SAYA MENAHAN SEMUA PENGHINAAN ANAK DAN MENANTU DI RUMAH SAYA SENDIRI—TAPI SAAT DIA SENGAJA MENGINJAK TANGAN SAYA, SAYA MENGAMBIL WAJAN BESI DAN MENGHANCURKAN MOBIL MEWAH KESAYANGANNYA!

Bu Aminah menatap wajan besi di tangannya, lalu berjalan melewati Reza dan Citra tanpa mengatakan apa pun.

Bukan menuju meja makan.

Bukan menuju kompor.

Ia menuju pintu belakang.

“Bu, mau ke mana?” Reza bertanya, nada suaranya masih terdengar meremehkan.

Bu Aminah tetap berjalan.

Citra mendecakkan lidah.

“Sudahlah, mungkin mau drama di halaman.”

Bu Aminah membuka pintu belakang. Udara dingin dan percikan hujan langsung menerpa wajahnya.

Di carport samping rumah terparkir sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengilap. Mobil itu baru dibeli Reza tiga bulan lalu. Hampir setiap akhir pekan ia mencucinya sendiri, memoles bodinya berjam-jam, bahkan melarang Bu Aminah menjemur kain terlalu dekat karena takut air sabun mengenai cat mobil.

Harga mobil itu hampir satu miliar rupiah.

Reza sangat membanggakannya.

Bahkan lebih dari rumah yang selama ini ia tinggali secara gratis.

Bu Aminah berhenti di samping mobil tersebut.

Ia menatap pantulan wajahnya sendiri pada kaca pintu.

Wajah seorang perempuan yang sudah berusia lebih dari enam puluh tahun.

Rambutnya mulai memutih.

Kulitnya penuh garis kelelahan.

Tangan kanannya mulai membengkak setelah diinjak anak kandungnya.

Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Bu Aminah merasa pikirannya sangat jernih.

Reza muncul di ambang pintu.

“Bu?”

Bu Aminah mengangkat wajan.

Mata Reza melebar.

“Jangan macam-macam!”

BRAK!

Wajan besi menghantam kaca spion kanan.

Benda itu patah dan menggantung hanya dengan kabel.

Reza membeku.

Citra menjerit.

“GILA!”

Bu Aminah mengayunkan wajan sekali lagi.

BRAK!

Lampu depan mobil pecah.

“IBU!”

Reza berlari menuruni dua anak tangga.

Bu Aminah tidak berhenti.

BRAK!

Wajan menghantam kap mobil hingga meninggalkan lekukan besar.

BRAK!

Kaca samping retak.

BRAK!

Pintu mobil penyok.

Citra berteriak seperti orang kesurupan.

“REZA! CEGAH DIA! MOBIL KITA!”

Namun Reza justru berdiri terpaku beberapa meter dari ibunya.

Mungkin karena baru kali itu ia melihat Bu Aminah seperti itu.

Perempuan yang selama ini selalu mengalah kini berdiri di tengah hujan, rambutnya basah, pakaian rumahnya kuyup, tangan kanannya gemetar karena sakit, tetapi tangan kirinya masih menggenggam wajan dengan kuat.

“Cukup!” Reza akhirnya berteriak.

Bu Aminah menghentikan gerakannya.

Napasnya memburu.

Reza menunjuk mobilnya yang rusak.

“Ibu tahu berapa harga mobil ini?”

Bu Aminah menatapnya.

“Tahu.”

“Kenapa Ibu rusak?”

Bu Aminah menjawab dengan suara datar.

“Karena sekarang kamu akhirnya merasa kehilangan sesuatu yang kamu cintai.”

Reza menatapnya tak percaya.

Bu Aminah melanjutkan.

“Sekarang coba bayangkan, bagaimana rasanya bagi Ibu ketika yang hilang bukan mobil.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Tapi anak Ibu sendiri.”

Wajah Reza berubah.

Namun sebelum ia sempat bicara, Citra mendorong tubuh suaminya dari belakang.

“Jangan dengarkan dia! Telepon polisi! Dia merusak mobil kita!”

Bu Aminah menoleh kepada Citra.

“Silakan.”

Citra terdiam.

Bu Aminah menjatuhkan wajan ke lantai carport.

Bunyi logamnya berdentang keras.

“Telepon polisi.”

Reza mengernyit.

“Ibu pikir saya tidak berani?”

“Telepon.”

Bu Aminah kemudian berjalan kembali masuk ke rumah.

Citra mengikuti sambil berteriak.

“Jangan pergi begitu saja! Kamu harus ganti rugi!”

Bu Aminah berhenti di ruang keluarga.

Ia mengambil sebuah ponsel lama dari atas meja.

Kemudian ia menekan satu nomor.

“Pak Damar?” katanya.

Reza dan Citra berdiri di belakangnya.

“Besok pagi tolong datang ke rumah. Bawa semua dokumen yang sudah kita bicarakan minggu lalu.”

Reza mengernyit.

“Dokumen apa?”

Bu Aminah menutup telepon.

“Dokumen rumah ini.”

Untuk pertama kalinya, wajah Citra kehilangan ekspresi mengejeknya.

“Apa maksudnya?”

Bu Aminah duduk perlahan di kursi.

Ia memegangi tangan kanannya yang semakin bengkak.

“Duduklah kalau mau dengar.”

Reza tidak duduk.

“Apa maksud Ibu dokumen rumah?”

Bu Aminah menatapnya.

“Rumah ini bukan milikmu.”

Reza tertawa kecil.

“Ya saya tahu. Milik Ibu. Tapi nanti juga diwariskan ke saya.”

Bu Aminah mengangguk.

“Dulu memang begitu.”

Kata “dulu” membuat ruangan mendadak sunyi.

Citra maju satu langkah.

“Maksud Ibu?”

Bu Aminah menarik napas.

“Dua minggu lalu, Ibu sudah mengubah surat wasiat.”

Wajah Reza langsung pucat.

“Apa?”

“Ibu tidak akan mewariskan rumah ini kepadamu.”

Reza menatapnya seperti baru mendengar sesuatu yang mustahil.

Rumah itu terletak di kawasan yang sekarang berkembang pesat. Ketika dibeli suami Bu Aminah puluhan tahun lalu, harganya masih murah.

Kini nilainya sudah mencapai miliaran rupiah.

Selama ini, diam-diam Reza menganggap rumah itu sebagai aset masa depannya.

Bahkan beberapa bulan terakhir, ia sudah beberapa kali berkata kepada Citra bahwa mereka bisa merenovasinya setelah Bu Aminah tidak ada.

Bu Aminah ternyata mendengar pembicaraan itu.

Tidak hanya sekali.

“Rumah ini akan dijual,” lanjut Bu Aminah.

Citra langsung memotong.

“Dijual?”

“Iya.”

“Terus kami tinggal di mana?”

Bu Aminah hampir tersenyum.

Pertanyaan itu begitu jelas menunjukkan apa yang sebenarnya dipikirkan menantunya.

Bukan apakah Bu Aminah baik-baik saja.

Bukan bagaimana kondisi tangannya.

Bukan mengapa seorang ibu sampai nekat menghancurkan mobil anaknya.

Yang dipikirkan Citra hanya tempat tinggal gratis.

“Cari rumah sendiri,” jawab Bu Aminah.

Reza mengepalkan tangan.

“Ibu tidak bisa mengusir kami begitu saja.”

Bu Aminah menatapnya tanpa gentar.

“Kenapa tidak?”

“Saya anak Ibu!”

“Justru karena kamu anak Ibu, selama ini Ibu terlalu banyak memberi kesempatan.”

Reza menarik napas keras.

“Ibu cuma emosi karena kejadian tadi.”

“Tidak.”

Bu Aminah menggeleng perlahan.

“Hari ini hanya membuat keputusan Ibu menjadi lebih mudah.”

Reza terdiam.

Bu Aminah kemudian mengungkap sesuatu yang tidak pernah mereka ketahui.

Tiga minggu sebelumnya, Bu Aminah jatuh sakit di pasar.

Tekanan darahnya turun drastis.

Seorang tetangga bernama Bu Rini membawanya ke klinik.

Dokter mengatakan Bu Aminah perlu lebih banyak istirahat dan mengurangi pekerjaan berat.

Malamnya, ketika Bu Aminah memberi tahu Reza, putranya hanya menjawab dari depan televisi.

“Kalau capek ya jangan terlalu dipikirkan.”

Citra bahkan berkata,

“Kalau Ibu enggak kuat bersih-bersih, nanti cari pembantu. Tapi bayarnya pakai uang Ibu sendiri ya.”

Kalimat itu membuat sesuatu mulai berubah dalam diri Bu Aminah.

Keesokan harinya, ia menemui Pak Damar, sahabat lama suaminya yang sekarang bekerja sebagai notaris.

Diam-diam Bu Aminah mulai mengatur hartanya.

Reza sama sekali tidak mengetahuinya.

“Apa yang Ibu lakukan?” tanya Reza pelan.

“Sebagian uang hasil penjualan rumah nanti akan Ibu gunakan membeli rumah kecil.”

“Terus sisanya?”

Bu Aminah menatap putranya.

“Akan Ibu sumbangkan.”

Reza hampir tersedak.

“Disumbangkan?”

“Iya.”

“Ke siapa?”

“Yayasan pendidikan.”

Reza menggeleng cepat.

“Tidak. Tidak bisa begitu.”

Bu Aminah tertawa lirih.

“Mengapa?”

“Itu uang keluarga!”

Untuk pertama kalinya, suara Bu Aminah meninggi.

“UANG KELUARGA?”

Reza terdiam.

Bu Aminah berdiri.

Tubuhnya memang sudah tua, tetapi suaranya kini memenuhi seluruh ruangan.

“Waktu ayahmu meninggal, siapa yang membayar sekolahmu?”

Reza menelan ludah.

“Siapa yang menjual perhiasan untuk biaya kuliahmu?”

Tidak ada jawaban.

“Siapa yang bekerja sampai malam?”

Reza menunduk.

“Siapa yang menggadaikan tanah kecil di kampung supaya kamu bisa menyelesaikan semester terakhir?”

Citra perlahan mundur.

Bu Aminah menunjuk lantai.

“Dan hari ini, setelah semuanya Ibu berikan, kamu menginjak tangan Ibu di rumah Ibu sendiri.”

Reza membuka mulut.

“Bu, tadi itu—”

“Jangan bohong.”

Bu Aminah memotong.

“Kamu melihat Ibu.”

Sunyi.

Reza tidak bisa menyangkal.

Bu Aminah masih ingat jelas tatapan putranya sebelum sepatu itu menginjak tangannya.

Itu bukan kecelakaan.

Reza melihat.

Dan memilih terus berjalan.

“Apa Ibu akan benar-benar mengusir kami?” suara Reza mulai melemah.

“Iya.”

“Kapan?”

Bu Aminah menjawab tanpa ragu.

“Tujuh hari.”

Citra langsung berteriak.

“Tujuh hari? Mana mungkin!”

Bu Aminah mengambil tas kecil dari lemari.

Ia memasukkan ponsel, dompet, dan beberapa pakaian.

Reza memandangnya bingung.

“Ibu mau ke mana?”

“Ke rumah Bu Rini.”

“Ibu meninggalkan rumah sendiri?”

“Hanya malam ini.”

Bu Aminah menatap keduanya.

“Besok Pak Damar datang. Setelah itu kita bicara lagi.”

Sebelum keluar, Bu Aminah berhenti di depan Reza.

Suara hujan masih terdengar di luar.

“Kalau kamu mau melapor polisi soal mobil itu, silakan.”

Reza terdiam.

“Tapi kalau polisi datang,” lanjut Bu Aminah, “Ibu juga akan menceritakan bagaimana tangan Ibu bisa begini.”

Bu Aminah menunjukkan jarinya yang membengkak.

Citra langsung memucat.

Tidak ada laporan polisi malam itu.

Keesokan paginya, Pak Damar datang membawa map tebal.

Bu Aminah juga pulang bersama Bu Rini.

Reza dan Citra rupanya hampir tidak tidur.

Mobil rusak masih terparkir di halaman.

Pak Damar duduk di meja makan dan mengeluarkan sejumlah dokumen.

“Saya hanya ingin memastikan semuanya jelas,” katanya.

Rumah memang sepenuhnya atas nama Bu Aminah.

Tidak ada hak kepemilikan Reza.

Tidak ada perjanjian bahwa Reza boleh tinggal permanen di sana.

Kemudian Pak Damar mengeluarkan dokumen lain.

Surat penjualan sementara.

Ternyata Bu Aminah sudah menemukan calon pembeli.

Seorang pengusaha lokal ingin membeli rumah itu karena lokasinya strategis.

Reza menatap ibunya.

“Ibu sudah merencanakan ini sejak kapan?”

“Sejak Ibu sadar bahwa kalau terus tinggal bersama kalian, mungkin suatu hari Ibu mati di rumah ini dan kalian baru sadar tiga jam kemudian karena makan siang belum tersedia.”

Kalimat itu menghantam Reza jauh lebih keras daripada wajan yang menghantam mobilnya.

Wajahnya berubah.

Untuk pertama kalinya, ia tidak marah.

Ia terlihat malu.

Namun Citra masih belum menyerah.

“Kalau rumah dijual, setidaknya Reza berhak mendapatkan bagian!”

Pak Damar memandangnya.

“Tidak.”

“Dia anak kandung!”

“Selama Bu Aminah masih hidup dan sehat secara hukum, beliau berhak mengelola hartanya.”

Citra menatap Reza.

“Lakukan sesuatu!”

Reza justru diam.

Sejak tadi pandangannya tertuju pada tangan ibunya.

Lebam biru mulai muncul di punggung tangan itu.

Tiba-tiba ia seperti baru melihat akibat perbuatannya dengan jelas.

“Bu.”

Bu Aminah menoleh.

Reza duduk perlahan.

“Aku minta maaf.”

Citra menatapnya kaget.

“Reza!”

“Aku minta maaf, Bu.”

Mata Reza mulai merah.

Bu Aminah tidak langsung menjawab.

Selama bertahun-tahun, ia menunggu kalimat itu.

Anehnya, ketika akhirnya mendengarnya, hatinya tidak langsung lunak.

Ada luka yang terlalu dalam untuk sembuh hanya dengan dua kata.

“Aku keterlaluan,” lanjut Reza.

Ia menatap lantai.

“Aku tidak tahu sejak kapan aku berubah seperti ini.”

Citra menyilangkan tangan.

“Jangan lebay.”

Reza tiba-tiba menoleh tajam.

“Diam, Cit.”

Citra membeku.

Itu pertama kalinya Reza membentaknya.

Reza kembali memandang ibunya.

“Aku ingat dulu Ibu pernah jalan kaki hampir lima kilometer karena uang ongkosnya dipakai buat beli buku kuliahku.”

Bu Aminah terdiam.

“Aku ingat.”

Air mata jatuh dari mata Reza.

“Tapi entah kenapa setelah punya pekerjaan, punya mobil, punya istri, aku mulai merasa semuanya memang seharusnya aku dapatkan.”

Bu Aminah menarik napas panjang.

“Penyesalan itu baik, Za.”

Reza mengangkat wajahnya.

“Tapi penyesalan tidak menghapus akibat.”

Kalimat itu membuat Reza mengangguk perlahan.

Bu Aminah tetap memberi mereka waktu tujuh hari.

Tidak ada perubahan keputusan.

Dan justru di situlah kejutan terbesar terjadi.

Pada hari ketujuh, Citra pergi.

Bukan bersama Reza.

Ia membawa koper, perhiasan, dan sebagian uang tabungan mereka.

Sebelum pergi, Citra hanya meninggalkan pesan singkat.

Ia mengatakan tidak sanggup hidup dengan laki-laki yang “tidak lagi punya rumah dan masa depan pasti”.

Reza membaca pesan itu berkali-kali.

Lalu ia tertawa pahit.

Akhirnya ia memahami sesuatu.

Perempuan yang selama ini ia bela mati-matian ternyata mencintai kenyamanan yang ia miliki, bukan dirinya.

Reza pindah ke sebuah kamar kos sederhana dekat kantornya.

Mobil mewahnya dijual dalam kondisi rusak untuk melunasi sisa cicilan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mencuci pakaian sendiri.

Memasak sendiri.

Mengepel lantai sendiri.

Membayar listrik sendiri.

Dan ternyata hal-hal yang dulu ia anggap remeh jauh lebih melelahkan daripada yang ia bayangkan.

Tiga bulan kemudian, rumah Bu Aminah resmi terjual.

Ia membeli rumah kecil dengan halaman mungil di pinggir kota.

Tidak mewah.

Tetapi tenang.

Sebagian besar uang sisanya ia gunakan mendirikan dana beasiswa atas nama almarhum suaminya.

Beasiswa itu diberikan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu yang dibesarkan oleh orang tua tunggal.

Ketika Pak Damar menanyakan mengapa ia memilih program itu, Bu Aminah hanya menjawab,

“Supaya pengorbanan orang tua lain tidak sia-sia.”

Enam bulan berlalu.

Suatu sore, seseorang mengetuk pintu rumah kecil Bu Aminah.

Ketika dibuka, Reza berdiri di sana.

Tidak membawa bunga mahal.

Tidak membawa hadiah.

Hanya membawa sebuah kantong plastik berisi sayur, telur, dan ikan.

“Boleh masuk?”

Bu Aminah memandangnya beberapa detik.

Lalu mengangguk.

Reza masuk ke dapur.

“Ibu duduk saja.”

Bu Aminah mengangkat alis.

“Mau apa?”

“Masak.”

Bu Aminah hampir tertawa.

“Kamu bisa?”

Reza menggaruk kepala.

“Sedikit.”

Setengah jam kemudian dapur penuh asap karena ikan hampir gosong.

Bu Aminah akhirnya tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka tertawa bersama.

Hubungan mereka tidak langsung kembali seperti dulu.

Bu Aminah tidak melupakan apa yang terjadi.

Reza juga tidak pernah meminta ibunya mengubah keputusan soal warisan.

Ia hanya datang setiap akhir pekan.

Kadang membawa makanan.

Kadang memperbaiki keran.

Kadang sekadar duduk minum teh.

Sampai pada suatu sore, Reza melihat sesuatu tergantung di dinding dapur.

Sebuah wajan besi tua.

Penyok sedikit di bagian pinggir.

Reza menatapnya lama.

“Ibu masih simpan?”

Bu Aminah tersenyum.

“Masih bagus.”

Reza tertawa kecil.

“Mobilku enggak merasa begitu.”

Bu Aminah ikut tersenyum.

Lalu Reza berkata pelan,

“Kalau hari itu Ibu tidak menghancurkan mobilku, mungkin aku tidak pernah sadar.”

Bu Aminah menatap putranya.

“Bukan mobilmu yang Ibu ingin hancurkan.”

Reza mengangguk.

“Aku tahu.”

Yang ingin dihancurkan Bu Aminah hari itu adalah kesombongan yang tumbuh di dalam rumahnya sendiri.

Dan anehnya, dari suara kaca pecah, logam penyok, dan sebuah wajan tua di tengah hujan, seorang ibu akhirnya mendapatkan kembali sesuatu yang hampir benar-benar hilang.

Bukan rumah.

Bukan uang.

Bukan harga diri.

Melainkan seorang anak yang akhirnya belajar kembali bagaimana caranya menjadi manusia.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang