Hujan belum juga berhenti ketika Alya menandatangani kontrak itu.
Tangannya sempat berhenti tepat sebelum ujung pena menyentuh kertas.
“Kalau aku menandatangani ini, apa utang ayahku benar-benar selesai?” tanyanya.
Arka berdiri di dekat jendela, memandangi lampu-lampu Jakarta yang berpendar di balik kaca basah.
“Secara hukum, kewajiban itu beralih menjadi perjanjian baru antara perusahaan dan dirimu. Ayahmu tidak lagi bisa menggunakan namamu sebagai jaminan apa pun.”
Alya menoleh cepat.
“Jadi dia benar-benar bebas?”
“Dari utang kepadaku, ya.”
Jawaban itu menusuk lebih dalam daripada yang Alya kira.
Ayahnya baru saja menjualnya, lalu keluar dari mansion itu tanpa membawa beban apa pun.
Alya menunduk dan akhirnya menandatangani kontrak.
Arka mengambil dokumen itu.
“Kamarmu sudah disiapkan.”
“Aku tidak butuh kamar mewah.”
“Aku juga tidak bertanya apakah kau membutuhkannya.”
Alya mendengus pelan.
“Jadi semua rumor tentangmu benar. Kamu memang menyebalkan.”
Arka menatapnya datar.
“Bagus. Setidaknya malam ini kau sudah belajar satu hal dengan benar.”
Itulah awal kehidupan baru Alya.
Mansion Arka ternyata jauh berbeda dari bayangannya. Tidak ada pesta mewah, tidak ada perempuan keluar masuk, tidak ada kehidupan glamor seperti yang sering diberitakan media.
Rumah itu justru terlalu tenang.
Arka pergi sebelum matahari terbit dan sering pulang menjelang tengah malam. Ia makan sendirian, bekerja hampir tanpa jeda, dan jarang berbicara kecuali ada sesuatu yang penting.
Alya pun kembali kuliah.
Pada hari pertama, ia duduk di ruang studio sambil berusaha mengabaikan bisik-bisik teman-temannya.
Kabar tentang kebangkrutan Baskoro sudah menyebar.
Beberapa orang bahkan tahu rumah keluarganya telah disita.
“Katanya ayahmu kabur dari kreditur?”
“Sekarang kamu tinggal di mana?”
“Jangan-jangan kuliahmu juga bakal berhenti?”
Alya hanya menunduk sambil menggambar.
Ia tidak ingin menjelaskan bahwa sekarang dirinya tinggal di rumah seorang miliarder yang secara teknis menjadi kreditur terbesar ayahnya.
Malam harinya, ia pulang dengan kepala berat.
Arka sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca laporan proyek.
“Kau terlambat tiga puluh tujuh menit,” katanya tanpa menoleh.
Alya meletakkan tasnya.
“Aku bukan tahanan.”
“Benar. Tapi kau tinggal di rumahku dan sopir menunggumu hampir satu jam.”
“Aku bisa naik ojek sendiri.”
“Tidak.”
Alya langsung kesal.
“Kamu selalu memerintah orang seperti ini?”
“Kalau perlu.”
“Aku tidak suka dikontrol.”
Arka akhirnya menutup dokumennya.
“Aku tidak mengontrolmu. Aku memastikan seseorang yang ayahnya baru saja berusaha menjadikannya alat pembayaran tidak mudah dijangkau lagi oleh orang yang sama.”
Kalimat itu membuat Alya terdiam.
Arka kembali membaca laporannya.
“Besok beri tahu sopir kalau jadwalmu berubah.”
Alya tidak menjawab.
Namun untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Arka, selalu ada alasan yang tidak langsung terlihat.
Hari-hari berikutnya berjalan cepat.
Alya semakin tenggelam dalam kuliah. Ia sering mengerjakan desain sampai larut malam di meja makan mansion, ditemani suara hujan atau keheningan rumah.
Kadang-kadang, Arka melewatinya tanpa berkata apa-apa.
Namun anehnya, beberapa hari kemudian Alya menemukan meja gambar profesional baru di ruang kerja kecil sebelah kamarnya.
Tidak ada kartu.
Tidak ada penjelasan.
Ia tahu siapa yang membelinya.
Suatu malam, Alya membawa maket proyek kampus ke ruang keluarga.
Arka berhenti berjalan.
“Ini milikmu?”
“Untuk kompetisi nasional.”
Arka mengamati maket kawasan hunian vertikal dengan taman-taman kecil di setiap lantai.
“Kenapa tangga evakuasinya di sini?”
Alya mengernyit.
“Kenapa memangnya?”
“Kalau terjadi kebakaran di sisi timur, arus penghuni akan bertabrakan.”
Alya menatapnya.
“Kamu arsitek?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa tahu?”
“Aku membangun gedung selama sembilan tahun.”
Mereka mulai berdebat.
Perdebatan itu berlangsung hampir satu jam.
Alya berkali-kali membantah Arka, sementara Arka terus menunjukkan kelemahan desainnya.
Akhirnya Alya kesal.
“Kamu pikir semua ide harus mengikuti perhitungan keuntungan?”
“Tidak.”
Arka menatap maket itu.
“Tapi bangunan yang indah tetap harus membuat manusia di dalamnya hidup.”
Alya membisu.
Malam itu ia mengubah desainnya.
Dua bulan kemudian, proyek tersebut memenangkan juara pertama.
Saat menerima piala, Alya melihat ke arah kursi penonton.
Ia tidak menyangka Arka datang.
Pria itu duduk di baris paling belakang dengan setelan hitam seperti biasa.
Tidak bertepuk tangan berlebihan.
Tidak tersenyum.
Namun ketika mata mereka bertemu, Arka mengangguk kecil.
Entah mengapa, anggukan itu membuat dada Alya terasa hangat.
Hubungan mereka perlahan berubah.
Bukan menjadi hubungan romantis seperti yang mungkin dibayangkan orang.
Setidaknya belum.
Mereka lebih sering berdiskusi soal arsitektur, kota, investasi properti, dan cara sebuah bangunan bisa memengaruhi kehidupan masyarakat.
Arka mulai mengajak Alya mengunjungi proyek-proyek perusahaannya.
Alya melihat sisi lain pria itu.
Arka memang kejam terhadap kontraktor yang menipu.
Ia memecat manajer yang menggelapkan uang tanpa ragu.
Namun ia juga menghentikan pembangunan satu kompleks apartemen selama enam bulan hanya karena menemukan sistem keselamatannya tidak memenuhi standar.

“Keterlambatan itu merugikan miliaran,” kata Alya suatu hari.
Arka memasukkan tangan ke saku.
“Lebih murah daripada kehilangan satu nyawa.”
Pada hari itu, gambaran Alya tentang Arka runtuh sepenuhnya.
Monster yang diceritakan orang ternyata bukan monster.
Ia hanya seseorang yang tidak mentoleransi kebohongan.
Enam bulan setelah Alya tinggal di mansion, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Baskoro datang.
Ia menunggu di gerbang sejak pagi.
“Aku mau bertemu anakku!” teriaknya kepada petugas keamanan.
Ketika Alya mengetahui hal itu, tubuhnya langsung menegang.
Arka berada di kantor.
Alya akhirnya memutuskan keluar menemui ayahnya.
Baskoro tampak lebih kurus, tetapi pakaiannya masih rapi.
Begitu melihat Alya, ia langsung tersenyum.
“Sayang.”
Alya berhenti beberapa meter darinya.
“Jangan panggil aku begitu.”
Senyum Baskoro menghilang.
“Ayah datang karena ingin menjelaskan semuanya.”
“Enam bulan terlambat.”
“Ayah terpaksa waktu itu.”
Alya tertawa pahit.
“Terpaksa menyerahkan anak sendiri?”
Baskoro mendekat.
“Ayah dengar hidupmu sekarang bagus. Arka menyekolahkanmu, kan? Jadi sebenarnya keputusan Ayah tidak sepenuhnya buruk.”
Alya menatapnya tidak percaya.
Bahkan setelah semua yang terjadi, pria itu masih bisa membenarkan tindakannya.
“Ayah mau apa?”
Baskoro menelan ludah.
“Ayah butuh sedikit bantuan.”
Tentu saja.
Alya langsung tahu.
“Berapa?”
“Dua miliar.”
Alya hampir tertawa.
Baskoro cepat-cepat menjelaskan.
“Ayah punya peluang bisnis baru. Kalau berhasil, Ayah bisa bangkit lagi.”
“Aku tidak punya uang dua miliar.”
“Tapi Arka punya.”
Alya merasa darahnya mendidih.
“Jadi Ayah datang untuk memintaku meminta uang kepada orang yang dulu Ayah jadikan pembeli anak Ayah sendiri?”
Baskoro menatapnya tajam.
“Jangan bicara seperti itu. Semua yang Ayah lakukan juga demi keluarga.”
“Tidak.”
Suara Alya bergetar.
“Semua yang Ayah lakukan selalu demi Ayah sendiri.”
Ia berbalik.
Baskoro tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya.
“Alya!”
Seketika petugas keamanan bergerak.
Namun sebelum mereka sampai, sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang.
Arka turun.
Wajahnya berubah saat melihat tangan Baskoro mencengkeram Alya.
“Lepaskan.”
Suara Arka sangat tenang.
Baskoro langsung melepaskan tangannya.
“Pak Arka, saya hanya sedang bicara dengan anak saya.”
“Dia bilang kau boleh menyentuhnya?”
Baskoro terdiam.
Arka berdiri di samping Alya.
“Pergi.”
“Pak Arka, sebenarnya saya ingin membicarakan investasi kecil.”
“Pergi sebelum aku mengubah keputusan tentang laporan pidanamu.”
Wajah Baskoro langsung pucat.
Alya menoleh.
“Laporan pidana?”
Arka diam.
Baskoro tampak panik.
“Jangan dengarkan dia, Alya.”
“Laporan apa?”
Arka menatap Baskoro.
“Aku bilang pergi.”
Baskoro akhirnya mundur dan masuk ke mobilnya.
Alya langsung menghadang Arka.
“Apa maksudmu laporan pidana?”
“Bukan sekarang.”
“Jangan lakukan itu.”
“Alya.”
“Jangan terus menyembunyikan sesuatu dariku.”
Arka menatapnya beberapa saat.
Kemudian ia berkata pelan, “Masuk. Ada sesuatu yang memang sudah waktunya kau ketahui.”
Di ruang kerja, Arka membuka brankas kecil.
Ia mengeluarkan sebuah map tua.
Di dalamnya ada salinan dokumen perusahaan, rekening bank, laporan proyek, serta satu foto seorang pria.
Alya menatap foto itu.
Pria tersebut berdiri di depan sebuah gedung tua sambil tersenyum.
Di tangannya ada blueprint.
Pada sudut blueprint terlihat simbol kecil.
Sebuah lingkaran dengan tiga garis menyilang.
Simbol yang selalu Alya gambar di setiap desainnya.
Napas Alya tercekat.
“Siapa dia?”
Arka menjawab pelan.
“Rendra Pradipta.”
Alya menggeleng.
“Aku tidak kenal.”
“Dia arsitek.”
Arka menggeser foto itu mendekat.
“Dan dia kakak ibumu.”
Alya terpaku.
Ibunya meninggal saat Alya berusia lima tahun. Hampir semua cerita tentang keluarga dari pihak ibunya tidak pernah dibicarakan Baskoro.
“Paman?”
Arka mengangguk.
“Dua belas tahun lalu dia bekerja sama dengan perusahaan ayahmu dalam proyek apartemen besar di Jakarta Selatan.”
Arka mengeluarkan beberapa dokumen.
“Desain miliknya digunakan. Tapi hak kepemilikannya dipindahkan secara ilegal ke perusahaan Baskoro.”
Alya membaca lembar demi lembar.
Tangannya mulai gemetar.
“Ini tanda tangan palsu?”
“Ya.”
“Siapa yang memalsukannya?”
Arka tidak langsung menjawab.
Namun Alya sudah tahu.
“Ayahku.”
Arka mengangguk.
Alya menjatuhkan tubuh ke kursi.
“Lalu Paman Rendra?”
“Dia mencoba melapor.”
Arka menarik napas.
“Tapi sebelum kasusnya masuk pengadilan, ia meninggal dalam kecelakaan.”
Alya menatapnya.
“Dan kamu mengenal simbol itu karena…”
“Rendra adalah mentor pertamaku.”
Alya membeku.
Arka berjalan menuju jendela.
“Ketika aku berumur tujuh belas tahun, aku bekerja paruh waktu di firma arsitekturnya. Aku bukan siapa-siapa saat itu. Dia yang pertama kali mengajariku memahami gambar proyek.”
Suara Arka terdengar berbeda.
Tidak dingin.
Lebih berat.
“Dia selalu menggambar simbol itu di desain yang paling ia banggakan.”
Alya menatap portofolio miliknya yang kini tergeletak di rak Arka.
“Kenapa aku juga menggambarnya?”
“Menurut arsip keluargamu, ibumu sering menggambar simbol yang sama. Mungkin kau melihatnya saat kecil.”
Ingatan samar muncul dalam kepala Alya.
Sebuah meja.
Pensil warna.
Tangan perempuan yang menggambar lingkaran kecil di ujung kertas.
Dadanya sesak.
“Jadi malam ketika Ayah membawaku ke sini… kamu langsung mengenalinya?”
“Ya.”
“Dan utang seratus miliar itu?”
Arka diam beberapa detik.
“Itu bukan kebetulan juga.”
Alya berdiri.
“Apa maksudmu?”
“Aku mengetahui manipulasi keuangan Baskoro dua tahun lalu. Aku sengaja membeli sebagian besar utang perusahaannya dari beberapa kreditur.”
Alya menatap Arka tidak percaya.
“Kamu menghancurkannya?”
“Tidak.”
Arka menoleh.
“Ayahmu menghancurkan dirinya sendiri. Aku hanya memastikan ketika semuanya runtuh, bukti-buktinya tidak ikut hilang.”
Arka menyerahkan satu dokumen terakhir.
Itu laporan audit forensik.
Baskoro tidak hanya memalsukan hak cipta desain Rendra.
Ia juga menggelapkan dana investor, memanipulasi laporan proyek, dan menggunakan perusahaan cangkang untuk memindahkan aset.
“Seratus miliar itu hanya sebagian kecil,” kata Arka.
Alya terasa kehilangan keseimbangan.
“Kenapa kamu tidak menyerahkannya ke polisi sejak awal?”
“Karena aku belum punya bukti lengkap.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku punya.”
Alya menatapnya.
“Lalu kenapa malam itu kamu bilang menerima aku sebagai pembayaran?”
Untuk pertama kalinya, Arka terlihat menyesal.
“Karena kalau aku menolak, Baskoro mungkin akan menyerahkanmu kepada kreditur lain.”
Alya membeku.
“Apa?”
“Dari pesan yang kami temukan di ponselnya, dia sudah mencoba menawarkan hal yang sama kepada dua orang.”
Air mata Alya langsung jatuh.
Arka mengepalkan tangannya.
“Aku perlu mengeluarkanmu dari jangkauannya malam itu juga.”
Alya menutup mulut.
Semua kemarahan yang selama ini ia simpan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berat.
Ayahnya bukan melakukan tindakan gila karena panik satu kali.
Ia sudah merencanakannya.
“Jadi kontrak sepuluh tahun itu juga bohong?”
“Tidak.”
Arka menggeleng.
“Itu kontrak nyata. Tapi kau tidak terikat pada utang ayahmu.”
Alya menatapnya tajam.
“Apa?”
“Tidak ada hukum yang membuat anak bertanggung jawab atas utang bisnis orang tuanya.”
Arka mengambil kontrak asli.
“Bagian tentang pembayaran utang adalah klausul administratif internal yang tidak pernah membebankan utang itu secara pribadi kepadamu.”
Alya membaca halaman demi halaman.
Ia baru menyadari kalimatnya berbeda dari yang selama ini ia pahami.
“Kau bebas keluar kapan saja setelah lulus,” kata Arka.
“Lalu kenapa sepuluh tahun?”
Arka menatapnya.
“Karena aku ingin merekrutmu.”
Alya hampir marah.
“Jadi kamu menipuku?”
“Aku memberimu kontrak kerja paling panjang yang bisa membuatmu berpikir serius sebelum kabur dari bakatmu sendiri.”
Untuk beberapa detik Alya tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa.
“Kamu memang menyebalkan.”
“Aku pernah mendengarnya.”
Kasus Baskoro akhirnya meledak tiga minggu kemudian.
Polisi menyita sejumlah dokumen dan aset tersembunyi.
Media memberitakan manipulasi proyek yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.
Nama Rendra Pradipta akhirnya dibersihkan.
Hak cipta desain yang dicuri dikembalikan kepada ahli warisnya.
Dan ahli waris terdekat itu adalah Alya.
Nilainya bukan kecil.
Royalti, kepemilikan saham proyek lama, dan kompensasi hukum membuat Alya memperoleh aset bernilai puluhan miliar rupiah.
Namun kejutan terbesar datang ketika pengacara membuka satu surat lama milik Rendra.
Surat itu ditujukan kepada ibunya Alya.
Di bagian akhir tertulis satu kalimat.
Jika suatu hari Alya tertarik pada arsitektur, jangan paksa dia menjadi sepertiku. Biarkan dia membangun sesuatu yang bahkan tidak pernah berani kita bayangkan.
Alya menangis saat membacanya.
Empat tahun berlalu.
Pada hari kelulusannya, Alya berdiri di depan aula kampus dengan toga masih melekat di tubuh.
Arka menunggunya di dekat mobil.
“Kau terlambat,” katanya.
Alya tertawa.
“Hari kelulusanku dan kalimat pertama yang kamu ucapkan tetap itu?”
“Sebelas menit.”
Alya mendekat.
“Aku sudah membaca ulang kontrakku.”
Arka mengangkat alis.
“Dan?”
“Aku memutuskan tidak bekerja sepuluh tahun di perusahaanmu.”
Arka diam.
“Baik.”
Alya sedikit terkejut.
“Itu saja?”
“Itu hakmu.”
Alya menatap wajahnya beberapa detik, kemudian tersenyum.
“Aku mau membuka firma sendiri.”
Arka mengangguk.
“Keputusan bagus.”
“Dan aku butuh investor.”
Barulah Arka menatapnya lebih lama.
“Berapa?”
“Seratus miliar.”
Untuk pertama kalinya, Arka tertawa.
Benar-benar tertawa.
Alya ikut tersenyum.
Firma itu akhirnya berdiri dengan nama Rendra Alya Studio.
Proyek pertama mereka bukan apartemen mewah.
Melainkan kompleks hunian terjangkau untuk keluarga pekerja di pinggiran Jakarta.
Di sudut blueprint pertamanya, Alya menggambar simbol kecil berbentuk lingkaran dengan tiga garis menyilang.
Arka melihatnya.
“Kau masih menggunakan itu.”
Alya mengangguk.
“Bukan karena masa lalu.”
Ia menatap bangunan yang perlahan berdiri di hadapan mereka.
“Tapi supaya aku tidak lupa bahwa sesuatu yang diwariskan kepada kita tidak selalu harus berupa utang.”
Beberapa orang mewariskan luka.
Beberapa mewariskan kesalahan.
Namun ada pula yang meninggalkan keberanian, mimpi, dan kesempatan untuk memulai kembali.
Alya pernah berpikir malam ketika ayahnya menyerahkannya kepada seorang pria asing adalah malam ketika hidupnya dirampas.
Bertahun-tahun kemudian ia baru memahami kenyataan yang jauh berbeda.
Malam itu memang membuatnya kehilangan seorang ayah.
Namun justru pada malam yang sama, ia menemukan kebenaran tentang keluarganya, menemukan kembali masa depan yang hampir dirampas, dan bertemu seseorang yang tidak pernah mencoba memilikinya.
Seseorang yang hanya membuka pintu.
Lalu membiarkannya menentukan sendiri ke mana ia ingin melangkah.
