Aku tidak perlu membalas penghinaan Pak Rendy dengan kemarahan.
Aku hanya perlu menunggu sampai semua orang kembali duduk di meja rapat.
Lima belas menit berlalu terasa jauh lebih lama dari biasanya.
Satu per satu para direksi kembali masuk ke ruangan. Pak Hendra menjadi orang terakhir yang duduk. Wajahnya terlihat serius setelah menerima panggilan tadi.
Mr. Vladimir Volkov kembali menempati kursinya di seberang meja. Di sebelahnya duduk seorang pengacara Rusia bernama Elena Morozova dan dua penasihat investasi.
Pak Rendy segera berdiri.
“Baik, Bapak dan Ibu. Kita lanjutkan pembahasan mengenai struktur kepemilikan dan tahap akhir penandatanganan.”
Aku masih duduk di ujung meja dengan dua dokumen di hadapanku.
Satu versi bahasa Inggris.
Satu versi bahasa Rusia.
Jantungku berdetak keras, tetapi pikiranku justru terasa sangat jernih.
Aku tahu ada dua kemungkinan.
Aku bisa diam dan membiarkan dokumen itu ditandatangani.
Karierku mungkin aman sampai besok pagi, sebelum surat pemecatan yang tadi dibicarakan Pak Rendy benar-benar sampai ke mejaku.
Atau aku bisa bicara sekarang dan mempertaruhkan pekerjaanku dalam hitungan detik.
Aku teringat wajah kakek.
“Kalau kamu melihat kesalahan dan memilih diam hanya karena takut, ketakutanmu ikut menjadi bagian dari kesalahan itu.”
Aku menarik napas.
Pak Rendy membuka halaman terakhir dokumen.
“Seperti yang sudah disepakati, Volkov Enterprises akan memperoleh tiga puluh dua persen kepemilikan dalam konsorsium proyek.”
Mr. Volkov mengangguk.
“Thirty-two percent,” katanya dalam bahasa Inggris.
Aku menunduk sekali lagi pada dokumen Rusia.
Tertulis tiga puluh delapan persen.
Tanganku terasa dingin.
Selisih enam persen dalam proyek senilai Rp1,5 triliun bukan kesalahan ketik biasa.
Nilainya hampir Rp90 miliar.
Pak Rendy mendorong dokumen ke arah investor Rusia.
“Jika tidak ada pertanyaan lain, kita bisa masuk ke proses penandatanganan.”
Elena Morozova mulai membalik halaman.
Aku berdiri.
“Maaf, Pak.”
Seluruh ruangan menoleh.
Pak Rendy langsung mengerutkan kening.
“Maya, duduk.”
Aku tetap berdiri.
“Ada perbedaan antara dokumen bahasa Inggris dan dokumen bahasa Rusia.”
Wajah Pak Rendy berubah.
Hanya sepersekian detik.
Namun aku melihatnya.
Pak Hendra menatapku tajam.
“Perbedaan apa?”
Pak Rendy tertawa kecil.
“Pak Hendra, mungkin Maya salah memahami dokumennya. Dia bukan penerjemah utama.”
Kemudian dia menoleh kepadaku.
“Duduk. Jangan mengganggu rapat.”
Aku mengambil dokumen Rusia dan mengangkatnya.
“Pada pasal tujuh ayat tiga, dokumen bahasa Inggris mencantumkan kepemilikan Volkov Enterprises sebesar tiga puluh dua persen. Versi Rusia mencantumkan tiga puluh delapan persen.”
Ruangan mendadak sunyi.
Elena segera mengambil dokumen dari tanganku.
Dia membaca cepat.
Mr. Volkov ikut mendekat.
Pak Dion dan Pak Aris saling memandang.
Pak Rendy tersenyum kaku.
“Kesalahan penerjemahan bisa terjadi. Itu sebabnya kita punya tim hukum.”
Aku belum selesai.
“Nilai kontribusi modal juga berbeda, Pak.”
Pak Hendra berdiri perlahan.
“Berapa?”
“Versi Inggris mencantumkan 480 miliar rupiah. Versi Rusia mencantumkan ekuivalen sekitar 570 miliar rupiah.”
Tidak ada lagi yang tersenyum.
Elena mengucapkan sesuatu dalam bahasa Rusia kepada Mr. Volkov.
Pak Rendy langsung menyela menggunakan bahasa Rusia.
Dia berusaha tertawa.
“Jangan terlalu dipikirkan. Gadis itu junior. Kemungkinan dia bahkan tidak mengerti konteks dokumennya.”
Itulah saatnya.
Aku mengangkat kepala dan menatap langsung ke arahnya.
Lalu aku menjawab dalam bahasa Rusia yang selama bertahun-tahun dia yakini tidak mungkin kupahami.
“Saya memahami konteksnya dengan sangat baik, Pak Rendy. Sama baiknya dengan saya memahami semua perkataan Anda lima belas menit yang lalu.”
Wajahnya membeku.
Pak Dion menjatuhkan pulpen.
Pak Aris berhenti bernapas sejenak.
Aku melanjutkan, masih dalam bahasa Rusia.
“Termasuk ketika Anda mengatakan saya terlalu bodoh untuk memahami percakapan Anda.”
Tidak ada suara.
Bahkan dengung pendingin ruangan terasa lebih keras daripada biasanya.
Aku mengalihkan pandangan kepada Pak Dion.
“Dan ketika Bapak bertanya apakah saya curiga kalian sedang membicarakan saya.”
Lalu kepada Pak Aris.
“Dan ketika kalian tertawa karena saya dianggap lebih cocok menjaga toko daripada bekerja di perusahaan investasi.”
Wajah mereka memucat.
Pak Rendy mencoba membuka mulut.
Aku belum memberinya kesempatan.
“Juga ketika Pak Rendy mengatakan bahwa besok pagi surat pemecatan saya akan diserahkan karena orang seperti saya dianggap merusak citra kantor pusat.”
Aku berhenti.
Sekarang aku kembali menggunakan bahasa Indonesia.
“Semua kalimat itu saya pahami, Pak.”
Pak Hendra menatap Pak Rendy seperti sedang melihat orang asing.

“Benar kamu mengatakan itu?”
“Pak Hendra, ini salah paham.”
“Saya bertanya benar atau tidak?”
Pak Rendy menelan ludah.
“Percakapan pribadi, Pak. Hanya bercanda.”
Mr. Volkov mendadak berbicara dalam bahasa Rusia.
Nada suaranya dingin.
Aku menerjemahkannya tanpa diminta.
“Mr. Volkov mengatakan penghinaan terhadap staf mungkin urusan internal perusahaan. Tetapi dokumen yang berbeda bukan urusan internal. Itu menyangkut mereka.”
Pak Hendra menatapku.
“Kamu bisa bahasa Rusia?”
“Bisa, Pak.”
“Seberapa bisa?”
“Fasih.”
Pak Rendy menyela.
“Pak, siapa pun bisa menghafal beberapa kalimat.”
Mr. Volkov menatapku.
Kemudian dia mulai berbicara panjang dalam bahasa Rusia dengan kecepatan yang sengaja dibuat sangat cepat.
Ia membahas distribusi hak suara, risiko dilusi saham, klausul arbitrase internasional, dan mekanisme exit investor.
Aku mendengarkan sampai selesai.
Kemudian menerjemahkan semuanya ke bahasa Indonesia hampir tanpa jeda.
Wajah Pak Hendra perlahan berubah.
Bukan hanya karena terkejut.
Tetapi karena mulai memahami bahwa selama ini ada sesuatu tentangku yang tidak pernah mereka ketahui.
Elena kemudian bertanya kepadaku dalam bahasa Prancis.
Aku menjawab dalam bahasa yang sama.
Salah seorang direktur regional yang duduk di ujung meja spontan menoleh.
“Vous parlez français aussi?”
“Oui.”
Pak Hendra mengerutkan kening.
“Maya, sebenarnya kamu menguasai berapa bahasa?”
“Enam bahasa asing, Pak.”
Ruangan kembali hening.
Pak Rendy memandangku seolah baru pertama kali melihat wajahku.
Aku tidak merasakan kepuasan melihat ketakutannya.
Yang kurasakan justru sesuatu yang lebih aneh.
Sedih.
Karena aku sadar betapa mudahnya manusia menilai kemampuan seseorang hanya dari pakaian, asal daerah, atau jabatan yang tertulis di kartu identitas.
Namun masalah sebenarnya belum selesai.
Elena menutup dokumennya.
“Who prepared this Russian version?”
Pak Hendra langsung melihat halaman terakhir.
Kemudian matanya berhenti pada satu nama.
Rendy Pratama.
Pak Rendy buru-buru berbicara.
“Saya hanya melakukan final review. Terjemahan dikerjakan vendor.”
Aku membuka halaman lain.
“Pak, ada hal lain.”
Pak Rendy langsung menatapku.
Kali ini bukan meremehkan.
Melainkan takut.
Aku menunjukkan lampiran nomor sembilan.
“Perbedaan angka tidak hanya muncul sekali.”
Aku sudah menandai tiga bagian.
Nilai kepemilikan berbeda.
Kontribusi modal berbeda.
Dan satu klausul mengenai biaya konsultasi tambahan tidak muncul sama sekali dalam versi bahasa Inggris.
Nilainya hampir Rp24 miliar.
Pak Hendra membaca perlahan.
“Apa ini?”
Pak Rendy menggeleng cepat.
“Saya tidak tahu.”
Aku menunjuk metadata revisi yang tercetak kecil di halaman dokumentasi internal.
“Versi ini direvisi tiga hari lalu menggunakan akun internal Pak Rendy.”
Pak Dion mendadak menunduk.
Pak Hendra menangkap gerakannya.
“Dion.”
Tidak ada jawaban.
“Dion, lihat saya.”
Pak Dion perlahan mengangkat wajah.
Keringat terlihat di dahinya.
Pak Hendra berdiri.
“Saya mau jawaban sekarang.”
Pak Dion akhirnya berbicara dengan suara bergetar.
“Saya cuma mengikuti instruksi.”
Pak Rendy langsung membentak.
“Instruksi apa? Jangan bicara sembarangan!”
Pak Hendra menghantam meja dengan telapak tangannya.
“Cukup!”
Ruangan membeku.
Pak Dion menarik napas panjang.
“Pak Rendy meminta versi Rusia diubah sebelum rapat.”
Wajah Pak Rendy kehilangan warna.
“Dia bilang nanti perbedaannya akan diselesaikan melalui addendum setelah penandatanganan.”
Pak Hendra bertanya, “Untuk apa klausul biaya konsultasi Rp24 miliar?”
Pak Dion terdiam.
Pak Aris tiba-tiba berbicara.
“Saya tahu.”
Semua orang menoleh.
“Biaya itu akan masuk ke perusahaan konsultan di Singapura.”
“Perusahaan siapa?”
Pak Aris menunduk.
“Pemilik manfaat akhirnya adalah adik ipar Pak Rendy.”
Suasana yang tadinya tegang berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berat.
Ini bukan lagi persoalan penghinaan.
Bukan pula kesalahan administrasi.
Pak Hendra langsung meminta Direktur Legal memanggil tim compliance dan internal audit.
Seluruh proses penandatanganan dihentikan.
Laptop Pak Rendy diamankan.
Aksesnya ke sistem perusahaan dibekukan saat itu juga.
Mr. Volkov sebenarnya bisa saja meninggalkan ruangan dan membatalkan seluruh transaksi.
Aku bahkan sudah membayangkan Horizon Global Capital kehilangan proyek terbesar tahun itu.
Namun dia tidak pergi.
Sebaliknya, dia menatapku cukup lama.
Kemudian berbicara melalui bahasa Rusia.
Aku menerjemahkannya sendiri.
“Mr. Volkov mengatakan, perusahaan yang tidak pernah melakukan kesalahan tidak ada. Yang menentukan kualitas perusahaan adalah apa yang dilakukan ketika kesalahan ditemukan.”
Pak Hendra mengangguk.
Mr. Volkov melanjutkan.
“Dan hari ini, kesalahan itu ditemukan oleh orang yang bahkan tidak diberi kursi utama di meja ini.”
Aku terdiam.
Setelah rapat dihentikan, aku kembali ke mejaku.
Kakiku baru terasa lemas ketika pintu lift tertutup.
Di toilet lantai dua puluh delapan, aku berdiri di depan wastafel dan menatap diriku sendiri di cermin.
Kemeja putihku masih sama.
Rok hitam murahku masih sama.
Tidak ada yang berubah.
Namun entah mengapa, perempuan di cermin itu terasa berbeda.
Ponselku bergetar.
Pesan dari nomor tidak dikenal masuk.
“Besok pukul sembilan pagi, datang ke ruang CEO.”
Aku hampir tidak tidur malam itu.
Kupikir aku akan diminta memberikan kesaksian.
Atau mungkin perusahaan tetap akan memberhentikanku karena dianggap mempermalukan seorang senior di depan investor.
Pukul 08.55 keesokan harinya, aku berdiri di depan ruang Pak Hendra.
Sekretarisnya mempersilahkanku masuk.
Pak Hendra duduk seorang diri.
Di atas mejanya terdapat satu map.
“Maya.”
“Ya, Pak.”
“Internal audit bekerja sampai dini hari.”
Aku diam.
“Mereka menemukan bukti komunikasi, perubahan dokumen, dan aliran dana yang cukup untuk membawa kasus ini ke ranah hukum.”
Dadaku sesak.
“Pak Rendy diberhentikan efektif pagi ini. Dion dan Aris diskors sambil menunggu pemeriksaan.”
Aku hanya mengangguk pelan.
Pak Hendra kemudian mendorong map ke arahku.
“Ini bukan surat pemecatanmu.”
Aku membukanya.
Tanganku langsung berhenti.
Surat promosi.
Posisi baruku adalah International Negotiation Specialist.
Dua tingkat di atas jabatanku sebelumnya.
Aku menatap Pak Hendra.
“Pak, saya…”
“Saya sudah membaca CV lama kamu.”
Dia tersenyum tipis.
“Ternyata bagian kemampuan bahasa hanya mencantumkan English, advanced.”
Aku menunduk.
“Waktu wawancara dulu saya takut dianggap melebih-lebihkan kemampuan, Pak.”
“Jadi kamu menyembunyikan lima bahasa lainnya?”
Aku tersenyum kecil.
“Mungkin itu kesalahan saya.”
Pak Hendra menggeleng.
“Bukan. Kesalahan kami karena tidak pernah cukup penasaran pada orang-orang yang bekerja di perusahaan ini.”
Dia berhenti sebentar.
“Mr. Volkov meminta satu syarat sebelum negosiasi dilanjutkan.”
Aku menegang.
“Apa, Pak?”
“Dia ingin kamu hadir sebagai bagian resmi tim negosiasi.”
Aku sampai mengira salah dengar.
“Tapi saya masih junior.”
Pak Hendra tersenyum.
“Kemarin kamu junior. Hari ini tidak lagi.”
Tiga bulan kemudian, investasi Volkov Enterprises akhirnya ditandatangani.
Bukan dengan nilai Rp1,5 triliun.
Setelah struktur transaksi diperbaiki dan kepercayaan mereka pulih, nilai investasinya meningkat menjadi Rp1,8 triliun.
Hari penandatanganan itu aku duduk di kursi utama tim negosiasi.
Aku masih mengenakan pakaian sederhana.
Bedanya, kali ini tidak ada yang memintaku mengambil kopi.
Ketika acara selesai, Mr. Volkov menghampiriku.
Dalam bahasa Rusia dia bertanya, “Siapa yang mengajarimu bahasa saya?”
“Kakek saya.”
“Dia orang Rusia?”
Aku tersenyum.
“Bukan. Dia orang Jawa.”
Mr. Volkov tertawa.
Lalu mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih kuingat.
“Kakekmu pasti orang yang hebat.”
Aku mengangguk.
“Dia pernah mengatakan bahwa orang sering menunjukkan wajah aslinya ketika yakin tidak ada yang memahami mereka.”
Mr. Volkov tersenyum.
“Dan sekarang?”
Aku melihat ruangan yang sama.
Meja panjang yang sama.
Jendela yang sama.
Hanya posisi dudukku yang berbeda.
“Sekarang saya tahu ada pelajaran yang lebih penting.”
“Apa?”
Aku menjawab pelan.
“Jangan pernah menganggap seseorang tidak mengerti hanya karena dia memilih diam.”
Beberapa minggu kemudian, saat membereskan meja lama Pak Rendy sebelum ruangan itu diberikan kepada manajer baru, staf administrasi menemukan satu amplop cokelat di dalam laci.
Di depannya tertulis namaku.
Maya.
Di dalamnya terdapat surat pemecatan yang sudah ditandatangani Pak Rendy sehari sebelum rapat dengan Volkov Enterprises.
Tanggal efektifnya memang keesokan pagi setelah pertemuan itu.
Alasannya hanya satu kalimat.
“Tidak memenuhi standar representasi profesional perusahaan.”
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Lalu tertawa kecil.
Surat yang seharusnya mengakhiri karierku justru menjadi benda terakhir yang tersisa dari karier orang yang menulisnya.
Aku tidak membuang surat itu.
Aku membawanya pulang ke Jawa Tengah dan menunjukkannya kepada kakek.
Kakek membaca tanpa banyak bicara.
Setelah selesai, dia meletakkannya di atas meja kayu tua di ruang tengah.
“Lalu kamu membalas orang itu dengan apa?”
Aku berpikir sebentar.
“Dengan bahasa Rusia.”
Kakek tertawa.
“Bukan itu maksud Kakek.”
Aku ikut tersenyum.
“Saya membalasnya dengan mengatakan yang sebenarnya.”
Kakek mengangguk puas.
“Nah. Itu bahasa yang paling sulit dikuasai.”
Malam itu aku akhirnya memahami sesuatu.
Kemampuan berbicara enam bahasa memang mengubah hidupku.
Tetapi bukan bahasa Rusia yang menyelamatkanku di ruang rapat itu.
Yang menyelamatkanku adalah keberanian untuk berbicara ketika diam justru akan membuat sebuah kebohongan menang.
Sejak hari itu, setiap kali ada karyawan baru yang terlihat gugup, berpakaian sederhana, berasal dari kota kecil, atau terlalu pendiam untuk memperkenalkan kemampuan mereka sendiri, aku selalu mengingat satu hal.
Kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa luas dunia yang tersembunyi di dalam diri seseorang.
Karena orang paling tenang di ruangan bukan berarti orang yang paling lemah.
Terkadang dia hanya sedang mendengarkan.
Dan menunggu saat yang tepat untuk mengangkat kepala.
