Darah terus menetes dari dahiku ketika aku mengangkat wajah dan menatap Ryan.
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku tidak melihat suamiku.
Aku melihat seorang laki-laki asing yang berdiri di ruang makanku, dikelilingi keluarganya, setelah baru saja melukaiku hanya karena aku menolak menyerahkan sesuatu yang menjadi milikku.
“Citra…” suara Ryan terdengar lebih rendah sekarang.
Mungkin dia mulai sadar apa yang telah dilakukannya.
Mungkin dia melihat darah di tanganku dan akhirnya memahami bahwa amarah sesaatnya baru saja melewati batas yang tidak bisa diperbaiki dengan kata maaf.
Namun sebelum dia bergerak mendekat, aku mengangkat telapak tangan.
“Jangan sentuh aku.”
Ryan berhenti.
Ibu Sofia mendecakkan lidah.
“Sudahlah. Jangan dibesar-besarkan. Ryan cuma emosi.”
Aku menatapnya lama.
Kalimat itu justru terasa lebih menyakitkan daripada luka di dahiku.
“Cuma emosi?”
Aku tertawa kecil, meski kepalaku berdenyut hebat.
“Anak Ibu melempar piring ke kepala saya sampai berdarah, dan menurut Ibu ini cuma emosi?”
Maya akhirnya berdiri.
“Kak Citra, mungkin kita semua lagi panas. Lebih baik tenang dulu.”
Aku memandangnya.
Beberapa menit sebelumnya dia ikut menentukan berapa juta rupiah yang seharusnya kuberikan kepada ibunya setiap bulan.
Sekarang dia berbicara seolah-olah hanya menjadi penonton netral.
Aku meraih ponsel yang tergeletak di meja.
Wajah Ryan langsung berubah.
“Kamu mau telepon siapa?”
“Keamanan gedung.”
“Apa?”
Aku menekan nomor petugas keamanan apartemen.
Ryan berjalan mendekat.
“Citra, jangan bikin malu keluarga.”
Aku menatapnya tajam.
“Yang membuat malu keluarga bukan aku.”
Aku menghubungi petugas keamanan dan mengatakan ada tindakan kekerasan di unitku. Setelah itu aku menelepon temanku, Rani, seorang pengacara yang sudah kukenal sejak kuliah.
Ryan berusaha meraih ponselku.
Aku mundur.
“Kalau kamu menyentuhku sekali lagi, aku telepon polisi sekarang juga.”
Kalimat itu membuatnya berhenti.
Beberapa menit kemudian, dua petugas keamanan datang.
Mereka membeku sesaat melihat kondisi ruang makan.
Pecahan porselen bertebaran di lantai.
Makanan berserakan.
Ada bercak darah di marmer.
Dan aku berdiri dengan dahi terluka.
“Saya pemilik unit ini,” kataku kepada salah satu petugas. “Saya ingin semua tamu keluar. Termasuk suami saya.”
Ryan memandangku seolah-olah aku baru saja mengkhianatinya.
“Kamu ngusir aku?”
“Ya.”
“Citra, aku suamimu.”
“Dan ini apartemenku.”
Ibu Sofia langsung maju.
“Kamu keterlaluan sekali jadi istri!”
Aku menoleh kepadanya.
“Saya baru dilempar piring oleh anak Ibu.”
Dia terdiam.
“Lalu sekarang Ibu masih mau mengajari saya bagaimana menjadi istri?”
Petugas keamanan meminta mereka keluar dengan tenang.
Ryan sempat menolak.
Namun setelah salah satu petugas mengatakan mereka akan menghubungi polisi jika situasi memburuk, akhirnya Ryan mengambil jaketnya.
Sebelum pergi, dia berdiri tepat di depan pintu dan menatapku.
“Kamu akan menyesal.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Tidak, Ryan.”
Aku menyentuh darah di dahiku.
“Orang yang akan menyesal adalah kamu.”
Begitu pintu tertutup, tubuhku akhirnya kehilangan tenaga.
Aku duduk di lantai dan menangis.
Bukan karena takut.
Bukan pula karena rasa sakit.
Aku menangisi semua waktu yang kubuang untuk mempercayai laki-laki yang ternyata tidak pernah benar-benar menghormatiku.
Rani tiba tiga puluh menit kemudian dan langsung membawaku ke rumah sakit.
Dokter mengatakan lukaku membutuhkan beberapa jahitan.
Untungnya tidak ada retak tulang atau gegar otak serius.
Sambil menunggu perawatan, Rani duduk di samping tempat tidur.
“Kamu mau melaporkan dia?”
Aku diam.
Dulu, aku mungkin akan mengatakan tidak.
Dulu aku selalu berpikir masalah rumah tangga harus diselesaikan diam-diam.
Tapi malam itu aku teringat wajah Ibu Sofia ketika berkata Ryan cuma emosi.
Aku teringat Maya dan Nina yang diam ketika aku berdarah.
Aku juga teringat ancaman Ryan sebelum pergi.
“Ya,” jawabku.
“Aku mau lapor.”
Rani mengangguk.
“Itu keputusan yang tepat. Tapi ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Kamu harus mengamankan semua dokumen asetmu sekarang juga.”
Aku memandangnya.
“Kenapa?”
Rani menghela napas.
“Karena permintaan balik nama apartemen seperti itu biasanya tidak muncul tiba-tiba. Kalau mereka sudah membicarakannya sekeluarga, besar kemungkinan ada sesuatu yang lebih besar di belakangnya.”
Ucapan itu menempel di kepalaku.
Malam itu juga, setelah keluar dari rumah sakit, aku membuka brankas kecil di ruang kerja.
Sertifikat kepemilikan apartemen masih ada.
Dokumen pembelian juga lengkap.
Namun ketika memeriksa map lainnya, aku menemukan sesuatu yang aneh.
Fotokopi sertifikat apartemen yang biasanya kusimpan sebagai cadangan tidak ada.
Aku yakin sekali aku pernah menyimpannya.
Keesokan paginya, aku menelepon pengelola apartemen dan meminta rekaman CCTV lorong beberapa minggu terakhir.
Awalnya aku hanya ingin memastikan siapa saja yang masuk ketika aku sedang bekerja.
Apa yang kulihat membuat perutku terasa dingin.
Tiga minggu sebelumnya, saat aku sedang menghadiri proyek di Bandung, Ryan membawa seorang laki-laki asing masuk ke unit.
Mereka berada di dalam hampir satu jam.
Dua hari kemudian, Ibu Sofia datang bersama laki-laki yang sama.
Aku mengirim potongan rekaman itu kepada Rani.
Beberapa jam kemudian, dia meneleponku.

“Citra, aku tahu siapa pria itu.”
“Siapa?”
“Broker pinjaman informal. Biasanya mengurus kredit dengan jaminan properti.”
Aku terdiam.
Jantungku berdegup lebih cepat.
“Ryan mau menjaminkan apartemenku?”
“Belum tentu berhasil. Karena dokumen atas nama kamu. Tapi kita harus periksa.”
Kami langsung mendatangi kantor pertanahan dan beberapa lembaga terkait.
Syukurlah kepemilikan apartemen masih sepenuhnya aman.
Tidak ada perubahan nama.
Tidak ada hak tanggungan baru.
Namun dua hari kemudian, kami menemukan fakta yang lebih buruk.
Ryan ternyata memiliki utang hampir enam ratus juta rupiah.
Sebagian berasal dari pinjaman online.
Sebagian lagi dari kartu kredit.
Sisanya dari investasi spekulatif bersama seorang temannya.
Aku sama sekali tidak tahu.
Selama menikah, Ryan selalu mengatakan kondisi keuangannya baik.
Dia bahkan sering menyalahkanku karena terlalu fokus bekerja dan kurang “mendukung keluarga.”
Ternyata selama itu, dia sedang menutupi lubang keuangan yang semakin besar.
Dan apartemenku adalah rencana penyelamatannya.
Ketika Rani memperoleh salinan percakapan dari salah satu kreditur, semua potongan mulai tersambung.
Ryan pernah menjanjikan bahwa sebentar lagi dia akan mendapatkan aset properti bernilai miliaran rupiah dari istrinya.
Dalam pesan lain, dia menulis bahwa ibunya akan membantu membujukku untuk memindahkan kepemilikan.
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Tanganku gemetar.
Jadi makan malam itu bukan pembicaraan keluarga biasa.
Mereka sudah merencanakannya.
Mereka duduk di meja makanku, memakan makanan yang kubeli, minum dari gelasku, lalu mencoba menekan agar aku menyerahkan satu-satunya aset besar yang kumiliki.
Aku merasa bodoh.
Namun hanya sebentar.
Setelah itu aku merasa marah.
Dan kemarahan kali ini tidak membuatku kehilangan kendali.
Justru membuatku sangat tenang.
Aku mengajukan laporan resmi atas tindakan kekerasan Ryan.
Aku juga mengajukan gugatan cerai.
Ketika surat panggilan sampai kepadanya, Ryan panik.
Telepon darinya masuk puluhan kali.
Aku tidak menjawab.
Dia mengirim pesan.
Citra, aku khilaf.
Aku cuma emosi.
Kita masih bisa memperbaiki semuanya.
Aku membalas satu kali.
Kalau kamu benar-benar cuma khilaf, kenapa tiga minggu sebelum kejadian kamu sudah membawa broker pinjaman masuk ke apartemenku?
Tidak ada balasan selama hampir satu jam.
Setelah itu hanya satu pesan muncul.
Kita ketemu. Aku jelaskan semuanya.
Aku tidak pernah menemuinya sendirian lagi.
Pertemuan pertama kami setelah malam itu terjadi di kantor Rani.
Ryan datang dengan wajah kusut.
Ibu Sofia ikut bersamanya.
Begitu masuk, Ibu Sofia langsung menangis.
“Citra, Ibu minta maaf. Semua ini salah paham.”
Aku duduk tenang di seberang mereka.
Rani berada di sampingku.
“Salah paham bagian mana, Bu?” tanyaku.
Ibu Sofia terdiam.
“Permintaan apartemen?”
Dia tidak menjawab.
“Uang tujuh juta?”
Diam.
“Atau piring yang dilempar anak Ibu ke kepala saya?”
Ryan mengepalkan tangan.
“Aku sudah bilang aku salah!”
“Aku dengar.”
“Lalu kamu mau apa? Aku sujud?”
Aku menggeleng.
“Aku tidak mau apa-apa darimu selain kamu keluar dari hidupku.”
Wajah Ryan berubah.
“Citra, jangan gila. Kita menikah.”
“Dan kamu melakukan kekerasan terhadap istrimu.”
“Itu sekali!”
Aku tersenyum tipis.
“Menarik. Kamu membela diri dengan mengatakan baru sekali.”
Ruangan langsung sunyi.
Rani lalu mengeluarkan beberapa dokumen.
Catatan utang Ryan.
Percakapan dengan kreditur.
Rekaman CCTV.
Dan bukti bahwa dia pernah mencoba mendapatkan fotokopi dokumen apartemen melalui seorang kenalan di perusahaan properti.
Wajah Ryan kehilangan warna.
Ibu Sofia menoleh tajam kepada anaknya.
“Kamu bilang semuanya aman!”
Ryan membentak.
“Bu, diam!”
Aku menatap keduanya.
Saat itulah aku menyadari sesuatu.
Mereka mulai saling menyalahkan.
Kesetiaan keluarga yang mereka banggakan ternyata hanya bertahan selama semua orang mendapatkan keuntungan.
Begitu risiko muncul, mereka segera saling melempar kesalahan.
Masalah Ryan semakin buruk.
Karena laporan kekerasan berjalan, perusahaannya mengetahui kasus tersebut.
Tidak lama kemudian, investigasi internal juga menemukan bahwa Ryan pernah menggunakan data vendor perusahaan untuk keperluan pinjaman pribadinya.
Dia akhirnya kehilangan pekerjaannya.
Tanpa penghasilan tetap, para kreditur mulai mengejarnya.
Mobilnya ditarik leasing.
Tabungannya hampir tidak ada.
Dan utang yang selama ini dia sembunyikan akhirnya diketahui seluruh keluarga.
Maya dan Nina yang sebelumnya paling keras membelanya tiba-tiba menjaga jarak.
Mereka takut kreditur datang ke rumah mereka.
Ibu Sofia menjual beberapa perhiasan untuk membantu Ryan, tetapi jumlahnya jauh dari cukup.
Ironisnya, beberapa bulan kemudian Ryan kembali menghubungiku.
Kali ini bukan dengan marah.
Dia memohon.
“Citra, tolong aku.”
Aku hampir tertawa ketika mendengarnya.
“Tolong bagaimana?”
“Pinjami aku uang. Aku cuma butuh seratus lima puluh juta untuk nutup yang paling mendesak.”
Aku menatap layar ponsel.
“Kenapa kamu menelepon aku?”
“Kamu punya uang.”
Kalimat itu membuatku sadar dia tidak pernah berubah.
Bahkan setelah semuanya terjadi, dia masih melihatku sebagai sumber daya.
Bukan manusia.
Bukan mantan pasangan.
Sumber uang.
“Aku tidak akan memberimu satu rupiah pun.”
“Citra…”
“Dan jangan hubungi aku lagi.”
Aku memblokir nomornya.
Proses perceraian selesai beberapa bulan kemudian.
Apartemen tetap menjadi milikku sepenuhnya karena telah kubeli sebelum pernikahan dan dokumennya jelas.
Ryan juga diwajibkan menghadapi proses hukum terkait kekerasan yang dilakukannya.
Aku tidak merasa menang.
Sebenarnya, tidak ada yang benar-benar menang ketika sebuah pernikahan berakhir seperti itu.
Aku hanya merasa bebas.
Namun kejutan terakhir datang hampir setahun kemudian.
Suatu sore, saat sedang bekerja, Rani meneleponku.
“Kamu ingat broker yang masuk ke apartemen waktu itu?”
“Tentu.”
“Dia baru memberikan keterangan tambahan.”
Aku berhenti menggambar.
“Apa katanya?”
“Ternyata ide memindahkan apartemen bukan pertama kali muncul dari Ryan.”
Aku mengernyit.
“Terus?”
“Itu ide Ibu Sofia.”
Aku terdiam.
Menurut keterangan broker tersebut, beberapa bulan sebelum makan malam itu, Ibu Sofia sudah menghubunginya.
Dia bertanya apakah apartemen milik menantu bisa digunakan sebagai jaminan utang anak.
Broker menjelaskan bahwa tidak bisa tanpa persetujuan pemilik.
Karena itulah Ibu Sofia menyusun rencana agar apartemen dipindahkan dulu ke namanya.
Setelah itu, apartemen akan dijadikan jaminan untuk melunasi utang Ryan.
Dan ada bagian yang lebih mengejutkan.
Ryan awalnya sempat menolak.
Bukan karena dia membelaku.
Tapi karena dia takut aku curiga.
Ibu Sofia yang meyakinkannya.
Katanya aku pasti menurut karena selama ini selalu mengalah.
Aku menutup telepon setelah berbicara dengan Rani.
Lalu berdiri di depan jendela apartemen.
Jakarta terbentang di bawah sana.
Gedung-gedung tinggi, lampu kendaraan, jalanan yang terus bergerak.
Aku memandangi pantulan diriku di kaca.
Bekas luka kecil masih terlihat samar di dekat dahiku.
Dulu aku membencinya.
Sekarang tidak lagi.
Bekas itu mengingatkanku pada satu malam ketika aku akhirnya belajar sesuatu yang sangat mahal.
Cinta tanpa rasa hormat bukan cinta.
Keluarga yang menuntut pengorbanan tanpa batas bukan keluarga yang sehat.
Dan kebaikan tanpa batas hanya akan mengajari orang lain bahwa kita bisa terus diinjak.
Beberapa waktu kemudian, aku menjual apartemen itu.
Bukan karena takut.
Bukan karena trauma.
Aku hanya ingin memulai bab baru.
Aku membeli unit lain yang lebih kecil tetapi jauh lebih nyaman, dengan pemandangan yang lebih kusukai.
Sebagian uang sisanya kugunakan untuk mendirikan studio arsitektur bersama dua rekan kerjaku.
Kami menamainya Arunika Studio.
Dalam bahasa Sanskerta, arunika berarti cahaya fajar.
Aku menyukai maknanya.
Karena hidupku memang terasa seperti itu.
Setelah malam yang sangat panjang, akhirnya ada pagi.
Tiga tahun kemudian, studio kami berkembang pesat.
Pada suatu acara industri properti di Jakarta, aku bertemu Maya secara tidak sengaja.
Dia terlihat jauh berbeda.
Lebih kurus.
Lebih pendiam.
Kami hanya saling menatap beberapa detik.
Lalu dia menghampiriku.
“Kak Citra.”
Aku mengangguk.
Dia menunduk.
“Aku mau minta maaf.”
Aku tidak menjawab.
“Malam itu… aku seharusnya menolong Kakak.”
Aku menatap wajahnya.
“Aku tahu.”
Air matanya mulai menggenang.
“Aku takut sama Ryan. Sama Ibu juga.”
Aku menghela napas.
“Maya, takut mungkin menjelaskan kenapa kamu diam. Tapi tidak menghapus akibatnya.”
Dia mengangguk pelan.
Sebelum pergi, dia berkata sesuatu yang tidak pernah kuduga.
“Setelah Kakak pergi, Ibu mulai minta uang dari aku dan Nina. Setiap bulan. Sama seperti dulu dia minta ke Kakak.”
Aku menatapnya.
Maya tersenyum pahit.
“Baru setelah itu aku sadar bagaimana rasanya.”
Aku tidak merasa puas.
Tidak merasa ingin membalas.
Aku hanya berkata, “Semoga kamu belajar membuat batas sebelum semuanya terlambat.”
Lalu aku pergi.
Di mobil, aku teringat malam ketika darah menetes ke lantai marmer dan aku mengira hidupku sedang hancur.
Ternyata aku salah.
Yang hancur malam itu bukan hidupku.
Yang hancur adalah ilusi bahwa aku harus mempertahankan sebuah pernikahan hanya karena pernah mencintai seseorang.
Ryan melempar piring karena dia pikir rasa takut akan membuatku menyerahkan apartemenku.
Sebaliknya, piring itu justru menghancurkan satu-satunya hal yang selama ini membuatnya aman.
Kesabaranku.
Dan ketika kesabaran itu habis, seluruh kebohongan, utang, manipulasi, dan keserakahan mereka runtuh satu demi satu.
Malam itu Ryan mengira dia sedang mengajariku untuk patuh.
Padahal tanpa dia sadari, dia justru mengajariku sesuatu yang jauh lebih penting.
Bahwa terkadang satu kata paling berani yang bisa diucapkan seseorang bukanlah “aku mencintaimu.”
Melainkan,
“Tidak.”
