DIALAH YANG MENJUAL SEGALANYA DEMI MEMBIAYAI KULIAH PUTRANYA. NAMUN 10 TAHUN KEMUDIAN, PRIA ITU KEMBALI DAN MENYEBUTNYA “SAMPAH”.

“Berduka karena siapa?”

Pertanyaan Fanny membuat udara di tempat itu seolah berhenti bergerak.

Hendra tidak langsung menjawab.

Ia merogoh tas selempang hitam yang dibawanya, kemudian mengeluarkan sebuah map plastik bening. Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen yang sudah menguning, foto lama, dan satu amplop hasil laboratorium.

“Karena Fajar,” katanya akhirnya.

Wajah Fanny berubah.

“Apa?”

“Fajar Baktiar meninggal delapan tahun lalu.”

Pria berjas di sampingnya langsung menegang.

“Bapak ngawur.”

Hendra membuka map itu.

“Kalau aku ngawur, kenapa tanganmu gemetar, Rian?”

Nama itu jatuh seperti petir.

Fanny mundur satu langkah.

Ia menoleh cepat kepada pria yang selama dua tahun terakhir dikenalnya sebagai Fajar Baktiar, pengusaha muda sukses yang mengaku membangun bisnisnya dari nol setelah lulus teknik di Jakarta.

“Rian?”

Pria itu mengatupkan rahang.

“Saya nggak tahu apa yang dia bicarakan.”

Hendra mengangkat sebuah foto lama.

Dalam foto itu tampak dua remaja laki-laki berdiri di depan rumah sederhana. Salah satunya adalah Fajar. Yang lain lebih kurus, rambutnya sedikit panjang, dan memiliki bentuk wajah yang sangat mirip.

“Ini kamu waktu tujuh belas tahun,” ujar Hendra. “Kamu mungkin sudah operasi hidung, membentuk rahang, memperbaiki gigi, bahkan mengubah gaya bicara. Tapi ada hal-hal yang nggak bisa kamu hapus.”

Ia menunjuk bagian telinga pria itu.

“Bentuk daun telinga.”

Kemudian pergelangan tangan kirinya.

“Bekas luka kena knalpot waktu kamu pinjam motor Fajar tanpa izin.”

Pria itu refleks menarik lengan jasnya menutupi pergelangan tangan.

Gerakan kecil itu membuat wajah Fanny semakin pucat.

Hendra tersenyum getir.

“Dan DNA.”

Petugas polisi yang berdiri di belakangnya maju selangkah.

Salah satunya memperkenalkan diri sebagai Komisaris Arif.

“Kami sudah mendapatkan izin pemeriksaan berdasarkan laporan dugaan pemalsuan identitas, penipuan, serta indikasi keterlibatan dalam kematian Fajar Baktiar.”

Rian tiba-tiba tertawa.

Namun tawanya terdengar dipaksakan.

“DNA dari mana? Kalian bahkan nggak punya tubuh Fajar.”

Hendra menatapnya lama.

“Siapa bilang kami tidak punya?”

Wajah Rian kehilangan warna.

Aminah yang sejak tadi masih duduk di tanah akhirnya berdiri dengan bantuan seorang polisi wanita.

Tangannya berdarah.

Debu menempel pada gamis lusuhnya.

Namun matanya kini menatap Rian tanpa sedikit pun keraguan.

“Empat tahun lalu,” katanya pelan, “Bapakmu menemukan kuburannya.”

Rian membeku.

Hendra menutup mata sesaat, seakan bahkan setelah bertahun-tahun, mengucapkan kenyataan itu masih terasa seperti mengoyak luka lama.

“Di daerah Cianjur. Dekat sebuah proyek bangunan terbengkalai.”

Ia menyerahkan foto kepada Komisaris Arif.

“Kerangka seorang laki-laki ditemukan terkubur tanpa identitas. Polisi awalnya mengira korban kecelakaan atau gelandangan. Tapi aku melihat berita tentang penemuan itu. Ada gelang logam di pergelangan tangan korban.”

Suara Hendra mulai serak.

“Aku yang membuat gelang itu untuk Fajar ketika dia ulang tahun kedelapan belas.”

Aminah memejamkan mata.

Kenangan itu kembali datang tanpa diminta.

Fajar tertawa sambil memamerkan gelang murah buatan ayahnya.

“Kalau nanti Fajar jadi insinyur terkenal, gelang ini tetap Fajar pakai.”

Hendra melanjutkan.

“Tes DNA membuktikan kerangka itu anak kami.”

Fanny menutup mulutnya.

Ponselnya terlepas dari tangan dan jatuh ke tanah.

Siaran langsung ternyata belum berhenti.

Ribuan orang sedang menyaksikan semuanya.

Komentar bergerak sangat cepat di layar.

Tetapi tak seorang pun di tempat itu memperhatikannya lagi.

Rian menatap ke arah mobilnya.

Kemudian ke jalan.

Komisaris Arif langsung memberi isyarat kepada dua anggotanya.

“Jangan coba kabur.”

Rian mengangkat kedua tangan.

“Saya nggak membunuh siapa-siapa.”

“Belum ada yang bilang kamu membunuh,” balas Arif.

Kesalahan itu membuat keheningan terasa semakin mengerikan.

Hendra menatapnya tajam.

“Tapi kamu langsung menyangkal pembunuhan.”

Rian tersadar ia baru saja terpeleset.

“Aku cuma tahu kalian pasti akan menuduhku.”

“Kenapa?” tanya Aminah.

Untuk pertama kalinya suara wanita tua itu terdengar begitu tenang.

“Karena kamu tahu bagaimana Fajar meninggal?”

Rian tidak menjawab.

Aminah berjalan mendekat.

Setiap langkahnya membuat Rian semakin tidak nyaman.

Dulu, ketika masih remaja, anak itu selalu memanggilnya Bu Aminah.

Kalau datang kelaparan, ia akan berdiri di dapur sambil tersenyum malu.

“Bu, ada nasi lebih?”

Aminah tidak pernah bertanya mengapa ia tidak makan di rumah.

Ia hanya mengambil piring.

Bahkan ketika uang mereka tinggal sedikit, Aminah selalu membagi makanan menjadi tiga bagian.

Satu untuk Fajar.

Satu untuk Rian.

Satu untuk dirinya sendiri.

“Waktu kecil,” kata Aminah, “kamu pernah bilang ingin punya ibu seperti saya.”

Rian menunduk.

“Aku memang menganggapmu seperti anak sendiri.”

Suara Aminah retak untuk pertama kali.

“Lalu apa yang kamu lakukan pada anakku?”

Rian masih diam.

Komisaris Arif membuka map lain.

“Kami juga menemukan transaksi rekening.”

Ia mengeluarkan beberapa lembar cetakan.

“Tiga minggu setelah tanggal perkiraan kematian Fajar, seseorang menarik seluruh uang di rekening korban menggunakan kartu ATM dan PIN yang benar.”

Arif mengangkat wajah.

“Kamera ATM saat itu rusak. Tapi dua bulan kemudian, muncul kartu identitas pengganti atas nama Fajar Baktiar. Foto di kartu tersebut bukan wajah Fajar yang sebenarnya.”

Rian tersenyum sinis.

“Itu bisa dilakukan siapa saja.”

“Benar,” jawab Arif. “Kalau hanya itu.”

Ia mengeluarkan satu barang lagi.

Sebuah ponsel lama berwarna hitam.

Rian langsung mengenalinya.

Wajahnya berubah total.

“Itu dari mana?”

Hendra mengepalkan tangannya.

“Dari bawah lantai kamar kos lamamu.”

Polisi telah membongkar kamar kos itu tiga hari sebelumnya setelah pemilik bangunan lama memberikan izin.

Ponsel tersebut rusak parah, tetapi ahli digital berhasil memulihkan sebagian data dari kartu memorinya.

Di sanalah semuanya mulai terbuka.

Ada rekaman suara.

Tanggalnya sembilan hari sebelum Fajar dinyatakan hilang.

Komisaris Arif menekan tombol pada perangkat pemutar.

Suara berisik terdengar.

Kemudian suara Fajar.

“Rian, berhenti pakai nama gue buat pinjaman. Gue udah bilang gue nggak mau ikut bisnis lo.”

Suara lain menjawab.

Suara yang kini sangat dikenal Fanny.

“Gue cuma pinjam data. Nanti gue bayar.”

“Lo udah bikin utang hampir seratus juta atas nama gue!”

“Gue butuh modal!”

“Besok gue lapor polisi.”

Rekaman berhenti.

Semua mata menatap Rian.

Ia bernapas semakin cepat.

Arif memutar rekaman kedua.

Suara angin.

Kendaraan jauh di belakang.

Kemudian pertengkaran.

“Kasih tas gue!”

“Lo jangan sok suci, Jar!”

“Rian!”

Terdengar bunyi benturan.

Lalu keheningan beberapa detik.

Suara Rian muncul lagi.

Kali ini panik.

“Jar?”

Tak ada jawaban.

“Fajar?”

Kemudian kalimat yang membuat Aminah menutup mulut menahan tangis.

“Bangun, Goblok. Gue cuma dorong lo.”

Rekaman berakhir.

Kaki Rian tampak kehilangan tenaga.

Ia bersandar pada mobil.

“Bukan begitu kejadiannya.”

Hendra maju, tetapi polisi menahannya.

“Lalu bagaimana?”

Rian memegangi kepalanya.

Untuk pertama kalinya topeng kesombongannya runtuh.

“Kami bertengkar.”

Ia menelan ludah.

“Dia mau melapor. Kalau dia lapor, hidupku selesai. Aku cuma mau ambil ponselnya.”

“Lalu?” tanya Arif.

“Dia melawan.”

Suara Rian semakin kecil.

“Aku dorong.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Di belakang kami ada lereng. Aku nggak tahu dia akan jatuh sejauh itu.”

Hendra berteriak.

“Lalu kenapa tidak kau selamatkan?”

“Aku turun!”

“Kenapa tidak panggil ambulans?”

Rian mendadak membentak.

“Karena dia sudah mati!”

Suasana kembali membeku.

Rian sendiri tampak terkejut mendengar pengakuannya.

Namun semuanya sudah terlambat.

Fanny menangis tanpa suara.

Aminah memejamkan mata.

Delapan tahun ia bertanya-tanya bagaimana anaknya menghadapi detik terakhir hidupnya.

Kini ia mendapat jawabannya.

Rian melanjutkan dengan tubuh gemetar.

“Aku panik. Aku pikir kalau polisi tahu, mereka akan mengira aku sengaja membunuhnya. Aku punya utang. Aku sudah menggunakan identitasnya. Semua bukti mengarah kepadaku.”

“Jadi kamu menguburnya,” kata Arif.

Rian mengangguk lemah.

“Ada proyek kosong. Aku bawa tubuhnya malam itu.”

Aminah menatapnya dengan air mata mengalir.

“Setelah itu kamu mengambil hidupnya juga.”

Rian tidak sanggup menatap Aminah.

Ia mengambil dompet Fajar.

KTP-nya.

Ponselnya.

Dokumen kuliahnya.

Awalnya Rian hanya berniat melarikan diri.

Namun Fajar dan dirinya memang memiliki kemiripan sejak remaja. Setelah beberapa prosedur kosmetik dan perubahan penampilan, kemiripan itu semakin kuat.

Rian kemudian menggunakan identitas Fajar untuk membangun kehidupan baru.

Ia melunasi utang dari uang pinjaman ilegal.

Mendirikan perusahaan kontraktor kecil.

Perusahaan itu berkembang.

Ia belajar cara berbicara seperti Fajar melalui pesan lama, foto, bahkan akun media sosial.

Satu masalah tersisa.

Aminah dan Hendra.

Karena itulah selama bertahun-tahun ia mengirim pesan singkat dari nomor berbeda agar keduanya tidak mencari Fajar terlalu jauh.

Namun Hendra tetap mencari.

Ketika mengetahui Hendra sudah semakin dekat pada kebenaran, Rian menghilang sama sekali.

“Kalau begitu kenapa dia datang sekarang?” tanya Fanny sambil menangis.

Komisaris Arif menatap Aminah.

“Karena tanah.”

Aminah mengangguk.

Ternyata sebidang tanah warisan yang ia kira telah dijual sepuluh tahun lalu sebenarnya tidak pernah benar-benar berpindah kepemilikan.

Pembelinya dahulu hanya membayar uang muka, lalu meninggal sebelum proses sertifikat selesai.

Tanah itu tetap atas nama Aminah.

Selama bertahun-tahun nilainya melonjak karena pembangunan kawasan industri baru.

Kini harganya mencapai lebih dari dua puluh miliar rupiah.

Perusahaan milik Rian sedang terlilit utang besar.

Tanpa uang dari tanah tersebut, bisnisnya akan bangkrut.

Ia membutuhkan tanda tangan Aminah untuk menjualnya.

“Itulah sebabnya dia datang,” ujar Hendra.

Fanny menatap Rian seperti melihat orang asing.

“Jadi semua yang kamu bilang tentang pulang untuk bertemu ibumu…”

Rian diam.

“Kamu cuma butuh tanda tangannya?”

Tak ada jawaban.

Fanny mundur.

“Selama dua tahun aku bahkan nggak tahu nama asli kamu.”

Rian mencoba memegang tangannya.

“Fan, dengar dulu.”

“Jangan sentuh aku!”

Ia menampar Rian keras.

Polisi segera menarik pria itu menjauh.

Ketika borgol dipasang di pergelangan tangannya, Rian menoleh kepada Aminah.

Tatapannya penuh kemarahan bercampur putus asa.

“Kalian pikir setelah aku dipenjara semuanya selesai?”

Aminah hanya menatapnya.

Rian tertawa getir.

“Fajar juga bukan anak suci seperti yang kalian pikir.”

Hendra mengepalkan tangan.

“Diam.”

“Dia menyembunyikan sesuatu dari kalian.”

Aminah membeku.

Rian menatap Hendra.

“Bahkan Bapak belum tahu, kan?”

“Apa maksudmu?”

Senyum aneh muncul di bibir Rian.

“Lihat surat terakhir di laptop Fajar.”

Hendra mengernyit.

Rian dibawa menuju mobil polisi.

Namun sebelum pintu ditutup, ia berteriak,

“Dia sudah tahu aku memakai identitasnya jauh sebelum malam itu! Dan dia tetap membiarkanku!”

Pintu mobil ditutup.

Sirene kembali terdengar.

Rian pergi.

Tetapi kalimat terakhirnya tertinggal.

Tiga hari kemudian, di rumah sederhana Aminah, Hendra duduk di depan laptop tua yang ditemukan polisi di gudang kos lama Fajar.

Ahli digital telah memulihkan beberapa berkas yang terhapus.

Salah satunya bernama Untuk Ibu dan Bapak.

Tanggal pembuatannya dua hari sebelum Fajar meninggal.

Tangan Aminah gemetar saat Hendra membuka file itu.

Tulisan Fajar muncul.

Bu, Pak, kalau kalian membaca ini, mungkin aku sudah mengambil keputusan yang akan membuat kalian kecewa.

Aminah langsung menangis melihat cara anaknya menulis kata Ibu.

Inilah gaya bahasa Fajar yang ia ingat.

Hangat.

Tidak pernah terasa asing.

Aku tahu Rian memakai identitasku untuk pinjaman.

Aku marah.

Tapi aku baru tahu alasan sebenarnya.

Ibu tirinya sakit dan adiknya harus operasi. Dia mengambil jalan yang salah karena tidak punya siapa-siapa.

Aku akan memintanya mengaku dan mengembalikan semuanya.

Kalau dia bersedia, aku tidak akan melapor.

Aku ingin membawanya pulang ke Surabaya.

Aku tahu Ibu pasti marah, tapi Ibu juga orang yang dulu mengajarkanku bahwa orang yang tersesat masih bisa pulang selama dia mau mengakui kesalahannya.

Aminah menutup wajah.

Hendra tidak sanggup melanjutkan.

Namun masih ada beberapa baris.

Dan satu lagi, Bu.

Uang yang Ibu kirim selama ini terlalu banyak.

Aku sudah bekerja sambilan sejak semester dua.

Sebagian besar uang kiriman Ibu tidak pernah kupakai.

Aku simpan.

Nanti kalau pulang, aku mau beli mesin jahit baru untuk Ibu dan rumah kecil supaya Ibu nggak perlu ngontrak lagi.

Jangan bilang Bapak. Aku mau kasih kejutan.

Di bagian bawah terdapat nomor rekening.

Polisi kemudian membantu melacaknya.

Rekening itu masih ada.

Tidak pernah disentuh sejak Fajar meninggal.

Saldo awalnya tidak besar.

Namun selama sepuluh tahun, beberapa investasi sederhana yang dibuat Fajar sebelum meninggal tumbuh nilainya.

Jumlah akhirnya hampir delapan ratus juta rupiah.

Aminah memandangi angka itu lama.

Lalu ia menangis tersedu-sedu.

Bukan karena uangnya.

Melainkan karena selama sepuluh tahun ia mengira putranya telah melupakan semua pengorbanannya.

Padahal Fajar sedang menyiapkan jalan pulang.

Sebulan kemudian, Aminah menjual sebagian tanah warisannya.

Bukan kepada perusahaan besar yang menawarkan harga tertinggi.

Ia hanya menjual secukupnya.

Dengan uang itu, Aminah membangun sebuah rumah singgah kecil di Surabaya untuk mahasiswa dari keluarga miskin.

Di depan bangunan tersebut terdapat papan sederhana.

Rumah Fajar.

Tidak ada patung.

Tidak ada foto besar.

Hanya satu kalimat di bawah namanya.

Tidak semua anak yang pergi jauh melupakan rumah. Kadang-kadang mereka sedang berjuang menemukan jalan pulang.

Hendra tinggal bersama Aminah lagi.

Tidak ada pembicaraan panjang tentang delapan tahun kehilangan.

Mereka sama-sama tahu bahwa sebagian luka tidak perlu dijelaskan untuk bisa dipahami.

Suatu sore, Aminah duduk di teras Rumah Fajar sambil memperbaiki seragam seorang mahasiswa yang robek.

Di sampingnya berdiri mesin jahit baru.

Seorang mahasiswa bertanya,

“Bu Aminah, kenapa Ibu masih menjahit? Bukannya sekarang Ibu sudah nggak perlu kerja?”

Aminah tersenyum.

Tangannya mengusap permukaan mesin jahit itu perlahan.

“Karena dulu ada anak yang ingin membelikan saya mesin jahit.”

Ia memandang langit yang mulai jingga.

“Dia nggak sempat pulang untuk memberikannya.”

Mahasiswa itu terdiam.

Aminah kembali menjahit.

Kemudian tersenyum kecil.

“Jadi sekarang saya anggap semua anak yang datang ke rumah ini ikut membawanya pulang.”

Di kejauhan, suara azan Magrib terdengar.

Untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, Aminah tidak lagi menunggu suara langkah Fajar di depan pintu.

Ia akhirnya mengerti.

Anaknya memang telah terkubur bertahun-tahun.

Namun cinta yang ditinggalkannya tidak pernah ikut dikuburkan.

Dan pria yang pernah berdiri di depan Aminah sambil menyebut kehidupannya sebagai sampah akhirnya kehilangan nama, kekayaan, kebebasan, dan semua yang ia bangun dari kebohongan.

Sementara Fajar, yang tubuhnya pernah dikubur tanpa nama di tanah asing, justru mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih besar.

Namanya.

Kebenarannya.

Dan jalan pulang menuju ibunya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang