MALAM PERTAMA DI RUMAH BARU, AKU MELIHAT SEORANG TEKNISI MENYELIPKAN SESUATU KE BALIK PANEL KUNCI DIGITAL—PADAHAL DIA BERSUMPAH HANYA SEDANG MEMERIKSA BATERAI. TUJUH TAHUN SEBELUMNYA, BENDA KECIL ITULAH YANG MEMBUAT IBUKU DIHINA SATU KAMPUNG DAN KELUARGAKU HANCUR.

Arman berlari masuk ke rumah.

Aku langsung mengejarnya.

“Jangan biarkan dia masuk kamar!”

Suara kecilku pecah di ruang tengah yang masih dipenuhi kardus. Ibu menarik tanganku, tetapi aku meronta sekuat tenaga.

Joko yang sedang memegang tangga tampak kebingungan.

“Man, mau ngapain?”

Arman tidak menjawab.

Dia menerobos kamar utama dan membanting pintunya.

Klik.

Terkunci.

Wajah Ibu seketika pucat.

“Mas Arman?”

Dia mengetuk pintu.

“Mas, buka pintunya.”

Tidak ada jawaban.

Dari balik pintu terdengar bunyi benda jatuh, disusul suara seperti plastik diremas.

Aku tahu apa yang sedang dia lakukan.

Dia sedang menghilangkan sesuatu.

“Joko, buka pintunya!” teriak Ibu.

Joko meletakkan tangga dan berlari. Aldi ikut mendekat.

“Man! Buka!”

Tetap tidak ada jawaban.

Aku melihat kunci digital di pintu kamar.

Dalam kehidupan pertamaku, benda itulah yang menjadi awal kehancuran keluarga kami.

Sekarang aku tidak akan membiarkan sejarah terulang.

“Matikan listrik!”

Joko menoleh padaku.

“Apa?”

“Matikan listrik rumah!”

Entah kenapa dia menurut. Mungkin karena situasi sudah terlalu aneh untuk mempertanyakan perintah seorang anak tujuh tahun.

Aldi berlari menuju panel listrik.

Beberapa detik kemudian rumah menjadi gelap.

Kunci elektronik mengeluarkan bunyi pendek.

Joko menggunakan kunci mekanis darurat dari kotak perangkat.

Pintu terbuka.

Arman berdiri di dekat lemari.

Tangannya berada di belakang tubuh.

“Apa-apaan kalian?”

Ibu menatapnya.

“Mas tadi bilang mau bantu pegang tangga. Kenapa malah mengunci diri di kamar saya?”

“Saya mau periksa sensor.”

“Dengan pintu dikunci?”

Arman tidak menjawab.

Mataku bergerak ke lantai.

Ada benda hitam kecil di bawah tempat tidur.

Aku menunjuk.

“Itu.”

Arman bergerak lebih cepat.

Namun Joko lebih dekat.

Dia membungkuk dan mengambilnya.

Benda itu tidak lebih besar dari ruas jari.

Berwarna hitam.

Ada titik kecil seperti lensa.

Wajah Joko berubah.

“Ini kamera?”

Arman langsung menyambar.

“Bukan!”

Joko mundur.

“Gue teknisi CCTV juga, Man. Gue tahu bentuk kamera mini.”

Ibu memegang mulutnya.

Aldi menatap Arman seperti baru pertama kali melihatnya.

“Lo siapa sebenarnya?”

Arman tidak menjawab.

Dia mendorong Joko dan berlari.

Aku melihat tubuhnya bergerak ke arah pintu depan.

Dalam kehidupan pertama, dia berhasil menghilang selama bertahun-tahun.

Tidak kali ini.

Aku mengambil vas plastik dari atas kardus dan melemparkannya ke arah pintu.

Vas itu tidak mengenai Arman.

Tetapi jatuh tepat di depan kakinya.

Arman tersandung.

Joko menerjang dari belakang.

Keduanya jatuh.

Aldi membantu menahan tangannya.

“Lepasin gue!”

Arman mengamuk.

Ibu menarikku ke belakang tubuhnya.

Tangannya gemetar hebat.

Dari luar terdengar suara motor berhenti.

Pak Seno, ketua RT kami, masuk setelah mendengar keributan.

“Ada apa ini?”

Ibu bahkan belum sempat menjelaskan ketika Arman berteriak.

“Salah paham, Pak! Anak ini ngawur!”

Dia menunjukku.

“Anak kecil ini dari tadi nuduh saya!”

Pak Seno memandang benda di tangan Joko.

“Apa itu?”

Joko menyerahkannya.

Pak Seno mengerutkan dahi.

Aku berkata, “Cari tasnya.”

Semua mata kembali kepadaku.

Aku tahu aku terlalu banyak bicara untuk anak tujuh tahun.

Tetapi aku tidak peduli lagi.

“Kalau dia cuma teknisi, cari tasnya.”

Arman berhenti meronta.

Reaksi kecil itu cukup.

Aldi berlari ke mobil van.

Beberapa menit kemudian dia kembali membawa ransel hitam.

“Ini bukan punya kantor,” katanya.

Arman mendadak diam.

Pak Seno membuka tas itu.

Isinya membuat ruangan membeku.

Ada tiga kamera mini.

Beberapa kartu memori.

Dua perangkat kecil mirip flashdisk.

Obeng.

Kartu identitas berbeda.

Dan sebuah buku catatan.

Pak Seno mengambil salah satu kartu.

Nama berbeda.

Foto sama.

Ibu mundur sampai punggungnya menyentuh dinding.

“Telepon polisi.”

Arman kembali meronta.

“Kalian enggak punya hak buka barang saya!”

Pak Seno menjawab dingin, “Nanti jelaskan ke polisi.”

Sekitar dua puluh menit kemudian, Ayah tiba hampir bersamaan dengan dua polisi dari Polsek setempat.

Aku belum pernah melihat Ayah berlari secepat itu.

Begitu masuk, matanya langsung mencariku dan Ibu.

“Kalian enggak apa-apa?”

Ibu mengangguk, tetapi air matanya jatuh.

Ayah memeluk kami.

Aku mencium bau seragam dan keringatnya.

Dalam kehidupan pertama, pelukan seperti ini perlahan menghilang dari rumah kami.

Aku menutup mata.

Kali ini tidak.

Polisi memeriksa barang-barang Arman.

Salah seorang petugas bernama Pak Dimas memasukkan kamera kecil itu ke kantong barang bukti.

“Bapak kenal orang ini?” tanyanya kepada Joko.

Joko menggeleng.

“Dia datang ke kantor pagi tadi, Pak. Bawa surat penugasan. Katanya teknisi freelance tambahan dari pusat.”

Aldi menambahkan, “Suratnya kelihatan asli.”

Polisi memeriksa ponsel Arman.

Arman mendadak pucat.

Saat itulah aku sadar.

Dalam kehidupan pertama, Arman tidak mungkin langsung memeras Ibu tanpa mengetahui kebiasaan keluarga kami.

Dia tahu jadwal Ayah.

Dia tahu kamar mana yang digunakan Ibu.

Dia tahu usaha katering Ibu.

Seseorang pasti memberinya informasi.

Aku menarik lengan Ayah.

“Ayah.”

“Kenapa?”

“Dia tahu Ayah kerja malam dari mana?”

Ayah terdiam.

Pak Dimas mendengar.

Tatapannya langsung berubah.

“Pertanyaan bagus.”

Arman menatapku.

Untuk pertama kalinya, ada ketakutan sungguhan di wajahnya.

Polisi membawa Arman pergi malam itu.

Aku pikir semuanya sudah selesai.

Ternyata belum.

Dua hari kemudian, Pak Dimas datang kembali.

Dia meminta bicara dengan Ayah dan Ibu.

Aku duduk di ruang makan sambil pura-pura menggambar.

“Dari pemeriksaan ponsel tersangka,” katanya, “kami menemukan percakapan yang cukup mengkhawatirkan.”

Ibu menggenggam cangkir.

“Dengan siapa?”

“Nomornya menggunakan kartu prabayar. Belum terdaftar jelas.”

Pak Dimas mengeluarkan beberapa lembar cetakan.

Salah satu pesan dikirim tiga hari sebelum kami pindahan.

Keluarga target masuk tanggal 12.

Suami sering shift malam.

Istri punya usaha katering.

Kamar utama sisi timur.

Pasang sebelum malam pertama.

Tanganku dingin.

Lalu ada balasan Arman.

Bayaran tetap sama?

Nomor misterius itu menjawab.

Kalau rumah itu berhasil hancur, saya tambah dua kali lipat.

Ibu menutup mulutnya.

Ayah berdiri.

“Siapa yang mau menghancurkan keluarga saya?”

Polisi belum tahu.

Tetapi aku punya satu ingatan yang tiba-tiba kembali.

Dalam kehidupan pertama, setelah skandal Ibu menyebar, ada seseorang yang datang hampir setiap hari.

Seseorang yang selalu terlihat membantu.

Membawakan makanan.

Menenangkan Ayah.

Mengantar Ibu ke dokter.

Bahkan menawarkan membeli rumah kami karena katanya rumah itu sudah membawa sial.

Namanya Pak Hendra.

Sepupu jauh Ayah.

Dan rumah warisan Mbah Putri berdiri di atas tanah yang nilainya terus naik karena rencana pembangunan kawasan komersial.

Aku menatap Ayah.

“Pak Hendra.”

Ayah mengerutkan dahi.

“Kenapa Pak Hendra?”

Aku tidak mungkin berkata bahwa tujuh belas tahun kemudian aku mengetahui tanah ini bernilai miliaran.

Aku hanya berkata, “Kemarin dia datang.”

Ibu mengangguk.

“Memang. Sebelum teknisi datang.”

Ayah menatap Ibu.

“Ngapain?”

“Katanya mau lihat rumah.”

Aku bertanya, “Dia masuk kamar?”

Ibu berpikir.

“Enggak.”

Lalu wajahnya berubah.

“Tapi dia yang kasih nomor perusahaan pemasangan.”

Pak Dimas langsung berdiri.

“Nomor perusahaan dari Pak RT atau Pak Hendra?”

Ibu membeku.

Kami semua mengingat perkataan Ibu sebelumnya.

Pak RT yang memberi nomor perusahaan itu.

Pak Seno kemudian dipanggil.

Jawabannya mengejutkan.

“Saya enggak pernah kasih nomor teknisi.”

Ruangan menjadi sunyi.

Ibu duduk perlahan.

“Berarti Hendra bohong.”

Penyelidikan berkembang cepat.

Polisi menemukan transfer dari rekening milik sebuah perusahaan kecil kepada Arman.

Perusahaan itu ternyata terdaftar atas nama istri Pak Hendra.

Motifnya lebih buruk daripada yang kami bayangkan.

Mbah Putri meninggalkan rumah itu kepada Ibu, bukan Ayah.

Beberapa tahun sebelumnya, Pak Hendra pernah mencoba membeli tanah tersebut dengan harga sangat murah karena mendengar ada pengembang yang mulai membebaskan lahan di sekitar situ.

Ibu menolak.

Maka dia memilih cara lain.

Menghancurkan reputasi Ibu.

Merusak pernikahan orang tuaku.

Membuat kami meninggalkan rumah.

Kemudian membeli tanah itu ketika keluarga kami sedang berada di titik terlemah.

Dalam kehidupan pertama, rencananya hampir berhasil.

Aku ingat Ayah pernah berkata ingin menjual rumah setelah Ibu pergi ke Bantul.

Hanya karena Mbah Kakung melarang, rumah itu akhirnya tetap menjadi milik keluarga.

Aku duduk di lantai ketika mendengar semuanya.

Tubuhku tujuh tahun.

Tetapi kepalaku dipenuhi kenangan seorang perempuan dua puluh empat tahun.

Aku ingin tertawa.

Aku juga ingin menangis.

Ternyata selama tujuh belas tahun aku membenci kamera kecil itu.

Padahal kamera itu hanya alat.

Yang menghancurkan keluarga kami sebenarnya adalah keserakahan seseorang dan kebiasaan orang-orang mempercayai potongan video tanpa pernah bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

Pak Hendra ditangkap beberapa minggu kemudian.

Arman akhirnya bekerja sama dengan polisi.

Dari perangkat yang disita, polisi menemukan bukti bahwa kami bukan target pertama.

Ada beberapa perempuan lain yang pernah direkam diam-diam.

Ada yang diperas.

Ada yang videonya dijual.

Ada pula korban yang tidak pernah tahu dirinya direkam.

Kasus itu menjadi jauh lebih besar daripada keluarga kami.

Suatu sore, Ibu duduk bersamaku di teras.

Dia sedang memotong kacang panjang untuk pesanan katering.

Aku memperhatikannya lama.

“Apa?”

Ibu tersenyum.

Aku menggeleng.

“Enggak apa-apa.”

“Dari pindahan kamu aneh terus.”

Aku tertawa kecil.

Ibu menyentuh dahiku.

“Kirana.”

“Hmm?”

“Waktu itu kamu tahu dari mana kalau ada sesuatu di kunci?”

Pertanyaan yang kutakuti akhirnya datang.

Aku menatap halaman.

Pohon mangga bergerak pelan diterpa angin.

Aku tidak bisa mengatakan kebenaran.

Setidaknya belum.

“Aku mimpi.”

“Mimpi apa?”

Aku menelan ludah.

“Mimpi Ibu pergi.”

Tangannya berhenti.

“Ayah juga pergi.”

Aku melanjutkan pelan.

“Terus Kirana sendirian.”

Ibu meletakkan pisau.

Dia menarikku ke pelukannya.

“Dengar, ya.”

Aku menahan napas.

“Kalau suatu hari Ibu dan Ayah bertengkar, itu bukan salah Kirana. Kalau orang dewasa membuat keputusan buruk, itu juga bukan tanggung jawab Kirana.”

Air mataku langsung jatuh.

Kalimat itu sederhana.

Tetapi selama tujuh belas tahun aku menunggu seseorang mengatakannya.

Aku memeluk Ibu erat.

Malam itu Ayah benar-benar pulang sebelum aku tidur.

Kami makan nasi goreng buatan Ibu di lantai karena meja makan belum selesai dipasang.

Ayah mengeluh sambalnya terlalu pedas.

Ibu menyuruhnya berhenti cerewet.

Aku tertawa sampai perutku sakit.

Pemandangan yang sangat biasa.

Namun bagiku, itu seperti mendapatkan kembali dunia yang pernah hilang.

Tahun-tahun berikutnya berjalan berbeda.

Usaha katering Ibu berkembang.

Ayah tetap bekerja.

Rumah kami tidak pernah dijual.

Aku tumbuh dengan kebiasaan aneh memeriksa kamera, kunci, dan perangkat elektronik setiap kali masuk tempat baru.

Ayah menganggapku terlalu paranoid.

Ibu menyebutku kepala keamanan keluarga.

Aku tidak pernah menceritakan kehidupan pertamaku kepada siapa pun.

Sampai tujuh belas tahun kemudian.

Pada malam ulang tahunku yang kedua puluh empat, aku duduk sendirian di kamar lama.

Usiaku kembali sama dengan malam ketika kehidupan pertamaku berakhir.

Di meja ada foto keluarga.

Foto yang sama.

Namun isinya berbeda.

Dalam foto kehidupan pertamaku, Ayah berdiri jauh dari Ibu.

Senyum mereka kaku.

Aku berada di tengah seperti lem yang gagal menyatukan dua benda yang sudah pecah.

Dalam foto yang sekarang, Ayah memeluk bahu Ibu.

Ibu sedang tertawa.

Aku berdiri di depan mereka.

Ponselku berbunyi.

Pesan dari Ibu.

Besok pulang jangan lupa beli cabai. Ayahmu sok mau bikin sambal lagi.

Aku tertawa sambil menangis.

Kemudian pandanganku jatuh pada boneka beruang lusuh di atas lemari.

Boneka yang seharusnya sudah kubuang sebelum kehidupan pertamaku berakhir.

Aku berdiri.

Mengambilnya.

Ada sesuatu yang keras di dalam perut boneka.

Aku mengernyit.

Jahitannya terlihat berbeda.

Dengan gunting kecil, kubuka bagian belakangnya.

Sebuah benda jatuh ke kasur.

Kartu memori lama.

Tanganku gemetar.

Aku memasukkannya ke laptop.

Hanya ada satu file video.

Tanggalnya membuat darahku berhenti mengalir.

Tanggal sehari sebelum kami pindah ke rumah ini.

Video memperlihatkan ruang tamu rumah lama Mbah Putri.

Kualitasnya buruk.

Namun aku mengenali dua orang di sana.

Mbah Putri.

Dan seorang perempuan kecil.

Aku.

Aku yang berumur tujuh tahun.

Mbah Putri berjongkok di hadapanku sambil memasukkan sesuatu ke dalam boneka beruang.

Lalu dia memegang kedua bahuku.

Suara rekamannya samar.

Tetapi masih terdengar.

“Kirana, kalau suatu hari kamu merasa pernah mengalami sesuatu yang belum terjadi, jangan takut.”

Aku membeku.

Di video, Kirana kecil hanya tertawa.

Mbah Putri melanjutkan.

“Keluarga kita punya cerita tentang orang yang diberi kesempatan pulang ketika penyesalannya terlalu besar.”

Tanganku menutup mulut.

Mbah Putri menatap langsung ke kamera.

“Kalau kamu benar-benar kembali, berarti kamu sedang menonton ini.”

Air mataku jatuh.

Kemudian dia tersenyum.

“Jangan gunakan kesempatan kedua untuk membalas dendam.”

“Gunakan untuk menghentikan luka sebelum luka itu diwariskan.”

Video berhenti.

Aku duduk lama dalam gelap.

Selama bertahun-tahun aku mengira aku kembali untuk menyelamatkan Ibu.

Ternyata bukan hanya itu.

Aku kembali untuk menyelamatkan diriku sendiri dari keyakinan bahwa masa lalu harus selalu menentukan masa depan.

Dari luar kamar terdengar suara Ayah.

“Kirana! Ibumu video call! Katanya cabainya jangan lupa!”

Aku tertawa di antara air mata.

Laptop kututup.

Kartu memori kusimpan kembali ke dalam boneka.

Lalu aku keluar kamar.

Di ruang tengah, Ayah sedang berdebat dengan Ibu melalui video call tentang jenis cabai yang harus kubeli.

Aku duduk di samping Ayah dan menyandarkan kepala di bahunya.

Tidak ada keluarga yang benar-benar bebas dari masalah.

Tidak ada rumah yang bisa dijamin selalu aman.

Tetapi malam itu aku akhirnya memahami sesuatu.

Rumah bukanlah pintu yang tidak pernah berhasil dibobol.

Rumah adalah tempat di mana, ketika sesuatu mencoba menghancurkanmu, orang-orang di dalamnya memilih untuk saling percaya sebelum mempercayai dunia di luar.

Pada kehidupan pertamaku, sebuah kamera kecil berhasil merampas itu dari kami.

Pada kehidupan kedua, benda yang sama justru mengajarkanku satu hal.

Kebohongan hanya membutuhkan beberapa detik rekaman untuk menghancurkan nama seseorang.

Tetapi kepercayaan membutuhkan keberanian untuk melihat seluruh cerita.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang