IBU KANDUNGKU BERSUMPAH DI PENGADILAN BAHWA AKU BUKAN PRAJURIT TNI DEMI MENJERUMUSKANKU KE PENJARA, SAMPAI MANTAN KOMANDANKU DATANG MEMBAWA BUKTI RAHASIA!

Arief Pranoto tidak langsung membuka koper hitam itu.

Ia berdiri di tengah ruang sidang dengan satu tangan bertumpu pada tongkat, sementara tangan lainnya menggenggam amplop bersegel. Tatapannya tenang, tetapi ketenangan itu justru membuat Wulan dan Dimas terlihat semakin gelisah.

Ketua Majelis Hakim meminta petugas memeriksa surat izin yang dibawanya.

Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.

Maya berdiri tanpa bergerak.

Di dalam dadanya, ada sesuatu yang selama bertahun-tahun ia tekan dalam-dalam mulai naik ke permukaan.

Bukan rasa lega.

Bukan pula kemenangan.

Melainkan ingatan tentang malam yang tidak pernah benar-benar berhasil ia lupakan.

Setelah membaca dokumen tersebut, Ketua Majelis Hakim mengangkat wajah.

“Izin pembukaan informasi terbatas ini sah. Namun hanya materi yang relevan dengan identitas dan status kedinasan terdakwa yang boleh dibacakan.”

Arief mengangguk.

“Itu cukup, Yang Mulia.”

Petugas membuka segel koper.

Suara klik kecil terdengar begitu jelas di ruang sidang yang sunyi.

Di dalam koper terdapat beberapa map merah, sebuah kotak logam kecil, serta sebuah tablet milik institusi yang telah dienkripsi.

Arief mengambil map pertama.

“Mayor Maya Baskoro,” katanya pelan, “tercatat sebagai perwira aktif TNI selama empat belas tahun sebelum mengajukan pengunduran diri dengan hormat.”

Ruangan seketika dipenuhi suara gaduh.

Wartawan mengangkat kamera.

Dimas menoleh cepat kepada pengacaranya.

Wulan justru terpaku.

Jaksa berdiri.

“Apakah ada bukti administratif?”

Arief menyerahkan dokumen kepada majelis hakim.

“Nomor registrasi personel, surat pengangkatan, kenaikan pangkat, evaluasi kedinasan, dan keputusan pemberhentian dengan hormat.”

Seorang hakim anggota memeriksa lembar demi lembar.

Ekspresinya berubah.

“Dokumen-dokumen ini memiliki autentikasi resmi.”

Arief mengangguk.

“Benar.”

Wulan tiba-tiba menyela.

“Itu bisa saja dibuat sekarang!”

Semua orang menoleh kepadanya.

Ia menyadari dirinya telah bicara terlalu cepat.

Arief menatap Wulan lama.

“Saya berharap Ibu tidak mengatakan itu.”

“Apa maksud Anda?”

“Karena tanda tangan dalam salah satu dokumen pengajuan keluarga bukan hanya milik Maya.”

Arief mengambil map kedua.

Ia membukanya.

Kemudian mengeluarkan selembar kertas yang sudah menguning di bagian pinggir.

“Ketika Maya mengikuti pendidikan militer lanjutan, keluarganya menerima pemberitahuan terbatas. Nama penerima pemberitahuan adalah Hadi Baskoro.”

Arief berhenti.

“Dan Wulan Baskoro.”

Wajah Wulan kehilangan warna.

Maya menatap ibunya.

Untuk pertama kalinya sejak kasus itu dimulai, rasa sakit di matanya benar-benar terlihat.

“Ibu tahu?” suaranya nyaris berbisik.

Wulan tidak menjawab.

Maya mengulanginya.

“Ibu tahu sejak awal?”

Dimas langsung berdiri.

“Keberatan, Yang Mulia. Ini tidak relevan dengan tuduhan pemalsuan wasiat.”

Ketua Majelis Hakim mengetukkan palu.

“Duduk.”

Dimas mengepalkan tangan.

Arief melanjutkan.

“Dalam banyak penugasan, keluarga memang tidak diberi tahu lokasi maupun sifat operasi. Tetapi status Maya sebagai anggota TNI bukan rahasia bagi orang tuanya.”

Ia menatap Wulan.

“Ibu bahkan pernah menandatangani formulir kontak keluarga ketika Maya dikirim ke pendidikan khusus.”

Wulan menarik napas tajam.

“Itu sudah lama. Saya tidak ingat.”

“Tidak ingat?”

Arief mengambil satu dokumen lagi.

“Kalau begitu, mungkin Ibu ingat ini.”

Ia menunjukkan sebuah foto lama.

Maya masih berusia dua puluhan dalam foto itu. Rambutnya pendek. Tubuhnya lebih kurus. Di sampingnya berdiri Hadi dan Wulan.

Mereka bertiga berfoto di sebuah kompleks militer setelah upacara kelulusan.

Tangan Wulan berada di bahu Maya.

Di belakang foto terdapat tulisan tangan.

Anak Ibu akhirnya menjadi prajurit. Pulanglah selalu dengan selamat.

Tulisan itu milik Wulan.

Ruang sidang membeku.

Wulan menatap foto tersebut seperti melihat sesuatu yang seharusnya sudah terkubur selamanya.

Maya menutup mata beberapa detik.

Ia tidak pernah tahu ayahnya masih menyimpan foto itu.

Lebih menyakitkan lagi, ia tidak pernah menyangka ibunya sanggup berdiri di bawah sumpah dan mengatakan bahwa semua itu tidak pernah terjadi.

Arief kemudian membuka kotak logam.

Di dalamnya terdapat potongan kain seragam yang hangus dan sebuah tanda pengenal yang sebagian permukaannya meleleh.

“Barang ini ditemukan setelah operasi evakuasi tahun itu.”

Maya menegang.

Arief tidak menyebut lokasi.

Ia tidak menyebut nama operasi.

Tetapi Maya langsung tahu.

Ia kembali mendengar suara ledakan.

Teriakan.

Bau logam terbakar.

Suara seseorang memanggil namanya di tengah asap.

Arief melanjutkan dengan suara yang lebih berat.

“Dalam operasi tersebut, tim yang dipimpin Maya mengalami serangan. Seorang anggota terluka parah. Maya kembali ke area tembak untuk menariknya keluar.”

Ia memandang bekas badge yang hangus.

“Api mengenai sisi tubuhnya. Luka bakar itulah yang saat ini disebut keluarga sebagai hasil rekayasa.”

Beberapa orang di ruang sidang menundukkan kepala.

Arief kemudian berkata, “Tanda kehormatan yang disita dari rumah Maya juga asli. Nomor registrasinya cocok dengan arsip negara.”

Jaksa terlihat semakin tidak nyaman.

Ia membuka berkasnya dengan cepat.

“Kalau begitu, mengapa data terdakwa tidak ditemukan ketika penyidik melakukan pemeriksaan awal?”

Pertanyaan itu membuat Dimas mengangkat wajah.

Seolah ia menemukan secercah harapan.

Arief justru tersenyum tipis.

“Karena seseorang tidak memeriksa arsip yang benar.”

“Apa maksud Anda?”

“Riwayat kedinasan Maya memiliki pembatasan akses karena penugasan tertentu. Permintaan verifikasi harus dilakukan melalui jalur khusus.”

Arief menoleh ke arah Dimas.

“Namun ada hal lain yang lebih menarik.”

Dimas menegang.

“Beberapa minggu sebelum laporan terhadap Maya dibuat, seseorang berusaha mengakses arsip lama Maya melalui seorang perantara sipil.”

Suasana kembali berubah.

Pengacara Dimas langsung berdiri.

“Ini sudah keluar dari pokok perkara.”

Arief menggeleng.

“Belum.”

Ia mengeluarkan dokumen dari map ketiga.

“Permintaan ilegal tersebut dapat dilacak.”

Arief menatap Dimas tepat di mata.

“Pembayarannya berasal dari rekening sebuah perusahaan bernama PT Nusantara Strategi Utama.”

Dimas tidak berkata apa-apa.

Maya langsung mengenali nama itu.

Itu salah satu vendor fiktif yang ditemukan Hadi.

Arief menyerahkan laporan transaksi kepada majelis hakim.

“Direktur perusahaan tersebut hanyalah nominee. Pemilik manfaat sebenarnya memiliki hubungan langsung dengan keluarga Baskoro.”

Ketua Majelis Hakim membaca halaman berikutnya.

Alisnya mengerut.

“Dimas Baskoro?”

Dimas berdiri mendadak.

“Itu fitnah!”

“Duduk!” bentak hakim.

Namun Dimas tidak lagi terlihat seperti pria tenang yang sejak pagi yakin telah memenangkan persidangan.

Keringat mulai muncul di pelipisnya.

Maya menoleh kepada pengacaranya.

Pengacaranya membuka satu map yang sejak awal belum pernah disentuh.

“Yang Mulia, berkaitan dengan informasi baru ini, kami meminta izin mengajukan bukti tambahan yang sebelumnya kami tahan karena menunggu hasil audit forensik.”

Dimas menatapnya.

“Apa?”

Pengacara Maya berdiri.

“Bukti tersebut berkaitan dengan dugaan pemalsuan surat wasiat kedua dan penggelapan dana perusahaan.”

Ia menyerahkan sebuah flash drive kepada petugas.

“Tim forensik menemukan bahwa file digital surat wasiat versi Dimas dibuat sebelas hari setelah Hadi Baskoro meninggal.”

Ruang sidang meledak oleh suara bisik-bisik.

Dimas benar-benar kehilangan kendali.

“Bohong!”

Pengacara Maya melanjutkan.

“Metadata menunjukkan dokumen itu dibuat di laptop milik sekretaris pribadi Dimas.”

Dimas menoleh ke belakang.

Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh lima tahun yang sejak pagi duduk di antara saksi perusahaan langsung menundukkan kepala.

“Itu tidak membuktikan apa pun!”

“Benar,” jawab pengacara Maya. “Karena itu kami juga membawa rekaman kamera kantor.”

Layar di ruang sidang dinyalakan.

Rekaman malam hari muncul.

Tanggal di sudut layar adalah lima hari setelah kematian Hadi.

Dimas terlihat masuk ke ruang kerja ayahnya bersama Wulan.

Mereka membawa sebuah map.

Kemudian seorang notaris masuk tiga puluh menit kemudian.

Maya memandang layar tanpa berkedip.

Ia merasa ada bagian dalam dirinya yang runtuh.

Bukan karena Dimas.

Ia sudah lama tahu adiknya mampu melakukan banyak hal demi uang.

Tetapi ibunya berada di sana.

Wulan terlibat sejak awal.

Video berikutnya menunjukkan Wulan membuka lemari besi menggunakan kode.

Lalu ia menyerahkan sebuah dokumen kepada Dimas.

Maya bertanya pelan, “Kenapa, Bu?”

Wulan menoleh.

Untuk beberapa saat, tidak ada lagi wajah seorang saksi yang percaya diri.

Yang tersisa hanyalah seorang perempuan tua yang ketakutan.

Dimas berbisik keras, “Jangan bicara apa pun!”

Wulan tiba-tiba membalas, “Diam!”

Dimas terkejut.

Semua orang terdiam.

Wulan menatap putranya sendiri.

“Kamu bilang Maya hanya akan kehilangan perusahaan.”

“Bu!”

“Kamu bilang dia tidak akan dipenjara!”

Dimas menjadi pucat.

Wulan berdiri dengan napas terengah.

“Aku hanya ingin perusahaan itu jatuh ke tanganmu. Kamu bilang ayahmu selalu lebih percaya kepada Maya. Kamu bilang setelah perusahaan menjadi milikmu, semuanya akan kembali normal.”

Air mata akhirnya muncul di mata Wulan.

“Tapi kamu tidak pernah bilang akan menghapus identitas kakakmu, membuatnya dianggap penipu, lalu memasukkannya ke penjara!”

Dimas menggeleng.

“Ibu gila. Ibu yang menyuruhku!”

“Tidak!”

Untuk pertama kalinya, topeng keluarga Baskoro pecah di depan publik.

Wulan menangis.

“Aku memang menandatangani dokumen palsu itu. Aku memang berbohong di pengadilan.”

Suasana mendadak senyap.

Maya tidak merasakan kemenangan.

Hanya kehampaan.

Wulan memandangnya.

“Aku iri padamu.”

Maya mengernyit.

“Apa?”

“Sejak kecil ayahmu selalu melihatmu seperti kamu mampu melakukan apa saja. Ketika kamu masuk militer, dia begitu bangga. Ketika kamu pulang dengan luka, dia duduk berhari-hari di rumah sakit.”

Suara Wulan bergetar.

“Sementara Dimas selalu dianggap lemah. Selalu dibandingkan denganmu.”

Dimas menatap ibunya tidak percaya.

Wulan melanjutkan.

“Aku pikir kalau perusahaan diberikan kepada Dimas, setidaknya sekali dalam hidupnya dia akan merasa dipilih.”

Maya tersenyum pahit.

“Jadi untuk membuat Dimas merasa dipilih, Ibu menghapus hidup saya?”

Wulan tidak mampu menjawab.

Tiba-tiba pintu samping ruang sidang terbuka.

Dua penyidik masuk.

Mereka membisikkan sesuatu kepada jaksa.

Beberapa menit kemudian, Ketua Majelis Hakim mengumumkan bahwa berdasarkan bukti baru dan pengakuan di bawah sumpah, persidangan ditunda sementara untuk pemeriksaan lanjutan atas dugaan pemberian kesaksian palsu, pemalsuan dokumen, penggelapan, serta obstruction of justice.

Dimas mencoba meninggalkan kursinya.

Namun dua petugas sudah berdiri di belakangnya.

“Saudara Dimas Baskoro, kami meminta Anda ikut untuk pemeriksaan.”

“Ini belum selesai!” teriak Dimas.

Ia menunjuk Maya.

“Semua ini karena kamu!”

Maya menatapnya datar.

“Tidak, Dimas.”

Suaranya tenang.

“Semua ini karena kamu mengira orang yang memilih diam berarti tidak punya bukti.”

Dimas dibawa keluar.

Wulan tidak bergerak.

Ia hanya duduk sambil menutupi wajah dengan kedua tangan.

Beberapa jam setelah persidangan, Maya berdiri sendirian di koridor belakang gedung pengadilan.

Arief menghampirinya.

“Maaf saya datang terlambat.”

Maya menggeleng.

“Bapak datang di saat yang tepat.”

Arief memandangnya.

“Ayahmu yang menghubungi saya.”

Maya terdiam.

“Apa?”

Arief mengeluarkan sebuah amplop kecil dari saku jasnya.

“Dua minggu sebelum meninggal.”

Tangan Maya gemetar ketika menerimanya.

Di dalam amplop terdapat surat pendek tulisan tangan Hadi.

Maya membaca perlahan.

Jika kamu membaca ini, berarti ketakutanku benar.

Aku tahu Dimas telah mengambil uang perusahaan. Aku juga tahu ibumu membelanya.

Aku memilihmu bukan karena kamu prajurit.

Aku memilihmu karena dari semua anakku, hanya kamu yang tidak pernah meminta apa pun dariku.

Kalau mereka menggunakan masa lalumu untuk menghancurkanmu, temui Arief.

Dan maafkan Ayah karena baru sekarang berani mengakui satu hal.

Maya berhenti membaca.

Di bawah kalimat itu terdapat satu lembar hasil pemeriksaan DNA lama.

Nama Hadi Baskoro tercantum sebagai ayah biologis Maya.

Namun di bagian hubungan biologis terhadap Dimas tertulis hasil yang berbeda.

Probabilitas paternitas: 0 persen.

Maya menatap Arief.

“Ayah tahu?”

“Sudah hampir dua puluh tahun.”

“Kenapa dia tidak pernah mengatakan apa pun?”

Arief menatap ke arah pintu ruang sidang tempat Wulan masih diperiksa.

“Karena baginya, Dimas tetap anak yang ia besarkan.”

Maya merasa tenggorokannya tercekat.

Semua pertarungan tentang siapa anak kesayangan, siapa pewaris sah, siapa yang lebih pantas menerima perusahaan, tiba-tiba terasa begitu ironis.

Hadi mengetahui bahwa Dimas bukan darah dagingnya.

Namun tetap membesarkannya.

Tetap menyekolahkannya.

Tetap memberinya posisi.

Tetap memanggilnya anak.

Dimas tidak pernah kehilangan seorang ayah.

Ia hanya terlalu sibuk merasa kalah dari Maya sampai tidak pernah menyadari betapa besar cinta yang sudah ia terima.

Beberapa bulan kemudian, pengadilan membebaskan Maya dari seluruh tuduhan.

Dimas dijatuhi hukuman setelah terbukti terlibat dalam pemalsuan dokumen, penggelapan dana perusahaan, dan upaya menghalangi proses hukum.

Wulan juga dinyatakan bersalah atas kesaksian palsu dan keterlibatannya dalam pemalsuan, meski hukumannya lebih ringan karena ia bekerja sama membuka aliran dana yang selama ini disembunyikan.

Maya kembali memimpin PT Garda Perkasa Taktis.

Namun keputusan pertamanya mengejutkan seluruh dewan direksi.

Ia menjual sebagian saham pribadi miliknya dan mendirikan sebuah yayasan untuk keluarga prajurit yang gugur atau mengalami luka permanen dalam tugas.

Nama yayasan itu bukan Baskoro.

Ia memberinya nama Hadi.

Pada hari peresmian, seorang wartawan bertanya kepadanya, “Setelah semua yang dilakukan keluarga Anda, apakah Anda masih percaya bahwa keluarga adalah tempat seseorang seharusnya merasa aman?”

Maya terdiam beberapa saat.

Bekas luka di rusuknya masih terasa ketika cuaca terlalu panas.

Luka dari medan operasi itu tidak pernah hilang.

Begitu pula luka dari ruang sidang.

Tetapi sekarang ia memahami sesuatu.

“Darah bisa membuat kita menjadi kerabat,” katanya.

“Tapi hanya pilihan yang membuat kita benar-benar menjadi keluarga.”

Ia menoleh ke arah foto ayahnya yang terpajang di dinding.

Lalu tersenyum tipis.

“Dan kadang-kadang, pengkhianatan terbesar bukan datang dari orang yang tidak mencintai kita.”

Maya menarik napas.

“Melainkan dari orang yang mencintai seseorang dengan cara yang salah, lalu menghancurkan semua orang demi membuktikannya.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang