MEMPELAI PRIA TAK KUNJUNG DATANG DI HARI PERNIKAHANNYA, MEMBUAT SEMUA ORANG MENGIRA DIA ADALAH “PENGANTIN PRIA YANG KABUR”

Wajah Alya seketika kehilangan warna.

Di layar LED raksasa itu terlihat sebuah ruang IGD yang terang dan dingin. Beberapa tenaga medis bergerak cepat di belakang kamera. Suara monitor jantung terdengar samar, bercampur dengan suara orang-orang berbicara terburu-buru.

Lalu kamera bergeser.

Seorang pria terbaring di atas ranjang rumah sakit.

Kemeja putihnya penuh noda darah. Jas hitam yang seharusnya ia kenakan di altar tergeletak di kursi sebelah ranjang, bagian lengannya robek dan kotor.

Pria itu adalah Raka.

“Raka…”

Suara Alya hampir tak terdengar.

Ia berlari keluar dari ruang rias tanpa memedulikan gaun pengantinnya yang panjang. Ibunya mencoba mengejar, tetapi Alya sudah tiba di depan panggung.

Semua tamu terdiam.

Beberapa orang yang sebelumnya menyebut Raka sebagai pengantin pria pengecut kini menundukkan kepala.

Di layar, seorang dokter perempuan muncul.

“Apakah suara kami terdengar?”

Teknisi acara buru-buru mengambil mikrofon.

“Terdengar, Dok.”

Dokter itu mengangguk.

“Saya Dokter Maya dari Rumah Sakit Harapan Sentosa. Kami meminta maaf karena menghubungi acara ini dengan cara seperti ini. Ponsel pasien rusak akibat kecelakaan. Tetapi sebelum kondisinya memburuk, dia terus menyebut satu hal.”

Dokter itu berhenti sebentar.

“Pernikahannya.”

Alya menutup mulutnya.

Air matanya kembali mengalir.

“Kecelakaan?” tanyanya dengan suara gemetar.

Dokter Maya menatap kamera.

“Saudara Raka mengalami kecelakaan sekitar pukul satu siang.”

Pukul satu.

Satu jam sebelum pernikahan mereka dimulai.

Alya merasa kedua lututnya melemas.

“Tapi… kenapa tidak ada yang menghubungi saya?”

“Karena kecelakaan itu bukan kecelakaan biasa.”

Kalimat itu membuat suasana kembali menegang.

Dokter Maya menoleh ke samping.

“Kami rasa lebih baik Saudara Raka sendiri yang menjelaskannya.”

Seorang perawat mendekati ranjang.

Raka membuka matanya perlahan.

Wajahnya pucat. Ada luka di pelipisnya. Sebuah perban membungkus bahu kirinya.

Namun ketika melihat layar di hadapannya, bibirnya membentuk senyum kecil.

“Alya…”

Tangis Alya pecah.

“Kamu bodoh!” teriaknya sambil menangis. “Kenapa kamu tidak datang? Kenapa kamu membuatku menunggu?”

Raka mencoba tertawa, tetapi wajahnya langsung meringis kesakitan.

“Aku sudah mencoba datang.”

“Lalu apa yang terjadi?”

Raka menarik napas.

“Dalam perjalanan ke tempat pernikahan, aku melihat sebuah mobil menabrak pembatas jalan.”

Para tamu mulai saling berpandangan.

“Mobil itu terguling,” lanjut Raka. “Ada seorang perempuan di dalamnya. Dan seorang anak kecil.”

Alya membeku.

“Aku berhenti. Beberapa orang juga berhenti, tapi mobilnya mulai mengeluarkan asap.”

Raka menelan ludah.

“Aku masuk.”

Di taman itu, tak terdengar suara apa pun selain siaran dari rumah sakit.

“Aku berhasil mengeluarkan anak itu. Tapi ibunya terjepit. Saat aku mencoba menariknya keluar, sebuah kendaraan lain kehilangan kendali karena jalan licin.”

Raka menutup mata beberapa detik.

“Setelah itu aku tidak ingat apa-apa.”

Alya menangis semakin keras.

Jadi ketika ia duduk di ruang rias, mengira dirinya telah ditinggalkan, Raka justru sedang mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan orang asing.

Namun dokter Maya tiba-tiba berkata, “Ada sesuatu lagi yang perlu diketahui.”

Raka langsung menoleh.

“Dok…”

“Menurut saya, ini penting.”

Dokter kemudian memberi isyarat kepada seseorang.

Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh lima tahun muncul di layar. Dahinya diperban. Tangannya menggenggam tangan seorang anak laki-laki kecil.

Perempuan itu menangis.

“Nama saya Dina.”

Ia menatap kamera.

“Saya perempuan yang ada di mobil itu.”

Dina menarik anaknya mendekat.

“Kalau bukan karena Mas Raka, anak saya mungkin sudah tidak ada.”

Alya menatap layar tanpa berkedip.

“Mas Raka sebenarnya sudah berhasil mengeluarkan anak saya. Orang-orang berteriak menyuruhnya menjauh karena mobil bisa terbakar kapan saja.”

Dina terisak.

“Tapi dia kembali untuk saya.”

Anak laki-laki di sebelahnya tiba-tiba mengangkat sebuah benda.

Sebuah kotak kecil berwarna hitam.

Kotak cincin.

“Saat Om Raka jatuh, ini ada di dekatnya,” katanya polos.

Tangis beberapa tamu mulai terdengar.

Namun Alya memperhatikan sesuatu yang aneh.

Di belakang Dina berdiri seorang pria tua.

Tubuh Alya mendadak kaku.

Ia mengenali pria itu.

“Ayah?”

Suasana taman berubah.

Pria tersebut adalah Hendra, ayah Alya.

Sejak pagi Hendra memang tidak terlihat di lokasi pernikahan. Ibunya hanya mengatakan bahwa Hendra sedang menyelesaikan urusan mendadak dan akan datang terlambat.

Namun mengapa sekarang ia berada di rumah sakit bersama perempuan yang diselamatkan Raka?

Hendra maju mendekati kamera.

Wajahnya penuh rasa bersalah.

“Alya…”

“Ayah kenapa ada di sana?”

Hendra tidak langsung menjawab.

Dina menunduk.

Alya mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.

“Ayah, jawab aku.”

Hendra menghela napas panjang.

“Karena Dina adalah adikmu.”

Taman itu seakan kehilangan udara.

Alya tidak bergerak.

“Apa?”

Ibunya yang berdiri beberapa meter di belakang mendadak memejamkan mata.

Hendra melanjutkan dengan suara berat.

“Dina adalah anak Ayah dari hubungan sebelum Ayah menikah dengan ibumu.”

Alya menatap ibunya.

“Ibu tahu?”

Ibunya menangis.

“Aku tahu.”

“Sejak kapan?”

“Sejak dua tahun lalu.”

Alya mundur selangkah.

Selama ini ia merasa mengenal keluarganya. Ternyata ada rahasia sebesar itu yang disembunyikan darinya.

“Tadi pagi Dina menelepon Ayah,” lanjut Hendra. “Dia ingin bertemu sebelum kamu menikah. Dia bilang tidak ingin meminta apa pun. Dia hanya ingin memberikan sesuatu untukmu.”

“Untukku?”

Dina mengangguk.

“Sebuah surat dari ibu kandung saya sebelum beliau meninggal.”

Alya tidak memahami apa hubungannya semua itu dengan pernikahannya.

Kemudian Raka berkata pelan, “Aku tahu tentang Dina.”

Alya menatap layar.

“Kamu tahu?”

“Ayahmu memberitahuku tiga minggu lalu.”

Wajah Alya berubah.

“Kamu juga menyembunyikannya dariku?”

“Aku meminta Raka merahasiakannya,” Hendra segera menyela. “Aku takut kalau masalah keluarga ini muncul sebelum pernikahan, semuanya akan berantakan.”

Alya tertawa getir di tengah tangis.

“Jadi semua orang tahu kecuali aku?”

Raka memejamkan mata.

“Aku memang salah karena tidak memberitahumu.”

“Tentu kamu salah!”

“Alya…”

“Sepuluh tahun, Raka. Sepuluh tahun kita bersama. Kamu tahu aku paling benci dibohongi.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa?”

Raka diam beberapa detik.

“Karena aku takut kehilanganmu.”

Kalimat sederhana itu justru membuat Alya semakin sakit.

Raka kemudian meminta perawat mengambil sesuatu dari jasnya.

Sebuah amplop kusut dikeluarkan dari saku bagian dalam.

“Aku seharusnya memberikan ini setelah akad.”

“Apa itu?”

“Surat.”

“Dari siapa?”

“Dariku.”

Raka tersenyum tipis.

“Aku menulisnya semalam.”

Dengan suara lemah, Raka mulai membacakan isi surat tersebut.

“Alya, aku tidak tahu seperti apa hidup kita setelah hari ini. Mungkin akan ada hari ketika kamu marah kepadaku. Mungkin ada hari ketika aku mengecewakanmu. Tapi aku tidak ingin pernikahan kita dibangun dari janji bahwa semuanya akan selalu sempurna.”

Raka berhenti untuk menarik napas.

“Aku hanya ingin berjanji satu hal. Kalau suatu hari hidup memaksaku memilih antara terlihat sebagai pria baik di mata orang lain atau melakukan sesuatu yang menurutku benar meskipun kamu mungkin membenciku, aku berharap aku cukup berani memilih yang benar.”

Alya menangis tanpa suara.

Betapa ironisnya.

Pada hari pernikahan mereka, janji itu benar-benar diuji.

Raka melanjutkan.

“Dan kalau aku membuat kesalahan, aku berharap kamu tidak mencintaiku karena menganggapku sempurna. Cintailah aku sebagai manusia yang bisa salah, lalu paksa aku memperbaikinya.”

Layar mendadak bergoyang.

Dokter Maya segera mendekati Raka.

“Cukup. Pasien harus istirahat.”

Namun Raka mengangkat tangannya.

“Tunggu.”

Ia menatap kamera.

“Alya.”

“Ya?”

“Aku tidak tahu apakah kamu masih mau menikah denganku setelah semua ini.”

Beberapa tamu mulai menangis.

“Aku sudah mempermalukanmu. Aku menyimpan rahasia. Dan aku tidak datang ke pernikahan kita.”

Raka tersenyum kecil.

“Jadi kalau kamu mau membatalkannya, aku mengerti.”

Alya terdiam cukup lama.

Kemudian ia melepas sepatu hak tingginya.

Semua orang menatapnya bingung.

Ia mengangkat bagian bawah gaunnya dan berjalan turun dari panggung.

Ibunya mengejarnya.

“Alya, kamu mau ke mana?”

“Ke rumah sakit.”

Koordinator acara terkejut.

“Tapi bagaimana dengan para tamu?”

Alya berhenti.

Ia menoleh kepada ratusan orang yang memenuhi taman.

Beberapa jam sebelumnya, ia begitu takut dipermalukan di hadapan mereka.

Sekarang semuanya terasa tidak penting.

“Pestanya selesai,” katanya.

Para tamu saling berpandangan.

Namun Alya melanjutkan.

“Tapi pernikahannya belum.”

Empat puluh menit kemudian, Alya tiba di rumah sakit masih mengenakan gaun pengantin.

Ia berlari menyusuri lorong sambil bertelanjang kaki.

Ketika pintu kamar Raka terbuka, pria itu menatapnya seolah sedang melihat sesuatu yang mustahil.

“Kamu benar-benar datang.”

Alya berdiri di samping ranjang.

“Sepuluh tahun aku menunggumu melamarku.”

Ia menyeka air matanya.

“Dua jam menunggumu di altar ternyata belum seberapa.”

Raka tertawa pelan.

Kemudian Alya memukul lengannya yang tidak terluka.

“Aduh!”

“Itu karena kamu menyimpan rahasia.”

“Pantas.”

“Dan nanti setelah sembuh, kita akan membicarakannya sampai selesai.”

Raka mengangguk.

“Pantas juga.”

Alya lalu menatap Dina.

Untuk pertama kalinya, dua perempuan yang memiliki ayah yang sama itu saling berhadapan.

Tidak ada pelukan dramatis.

Tidak ada pengampunan instan.

Hanya keheningan panjang.

Kemudian Dina menyerahkan surat yang sejak tadi dibawanya.

“Tidak harus dibaca sekarang.”

Alya menerimanya.

“Terima kasih.”

Itu saja.

Namun terkadang sebuah keluarga tidak dimulai dari pelukan.

Kadang dimulai dari kesediaan untuk tidak pergi.

Malam itu, setelah dokter memastikan kondisi Raka stabil, seorang penghulu yang sebelumnya menunggu di lokasi pernikahan datang ke rumah sakit.

Ternyata bukan hanya dia.

Puluhan tamu juga datang.

Mereka memenuhi lorong rumah sakit sampai petugas keamanan harus meminta sebagian menunggu di lobi.

Tidak ada dekorasi mawar putih.

Tidak ada lampu kristal.

Tidak ada musik.

Raka mengenakan pakaian pasien dengan jas hitam disampirkan di bahunya. Alya masih mengenakan gaun pengantinnya yang bagian bawahnya sudah kotor.

Akad berlangsung di kamar rumah sakit.

Ketika Raka mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan napas, Hendra menundukkan kepala sambil menangis.

Alya akhirnya tersenyum untuk pertama kalinya hari itu.

Namun kejutan terakhir baru diketahui tiga hari kemudian.

Polisi datang ke rumah sakit membawa hasil pemeriksaan rekaman kamera jalan raya.

Kecelakaan Dina ternyata bukan sekadar akibat jalan licin.

Rem mobilnya telah dirusak.

Dan seseorang tertangkap kamera berada di dekat mobil itu pagi sebelum kecelakaan.

Ketika polisi menunjukkan rekamannya, Hendra langsung mengenali pria tersebut.

Ia adalah mantan rekan bisnis Hendra yang beberapa bulan sebelumnya mengancam keluarganya setelah kalah dalam sengketa perusahaan.

Target sebenarnya bukan Dina.

Mobil yang digunakan Dina pagi itu adalah mobil Hendra.

Dina meminjamnya karena kendaraannya sedang diperbaiki.

Jika Hendra yang mengendarai mobil tersebut seperti rencana semula, dialah yang seharusnya mengalami kecelakaan itu.

Untuk pertama kalinya Alya memahami betapa tipis batas antara tragedi dan keselamatan.

Jika Raka tidak melewati jalan itu beberapa menit setelah kecelakaan, Dina dan anaknya mungkin tidak selamat.

Jika kecelakaan itu tidak terjadi, Alya mungkin tidak akan pernah mengetahui bahwa ia memiliki seorang saudara.

Dan jika layar LED itu tidak pernah menyala, mungkin selama bertahun-tahun orang-orang akan tetap mengenang Raka sebagai pengantin pria yang kabur.

Beberapa bulan kemudian, Alya menyimpan satu foto dari hari pernikahannya di ruang keluarga.

Bukan foto di taman yang indah.

Bukan foto dengan dekorasi mahal.

Foto itu memperlihatkan dirinya berdiri di samping ranjang rumah sakit, menggenggam tangan Raka yang penuh perban.

Di belakang mereka, Hendra, ibu Alya, Dina, dan putranya berdiri dengan mata sembap.

Di bawah foto itu Alya menulis satu kalimat.

Hari ketika pernikahan kami gagal berjalan sesuai rencana adalah hari ketika aku akhirnya mengetahui siapa yang benar-benar memilih untuk tetap tinggal.

Karena terkadang seseorang yang terlambat datang bukan berarti ia meninggalkan kita.

Dan terkadang, sebelum menilai seseorang dari apa yang terlihat, kita hanya perlu menunggu sedikit lebih lama untuk mengetahui cerita yang belum sempat ia ceritakan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang