PULANG 5 TAHUN LEBIH CEPAT, ADRIAN MENEMUKAN ISTRI DAN ANAK-ANAKNYA DIKURUNG DI RUANG BAWAH TANAH, SEMENTARA IBU DAN ADIKNYA BERPESTA DENGAN UANG RP11,8 MILIAR MILIKNYA!

“Karena dengan begini, tidak akan ada satu orang pun yang nanti bisa berpura-pura tidak mendengar apa yang akan aku katakan sekarang.”

Suara Adrian terdengar tenang.

Terlalu tenang.

Di ruang tamu yang beberapa detik sebelumnya dipenuhi musik, tawa, dan denting gelas, kini hanya terdengar bunyi pendingin ruangan.

Lastri berdiri kaku di dekat pintu.

Ratih mundur selangkah.

“Kak…” katanya terbata. “Ini tidak seperti yang Kakak pikirkan.”

Adrian menoleh kepadanya.

“Lalu seperti apa?”

Ratih membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Adrian mengangkat ponselnya.

“Sebelas miliar delapan ratus juta rupiah.”

Beberapa tamu saling berpandangan.

“Dalam beberapa tahun terakhir, uang sebesar itu keluar dari rekening yang seharusnya membiayai hidup istri dan anak-anakku.”

Lastri akhirnya menemukan suaranya.

“Kamu jangan sembarangan menuduh ibumu sendiri!”

Adrian tersenyum tipis.

“Ibu benar.”

Lastri tampak sedikit lega.

Namun Adrian melanjutkan.

“Aku memang tidak boleh sembarangan menuduh. Karena itu aku tidak datang membawa tuduhan.”

Ia menunjukkan layar ponselnya.

“Aku membawa bukti.”

Wajah Lastri kembali pucat.

Adrian membaca beberapa transaksi.

Pembelian SUV senilai ratusan juta rupiah.

Renovasi rumah.

Tas dan perhiasan.

Transfer rutin ke rekening Ratih.

Biaya perjalanan ke Bali.

Pembayaran kartu kredit.

Pesta.

Bahkan uang muka sebuah apartemen di Jakarta.

Salah seorang tamu perempuan perlahan meletakkan gelasnya.

Ratih tiba-tiba maju.

“Semua itu uang keluarga!”

“Uang keluarga?”

Suara Adrian meninggi untuk pertama kalinya.

“Anakku tidur di kasur lembap di ruang bawah tanah sementara kalian membeli mobil dengan uang keluarga?”

Ruangan langsung membeku.

Lastri menatap Ratih dengan panik.

“Kamu sudah ke bawah?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja.

Adrian menatap ibunya.

Dan Lastri langsung sadar bahwa ia baru saja melakukan kesalahan besar.

“Jadi Ibu tahu.”

“Bukan begitu maksud Ibu.”

“Fitri dan anak-anak dikurung satu tahun delapan bulan. Dan Ibu tahu.”

Lastri mulai menangis.

Tangannya meraih lengan Adrian.

“Nak, dengarkan Ibu dulu.”

Adrian mundur.

“Jangan sentuh aku.”

Lastri terdiam.

Selama hampir empat puluh tahun hidupnya, Adrian tidak pernah berbicara seperti itu kepada ibunya.

Lastri selalu menjadi sosok yang dihormatinya.

Setelah ayah Adrian meninggal ketika Adrian masih kuliah, Lastri membesarkan Adrian dan Ratih seorang diri. Setidaknya, itulah cerita yang selalu tertanam di kepala Adrian.

Karena rasa berutang itulah Adrian memberikan surat kuasa terbatas sebelum berangkat bekerja ke luar negeri.

Ia percaya ibunya akan membantu Fitri jika terjadi keadaan darurat.

Kepercayaan itu ternyata menjadi pintu masuk bagi kehancuran keluarganya.

Lastri menyeka air mata.

“Fitri yang membuat semuanya sulit. Dia selalu melawan Ibu. Dia ingin menguasai rumah ini. Dia bahkan pernah mengancam akan menjauhkan cucu-cucu Ibu.”

Adrian menatapnya tanpa berkedip.

“Karena itu Ibu mengurung mereka?”

“Tidak! Awalnya bukan begitu!”

Lastri mulai bicara semakin cepat.

Katanya, Fitri pernah mengalami masalah keuangan. Katanya, Fitri tidak pandai mengurus rumah. Katanya, ruang bawah tanah hanya digunakan sementara karena terjadi pertengkaran besar.

Ratih ikut menyela.

“Kak, Fitri juga tidak sebaik yang Kakak kira.”

Adrian menoleh tajam.

“Diam.”

Ratih langsung membisu.

Adrian kemudian mengeluarkan ponsel kedua dari sakunya.

“Aku sudah menghubungi polisi.”

Wajah Lastri seketika kehilangan warna.

“Apa?”

“Aku juga sudah mengirim salinan data transaksi dan log keamanan rumah kepada pengacaraku.”

Ratih berlari ke meja dan meraih ponselnya.

Adrian tidak menghentikannya.

“Silakan telepon siapa pun yang kamu mau.”

Beberapa tamu mulai bergerak menuju pintu.

“Tidak.”

Suara Adrian menghentikan mereka.

“Aku tidak menahan kalian. Kalian boleh pergi. Tapi polisi sedang menuju ke sini dan mungkin akan membutuhkan keterangan dari beberapa orang.”

Seketika tidak ada yang berani bergerak.

Lastri menatap anak laki-lakinya dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu tega melaporkan ibu kandungmu sendiri?”

Pertanyaan itu menusuk Adrian.

Namun yang muncul di kepalanya justru suara Rian.

Papa jangan pergi lagi.

Kemudian wajah Salsa yang memegang lilin di ruangan lembap itu.

Adrian menjawab pelan.

“Yang tega adalah orang yang mendengar cucunya menangis dari bawah rumah, lalu tetap bisa tertawa di lantai atas.”

Lastri terdiam.

Kurang dari lima belas menit kemudian, dua kendaraan polisi berhenti di depan rumah.

Pesta malam itu berakhir dengan cara yang tidak pernah dibayangkan siapa pun.

Petugas memeriksa ruang bawah tanah.

Mereka memotret pintu besi, gembok yang rusak, kasur lembap, sisa makanan, kabel pemanas yang hampir terbakar, dan kondisi sanitasi yang buruk.

Tetangga mulai keluar rumah.

Beberapa tamu diperiksa.

Lastri dan Ratih dibawa untuk dimintai keterangan.

Namun sebelum masuk ke kendaraan polisi, Ratih berteriak kepada Adrian.

“Kak! Kalau aku jatuh, Ibu juga akan jatuh! Semua ini bukan cuma soal uang!”

Adrian menatapnya.

Ratih hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi Lastri tiba-tiba membentaknya.

“Diam, Ratih!”

Saat itulah Adrian sadar.

Masih ada sesuatu yang belum diketahuinya.

Malam itu Adrian tidak tidur.

Fitri dan anak-anak dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan.

Dokter mengatakan kondisi mereka tidak sampai mengancam nyawa, tetapi Fitri mengalami anemia, kekurangan nutrisi, dan tekanan psikologis berat.

Rian mengalami infeksi saluran pernapasan berulang akibat lingkungan lembap.

Salsa mengalami gangguan tidur.

Ketika Adrian duduk di samping ranjang anak-anaknya, rasa bersalah menghantamnya tanpa ampun.

“Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?” tanyanya kepada Fitri.

Fitri memandang kedua anak mereka yang sudah tertidur.

“Aku mencoba.”

Adrian terdiam.

“Berkali-kali.”

Fitri menjelaskan bahwa ponselnya disita beberapa bulan setelah Adrian berangkat. Lastri kemudian mengendalikan seluruh komunikasi.

Fitri pernah mencoba mengirim surel dari komputer lama milik Salsa.

Namun Lastri mengetahuinya.

Setelah itu akses internet mereka diputus.

“Kenapa tidak kabur?”

Fitri tersenyum pahit.

“Aku pernah mencoba.”

Ia menunjukkan bekas luka tipis di pergelangan tangannya.

“Ratih memergokiku.”

Adrian memejamkan mata.

Fitri melanjutkan.

“Setelah itu mereka memasang gembok dari luar.”

“Tapi bagaimana anak-anak sekolah?”

Fitri menunduk.

“Mereka tidak sekolah selama hampir setahun.”

Adrian langsung menatapnya.

“Apa?”

“Ibumu memindahkan mereka ke program belajar dari rumah. Semua dokumen diurus menggunakan surat kuasa dan tanda tangan elektronikmu.”

Adrian merasa mual.

Bukan hanya uangnya yang dicuri.

Hidup anak-anaknya juga dicuri.

Keesokan paginya, pengacara Adrian datang membawa kabar yang jauh lebih buruk.

Mereka menemukan beberapa perusahaan yang menerima transfer dari rekening Adrian.

Dua di antaranya ternyata perusahaan cangkang.

Salah satunya bernama PT Rahayu Investama.

Pemegang saham mayoritasnya adalah Ratih.

Namun ada satu nama lain yang membuat Adrian terdiam.

Lastri Wijaya.

“Mereka menggunakan uang Anda untuk membeli properti dan aset,” kata pengacara itu.

“Berapa yang masih bisa diselamatkan?”

“Kami belum tahu. Tetapi kemungkinan beberapa aset dapat dibekukan.”

Adrian mengangguk.

Pengacara itu belum selesai.

“Ada hal lain.”

Ia menggeser sebuah dokumen ke meja.

Itu adalah polis asuransi jiwa.

Atas nama Adrian Wijaya.

Nilainya Rp15 miliar.

Penerima manfaat utamanya bukan Fitri.

Bukan Salsa.

Bukan Rian.

Melainkan Lastri.

Adrian membaca dokumen itu dua kali.

“Aku tidak pernah membuat ini.”

“Kami juga menemukan permohonan perubahan penerima manfaat yang menggunakan tanda tangan digital Anda.”

Darah Adrian terasa dingin.

Lebih aneh lagi, polis itu baru diperbarui tiga bulan sebelumnya.

Dan dua minggu sebelum kepulangannya, seseorang membeli tiket pesawat menuju kota tempat Adrian biasa transit ketika pulang dari Laut Utara.

Nama penumpangnya Ratih.

Adrian menatap pengacaranya.

“Untuk apa?”

“Kami belum tahu.”

Penyelidikan kemudian bergerak jauh lebih cepat.

Polisi menyita laptop Ratih.

Di dalamnya ditemukan percakapan dengan seorang pria yang bekerja sebagai perantara dokumen keuangan.

Percakapan itu membahas cara mempertahankan akses ke rekening Adrian apabila Adrian meninggal.

Ada juga pesan lain.

Kalimatnya pendek.

Kalau dia pulang sesuai jadwal lima tahun lagi, semuanya sudah aman.

Adrian membaca pesan itu dengan tangan gemetar.

Selama ini ia mengira dirinya hanya korban pencurian.

Ternyata kepulangannya yang lima tahun lebih cepat mungkin telah menyelamatkan bukan hanya keluarganya.

Tetapi juga dirinya sendiri.

Namun kejutan terbesar datang tiga hari kemudian.

Salsa meminta berbicara dengannya.

Mereka sedang berada di kamar hotel ketika anak itu mengeluarkan sebuah benda kecil dari tasnya.

Sebuah kartu memori.

“Apa ini?”

Salsa menatap ayahnya.

“Nenek tidak tahu aku punya ini.”

Salsa bercerita bahwa sebelum dikurung, ia memiliki kamera kecil pemberian Adrian untuk merekam tugas sekolah.

Ketika Lastri mulai memperlakukan ibunya dengan kasar, Salsa diam-diam merekam beberapa percakapan.

Kamera itu kemudian ditemukan dan dibuang.

Tetapi Salsa sudah mengambil kartu memorinya.

“Aku simpan di dalam boneka.”

Adrian memasukkan kartu itu ke laptop.

Ada puluhan video.

Sebagian hanya beberapa detik.

Sebagian gelap.

Namun satu rekaman membuat Adrian tidak mampu bernapas.

Video itu diambil sekitar dua tahun sebelumnya.

Lastri dan Ratih sedang bertengkar di dapur.

Suara Ratih terdengar jelas.

“Aku sudah bilang, kalau Adrian tahu uangnya habis, kita semua selesai!”

Kemudian Lastri menjawab,

“Makanya jangan sampai dia tahu. Lima tahun lagi masih lama. Sebelum dia pulang, rumah dijual, aset dipindahkan, lalu kita pergi.”

Ratih bertanya,

“Terus Fitri sama anak-anak?”

Beberapa detik sunyi.

Lalu Lastri menjawab dengan suara datar.

“Nanti kita pikirkan.”

Adrian menghentikan video.

Ia tidak sanggup melanjutkan.

Salsa duduk di sebelahnya.

“Papa.”

Adrian menoleh.

“Papa jangan salahin diri sendiri.”

Kalimat itu justru membuat air mata Adrian jatuh.

Ia memeluk putrinya erat.

Untuk pertama kalinya sejak pulang, Adrian menangis.

Bukan karena uang Rp11,8 miliar.

Bukan karena rumah.

Bukan karena mobil atau tabungan yang hilang.

Ia menangis karena anak berusia sebelas tahun di hadapannya terpaksa belajar menjadi kuat ketika seharusnya ia hanya perlu menjadi seorang anak.

Proses hukum berlangsung berbulan-bulan.

Sebagian aset berhasil dibekukan.

Apartemen, kendaraan, beberapa rekening, serta aset perusahaan Ratih disita sebagai bagian dari penyidikan.

Lastri berkali-kali meminta bertemu Adrian.

Adrian selalu menolak.

Sampai suatu hari, ia akhirnya datang.

Lastri duduk di seberang meja dengan wajah yang tampak jauh lebih tua.

“Apa kamu masih menganggap Ibu sebagai ibumu?” tanyanya.

Adrian lama tidak menjawab.

“Aku tidak bisa menghapus fakta bahwa Ibu melahirkanku.”

Lastri menangis.

“Tapi menjadi ibu bukan hanya soal melahirkan.”

Lastri menunduk.

“Aku cuma takut miskin lagi, Adrian.”

Untuk pertama kalinya, ia menceritakan sesuatu yang selama ini disembunyikannya.

Setelah suaminya meninggal, Lastri ternyata meninggalkan banyak utang. Selama bertahun-tahun ia hidup dengan ketakutan kehilangan rumah, kehilangan status, dan kembali hidup susah.

Ketika Adrian mulai menghasilkan uang besar, ketakutan itu berubah menjadi obsesi.

Kemudian menjadi keserakahan.

Lalu keserakahan itu mencari pembenaran.

“Aku pikir semua yang kamu punya juga milik keluarga,” bisiknya.

Adrian memandang ibunya.

“Fitri dan anak-anakku juga keluarga.”

Lastri tidak mampu menjawab.

Adrian berdiri.

Sebelum pergi, ia mengatakan satu kalimat.

“Aku mungkin suatu hari bisa memaafkan Ibu. Tapi memaafkan tidak berarti menghapus akibat dari apa yang Ibu lakukan.”

Setahun kemudian, rumah besar di Bandung Barat itu dijual.

Adrian tidak ingin tinggal di sana lagi.

Ia membeli rumah yang lebih sederhana di kawasan yang tenang.

Fitri perlahan pulih.

Rian kembali sekolah.

Salsa membutuhkan waktu lebih lama, tetapi akhirnya mulai tertawa seperti dulu.

Adrian juga mengambil keputusan yang mengejutkan rekan-rekannya.

Ia tidak kembali ke Laut Utara.

Gajinya memang jauh lebih kecil setelah menerima pekerjaan di Indonesia.

Namun setiap sore ia bisa pulang.

Ia bisa membantu Rian mengerjakan tugas.

Ia bisa mendengar Salsa bercerita tentang sekolah.

Ia bisa duduk bersama Fitri tanpa dibatasi layar ponsel dan perbedaan waktu.

Suatu malam, ketika mereka makan bersama, listrik tiba-tiba padam.

Ruangan menjadi gelap.

Salsa langsung terdiam.

Tangannya gemetar.

Kenangan tentang ruang bawah tanah kembali menyerangnya.

Adrian segera menyalakan lampu dari ponselnya.

Namun Salsa berkata,

“Tunggu, Pa.”

Ia pergi ke dapur dan kembali membawa sebatang lilin.

Lilin itu dinyalakan dan diletakkan di tengah meja.

Cahayanya kecil.

Mirip lilin yang pernah dipegang Salsa ketika Adrian menemukannya di ruang bawah tanah.

Adrian menatap putrinya dengan khawatir.

Tetapi Salsa justru tersenyum.

“Dulu aku benci gelap.”

Ia menggenggam tangan ayahnya.

“Tapi sekarang aku tahu, gelap tidak selalu berarti kita terjebak.”

Fitri menggenggam tangan Adrian dari sisi lain.

Rian tersenyum sambil memeluk lengan ayahnya.

Adrian memandang ketiga orang di hadapannya.

Selama bertahun-tahun ia mengira menjadi suami dan ayah yang baik berarti bekerja sejauh mungkin, selama mungkin, dan menghasilkan uang sebanyak mungkin.

Ia baru memahami kesalahannya setelah hampir kehilangan semuanya.

Rp11,8 miliar mungkin bisa dicari kembali.

Rumah bisa dibeli lagi.

Mobil bisa diganti.

Karier bisa dibangun dari awal.

Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah bisa dikembalikan oleh uang sebanyak apa pun.

Waktu.

Dan malam itu, di bawah cahaya satu batang lilin, Adrian akhirnya mengerti bahwa kepulangannya lima tahun lebih cepat bukanlah kecelakaan dalam hidupnya.

Itu adalah kesempatan kedua yang datang tepat sebelum semuanya terlambat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang