Maya tidak langsung keluar untuk menghadapi mereka.
Ia mengambil ponsel, memotret setiap halaman di dalam stopmap biru itu satu per satu. Denah rumah. Catatan pembongkaran. Rencana perubahan fungsi ruangan. Sampai kalimat tulisan tangan Rendy yang menyatakan bahwa semua harus diselesaikan sebelum Maya sempat menolak.
Setelah itu, Maya mengembalikan semua dokumen persis seperti semula.
Ia bahkan menggeser ujung stopmap beberapa sentimeter agar posisinya tidak berubah.
Baru kemudian ia membuka lemari dokumen miliknya.
Sertifikat rumah masih ada.
Akta jual beli masih tersimpan rapi.
Semua dokumen menunjukkan satu fakta yang tidak dapat diperdebatkan.
Rumah dan tanah itu dibeli atas nama Maya Devina, tiga tahun sebelum ia menikah dengan Rendy.
Tidak ada nama Rendy di sana.
Tidak ada nama Ibu Endang.
Maya mengeluarkan napas perlahan.
Di luar, suara mereka terdengar semakin riuh.
“Ibu mau pohon mangga di dekat pagar itu dipotong juga,” kata Ibu Endang.
“Bisa, Bu,” jawab Rendy.
“Masih banyak yang harus dibereskan sebelum Minggu.”
Maya menutup lemari.
Lalu ia menelepon seseorang.
“Pak Arif, maaf mengganggu Sabtu siang.”
Pak Arif adalah notaris yang dulu menangani pembelian rumah tersebut.
“Maya? Ada apa?”
“Saya perlu memastikan satu hal. Rumah saya di Lembang masih tercatat sebagai harta bawaan saya sepenuhnya, kan?”
“Betul. Dibeli sebelum pernikahan dan tidak pernah dimasukkan ke perjanjian kepemilikan bersama. Kenapa?”
“Kalau suami saya melakukan renovasi besar tanpa izin saya?”
Nada suara Pak Arif berubah serius.
“Renovasi biasa atau perubahan struktur?”
“Membongkar taman, berencana membongkar teras, mengubah fungsi ruangan, dan kemungkinan membuat akses baru.”
“Apakah kamu menyetujuinya?”
“Tidak.”
“Kalau begitu jangan tanda tangani dokumen apa pun. Dan dokumentasikan kondisi rumah sekarang.”
Maya menatap stopmap biru di meja.
“Saya sudah menemukan sesuatu yang lebih buruk.”
Ia menjelaskan secara singkat.
Pak Arif diam beberapa detik.
“Maya, foto semua bukti itu. Jangan konfrontasi dulu sebelum kamu tahu apakah ada dokumen lain yang sudah mereka proses.”
Kalimat terakhir itu membuat Maya terdiam.
“Dokumen lain?”
“Kalau rencananya hanya berkebun, mereka tidak membutuhkan denah sedetail itu.”
Maya merasakan dingin menjalar di punggungnya.
Setelah menutup telepon, ia keluar menuju halaman.
Rendy masih berada di dekat rangka rumah kaca.
“Mau makan siang di luar?” tanya Maya tiba-tiba.
Rendy menoleh dengan wajah heran.
“Kamu nggak marah lagi?”
Maya tersenyum tipis.
“Aku capek. Mau marah juga taman sudah telanjur rusak, kan?”
Wajah Rendy seketika lebih santai.
Ibu Endang bahkan tertawa puas.
“Nah, begitu lebih dewasa.”
Maya menahan sesuatu di dalam dadanya.
“Mas, nanti malam kita bicara saja.”
Rendy mengangguk.
“Yang penting jangan dibesar-besarkan.”
Maya masuk kembali ke rumah.
Ia tahu satu hal.
Ketika seseorang terlalu yakin telah menang, biasanya mereka mulai ceroboh.
Benar saja.
Malam itu, setelah makan, Ibu Endang tidur lebih awal di kamar tamu.
Rendy duduk di ruang keluarga sambil menonton pertandingan sepak bola.
Maya berpura-pura bekerja dengan laptop di meja makan.
Sekitar pukul sebelas malam, Rendy menerima telepon.
Ia berdiri dan berjalan menuju teras belakang.
Maya tidak berniat menguping.
Sampai satu kalimat terdengar jelas melalui pintu yang tidak tertutup rapat.
“Pokoknya sertifikatnya belum bisa kita pegang.”
Maya membeku.
Rendy melanjutkan dengan suara pelan.

“Iya, Kang. Nanti saya cari cara lagi.”
Jantung Maya berdetak keras.
“Kalau bangunan belakang sudah jadi dan Ibu sudah tinggal tetap di sini, lebih gampang. Maya juga nggak mungkin tega ngusir orang tua.”
Maya perlahan menutup laptopnya.
Suara di luar berlanjut.
“Yang penting usaha agronya jalan dulu. Soal jaminan pinjaman nanti kita urus.”
Maya menahan napas.
Usaha agro.
Pinjaman.
Jaminan.
Sekarang semuanya masuk akal.
Beberapa bulan terakhir Rendy memang sering mengeluh tentang bisnis distribusi alat pertaniannya yang sedang sepi. Ia pernah meminta Maya meminjamkan uang dua ratus juta rupiah, tetapi Maya menolak karena laporan keuangan bisnis itu tidak jelas.
Rendy mengatakan tidak masalah.
Ternyata ia tidak berhenti mencari jalan.
Malam itu Maya tidak berkata apa pun.
Ia hanya merekam sebagian percakapan tersebut dari dalam rumah.
Keesokan paginya, ia bangun sebelum semua orang.
Ia memasang kamera kecil miliknya yang biasa digunakan untuk memantau proyek desain di sudut ruang kerja dan ruang keluarga. Bukan di kamar pribadi, bukan di tempat yang melanggar privasi, melainkan di area miliknya sendiri yang selama ini juga terhubung dengan sistem keamanan rumah.
Kemudian ia pergi ke Bandung dengan alasan membeli perlengkapan.
Tujuan sebenarnya adalah menemui Pak Arif.
Dua jam kemudian, Maya duduk di ruang notaris dengan wajah pucat.
Di hadapannya terdapat salinan sebuah proposal bisnis.
Pak Arif mendapatkannya setelah Maya menunjukkan nama perusahaan yang sempat terlihat pada salah satu kertas di stopmap Rendy.
Nama usaha itu adalah Endang Farm Living.
Direktur utamanya Rendy Pratama.
Pemegang kegiatan operasional tercantum atas nama Endang Sulastri.
Alamat usaha?
Rumah Maya di Lembang.
“Ini belum mendapatkan persetujuan kredit,” jelas Pak Arif.
“Tapi proposalnya sudah diajukan ke koperasi pendanaan usaha.”
Maya menatap lembaran itu.
Nilai pinjaman yang diminta mencapai delapan ratus juta rupiah.
Pada bagian aset pendukung usaha, terdapat foto rumah Maya.
Lebih buruk lagi, ada kalimat yang membuat tangannya gemetar.
Lokasi usaha merupakan properti keluarga yang akan digunakan secara permanen untuk kegiatan agribisnis.
“Properti keluarga?” gumam Maya.
Pak Arif mengangguk.
“Mereka belum bisa menjaminkan sertifikat tanpa persetujuanmu. Tapi kalau usaha sudah berjalan di lokasi itu, mereka bisa mencoba menciptakan tekanan supaya kamu ikut menandatangani.”
Maya tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
“Jadi taman saya dihancurkan supaya rumah saya terlihat seperti bagian dari bisnis mereka?”
“Kemungkinan besar.”
Maya menatap ke luar jendela.
Ia teringat ucapan Rendy.
Dua lawan satu.
Seolah perkawinan adalah rapat pemegang saham.
Seolah hak kepemilikan dapat dikalahkan oleh jumlah suara.
“Pak Arif,” katanya akhirnya.
“Saya ingin memastikan mereka tidak bisa menggunakan alamat rumah itu untuk kegiatan usaha.”
“Itu bisa dilakukan.”
“Dan saya mau semua bukti ini disimpan.”
Pak Arif memandangnya sejenak.
“Kamu ingin melaporkan suamimu?”
“Belum.”
Maya berdiri.
“Saya ingin memberinya kesempatan terakhir untuk mengatakan yang sebenarnya.”
Maya kembali ke Lembang menjelang sore.
Dari gerbang ia melihat sesuatu yang membuat darahnya mendidih.
Dua pekerja sedang membawa perkakas menuju teras kayu.
Ibu Endang berdiri sambil memberi instruksi.
“Bagian pagar itu dilepas dulu!”
Maya membanting pintu mobil.
“Hentikan.”
Semua orang menoleh.
Rendy muncul dari dalam rumah.
“Kamu sudah pulang?”
Maya berjalan menuju para pekerja.
“Bapak-bapak, mohon berhenti. Saya pemilik rumah ini dan saya tidak pernah memberi izin pembongkaran.”
Para pekerja saling berpandangan.
Salah satu dari mereka menatap Rendy.
“Pak, katanya ini rumah Bapak.”
Maya menoleh perlahan.
Rendy tampak gugup.
“Ya rumah kami. Maksud saya rumah keluarga.”
“Bukan.”
Suara Maya tenang.
“Rumah ini milik saya.”
Ibu Endang mendengus.
“Aduh, lagi-lagi soal itu.”
Maya menatapnya.
“Bu, saya tanya satu kali saja. Kenapa Ibu mau mengubah rumah saya menjadi tempat usaha Endang Farm Living?”
Wajah Ibu Endang langsung berubah.
Rendy pucat.
Untuk beberapa detik tidak ada yang bicara.
Maya tahu ia tepat sasaran.
“Apa yang kamu bicarakan?” Rendy akhirnya bersuara.
Maya mengeluarkan ponselnya.
Ia menunjukkan foto proposal.
Kemudian foto denah.
Kemudian kalimat tulisan tangan Rendy.
Selesaikan semua pembongkaran akhir pekan ini. Kalau Maya melihat semuanya sudah terlanjur berubah, dia tidak akan bisa menolak lagi.
Rendy menatap layar tanpa berkedip.
“Masih mau bilang ini cuma kebun sayur?”
“Maya, dengar dulu.”
“Aku sedang mendengar.”
Rendy berjalan mendekat.
“Bisnisku lagi sulit. Aku cuma butuh modal.”
“Delapan ratus juta?”
Rendy membeku lagi.
Ibu Endang langsung menyela.
“Kalau usaha ini berhasil, kamu juga yang menikmati!”
Maya tertawa pahit.
“Saya tidak pernah meminta usaha itu.”
“Kamu istri Rendy!” bentak Ibu Endang. “Apa salahnya membantu suami?”
“Membantu berbeda dengan mengambil aset orang diam-diam.”
“Orang?”
Ibu Endang menunjuk dada Maya.
“Kamu bicara seperti Rendy orang asing.”
Maya menatap mertuanya lama.
“Yang memperlakukan saya seperti orang asing justru kalian.”
Rendy mencoba meraih tangan Maya.
Maya mundur.
“Aku sudah minta izin pinjam uang dulu, kamu yang menolak.”
“Karena bisnismu tidak sehat.”
“Makanya aku cari jalan lain!”
“Dengan menggunakan rumahku?”
“Kita menikah, Maya! Sampai kapan kamu terus menghitung mana punyamu dan mana punyaku?”
Maya menatap lelaki yang selama empat tahun terakhir tidur di sampingnya.
“Kalau menurutmu semuanya milik bersama, kenapa utang delapan ratus juta tidak pernah kamu ceritakan kepadaku?”
Rendy terdiam.
Maya melanjutkan.
“Kenapa perusahaan itu memakai nama ibumu?”
“Kenapa aku tidak tercantum di dalamnya?”
“Kenapa untungnya milik kalian, tapi rumahku yang mau dijadikan sandaran?”
Tidak ada jawaban.
Untuk pertama kalinya Ibu Endang kehilangan kata-kata.
Maya mengangguk perlahan.
“Itu jawabannya.”
Rendy mulai panik.
“Oke. Aku salah. Kita hentikan semuanya. Selesai.”
“Belum.”
Maya menatap para pekerja.
“Bapak-bapak boleh pulang. Biaya hari ini tetap saya ganti.”
Setelah mereka pergi, Maya memasukkan kunci gerbang ke dalam tas.
Kemudian ia menatap Rendy.
“Aku minta kamu dan Ibu meninggalkan rumah ini malam ini.”
Ibu Endang hampir berteriak.
“Kamu mengusir ibu mertuamu?”
“Saya meminta orang yang menghancurkan properti saya tanpa izin untuk pergi.”
Rendy menggeleng tidak percaya.
“Kamu keterlaluan.”
Maya menatapnya tajam.
“Empat hari aku pergi bekerja, kalian menghancurkan tempat yang kubangun empat tahun. Kalian membuat rencana usaha memakai alamat rumahku. Kalian berencana menekan aku agar memberikan aset sebagai jaminan. Dan sekarang aku yang keterlaluan?”
Rendy tidak menjawab.
Malam itu mereka pergi.
Namun persoalan tidak selesai di sana.
Tiga hari kemudian, Maya menerima telepon dari seorang perempuan bernama Siska.
Ia mengaku bekerja di koperasi yang menerima pengajuan pembiayaan Rendy.
“Saya minta maaf menghubungi Ibu langsung,” katanya.
“Tapi setelah pihak notaris Ibu mengirimkan surat keberatan penggunaan properti, ada sesuatu yang perlu Ibu ketahui.”
“Apa?”
“Pak Rendy pernah mengirimkan surat persetujuan penggunaan lokasi dengan tanda tangan atas nama Ibu.”
Tubuh Maya seketika dingin.
“Saya tidak pernah menandatangani surat apa pun.”
Perempuan di ujung telepon terdiam.
“Kalau begitu Ibu sebaiknya melihat dokumennya.”
Ketika salinan surat itu tiba melalui email, Maya langsung mengenali tanda tangannya.
Mirip.
Sangat mirip.
Namun bukan miliknya.
Di titik itulah sesuatu di dalam diri Maya benar-benar berakhir.
Bukan sekadar kemarahan.
Kepercayaannya.
Rendy bukan hanya suami yang tidak mampu membela istrinya di hadapan ibunya.
Ia telah mencoba memalsukan persetujuan Maya untuk mendapatkan uang.
Maya membawa seluruh dokumen kepada pengacara.
Proses hukum dimulai.
Pengajuan kredit Rendy dihentikan.
Perusahaan tersebut kehilangan lokasi usahanya sebelum sempat beroperasi.
Maya juga mengajukan gugatan cerai.
Rendy menelepon puluhan kali.
Pesan-pesannya berubah dari marah menjadi meminta maaf.
Aku cuma panik.
Aku terdesak.
Aku nggak pernah berniat menyakitimu.
Kita bisa mulai lagi.
Maya tidak membalas.
Sampai suatu malam Rendy mengirim satu pesan terakhir.
Semua ini gara-gara sebuah taman.
Maya membaca kalimat itu lama.
Kemudian untuk pertama dan terakhir kalinya ia menjawab.
Bukan. Semua ini karena kamu melihat sesuatu yang kucintai, menghancurkannya tanpa izin, lalu mengira aku akan tetap diam selama kamu menyebutnya demi keluarga.
Enam bulan kemudian, perceraian mereka resmi selesai.
Kasus dokumen palsu diselesaikan melalui proses hukum yang membuat Rendy harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Bisnis yang ingin ia bangun bersama ibunya tidak pernah berdiri.
Sementara rumah di Lembang perlahan berubah kembali.
Maya tidak membangun taman lama persis seperti sebelumnya.
Ia sengaja membuatnya berbeda.
Di tempat bekas rumah kaca, ia menanam pohon tabebuya.
Di bagian taman yang dulu dipenuhi bugenvil, ia membuat kolam kecil.
Teras kayu yang hampir dihancurkan diperbaiki dengan material baru.
Suatu Minggu pagi, Maya duduk di sana bersama secangkir kopi.
Tukang kebun yang membantunya selama beberapa bulan menunjuk sebuah tanaman kecil di tepi halaman.
“Bu Maya, yang ini mau dicabut? Tumbuh sendiri.”
Maya mendekat.
Di antara tanaman hias barunya, tumbuh satu batang cabai.
Mungkin berasal dari biji yang tertinggal ketika Ibu Endang membongkar taman.
Maya menatapnya beberapa saat.
Kemudian tersenyum.
“Biarkan saja, Pak.”
Tukang kebun tertawa.
“Saya kira Ibu sudah kapok lihat tanaman sayur.”
Maya menggeleng.
“Yang salah bukan tanamannya.”
Ia kembali duduk di teras.
Kabut tipis bergerak di antara perbukitan Lembang.
Rumah itu akhirnya terasa seperti rumahnya lagi.
Namun kali ini Maya memahami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah benar-benar ia pikirkan.
Batas bukanlah tanda bahwa seseorang tidak mencintai keluarganya.
Batas justru menunjukkan di mana rasa hormat harus dimulai.
Dan siapa pun yang sengaja menghancurkan batas itu, lalu menyebut korbannya egois karena berusaha mempertahankannya, mungkin sejak awal tidak sedang meminta tempat dalam hidup kita.
Mereka sedang mencoba mengambil alihnya.
