SUAMIKU TEGA MENINGGALKAN ACARA ULANG TAHUN PERNIKAHAN KAMI YANG KE-5 DEMI MANTANNYA. DIA MENYURUHKU MENUNGGU 10 MENIT, TAPI MALAM ITU AKU MEMILIH PERGI UNTUK SELAMANYA!

Maya tidak pulang ke apartemen malam itu.

Mobil daring yang dipesannya datang lima menit setelah Dimas pergi. Sepanjang perjalanan, Maya hanya menatap hujan yang mengalir di kaca jendela, sementara ponselnya terus bergetar di dalam tas.

Tiga panggilan dari Dimas.

Lalu lima.

Kemudian sebuah pesan.

“Aku di rumah sakit. Sheila harus diinfus. Jangan bikin keputusan saat kamu emosi. Kita bicara besok.”

Maya membaca kalimat itu sekali.

Lalu mematikan ponselnya.

Ia meminta pengemudi mengantarnya ke rumah kakaknya di Kebayoran Baru.

Ketika pintu dibuka, Raka yang masih mengenakan kaus tidur langsung terpaku melihat Maya berdiri dengan rambut basah dan wajah pucat.

“Kamu kenapa?”

Maya masuk tanpa menjawab.

Baru setelah duduk di sofa, ia berkata pelan, “Aku mau cerai.”

Raka tidak bertanya apa yang terjadi.

Ia hanya mengambil handuk, menyerahkannya kepada adiknya, lalu duduk di sebelah Maya.

“Yakin?”

Maya mengangguk.

“Yakin.”

Itulah pertama kalinya sejak keluar dari restoran Maya menangis.

Bukan tangisan keras.

Air matanya hanya jatuh satu per satu, seolah tubuhnya akhirnya mengerti bahwa lima tahun kehidupan yang ia bangun bersama seseorang telah selesai dalam satu malam.

Pukul dua dini hari, ponselnya kembali dinyalakan.

Ada 23 panggilan tak terjawab.

Dimas mengirim banyak pesan.

Mulai dari meminta maaf, membela diri, sampai menyalahkannya.

“Aku cuma nolong orang sakit.”

“Kamu keterlaluan kalau beneran mau cerai karena ini.”

“Sheila sudah tidur. Aku pulang sekarang.”

“Maya, jawab.”

“Aku di apartemen. Kamu di mana?”

Pesan terakhir dikirim pukul 01.48.

“Jangan main-main sama pernikahan kita.”

Maya membaca pesan itu sambil tersenyum pahit.

Selama ini ternyata hanya Maya yang menganggap pernikahan mereka sesuatu yang tidak boleh dipermainkan.

Keesokan paginya, ia pulang ditemani Raka.

Dimas sedang duduk di ruang makan dengan wajah kusut. Kemeja yang dikenakannya semalam masih melekat di tubuhnya.

Begitu melihat Maya, ia langsung berdiri.

“Akhirnya kamu pulang.”

“Aku cuma ambil barang.”

Dimas terdiam.

Maya berjalan melewatinya menuju kamar.

Dimas mengejar.

“Kamu serius?”

Maya membuka lemari dan mengeluarkan koper.

“Aku terlihat bercanda?”

“Maya, Sheila benar-benar sakit semalam.”

“Aku nggak bilang dia pura-pura sakit.”

“Lalu kenapa kamu menghukum aku karena bantu dia?”

Maya berhenti melipat pakaian.

“Aku menghukum kamu?”

“Iya. Kamu mau menghancurkan rumah tangga kita karena kecemburuan.”

Maya menatapnya lama.

Ada saat ketika kalimat seperti itu akan membuatnya ragu terhadap dirinya sendiri.

Dulu Maya mungkin akan berpikir apakah dirinya terlalu posesif.

Apakah dirinya terlalu sensitif.

Apakah benar Dimas hanya orang baik yang kebetulan terlalu peduli kepada mantannya.

Namun malam sebelumnya telah menghapus semua keraguan itu.

“Kamu tahu hal paling lucu dari semuanya?” katanya.

Dimas mengerutkan kening.

“Aku bahkan sudah berhenti cemburu.”

“Apa?”

“Aku capek.”

Maya menutup koper.

“Kalau aku masih cemburu, berarti aku masih berharap kamu berubah.”

Dimas menarik napas kasar.

“Aku cinta kamu.”

“Orang yang cinta nggak selalu tahu cara menjaga orang yang dia cintai.”

Dimas terdiam.

Maya mengangkat koper.

Saat hendak keluar, matanya tertuju pada sebuah jaket abu-abu yang tergantung di belakang kursi.

Jaket Dimas.

Tadi malam jaket itu tidak dipakainya.

Tetapi Maya mengenalnya.

Jaket yang sama muncul dalam sebuah foto Instagram Sheila tiga minggu lalu.

Foto itu menampilkan secangkir kopi di sebuah kafe dengan caption sederhana.

“Some people still feel like home.”

Pada sudut meja, hanya terlihat lengan seorang pria.

Maya dulu tidak mau berpikir macam-macam.

Sekarang ia mengambil jaket itu.

“Kamu pakai ini waktu ketemu Sheila tiga minggu lalu?”

Dimas membeku.

Hanya sepersekian detik.

Namun Maya melihatnya.

“Dimas?”

“Aku nggak ingat.”

“Kamu pergi ke Bandung katanya ada meeting.”

“Maya…”

“Jawab.”

Dimas mengusap wajah.

“Aku memang ketemu Sheila.”

Dada Maya terasa sesak, tetapi suaranya tetap tenang.

“Di Bandung?”

Dimas tidak menjawab.

Itu sudah cukup.

Raka yang berdiri di dekat pintu langsung maju satu langkah, tetapi Maya mengangkat tangan agar kakaknya tidak ikut campur.

“Berapa lama?”

“Nggak seperti yang kamu pikir.”

“Berapa lama kamu bohong?”

Dimas menggeleng.

“Kami cuma ngobrol.”

“Di Bandung?”

“Dia butuh tempat buat menenangkan diri setelah cerai.”

Maya hampir tertawa.

“Kamu izin dua hari ke aku untuk perjalanan kerja supaya bisa nemenin mantanmu menenangkan diri?”

“Aku takut kamu salah paham.”

“Kalau sesuatu harus disembunyikan karena takut pasangan salah paham, biasanya memang ada sesuatu yang salah.”

Dimas kehilangan kata-kata.

Maya membawa koper keluar.

Sebelum pergi, ia meletakkan kunci apartemen di meja.

“Aku akan hubungi pengacara.”

Dimas mengejarnya sampai koridor.

“Maya!”

Maya berhenti.

Dimas tampak panik untuk pertama kalinya.

“Beri aku kesempatan.”

Maya menatap lelaki yang pernah ia pikir akan menjadi pasangan hidupnya sampai tua.

“Lima tahun itu kesempatan, Mas.”

Lalu pintu lift tertutup.

Dua hari kemudian, Maya mulai mengurus proses perceraian.

Dimas terus mencoba menghubunginya.

Kadang marah.

Kadang memohon.

Kadang mengirim bunga ke kantor Maya.

Namun ada satu hal yang aneh.

Sheila menghilang sepenuhnya.

Tidak ada pesan.

Tidak ada unggahan media sosial.

Bahkan akunnya tiba-tiba dikunci.

Maya sebenarnya tidak peduli.

Sampai satu minggu kemudian, seseorang mengirim sebuah amplop cokelat ke kantor tempat Maya bekerja.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya hanya ada sebuah flashdisk dan secarik kertas.

“Anda berhak tahu bahwa masalahnya bukan cuma Sheila.”

Maya membaca kalimat itu berulang kali.

Tangannya tiba-tiba dingin.

Ia menunggu sampai jam kerja selesai sebelum membuka isi flashdisk di laptop pribadinya.

Ada beberapa folder.

Foto.

PDF.

Rekaman suara.

Dan salinan percakapan WhatsApp.

Nama yang paling sering muncul bukan Sheila.

Melainkan seseorang bernama Kevin Adhitama.

Kevin adalah rekan bisnis Dimas.

Selama dua tahun terakhir, Dimas menjalankan usaha konsultan properti bersama Kevin. Maya tidak pernah ikut campur. Ia hanya tahu bisnis itu sedang berkembang.

Namun semakin banyak dokumen yang Maya buka, semakin ia menyadari sesuatu yang jauh lebih besar.

Ada transfer uang dari rekening usaha ke rekening pribadi.

Ada transaksi senilai ratusan juta rupiah.

Ada tanda tangannya.

Tanda tangan Maya.

Padahal ia tidak pernah menandatangani dokumen apa pun.

Salah satu dokumen bahkan mencantumkan dirinya sebagai penjamin pribadi untuk pinjaman perusahaan sebesar 1,8 miliar rupiah.

Maya langsung menelepon Raka.

“Kak.”

Suara Raka berubah serius mendengar nada suaranya.

“Ada apa?”

“Kayaknya Dimas pakai namaku buat utang.”

Malam itu mereka menemui seorang pengacara bernama Bu Ratih, teman lama keluarga.

Setelah memeriksa dokumen selama hampir dua jam, Bu Ratih melepas kacamatanya.

“Kalau tanda tangan ini benar dipalsukan, masalahnya bukan cuma perceraian.”

Maya menelan ludah.

“Pidana?”

“Bisa.”

Maya menatap layar laptop.

Tiba-tiba perselingkuhan emosional Dimas terasa seperti bagian terkecil dari semua kebohongan.

“Siapa yang kirim ini?” tanya Bu Ratih.

“Aku nggak tahu.”

Jawabannya datang dua hari kemudian.

Sheila meminta bertemu.

Maya hampir menolak.

Namun akhirnya ia setuju dengan satu syarat.

Tempat umum.

Mereka bertemu di sebuah kafe di Pondok Indah.

Sheila datang tanpa riasan mencolok. Tidak ada lagi perempuan rapuh yang Maya lihat di dalam sedan malam itu.

Ia terlihat tegang.

Begitu duduk, ia langsung berkata, “Aku yang kirim flashdisk itu.”

Maya tidak menyembunyikan keterkejutannya.

“Kenapa?”

Sheila menunduk.

“Karena aku juga dibohongi Dimas.”

Maya tertawa kecil tanpa humor.

“Jadi sekarang kita mau saling curhat sebagai korban lelaki yang sama?”

“Aku nggak minta kamu percaya sama aku.”

“Bagus.”

Sheila mengeluarkan ponsel.

“Dimas bilang kalian sudah pisah rumah hampir setahun.”

Maya tidak bergerak.

“Dia bilang pernikahan kalian cuma tinggal formalitas.”

Kemudian Sheila menunjukkan percakapan mereka.

Tanggal pertama pesan itu hampir enam bulan lalu.

Dimas menulis bahwa Maya sudah tidak mencintainya.

Bahwa mereka sedang mempertimbangkan perceraian.

Bahwa ia hanya belum pindah rumah karena urusan keluarga.

Maya membaca semuanya dengan wajah datar.

“Dia juga bilang bisnisnya bermasalah,” lanjut Sheila. “Katanya kamu setuju membantu dengan menjaminkan aset.”

“Aku nggak pernah setuju.”

“Aku tahu sekarang.”

Sheila menarik napas.

“Seminggu sebelum anniversary kalian, aku nggak sengaja dengar dia telepon Kevin. Mereka bicara soal tanda tanganmu.”

Maya menatapnya tajam.

“Kenapa baru kirim setelah malam itu?”

Wajah Sheila berubah.

Karena untuk pertama kalinya ada rasa malu yang nyata di sana.

“Karena sebelumnya… aku masih percaya dia akan memilih aku.”

Kejujuran itu terasa menyakitkan, tetapi justru membuat Maya percaya.

“Dan malam anniversary itu?”

“Aku memang minum.”

Sheila menelan ludah.

“Tapi aku nggak separah yang terlihat.”

Maya menatapnya.

“Kamu pura-pura hampir pingsan?”

Air mata memenuhi mata Sheila.

“Aku mau lihat apakah dia akan ninggalin kamu untuk aku.”

Kafe terasa tiba-tiba sangat sunyi.

Maya mengangguk pelan.

“Dan dia melakukannya.”

“Iya.”

Sheila menunduk.

“Tapi di rumah sakit, dia malah marah ke aku. Dia bilang aku bikin semuanya kacau. Lalu ketika dia pergi sebentar, ponselnya tertinggal. Ada pesan Kevin soal pinjaman itu.”

“Jadi kamu ambil datanya?”

“Aku sudah curiga beberapa hari. Aku salin yang sempat aku temukan dari laptopnya waktu dia di apartemenku.”

Maya menatap perempuan di depannya.

Ia tidak memaafkan Sheila.

Namun anehnya, ia juga tidak lagi membencinya.

Mereka hanyalah dua perempuan yang pada waktu berbeda percaya kepada kebohongan lelaki yang sama.

“Aku minta maaf,” kata Sheila. “Bukan cuma soal malam itu.”

Maya berdiri.

“Aku nggak tahu apakah suatu hari aku bisa maafin kamu.”

Sheila mengangguk.

“Aku ngerti.”

“Tapi terima kasih soal flashdisk.”

Tiga minggu kemudian, Dimas datang ke rumah Raka.

Wajahnya jauh berbeda.

Tidak lagi marah.

Ia terlihat ketakutan.

“Maya, kita harus bicara.”

Maya menemuinya di teras.

“Aku tahu soal dokumen perusahaan.”

Dimas langsung pucat.

“Kevin yang kasih?”

“Bukan.”

“Sheila?”

Maya tidak menjawab.

Dimas mengusap rambutnya.

“Dengar dulu. Aku bisa jelasin.”

“Kamu palsukan tanda tanganku?”

“Aku terdesak.”

“Itu bukan jawaban.”

“Bisnis lagi kena masalah. Kalau aku nggak dapat dana tambahan, perusahaan bangkrut. Aku cuma butuh beberapa bulan.”

“Kamu palsukan tanda tanganku?”

Dimas akhirnya berteriak.

“Iya!”

Raka keluar dari dalam rumah, tetapi Maya kembali memberi isyarat agar ia diam.

Dimas menurunkan suara.

“Aku mau balikin semuanya sebelum kamu tahu.”

Maya menatapnya.

“Seperti kamu mau berhenti ketemu Sheila sebelum aku tahu?”

Dimas terdiam.

“Masalah kamu bukan karena sekali salah, Dimas.”

Maya berdiri tegak.

“Kamu selalu yakin selama aku nggak tahu, berarti kamu nggak menyakitiku.”

Hari itu menjadi percakapan terakhir mereka sebagai suami istri.

Proses hukum berjalan.

Pemeriksaan terhadap dokumen perusahaan mengungkap bahwa Dimas bukan satu-satunya orang yang bermain.

Kevin ternyata memindahkan dana perusahaan jauh lebih besar daripada yang Dimas sadari.

Ironisnya, Dimas yang awalnya mencoba menutupi masalah bisnis dengan memalsukan tanda tangan Maya justru ikut terseret ketika Kevin menghilang membawa sebagian besar uang perusahaan.

Enam bulan kemudian, perceraian Maya dan Dimas resmi diputus.

Pagi itu hujan turun tipis.

Maya keluar dari gedung pengadilan dengan langkah ringan.

Dimas berdiri beberapa meter di belakangnya.

Lebih kurus.

Lebih diam.

“Maya.”

Maya berhenti.

Dimas mendekat.

“Aku selalu mikir kalau malam anniversary itu aku nggak pergi sama Sheila, mungkin semua ini nggak terjadi.”

Maya menggeleng.

“Semua ini tetap akan terjadi.”

Dimas menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena masalahnya bukan malam itu.”

Maya tersenyum tipis.

“Malam itu cuma pertama kalinya aku berhenti menutup mata.”

Ia berjalan pergi.

Setahun setelah malam di Senopati itu, Maya kembali ke restoran yang sama.

Bukan bersama pasangan baru.

Bukan pula untuk mengenang pernikahannya.

Ia datang sendirian.

Memesan makanan favoritnya.

Duduk dekat jendela.

Hujan kembali turun di Jakarta.

Seorang pramusaji yang kebetulan masih mengenalinya menghampiri.

“Ibu pernah ke sini tahun lalu, ya?”

Maya tersenyum.

“Sepertinya.”

Pramusaji itu tertawa kecil.

“Kali ini sedang menunggu seseorang?”

Pertanyaan itu membuat Maya menoleh ke kursi kosong di depannya.

Dulu kursi kosong adalah sesuatu yang paling menyakitkan baginya.

Sekarang tidak lagi.

Maya menggeleng.

“Nggak.”

Ia mengangkat cangkir kopi.

“Kali ini saya memang datang sendiri.”

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Maya membukanya.

“Dimas sudah divonis hari ini. Saya pikir Anda perlu tahu.”

Tidak ada nama pengirim.

Namun Maya tahu mungkin pesan itu berasal dari Sheila atau Bu Ratih.

Ia menatap layar beberapa detik.

Lalu menghapus pesan tersebut.

Tidak mencari berita.

Tidak bertanya berapa lama hukumannya.

Tidak pula mencoba mengetahui bagaimana kehidupan Dimas sekarang.

Untuk pertama kalinya, semua itu benar-benar tidak penting.

Maya meletakkan ponsel dalam posisi terbalik.

Di luar jendela, sebuah mobil berhenti untuk menurunkan seorang perempuan yang berlari menghindari hujan. Beberapa orang tertawa di bawah payung. Jakarta tetap sibuk seperti biasa, seakan tidak pernah peduli bahwa di tempat yang sama, setahun sebelumnya, hidup seseorang pernah runtuh.

Maya memotong sepotong kecil kue cokelat yang dipesannya.

Rasanya mengingatkannya pada kue yang ia buat empat kali demi Dimas.

Dulu ia mengira cinta berarti mencoba terus-menerus sampai sesuatu berhasil.

Sekarang ia tahu ada perbedaan besar antara memperjuangkan hubungan dan memaksa sesuatu yang telah lama berhenti memilih kita.

Maya tersenyum.

Lalu memakan potongan kue itu perlahan.

Setahun lalu, Dimas menyuruhnya menunggu sepuluh menit.

Maya akhirnya menunggu jauh lebih lama daripada itu.

Bukan malam itu.

Melainkan selama bertahun-tahun dalam pernikahan mereka.

Menunggu diprioritaskan.

Menunggu dihargai.

Menunggu seseorang berubah.

Dan keputusan terbaik dalam hidupnya ternyata bukan ketika ia memilih siapa yang harus dicintai.

Melainkan ketika ia akhirnya mengerti kapan harus berhenti menunggu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang