang ada.”
Pada kunjungan ketiga, Rina bertemu Marni secara diam-diam di dekat kantin rumah sakit.
Marni menangis begitu melihat perut Rina.
“Ya Allah, Bu…”
“Fajar gimana?”
“Masih belum sadar.”
“Aku harus ketemu dia.”
Marni menatap sekeliling.
“Ibu Ratih jaga ketat. Bu Dian juga sering di sini. Mereka bilang ke semua orang kalau Ibu sudah kabur.”
Rina memejamkan mata.
Ia tidak terkejut.
Hanya lelah.
“Marni, tolong satu hal.”
“Apa?”
Rina menyerahkan kantong berisi roti jeruk.
“Taruh ini di kamar Fajar. Kalau dia bangun, dia pasti tahu.”
Di bawah roti itu, Rina menyisipkan sebuah pesan.
Alamat tempat tinggalnya ia tulis di bagian paling bawah.
Marni berhasil membawa roti tersebut ke kamar Fajar.
Tetapi ia tidak tahu bahwa beberapa menit kemudian Dian masuk.
Dian melihat kantong itu.
Membuka suratnya.
Membaca semua isi pesan.
Lalu merobek bagian alamat sebelum meninggalkan roti dan bagian atas surat di sana.
Entah karena tergesa-gesa atau terlalu yakin Fajar tidak akan pernah bangun.
Kini, kesalahan kecil itulah yang menghancurkan semuanya.
Di rumah sakit, Fajar menatap ibunya dengan napas memburu.
“Siapa yang merobek ini?”
Ibu Ratih tidak menjawab.
Dian mencoba tersenyum.
“Kak, kamu baru sadar. Jangan bikin dirimu stres.”
“Siapa yang merobek surat ini?”
Suara Fajar lemah, tetapi nada yang keluar membuat Dian terdiam.
Ibu Ratih menggenggam tasbihnya lebih erat.
“Fajar, Ibu melakukan semua ini demi kamu.”
Fajar tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Karena ia mulai memahami.
“Demi aku?”
“Rina nggak cocok buat keluarga kita.”
“Jadi Ibu usir dia?”
“Ibu hanya menyelamatkan apa yang kamu bangun.”
Fajar menatap perempuan yang melahirkannya seperti sedang melihat orang asing.
“Dia bilang dia hamil.”
Ibu Ratih memalingkan wajah.
Itu sudah cukup.
“Kalian tahu?”
Dian langsung berkata, “Kami nggak yakin itu anak Kakak.”
Fajar menatapnya tajam.
Dian mundur setengah langkah.
“Dia hamil setelah Kakak kecelakaan. Kami cuma berpikir…”
“Berpikir apa?”
“Bisa saja…”
“Jangan lanjutkan.”
Suara Fajar pecah.
Ia mencoba bangun.
Monitor di samping tempat tidur langsung berbunyi lebih cepat.
Perawat masuk dan memintanya berbaring.
Namun Fajar menolak menatap Ibu Ratih lagi.
“Keluar.”
“Fajar…”
“Keluar.”

Ibu Ratih mulai menangis.
“Ibu melakukan semuanya karena rumah, perusahaan, semua aset itu harus tetap di keluarga.”
Fajar menatapnya dengan mata merah.
“Rina adalah keluargaku.”
Dian mencoba mendekat.
“Kak…”
“Kalian berdua keluar.”
Setelah mereka pergi, Fajar meminta telepon.
Tangannya masih sulit menekan layar.
Ia menghubungi Arman, sahabat sekaligus direktur operasional firmanya.
Arman tiba dua jam kemudian.
Begitu masuk, wajahnya berubah.
“Gila. Akhirnya kamu bangun.”
Fajar hampir tersenyum.
“Man, aku butuh bantuan.”
“Bilang aja.”
“Cari Rina.”
Ekspresi Arman menjadi aneh.
“Gue kira…”
“Apa?”
Arman menarik kursi.
“Selama ini nyokap lo bilang Rina pergi setelah tahu lo kemungkinan cacat permanen.”
Fajar menutup mata sebentar.
“Kebohongannya lebih besar dari yang gue kira.”
Arman langsung mengeluarkan laptop.
Mereka mulai memeriksa semuanya.
Rekening perusahaan.
Dokumen rumah.
Surat kuasa.
Riwayat perubahan kepemilikan saham.
Dan sesuatu yang jauh lebih buruk muncul.
Selama Fajar koma, Ibu Ratih menggunakan surat kuasa darurat untuk memindahkan sebagian kendali perusahaan kepada Dian.
Beberapa aset pribadi Fajar juga sedang dalam proses dijual.
Bahkan rumah di Pondok Indah telah dijadikan jaminan untuk pinjaman perusahaan baru yang didirikan atas nama Dian.
“Ini bukan cuma soal Rina,” kata Arman pelan.
Fajar menatap layar.
“Mereka pikir gue nggak akan bangun.”
Arman mengangguk.
Fajar mendadak teringat sesuatu.
“Marni.”
“Apa?”
“Cari Marni.”
Mereka menemukan nomor lama Marni lewat data pegawai rumah tangga.
Saat dihubungi, perempuan itu langsung menangis.
“Mas Fajar?”
“Iya.”
“Mas sudah sadar?”
“Iya. Marni, Rina di mana?”
Hening panjang.
“Saya nggak tahu alamat lengkapnya, Mas. Terakhir Bu Rina bilang tinggal dekat Jalan Cihampelas, kerja di toko roti kecil. Saya cuma pernah ketemu dia di rumah sakit.”
Fajar menahan napas.
“Roti jeruk itu kamu yang bawa?”
“Iya.”
“Siapa yang ambil suratnya?”
“Saya nggak tahu, Mas. Saya taruh sendiri di kamar. Tapi setelah itu Bu Dian masuk.”
Fajar menatap Arman.
Tidak perlu bukti lebih banyak untuk memahami siapa yang merobek pesan itu.
Tiga hari kemudian, kondisi Fajar masih jauh dari pulih.
Ia belum bisa berjalan tanpa bantuan.
Dokter melarang perjalanan jauh.
Namun ketika Arman datang membawa daftar dua belas toko roti kecil di sekitar Cihampelas, Fajar hanya berkata, “Kita berangkat.”
“Lo bahkan belum kuat duduk dua jam.”
“Gue sudah kehilangan tujuh bulan.”
“Fajar.”
“Gue nggak mau kehilangan sehari lagi.”
Akhirnya mereka pergi dengan ambulans pribadi dan seorang perawat.
Mereka mengunjungi toko demi toko.
Tidak ada Rina.
Sampai menjelang sore, mereka tiba di sebuah ruko kecil dengan papan bertuliskan Dapur Sari.
Dari dalam, tercium aroma mentega.
Dan jeruk.
Fajar membeku di kursi roda.
Arman mendorongnya mendekati pintu kaca.
Seorang perempuan berdiri membelakangi mereka.
Rambutnya diikat sederhana.
Tubuhnya lebih kurus.
Perutnya besar.
Tangannya sedang menata roti di rak.
Fajar tidak mampu bicara.
Rina menoleh karena mendengar pintu terbuka.
Kotak roti di tangannya jatuh.
Untuk beberapa detik, keduanya hanya menatap.
Rina menutup mulut.
Air matanya langsung jatuh.
“Fajar?”
Suara itu menghancurkan pertahanan terakhirnya.
Fajar mencoba berdiri.
Kakinya tidak kuat.
Hampir saja ia jatuh kalau Arman tidak menahannya.
Rina berlari mendekat sebisanya.
“Kamu hidup…”
Fajar menangis.
“Aku cari kamu.”
Rina menatap kursi roda, bekas luka di wajahnya, tubuh yang berubah drastis.
“Kamu benar-benar hidup.”
Mereka berpelukan.
Tidak ada kalimat indah.
Tidak ada kata-kata sempurna.
Hanya tangis dua orang yang selama tujuh bulan dipisahkan oleh kebohongan.
Beberapa saat kemudian, Fajar menunduk menatap perut Rina.
Tangannya gemetar.
“Ini…”
Rina tersenyum dalam tangis.
“Anak kita.”
Fajar menutup wajahnya.
Untuk pertama kalinya sejak bangun, ia menangis tanpa berusaha menahan suara.
“Aku nggak tahu.”
“Aku juga baru tahu setelah mereka mengusirku.”
“Maafin aku.”
Rina menggeleng.
“Kamu bahkan nggak sadar.”
“Tapi seharusnya aku melindungimu lebih baik sebelum semua ini terjadi.”
Rina duduk di hadapannya.
“Fajar, dengar. Aku nggak mau hidup kita habis cuma untuk marah.”
Fajar menatapnya.
“Aku mau mereka bertanggung jawab.”
“Aku juga.”
“Tapi bukan karena balas dendam.”
Rina menggenggam tangannya.
“Karena kalau orang seperti mereka dibiarkan, mereka akan terus berpikir cinta bisa dikalahkan oleh uang dan nama keluarga.”
Hari-hari berikutnya berjalan cepat.
Arman menyerahkan bukti transaksi ke pengacara.
Surat kuasa yang digunakan Ibu Ratih diperiksa dan ditemukan memiliki sejumlah perubahan yang tidak pernah disetujui Fajar.
Dian juga terbukti memindahkan dana perusahaan ke entitas miliknya sendiri.
Yang paling mengejutkan justru datang dari Marni.
Perempuan itu menyimpan rekaman kamera keamanan rumah.
Hari ketika Rina diusir terekam seluruhnya.
Ancaman Ibu Ratih.
Pengambilan ponsel.
Pengusiran.
Bahkan percakapan Dian dengan pengacara.
“Kalau Fajar benar-benar mati, kita tinggal pastikan Rina nggak punya akses ke apa pun.”
Kasus itu tidak lagi bisa ditutupi.
Ibu Ratih datang menemui Fajar beberapa minggu kemudian.
Ia sekarang sudah bisa berdiri dengan tongkat.
Rina duduk tidak jauh darinya.
Kehamilannya memasuki bulan kedelapan.
Ibu Ratih tidak berani menatap Rina.
“Ibu minta maaf.”
Fajar diam.
“Ibu takut semua yang keluarga kita punya jatuh ke tangan orang luar.”
Rina tersenyum pahit.
“Sembilan tahun saya jadi istri Fajar, Bu. Tapi di mata Ibu, saya tetap orang luar.”
Ibu Ratih mulai menangis.
“Saya salah.”
Fajar akhirnya berkata, “Ibu bukan cuma salah.”
Ia menatap ibunya lurus-lurus.
“Ibu mengambil tujuh bulan kehidupan kami.”
Ruangan itu sunyi.
“Anakku tumbuh tujuh bulan tanpa aku tahu dia ada. Rina melewati kehamilan sendirian. Semua karena Ibu lebih takut kehilangan aset daripada kehilangan keluarga.”
Ibu Ratih menunduk.
Fajar tidak mengusir ibunya selamanya.
Namun ia juga tidak menghapus konsekuensi.
Seluruh akses Ibu Ratih dan Dian ke perusahaan dicabut.
Proses hukum terhadap pengalihan aset tetap berjalan.
Dian akhirnya mengakui bahwa dialah yang merobek alamat di surat Rina.
“Aku panik,” katanya.
Fajar hanya menjawab, “Kadang satu tindakan kecil menunjukkan siapa kita sebenarnya.”
Dua bulan kemudian, seorang bayi laki-laki lahir sehat.
Fajar berada di ruang bersalin.
Dengan tongkat di satu sisi dan tangan Rina di sisi lain.
Mereka menamainya Arka.
Beberapa minggu setelah kelahiran Arka, Rina akhirnya mendapatkan sesuatu yang dulu selalu ia impikan.
Bukan toko roti mewah.
Bukan restoran besar.
Hanya sebuah tempat sederhana dengan meja panjang dari kayu di tengah ruangan.
Di atas pintunya tertulis Meja Rina.
Pada hari pembukaan, orang-orang duduk bersama, makan roti, minum kopi, dan berbicara seperti teman lama.
Fajar berdiri di dekat dapur sambil menggendong Arka.
Kakinya masih belum sepenuhnya pulih.
Rina datang membawa satu piring kecil.
Di atasnya ada roti jeruk dengan irisan almond.
“Masih ingat?”
Fajar tertawa.
Ia menggigit sedikit.
Matanya langsung terpejam.
“Rasa ini bahkan nggak hilang setelah tujuh bulan koma.”
Rina tersenyum.
“Ternyata benar.”
Fajar menatap istrinya.
“Dulu aku kira rumah itu bangunan yang kita beli.”
Rina mengangkat alis.
“Sekarang?”
Fajar menatap meja panjang yang dipenuhi orang, kemudian bayi mereka.
“Rumah itu tempat seseorang tetap mencarimu, bahkan saat semua orang bilang kamu sudah pergi.”
Rina menggenggam tangannya.
Mereka tidak tahu bahwa beberapa meter dari pintu, seorang perempuan berdiri diam sejak tadi.
Ibu Ratih.
Ia tidak masuk.
Di tangannya ada sebuah kotak kecil berisi mainan bayi.
Rina melihatnya lebih dulu.
Tatapan mereka bertemu.
Ibu Ratih menunduk, lalu hendak pergi.
Namun Rina memanggilnya.
“Bu.”
Ibu Ratih berhenti.
Rina membuka pintu sedikit lebih lebar.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada pengampunan dramatis.
Hanya satu kalimat.
“Kalau mau lihat cucu Ibu, masuklah.”
Ibu Ratih menutup mulutnya agar tangisnya tidak pecah.
Fajar memandang Rina, terkejut.
Rina hanya berbisik, “Memaafkan bukan berarti melupakan. Tapi aku nggak mau Arka tumbuh mewarisi kebencian yang bukan miliknya.”
Fajar mengangguk perlahan.
Di meja panjang itu akhirnya tersedia satu kursi tambahan.
Dan di tengah aroma kopi serta roti jeruk hangat, Fajar memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah diajarkan oleh uang, perusahaan, ataupun nama besar keluarganya.
Keluarga bukan orang yang memiliki darah yang sama.
Keluarga adalah mereka yang memilih untuk tetap tinggal, memperbaiki kesalahan, dan berani mengatakan kebenaran meski kebenaran itu menghancurkan segala sesuatu yang selama ini mereka pertahankan.
Dan kadang, kebenaran sebesar itu tidak datang melalui dokumen, pengacara, ataupun rekening bank.
Kadang ia datang dalam bentuk sepotong roti jeruk yang tidak sempat dibuang.
