“BERANINYA KALIAN MENYAKITI KEPONAKANKU DI RUMAH SAKIT MILIK KELUARGA KAMI!”
Bentakan itu membuat lorong VIP Mahardika Medical Center mendadak sunyi.
Adrian menatap pria yang berdiri di hadapannya dengan wajah pucat. Aku bisa melihat rahangnya menegang, seolah otaknya sedang berusaha memahami apa yang baru saja didengarnya.
Siska bahkan kehilangan senyum sinisnya.
“Keponakan?” gumam Adrian.
Pria itu adalah Dr. Surya Mahardika, Direktur Utama Mahardika Medical Center.
Dan dia adalah kakak kandung mendiang ibuku.
Pamanku.
Paman Surya tidak menjawab Adrian. Dia langsung berlutut di sampingku.
“Kirana, lihat Paman.”
Tangannya gemetar ketika menyentuh bahuku.
“Perutmu sakit? Ada kontraksi? Kamu merasa pusing?”
“Aku tidak tahu, Paman.”
Air mataku mengalir tanpa bisa kutahan.
“Aku cuma takut pada bayiku.”
Wajah Paman Surya langsung berubah tegang.
“Bawa dia ke ruang pemeriksaan sekarang!”
Beberapa perawat segera datang membawa kursi roda. Aku dibantu duduk dengan hati-hati.
Saat mereka hendak membawaku pergi, Adrian tiba-tiba maju.
“Kirana, tunggu. Aku ikut.”
Paman Surya berdiri dan menghadang jalannya.
“Tidak.”
“Tapi dia istri saya.”
Paman Surya menatapnya tajam.
“Baru sekarang kamu ingat dia istrimu?”
Adrian terdiam.
“Ketika perempuan itu menendangnya, kamu berdiri dan menonton. Ketika keponakanku jatuh sambil melindungi anakmu, kamu bahkan tidak mengulurkan tangan.”
Suara Paman Surya tidak lagi keras.
Justru ketenangannya terasa jauh lebih menakutkan.
“Jangan berani menggunakan kata suami di depan saya.”
Aku dibawa masuk ke ruang pemeriksaan.
Dokter kandungan segera memeriksa detak jantung bayi, melakukan USG, dan memantau kontraksi.
Menit demi menit terasa seperti berjam-jam.
Aku berbaring sambil menggenggam seprai.
Dalam pikiranku hanya ada satu doa.
Tolong selamatkan anakku.
Sekitar empat puluh menit kemudian, dokter akhirnya tersenyum.
“Detak jantung bayi normal. Plasenta juga tidak menunjukkan tanda pelepasan. Tetapi benturan tadi cukup keras. Ibu harus dirawat dan dipantau setidaknya dua puluh empat jam.”
Aku menutup wajah.
Tangisku pecah.
Bukan karena sedih.
Karena lega.
Anakku selamat.
Paman Surya berdiri di samping tempat tidur. Matanya memerah.
“Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, Paman tidak akan pernah bisa memaafkan diri sendiri.”
Aku menggeleng.
“Paman tidak salah.”
Dia menarik napas panjang.
“Kirana, sampai kapan kamu mau menyembunyikan semuanya?”
Aku tahu apa yang dia maksud.
Selama hampir tiga tahun menikah dengan Adrian, aku meminta seluruh keluarga Mahardika merahasiakan identitasku.
Nama lengkapku sebenarnya Kirana Mahardika.
Ibuku, Ratih Mahardika, adalah adik Paman Surya.
Setelah kedua orang tuaku meninggal dalam kecelakaan ketika aku masih kuliah, sebagian saham keluarga diwariskan kepadaku. Tetapi aku tidak pernah tertarik menjalankan bisnis keluarga. Aku memilih hidup sederhana dan bekerja sebagai ilustrator independen.
Ketika bertemu Adrian, aku memperkenalkan diri hanya sebagai Kirana.
Aku tidak pernah menyebut nama keluargaku.
Aku ingin dicintai tanpa bayang-bayang kekayaan Mahardika.
Ironisnya, justru keputusan itu memperlihatkan siapa Adrian sebenarnya.
Pintu kamar terbuka.
Seorang petugas keamanan masuk.
“Pak Direktur, polisi sudah tiba. Rekaman CCTV juga sudah diamankan.”
Aku langsung menoleh.
“Polisi?”
Paman Surya mengangguk.
“Ini bukan pertengkaran keluarga biasa, Kirana. Kamu sedang hamil tujuh bulan dan seseorang sengaja menendangmu.”
Aku diam.
Beberapa saat kemudian, terdengar keributan dari luar.
Suara Siska terdengar paling keras.
“Saya tidak sengaja! Dia yang kehilangan keseimbangan!”
Paman Surya mengambil tablet dari staf keamanan.
“Kalau begitu, biarkan rekaman yang bicara.”
Dari layar terlihat jelas seluruh kejadian.
Siska maju.
Menepis tanganku.
Kemudian mengangkat kaki dan menendang lututku.
Yang lebih menyakitkan adalah bagian setelahnya.
Adrian terlihat berdiri beberapa meter dariku.
Diam.
Tidak menolong.
Aku memalingkan wajah.
Ternyata melihatnya untuk kedua kali terasa lebih menyakitkan.
Tak lama kemudian, Adrian masuk setelah mendapat izin.
Wajahnya sudah berbeda.
Tidak ada lagi kesombongan.
“Kirana.”
Aku menatap jendela.
“Kita perlu bicara.”
“Bicara saja.”

“Aku tidak tahu kamu keluarga Mahardika.”
Aku perlahan menoleh.
Itulah kalimat pertamanya.
Bukan permintaan maaf.
Bukan pertanyaan mengenai anak kami.
Melainkan tentang keluargaku.
Sesuatu di dalam diriku justru menjadi tenang.
“Kalau kamu tahu sejak awal, apa yang akan berubah?”
Adrian terdiam.
Aku tersenyum pahit.
“Kamu akan lebih setia?”
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
“Aku hanya merasa dibohongi.”
Aku hampir tertawa.
“Dan selama berbulan-bulan tidur dengan perempuan lain bukan kebohongan?”
Wajah Adrian menegang.
“Hubunganku dengan Siska tidak sesederhana yang kamu pikirkan.”
“Benarkah?”
Aku mengambil ponselku.
“Tiga malam lalu kamu mengatakan sedang di Surabaya. Ternyata kamu bersamanya di Jakarta. Bulan lalu kamu bilang menemui investor di Singapura. Siska mengunggah foto dari hotel yang sama.”
Adrian terkejut.
“Kamu tahu?”
“Aku curiga.”
Aku menatapnya lurus.
“Tapi aku masih berharap aku salah.”
Untuk pertama kalinya, Adrian tidak bisa menjawab.
Paman Surya yang berdiri di dekat pintu akhirnya berbicara.
“Keluar.”
“Pak Surya, ini urusan rumah tangga kami.”
“Dan rumah sakit ini urusan saya.”
Adrian mengepalkan tangan.
Namun dia pergi.
Keesokan paginya, kondisiku dinyatakan stabil.
Siska dibawa untuk dimintai keterangan. Rekaman CCTV membuatnya sulit menyangkal apa yang terjadi.
Kupikir semuanya sudah cukup buruk.
Ternyata belum.
Paman Surya datang membawa sebuah map.
“Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”
Dia meletakkannya di meja.
Aku membukanya.
Di dalamnya terdapat beberapa dokumen transaksi perusahaan.
Nama perusahaan Adrian tercetak jelas.
“Apa ini?”
“Enam bulan terakhir, perusahaan Adrian mengajukan kerja sama pembangunan kompleks kesehatan baru milik Mahardika Group.”
Aku terdiam.
Paman Surya melanjutkan.
“Nilainya lebih dari dua triliun rupiah.”
Darahku terasa dingin.
“Dia tahu Mahardika Group?”
“Tentu. Tapi dia tidak tahu hubunganmu dengan kami.”
Paman Surya menunjuk satu dokumen.
“Dan ada hal lain. Tim audit menemukan beberapa data keuangan perusahaan Adrian tidak sesuai dengan laporan yang mereka berikan kepada kami.”
Aku membaca angka-angka itu.
Utang.
Pinjaman.
Proyek tertunda.
Arus kas negatif.
Perusahaan besar yang selama ini membuat Adrian dikenal sebagai miliarder ternyata sedang menghadapi masalah serius.
“Jadi dia membutuhkan proyek Mahardika?”
“Lebih dari membutuhkan. Kontrak itu mungkin satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan perusahaannya.”
Aku akhirnya mengerti sesuatu.
Paris.
Siska.
Semua pesta dan gaya hidup Adrian selama ini mungkin hanya lapisan tipis untuk menutupi perusahaan yang sedang goyah.
“Paman akan membatalkan kerja sama itu?”
Paman Surya menatapku.
“Keputusan akhirnya bukan milik Paman.”
Dia mendorong dokumen terakhir kepadaku.
Aku membukanya.
Nama pemegang saham pengendali Mahardika Healthcare Development tertulis di sana.
Kirana Mahardika.
Aku terdiam lama.
Setelah orang tuaku meninggal, aset warisan memang dikelola keluarga. Aku tahu memiliki saham, tetapi tidak pernah mencampuri operasional.
“Empat puluh satu persen saham perusahaan proyek itu milikmu,” kata Paman Surya.
“Artinya?”
“Kamu memiliki hak veto untuk kontrak strategis sebesar ini.”
Aku menatap tanda tanganku sendiri pada dokumen lama.
Tiba-tiba semuanya terasa seperti ironi yang kejam.
Pria yang mengkhianatiku ternyata sedang menunggu keputusan bisnis dari perempuan yang selama ini dianggapnya tidak memiliki apa-apa.
Siang itu Adrian datang lagi.
Kali ini dia membawa bunga.
Aku bahkan tidak melihatnya.
“Kirana, aku minta maaf.”
“Apa yang membuatmu minta maaf?”
Dia terdiam.
“Karena berselingkuh? Karena membiarkan Siska menyerangku? Atau karena baru tahu siapa keluargaku?”
“Kirana, jangan seperti ini.”
Aku menatapnya.
“Seperti apa?”
“Kita akan punya anak.”
“Seharusnya kamu mengingatnya kemarin.”
Adrian menarik kursi.
“Aku mengakui aku salah. Hubunganku dengan Siska sudah berakhir.”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Cepat sekali.”
“Aku sadar siapa yang penting bagiku.”
Aku hampir mempercayainya.
Hampir.
Sampai ponsel Adrian yang diletakkan di meja bergetar.
Sebuah pesan muncul di layar.
Dari CFO perusahaannya.
Pak, Mahardika menunda penandatanganan kontrak. Kalau proyek ini gagal, bank akan menghentikan fasilitas kredit.
Aku menatap layar itu.
Kemudian menatap Adrian.
Wajahnya seketika pucat.
Sekarang aku memahami semuanya.
“Kamu datang bukan untuk aku.”
“Kirana…”
“Kamu datang untuk kontrak itu.”
“Dengarkan dulu.”
Aku menekan tombol panggil perawat.
“Keluar.”
Adrian panik.
“Aku mencintaimu.”
Aku menatapnya tanpa air mata.
“Kalau kemarin Paman Surya tidak muncul, apakah hari ini kamu masih akan mengatakan itu?”
Adrian tidak mampu menjawab.
Itulah jawaban yang kubutuhkan.
Dua minggu kemudian, aku mengajukan gugatan cerai.
Aku juga memberikan seluruh rekaman dan bukti perselingkuhan kepada pengacaraku.
Siska akhirnya meminta maaf melalui kuasa hukumnya, tetapi proses hukum atas tindakannya tetap berjalan.
Sementara itu, Mahardika Group secara resmi menghentikan negosiasi dengan perusahaan Adrian.
Bukan karena balas dendam.
Tim audit menemukan risiko finansial dan ketidaksesuaian data yang terlalu besar untuk diabaikan.
Tanpa kontrak tersebut, kondisi perusahaan Adrian memburuk.
Beberapa proyek dijual. Investor mulai mundur. Media yang sebelumnya menyebutnya miliarder muda sukses mulai mempertanyakan kesehatan bisnisnya.
Aku tidak merayakan kehancurannya.
Aku justru merasa sedih.
Karena aku pernah benar-benar mencintai pria itu.
Tiga bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi laki-laki.
Aku menamainya Arka.
Hari ketika Arka lahir, Paman Surya berdiri di luar ruang bersalin sambil menangis seperti anak kecil.
Namun kejutan terbesar datang beberapa hari setelahnya.
Pengacaraku membawa surat dari Adrian.
Aku mengira isinya permintaan untuk bertemu Arka.
Ternyata bukan.
Adrian menulis bahwa dia akhirnya mengetahui satu rahasia terakhir tentang keluarga Mahardika.
Sebelum meninggal, ayahku pernah bertemu dengannya.
Aku langsung meminta Paman Surya menjelaskan.
Wajah pamanku berubah.
“Paman memang tidak pernah menceritakannya.”
“Tentang apa?”
“Beberapa minggu sebelum pernikahanmu, ayahmu sempat menyelidiki Adrian.”
Aku membeku.
“Tapi Ayah sudah meninggal sebelum aku menikah.”
“Benar. Penyelidikan itu dilakukan ketika kalian baru bertunangan.”
Paman Surya membuka lemari dan mengambil sebuah amplop tua.
Di dalamnya ada surat tulisan tangan ayahku.
Tanganku gemetar saat membacanya.
Ayah menulis bahwa dia pernah menemui Adrian secara diam-diam dan mengujinya.
Dia memperkenalkan diri sebagai pengusaha biasa yang ingin menawarkan sejumlah uang agar Adrian meninggalkanku.
Adrian menolak.
Saat itu, Ayah menganggapnya sebagai bukti bahwa Adrian benar-benar mencintaiku.
Tetapi pada bagian terakhir surat, ada satu kalimat yang membuat dadaku sesak.
Manusia tidak selalu berubah karena uang. Kadang uang hanya membuka bagian dirinya yang selama ini belum punya kesempatan untuk muncul.
Aku memandangi Arka yang tertidur dalam pelukanku.
Barulah aku memahami mengapa Ayah tetap membiarkanku memilih Adrian.
Ayah tidak sedang mengatakan bahwa Adrian pasti akan menjadi lelaki buruk.
Dia hanya tahu bahwa karakter seseorang tidak pernah selesai diuji dalam satu hari.
Beberapa bulan kemudian, untuk pertama kalinya aku menghadiri rapat pemegang saham Mahardika Group.
Aku datang bukan sebagai keponakan direktur utama.
Bukan sebagai mantan istri seorang miliarder.
Aku datang menggunakan namaku sendiri.
Kirana Mahardika.
Di akhir rapat, Paman Surya bertanya apakah aku menyesal pernah menyembunyikan identitasku.
Aku menatap kota Jakarta dari balik jendela tinggi ruang rapat.
“Tidak.”
“Kenapa?”
Aku tersenyum kecil.
“Karena kalau Adrian tahu siapa aku sejak awal, mungkin aku akan menghabiskan hidup bersama seorang pria yang pandai berpura-pura.”
Aku memandang Arka yang sedang digendong pengasuh di luar ruangan.
“Kehilangan pernikahan itu menyakitkan.”
Aku menarik napas panjang.
“Tapi jauh lebih menyakitkan kalau aku kehilangan seluruh hidupku untuk orang yang salah.”
Paman Surya tersenyum.
Aku akhirnya mengerti bahwa kekayaan terbesar yang diwariskan keluargaku bukan rumah sakit, saham, atau nama Mahardika.
Melainkan kesempatan untuk memilih hidupku sendiri.
Dan hari ketika aku jatuh di lantai rumah sakit sambil memeluk perutku, aku sempat mengira seluruh kehidupanku sedang runtuh.
Ternyata tidak.
Yang runtuh hari itu hanyalah kebohongan.
Sedangkan hidupku yang sebenarnya baru saja dimulai.
