Pagi itu, untuk pertama kalinya sejak kembali ke Indonesia, saya benar-benar mengerti satu hal.
Saya tidak sedang berada di rumah keluarga.
Saya sedang berada di tempat di mana istri saya disiksa, diancam, dan dibuat kehilangan harga dirinya sedikit demi sedikit.
Dan orang yang melakukan semua itu adalah darah daging saya sendiri.
Saya bangkit dari tempat tidur setelah memastikan Mas Danu sudah benar-benar pergi. Sinta berdiri di dekat lemari dengan kedua tangan gemetar. Dia mengambil keranjang pakaian kotor tanpa berani menatap saya.
“Sinta.”
Dia langsung berhenti.
Saya turun dari ranjang perlahan.
“Lihat aku.”
Sinta semakin menunduk.
Saya menahan diri untuk tidak mendekatinya terlalu cepat.
“Sinta, aku sudah dengar semuanya.”
Keranjang di tangannya jatuh ke lantai.
Wajahnya seketika pucat.
“Bimo…”
“Semuanya,” ulang saya.
Bibirnya bergetar.
“Aku dengar ancamannya. Aku dengar soal foto palsu itu. Aku juga dengar kamu minta supaya dia tidak memukulmu lagi.”
Sinta menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Tangis yang selama ini ditahannya akhirnya pecah.
“Maaf…”
Saya tertegun.
“Kenapa kamu yang minta maaf?”
Dia terisak begitu keras sampai tubuhnya membungkuk.
“Aku tidak bisa menjaga uangmu. Aku tidak bisa melawan mereka. Aku takut kamu pulang lalu percaya sama foto-foto itu. Aku takut kamu benci aku.”
Saya merasa dada saya seperti ditusuk.
Saya mendekat satu langkah.
Sinta refleks mundur.
Saya berhenti.
“Tidak apa-apa,” kata saya pelan. “Aku tidak akan menyentuhmu kalau kamu belum siap.”
Dia menatap saya untuk pertama kalinya sejak saya pulang.
Matanya merah.
Di sana ada ketakutan, tetapi kali ini juga ada sesuatu yang perlahan muncul kembali.
Kepercayaan.
Saya menunjukkan layar ponsel.
“Aku merekam semuanya.”
Sinta menatapnya dengan bingung.
“Mulai sekarang, kita tidak akan bertindak gegabah. Aku mau tahu semuanya. Uang yang aku kirim, pengobatanmu, siapa saja yang terlibat, dan apa yang mereka lakukan selama enam bulan ini.”
Sinta menelan ludah.
Lalu, dengan suara nyaris berbisik, dia mulai bercerita.
Semua bermula sekitar dua minggu setelah saya berangkat ke Riyadh.
Pada awalnya Ibu Ratna memperlakukannya dengan baik. Namun setelah kiriman uang pertama masuk, sikap ibu mulai berubah.
Setiap bulan saya mengirim hampir lima puluh juta rupiah untuk kebutuhan rumah, pengobatan Sinta, serta biaya lain jika diperlukan.
Tetapi Sinta hampir tidak pernah melihat uang itu.
Ketika meminta uang untuk kontrol ke dokter, Ibu Ratna selalu menjawab bahwa biaya rumah sedang banyak.
“Obat kamu masih ada, kan?” katanya.
Padahal obat Sinta sudah habis.
Ketika Sinta memaksa pergi ke rumah sakit, Mas Danu mengambil kartu identitas dan ponselnya.
“Tidak usah menghamburkan uang Bimo,” katanya.
Lambat laun, keadaannya semakin parah.
Mas Danu kehilangan banyak uang karena bisnis online yang ternyata gagal. Dia juga memiliki utang besar akibat judi daring.
Saya langsung menegang.
“Judi?”
Sinta mengangguk.
Menurutnya, sebagian besar uang yang saya kirim digunakan Mas Danu untuk menutup utang.
Sementara Ibu Ratna mulai membeli perhiasan, mengganti televisi, bahkan merenovasi kamar belakang.
Ketika Sinta mempertanyakan uang tersebut, tamparan pertama terjadi.
Pelakunya bukan Mas Danu.
Ibu saya sendiri.
Saya tidak bisa berkata-kata.
Sinta terus bercerita.
Sejak hari itu, dia diperlakukan seperti pembantu.
Bangun pukul empat pagi.
Mencuci pakaian.
Memasak.
Mengepel rumah.
Membersihkan halaman.
Kalau makanan terasa kurang asin, Mas Danu melempar piring.
Kalau Sinta terlambat membuka pintu, dia ditampar.

Bekas sundutan rokok di bahunya muncul saat Mas Danu mabuk dan Sinta menolak memberikan cincin kawinnya untuk dijual.
Saya hampir kehilangan kendali mendengarnya.
Namun, satu bagian justru membuat darah saya lebih dingin.
“Foto-foto itu dibuat dari foto lama kita,” kata Sinta.
“Apa maksudmu?”
“Mas Danu pernah pinjam ponselku. Katanya mau mencari nomor teknisi. Beberapa hari kemudian dia menunjukkan foto seolah-olah aku sedang berada di hotel dengan laki-laki lain.”
“Dan dia bilang akan mengirimnya kepadaku?”
Sinta mengangguk.
“Ibu juga bilang kamu pasti akan percaya keluarga sendiri daripada istri yang cuma membawa masalah.”
Kalimat itu membuat saya terdiam lama.
Siang harinya saya sengaja bersikap normal.
Saya bahkan membawa oleh-oleh untuk Ibu Ratna dan Mas Danu.
Ibu terlihat sangat senang ketika menerima tas bermerek yang saya beli di bandara.
“Anak Ibu memang paling perhatian,” katanya.
Saya tersenyum.
Padahal di saku saya, ponsel terus merekam.
Saya mulai menanyakan ke mana uang kiriman saya digunakan.
Ibu Ratna langsung menjawab dengan lancar.
“Ya buat rumah, biaya obat Sinta, dokter, makanan. Kamu tahu sendiri sekarang semua mahal.”
Saya mengangguk.
“Obatnya mahal, ya?”
“Wah, mahal sekali. Hampir tiap minggu kontrol.”
Dari dapur, tangan Sinta yang sedang memotong sayuran langsung berhenti.
Saya berpura-pura tidak melihat.
“Rumah sakit mana?”
Ibu terdiam sepersekian detik.
“Macam-macam. Kadang rumah sakit dekat sini, kadang klinik.”
Mas Danu cepat memotong pembicaraan.
“Ngapain sih baru pulang langsung ngomongin uang? Santai dulu, Bim.”
Saya tertawa kecil.
“Benar juga.”
Mereka sama sekali tidak sadar bahwa kebohongan mereka semakin banyak.
Sore harinya saya pergi dengan alasan bertemu teman lama.
Sebenarnya saya menemui bank.
Saya meminta rekening koran enam bulan terakhir.
Hasilnya membuat tangan saya dingin.
Setiap kali uang dari saya masuk, dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam hampir seluruhnya dipindahkan ke beberapa rekening.
Salah satu rekening atas nama Danu Prasetyo.
Ada pula transfer ke situs pembayaran digital dengan nominal puluhan juta.
Saya kemudian mendatangi rumah sakit tempat Sinta biasanya berobat.
Petugas administrasi memeriksa data.
“Kunjungan terakhir Ibu Sinta empat bulan lalu, Pak.”
Empat bulan.
Padahal Ibu mengatakan Sinta hampir setiap minggu berobat.
Dokter yang biasa menangani Sinta bahkan terlihat terkejut saat mengetahui kondisinya sekarang.
“Obatnya tidak boleh dihentikan mendadak,” katanya. “Kalau selama beberapa bulan tidak kontrol dan mengalami tekanan berat, kondisi fisiknya bisa turun drastis.”
Saya meminta salinan riwayat medis dan membawa Sinta ke sana malam berikutnya secara diam-diam.
Dokter menemukan anemia, malnutrisi, tekanan darah rendah, serta beberapa cedera yang konsisten dengan kekerasan berulang.
Beberapa luka bahkan harus difoto sebagai dokumentasi medis.
Saya menahan tangis ketika melihat Sinta duduk di ranjang pemeriksaan sambil memeluk dirinya sendiri.
Saat kami hendak pulang, dokter perempuan yang memeriksanya berkata kepada saya,
“Pak Bimo, yang dia butuhkan bukan hanya obat. Dia butuh merasa aman.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala saya.
Saya sadar, menangkap pelaku saja tidak cukup.
Saya harus mengeluarkan Sinta dari rumah itu.
Tetapi sebelum itu, saya ingin memastikan mereka tidak bisa memutarbalikkan keadaan.
Keesokan paginya saya menghubungi pengacara teman saya, Ardi.
Saya mengirim rekaman ancaman, rekening koran, dokumentasi medis, dan beberapa foto luka Sinta.
Ardi menyarankan kami membuat laporan resmi.
Namun saya meminta satu hari lagi.
Saya masih membutuhkan bukti terakhir.
Malamnya, saya sengaja berkata di meja makan bahwa kontrak kerja saya di Riyadh diperpanjang.
“Saya mungkin harus kembali minggu depan.”
Ibu Ratna tampak gagal menyembunyikan kegembiraannya.
Mas Danu bahkan tersenyum.
Sinta langsung pucat, tetapi saya menekan ujung meja dengan jari, kode kecil yang sudah kami sepakati sebelumnya.
Setelah makan, saya pura-pura masuk kamar dan menutup pintu.
Ponsel kedua yang saya pasang di rak ruang tengah merekam semuanya.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian, terdengar suara Ibu Ratna.
“Syukurlah dia pergi lagi.”
Mas Danu tertawa.
“Berarti bulan depan uang masuk lagi.”
“Jangan boros seperti kemarin.”
“Ibu juga beli gelang dua puluh juta.”
“Jangan kurang ajar.”
Mereka tertawa.
Kemudian Mas Danu berkata sesuatu yang membuat saya hampir keluar dari kamar.
“Kalau Sinta mulai macam-macam lagi, kita suruh saja dia pergi. Bilang ke Bimo dia kabur sama laki-laki lain.”
Ibu saya menjawab dengan suara tenang.
“Jangan sekarang. Kalau dia pergi, Bimo bisa curiga. Selama perempuan itu ada di sini, uang terus dikirim.”
Saya memejamkan mata.
Jadi Sinta bukan keluarga bagi mereka.
Dia hanyalah alasan untuk mempertahankan aliran uang.
Besok paginya saya mengirim seluruh rekaman kepada Ardi.
Laporan polisi dibuat.
Sinta juga memberikan kesaksian.
Namun sebelum aparat datang, terjadi sesuatu yang tidak saya rencanakan.
Mas Danu rupanya menemukan salah satu salinan dokumen rumah sakit di dalam tas Sinta.
Dia langsung mengamuk.
Saya sedang berada di halaman ketika mendengar suara barang pecah.
Saya berlari masuk.
Mas Danu berdiri di ruang makan sambil mencengkeram rambut Sinta.
“Jadi sekarang kamu mulai berani mengadu?”
“Lepaskan dia!”
Saya menerjang masuk.
Mas Danu terkejut.
Saya menarik tangannya dari kepala Sinta dan berdiri di depan istri saya.
Wajah kakak saya berubah.
“Bim, dengar dulu. Perempuan ini bohong.”
“Cukup.”
Ibu Ratna keluar dari kamar.
“Ada apa?”
Saya meletakkan ponsel di meja dan memutar rekaman suara pagi pertama saya pulang.
Suara Mas Danu memenuhi ruangan.
Tentang foto palsu.
Tentang ancaman.
Tentang pukulan.
Wajah mereka seketika kehilangan warna.
Mas Danu mencoba merebut ponsel, tetapi saya menahannya.
“Masih mau bilang Sinta bohong?”
Ibu Ratna langsung menangis.
“Bimo, Ibu bisa jelaskan.”
“Jelaskan apa?”
“Ibu cuma mau mendidik dia. Dia terlalu manja.”
Saya menatap perempuan yang melahirkan saya itu dengan perasaan asing.
“Memukul orang sakit itu mendidik?”
Ibu terdiam.
“Memakai uang pengobatannya buat beli emas juga mendidik?”
Dia menggenggam gelang di tangannya.
Mas Danu tiba-tiba berteriak.
“Uang itu juga untuk keluarga! Memangnya salah kalau keluarga sendiri menikmati hasil kerja kamu?”
Saya menatapnya.
“Kalau minta, mungkin aku kasih. Tapi kalian mencuri.”
“Kamu pilih istri daripada darah daging sendiri?”
Saya tertawa kecil, tetapi mata saya panas.
“Darah daging tidak memberi hak untuk menyiksa orang.”
Terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah.
Beberapa petugas masuk bersama Ardi.
Mas Danu panik.
Dia mencoba berlari ke pintu belakang, tetapi dua petugas sudah menunggunya.
Ibu Ratna jatuh terduduk.
“Bimo… kamu laporkan ibu kandungmu sendiri?”
Saya menatapnya cukup lama.
“Tidak, Bu.”
Wajahnya sedikit berubah.
“Sinta yang melapor. Saya mendampinginya sebagai suami.”
Untuk pertama kalinya, saya melihat Sinta berdiri tegak.
Masih gemetar.
Masih menangis.
Tetapi dia berdiri.
Dan kali ini, dia berani menatap mereka.
Beberapa bulan kemudian, proses hukum berjalan.
Mas Danu terbukti melakukan kekerasan dan pemerasan. Penyelidikan atas aliran dana juga membuka utang judi daring yang jumlahnya jauh lebih besar daripada dugaan saya.
Ibu Ratna tidak dipenjara selama kakak saya, tetapi keterlibatannya dalam kekerasan dan penyalahgunaan uang tetap membuatnya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Saya menjual rumah besar peninggalan keluarga itu.
Banyak kerabat marah.
Mereka bilang saya tidak menghormati kenangan orang tua.
Namun bagi saya, rumah itu sudah kehilangan makna sejak menjadi tempat jeritan istri saya disembunyikan di balik dinding.
Saya membeli rumah kecil di pinggiran Bogor.
Tidak mewah.
Ada halaman kecil dengan pohon mangga dan teras yang selalu terkena matahari pagi.
Sinta menjalani terapi.
Pada bulan-bulan pertama, dia masih terkejut setiap kali mendengar pintu dibanting.
Dia masih menyimpan makanan di bawah bantal karena takut besok tidak diberi makan.
Kadang ketika saya mengangkat tangan hanya untuk mengambil barang di rak, dia refleks menutup kepala.
Setiap kali itu terjadi, saya menurunkan tangan dan menunggu.
Saya tidak pernah memaksanya.
Sampai suatu malam, hampir setahun setelah saya pulang dari Riyadh, kami duduk di teras sambil mendengar hujan.
Sinta tiba-tiba menyandarkan kepalanya ke bahu saya.
Saya membeku.
Bukan karena takut.
Saya takut bergerak dan merusak momen itu.
Dia tersenyum tipis.
“Bimo.”
“Ya?”
“Aku sudah tidak takut lagi kalau kamu menyentuhku.”
Saya tidak mampu menjawab.
Air mata saya jatuh begitu saja.
Sinta menggenggam tangan saya lalu meletakkannya di atas tangannya.
Saat itu saya akhirnya mengerti bahwa pulang bukan sekadar kembali ke sebuah alamat.
Pulang adalah ketika seseorang merasa aman berada di dekat kita.
Beberapa minggu kemudian, sepucuk surat datang dari lembaga pemasyarakatan.
Pengirimnya Mas Danu.
Saya hampir membuangnya.
Namun Sinta meminta saya membukanya.
Di bagian akhir surat, Danu menulis satu kalimat yang membuat kami terdiam.
Dia mengaku bahwa enam bulan sebelum saya pergi ke Arab Saudi, Ibu Ratna sebenarnya sudah mengetahui utang judinya.
Bahkan alasan ibu begitu mendesak saya menerima pekerjaan di luar negeri bukan semata karena bangga pada karier saya.
Mereka sudah merencanakan menggunakan kiriman uang saya sejak awal.
Sinta membaca kalimat itu berkali-kali.
Saya merasa marah.
Namun kemudian Sinta melipat surat tersebut dan meletakkannya di meja.
“Sudahlah.”
Saya menatapnya.
“Kamu tidak marah?”
Dia tersenyum tipis.
“Marah. Tapi aku tidak mau hidupku terus dikendalikan oleh apa yang mereka lakukan.”
Lalu dia menggenggam tangan saya.
“Satu hal yang ingin aku ingat cuma ini. Dulu aku takut kehilangan kamu karena mereka membuatku merasa tidak akan ada yang percaya kepadaku.”
Dia menarik napas.
“Ternyata yang paling menyelamatkanku bukan rekaman, bukan polisi, bukan dokter.”
“Apa?”
“Kamu percaya dulu sebelum meminta aku membuktikan semuanya.”
Saya terdiam.
Saat itu saya sadar, mungkin itulah luka paling dalam yang ditinggalkan kekerasan.
Bukan memar.
Bukan bekas luka.
Melainkan keyakinan bahwa suara kita tidak akan dipercaya.
Saya tidak bisa menghapus enam bulan penderitaan Sinta.
Tetapi saya bisa memastikan dia tidak pernah lagi menghadapi ketakutannya sendirian.
Dan sejak hari itu, setiap kali saya memegang tangannya, Sinta tidak lagi gemetar.
Dia menggenggam tangan saya kembali.
