Sambungan telepon itu hanya berdering dua kali sebelum sebuah suara perempuan menjawab dari seberang.
“Halo?”
Dadaku langsung sesak.
Aku mengenali suara itu bahkan setelah bertahun-tahun tidak mendengarnya.

“Kak Putri…”
Hanya dua kata yang berhasil keluar dari mulutku sebelum tangisku pecah.
Di seberang telepon terdengar keheningan panjang, lalu suara kakakku mendadak bergetar.
“Indah? Ya Allah, Indah? Kamu di mana?”
Aditya langsung berubah liar.
“Matikan telepon itu!”
Ia menerjang perawat, tetapi perawat pria yang sejak tadi berdiri di dekat pintu segera menahan tubuhnya. Dua petugas keamanan rumah sakit yang dipanggil dokter juga datang beberapa detik kemudian.
Aku tidak pernah melihat Aditya sepanik itu.
Selama delapan tahun menikah, pria itu selalu tampak seperti orang yang menguasai segala hal. Ia mengatur uangku, pekerjaanku, siapa yang boleh kutemui, bahkan kapan aku boleh keluar rumah.
Namun malam itu, di ruangan berbau antiseptik itu, semua kendalinya perlahan terlepas.
“Kak…” bisikku sambil menahan rasa perih di perut. “Aku di rumah sakit di Jakarta.”
Putri mulai menangis.
“Apa yang dia lakukan kepadamu?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam.
Bukan karena aku tidak tahu jawabannya.
Justru karena aku baru sadar bahwa kakakku sudah lama mencurigai sesuatu.
Sebelum aku sempat menjelaskan, dokter mengambil telepon dan berbicara singkat kepada Putri. Ia menjelaskan bahwa kondisiku serius dan menyarankan agar keluarga terdekat segera datang.
Putri hanya menjawab satu kalimat.
“Saya berangkat malam ini.”
Aditya mendengar semuanya.
Wajahnya semakin pucat.
Ia tiba-tiba berhenti melawan petugas keamanan lalu menatapku dengan sorot mata aneh. Bukan marah.
Takut.
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan nyata dalam dirinya.
“Indah,” katanya pelan, “jangan lakukan ini. Kita bisa menyelesaikannya di rumah.”
Aku menatapnya.
Rumah.
Kata itu terasa seperti lelucon.
Tempat yang kusebut rumah selama delapan tahun sebenarnya adalah penjara kecil bercat hijau pucat di pinggiran Jakarta Timur.
Di sanalah aku belajar berjalan tanpa suara agar tidak membangunkan amarahnya.
Di sanalah aku menyembunyikan memar di balik lengan panjang.
Di sanalah tiga kali aku mengandung, lalu tiga kali pula kehilangan bayi dalam keadaan yang selalu disebut dokter sebagai keguguran mendadak.
Dan setiap kali itu terjadi, Aditya selalu menyalahkanku.
“Kamu tidak becus jadi perempuan.”
“Rahimmu rusak.”
“Keluargaku butuh penerus laki-laki.”
Kalimat-kalimat itu sudah tertanam begitu dalam sampai aku sendiri mulai mempercayainya.
Aku pikir tubuhku gagal.
Aku pikir Tuhan sedang menghukumku.
Sampai dokter malam itu mengatakan sesuatu yang mengubah segalanya.
Semua janinku sebenarnya sehat.
Aku menoleh kepada dokter.
“Dok, apa maksud dokter seseorang menghentikan detak jantung bayi saya?”
Dokter itu tidak langsung menjawab.
Ia meminta Aditya dibawa keluar ruangan terlebih dahulu.
Aditya menolak keras.
“Saya suaminya!”
“Dan saat ini Anda juga pihak yang dituduh melakukan kekerasan terhadap pasien,” jawab dokter tegas.
Petugas keamanan akhirnya membawa Aditya keluar meskipun ia terus berteriak memanggil namaku.
Setelah pintu tertutup, dokter menarik kursi dan duduk di samping ranjang.
Namanya dokter Bima.
Usianya sekitar lima puluh tahun.
Ia mengatakan pemeriksaan malam itu bukan hanya memperlihatkan luka bakar. Dari riwayat medis yang terekam di beberapa rumah sakit, ia menemukan pola yang tidak wajar.
Tiga kehamilanku berakhir dengan gejala yang sangat mirip.
Penurunan denyut jantung janin secara tiba-tiba.
Pendarahan.
Kontraksi dini.
Dan pada dua kejadian terakhir, catatan laboratorium menunjukkan adanya zat tertentu dalam darahku yang tidak pernah ditindaklanjuti.
“Zat apa?” tanyaku.
Dokter Bima terdiam sejenak.
“Obat yang dalam dosis tertentu dapat memicu kontraksi rahim.”
Aku merasa seluruh ruangan berputar.
“Tidak mungkin.”
Lalu sebuah ingatan muncul.
Setiap kali aku hamil, Aditya sangat perhatian pada satu hal.
Vitamin.
Ia selalu melarangku membeli sendiri.
Katanya, kakak sepupunya mengenal apoteker yang menyediakan suplemen terbaik untuk ibu hamil.
Setiap malam, Aditya sendiri yang memberikan tablet putih kecil kepadaku.
Aku pernah bertanya kenapa bentuknya berbeda dari vitamin yang diberikan bidan.
Ia marah besar.
“Jangan sok pintar. Aku yang bayar semua kebutuhanmu.”
Tanganku mulai gemetar.
“Dok… apa mungkin suami saya…”
Dokter Bima tidak memberikan kesimpulan.
“Kami membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut dan bukti. Tetapi dengan luka yang Anda alami hari ini, rumah sakit wajib membuat laporan.”
Air mata mengalir ke pelipisku.
Aku tiba-tiba teringat kehamilan pertamaku.
Saat itu usia kandunganku enam bulan.
Aku sedang melipat pakaian ketika mendadak merasakan sakit luar biasa.
Aditya membawaku ke sebuah klinik kecil, tetapi bukannya panik, ia justru terus menatap jam.
Beberapa jam kemudian bayi kami meninggal.
Aku ingat ia tidak menangis.
Ia hanya duduk di luar ruang tindakan sambil menelepon ibunya.
Kalimat pertama yang kudengar adalah, “Belum berhasil.”
Dulu aku mengira maksudnya belum berhasil mempunyai anak.
Sekarang kalimat itu terdengar berbeda.
Sangat berbeda.
Putri tiba di rumah sakit menjelang subuh.
Begitu masuk ke ruangan, ia berhenti di ambang pintu.
Wajahnya runtuh saat melihat tubuhku yang dibalut perban.
Ia mendekat lalu memeluk bahuku dengan sangat hati-hati.
“Maafin Kakak.”
Aku menangis.
“Aku yang harus minta maaf. Aku pikir Kakak sudah tidak peduli.”
Putri menggeleng cepat.
“Aku tidak pernah berhenti mencarimu.”
Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah map plastik tebal.
Di dalamnya ada tumpukan tangkapan layar pesan.
Nomor tidak dikenal.
Foto rumahku.
Catatan transaksi.
Dan beberapa foto Aditya sedang bertemu seorang perempuan paruh baya di depan sebuah apotek kecil.
“Kakak menyewa orang buat mencari tahu setelah kamu tiba-tiba ganti nomor,” kata Putri. “Tapi setiap kali aku datang ke Jakarta, Aditya bilang kamu tidak mau bertemu denganku.”
Aku menatap foto-foto itu.
Perempuan di depan apotek itu kukenal.
Namanya Ratna.
Sepupu Aditya.
Orang yang katanya selalu memilihkan vitamin kehamilanku.
Putri kemudian menunjukkan sebuah bukti transfer.
Tiga transaksi dari rekening Aditya kepada Ratna.
Tanggalnya membuat tubuhku membeku.
Ketiganya dilakukan beberapa hari sebelum aku kehilangan kandungan.
“Kenapa Kakak tidak lapor polisi?”
“Aku tidak punya bukti apa yang mereka lakukan. Aku bahkan tidak bisa bicara denganmu.”
Putri menggenggam tanganku.
“Tapi sekarang kamu masih hidup. Dan kamu bisa bicara.”
Pagi itu, polisi datang ke rumah sakit.
Aditya dimintai keterangan.
Awalnya ia tetap mempertahankan cerita bahwa aku mengalami kecelakaan di dapur.
Namun dokter Bima menyerahkan dokumentasi luka.
Pola luka bakar di tubuhku tidak cocok dengan seseorang yang tidak sengaja menumpahkan air panas.
Bekasnya terkonsentrasi di bagian perut dan dada bawah, seolah cairan sengaja diarahkan.
Polisi lalu meminta izin menggeledah rumah kami.
Apa yang mereka temukan membuat kasus itu berubah jauh lebih besar.
Di sebuah kotak perkakas yang disembunyikan di atas plafon kamar mandi, terdapat beberapa bungkus obat tanpa resep, catatan kehamilanku, dan tiga gelang identitas rumah sakit dari kehamilan yang gagal.
Lebih mengerikan lagi, ada sebuah buku catatan kecil milik Aditya.
Isinya tanggal pemeriksaan kandungan, usia janin, dan beberapa kalimat singkat.
Kehamilan pertama.
Perempuan.
Kehamilan kedua.
Perempuan.
Kehamilan ketiga.
Laki-laki.
Di bawah catatan kehamilan ketiga terdapat tulisan dengan tinta merah.
Tidak boleh lahir.
Aku membaca fotonya dari ponsel polisi dengan napas terhenti.
“Kenapa?” tanyaku.
Tidak ada yang bisa menjawab.
Jika Aditya selama ini terobsesi mempunyai anak laki-laki, kenapa justru bayi laki-lakiku juga dibunuh?
Jawabannya baru muncul dua hari kemudian ketika Ratna ditangkap.
Awalnya perempuan itu menyangkal semuanya.
Namun polisi menemukan pesan lama di ponselnya yang belum sepenuhnya terhapus.
Percakapan antara Ratna dan Aditya berlangsung selama bertahun-tahun.
Di situlah kebohongan sebenarnya terbuka.
Aditya bukan sedang berusaha mendapatkan anak laki-laki.
Ia sedang memastikan aku tidak pernah mempunyai anak sama sekali.
Beberapa tahun sebelum menikah denganku, Aditya ternyata sudah menikah secara siri dengan seorang perempuan bernama Maya.
Dari hubungan itu, ia memiliki seorang anak laki-laki.
Keluarganya mengetahui hal tersebut.
Aku satu-satunya yang tidak tahu.
Ketika Aditya menikahiku, keluargaku memiliki sebidang tanah warisan di kawasan yang kemudian berkembang pesat. Setelah kedua orang tuaku meninggal, tanah itu diwariskan kepadaku dan Putri.
Aditya berharap suatu hari aku akan menjual bagian milikku dan menyerahkan uangnya kepadanya.
Namun ada satu masalah.
Ayahku meninggalkan surat wasiat bahwa apabila aku meninggal dan memiliki anak, seluruh bagianku akan diwariskan kepada anakku.
Tetapi jika aku meninggal tanpa keturunan, bagian itu kembali kepada Putri.
Aditya membutuhkan aku hidup cukup lama sampai tanah dijual.
Tetapi ia tidak ingin aku memiliki anak yang suatu hari menjadi ahli waris.
“Jadi semua omongan tentang anak laki-laki itu…” bisikku saat penyidik menjelaskan.
“Hanya alat untuk menekan Ibu,” jawab polisi.
Aku merasa mual.
Seluruh penderitaanku ternyata dirancang.
Keguguran.
Rasa bersalah.
Perasaan bahwa aku tidak berguna.
Bahkan teriakannya tentang anak laki-laki hanyalah sandiwara agar semua orang menganggap dirinya suami tradisional yang kecewa karena tidak mendapat keturunan.
Lalu aku bertanya tentang air mendidih.
Polisi terdiam.
Hari itu ternyata menjadi tahap terakhir rencana Aditya.
Beberapa minggu sebelumnya, ia mengetahui Putri sedang mengurus pemisahan sertifikat tanah warisan kami.
Nilainya kini mencapai miliaran rupiah.
Aditya takut aku kembali berhubungan dengan Putri dan mengetahui semuanya.
Ia berniat membuat kematianku terlihat seperti kecelakaan rumah tangga.
Air mendidih hanya langkah pertama.
Setelah aku kehilangan kesadaran, ia berencana membuatku jatuh di kamar mandi dan mengklaim aku mengalami cedera kepala.
Namun aku terbangun lebih cepat dari yang ia perkirakan.
Aku menjerit.
Tetangga mendengar.
Panik, Aditya terpaksa membawaku ke rumah sakit agar terlihat seperti suami yang berusaha menyelamatkan istrinya.
Skenarionya gagal hanya karena satu hal kecil yang tidak ia perhitungkan.
Dokter Bima membaca rekam medis lama.
Tiga bulan kemudian, aku keluar dari rumah sakit.
Bekas luka masih memenuhi perut dan sebagian lenganku.
Setiap kali melihat cermin, aku masih teringat suara air mendidih menghantam kulit.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak membenci tubuhku.
Tubuh ini bukan tubuh perempuan gagal.
Tubuh ini adalah saksi yang bertahan hidup.
Aditya akhirnya ditahan bersama Ratna. Penyelidikan juga membuka fakta bahwa Maya, istri sirinya, tidak pernah mengetahui kejahatan yang dilakukan Aditya terhadapku.
Ketika polisi menemui Maya, perempuan itu justru menyerahkan bukti tambahan.
Di dalam sebuah pesan suara lama, Aditya pernah berkata bahwa setelah tanahku berhasil dijual, ia akan “menyelesaikan urusan Indah” lalu pindah bersama Maya dan anaknya.
Maya meninggalkannya hari itu juga.
Beberapa bulan setelah kasus itu berjalan, aku kembali ke Bandung bersama Putri.
Suatu sore kami pergi ke makam orang tua.
Aku duduk di antara dua nisan sambil membawa tiga bunga kecil.
Satu untuk setiap bayi yang tidak pernah sempat kupeluk.
Untuk pertama kalinya, aku tidak meminta maaf kepada mereka.
Aku hanya berkata pelan, “Ibu akhirnya tahu kalian tidak pergi karena tubuh Ibu lemah.”
Putri duduk di sampingku.
Tangannya menggenggam tanganku.
Aku menatap langit yang mulai berubah jingga.
Selama bertahun-tahun Aditya membuatku percaya bahwa aku sendirian, miskin, rusak, dan tidak punya tempat untuk pulang.
Ternyata semua itu adalah kebohongan terbesar yang ia tanamkan agar aku tidak pernah berani membuka pintu.
Dan pada akhirnya, yang menghancurkan seluruh rencananya bukan polisi, bukan uang, bahkan bukan hasil pemeriksaan rumah sakit.
Melainkan satu nomor telepon yang tetap kuhafal di luar kepala.
Nomor kakakku.
Nomor yang tidak berhasil ia hapus dari ingatanku.
Saat itulah aku memahami sesuatu.
Orang yang ingin menguasai hidup kita biasanya akan memulai dengan memutus hubungan kita dari orang-orang yang mencintai kita.
Karena selama masih ada satu suara yang bisa kita panggil, satu pintu yang masih bisa diketuk, dan satu keberanian kecil untuk mengatakan “bukan”, mereka tidak pernah benar-benar memiliki kita.
