Dalam Perjalanan Menuju Akad Nikah di Jakarta, Tunanganku Memutar Balik Mobil Pengantin Demi Telepon Mantan Istrinya—Aku Turun dengan Kebaya Putih di Pinggir Jalan, Menerima Transfer Rp1,8 Miliar, Lalu Tersenyum karena Ia Tak Tahu: Itu Kesempatan Terakhir yang Kuberikan

Aku memutar ulang rekaman itu tiga kali.

Bukan karena aku tidak percaya pada apa yang kudengar, tetapi karena untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, semua potongan yang selama ini terasa tidak masuk akal akhirnya menyatu.

Serangan panik sebelum lamaran.

Serangan panik saat pertunangan.

Dan telepon tepat pada hari akad.

Aku menatap wajah Nadine di layar laptop. Perempuan itu sedang mengusap kepala putranya sambil tersenyum, seolah baru saja mengajarkan cara mengikat tali sepatu, bukan cara memanipulasi ayahnya.

Anehnya, aku tidak marah kepada Arvin.

Dia baru sembilan tahun.

Anak seusianya percaya pada orang yang paling dekat dengannya. Kalau ibunya mengatakan berpura-pura sakit bisa membuat Papa pulang, tentu dia akan melakukannya.

Yang membuat dadaku terasa kosong justru Raka.

Karena bahkan tanpa kebohongan Nadine, keputusan untuk meninggalkanku tetap dibuat olehnya sendiri.

Aku menyimpan rekaman itu ke tiga tempat berbeda.

Laptop.

Penyimpanan awan.

Dan flashdisk.

Setelah itu aku menutup koper.

Besok adalah ulang tahunku yang ketiga puluh dua.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak menginginkan hadiah apa pun dari Raka.

Aku hanya ingin melihat apakah dia masih bisa membuat pilihan yang benar ketika kesempatan terakhir benar-benar datang.

Pagi berikutnya aku pindah ke apartemen Kuningan.

Raka menelepon sekitar pukul sebelas.

“Kamu sudah pindah?”

“Sudah.”

“Aku minta maaf soal semalam.”

Aku berdiri di depan jendela, melihat gedung-gedung Jakarta tertutup kabut tipis.

“Arvin bagaimana?”

“Sudah tenang.”

Tentu saja.

“Bagus.”

Raka terdiam beberapa detik.

“Alya, kamu marah?”

Pertanyaan itu hampir membuatku tertawa.

“Menurutmu?”

“Aku tahu semuanya kacau. Setelah kondisi Arvin stabil, kita bicara soal tanggal akad baru.”

Aku menutup mata.

Tanggal baru.

Seolah pernikahan kami hanya rapat perusahaan yang bisa dijadwalkan ulang.

“Raka.”

“Ya?”

“Besok ulang tahunku.”

Dia langsung menjawab, “Aku ingat.”

“Makan malam denganku.”

“Tentu.”

“Hanya kita berdua.”

Dia terdiam.

Aku melanjutkan sebelum dia sempat memberi alasan.

“Jam tujuh malam. Restoran tempat kita pertama kali makan malam bersama.”

“Aku datang.”

“Jangan terlambat.”

“Aku janji.”

Aku tersenyum tipis.

Janji.

Kata favoritnya.

Sore berikutnya aku mengenakan gaun hitam sederhana. Tidak ada perhiasan mahal pemberiannya. Hanya gelang milik ibuku yang sudah diperbaiki sementara.

Aku tiba pukul enam lewat empat puluh lima.

Meja kami berada dekat jendela.

Pukul tujuh, kursi di depanku masih kosong.

Pukul tujuh lewat lima, ponselku berbunyi.

Raka.

“Aku sedang jalan.”

“Baik.”

“Alya, malam ini aku akan menjelaskan semuanya.”

“Tidak perlu menjelaskan. Datang saja.”

Pukul tujuh lewat tujuh belas, sebuah notifikasi dari kamera rumah muncul di ponselku.

Gerakan terdeteksi.

Aku membukanya.

Nadine berdiri di depan kamar Arvin.

Aku menaikkan volume.

“Papa mau pergi?”

“Iya,” jawab Arvin.

“Kamu tahu harus bagaimana?”

Aku menggenggam ponsel lebih erat.

Beberapa menit kemudian teleponku berbunyi.

Raka lagi.

Kali ini suaranya panik.

“Alya.”

Aku melihat jam.

19.24.

“Arvin kambuh.”

Aku menatap kursi kosong di depanku.

“Lalu?”

“Aku harus balik.”

“Bukankah kamu sedang menuju ke sini?”

“Iya, tapi Nadine bilang kondisinya parah.”

Aku diam cukup lama sampai Raka memanggil namaku lagi.

“Alya?”

“Kalau kamu kembali malam ini, jangan pernah datang kepadaku lagi.”

Hening.

“Apa?”

“Aku tidak menyuruhmu memilih antara aku dan anakmu. Aku hanya mengatakan konsekuensinya.”

“Alya, dia anakku.”

“Aku tahu.”

“Dia sakit.”

Aku memandang rekaman di layar.

“Kalau begitu pergilah.”

“Aku akan menebusnya besok.”

Aku tersenyum.

“Tidak akan ada besok.”

Telepon terputus.

Pukul delapan aku makan sendirian.

Pukul sembilan aku memesan tiket penerbangan ke Bali.

Pukul sepuluh aku menandatangani kontrak kerja yang dikirim Kirana.

Pukul sebelas malam, transfer masuk.

Rp300.000.000.

Pesannya singkat.

“Selamat ulang tahun. Maaf.”

Kali ini uang itu kukembalikan.

Untuk pertama kalinya.

Lima menit kemudian Raka menelepon berkali-kali.

Aku tidak menjawab.

Pagi harinya aku sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta ketika sebuah pesan masuk.

“Alya, kenapa uangnya dikembalikan?”

Aku membalas.

“Karena utangmu sudah lunas.”

Dia langsung menelepon.

Aku mengangkatnya.

“Apa maksudmu?”

“Rp1,8 miliar untuk kerugian pernikahan sudah cukup. Apartemen juga sudah cukup.”

“Kita tidak sedang membicarakan uang.”

“Lucu. Selama ini setiap kali menyakitiku, justru uang yang selalu kamu kirim.”

“Alya, pulang. Kita bicara.”

“Aku sedang pergi.”

“Ke mana?”

“Bali.”

“Aku menyusul.”

“Tidak perlu.”

“Alya.”

Aku memandang pesawat di balik kaca.

“Aku mengundurkan diri dari perusahaanmu. Suratnya sudah dikirim ke HR dan direksi pagi ini.”

Dia terdiam.

“Apa?”

“Aku juga sudah memindahkan semua barangku.”

“Kamu serius?”

“Untuk pertama kalinya, iya.”

Aku menutup telepon sebelum boarding dimulai.

Tiga hari pertama di Bali terasa aneh.

Tidak ada sopir.

Tidak ada rapat keluarga Adinata.

Tidak ada telepon tengah malam tentang Arvin.

Aku bekerja hampir dua belas jam sehari bersama Kirana, mempelajari jaringan hotel yang sedang mereka kembangkan di Bali, Lombok, dan Labuan Bajo.

Anehnya, aku merasa hidup lagi.

Seminggu kemudian Raka datang.

Dia menungguku di lobi kantor.

Kemejanya kusut. Wajahnya terlihat seperti tidak tidur.

“Kita harus bicara.”

Kirana yang berdiri di sebelahku menatapku.

Aku mengangguk.

Kami pergi ke kafe.

Begitu duduk, Raka langsung berkata, “Aku tidak mau putus.”

“Aku mau.”

“Alya, jangan seperti ini.”

“Seperti apa?”

“Kamu tahu kondisi Arvin.”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Justru sekarang aku tahu.”

Aku memutar rekaman.

Wajah Raka perlahan kehilangan warna.

Dia melihat Nadine menyuruh Arvin berpura-pura sakit.

Melihat putranya berlatih memegangi dada.

Mendengar kalimat tentang membuat Papa kembali menjadi milik mereka.

Ketika video selesai, Raka tidak bergerak.

“Dari mana kamu dapat ini?”

“Kamera rumah.”

“Aku tidak tahu.”

“Aku tahu kamu tidak tahu.”

“Kalau aku tahu, aku tidak akan meninggalkanmu.”

Aku menatapnya.

“Dan itulah masalahnya.”

Dia mengerutkan kening.

“Masalah apa?”

“Kamu masih mengira Nadine adalah alasan hubungan kita gagal.”

“Dia memanipulasi Arvin.”

“Benar.”

“Jadi kenapa kamu tetap menyalahkanku?”

“Karena dia hanya membuat telepon. Yang memutar balik mobil pengantin adalah kamu.”

Raka terdiam.

“Dia membuat anakmu berbohong,” lanjutku. “Tapi selama tiga tahun, kamu yang membiarkan setiap batas antara masa lalu dan masa depanmu hilang.”

“Aku ayahnya.”

“Menjadi ayah bukan berarti harus menjadi suami cadangan mantan istrimu.”

Rahangnya mengeras.

“Aku tidak pernah kembali pada Nadine.”

“Secara fisik mungkin tidak.”

Aku menatapnya tepat di mata.

“Tapi setiap kali dia memanggil, kamu meninggalkan hidupmu dan kembali menjalankan peran yang dia minta.”

Untuk pertama kalinya, Raka tidak punya jawaban.

Dia menunduk.

“Aku bisa memperbaikinya.”

“Silakan.”

Dia mengangkat wajah, matanya penuh harapan.

“Tapi bukan bersamaku.”

“Alya…”

“Aku sudah memberimu tiga kesempatan.”

“Berikan satu lagi.”

Aku tersenyum sedih.

“Kesempatan terakhir itu malam ulang tahunku.”

Raka pulang ke Jakarta sendirian.

Aku mengira semuanya selesai.

Ternyata belum.

Dua minggu kemudian, berita tentang keluarga Adinata meledak.

Bukan karena aku.

Nadine.

Raka membawa Arvin ke psikolog anak lain tanpa sepengetahuan Nadine. Dari beberapa sesi terapi, terungkap bahwa serangan panik pertama Arvin memang nyata.

Anak itu benar-benar takut kehilangan ayahnya.

Namun setelah melihat Raka selalu datang setiap kali dia sakit, Nadine mulai memanfaatkan ketakutan itu.

Ia tidak hanya menyuruh Arvin berpura-pura.

Ia terus mengatakan kepada anak itu bahwa jika Raka menikah denganku, Papa akan memiliki keluarga baru dan perlahan melupakannya.

Ketakutan Arvin yang tadinya bisa disembuhkan justru dipelihara.

Ketika Raka mengonfrontasi Nadine, pertengkaran besar terjadi.

Nadine akhirnya mengakui semuanya.

“Aku cuma mau keluarga kita kembali!”

“Kita sudah bercerai empat tahun!”

“Tapi kamu selalu datang setiap Arvin membutuhkanmu!”

“Karena dia anakku!”

“Kalau begitu kenapa tidak sekalian pulang?”

Kalimat itu rupanya menjadi titik ketika Raka akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak mau dia lihat.

Menolong anaknya dan mempertahankan pola keluarga lamanya adalah dua hal berbeda.

Raka meminta pengaturan pengasuhan mereka dievaluasi dengan bantuan profesional dan keluarga. Bukan untuk mengambil Arvin dari ibunya, tetapi agar anak itu tidak lagi dijadikan alat.

Aku tahu semua itu bukan dari Raka.

Ibunya meneleponku.

“Alya, Mama minta maaf.”

Aku terdiam.

“Untuk apa?”

“Karena selama ini kami semua melihat kamu terus mengalah dan menganggap itu tanda kamu perempuan baik.”

Suaranya bergetar.

“Seharusnya kami sadar, orang baik juga punya batas.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Enam bulan berlalu.

Karierku berkembang jauh lebih cepat daripada yang kuduga.

Proyek pertama yang kupimpin berhasil membawa tiga properti baru mencapai tingkat okupansi tertinggi sejak dibuka.

Kirana mengangkat gelas kopi suatu pagi.

“Direksi setuju.”

“Soal apa?”

“Kamu resmi jadi regional marketing director.”

Aku tertawa.

“Bukankah dari awal itu posisiku?”

“Dulu masih masa percobaan.”

“Kamu tidak pernah bilang.”

“Kalau kubilang, kamu pasti stres.”

Aku melempar tisu ke arahnya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, pencapaianku tidak memiliki nama Adinata di belakangnya.

Aku membeli rumah kecil di Sanur.

Tidak besar.

Tidak mewah.

Tapi seluruh cicilan dan furniturnya berasal dari pekerjaanku sendiri.

Uang Rp1,8 miliar dari Raka tidak kusentuh.

Sebagian kugunakan untuk menutup seluruh kerugian acara pernikahan. Sisanya kumasukkan ke investasi atas namaku sendiri.

Setahun setelah hari ketika aku ditinggalkan di Gatot Subroto, aku kembali ke Jakarta untuk sebuah konferensi.

Di lobi hotel, seseorang memanggilku.

“Tante Alya.”

Aku berbalik.

Arvin.

Dia terlihat lebih tinggi.

Di sampingnya berdiri Raka.

Tidak ada Nadine.

Arvin mendekat perlahan.

“Aku mau minta maaf.”

Aku berjongkok agar sejajar dengannya.

“Kamu tidak perlu meminta maaf kepadaku.”

“Tapi aku bohong.”

“Kamu waktu itu takut kehilangan Papa.”

Matanya berkaca-kaca.

“Sekarang aku tahu Papa menikah atau tidak, Papa tetap papaku.”

Aku tersenyum.

“Itu benar.”

Dia mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya.

Sebuah kotak.

Di dalamnya ada gelang ibuku.

Sudah diperbaiki sempurna.

Aku menatap Raka.

“Aku menemukannya di rumah,” katanya. “Aku tahu itu penting.”

Aku memasang gelang itu.

“Terima kasih.”

Arvin memelukku sebentar sebelum berlari menuju seorang perempuan tua yang menunggunya.

Tinggallah aku dan Raka.

Dia terlihat berbeda.

Lebih tenang.

“Bagaimana Bali?”

“Baik.”

“Aku dengar kamu sukses.”

“Lumayan.”

Dia tertawa kecil.

Kemudian kami sama-sama diam.

“Alya.”

“Hmm?”

“Aku dulu berpikir uang bisa memperbaiki semuanya karena itu satu-satunya cara yang kupahami untuk menunjukkan tanggung jawab.”

Aku menatapnya.

“Sekarang?”

“Sekarang aku tahu tanggung jawab kadang berarti menerima bahwa sesuatu yang kita rusak tidak bisa kita beli kembali.”

Aku tidak menjawab.

Dia mengeluarkan ponsel.

Beberapa detik kemudian ponselku berbunyi.

Notifikasi bank.

Transfer masuk.

Rp1.800.000.000.

Aku menatapnya kaget.

Raka tersenyum.

“Uang yang dulu kuberikan untuk mengganti kerugianmu.”

“Aku tidak mengerti.”

“Cek keterangannya.”

Aku membuka detail transfer.

Pengembalian dana.

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena setelah kamu pergi, aku baru tahu sebagian besar biaya pernikahan sebenarnya dibayar dari tabunganmu sendiri. Uang yang kuberikan waktu itu bukan ganti rugi.”

Dia menarik napas.

“Itu harga yang kubayar agar tidak perlu menghadapi rasa bersalah.”

Aku hendak menolak, tetapi Raka menggeleng.

“Terima. Bukan sebagai hadiah.”

“Lalu?”

“Sebagai utang.”

Aku terdiam cukup lama.

Kemudian menerima transfer itu.

Raka tersenyum.

“Aku kira kamu akan mengembalikannya.”

“Tidak.”

Dia tertawa.

“Masih Alya yang sama.”

“Tidak.”

Aku memasukkan ponsel ke tas.

“Alya yang dulu menerima uangmu sambil menunggu kamu berubah.”

Aku menatapnya untuk terakhir kali.

“Yang sekarang menerimanya karena memang itu hakku, lalu tetap pergi.”

Aku berjalan menuju ruang konferensi.

Tidak menoleh.

Beberapa langkah kemudian Raka memanggilku.

“Alya.”

Aku berhenti.

“Kalau dulu aku memilih tetap menuju gedung akad, menurutmu kita akan bahagia?”

Aku memikirkan pertanyaan itu.

Lalu menggeleng.

“Mungkin tidak.”

Wajahnya berubah.

“Kenapa?”

“Karena masalah kita bukan kamu memutar balik mobil hari itu.”

Aku tersenyum.

“Masalahnya, aku membutuhkan tiga kali ditinggalkan untuk akhirnya berani turun.”

Aku melanjutkan langkah.

Setahun lalu, aku berdiri di pinggir Jalan Gatot Subroto dengan kebaya putih, memandangi mobil pengantin yang meninggalkanku.

Saat itu seluruh Jakarta mungkin mengira aku perempuan paling malang di kota ini.

Mereka salah.

Karena hari ketika Raka meninggalkanku ternyata bukan hari ketika aku kehilangan calon suami.

Itu adalah hari ketika aku akhirnya berhenti meninggalkan diriku sendiri demi mempertahankan seseorang.

Dan Rp1,8 miliar itu?

Pada akhirnya bukan harga seorang pria.

Tidak ada pria yang perlu dihargai dengan angka sebanyak apa pun.

Itu hanyalah biaya terakhir dari sebuah pelajaran yang sangat mahal.

Bahwa cinta boleh memberi kesempatan.

Cinta boleh memaafkan.

Tetapi ketika seseorang terus menjadikan pengertianmu sebagai alasan untuk menyakitimu, pergi bukan berarti kalah.

Kadang, pergi adalah satu-satunya cara untuk pulang kepada dirimu sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang