SUAMIKU BILANG AKU JATUH SENDIRI MALAM ITU. DAN AKU PERCAYA PADANYA—SAMPAI AKU MENYADARI, HANYA PADA MALAM AKU TERLUKA, KAMERA DI DEPAN RUMAH MENGARAH KE ARAH YANG SALAH.

SUAMIKU BILANG AKU JATUH SENDIRI MALAM ITU. DAN AKU PERCAYA PADANYA—SAMPAI AKU MENYADARI, HANYA PADA MALAM AKU TERLUKA, KAMERA DI DEPAN RUMAH MENGARAH KE ARAH YANG SALAH.

Aku masih ingat suara tubuhku menghantam lantai.

Bukan karena aku benar-benar ingat bagaimana aku bisa jatuh.

Justru sebaliknya.

Aku sama sekali tidak ingat apa yang terjadi.

Hal pertama yang kuingat adalah saat membuka mata di rumah sakit. Kepalaku berdenyut hebat, leherku terasa kaku, dan tangan kiriku nyaris tidak bisa digerakkan.

Arman duduk di kursi di samping ranjangku.

Begitu melihatku membuka mata, dia langsung bangkit dan menggenggam tanganku.

“Kamu jatuh dari tangga.”

Aku menatapnya dengan bingung.

“Jatuh?”

“Iya.”

“Bagaimana bisa?”

Arman menarik napas pelan sebelum menjawab.

“Mungkin kamu terpeleset.”

Aku memejamkan mata, berusaha mengingat apa yang terjadi malam itu.

Tangga.

Lampu.

Suara sesuatu pecah.

Lalu semuanya gelap.

Dokter mengatakan aku mengalami gegar otak ringan dan patah tulang di pergelangan tangan.

Untungnya, kondisiku tidak mengancam nyawa.

Tapi aku tetap harus dirawat selama beberapa hari untuk memastikan tidak ada komplikasi.

Saat hanya ada kami berdua di kamar, aku kembali bertanya kepada Arman.

“Kamu lihat aku jatuh?”

Dia menggeleng.

“Nggak. Waktu itu aku sedang di kamar mandi.”

Aku terdiam beberapa detik.

“Kalau begitu, siapa yang menemukan aku?”

Arman menatapku.

“Aku menemukan kamu tergeletak di bawah tangga.”

Aku mengernyit.

“Siapa yang menelepon ambulans?”

Kali ini, Arman tidak langsung menjawab.

Ada jeda singkat.

Begitu singkat sampai mungkin orang lain tidak akan menyadarinya.

Tapi aku menyadarinya.

“Aku,” katanya akhirnya.

Aku tidak mempertanyakannya lagi.

Setidaknya saat itu.

Selama sebelas tahun menikah, aku tidak pernah punya alasan untuk takut kepada Arman. Dia bukan suami yang romantis seperti dalam film, tetapi dia selalu terlihat tenang, bertanggung jawab, dan masuk akal.

Karena itulah ketika dia mengatakan aku jatuh, aku mempercayainya.

Setelah pulang dari rumah sakit, Arman bahkan mengambil cuti tiga hari untuk merawatku.

Dia memasak bubur, mengingatkan jadwal obat, dan membantuku mandi karena pergelangan tanganku masih digips.

Semua terlihat normal.

Sampai suatu pagi aku berdiri di depan jendela ruang tamu.

Rumah kami berada di sebuah kompleks perumahan di pinggiran Jakarta. Dua tahun sebelumnya, setelah beberapa rumah di blok sebelah kemalingan, Arman memasang kamera CCTV di teras.

Kamera itu selalu menghadap ke gerbang.

Aku tahu karena setiap kali paket datang, aku sering membuka aplikasi CCTV untuk melihat apakah kurir sudah sampai.

Namun pagi itu, kamera tersebut menghadap hampir sepenuhnya ke dinding samping rumah.

Aku memandanginya lama.

“Man.”

Arman sedang membuat kopi di dapur.

“Hmm?”

“Kenapa kameranya menghadap ke sana?”

Tangannya berhenti mengaduk kopi.

Hanya sesaat.

Lalu dia menjawab tanpa menoleh.

“Mungkin kena angin.”

Aku hampir tertawa.

“Itu kamera yang dipasang pakai bracket besi.”

Arman akhirnya menatapku.

“Ya mungkin kesenggol tukang kebun.”

Kami tidak punya tukang kebun tetap.

Hanya Pak Joko yang datang setiap dua minggu sekali, dan minggu itu dia belum datang.

Entah kenapa, tengkukku terasa dingin.

Aku mengambil ponsel dan membuka aplikasi CCTV.

Rekaman tersimpan selama tiga puluh hari.

Aku mundur ke malam sebelum kecelakaan.

Pukul 19.00, kamera masih menghadap gerbang.

Pukul 20.14, masih normal.

Pukul 20.37, gambar berguncang.

Lalu kamera perlahan berputar.

Seseorang mengarahkannya ke dinding.

Aku memperbesar rekaman beberapa detik sebelum kamera berubah arah.

Terlihat sebuah tangan.

Tangan laki-laki.

Di pergelangannya ada jam dengan tali kulit cokelat.

Aku menatap tangan Arman yang memegang cangkir kopi.

Jam yang sama.

Dadaku terasa sesak.

“Kamu yang mengubah posisi kamera?”

Arman melihat layar ponselku.

Ekspresinya tidak langsung berubah.

Kemudian dia tertawa kecil.

“Oh, itu. Aku lupa.”

“Kenapa?”

“Aku mau bersihin lensanya.”

“Jam setengah sembilan malam?”

Dia mulai terlihat kesal.

“Rani, kamu baru pulang dari rumah sakit. Jangan bikin dirimu stres karena hal kecil.”

Aku tidak menjawab.

Malam itu aku pura-pura tidur lebih awal.

Arman berbaring di sampingku sambil memainkan ponselnya.

Sekitar pukul sebelas, napasnya mulai teratur.

Aku menatap langit-langit dalam kegelapan.

Potongan ingatan mulai muncul.

Tangga.

Lampu.

Suara pecahan kaca.

Dan sebuah kalimat.

Aku belum bisa mengingat siapa yang mengucapkannya.

Tapi aku yakin mendengar seseorang berkata,

“Kamu seharusnya nggak membuka itu.”

Aku bangkit perlahan.

Di ruang kerja Arman, ada lemari kecil yang selalu dikunci.

Selama bertahun-tahun aku tidak pernah memedulikannya. Arman bekerja sebagai manajer keuangan di sebuah perusahaan properti, jadi kupikir isinya dokumen kantor.

Namun dua hari sebelum aku jatuh, aku ingat pernah masuk ke ruang itu untuk mencari charger.

Saat itulah aku melihat lemari tersebut terbuka.

Dan di dalamnya ada sebuah map biru.

Jantungku berdetak semakin cepat.

Aku tidak ingat apa yang kubaca.

Tapi tubuhku seperti mengingat ketakutannya.

Keesokan harinya, ketika Arman pergi membeli obat, aku menelepon kakakku, Dimas.

“Aku mau tanya sesuatu.”

“Apa?”

“Kalau seseorang mengalami gegar otak, ingatannya bisa kembali sedikit-sedikit, kan?”

Dimas terdiam.

“Kenapa?”

Aku menceritakan tentang kamera.

Tentang jam tangan.

Tentang kalimat yang mulai kuingat.

Dimas tidak langsung menjawab.

“Rani, jangan tuduh siapa-siapa dulu. Tapi mulai sekarang, simpan semua yang kamu temukan.”

Hari itu aku mengunduh salinan rekaman CCTV ke laptop.

Lalu aku menemukan sesuatu yang lebih aneh.

Rekaman antara pukul 20.38 sampai 22.06 malam kecelakaan hilang.

Bukan rusak.

Dihapus.

Ambulans datang sekitar pukul 22.15.

Berarti ada lebih dari satu jam yang sengaja dihilangkan.

Aku menelepon perusahaan keamanan yang memasang CCTV kami.

Teknisi bernama Bayu memeriksa sistem dari jarak jauh.

“Bu, rekamannya memang dihapus manual.”

“Bisa tahu dari perangkat apa?”

“Dari akun utama.”

Aku menelan ludah.

Akun utama hanya ada di ponsel Arman.

Tanganku mulai gemetar.

“Bisa dikembalikan?”

“Kalau dari penyimpanan lokal mungkin masih ada sebagian data.”

Sore berikutnya, saat Arman bekerja, Bayu datang.

Dia mengeluarkan kartu penyimpanan dari unit perekam dan mencoba memulihkan file.

Butuh hampir dua jam.

Akhirnya muncul sebuah video rusak berdurasi empat menit tujuh belas detik.

Gambarnya terputus-putus.

Namun suaranya masih cukup jelas.

Aku mendengar suaraku sendiri.

“Ini apa, Man?”

Kemudian suara Arman.

“Kamu buka lemari aku?”

“Ada transfer ratusan juta ke rekening atas nama Maya Prameswari. Siapa dia?”

Aku menutup mulut.

Ingatan itu datang sekaligus.

Map biru.

Rekening bank.

Nama perempuan.

Arman pulang malam itu dan memergokiku membaca dokumen.

Dalam video, suaranya terdengar semakin keras.

“Taruh kembali.”

“Aku istrimu. Kenapa ada rekening yang tidak pernah kamu ceritakan?”

“Itu bukan urusanmu.”

“Aku akan tanya langsung ke kantor kalau kamu nggak mau menjelaskan.”

Kemudian terdengar suara langkah.

Suara gelas pecah.

Aku berteriak.

Video berhenti.

Aku merasa mual.

Bayu menatapku dengan wajah pucat.

“Bu…”

“Tolong salin file ini.”

Malam itu aku tidak pulang.

Dimas menjemputku dan membawaku ke rumahnya.

Arman menelepon lebih dari dua puluh kali.

Aku tidak menjawab.

Akhirnya dia mengirim pesan.

“Kita harus bicara. Kamu salah paham.”

Aku menyerahkan semuanya kepada polisi.

Namun kasusnya ternyata jauh lebih rumit daripada sekadar pertengkaran rumah tangga.

Polisi memeriksa transaksi yang kutemukan.

Nama Maya Prameswari memang ada.

Tetapi dia bukan selingkuhan Arman seperti yang awalnya kuduga.

Dia mantan staf administrasi perusahaan tempat Arman bekerja.

Dan dia sudah meninggal delapan bulan sebelumnya akibat kecelakaan mobil.

Penyelidikan menemukan beberapa rekening lain yang digunakan untuk memindahkan dana perusahaan secara bertahap.

Totalnya hampir empat miliar rupiah.

Arman berada di tengah semuanya.

Aku merasa seolah mengenal seorang asing yang selama sebelas tahun tidur di sampingku.

Namun satu pertanyaan masih belum terjawab.

Apa yang sebenarnya terjadi di tangga?

Arman terus bersikeras dia tidak menyentuhku.

Dia mengakui kami bertengkar, tetapi katanya aku mundur sendiri, kehilangan keseimbangan, lalu jatuh.

Tidak ada rekaman.

Tidak ada saksi.

Hanya kata-kataku melawan kata-katanya.

Sampai tiga minggu kemudian.

Seorang perempuan datang menemuiku.

Namanya Siska.

Dia tinggal tiga rumah dari rumah kami.

“Aku baru tahu kamu sedang mencari tahu soal malam itu,” katanya.

Dia terlihat gugup.

“Ada sesuatu yang seharusnya kuberikan sejak awal.”

Siska menyerahkan sebuah flashdisk.

“Kamera mobil suamiku merekam depan rumah kalian.”

Aku hampir tidak bisa bernapas.

Kami membuka videonya.

Pukul 20.41.

Kamera depan rumahku sudah menghadap dinding.

Namun dashcam mobil Siska menangkap sebagian teras dan jendela samping ruang tamu kami.

Di balik tirai, terlihat dua bayangan.

Aku dan Arman.

Kami sedang bertengkar.

Lalu aku berjalan menuju tangga.

Arman mengikuti.

Aku berhenti.

Berbalik.

Kemudian sesuatu terjadi begitu cepat.

Tangannya terangkat.

Bukan mendorongku.

Dia meraih pergelangan tanganku ketika aku hendak pergi.

Aku menarik diri.

Keseimbanganku hilang.

Tubuhku jatuh ke belakang.

Arman membeku.

Aku terguling menuruni tangga.

Namun bagian yang membuat darahku terasa dingin bukan itu.

Arman tidak langsung menolongku.

Dia berdiri di atas tangga selama hampir satu menit.

Kemudian dia turun.

Memeriksa napasku.

Lalu bukannya mengambil ponsel, dia kembali ke ruang kerja.

Tujuh belas menit kemudian dia muncul membawa map biru.

Dia keluar rumah.

Masuk ke mobil.

Pergi.

Dia baru kembali hampir satu jam kemudian.

Barulah ambulans dipanggil.

Aku menatap layar tanpa mampu berkata-kata.

Dia bukan hanya membiarkanku tergeletak dalam keadaan tidak sadar.

Dia menggunakan waktu itu untuk menghilangkan bukti.

Polisi kemudian menemukan map biru tersebut di sebuah gudang kecil milik temannya.

Dokumen di dalamnya menjadi bukti penting dalam kasus penggelapan dana perusahaan.

Arman ditahan.

Namun kejutan terakhir datang beberapa bulan kemudian, saat pengacaraku menyerahkan hasil pemeriksaan forensik ponselnya.

Ada satu pesan yang dikirim Arman malam itu.

Pukul 21.03.

Kepada seseorang yang nomornya tidak disimpan.

Pesannya hanya berbunyi,

“Dia menemukannya. Kalau dia bangun dan ingat, semuanya selesai.”

Nomor itu ternyata milik direktur keuangan perusahaan.

Atasan Arman.

Penyelidikan yang tadinya berpusat pada suamiku akhirnya membongkar jaringan yang jauh lebih besar. Arman bukan dalang utamanya. Dia membantu menyembunyikan aliran uang selama hampir tiga tahun.

Dan Maya, perempuan yang namanya ada di rekening itu, ternyata pernah mencoba melaporkan mereka sebelum meninggal.

Kecelakaan mobilnya pun akhirnya diperiksa kembali.

Setahun setelah malam aku jatuh, aku berdiri di depan rumah lama kami untuk terakhir kalinya.

Rumah itu sudah dijual.

Aku tidak sanggup tinggal di sana lagi.

Sebelum pergi, mataku tertuju pada kamera di atas teras.

Pemilik baru belum mencopotnya.

Kamera itu kini kembali menghadap gerbang.

Arah yang seharusnya.

Aku pernah berpikir pengkhianatan terbesar malam itu adalah ketika suamiku meraih tanganku dan menyebabkan aku jatuh.

Ternyata bukan.

Pengkhianatan terbesar adalah tujuh belas menit setelah aku jatuh, ketika orang yang berjanji akan melindungiku melihat tubuhku tergeletak tak berdaya dan memilih menyelamatkan rahasianya lebih dulu.

Aku kehilangan sebagian ingatanku malam itu.

Tapi justru karena ada bagian yang hilang, aku mulai mempertanyakan hal-hal yang selama ini terlalu mudah kupercaya.

Sebelum meninggalkan rumah, aku memandang kamera itu sekali lagi.

Kemudian aku sadar sesuatu.

Arman telah mengarahkannya ke tempat yang salah karena dia takut kamera itu merekam kebenaran.

Dia tidak pernah membayangkan bahwa justru arah kamera yang salah itulah yang akhirnya membuatku mencari kebenaran.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang