Hendra tidak langsung mendobrak kamar Dimas dan Tari.
Ia tahu, jika dugaannya benar, satu kesalahan kecil bisa membuat semua bukti lenyap sebelum ia sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Maka malam itu ia kembali duduk di tepi ranjang, memasang wajah setenang mungkin, meski pikirannya berputar liar.
Sekitar pukul dua dini hari, terdengar suara pintu kamar sebelah dibuka.
Hendra mematikan layar ponselnya.
Dari celah pintu, ia melihat Tari berjalan menuju dapur sambil membawa sebuah ponsel berwarna hitam.
Hendra mengenali casing itu.
Casing bening dengan goresan kecil di sudut kiri.
Ia sendiri yang membelikannya untuk Siska dua tahun lalu.
Tari membuka kulkas, mengambil air, lalu meletakkan ponsel itu di atas meja dapur.
Beberapa detik kemudian, layar menyala.
Di sana terlihat foto Arka.
Hendra hampir kehilangan kendali.
Namun ia menahan diri.
Ia baru bergerak setelah Tari kembali masuk ke kamar.
Pagi berikutnya, Hendra turun ke ruang makan dengan wajah biasa saja.
“Masih capek?” tanya Bu Maya.
“Lumayan.”
Tari menyodorkan secangkir kopi.
“Kamu jangan terlalu memikirkan Siska. Perempuan seperti dia tidak pantas ditunggu.”
Hendra menerima kopi itu tanpa meminumnya.
“Benar juga.”
Tari terlihat sedikit lega.
Hendra lalu berkata, “Aku mau ke bank siang ini. Banyak urusan dari Jepang yang harus dibereskan.”
Dimas langsung menoleh.
“Bank?”
“Iya. Sekalian cek rekening lama.”
Untuk sesaat, wajah Dimas berubah.
Hanya sebentar.
Tetapi cukup untuk ditangkap Hendra.
Setelah sarapan, Hendra pergi menggunakan mobil yang baru dibelinya.
Namun tujuannya bukan langsung ke bank.
Ia mendatangi rumah sahabat lamanya, Bayu, seorang teknisi komputer yang dahulu sering membantunya sebelum ia berangkat ke Jepang.
Bayu terkejut melihat Hendra berdiri di depan rumahnya.
“Kamu pulang tanpa kabar?”
“Aku butuh bantuan.”
Nada suara Hendra membuat Bayu tidak bertanya macam-macam.
Di ruang kerja kecil milik Bayu, Hendra menceritakan semuanya.
Tentang pesan misterius.
Tentang ponsel Siska di kamar Dimas.
Tentang uang Rp420 juta.
Tentang Arka yang tidak jelas keberadaannya.
Bayu terdiam cukup lama.
“Kalau nomor Siska masih aktif dan ponselnya ada di rumah, kita mungkin bisa melihat riwayat perangkat dari akun yang pernah dia pakai. Tapi kamu punya akses?”
Hendra mengeluarkan sebuah buku kecil dari tasnya.
“Siska selalu menulis sandi penting di buku ini. Katanya takut lupa.”
Beberapa kali percobaan gagal.
Sampai akhirnya Bayu berhasil masuk ke akun penyimpanan awan milik Siska.
Hendra menahan napas.
Di sana terdapat cadangan foto, kontak, dan beberapa dokumen.
Namun yang paling membuatnya terpaku adalah sebuah folder bernama ARKA.
Folder itu terakhir diperbarui dua bulan sebelumnya.
Di dalamnya ada puluhan foto Arka.
Bukan di rumah Hendra.
Melainkan di sebuah kamar kontrakan sederhana.
Ada foto Arka sedang belajar.
Ada foto Siska memasak dengan kompor kecil.
Ada pula satu foto pria yang sama dengan pria di sepeda motor yang ditunjukkan Tari.
Namun foto itu memperlihatkan sesuatu yang sama sekali berbeda.
Pria tersebut mengenakan seragam klinik.
Di belakangnya terdapat papan nama.
Klinik Harapan Bunda.
“Jadi dia bukan selingkuhan?” gumam Bayu.
Hendra tidak menjawab.
Ia memperbesar foto.
Pria itu terlihat sedang membantu Siska mengangkat Arka yang tertidur.
Di sudut foto terdapat tulisan tangan Siska.
Terima kasih, Dokter Reza, sudah membantu kami keluar dari rumah itu malam ini.
Darah Hendra serasa berhenti mengalir.
Keluar dari rumah itu.
Bukan kabur.
Keluar.
Hendra langsung mencari alamat klinik tersebut.
Siang itu juga, ia pergi ke sana.
Klinik Harapan Bunda berada di sebuah jalan kecil di kawasan Waru.
Begitu menunjukkan foto pria tersebut, petugas resepsionis langsung mengenalinya.
“Itu Dokter Reza. Tapi beliau sedang praktik di lantai dua.”
Hendra menunggu hampir tiga puluh menit.
Ketika Reza muncul, Hendra segera berdiri.
“Saya suami Siska.”
Wajah Reza langsung berubah.
Ia menatap Hendra lama, seolah sedang memastikan sesuatu.
“Anda Hendra?”
“Iya.”
Reza mengembuskan napas.
“Akhirnya Anda pulang.”
Kalimat itu membuat tengkuk Hendra merinding.
Mereka masuk ke sebuah ruangan kosong.
Reza menutup pintu.
“Siska pernah bilang, kalau Anda benar-benar pulang sendiri tanpa diketahui keluarga, saya boleh menceritakan semuanya.”
Hendra mengepalkan tangan.
“Di mana istri dan anak saya?”
“Mereka aman.”
Hendra hampir menangis saat mendengar satu kata itu.
Aman.
Tujuh tahun ia bisa menghadapi dinginnya Tokyo, tekanan pekerjaan, utang usaha, bahkan kegagalan.
Namun mendengar anak dan istrinya masih aman membuat pertahanannya runtuh.
Ia menunduk dan menutup wajah beberapa detik.
“Kenapa Siska pergi?”
Reza lalu menceritakan sesuatu yang sama sekali tidak dibayangkan Hendra.
Masalah bermula sekitar satu tahun lalu.
Dimas terlilit utang besar setelah bisnis investasinya gagal.
Diam-diam ia meminjam uang dari beberapa orang dengan jaminan aset yang sebenarnya bukan miliknya.
Ketika utang semakin besar, Dimas mulai memanfaatkan kiriman uang Hendra.
Awalnya hanya beberapa juta.
Lalu puluhan juta.

Siska mulai curiga ketika pembangunan rumah sering kekurangan dana meski Hendra terus mengirim uang dalam jumlah besar.
Ia kemudian memeriksa rekening bersama keluarga yang digunakan untuk biaya pembangunan.
Dari situlah Siska menemukan banyak transaksi mencurigakan.
Ada uang yang dipindahkan ke rekening Tari.
Ada pembayaran utang Dimas.
Ada pula pembelian mobil bekas yang kemudian dijual kembali.
Siska mencoba membicarakannya dengan Bu Maya.
Namun ibunya justru membela Dimas.
“Dia kakakmu,” kata Bu Maya saat itu. “Hendra sudah sukses. Uang segitu tidak akan membuatnya miskin.”
Siska menolak diam.
Ketika Hendra mengirim Rp420 juta untuk menyelesaikan dapur, membeli perabot, dan menyiapkan kamar Arka, Siska meminta agar uang tersebut masuk langsung ke rekeningnya.
Dimas marah.
Ia merasa Siska mulai menghalangi aksesnya terhadap uang Hendra.
Pertengkaran pun semakin sering terjadi.
Puncaknya terjadi tiga bulan lalu.
Dimas meminta Siska mentransfer Rp300 juta dengan alasan ada pembayaran material mendesak.
Siska menolak.
Malam itu, pertengkaran berubah menjadi kekerasan.
Dimas mendorong Siska hingga jatuh.
Arka yang melihat kejadian itu berteriak dan mencoba melindungi ibunya.
Bu Maya bukannya menghentikan Dimas.
Ia justru menyalahkan Siska karena dianggap membuat keluarga kacau.
Tari lalu mengambil ponsel Siska.
Mereka mengunci Siska dan Arka di kamar selama beberapa jam.
“Bagaimana mereka bisa keluar?” tanya Hendra.
“Arka demam tinggi malam itu,” jawab Reza. “Siska memaksa mereka membawa Arka ke klinik. Saya yang bertugas.”
Saat itulah Siska diam-diam bercerita kepada Reza.
Reza membantu Siska dan Arka pergi setelah pemeriksaan.
Ia mengantar mereka ke rumah saudara perempuannya.
Foto saat naik sepeda motor diambil seseorang ketika mereka meninggalkan klinik.
Kemungkinan besar Dimas atau Tari mendapatkan foto itu dan menggunakannya untuk membuat cerita perselingkuhan.
“Lalu uang Rp420 juta?”
Reza menggeleng.
“Siska tidak pernah mengambilnya.”
Hendra pulang menjelang malam dengan kepala penuh kemarahan.
Namun kemarahan itu kini sangat dingin.
Ia tidak ingin sekadar berteriak.
Ia ingin mengetahui seluruh kebenaran.
Keesokan harinya, Hendra mendatangi bank.
Sebagai pengirim dana, ia meminta catatan transaksi rekening yang selama bertahun-tahun digunakan untuk pembangunan rumah.
Apa yang ditemukannya lebih buruk daripada dugaan.
Dalam lima tahun terakhir, hampir Rp1,3 miliar telah dialihkan ke beberapa rekening yang terhubung dengan Dimas dan Tari.
Rp420 juta yang dituduhkan kepada Siska ternyata tidak pernah masuk ke rekening Siska.
Uang itu masuk ke rekening proyek.
Dua hari kemudian, Rp350 juta dipindahkan ke rekening perusahaan milik seorang rekan Dimas.
Sisanya ditarik tunai secara bertahap.
Hendra menggandakan semua dokumen.
Ia juga membuat laporan kepada polisi.
Namun ia meminta agar proses awal dilakukan tanpa diketahui keluarganya.
Malam berikutnya, Hendra pulang seperti biasa.
Saat makan malam, ia berkata santai, “Aku sudah putuskan rumah ini mau direnovasi total.”
Dimas tersenyum.
“Bagus. Sekalian bikin lantai tiga.”
“Bukan.”
Hendra menatap kakaknya.
“Aku mau menjualnya.”
Sendok Tari terlepas dari tangannya.
Bu Maya langsung menatap Hendra.
“Jual? Ini rumah keluarga.”
“Tanahnya atas namaku. Rumahnya dibangun dengan uangku.”
Dimas mulai gelisah.
“Kenapa tiba-tiba?”
Hendra tersenyum tipis.
“Karena aku mau memulai hidup baru.”
Tari buru-buru berkata, “Kalau begitu jangan terburu-buru. Banyak barang keluarga di sini.”
“Benar.”
Hendra mengangguk.
“Termasuk ponsel Siska.”
Ruangan langsung membeku.
Wajah Tari pucat.
Dimas berdiri.
“Apa maksudmu?”
Hendra mengeluarkan ponselnya lalu menekan sebuah nomor.
Dari kamar Dimas, terdengar nada dering.
Tidak ada seorang pun bergerak.
Hendra menatap mereka satu per satu.
“Itu nomor istriku.”
Bu Maya tampak panik.
“Hendra, dengarkan Ibu dulu.”
“Selama tujuh tahun aku selalu mendengarkan Ibu.”
Suara Hendra rendah.
“Sekarang giliran kalian yang mendengarkan aku.”
Ia meletakkan setumpuk salinan transaksi bank di atas meja.
Dimas menatapnya dan langsung kehilangan warna wajah.
“Rp1,3 miliar.”
Hendra menatap kakaknya.
“Bukan Rp420 juta. Selama bertahun-tahun kalian mengambil lebih dari Rp1,3 miliar dari uang yang kukirim.”
Dimas mencoba menyangkal.
“Itu dipakai untuk rumah.”
“Sebagian.”
Hendra membuka lembar lain.
“Yang ini cicilan utangmu. Yang ini transfer ke Tari. Yang ini pembayaran mobil. Yang ini uang muka investasi.”
Tari mulai menangis.
Bu Maya berkata, “Hendra, Dimas cuma sedang kesulitan. Dia tetap kakakmu.”
Hendra menatap ibunya dengan mata merah.
“Dan Siska tetap istriku.”
Bu Maya terdiam.
“Arka tetap cucu Ibu.”
Suara Hendra pecah untuk pertama kalinya.
“Anak tujuh tahun itu melihat ibunya didorong, dikunci di kamar, lalu dipaksa pergi dari rumah ayahnya sendiri. Tapi Ibu masih bicara soal Dimas sedang kesulitan?”
Dimas tiba-tiba membentak.
“Karena semua selalu tentang kamu!”
Ia menghantam meja.
“Kamu pergi ke Jepang, lalu kirim uang dan semua orang menganggap kamu pahlawan. Ibu bangga sama kamu. Tetangga membicarakan kamu. Bahkan rumah ini disebut rumah Hendra. Aku tinggal di sini seperti numpang di rumah adikku sendiri!”
Hendra menatapnya tanpa berkedip.
“Jadi kamu mencuri karena iri?”
Dimas terdiam.
“Aku cuma mengambil bagian yang seharusnya menjadi milikku.”
“Tidak.”
Hendra berdiri.
“Kamu mengambil sesuatu yang bukan milikmu, lalu menghancurkan nama istriku supaya aku tidak bertanya.”
Tepat setelah itu, terdengar suara mobil berhenti di halaman.
Dimas menoleh ke jendela.
Dua petugas polisi masuk bersama seorang penyidik.
Tari langsung menangis histeris.
Bu Maya terduduk.
Dimas mundur beberapa langkah.
“Hendra, kamu melaporkan kakakmu sendiri?”
Hendra menjawab pelan.
“Tidak. Aku melaporkan orang yang mengambil uangku, menguasai ponsel istriku, dan membuat keluargaku hidup dalam ketakutan.”
Beberapa hari kemudian, Siska dan Arka akhirnya pulang.
Namun bukan ke rumah besar itu.
Hendra menjemput mereka di sebuah kontrakan kecil.
Ketika pintu terbuka, Arka berdiri di sana.
Anaknya kini jauh lebih tinggi daripada terakhir kali Hendra melihatnya secara langsung.
Selama beberapa detik, keduanya hanya saling memandang.
Arka terlihat ragu.
Tujuh tahun adalah waktu yang sangat panjang bagi seorang anak.
Hendra berlutut.
“Ayah pulang.”
Bibir Arka bergetar.
Lalu anak itu berlari dan memeluknya.
Hendra memeluk Arka sekuat tenaga.
Semua uang yang pernah dikumpulkannya tiba-tiba terasa tidak berarti dibandingkan tubuh kecil yang gemetar di pelukannya.
Siska berdiri di belakang mereka.
Wajahnya jauh lebih kurus.
Hendra bangkit perlahan.
“Maaf.”
Hanya itu yang mampu ia ucapkan.
Siska menahan air mata.
“Aku tidak butuh kamu minta maaf karena bekerja.”
Hendra menatapnya.
“Aku butuh.”
Siska menggeleng.
“Aku cuma berharap setelah ini kamu mengerti. Keluarga tidak selalu membutuhkan kiriman uang. Kadang mereka membutuhkan seseorang yang benar-benar hadir.”
Kalimat itu menghantam Hendra lebih keras daripada tuduhan apa pun.
Beberapa bulan kemudian, proses hukum terhadap Dimas tetap berjalan.
Sebagian uang berhasil dilacak dan dibekukan.
Tari memilih bekerja sama dengan penyidik dan mengakui bagaimana mereka menggunakan ponsel Siska untuk mengirim pesan palsu.
Bu Maya akhirnya meminta maaf kepada Siska.
Namun Siska tidak langsung kembali seperti dahulu.
Kepercayaan membutuhkan waktu.
Hendra menjual rumah besar itu.
Keputusan tersebut membuat banyak orang terkejut.
Dengan sebagian hasil penjualan, ia membeli rumah yang jauh lebih kecil di pinggiran Surabaya.
Rumah itu tidak memiliki tangga marmer.
Tidak ada ruang tamu mewah.
Tidak ada halaman luas.
Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah itu benar-benar terasa seperti rumah.
Hendra juga mengambil keputusan yang tidak pernah dibayangkannya saat masih di Jepang.
Ia menunjuk rekannya untuk mengelola perusahaan di Tokyo dan memilih menetap lebih lama di Indonesia.
Suatu sore, ia duduk di teras bersama Arka.
Anaknya sedang mengerjakan tugas sekolah.
Siska menyiram tanaman kecil di depan rumah.
Tiba-tiba Arka bertanya, “Ayah menyesal pulang?”
Hendra tersenyum.
“Kenapa tanya begitu?”
“Karena setelah Ayah pulang, semuanya jadi kacau.”
Hendra memandang rumah sederhana di depannya.
Lalu ia melihat Siska.
Ia melihat Arka.
“Tidak.”
Hendra menggeleng.
“Ayah justru menyesal kenapa baru pulang sekarang.”
Arka tersenyum kecil.
Hendra lalu memahami sesuatu yang selama tujuh tahun tidak pernah diajarkan oleh angka di rekening bank mana pun.
Ia memang berhasil membawa pulang tabungan bernilai miliaran rupiah.
Tetapi kekayaan terbesar yang hampir hilang darinya bukanlah uang Rp420 juta.
Bukan pula rumah besar yang dibangunnya.
Melainkan kepercayaan seorang istri dan masa kecil seorang anak yang tidak bisa dibeli kembali dengan uang sebanyak apa pun.
