Saya tidak tahu berapa lama saya duduk di lorong rumah sakit malam itu.
Jam dinding di atas pintu IGD bergerak lambat, seolah setiap menit sengaja dibuat lebih panjang untuk menguji kesabaran saya.
Hujan masih terdengar menghantam kaca jendela. Sesekali petir menyambar, membuat lampu lorong berkedip. Setiap kali pintu ruang bersalin terbuka, saya langsung berdiri, berharap seseorang membawa kabar tentang Maya.
Namun yang keluar selalu perawat yang berbeda.
Sekitar satu jam kemudian, seorang dokter perempuan berjalan menghampiri saya.
“Pak Joko?”
Saya langsung berdiri.
“Iya, Dok. Bagaimana Maya?”
Dokter itu menarik napas sebelum menjawab.
“Pasien mengalami perdarahan dan kondisinya cukup lemah. Tekanan darahnya turun. Kami harus melakukan tindakan secepat mungkin.”
Kaki saya terasa dingin.
“Bayinya?”
“Detak jantung bayi masih ada, tapi mulai melemah.”
Saya menelan ludah.
“Selamatkan mereka, Dok. Tolong.”
Dokter mengangguk.
“Kami akan berusaha semaksimal mungkin.”
Dia baru hendak berbalik ketika saya spontan memanggilnya.
“Dok.”
Dokter itu menoleh.
“Kalau harus memilih…”
Suara saya tiba-tiba tercekat.
Saya teringat sesuatu yang bahkan tidak ingin saya ingat.
Sepuluh tahun lalu, ketika banjir menelan rumah kami, saya juga pernah berada dalam situasi di mana saya merasa harus memilih siapa yang lebih dulu saya selamatkan.
Istri saya atau Sari.
Saya memilih menarik tangan istri saya lebih dulu.
Namun arus terlalu kuat.
Pada akhirnya, saya kehilangan keduanya.
Saya menatap dokter dengan mata panas.
“Jangan suruh saya memilih. Tolong selamatkan dua-duanya.”
Dokter itu terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan.
“Kami mengerti, Pak.”
Pintu kembali tertutup.
Saya duduk.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, saya berdoa dengan sungguh-sungguh.
Bukan doa pendek yang biasa saya ucapkan sebelum tidur.
Saya benar-benar menundukkan kepala, menangkupkan tangan, dan memohon seperti seorang ayah yang takut kehilangan anaknya.
“Ya Tuhan… saya sudah kehilangan keluarga saya sekali. Jangan biarkan anak itu kehilangan ibunya malam ini.”
Tidak lama kemudian, petugas administrasi menghampiri saya membawa beberapa lembar dokumen.
“Pak Joko, ada biaya tindakan dan obat yang belum tertanggung. Perkiraan sementara sekitar tiga juta delapan ratus ribu rupiah.”
Saya melihat angka di kertas.
Hampir seluruh tabungan saya.
Anehnya, tangan saya tidak gemetar ketika memasukkan PIN kartu ATM.
Saat struk pembayaran keluar, saldo yang tersisa bahkan tidak sampai cukup untuk mengganti seluruh genteng rumah saya yang bocor.
Tetapi di tengah semua itu, hati saya justru terasa ringan.
Saya kembali duduk.
Pukul tiga lewat dua belas menit dini hari, sebuah suara tangisan terdengar dari balik pintu ruang bersalin.
Tangisan bayi.
Saya membeku.
Tangisan itu tidak terlalu keras, tetapi bagi saya, suaranya terasa lebih besar daripada suara petir di luar sana.
Pintu terbuka.
Seorang perawat keluar dengan senyum lelah.
“Pak Joko?”
Saya bangkit begitu cepat sampai hampir tersandung.
“Bagaimana?”
“Bayinya lahir. Perempuan.”
Mata saya langsung basah.
“Mayanya?”
Perawat itu masih tersenyum.
“Untuk sementara stabil. Perdarahannya sudah berhasil dikendalikan. Tapi dia perlu pengawasan ketat karena kondisinya sangat lemah.”
Tanpa sadar saya menutup wajah dengan kedua tangan.
Air mata mengalir begitu saja.
Saya bukan sedang menangisi seseorang yang benar-benar saya kenal.
Namun rasanya seperti mendengar bahwa putri saya sendiri baru saja lolos dari maut.
Beberapa saat kemudian, saya diizinkan melihat Maya dari luar ruangan.
Wajahnya pucat. Matanya tertutup. Selang infus terpasang di tangannya.
Di dekatnya, seorang bayi mungil dibungkus kain rumah sakit berwarna merah muda.
Saya berdiri di balik kaca.
Tubuh saya bergetar.
Sari.
Entah mengapa, saya membayangkan putri saya sedang berdiri di samping saya.
Kalau Sari masih hidup, mungkin dia juga sudah menikah.
Mungkin saya juga sudah menjadi kakek.
Mungkin rumah saya tidak akan sesunyi sekarang.
Pikiran itu membuat air mata saya kembali jatuh.
Pagi menjelang ketika Maya akhirnya sadar.
Saya sedang tertidur setengah duduk ketika seorang perawat membangunkan saya.
“Pak, pasien memanggil Bapak.”
Saya masuk ke kamarnya.
Maya menoleh perlahan.
Matanya sembap, wajahnya masih lemah.
“Pak Joko…”
Saya mendekat.
“Bagaimana perasaanmu?”
Dia tidak langsung menjawab.
Matanya justru melihat bayi kecil di samping tempat tidurnya.
Kemudian air matanya mengalir.
“Dia selamat?”
Saya tersenyum.
“Selamat. Kamu juga selamat.”
Maya menangis.
Tangannya menutup mulut.
“Terima kasih…”
“Tidak usah berterima kasih.”
“Pak sudah menyelamatkan saya.”

“Dokter dan perawat yang menyelamatkan kamu.”
Dia menggeleng.
“Kalau Bapak tidak berhenti malam itu, saya mungkin sudah…”
“Jangan bicara begitu.”
Maya menggigit bibirnya.
Setelah beberapa detik, dia bertanya pelan, “Biaya rumah sakitnya bagaimana?”
Saya mencoba tersenyum santai.
“Sudah beres.”
“Bapak bayar?”
Saya tidak menjawab.
Maya langsung menangis lebih keras.
“Kenapa, Pak?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi membuat saya terdiam lama.
Akhirnya saya duduk di kursi dekat tempat tidurnya.
“Saya punya anak perempuan.”
Maya menatap saya.
“Namanya Sari.”
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, saya menceritakan semuanya kepada orang lain.
Tentang banjir sepuluh tahun lalu.
Tentang bagaimana saya kehilangan istri dan anak saya.
Tentang rasa bersalah yang tidak pernah pergi.
Tentang rumah yang sejak saat itu hanya menjadi tempat saya tidur, bukan tempat untuk pulang.
Maya mendengarkan tanpa menyela.
“Sari kalau masih hidup mungkin seusiamu,” kata saya. “Jadi ketika saya lihat kamu malam itu… saya seperti melihat dia.”
Maya menangis diam-diam.
Kemudian tangannya meraih tangan saya.
“Kalau begitu, boleh saya menganggap malam itu Tuhan meminjamkan saya seorang ayah?”
Saya tidak bisa menjawab.
Saya hanya menundukkan kepala.
Hari itu juga, saya mengetahui bahwa Maya sama sekali tidak memiliki siapa-siapa yang mau datang menjemputnya.
Nomor ibunya tidak aktif.
Ayahnya menolak berbicara ketika rumah sakit mencoba menghubungi keluarga.
Sedangkan laki-laki yang menghamilinya bahkan tidak diketahui keberadaannya.
Dua hari saya bolak-balik rumah sakit.
Saya mengantarkan makanan, membelikan popok, kain bedong, dan beberapa kebutuhan bayi dari pasar murah.
Pada hari ketiga, saya baru sadar saya belum menanyakan satu hal.
“Bayinya sudah diberi nama?”
Maya tersenyum sambil memandang putrinya.
“Sudah.”
“Siapa?”
“Sari.”
Saya tertegun.
“Maya…”
“Saya tahu mungkin Bapak keberatan.”
Saya menatap bayi kecil yang sedang tidur.
“Kenapa Sari?”
“Karena saya ingin anak saya tumbuh dengan membawa nama seseorang yang membuat Bapak tetap bertahan hidup sampai akhirnya menemukan saya.”
Dada saya serasa dipukul.
“Maya, nama itu…”
“Saya tidak ingin menggantikan putri Bapak,” katanya cepat. “Saya tahu tidak ada yang bisa menggantikan dia. Tapi kalau Bapak mengizinkan, saya ingin nama Sari terus hidup dalam sesuatu yang baik.”
Saya mengusap wajah.
Air mata sudah menggenang di mata saya.
“Namanya bagus,” kata saya akhirnya.
Maya tersenyum.
Lima hari kemudian, kondisinya cukup stabil untuk pulang.
Masalah baru muncul.
Dia tidak punya tempat tinggal.
Rumah singgah ibu dan anak yang direkomendasikan rumah sakit sedang penuh. Klinik tempat yang semula dia tuju juga tidak menyediakan tempat tinggal jangka panjang.
Saya sempat berpikir semalaman.
Rumah saya kecil.
Catnya mengelupas.
Atapnya bocor.
Sejak istri dan Sari meninggal, saya hampir tidak pernah membenahinya.
Namun ada satu kamar kosong.
Kamar Sari.
Saya tidak pernah membukanya selama bertahun-tahun.
Semua masih seperti dulu.
Buku sekolah.
Boneka.
Foto keluarga.
Bahkan selimut kesayangannya masih tersimpan di lemari.
Saya berdiri di depan kamar itu pada malam sebelum Maya keluar dari rumah sakit.
Tangan saya lama berada di gagang pintu.
Akhirnya saya membukanya.
Debu tebal memenuhi ruangan.
Saya menyalakan lampu.
Di dinding masih tergantung foto Sari saat ulang tahunnya yang ketujuh belas.
Saya duduk di tepi ranjang.
“Maaf, Nak,” bisik saya.
Air mata jatuh ke tangan saya.
“Ayah mungkin harus membuka kamar ini lagi.”
Angin malam masuk dari celah jendela.
Entah mengapa, untuk pertama kalinya, saya tidak merasa sedang mengkhianati kenangan.
Saya justru merasa seolah seseorang sedang memberi izin.
Keesokan harinya saya datang ke rumah sakit.
“Maya.”
“Iya, Pak?”
“Kalau kamu tidak keberatan… tinggal di rumah saya dulu.”
Maya membelalak.
“Pak, saya tidak bisa terus merepotkan Bapak.”
“Saya punya kamar kosong.”
“Tapi…”
“Sampai kamu bisa berdiri sendiri. Setelah itu terserah kamu.”
Maya menatap bayi di gendongannya.
Air matanya kembali jatuh.
“Kenapa Bapak begitu baik kepada saya?”
Saya tersenyum tipis.
“Mungkin karena selama sepuluh tahun saya terlalu sibuk hidup bersama orang-orang yang sudah tidak ada sampai lupa bahwa masih ada orang hidup yang membutuhkan saya.”
Maya tinggal di rumah saya.
Aneh rasanya mendengar tangisan bayi di rumah yang selama bertahun-tahun hanya berisi bunyi televisi dan tetesan air dari atap bocor.
Pada awalnya, saya sering terbangun malam-malam karena bayi Sari menangis.
Saya mengomel.
Namun beberapa menit kemudian saya sudah berdiri di depan kamar mereka menawarkan bantuan.
Pelan-pelan rumah itu berubah.
Ada pakaian bayi dijemur di belakang.
Ada botol susu di meja.
Ada suara Maya bersenandung ketika menidurkan anaknya.
Ada aroma bubur ayam pada pagi hari.
Saya mulai pulang lebih cepat.
Bukan karena capek.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang menunggu.
Seminggu setelah malam badai itu, sesuatu terjadi.
Pagi itu Maya pergi ke puskesmas untuk pemeriksaan bayi.
Saya sedang bersiap bekerja ketika seorang kurir berhenti di depan rumah.
“Pak Joko?”
“Iya.”
“Ada surat.”
Saya bingung.
Tidak banyak orang yang tahu alamat saya.
Amplopnya berwarna cokelat, cukup tebal.
Tidak ada nama pengirim.
Hanya tertulis nama saya dengan tulisan tangan.
Saya membawanya masuk.
Saat amplop dibuka, sebuah surat dan beberapa fotokopi dokumen jatuh ke meja.
Saya mulai membaca.
“Pak Joko, mungkin setelah membaca surat ini Bapak akan marah kepada saya. Saya minta maaf karena tidak berani mengatakan semuanya sejak awal.”
Saya mengernyit.
Tulisan itu milik Maya.
Saya membaca lebih cepat.
“Saya memang diusir keluarga. Saya memang ditinggalkan ayah dari anak saya. Semua itu benar. Tetapi ada satu hal yang saya sembunyikan.”
Jantung saya mulai berdegup.
“Sebelum meninggal dua bulan lalu, ibu saya memberikan sebuah kotak berisi dokumen lama. Di dalamnya ada beberapa surat, foto, dan catatan tentang keluarga kami.”
Saya membalik halaman.
Sebuah foto lama terjatuh.
Tangan saya langsung gemetar.
Foto itu menampilkan seorang perempuan muda.
Wajahnya sangat saya kenal.
Istri saya.
Di sampingnya berdiri Sari.
Foto tersebut diambil beberapa bulan sebelum banjir merenggut mereka.
Namun yang membuat napas saya berhenti adalah satu orang lain yang berdiri di sebelah Sari.
Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluhan.
Di belakang foto tertulis sebuah nama.
Rina.
Saya kembali membaca surat.
“Ibu saya bernama Rina. Beliau adalah sahabat dekat putri Bapak, Sari.”
Saya berdiri dari kursi.
Kepala saya mulai berputar.
“Malam sebelum banjir sepuluh tahun lalu, Sari datang menemui ibu saya. Dia menitipkan sebuah tas kecil karena mengatakan rumah di kawasan Bapak sering kebanjiran.”
Tangan saya bergetar semakin hebat.
“Di dalam tas itu terdapat beberapa foto, buku harian, dan satu surat untuk Bapak. Ibu saya menyimpannya karena setelah banjir terjadi, beliau mendengar bahwa Sari dan ibunya meninggal. Beliau pernah mencari Bapak, tetapi alamat Bapak sudah berubah dan nomor telepon yang dimiliki tidak aktif.”
Saya nyaris tidak mampu berdiri.
Saya membuka dokumen lain.
Di sana ada salinan surat lama.
Tulisan tangan Sari.
Saya mengenal bentuk hurufnya.
“Ayah, kalau suatu hari Ayah menemukan ini, jangan terus menyalahkan diri sendiri. Aku tahu Ayah selalu merasa harus melindungi kami. Tapi Ibu dan aku tidak pernah menyalahkan Ayah atas apa pun.”
Pandangan saya langsung kabur.
Saya membaca kalimat berikutnya dengan napas tersengal.
“Kalau hidup memberi Ayah kesempatan untuk menolong orang lain, tolong jangan takut mencintai mereka hanya karena Ayah takut kehilangan lagi.”
Surat itu lepas dari tangan saya.
Kaki saya tidak sanggup lagi menopang tubuh.
Saya jatuh berlutut di lantai ruang tamu.
Tangis yang selama sepuluh tahun saya tahan akhirnya pecah.
Saya menunduk sampai dahi menyentuh lantai.
“Sari…”
Nama itu keluar dari mulut saya berkali-kali.
Saya menangis seperti anak kecil.
Bukan karena kesedihan saja.
Tetapi karena selama sepuluh tahun saya hidup dengan keyakinan bahwa anak saya meninggal sambil menyalahkan saya.
Ternyata tidak.
Dia bahkan meninggalkan pesan agar saya tetap berani menyayangi manusia lain.
Dan sepuluh tahun kemudian, di tengah hujan yang hampir sama, saya menemukan seorang perempuan yang merupakan putri sahabatnya.
Saya tidak tahu apakah itu kebetulan.
Saya tidak ingin memaksakan penjelasan.
Namun hari itu, rasanya seolah lingkaran yang terbuka selama sepuluh tahun akhirnya tertutup.
Pintu depan tiba-tiba terbuka.
Maya masuk sambil menggendong bayinya.
Dia terkejut melihat saya bersujud di lantai dengan surat berserakan.
“Pak Joko!”
Dia meletakkan tasnya dan berlari mendekat.
Saya mengangkat wajah.
Mata saya pasti merah dan bengkak.
“Kamu tahu?”
Maya berhenti.
Air mata langsung memenuhi matanya.
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Setelah melihat nama lengkap Bapak di administrasi rumah sakit.”
Saya menatapnya.
“Kenapa tidak langsung bilang?”
“Karena saya takut Bapak berpikir saya sengaja mencari Bapak untuk meminta bantuan. Padahal malam itu saya benar-benar tidak tahu taksi siapa yang berhenti.”
Maya menangis.
“Saya baru yakin setelah melihat foto keluarga di rumah ini.”
Saya memeluk surat Sari ke dada.
Kemudian pandangan saya jatuh kepada bayi kecil di gendongan Maya.
Bayi Sari.
Saat itulah saya mengerti sesuatu.
Malam badai itu saya pikir saya sedang menyelamatkan seorang perempuan hamil tanpa identitas.
Ternyata bukan hanya Maya yang diselamatkan.
Saya juga.
Selama sepuluh tahun, saya hidup seperti orang yang selamat dari bencana, tetapi sebenarnya sebagian jiwa saya masih terkubur di malam banjir itu.
Maya dan bayi kecilnya tidak menggantikan keluarga saya.
Mereka tidak pernah bisa.
Namun mereka membuka pintu yang selama ini saya kunci sendiri.
Beberapa bulan kemudian, saya memperbaiki atap rumah sedikit demi sedikit.
Bukan dengan tabungan lama, karena uang itu sudah habis untuk rumah sakit.
Saya memperbaikinya dari hasil menarik taksi setiap hari.
Maya mulai bekerja di sebuah toko perlengkapan bayi tak jauh dari rumah sambil mengikuti kursus administrasi secara daring.
Saya membantu menjaga bayi Sari ketika sedang tidak bekerja.
Tetangga mulai memanggil saya “Kakek Joko”.
Awalnya saya malu.
Lama-lama saya justru tersenyum setiap kali mendengarnya.
Pada suatu sore setelah hujan reda, saya duduk di teras sambil menggendong bayi Sari.
Maya membawa dua cangkir teh.
Dia duduk di samping saya.
“Pak.”
“Hm?”
“Bapak masih takut kalau hujan?”
Saya menatap jalan yang basah.
Dulu, suara hujan selalu terasa seperti suara kehilangan.
Sekarang dari dalam rumah terdengar pakaian bayi berputar di mesin cuci, aroma nasi hangat keluar dari dapur, dan seorang bayi kecil sedang tertidur di dada saya.
Saya tersenyum.
“Masih.”
Maya menatap saya.
“Tapi sekarang saya tahu hujan tidak selalu datang untuk mengambil.”
Saya memandang bayi Sari.
“Kadang-kadang, hujan juga membawa seseorang pulang.”
