ISTRIKU BILANG ANAK-ANAK BAIK-BAIK SAJA, TAPI SAAT AKU PULANG MENDADAK, AKU MENEMUKAN MEREKA KELAPARAN DAN RAHASIA BESAR DI RUMAH KAMI Begitu pintu dapur kubuka, aku langsung berhenti.

Begitu membaca pesan terakhir dari Bimo, rasanya seluruh suara di rumah mendadak menghilang.

Aku hanya bisa mendengar napasku sendiri.

Besok jangan kasih mereka makan banyak dulu.

Damar hampir tanda tangan dokumen wali dan rumah. Jangan sampai rencana kita gagal.

Aku membaca kalimat itu sekali lagi, berharap otakku sedang salah menerjemahkan sesuatu yang sebenarnya sederhana.

Tidak.

Pesannya terlalu jelas.

Aku menoleh kepada Alya dan Gilang. Kedua anakku sedang menghabiskan ayam panggang yang tadi kuambil dari kulkas. Alya memotong daging menjadi bagian kecil untuk adiknya, sementara Gilang makan perlahan dengan wajah pucat.

Tiba-tiba semua perjalanan dinasku selama beberapa bulan terakhir terasa seperti kebodohan.

Setiap malam aku menelepon.

Setiap kali aku bertanya apakah anak-anak sudah makan, Rani selalu menjawab sudah.

Kadang dia bahkan mengirim foto mereka sedang tersenyum.

Aku baru menyadari sesuatu.

Foto-foto itu hampir selalu diambil di tempat yang sama.

Dengan pakaian yang sama.

Aku membuka galeri ponsel lama itu.

Ada satu folder tersembunyi.

Di dalamnya terdapat puluhan foto Alya dan Gilang.

Mereka duduk di meja makan dengan piring penuh. Mereka tersenyum ke kamera. Beberapa foto memperlihatkan Rani memeluk mereka.

Namun setelah kuperiksa tanggal pengambilannya, hampir semua dibuat dalam dua hari yang sama.

Foto-foto itu sengaja disiapkan.

Untuk dikirim kepadaku sedikit demi sedikit.

Aku menahan mual.

Pak Joko berdiri beberapa langkah dariku.

“Pak Damar, mungkin sebaiknya semua ini difoto dulu. Jangan ada yang dipindahkan.”

Aku mengangguk.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di rumah, aku berpikir dengan kepala dingin.

Aku memotret kabinet, gembok, isi kotak hitam, dokumen, dan seluruh percakapan di ponsel.

Kemudian aku membawa Gilang ke rumah sakit.

Dokter mengatakan ia mengalami dehidrasi ringan, demam, dan kekurangan asupan makanan selama beberapa waktu. Kondisinya belum sampai membahayakan nyawa, tetapi ada satu kalimat dokter yang membuatku sulit bernapas.

“Secara fisik bisa kita tangani, Pak. Tapi saya lebih khawatir dengan kondisi psikologis kedua anak Bapak.”

Aku menatap Alya yang duduk di luar ruang pemeriksaan.

“Kenapa, Dok?”

“Anak Bapak yang laki-laki terus bertanya apakah dia boleh makan. Dia meminta izin bahkan untuk minum air.”

Aku menutup mata.

Malam itu aku tidak membawa anak-anak pulang.

Aku membawa mereka ke apartemen milik kakakku, Maya, di Kuningan.

Maya hampir menangis ketika melihat keadaan keponakannya.

“Rani tahu kamu pulang?”

“Belum.”

“Terus kamu mau bagaimana?”

Aku meletakkan ponsel lama itu di meja.

“Aku mau tahu apa sebenarnya yang mereka rencanakan.”

Sekitar pukul sembilan malam, Rani akhirnya menelepon.

Aku sengaja membiarkan nada sambung terdengar beberapa detik sebelum menjawab.

“Halo?”

“Mas, rapatmu bagaimana?”

Suaranya tenang.

Aku menatap Maya.

“Lumayan.”

“Kapan pulang?”

“Sesuai jadwal. Dua hari lagi.”

Tidak ada jeda mencurigakan.

“Ya sudah. Hati-hati. Anak-anak tadi sudah tidur.”

Jari-jariku mencengkeram ponsel.

“Sudah makan?”

“Sudah. Alya makan sup, Gilang makan bubur. Demamnya juga sudah turun.”

Aku melihat Gilang yang saat itu sedang tidur di sofa dengan infus bekas masih tertutup perban kecil di tangannya.

“Syukurlah.”

Rani tertawa kecil.

“Kamu jangan khawatir terus.”

Setelah telepon berakhir, aku tidak merasa marah lagi.

Aku merasa takut.

Karena untuk bisa berbohong setenang itu, Rani pasti sudah melakukannya berkali-kali.

Keesokan paginya aku menghubungi pengacara keluarga, Bu Ratih.

Aku menunjukkan dokumen yang kutemukan.

Dia memeriksanya satu per satu.

Wajahnya berubah ketika menemukan satu lembar surat.

“Pak Damar, Bapak pernah tanda tangan ini?”

Aku melihatnya.

Itu dokumen pengalihan pengelolaan aset jika aku dianggap tidak mampu menjalankan kewajiban karena kondisi kesehatan atau keadaan tertentu.

Ada tanda tanganku di bagian bawah.

“Itu mirip tanda tangan saya, tapi saya tidak pernah menandatangani dokumen seperti ini.”

Bu Ratih menunjukkan halaman lain.

“Kalau ini?”

Aku langsung mengenalinya.

Tiga bulan sebelumnya, Rani pernah memberiku beberapa dokumen asuransi untuk ditandatangani sebelum aku berangkat ke Makassar.

Aku tidak membaca semuanya.

Aku percaya kepada istriku.

“Sepertinya tanda tangan itu diambil dari dokumen lain.”

Bu Ratih menarik napas.

“Kalau begitu jangan hubungi mereka dulu. Kita perlu bukti lebih kuat.”

Kami kemudian memeriksa rekening perusahaan.

Di situlah semuanya mulai terbuka.

Selama delapan bulan terakhir, Bimo melakukan puluhan transaksi kecil melalui beberapa vendor.

Jumlahnya tidak cukup besar untuk langsung menarik perhatian.

Namun jika digabungkan, nilainya mencapai lebih dari satu miliar rupiah.

Sebagian uang mengalir ke perusahaan yang baru berdiri enam bulan sebelumnya.

Pemiliknya adalah seseorang bernama Anton Prasetyo.

Aku tidak mengenalnya.

Namun ketika melihat alamat perusahaan, Maya langsung berkata, “Dam, bukankah itu apartemen Rani yang dulu?”

Aku menatapnya.

“Apartemen apa?”

Maya terdiam.

Wajahnya berubah.

“Rani pernah punya apartemen sebelum menikah. Kukira kamu tahu.”

Aku tidak tahu.

Kami menelusuri lebih jauh.

Anton ternyata bukan orang asing.

Dia adalah kakak kandung Bimo.

Sepupu Rani yang selama ini diperkenalkan kepadaku ternyata bukan sepupunya.

Bimo adalah adik tiri Rani.

Selama sebelas tahun pernikahan kami, aku tidak pernah mengetahui hal itu.

Aku mulai memahami bentuk rencana mereka.

Bimo masuk ke perusahaanku tiga tahun sebelumnya atas rekomendasi Rani.

Aku mempercayainya karena menganggap dia keluarga.

Perlahan dia mendapatkan akses ke bagian keuangan.

Rani mendapatkan tanda tanganku.

Mereka memindahkan uang.

Tetapi aku masih belum memahami satu hal.

“Kenapa anak-anak harus dibuat kelaparan?”

Jawabannya justru datang dari Alya.

Sore itu, setelah kondisinya sedikit lebih tenang, dia mendatangiku.

“Ayah.”

Aku memeluknya.

“Ada apa?”

“Alya mau kasih sesuatu.”

Dia mengeluarkan sebuah kartu memori kecil dari kantong tas sekolahnya.

“Ini punya Mbak Siska.”

Aku menatapnya.

“Kenapa ada sama Alya?”

“Mbak Siska kasih sebelum pergi. Katanya kalau Ayah pulang, kasih ke Ayah. Jangan ke Ibu.”

Tanganku gemetar ketika memasukkannya ke laptop.

Ada beberapa rekaman suara.

Salah satunya dibuat sebulan sebelumnya.

Suara Rani terdengar jelas.

“Kamu terlalu memanjakan mereka.”

Lalu suara Siska.

“Mereka anak-anak, Bu. Gilang belum makan dari pagi.”

“Biar.”

“Dia sakit.”

“Justru itu. Kalau mereka kelihatan lemah, Damar akan percaya aku kewalahan mengurus mereka.”

Aku membeku.

Kemudian suara Bimo terdengar.

“Yang penting nanti ada bukti Damar sering pergi dan kondisi anak-anak buruk. Kalau ada masalah, kita arahkan seolah dia yang menelantarkan keluarga.”

Rani menjawab, “Setelah dokumen selesai, aku tinggal bilang dia tidak stabil. Kalau perlu kita urus hak asuh.”

Aku menutup laptop.

Aku akhirnya mengerti.

Anak-anakku bukan sekadar korban kekejaman.

Mereka dijadikan alat.

Rani ingin menciptakan gambaran bahwa rumah tangga kami bermasalah karena aku terlalu sering bekerja. Jika penggelapan perusahaan terbongkar, dia sudah menyiapkan cerita bahwa aku suami yang lalai, tidak stabil, dan tidak layak mengurus anak.

Namun rencana itu memiliki satu kesalahan.

Mereka mengira anak-anak akan selalu takut bicara.

Dua hari kemudian, sesuai jadwal kepulanganku yang diketahui Rani, aku kembali ke rumah.

Sendirian.

Aku sengaja masuk seperti baru tiba dari perjalanan.

Rani sedang duduk di ruang keluarga.

Begitu melihatku, dia langsung tersenyum dan memelukku.

“Mas.”

Aku tidak membalas pelukannya.

Dia mundur.

“Kenapa?”

“Anak-anak di mana?”

Wajahnya berubah sepersekian detik.

“Di rumah Mama.”

“Kenapa?”

“Mereka kangen nenek.”

Aku mengangguk.

Kemudian Bimo keluar dari ruang kerja.

Jantungku hampir berhenti melihatnya.

“Lho, Mas Damar sudah pulang?”

Aku menatap mereka bergantian.

“Kebetulan sekali kamu di sini.”

Bimo tertawa canggung.

“Ada laporan kantor yang perlu dibicarakan.”

Aku duduk.

“Bagus. Kita bicara sekarang.”

Rani menatapku.

“Mas, kamu kenapa?”

Aku mengeluarkan sebuah map.

Kutaruh di meja.

Wajah Bimo langsung pucat.

Itu salinan dokumen pengalihan aset.

“Aku mau tanya satu hal.”

Tidak ada yang menjawab.

“Kenapa anak-anakku harus kelaparan supaya aku menandatangani ini?”

Rani membeku.

Bimo berdiri.

“Mas, saya nggak tahu apa maksudnya.”

Aku mengeluarkan ponsel lama.

Kutaruh di samping map.

Kali ini Rani benar-benar kehilangan warna wajahnya.

“Dari mana kamu dapat itu?”

Pertanyaan itu adalah kesalahan terbesarnya.

Karena orang yang tidak tahu apa-apa seharusnya bertanya ponsel apa.

Bukan dari mana aku mendapatkannya.

“Aku sudah membaca semuanya.”

Rani langsung menangis.

“Mas, dengarkan aku dulu.”

“Aku sudah mendengarkan sebelas tahun.”

“Ini nggak seperti yang kamu pikir.”

“Anak kita kelaparan di rumah yang penuh makanan.”

“Aku cuma mendisiplinkan mereka.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Gilang sakit.”

“Aku tahu.”

“Dan kamu tetap melarang dia makan?”

Rani diam.

Aku melihat perempuan yang pernah kunikahi itu dan untuk pertama kalinya merasa seperti sedang menatap orang asing.

Bimo tiba-tiba bergerak menuju pintu.

Namun sebelum sempat keluar, dua petugas kepolisian yang sudah menunggu di luar masuk bersama Bu Ratih.

Wajahnya langsung berubah.

Aku sudah menyerahkan bukti dugaan penggelapan dan pemalsuan dokumen sebelumnya.

Bimo mencoba menyangkal.

Rani menangis, memohon agar masalah keluarga tidak dibawa ke polisi.

Tetapi bagiku ini sudah berhenti menjadi masalah keluarga ketika anak-anak kami dijadikan alat untuk mencuri dan memanipulasi.

Pemeriksaan berlangsung berbulan-bulan.

Audit menemukan transaksi lain yang bahkan tidak kuketahui.

Sebagian uang berhasil dibekukan.

Bimo akhirnya ditetapkan sebagai tersangka terkait penggelapan dan pemalsuan dokumen. Keterlibatan Rani juga diselidiki berdasarkan bukti komunikasi dan dokumen yang ditemukan.

Namun kejutan terbesar justru datang dari Siska.

Ketika akhirnya aku berhasil menemukannya, dia datang membawa satu amplop.

“Saya minta maaf, Pak.”

“Kenapa minta maaf?”

“Saya seharusnya menghubungi Bapak lebih cepat.”

Dia menangis.

“Tapi Bu Rani bilang kalau saya bicara, dia akan melaporkan saya mencuri. Saya takut.”

Aku tidak menyalahkannya.

Justru karena keberaniannya merekam percakapan itu, anak-anakku mendapatkan bukti bahwa apa yang mereka alami benar-benar terjadi.

Siska kemudian memberikan amplop tersebut.

Di dalamnya ada surat tulisan tangan dari Alya.

Ternyata beberapa minggu sebelum aku pulang, Alya pernah mencoba menitipkan surat kepadaku melalui Siska.

Ayah, kalau Ayah pulang nanti, boleh nggak Alya dan Gilang ikut Ayah kerja?

Kami janji nggak akan ganggu.

Kami cuma takut tinggal di rumah kalau Ayah nggak ada.

Aku tidak sanggup membaca bagian berikutnya.

Aku menangis di depan Siska.

Untuk pertama kalinya sejak semuanya terbongkar, aku tidak mencoba terlihat kuat.

Beberapa bulan kemudian, aku mengurangi perjalanan bisnis.

Bukan karena rasa bersalah semata, melainkan karena akhirnya aku memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah diajarkan oleh laporan keuangan mana pun.

Memberikan rumah yang bagus tidak sama dengan hadir di dalamnya.

Mengirim uang tidak sama dengan mengetahui keadaan anak.

Dan mendengar jawaban baik-baik saja tidak berarti semuanya benar-benar baik.

Suatu malam, aku memasak bersama Alya dan Gilang di dapur.

Gilang menjatuhkan telur ke lantai.

Dia langsung pucat.

“Maaf, Ayah.”

Aku tertawa kecil.

“Nggak apa-apa. Ambil telur lagi.”

Dia menatapku ragu.

“Boleh?”

Aku membuka kabinet makanan.

Gemboknya sudah lama kubuang.

“Gilang.”

“Iya?”

“Di rumah ini, kamu nggak perlu minta izin kalau lapar.”

Dia diam beberapa detik.

Kemudian memeluk pinggangku.

Alya ikut memeluk dari samping.

Saat itulah aku sadar bahwa rahasia terbesar yang kutemukan di rumah kami bukan penggelapan uang, dokumen palsu, atau pengkhianatan istriku.

Rahasia terbesar itu jauh lebih menyakitkan.

Selama bertahun-tahun aku mengira tugasku sebagai ayah adalah bekerja keras agar anak-anakku tidak kekurangan apa pun.

Padahal pada saat mereka paling membutuhkan perlindunganku, aku bahkan tidak tahu mereka sedang kelaparan.

Sejak malam itu, aku membuat satu janji kepada mereka.

Aku mungkin tidak bisa mengembalikan hari-hari ketika mereka menungguku pulang.

Aku tidak bisa menghapus rasa takut yang telanjur tumbuh di kepala mereka.

Tetapi selama aku masih hidup, tidak akan pernah lagi ada pintu terkunci antara anak-anakku dan sesuatu yang mereka butuhkan.

Karena terkadang, keluarga tidak hancur ketika uang habis atau rumah hilang.

Keluarga hancur ketika seseorang berhenti melihat apa yang sebenarnya terjadi pada orang-orang yang paling ia cintai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang