AKU PERCAYA PADA DOKTER KETIKA DIA MENGATAKAN BAHWA AKU TIDAK AKAN PERNAH BISA HAMIL. SAMPAI SUATU HARI, SEORANG PERAWAT DIAM…

Aku menatap perawat itu tanpa mampu berkata-kata.

Suara orang-orang yang berlalu-lalang di koridor rumah sakit mendadak terasa jauh. Bunyi roda ranjang pasien, pengumuman dari pengeras suara, bahkan dering telepon di meja perawat seolah menghilang.

Yang tersisa hanya satu kalimat.

“Mbak tahu siapa yang meminta hasil pemeriksaan ini dihapus dari rekam medis?”

Aku menunduk lagi pada map di tanganku.

“Dihapus?”

Perawat itu mengangguk pelan.

“Nama saya Nisa. Saya baru beberapa bulan dipindahkan ke bagian arsip. Minggu lalu kami melakukan digitalisasi berkas lama. Saya menemukan map Mbak terselip di antara dokumen yang seharusnya sudah dimusnahkan.”

“Dimusnahkan?”

Nisa menatapku dengan hati-hati.

“Iya.”

Jantungku berdetak semakin keras.

Aku membuka halaman demi halaman.

Banyak istilah medis yang tidak kupahami. Namun mataku berhenti pada satu bagian yang diberi garis bawah.

Kondisi rahim dalam batas normal.

Tidak ditemukan kelainan struktural signifikan.

Evaluasi fertilitas lanjutan disarankan untuk kedua pasangan.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Tiga kali.

Kemudian aku mengangkat wajah.

“Ini salah.”

Suara yang keluar dari mulutku terdengar asing.

Nisa tidak menjawab.

“Dokter bilang rahim saya bermasalah.”

“Saya tahu.”

“Dia bilang peluang saya hamil hampir tidak ada.”

Nisa menarik napas panjang.

“Itulah kenapa saya mencari Mbak.”

Darahku terasa turun ke kaki.

“Kalau hasil ini benar…”

Aku tidak sanggup melanjutkan.

Nisa berkata pelan, “Hasil pemeriksaan Mbak waktu itu sebenarnya tidak menunjukkan bahwa Mbak mandul.”

Aku berpegangan pada dinding.

Untuk beberapa detik aku merasa lantai di bawah kakiku bergerak.

“Lalu kenapa dokter mengatakan begitu?”

“Itu yang saya tidak tahu sepenuhnya.”

“Sepenuhnya?”

Nisa menggigit bibirnya.

“Ada catatan administrasi lama.”

Dia menunjuk halaman terakhir.

Di sana ada tulisan tangan yang sebagian sudah pudar.

Permintaan revisi komunikasi hasil kepada pasien.

Di bawahnya terdapat tanda tangan seorang dokter.

Dokter yang selama bertahun-tahun merawatku.

Dr. Hendra.

Di sebelah tanda tangannya tercantum sebuah nomor telepon.

Aku mengenal nomor itu.

Meskipun nomor tersebut sudah lama tidak dipakai, aku pernah menghafalnya di luar kepala.

Itu nomor lama Reza.

Tanganku langsung dingin.

“Tidak mungkin.”

Nisa menatapku.

Aku menggeleng cepat.

“Suami saya tidak mungkin melakukan ini.”

Namun bahkan saat mengatakannya, ada bagian kecil dalam diriku yang mulai gemetar.

Nisa tidak mencoba meyakinkanku.

Dia hanya berkata, “Saya rasa Mbak perlu mencari tahu sendiri.”

Aku pulang menjelang malam dengan map itu tersembunyi di dalam tas.

Sepanjang perjalanan, aku berusaha mencari penjelasan yang masuk akal.

Mungkin nomor Reza dicatat sebagai kontak darurat.

Mungkin dokter menghubunginya karena aku sedang tidak bisa dihubungi.

Mungkin semua ini hanya kesalahan administrasi.

Aku ingin percaya itu.

Aku sangat ingin percaya.

Ketika sampai di rumah, Reza sedang duduk di ruang keluarga sambil menatap laptop.

Dia mendongak.

“Kok lama? Kamu baik-baik saja?”

Biasanya pertanyaan seperti itu membuatku merasa tenang.

Malam itu justru membuat tenggorokanku terasa kering.

“Dokter bilang cuma ada kista kecil. Tidak berbahaya.”

Reza menutup laptop.

“Syukurlah.”

Aku memandang wajahnya.

Enam tahun.

Aku sudah tidur di samping pria ini selama enam tahun.

Aku tahu cara dia tertawa ketika benar-benar bahagia.

Aku tahu alisnya akan sedikit terangkat jika sedang berbohong tentang hal kecil.

Aku tahu dia selalu mengusap telunjuk dengan ibu jari ketika gugup.

Aku mengeluarkan map dari tas.

“Za.”

“Iya?”

“Kamu ingat dokter Hendra?”

Tangannya berhenti.

Hanya sepersekian detik.

Namun aku melihatnya.

“Iya. Kenapa?”

Aku meletakkan map di meja.

Wajah Reza berubah.

Tidak banyak.

Tapi cukup.

“Aku dapat ini dari rumah sakit.”

Dia tidak menyentuhnya.

“Berkas apa?”

“Hasil pemeriksaan tiga tahun lalu.”

Sunyi.

Aku menarik salah satu lembar.

“Di sini tertulis rahimku normal.”

Reza menatap kertas itu.

Kemudian menatapku.

“Alya, mungkin kamu salah baca.”

“Dokter bilang aku hampir tidak mungkin hamil.”

“Mungkin ada pemeriksaan lain.”

“Ada.”

Aku mengeluarkan semua halaman.

“Dan semuanya tidak mengatakan aku mandul.”

Reza berdiri.

“Aku capek. Kita bicarakan besok.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena aku tidak percaya dia benar-benar mencoba pergi.

“Nomor teleponmu ada di berkas ini.”

Langkahnya berhenti.

“Nomor lamamu.”

Reza diam.

Aku berdiri.

“Kenapa?”

“Alya.”

“Kenapa nomor kamu ada di catatan permintaan untuk mengubah cara hasil pemeriksaanku disampaikan?”

Dia berbalik.

Wajahnya tampak pucat.

“Aku tidak tahu.”

“Kamu bohong.”

“Aku benar-benar tidak tahu.”

“Lihat aku.”

Dia menatapku.

“Apakah kamu pernah menemui dokter Hendra tanpa sepengetahuanku?”

Rahangnya mengeras.

Aku langsung tahu jawabannya.

Kakiku lemas.

“Ya Tuhan.”

“Alya, dengar dulu.”

Aku mundur.

“Jadi benar?”

“Aku bisa jelaskan.”

Kalimat itu menghancurkan sesuatu dalam diriku.

Bukan karena aku sudah mengetahui seluruh kebenarannya.

Justru karena untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa memang ada sesuatu yang harus dijelaskan.

“Jelaskan.”

Reza mengusap wajahnya.

“Waktu itu… kita sedang sering bertengkar soal anak.”

“Karena aku merasa gagal!”

“Aku tahu.”

“Karena dokter bilang aku tidak bisa hamil!”

“Aku tahu!”

Suara Reza meninggi.

Lalu dia langsung menurunkannya.

“Aku tahu.”

“Jadi?”

Dia duduk perlahan.

“Aku menemui dokter Hendra.”

“Untuk apa?”

Reza menunduk.

“Aku minta dia tidak memberitahumu semuanya.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Aku pikir itu lebih baik.”

Aku hampir tertawa lagi.

“Lebih baik untuk siapa?”

Reza tidak menjawab.

“Untuk siapa, Reza?”

“Untuk kita.”

“Jangan berani-berani bilang untuk kita.”

Aku merasakan mataku panas.

“Enam tahun aku menyalahkan tubuhku. Enam tahun aku mendengar ibumu bilang aku perempuan yang tidak sempurna. Enam tahun aku merasa bersalah setiap kali melihatmu bermain dengan keponakanmu. Dan kamu bilang itu untuk kita?”

Reza berdiri.

“Ada alasan.”

“Alasan apa yang cukup untuk melakukan hal seperti ini?”

Dia membuka mulut.

Namun menutupnya lagi.

Saat itulah aku tahu.

Masih ada sesuatu yang lebih buruk.

“Bicara.”

“Alya…”

“BICARA!”

Untuk pertama kalinya selama pernikahan kami, aku berteriak sampai tenggorokanku sakit.

Reza memejamkan mata.

Kemudian berkata,

“Yang bermasalah sebenarnya bukan kamu.”

Dunia kembali sunyi.

Aku tidak bergerak.

“Apa?”

Reza menatap lantai.

“Waktu kita sama-sama diperiksa diam-diam setelah hasil awalmu keluar… dokter menemukan masalah pada spermaku.”

Aku merasa udara di paru-paruku berhenti.

“Hasilnya sangat buruk,” lanjutnya. “Dokter bilang kemungkinan aku punya anak secara alami sangat kecil.”

Aku menatapnya seolah sedang melihat orang asing.

“Jadi kamu tahu.”

“Iya.”

“Kamu tahu dari awal bahwa masalahnya ada padamu.”

“Iya.”

“Dan kamu membiarkan aku percaya bahwa itu salahku?”

Reza menatapku dengan mata merah.

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut kamu meninggalkanku.”

Aku tidak bisa langsung menjawab.

Reza berjalan mendekat satu langkah.

“Aku tahu keluargamu ingin cucu. Aku tahu kamu sangat ingin jadi ibu. Kalau kamu tahu aku yang tidak bisa memberimu anak, aku takut kamu akan memilih orang lain.”

Aku mundur.

“Jadi kamu menghancurkan harga diriku supaya aku tidak meninggalkanmu?”

“Bukan begitu maksudku.”

“Itulah yang kamu lakukan.”

“Aku mencintaimu.”

“Jangan.”

Suaraku bergetar.

“Jangan pakai kata cinta untuk menutupi ini.”

Reza menangis.

Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, aku melihatnya menangis seperti seseorang yang benar-benar ketakutan.

Namun anehnya aku tidak merasa iba.

Aku hanya teringat semua malam ketika aku menangis dalam pelukannya.

Semua malam ketika aku meminta maaf.

Semua kalimat lembut yang dia ucapkan sambil menyembunyikan kebenaran.

Aku menikah denganmu, bukan dengan rahimmu.

Tiba-tiba kalimat itu terdengar kejam.

Karena sejak awal dia tahu tidak ada yang salah dengan rahimku.

Aku mengambil tas.

“Kamu mau ke mana?”

“Keluar.”

“Alya, jangan begini.”

Aku berhenti di depan pintu.

“Selama bertahun-tahun aku berpikir kamu adalah satu-satunya orang yang tidak menyalahkanku.”

Aku menoleh.

“Ternyata kamu tidak perlu menyalahkanku. Kamu cuma perlu membuatku menyalahkan diriku sendiri.”

Malam itu aku tidur di rumah sahabatku, Maya.

Aku tidak menceritakan semuanya.

Aku hanya menangis sampai tertidur.

Keesokan paginya, ada lebih dari dua puluh panggilan dari Reza.

Aku tidak membalas satu pun.

Namun sekitar pukul sepuluh, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.

Saya Dr. Hendra. Kita perlu bicara.

Darahku langsung mendidih.

Aku hampir menghapusnya.

Namun kemudian dia mengirim pesan kedua.

Ada hal yang tidak Reza ceritakan kepada Anda.

Aku akhirnya setuju bertemu di sebuah kedai kopi yang jauh dari rumah sakit.

Dr. Hendra terlihat jauh lebih tua daripada yang kuingat.

Dia duduk di depanku dengan kedua tangan saling menggenggam.

“Saya minta maaf.”

Aku menatapnya tanpa ekspresi.

“Anda mengubah hasil medis saya.”

“Saya tidak mengubah hasil laboratorium.”

“Anda berbohong kepada saya.”

Dia terdiam.

“Itu benar.”

“Kenapa?”

Dr. Hendra menghela napas.

“Reza datang menemui saya setelah hasil pemeriksaan pasangan keluar.”

“Dia bilang takut saya meninggalkannya.”

Dokter mengangguk.

“Awalnya iya.”

“Awalnya?”

Dokter menatapku.

“Kemudian datang seseorang lagi.”

Aku mengernyit.

“Siapa?”

“Ibu Reza.”

Bu Mirna.

Aku merasa mual.

“Untuk apa?”

“Dia bilang keluarga mereka tidak boleh tahu bahwa Reza mengalami infertilitas.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Karena?”

“Menurut beliau, Reza akan menjadi penerus perusahaan keluarga. Pada saat itu ayahnya sedang sakit. Beliau takut informasi tentang kondisi Reza tersebar ke keluarga besar.”

“Ini tidak masuk akal.”

“Saya tahu.”

“Lalu Anda tetap melakukannya?”

Wajah dokter itu dipenuhi rasa malu.

“Rumah sakit ini dulu sedang mengalami masalah keuangan. Keluarga mereka adalah salah satu donatur terbesar.”

Aku tertawa hambar.

“Jadi harga hidup saya ternyata bisa dibayar dengan donasi.”

Dr. Hendra tidak membantah.

Aku bangkit.

Namun sebelum pergi dia berkata,

“Ada satu hal lagi.”

Aku berhenti.

“Tahun lalu Reza kembali melakukan pemeriksaan.”

Aku perlahan menoleh.

“Hasilnya membaik setelah menjalani terapi.”

Aku tidak mengerti kenapa informasi itu penting.

Sampai dokter melanjutkan,

“Secara medis, sekarang kemungkinan dia memiliki anak tetap ada.”

Aku menatapnya.

“Kemudian?”

Dr. Hendra ragu.

“Tiga bulan lalu seorang perempuan datang ke rumah sakit dengan membawa surat rujukan atas nama Reza untuk pemeriksaan kehamilan.”

Seluruh tubuhku membeku.

“Perempuan siapa?”

“Saya tidak tahu hubungan mereka.”

Aku keluar dari kedai kopi dengan tangan gemetar hebat.

Kali ini aku tidak menangis.

Aku menelepon Reza.

Dia langsung mengangkat.

“Alya?”

“Siapa perempuan itu?”

Sunyi.

Cukup.

Aku menutup telepon.

Sore itu aku pulang ke rumah.

Reza sudah menungguku.

Aku tidak berteriak.

Aku tidak menangis.

Aku hanya berdiri di depannya dan bertanya,

“Dia hamil?”

Reza menunduk.

“Iya.”

“Berapa bulan?”

“Hampir empat.”

Aku menutup mata.

Ternyata pengkhianatan memang memiliki tingkatan.

Dan setiap kali aku berpikir sudah mencapai dasar, selalu ada lantai lain di bawahnya.

“Siapa dia?”

“Namanya Clara. Teman kantor.”

“Sejak kapan?”

“Hampir setahun.”

Aku mengangguk perlahan.

“Dan ibumu tahu?”

Reza tidak menjawab.

Aku tertawa kecil.

“Tentu saja dia tahu.”

“Alya, kehamilan itu tidak direncanakan.”

Aku menatapnya tajam.

“Jangan menghina kecerdasanku lebih jauh.”

“Aku masih mencintaimu.”

“Berhenti mengatakan itu.”

“Aku ingin memperbaiki semuanya.”

“Bagaimana?”

Dia mendekat.

“Kita bisa tetap bersama. Anak itu nanti tetap akan menjadi tanggung jawabku, tapi—”

Tamparanku mendarat di wajahnya sebelum dia selesai bicara.

“Enam tahun aku merasa gagal karena tidak bisa memberimu anak.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Sekarang kamu menyuruhku tinggal sambil melihatmu membesarkan anak dari perempuan lain?”

“Alya—”

“Cukup.”

Aku mengambil sebuah amplop dari tas.

Surat permohonan konsultasi perceraian yang pagi itu sudah kubuat bersama pengacara.

Aku meletakkannya di meja.

Wajah Reza berubah.

“Kamu serius?”

Aku menatap pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.

“Aku kehilangan enam tahun karena kebohonganmu.”

Aku menarik napas.

“Aku tidak akan kehilangan enam tahun lagi.”

Perceraian kami berlangsung buruk.

Bu Mirna menyebutku tidak tahu berterima kasih.

Keluarga Reza mencoba membujukku agar menyelesaikan semuanya diam-diam demi nama baik.

Namun kali ini aku tidak diam.

Aku melaporkan Dr. Hendra dan rumah sakit ke komite etik serta pihak berwenang dengan bantuan pengacara.

Nisa bersedia menjadi saksi.

Beberapa bulan kemudian, penyelidikan menemukan bahwa memang ada manipulasi administratif terhadap rekam medisku.

Izin praktik Dr. Hendra diperiksa dan rumah sakit menghadapi sanksi serius.

Aku tidak merasa menang.

Tidak ada kemenangan dalam kehilangan enam tahun hidup.

Namun setidaknya untuk pertama kalinya, kebenaran memiliki tempat untuk berdiri.

Setahun setelah perceraian resmi, aku pindah ke Bandung.

Aku mulai bekerja di perusahaan baru.

Aku tidak lagi minum obat kesuburan.

Tidak lagi menghitung masa subur.

Tidak lagi merasa gagal setiap melihat bayi.

Aku hanya belajar hidup sebagai diriku sendiri.

Sampai suatu pagi aku muntah saat mencium aroma kopi.

Awalnya kupikir aku masuk angin.

Dua hari kemudian, Maya memaksaku membeli alat tes kehamilan.

Aku menertawakannya.

“Mustahil.”

“Coba saja.”

Aku melakukannya hanya agar dia berhenti cerewet.

Dua garis muncul.

Aku duduk di lantai kamar mandi selama hampir sepuluh menit.

Tidak percaya.

Dokter kandungan yang memeriksaku tersenyum sambil menunjuk layar USG.

“Usia kandungannya sekitar tujuh minggu.”

Aku menatap titik kecil di monitor.

Air mataku jatuh.

“Dok… dulu saya pernah dibilang hampir tidak mungkin hamil.”

Dokter itu memeriksa ulang riwayat medis yang kubawa.

Kemudian dia berkata pelan,

“Dari kondisi Anda sekarang, saya tidak melihat alasan untuk mengatakan Anda tidak bisa hamil secara alami.”

Aku tertawa sambil menangis.

Bukan karena aku akhirnya hamil.

Bukan semata-mata karena aku akan menjadi ibu.

Namun karena selama bertahun-tahun aku membenci tubuh yang ternyata tidak pernah mengkhianatiku.

Orang-oranglah yang mengkhianatiku.

Dua minggu kemudian, sebuah pesan masuk dari nomor Reza.

Aku dengar kamu hamil. Selamat.

Aku menatap layar cukup lama.

Kemudian muncul pesan kedua.

Aku senang akhirnya kamu mendapatkan apa yang selalu kamu inginkan.

Untuk pertama kalinya, aku membalas.

Aku mengetik satu kalimat.

Aku juga akhirnya mendapatkan apa yang selalu kubutuhkan.

Reza membalas cepat.

Apa?

Aku menatap pantulan wajahku di jendela apartemen.

Lalu kuketik,

Kebenaran.

Setelah itu aku memblokir nomornya.

Beberapa bulan kemudian, ketika dokter kembali memperlihatkan detak jantung kecil di layar, aku meletakkan tangan di perutku.

Aku tidak tahu seperti apa hidupku nanti.

Aku tidak tahu apakah suatu hari aku akan menikah lagi.

Aku juga tidak tahu apakah luka dari enam tahun itu akan benar-benar hilang.

Namun aku tahu satu hal.

Kadang-kadang, kebohongan paling berbahaya bukanlah yang membuat kita membenci orang lain.

Melainkan yang membuat kita membenci diri sendiri.

Dan hari ketika Nisa menyelipkan map tua itu ke tanganku memang menghancurkan pernikahanku.

Namun map yang sama juga mengembalikan sesuatu yang jauh lebih penting.

Diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang