Aku menatap layar ponsel Keenan sampai huruf-huruf di bawah desain itu terasa kabur.
Rania Prameswari.
Nama sepupuku tercetak jelas sebagai kreator utama.
Untuk beberapa detik, suara mahasiswa yang berlalu-lalang di koridor seolah menghilang. Yang kudengar hanya detak jantungku sendiri.
“Enggak mungkin,” bisikku.
Keenan tidak mengalihkan pandangan. “Kamu kenal nama itu?”

Aku tertawa pendek, tetapi tidak ada sedikit pun rasa lucu di dalamnya. “Dia sepupuku.”
Sinta yang sejak tadi berdiri di sampingku langsung menutup mulut. “Rania?”
Aku mengangguk.
Rania bukan sekadar sepupu. Kami tumbuh bersama. Rumah kami hanya berjarak tiga gang ketika masih kecil. Saat aku masuk jurusan Desain Komunikasi Visual di Jakarta, dia bahkan orang pertama yang membantuku mencari kos sebelum akhirnya aku memilih tetap tinggal bersama orang tuaku.
Tiga bulan lalu, ketika aku mengikuti seleksi magang di Arunika Development, perusahaan properti milik keluarga Keenan, Rania yang membantuku memeriksa berkas.
Laptopku sempat rusak malam sebelum tenggat.
Aku mengirim seluruh file kepadanya.
“Nara?” suara Keenan membuyarkan pikiranku.
Aku mengangkat kepala. “Desain itu saya kirim untuk seleksi magang perusahaan kalian.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa ada nama Rania?”
“Itulah yang sedang kami cari tahu.”
Aku meraih map cokelat dari tangannya. Kali ini Keenan melepaskannya.
“Kalau begitu urusan kalian,” kataku. “Saya cuma mau karya saya kembali.”
Aku berbalik, tetapi Keenan memanggilku.
“Nara.”
Aku berhenti.
“Desain itu bukan cuma dipakai untuk portofolio seseorang.”
Nada suaranya membuatku menoleh.
Keenan melanjutkan, “Konsepnya sudah dipresentasikan kepada direksi untuk proyek hunian baru kami.”
Darahku seperti turun ke kaki.
“Apa?”
“Dan Rania menerima bayaran.”
Sinta spontan berkata, “Gila.”
Aku tidak bisa bicara.
Keenan mengeluarkan sebuah kartu nama. “Datang ke kantor besok. Aku akan tunjukkan semuanya.”
“Aku ada kelas.”
“Setelah kelas.”
“Aku kerja.”
“Setelah kerja.”
Aku menatapnya kesal. “Semua orang enggak punya waktu sebanyak kamu, Mas.”
Anehnya, ia malah tersenyum.
“Berarti aku tunggu sampai kamu punya waktu.”
Sebelum pergi, aku akhirnya menanyakan sesuatu yang sejak tadi menggangguku.
“Bagaimana kamu tahu namaku?”
Keenan menunjuk map cokelat di tanganku.
Aku merasa bodoh.
“Tentu saja.”
Ia tertawa kecil.
Tawa yang sama seperti malam di depan laundry.
Saat itulah aku kembali teringat kejadian itu.
“Tunggu.”
Keenan berhenti.
“Kamu sebenarnya sedang apa malam itu?”
Sinta langsung memasang wajah penasaran.
Keenan terdiam sebentar sebelum menjawab, “Mobilku mengalami kecelakaan kecil di jalan belakang. Ponsel jatuh, layar pecah. Sepatuku rusak karena menginjak genangan saat membantu mendorong motor yang ikut tersenggol. Sopirku membawa korban ke klinik dan aku menunggu mobil lain menjemput.”
Aku menatapnya.
“Jadi kamu bukan gelandangan?”
Sinta gagal menahan tawa.
Keenan mengangkat alis. “Kamu kira aku gelandangan?”
Panas menjalar ke wajahku.
“Aku enggak bilang begitu.”
“Tapi kamu memberiku nasi ayam dengan tatapan kasihan.”
“Kamu kelihatan menyedihkan.”
Keenan tertawa lebih keras.
Aku pergi sebelum wajahku semakin merah.
Namun malam itu aku tidak bisa tertawa.
Aku membuka kembali surel penolakan magang yang kuterima tiga bulan sebelumnya. Lalu membuka percakapan dengan Rania.
Semua masih ada.
Pesanku ketika mengirim file.
Permintaanku agar ia membantu mengunggah karena laptopku bermasalah.
Balasannya.
Tenang aja, Nar. Biar aku bantu.
Kemudian satu pesan lain yang dulu terasa biasa.
File finalnya cuma ini?
Aku menjawab iya.
Tanganku mulai gemetar.
Aku menelepon Rania.
Tidak diangkat.
Aku menelepon lagi.
Tetap tidak diangkat.
Lima menit kemudian, sebuah pesan masuk.
Ada apa, Nar? Aku lagi meeting.
Aku mengetik cepat.
Kamu kerja sama Arunika Development?
Tanda sedang mengetik muncul, lalu menghilang.
Muncul lagi.
Hilang lagi.
Akhirnya jawabannya datang.
Iya. Kenapa?
Aku langsung menelepon.
Kali ini dia mengangkat.
“Nara, aku lagi sibuk.”
“Desainku ada di kantor mereka.”
Sunyi.
“Desain yang mana?”
“Jangan pura-pura enggak tahu.”
“Nara, aku benar-benar enggak ngerti.”
“Konsep Ruang Pulang. Desain yang aku kirim buat seleksi magang.”
Suara Rania berubah. “Oh, itu.”
Dua kata itu menghancurkan sisa keraguanku.
“Kamu pakai?”
“Dengar dulu.”
“Kamu mencuri?”
“Jangan pakai kata mencuri.”
“Terus apa namanya?”
Rania mengembuskan napas keras. “Kamu enggak lolos seleksi. Konsepmu bagus, tapi presentasimu enggak matang. Aku cuma mengembangkan.”
Aku merasa seperti ditampar.
“Tanpa izin?”
“Kita keluarga, Nara.”
“Justru karena kita keluarga, aku percaya sama kamu.”
Rania terdiam.
Lalu ia mengatakan sesuatu yang tidak pernah kulupakan.
“Kalau aku enggak pakai, desain itu cuma akan membusuk di laptopmu.”
Aku memutus sambungan.
Keesokan malam, setelah selesai bekerja di kedai roti, aku mendatangi kantor Arunika Development di kawasan Kuningan.
Keenan sudah menunggu di lobi.
Ia tidak memakai jas seperti di kampus. Hanya kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku.
“Kamu kelihatan marah,” katanya.
“Memang.”
“Bagus.”
Aku mengernyit. “Bagus?”
“Orang yang marah biasanya belum menyerah.”
Ia membawaku ke ruang rapat kecil.
Di sana sudah ada beberapa dokumen.
Kontrak.
Presentasi.
Catatan revisi.
Dan bukti pembayaran dua puluh lima juta rupiah kepada Rania sebagai konsultan kreatif tahap awal.
Aku membaca semuanya sampai telapak tanganku berkeringat.
“Kenapa perusahaan sebesar ini bisa menerima karya tanpa memeriksa?”
Keenan tidak defensif.
“Itu kesalahan kami.”
Jawaban itu justru membuatku terdiam.
“Rania masuk melalui rekomendasi salah satu manajer. Dia menunjukkan file kerja dan beberapa sketsa.”
“File kerja?”
Keenan memutar laptopnya.
Aku mengenali semuanya.
Bahkan ada foto sketsa tanganku.
Aku langsung tahu bagaimana Rania mendapatkannya.
Aku pernah mengirim foto-foto itu kepadanya.
“Bisa dibuktikan desain ini milikmu?” tanya Keenan.
Aku mengangguk.
“Ada buku sketsa asli. Ada file dengan metadata pembuatan. Ada percakapan saat aku mengirimnya ke Rania.”
“Bawa semuanya.”
Aku menatapnya. “Untuk apa?”
“Besok ada rapat direksi.”
Aku tercekat. “Kamu mau aku datang?”
“Bukan aku yang harus menjelaskan desain itu.”
Aku menggeleng cepat. “Aku enggak bisa.”
“Kamu bisa.”
“Aku bahkan gemetar presentasi di depan dosen.”
“Kalau begitu gemetar saja.”
Aku menatapnya tajam.
Keenan melanjutkan dengan tenang, “Gemetar bukan berarti kamu salah.”
Kalimat sederhana itu entah bagaimana membuatku diam.
Besoknya aku datang.
Rania juga datang.
Ketika melihatku memasuki ruang rapat sambil membawa buku sketsa, wajahnya langsung pucat.
“Nara?”
Aku duduk di seberangnya.
Di ujung meja terdapat seorang pria sekitar enam puluh tahun. Aku langsung menduga dialah ayah Keenan.
Rapat dimulai.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada drama seperti yang kubayangkan.
Justru semuanya terasa lebih menakutkan karena begitu formal.
Keenan meminta Rania menjelaskan proses penciptaan konsep Ruang Pulang.
Rania berbicara hampir sepuluh menit.
Tentang inspirasi.
Tentang filosofi.
Tentang proses kreatif.
Aku mendengarkannya menggunakan kalimat-kalimat yang pernah kuucapkan kepadanya.
Lalu Keenan bertanya, “Kenapa simbol tiga garis ini digunakan?”
Rania berhenti.
“Itu simbol… perjalanan manusia.”
Aku hampir tertawa.
Keenan menoleh kepadaku.
“Nara?”
Aku membuka buku sketsa.
“Ini bukan simbol perjalanan manusia.”
Semua mata mengarah kepadaku.
Tanganku memang gemetar.
Namun aku terus bicara.
“Tiga garis ini mewakili tiga anggota keluarga saya. Ayah, Ibu, dan saya.”
Aku menunjukkan halaman pertama buku sketsa yang dibuat dua tahun sebelumnya.
“Awalnya saya membuatnya setelah bengkel Ayah hampir tutup. Saya ingin membuat identitas visual tentang rumah yang tidak selalu berarti bangunan. Kadang rumah adalah orang-orang yang tetap menunggu kita pulang ketika hidup sedang berantakan.”
Ruangan menjadi hening.
Aku mengeluarkan cetakan metadata file.
Lalu tangkapan layar percakapan dengan Rania.
Satu per satu.
Wajah Rania semakin pucat.
“Nara,” katanya pelan, “kita bisa bicara berdua.”
Aku menatapnya.
“Tiga bulan lalu kita bisa bicara berdua.”
Ia menunduk.
Manajemen memutuskan menghentikan kontraknya dan melakukan audit terhadap seluruh portofolio yang pernah ia serahkan.
Aku seharusnya merasa puas.
Ternyata tidak.
Ketika keluar dari gedung, aku justru menangis.
Keenan menemukanku duduk di tangga belakang.
“Aku jahat enggak?” tanyaku.
“Karena membuktikan karya itu milikmu?”
“Dia sepupuku.”
Keenan duduk dengan jarak satu anak tangga dariku.
“Orang terdekat kadang menyakiti kita bukan karena mereka tidak tahu kita akan terluka. Mereka melakukannya karena yakin kita akan memaafkan.”
Aku mengusap air mata.
“Kedengarannya seperti pengalaman pribadi.”
Keenan tersenyum hambar. “Ayahku hampir kehilangan perusahaan karena percaya kepada saudara sendiri.”
Aku menoleh.
Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa di balik pakaian mahal dan nama besar keluarganya, Keenan juga membawa luka yang tidak terlihat.
Seminggu kemudian, sebuah surel masuk.
Arunika Development menawarkan kompensasi penggunaan konsepku sekaligus kesempatan menjadi peserta khusus dalam program inkubasi kreatif mereka.
Aku menolaknya.
Keenan menelepon malam itu.
“Kenapa ditolak?”
“Aku enggak mau diterima karena dikasihani.”
“Siapa yang kasihan?”
“Kamu.”
Ia tertawa. “Nara, orang yang memberiku nasi ayam sebelas malam karena mengira aku tidak punya rumah sedang menuduhku mudah kasihan?”
Aku terdiam.
“Datang ke kampus besok,” katanya. “Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”
Keesokan harinya, di aula kampus, diumumkan bahwa kompetisi desain nasional yang hampir batal kuikuti diperpanjang tenggatnya karena perubahan jadwal penyelenggara.
Aku mengirim desainku.
Bukan Ruang Pulang.
Aku membuat konsep baru dari nol.
Judulnya Pertemuan.
Sebulan kemudian, aku memenangkan juara kedua.
Bukan pertama.
Anehnya aku jauh lebih bangga daripada yang kubayangkan.
Ketika turun dari panggung, Keenan berdiri di antara penonton sambil membawa kantong plastik.
“Apa itu?” tanyaku.
“Nasi ayam.”
Aku tertawa.
“Buat apa?”
“Bayar utang.”
“Utangmu sudah lunas.”
“Belum.”
Ia menyerahkan kantong itu.
Di dalamnya ada nasi ayam dan sebuah map cokelat baru.
Aku membukanya.
Ada surat penawaran magang.
Namun bukan dari perusahaan ayahnya.
Dari sebuah studio desain independen yang selama ini sangat ingin kumasuki.
Aku menatapnya tidak percaya.
“Kamu ngapain?”
“Enggak ada.”
“Keenan.”
“Aku cuma mengirimkan tautan portofoliomu setelah hasil kompetisi diumumkan. Mereka sendiri yang menghubungi kampus.”
Aku memukul lengannya pelan.
“Kamu enggak boleh sembarangan kirim portofolio orang.”
“Sekarang aku tahu.”
Kami tertawa.
Enam bulan kemudian, hidupku berubah cukup banyak.
Aku magang sambil menyelesaikan kuliah. Bengkel Ayah mulai ramai lagi setelah aku membantu membuat identitas visual dan akun media sosialnya. Ibu masih selalu menelepon jika aku pulang lewat pukul sepuluh.
Rania tidak pernah benar-benar kembali seperti dulu.
Ia datang ke rumah saat Lebaran.
Kami bicara.
Ia meminta maaf.
Aku memaafkan, tetapi tidak kembali mempercayainya dengan cara yang sama.
Ternyata memaafkan seseorang tidak selalu berarti memberinya kembali tempat yang pernah ia rusak.
Suatu malam aku kembali ke laundry yang sama.
Mesin pengering berputar di belakangku ketika seseorang duduk di kursi sebelah.
Keenan.
Kali ini rambutnya rapi dan kedua sepatunya terpasang dengan benar.
Ia membawa dua porsi nasi ayam.
“Mas,” kataku serius, “kalau memang belum makan, ambil ini saja.”
Ia menatapku lalu tertawa.
“Akhirnya kamu kasih tahu namamu.”
Aku tersenyum. “Bukannya kamu sudah tahu dari map?”
“Beda.”
“Bedanya?”
“Kali ini aku mau dengar langsung.”
Aku menatap hujan di luar kaca.
Malam ketika kami pertama bertemu, aku mengira aku sedang membantu orang asing yang kehilangan arah.
Ternyata justru aku yang sedang berada di ambang kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sebuah map.
Kepercayaan pada diriku sendiri.
Aku menoleh kepadanya.
“Nara.”
Keenan mengangguk seolah baru pertama kali mendengarnya.
“Keenan.”
“Aku juga sudah tahu.”
Kami tertawa.
Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya.
Bukan hadiah.
Bukan cincin.
Sebuah kertas kecil yang sudah kusut.
Kuitansi dari warung tempat aku membeli nasi ayam malam itu.
Aku terdiam.
“Kamu masih simpan?”
“Karena malam itu aku baru selesai bertengkar besar dengan Ayah,” katanya. “Aku bilang semua orang mendekati keluarga kami karena nama dan uang. Lalu beberapa jam kemudian ada perempuan asing yang melihatku dalam keadaan paling kacau, tidak tahu siapa aku, dan memberikan makan siangnya untuk besok.”
Dadaku menghangat.
“Aku bohong waktu bilang beli dua karena lapar mata.”
“Aku tahu.”
“Kok tahu?”
“Wajahmu sedih waktu menyerahkan makanannya.”
Aku tertawa malu.
Keenan memandang kuitansi itu sebelum melipatnya kembali.
“Aku menemukan mapmu setelah kamu pergi. Awalnya aku berniat menitipkannya ke laundry. Tapi ketika melihat simbol di luarnya, aku mengenalinya.”
“Jadi sejak malam itu kamu sudah tahu?”
“Belum tahu siapa kamu. Tapi aku tahu seseorang telah berbohong di kantorku.”
Hujan terus turun.
Aku baru memahami sesuatu yang selama ini terasa seperti kebetulan.
Map itu tidak membawaku kepada Keenan.
Nasi ayam itu juga tidak.
Kami bertemu karena pada satu malam yang buruk, dua orang asing sama-sama sedang membawa masalah yang tidak terlihat.
Dan salah satunya memilih berbuat baik tanpa bertanya siapa orang di depannya.
Kadang hidup memang aneh.
Kita memberikan sesuatu yang menurut kita kecil, lalu bertahun-tahun kemudian baru memahami bahwa kebaikan itu telah membuka pintu yang bahkan tidak kita tahu ada.
Sejak malam itu aku tidak pernah lagi menganggap kebaikan sebagai sesuatu yang sia-sia.
Sebab kita tidak pernah tahu siapa yang sedang duduk sendirian di depan sebuah laundry.
Dan kita juga tidak pernah tahu, mungkin justru orang itulah yang suatu hari akan mengembalikan sesuatu yang hampir hilang dari diri kita.
