Saya bahkan tidak sempat bertanya lagi.
Dengan satu tangan menggendong Andi dan tangan lain meraih ponsel, saya menelepon ambulans. Suara saya bergetar begitu hebat sampai petugas di seberang harus meminta saya mengulang alamat dua kali.
“Bayi tiga minggu, sangat lemas. Ibunya baru melahirkan tiga minggu lalu, demam tinggi dan tidak sadar. Mereka dikurung di kamar hampir dua hari tanpa makanan dan air.”
Begitu mengucapkan kalimat terakhir, saya merasa dada saya seperti dihantam sesuatu.
Dikurung.
Istri dan anak saya dikurung di rumah mereka sendiri.
Oleh ibu saya sendiri.
Saya membuka jendela selebar mungkin, lalu membasahi handuk kecil dengan air dan mengusap wajah Siti perlahan.
Dari belakang, terdengar langkah kaki Ibu Maya.
“Bimo, jangan berlebihan begitu. Dia cuma pingsan karena manja.”
Saya menoleh.
Entah seperti apa wajah saya saat itu, tetapi Ibu langsung berhenti di ambang pintu.
“Manja?”
Suara saya begitu pelan hingga terdengar asing di telinga sendiri.
“Ibu mengunci istri saya yang baru melahirkan bersama bayi tiga minggu selama dua hari, lalu Ibu bilang dia manja?”
“Ibu cuma mau mendidik dia.”
“Mendidik?”
“Dia menantu Ibu. Masa Ibu minta dibuatkan teh saja jawabannya capek? Zaman Ibu habis melahirkan kamu, tiga hari kemudian sudah mencuci pakaian sendiri.”
Saya menatap perempuan yang membesarkan saya itu seolah sedang melihat orang asing.
“Di mana ponsel Siti?”
Wajah Ibu berubah.
“Ibu tidak tahu.”
“Siti bilang ponselnya diambil.”
“Dia mengigau.”
“DI MANA PONSELNYA, BU?”
Ibu tersentak.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya membentak ibu saya.
Beberapa detik kemudian ia menunjuk ke bawah.
“Di lemari ruang tamu.”
Saya mengepalkan tangan begitu kuat sampai kuku menancap ke telapak.
Tak lama kemudian suara sirene terdengar.
Petugas medis masuk dengan cepat. Siti dipindahkan ke tandu, sementara Andi langsung diperiksa.
Salah satu petugas memandang saya serius.
“Pak, bayinya harus segera dibawa. Kondisinya mengalami dehidrasi dan suhu tubuhnya meningkat.”
“Selamatkan mereka, Pak. Tolong.”
Saya ikut masuk ke ambulans.
Ketika pintu hendak ditutup, Ibu Maya berusaha naik.
“Bimo, Ibu ikut.”
Saya menatapnya.
“Tidak.”
“Bimo, Ibu neneknya.”
Saya tidak menjawab.
Pintu ambulans tertutup.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, saya menggenggam tangan Siti. Tangannya panas, tetapi ujung jarinya terasa dingin.
Andi berada dalam penanganan petugas di samping kami.
Saya hanya bisa berdoa.
Untuk pertama kalinya, perjalanan dua puluh menit terasa lebih panjang daripada penerbangan Balikpapan menuju Jakarta.
Begitu tiba di IGD, Siti dan Andi langsung dipisahkan untuk mendapatkan penanganan.
Saya berdiri sendirian di lorong dengan pakaian kerja yang masih saya kenakan sejak turun dari pesawat.
Sekitar satu jam kemudian, seorang dokter menghampiri saya.
“Bapak suaminya Bu Siti?”
“Iya, Dok.”
“Kondisi istri Bapak cukup serius. Dia mengalami dehidrasi berat, demam tinggi, tekanan darah rendah, dan ada tanda infeksi pascapersalinan yang kemungkinan sudah berkembang beberapa waktu.”
Kaki saya terasa lemas.
“Dia akan selamat, kan?”
“Kami sedang melakukan penanganan. Bapak membawanya tepat sebelum kondisinya memburuk lebih jauh.”
“Kalau anak saya?”
“Bayi mengalami dehidrasi dan kekurangan asupan. Kondisinya lemah, tetapi respons awalnya cukup baik.”
Saya menutup wajah.
Air mata yang sejak tadi saya tahan akhirnya jatuh.
Dokter kemudian bertanya, “Benarkah mereka terkunci hampir dua hari?”
Saya mengangguk.
“Dari luar?”
“Iya.”
Dokter terdiam sejenak.
“Pak, kondisi seperti ini tidak bisa dianggap masalah keluarga biasa.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala saya.
Masalah keluarga biasa.
Berapa banyak hal kejam yang selama ini saya biarkan karena menganggapnya hanya masalah keluarga?
Sindiran Ibu kepada Siti.

Komentarnya tentang keluarga Siti.
Caranya mengkritik masakan, pakaian, pekerjaan, bahkan cara Siti menggendong Andi.
Saya selalu mengatakan hal yang sama.
“Sabar ya. Ibu memang begitu.”
Tanpa sadar, saya meminta Siti menanggung sesuatu yang seharusnya saya hentikan sejak lama.
Menjelang subuh, saya kembali ke rumah sebentar ditemani Dimas, sahabat saya yang datang setelah menerima telepon.
Saya harus mengambil pakaian, dokumen rumah sakit, serta perlengkapan bayi.
Begitu masuk, Ibu Maya langsung menghampiri.
“Kondisi mereka bagaimana?”
Saya tidak menjawab.
Saya berjalan menuju lemari ruang tamu dan menemukan ponsel Siti di laci paling bawah.
Mati.
Saya memasangnya ke charger.
Beberapa menit kemudian layar menyala.
Ada puluhan panggilan tak terjawab dari saya.
Tetapi yang membuat tubuh saya membeku adalah beberapa rekaman suara yang belum terkirim.
Rupanya Siti sempat merekam sesuatu sebelum ponselnya diambil.
Saya membuka rekaman pertama.
Suara Siti terdengar lemah.
“Bu, saya benar-benar pusing. Tolong pegang Andi sebentar. Saya mau makan dulu.”
Kemudian suara Ibu Maya terdengar.
“Kamu pikir punya anak berarti semua orang harus melayani kamu?”
“Bukan begitu, Bu. Saya cuma belum kuat berdiri lama.”
“Alasan.”
Rekaman berikutnya lebih mengerikan.
Suara Andi menangis keras.
“Bu, tolong buka pintunya. Andi demam. Saya harus bawa dia ke dokter.”
“Kalau kamu mau keluar, janji dulu besok bangun pagi dan urus rumah.”
“Bu, ini bukan soal saya. Ini Andi.”
“Jangan pakai cucu Ibu untuk membuat drama.”
Lalu terdengar suara benda dipukul dari dalam.
“BU, TOLONG!”
Saya menghentikan rekaman.
Dimas yang berdiri di sebelah saya pucat.
“Bim…”
Saya tidak mampu menjawab.
Ternyata Siti tidak langsung kehilangan ponselnya.
Ia sempat menyembunyikannya.
Namun baterainya hampir habis dan tidak ada charger di kamar karena charger utama berada di ruang kerja.
Saya membuka rekaman terakhir.
Suara Siti jauh lebih lemah.
“Mas Bimo… kalau nanti kamu dengar ini…”
Saya menahan napas.
“Aku sudah coba panggil Ibu berkali-kali. Andi terus menangis. Air tinggal sedikit. Aku takut…”
Terdengar isakan.
“Aku nggak apa-apa kalau Ibu marah sama aku. Tapi Andi nggak salah apa-apa.”
Rekaman berhenti.
Saya menangis di depan sahabat saya.
Bukan hanya karena marah.
Saya malu.
Saya malu karena perempuan yang paling saya cintai harus memohon untuk keselamatan anak kami di rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman baginya.
Saya membawa ponsel itu ke hadapan Ibu Maya.
“Dengarkan.”
Saya memutar rekaman.
Wajah Ibu perlahan berubah.
Namun setelah selesai, ia masih berusaha membela diri.
“Ibu tidak bermaksud membuat mereka sakit.”
“Tapi Ibu tahu Andi demam.”
“Ibu pikir Siti melebih-lebihkan.”
“Dia minta dibawa ke dokter.”
“Bimo, Ibu cuma ingin dia belajar.”
Saya menatap mata Ibu.
“Kalau saya pulang satu hari lebih lambat, mungkin saya pulang untuk mengurus pemakaman istri dan anak saya.”
Ibu terdiam.
“Saya anak Ibu. Saya akan tetap memenuhi kewajiban saya sebagai anak. Tapi mulai hari ini, Ibu tidak boleh tinggal di rumah ini lagi.”
Wajahnya berubah pucat.
“Kamu mengusir ibu kandungmu demi perempuan itu?”
“Bukan.”
Saya menggeleng.
“Saya melindungi istri dan anak saya dari orang yang membahayakan mereka.”
“Bimo!”
“Dan saya akan menyerahkan rekaman ini kepada polisi.”
Ibu Maya mundur satu langkah.
“Kamu mau melaporkan Ibu sendiri?”
“Saya berharap saya tidak perlu melakukannya. Tapi justru karena selama ini semua orang selalu berkata ‘dia ibumu’, Ibu merasa boleh melakukan apa saja.”
Ibu mulai menangis.
Namun kali ini saya tidak mengubah keputusan.
Beberapa jam kemudian saya kembali ke rumah sakit.
Siti baru sadar pada siang hari.
Saat saya masuk, wajahnya masih pucat. Infus terpasang di tangannya.
Matanya langsung mencari sesuatu.
“Andi?”
“Dia aman.”
Saya segera mendekat.
“Dokter bilang kondisinya membaik.”
Air mata Siti mengalir.
Saya menggenggam tangannya.
“Maafkan aku.”
Siti memandang saya bingung.
“Mas salah apa?”
“Banyak.”
Saya menunduk.
“Aku tahu Ibu tidak menyukaimu. Aku tahu selama ini dia sering menyakitimu dengan kata-kata. Tapi aku selalu menyuruhmu sabar karena aku takut dianggap anak durhaka.”
Siti diam.
“Aku pikir selama aku tidak ikut menyakitimu, berarti aku suami yang baik.”
Suara saya pecah.
“Ternyata diam juga bisa menjadi cara membiarkan seseorang terluka.”
Siti menangis.
“Aku sebenarnya sudah beberapa kali mau bilang…”
“Kenapa tidak?”
“Karena setiap kali aku bilang Ibu marah, Mas selalu jawab, ‘Ibu memang begitu.’ Lama-lama aku pikir mungkin aku yang terlalu sensitif.”
Kalimat itu menghancurkan saya.
Saya mencium tangannya.
“Tidak lagi.”
Saya menceritakan tentang rekaman dan keputusan saya melapor.
Siti terlihat terkejut.
“Mas yakin?”
“Sangat yakin.”
“Tapi dia ibu Mas.”
“Dan kamu istriku. Andi anakku. Menjadi anak yang baik tidak berarti membiarkan ibu melakukan sesuatu yang salah.”
Kasus itu akhirnya diproses.
Saya tidak akan menceritakan setiap detailnya, karena masa-masa setelah itu jauh dari mudah.
Ada keluarga besar yang menyalahkan saya.
Ada paman yang mengatakan saya keterlaluan.
Ada tante yang berkata masalah seperti itu seharusnya diselesaikan diam-diam.
Bahkan ada yang menuduh Siti sengaja memecah hubungan saya dengan ibu kandung.
Namun rekaman, keterangan dokter, kondisi kamar, dan kesaksian petugas medis berbicara lebih jelas daripada opini siapa pun.
Yang paling mengejutkan justru datang beberapa minggu kemudian.
Saat membersihkan barang-barang Ibu, saya menemukan sebuah amplop berisi salinan hasil pemeriksaan psikologis lama.
Ternyata setelah ayah saya meninggal lima tahun sebelumnya, Ibu pernah disarankan mengikuti terapi karena mengalami masalah emosi, kecemasan kehilangan kontrol, dan perilaku agresif terhadap orang terdekat.
Ia hanya datang dua kali.
Setelah itu berhenti.
Saya akhirnya memahami sesuatu.
Memahami bukan berarti membenarkan.
Luka seseorang bisa menjelaskan mengapa ia menyakiti orang lain, tetapi tidak pernah memberi hak kepadanya untuk melakukannya.
Beberapa bulan kemudian, melalui keluarga, saya mengetahui Ibu Maya akhirnya bersedia menjalani konseling secara rutin.
Saya tetap membantu kebutuhan dasarnya.
Namun saya menjaga jarak.
Saya tidak mengizinkannya bertemu Andi tanpa pengawasan.
Kepercayaan bukan sesuatu yang pulih hanya karena seseorang meminta maaf.
Kepercayaan membutuhkan waktu dan perubahan nyata.
Siti juga perlahan pulih.
Pada malam pertama kami kembali ke rumah, ia berdiri lama di depan pintu kamar.
Saya tahu apa yang dipikirkannya.
Keesokan paginya, saya memanggil tukang.
Saya meminta seluruh pengait gembok di bagian luar pintu kamar dilepas.
Bukan hanya dari kamar kami.
Dari semua kamar.
“Kenapa semuanya dilepas, Mas?” tanya tukang itu.
Saya menatap pintu yang pernah hampir menjadi tempat kematian dua orang yang paling saya cintai.
“Karena kamar seharusnya menjadi tempat orang merasa aman, bukan penjara.”
Enam bulan kemudian, Andi tumbuh menjadi bayi yang sehat dan aktif.
Suatu sore saya pulang kerja dan melihat Siti tertidur di sofa dengan Andi di dadanya.
Rumah berantakan.
Ada botol susu di meja.
Pakaian bayi belum dilipat.
Piring makan siang masih berada di dapur.
Dulu mungkin saya akan langsung membereskannya sambil berpikir betapa melelahkannya memiliki bayi.
Namun sore itu saya hanya berdiri dan memandangi mereka.
Siti terbangun.
“Mas sudah pulang?”
“Iya.”
Ia melihat keadaan rumah dan buru-buru bangun.
“Ya ampun, aku ketiduran. Rumah belum dibereskan.”
Saya mengambil Andi dari pelukannya.
“Tidur lagi saja.”
Siti tertawa kecil.
“Nanti rumah tambah berantakan.”
“Biar.”
Saya mencium keningnya.
“Rumah bisa dibereskan kapan saja.”
Saya memandang Andi yang tertidur tenang di lengan saya.
“Yang penting orang-orang di dalamnya baik-baik saja.”
Siti menatap saya cukup lama.
Kemudian ia tersenyum.
Dan saat itulah saya akhirnya memahami arti sebuah rumah.
Rumah bukan tempat yang selalu bersih.
Bukan tempat di mana istri harus selalu memasak.
Bukan tempat di mana menantu wajib menuruti mertua agar dianggap perempuan baik.
Rumah adalah tempat di mana orang yang sedang lemah boleh beristirahat tanpa merasa bersalah.
Tempat seorang ibu boleh berkata bahwa ia lelah.
Tempat seorang bayi boleh menangis dan langsung mendapatkan pertolongan.
Tempat cinta tidak diukur dari seberapa banyak seseorang sanggup berkorban, tetapi dari seberapa aman ia merasa ketika sedang tidak sanggup melakukan apa-apa.
Saya hampir kehilangan istri dan anak saya untuk memahami hal sesederhana itu.
Dan sejak malam ketika saya mendobrak pintu kamar tersebut, saya berjanji pada diri sendiri satu hal.
Tidak akan pernah lagi saya menggunakan kata keluarga sebagai alasan untuk mentoleransi kekejaman.
Sebab seseorang tidak otomatis berhak menyakiti kita hanya karena darahnya mengalir dalam tubuh kita.
Dan terkadang, cara paling benar untuk mencintai keluarga bukanlah terus memaafkan tanpa batas.
Melainkan berani memasang batas sebelum semuanya terlambat.
