PULANG 2 HARI LEBIH AWAL, ARIS TERKEJUT MELIHAT IBUNYA BERPESTA SAAT ISTRINYA TERLUKA DAN PUTRINYA YANG BARU 5 TAHUN DIPAKSA MENCUCI PIRING! REKAMAN RAHASIA DI PONSEL LAMA MENGUBAH SEGALANYA!

Suara Bu Sumarti terdengar jelas dari speaker ponsel lama itu.

“Kalau kamu berani bilang kepada Aris, saya akan pastikan dia tahu semua utang keluargamu. Kamu pikir dia masih mau mempertahankan istri yang keluarganya cuma jadi beban?”

Maya menutup mulut dengan tangan.

Aris mengangkat kepalanya perlahan.

Wajahnya tidak lagi menunjukkan kebingungan.

Yang tersisa hanya keterkejutan yang berubah menjadi kemarahan.

Rekaman terus berjalan.

Terdengar suara Maya yang bergetar.

“Saya tidak pernah minta uang Aris untuk keluarga saya, Bu. Semua biaya pengobatan Ibu saya bayar dari tabungan saya sendiri.”

Bu Sumarti tertawa pendek.

“Jangan pintar menjawab. Rumah ini rumah anak saya. Uangnya uang anak saya. Jadi selama kamu tinggal di sini, kamu harus tahu posisi.”

Lalu terdengar suara benda jatuh.

Maya dalam rekaman mengerang kesakitan.

Aris langsung menghentikan audio.

“Apa itu?”

Tidak ada yang menjawab.

Ia menatap perban di tangan Maya.

“Apa yang terjadi?”

Maya menggeleng cepat.

“Ris, nanti saja.”

“Sekarang.”

Suara Aris tidak keras.

Justru karena terlalu tenang, semua orang di ruangan itu semakin diam.

Bu Sumarti mencoba tertawa.

“Ah, itu cuma pertengkaran kecil. Namanya juga mertua dan menantu tinggal serumah.”

Aris menatap ibunya.

“Pertengkaran kecil membuat tangan Maya terbakar?”

Bu Sumarti tidak menjawab.

Clarissa tiba-tiba memeluk kaki ayahnya.

“Nenek lempar air panas.”

Maya memejamkan mata.

Semua tamu menoleh ke arah Bu Sumarti.

Wajah wanita itu berubah tegang.

“Anak kecil suka mengarang!”

Clarissa langsung bersembunyi di belakang Aris.

Gerakan kecil itu menjelaskan jauh lebih banyak daripada puluhan pembelaan.

Aris kembali menekan rekaman berikutnya.

Kali ini suara Bu Sumarti terdengar sedang memarahi Clarissa.

“Kamu jangan banyak menangis. Kalau Papa pulang, bilang kamu jatuh sendiri.”

Lalu suara Clarissa kecil terdengar tersedu.

“Tapi sakit, Nek.”

“Makanya jangan ceroboh!”

Beberapa tamu mulai berdiri.

Salah seorang wanita berbisik, “Sumarti, ini keterlaluan.”

Bu Sumarti langsung berbalik.

“Jangan ikut campur urusan keluarga saya!”

Aris menatap tamu-tamu itu.

“Maaf, Ibu-Ibu. Acara ini selesai.”

Tidak ada seorang pun membantah.

Dalam waktu kurang dari lima menit, ruang tamu yang tadi penuh tawa berubah menjadi tempat yang dipenuhi langkah tergesa dan wajah canggung.

Bu Sumarti mencoba menahan salah seorang sahabatnya.

“Bu Rini, jangan percaya begitu saja. Maya memang suka memutarbalikkan cerita.”

Namun Bu Rini menarik tangannya perlahan.

“Kalau rekamannya sampai sebanyak itu, mungkin kamu yang perlu menjelaskan.”

Kalimat tersebut membuat wajah Bu Sumarti semakin pucat.

Setelah pintu terakhir tertutup, Aris mengunci rumah.

Ia mematikan musik.

Kemudian berjalan ke dapur, mengambil Clarissa dari belakang kakinya dan menggendongnya.

“Papa enggak marah sama Clarissa.”

Anak itu menatapnya ragu.

“Papa marah sama Mama?”

Aris menggeleng.

“Tidak.”

“Terus Mama sama Clarissa enggak diusir?”

Pertanyaan itu membuat dada Aris nyaris runtuh.

Ia mencium kening putrinya.

“Rumah ini rumah Clarissa juga.”

Clarissa memeluk leher ayahnya erat.

Aris kemudian menatap Maya.

“Kenapa kamu tidak bilang?”

Maya tertawa pelan, tetapi terdengar seperti orang yang hampir menangis.

“Aku sudah pernah mencoba.”

Aris mengernyit.

“Kapan?”

“Banyak kali.”

Maya melepaskan sarung tangan karetnya.

Di bawahnya bukan hanya terdapat luka bakar pada pergelangan.

Ada beberapa bekas luka lama di punggung tangannya.

“Setiap kali aku mau bicara, ibumu lebih dulu meneleponmu.”

Aris terdiam.

Ia langsung teringat berbagai percakapan selama setahun terakhir.

Maya pernah mengirim pesan, “Malam ini kita perlu bicara.”

Lima menit kemudian Bu Sumarti menelepon.

“Maya sedang emosional. Jangan diladeni dulu.”

Pada kesempatan lain, Maya pernah berkata melalui telepon, “Aku ingin Ibu kembali ke Solo.”

Malam itu Aris justru memarahi istrinya.

“Masa kamu tega mengusir orang tua yang sedang sakit?”

Aris menundukkan kepala.

Semua kepingan yang dahulu tampak tidak berhubungan kini tersusun dengan sangat jelas.

“Aku minta maaf.”

Maya tidak langsung menjawab.

“Aku benar-benar minta maaf.”

Maya menatapnya lama.

“Aku tidak membutuhkan permintaan maaf karena kamu sering pergi bekerja, Ris.”

Suaranya tenang.

“Aku membutuhkan suami yang percaya kepadaku ketika aku bicara.”

Aris seperti ditampar.

Tidak ada teriakan dalam kalimat itu.

Namun justru itu yang membuatnya terasa jauh lebih menyakitkan.

Bu Sumarti tiba-tiba berseru dari ruang makan.

“Jadi sekarang semuanya salah Ibu?”

Aris menoleh.

Ibunya berdiri dengan dada naik turun.

“Ibu membesarkanmu sendirian sejak ayahmu meninggal. Ibu jual perhiasan supaya kamu bisa kuliah. Sekarang gara-gara perempuan ini, kamu mau mempermalukan Ibu?”

Aris mengusap wajah.

“Ibu memang membesarkan saya.”

“Nah!”

“Tapi itu tidak memberi Ibu hak menyiksa istri dan anak saya.”

Bu Sumarti terdiam.

“Jangan pakai kata menyiksa!”

“Lalu apa namanya?”

Aris mengangkat ponsel lama tersebut.

“Memaksa anak lima tahun mencuci piring sampai tangannya merah, mengancamnya tidak makan, membuat istri saya takut bicara, menyuruh mereka berbohong kepada saya, dan melempar air panas. Ibu ingin saya menyebutnya apa?”

Mata Bu Sumarti memerah.

“Kamu berubah.”

Aris menggeleng.

“Tidak. Saya terlambat sadar.”

Malam itu juga, Aris membawa Maya ke rumah sakit.

Dokter mengatakan luka bakarnya mengalami infeksi ringan dan harus dirawat serius agar tidak semakin parah.

Clarissa juga diperiksa karena kulit tangannya mengalami iritasi akibat terlalu sering terkena sabun pencuci piring.

Ketika dokter bertanya sejak kapan Clarissa sering mencuci peralatan rumah tangga, anak itu menjawab polos,

“Kalau Papa pergi.”

Aris menunduk.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa gagal bukan sebagai anak, melainkan sebagai ayah.

Malam itu mereka tidak kembali ke rumah.

Aris menyewa kamar hotel dekat rumah sakit.

Bu Sumarti dibiarkan sendirian.

Namun sekitar pukul dua dini hari, sesuatu terjadi.

Ponsel Aris berdering berkali-kali.

Nama satpam kompleks muncul di layar.

“Pak Aris, maaf mengganggu. Ibu Anda sedang memasukkan beberapa koper ke mobil online.”

Aris langsung bangun.

“Apa saja yang dibawa?”

“Kami tidak tahu, Pak. Tapi salah satu koper kelihatannya berat sekali.”

Aris menatap Maya.

Maya langsung duduk.

“Brankas.”

“Apa?”

“Cek brankas ruang kerja.”

Aris menelepon satpam lagi.

“Pak, jangan izinkan mobil itu keluar kompleks. Saya ke sana sekarang.”

Empat puluh menit kemudian, Aris tiba di rumah bersama dua petugas keamanan.

Bu Sumarti sudah berdiri di depan gerbang sambil berteriak.

“Ini barang-barang saya!”

Aris tidak berdebat.

Ia langsung membuka salah satu koper.

Di dalamnya terdapat perhiasan Maya, beberapa jam tangan mahal milik Aris, dua amplop berisi uang tunai, sertifikat investasi, dan beberapa dokumen perusahaan.

Aris membeku.

Bu Sumarti buru-buru berkata,

“Ibu cuma mau mengamankan barang-barang itu! Rumah ini sudah tidak aman!”

“Dari siapa?”

Bu Sumarti tidak bisa menjawab.

Kemudian salah seorang petugas menemukan benda lain.

Sebuah buku catatan kecil.

Di dalamnya terdapat daftar nominal uang yang ditulis tangan.

Ada nama beberapa teman Bu Sumarti.

Di samping setiap nama tercantum angka mulai dari dua juta sampai dua puluh juta rupiah.

Aris membuka halaman berikutnya.

Ada tulisan besar.

Arisan investasi.

Total uang yang tercatat hampir enam ratus juta rupiah.

“Ini apa?”

Bu Sumarti langsung merebut buku itu.

“Bukan urusanmu!”

Aris menarik kembali dengan lebih cepat.

Ia membaca beberapa catatan.

Sebagian uang ternyata disebut sebagai modal usaha anaknya.

Padahal Aris sama sekali tidak pernah mengetahui investasi tersebut.

Maya yang baru tiba bersama sopir hotel berdiri di pintu.

Wajahnya berubah.

“Ris, buka rekaman tanggal sembilan belas Mei.”

Aris menoleh.

Maya menunjuk ponsel tua itu.

Tangannya gemetar.

Aris membuka file tersebut.

Suara Bu Sumarti terdengar berbicara melalui telepon.

“Tenang saja. Kalau Aris tanya, bilang usahanya memang milik dia. Saya yang pegang dananya. Anak saya direktur perusahaan besar, mana mungkin uang dua ratus juta jadi masalah.”

Lalu terdengar tawa.

“Kalau Maya ikut campur, biar saya urus.”

Aris mematikan rekaman.

Sekarang ia mengerti.

Ibunya bukan hanya menjadikan rumah mereka sebagai tempat berkumpul.

Ia menggunakan nama Aris untuk meyakinkan teman-temannya agar menyerahkan uang.

Sebagian uang itu ternyata digunakan untuk membeli barang mewah, membayar acara, dan menutupi setoran anggota lama.

Skema sederhana yang sewaktu-waktu bisa runtuh.

Bu Sumarti akhirnya duduk di sofa.

Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak lagi menunjukkan kesombongan.

“Ibu cuma ingin punya sesuatu sendiri.”

Aris menatapnya.

“Dengan memakai nama saya?”

“Ibu capek selalu dianggap cuma ibu rumah tangga yang hidup dari anak.”

“Jadi Ibu membuat orang percaya saya menjamin investasi ini?”

Bu Sumarti menangis.

“Awalnya kecil. Ibu pikir bisa dikembalikan.”

“Lalu?”

Wanita itu tidak menjawab.

Aris segera menghubungi pengacara keluarga.

Pagi harinya, rekening yang masih bisa dilacak mulai diperiksa.

Beberapa barang mewah yang dibeli menggunakan uang kelompok juga diamankan.

Aris memilih mengembalikan sebanyak mungkin dana kepada orang-orang yang menjadi korban agar tidak ada pihak lain yang semakin dirugikan.

Namun ia menolak menanggung seluruh kerugian sebagai konsekuensi dari kebohongan ibunya.

Bu Sumarti harus menjelaskan sendiri apa yang telah dilakukannya.

Dan yang paling penting, ia harus meninggalkan rumah itu.

Sore harinya, sebuah mobil membawa Bu Sumarti ke rumah adiknya di Solo.

Sebelum masuk mobil, wanita itu berdiri cukup lama di depan Aris.

“Jadi kamu memilih istrimu daripada ibu?”

Aris menatapnya.

Pertanyaan itu dulu mungkin akan membuatnya merasa bersalah.

Sekarang tidak lagi.

“Saya tidak sedang memilih antara istri dan ibu.”

Ia menarik napas.

“Saya sedang memilih untuk berhenti membiarkan orang yang saya cintai saling menyakiti hanya karena saya takut mengambil sikap.”

Bu Sumarti menangis.

Namun Aris tidak mengubah keputusan.

Setelah mobil pergi, ia kembali ke dalam rumah.

Maya sedang mengemas beberapa pakaian Clarissa.

“Kamu mau ke mana?”

Maya berhenti.

“Aku akan tinggal sementara di apartemen kakakku.”

Aris terkejut.

“Bukankah Ibu sudah pergi?”

Maya mengangguk.

“Masalahnya bukan cuma ibumu.”

Kalimat itu membuat Aris diam.

“Masalahnya adalah selama satu tahun aku merasa sendirian di rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagiku.”

Aris tidak membantah.

Maya melanjutkan,

“Aku butuh waktu, Ris.”

Aris mengangguk perlahan.

Untuk pertama kalinya, ia tidak berusaha membela diri.

Ia membantu Maya memasukkan koper ke mobil.

Ketika Clarissa hendak pergi, anak itu berlari kembali ke dapur dan mengambil ponsel lama tersebut.

Kemudian ia menyerahkannya kepada Aris.

“Papa simpan.”

Aris menerima benda itu.

“Kenapa?”

Clarissa memandang ayahnya dengan serius.

“Biar Papa dengar kalau orang dewasa bohong.”

Aris hampir menangis.

Tiga bulan berlalu.

Selama waktu itu, Aris tidak memaksa Maya pulang.

Ia datang menemui Clarissa setiap hari jika tidak sedang bekerja.

Ia mulai mengikuti konseling keluarga.

Ia mengurangi perjalanan dinas.

Bahkan satu ruangan di rumah yang dahulu sering dipakai Bu Sumarti untuk acara arisan diubah menjadi ruang bermain dan membaca untuk Clarissa.

Maya memperhatikannya dari jauh.

Ia tidak langsung percaya.

Namun sedikit demi sedikit, sesuatu berubah.

Bukan karena Aris terus meminta maaf.

Melainkan karena ia berhenti meminta pengampunan dan mulai memperbaiki hal-hal yang dahulu ia abaikan.

Enam bulan kemudian, Maya akhirnya kembali.

Bukan sebagai perempuan yang kalah.

Bukan pula karena merasa kasihan kepada suaminya.

Ia kembali dengan syarat sederhana.

“Kalau ada masalah, kamu dengarkan aku sebelum orang lain.”

Aris mengangguk.

“Dan Clarissa tidak boleh tumbuh dengan keyakinan bahwa dia harus takut kepada keluarga sendiri.”

“Tidak akan.”

Maya menatapnya.

“Jangan janji.”

Aris menghela napas.

“Baik. Aku buktikan.”

Malam pertama setelah mereka kembali tinggal bersama, Clarissa meminta ayahnya menemani tidur.

Saat Aris hampir mematikan lampu, anak itu berbisik,

“Papa.”

“Hmm?”

“Nenek sekarang jahat?”

Aris terdiam cukup lama.

Kemudian ia duduk di tepi ranjang.

“Nenek melakukan banyak hal yang salah.”

“Berarti Papa enggak sayang lagi?”

Aris menggeleng.

“Sayang kepada seseorang tidak berarti kita harus membiarkan dia menyakiti orang lain.”

Clarissa berpikir sejenak.

“Kalau kita sayang, tapi dia salah, kita harus bilang?”

“Iya.”

“Walaupun dia marah?”

Aris tersenyum tipis.

“Kadang justru karena kita sayang, kita harus berani bilang.”

Clarissa mengangguk puas lalu memejamkan mata.

Beberapa menit kemudian anak itu tertidur.

Aris berjalan keluar kamar.

Di lorong, Maya sudah berdiri menunggunya.

Ia tersenyum kecil.

“Jawaban bagus.”

Aris tersenyum balik.

Ketika mereka berjalan menuju kamar, ponsel lama yang kini tersimpan di laci ruang kerja tiba-tiba teringat kembali dalam benaknya.

Benda itu selama berbulan-bulan dianggap hanya barang rusak yang tidak berguna.

Padahal justru ponsel tua dengan layar retak itulah yang akhirnya menyelamatkan keluarga mereka.

Bukan karena rekaman di dalamnya mampu mengubah masa lalu.

Tidak ada alat apa pun yang bisa melakukan itu.

Namun rekaman tersebut memaksa Aris mendengar sesuatu yang selama ini sebenarnya sudah terlihat jelas di depan matanya.

Ketakutan istrinya.

Diamnya anaknya.

Dan kesalahannya sendiri karena memilih kenyamanan daripada kebenaran.

Sejak hari itu Aris memahami satu hal.

Kadang kehancuran sebuah keluarga tidak dimulai dari teriakan atau pukulan.

Ia dimulai ketika seseorang berhenti mendengarkan orang yang seharusnya paling ia percaya.

Dan penyelamatan sebuah keluarga pun sering kali tidak dimulai dari kata maaf.

Melainkan dari keberanian untuk akhirnya membuka mata.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang