SEMINGGU SETELAH MENIKAH, ISTRIKU PERGI DAN MENINGGALKAN SEMBILAN ANAKNYA PADAKU. DUA PULUH DELAPAN TAHUN KEMUDIAN, TEPAT SETELAH PEMAKAMANNYA, AKU TAK MAMPU BERKATA-KATA

Tanganku gemetar ketika membuka amplop itu.

Kertas di dalamnya sudah menguning di bagian tepi. Ada empat lembar tulisan tangan Ratna, satu fotokopi dokumen yang nyaris pudar, dan sebuah foto lama.

Aku belum membaca satu kata pun ketika mataku tertuju pada foto tersebut.

Darahku seperti berhenti mengalir.

Di dalam foto itu ada Ratna yang jauh lebih muda, berdiri di depan sebuah gedung bersama beberapa orang.

Dan tepat di sampingnya berdiri seseorang yang sangat kukenal.

Mira.

Kakakku sendiri.

Aku mengangkat wajah dan menatap Arif.

“Kenapa ada Tante Mira di sini?”

Arif tidak menjawab.

Aku kembali melihat foto itu. Tidak mungkin aku salah mengenali wajah kakakku sendiri. Rambutnya memang lebih panjang, tubuhnya lebih kurus, tetapi itu jelas Mira.

Aku mulai membaca surat Ratna.

Damar,

Kalau kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada. Aku tahu aku tidak berhak meminta maaf setelah apa yang kulakukan kepadamu dan anak-anak. Tapi ada kebenaran yang selama ini sengaja kusimpan karena aku takut jika kebenaran itu keluar, kalian akan ikut menjadi korban.

Aku berhenti.

Tanganku semakin dingin.

Dua puluh sembilan tahun lalu, sebelum mengenalmu, aku bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan distribusi obat di Jakarta.

Perusahaan itu terlihat biasa dari luar. Namun beberapa bulan setelah bekerja di sana, aku menemukan sejumlah faktur yang tidak sesuai. Obat yang tercatat sebagai obat asli ternyata berasal dari pemasok ilegal. Nomor izin diedit, tanggal kedaluwarsa diubah, dan beberapa produk yang seharusnya dimusnahkan justru dikemas ulang.

Aku pernah mencoba melapor kepada atasanku.

Dua hari kemudian, aku dipanggil dan diancam.

Aku menelan ludah.

Suara orang-orang yang meninggalkan pemakaman terdengar semakin jauh.

Aku melanjutkan membaca.

Saat itu suamiku yang pertama masih hidup. Dia mengetahui semuanya dan memintaku berhenti bekerja. Tapi sebelum kami sempat pergi dari Jakarta, dia meninggal dalam kecelakaan.

Polisi menyebutnya kecelakaan lalu lintas.

Aku tidak pernah percaya.

Setelah itu aku membawa sembilan anakku pindah dan berusaha menghilang.

Lalu aku bertemu denganmu.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa mungkin hidupku bisa dimulai lagi.

Aku menutup mata.

Aku teringat Ratna ketika pertama kali datang ke warung tempatku bekerja. Dia selalu tampak waspada. Bahkan ketika tertawa, matanya sering melihat ke belakang seolah takut seseorang mengikutinya.

Dulu aku mengira itu hanya kebiasaan seorang ibu yang harus menjaga sembilan anak sendirian.

Ternyata aku salah.

Aku kembali membaca.

Aku seharusnya menolak ketika kamu mengajakku menikah. Tapi aku egois, Damar. Aku mencintaimu. Anak-anak juga mulai menyayangimu. Aku berpikir masa lalu sudah selesai.

Ternyata aku salah.

Malam sebelum aku pergi, dua orang datang.

Mereka tahu aku sudah menikah denganmu.

Mereka tahu alamat rumah kita.

Mereka tahu sekolah anak-anak.

Salah satu dari mereka mengatakan jika aku tetap tinggal, mereka akan mulai dari anak paling kecil.

Napas seolah tercekat di tenggorokanku.

Aku memandang Arif.

“Kamu dengar ini?”

Arif mengangguk perlahan.

“Mereka datang hampir tengah malam. Aku bangun karena mau minum.”

“Kenapa kamu enggak pernah cerita?”

“Mama melihat aku berdiri di lorong setelah mereka pergi.”

Arif mengusap wajahnya.

“Dia memeluk aku dan menyuruhku bersumpah.”

“Bersumpah apa?”

“Kalau ada orang bertanya, aku harus bilang enggak tahu apa-apa.”

Aku kembali membaca surat itu.

Aku pergi bukan karena ingin meninggalkan kalian.

Aku pergi karena mereka hanya menginginkanku.

Aku membuat mereka percaya bahwa aku membawa semua bukti dan akan menyerahkannya jika sesuatu terjadi pada anak-anakku.

Selama aku sendirian, mereka tidak punya alasan menyentuh kalian.

Air mataku jatuh ke atas kertas.

Selama dua puluh delapan tahun aku membenci perempuan itu.

Setiap kali salah satu anak sakit dan aku tidak punya uang, aku membencinya.

Ketika aku harus menjual motor, aku membencinya.

Ketika Sinta menangis karena tidak bisa ikut kegiatan sekolah, aku membencinya.

Ketika Nisa bertanya seperti apa wajah ibunya sekarang, aku membencinya.

Namun ternyata selama itu pula Ratna hidup sendirian agar kami tetap hidup.

Aku melanjutkan membaca sampai menemukan bagian tentang Mira.

Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu.

Mira pernah bekerja di perusahaan yang sama denganku.

Aku langsung menoleh kepada Arif.

“Dia tahu?”

Arif mengangguk.

“Sejak awal.”

Aku merasa lututku melemas.

“Enggak mungkin.”

“Baca sampai selesai, Yah.”

Aku memaksakan diri.

Mira bukan bagian dari mereka. Justru dialah orang pertama yang membantuku mengumpulkan dokumen.

Ketika aku mengetahui bahwa kamu adalah adiknya, aku hampir meninggalkanmu. Aku takut kedekatanku denganmu akan membuat Mira kembali terseret ke masalah ini.

Tapi Mira mengatakan satu hal kepadaku.

Kalau suatu hari aku harus menghilang, dia akan memastikan kamu dan anak-anak tidak kelaparan.

Aku menatap tulisan itu sampai huruf-hurufnya menjadi kabur.

Uang misterius.

Lima ratus ribu.

Satu juta.

Nama pengirim yang selalu berubah.

“Mira?”

Suaraku hampir tidak terdengar.

Arif mengangguk.

“Sebagian dari Tante Mira.”

“Sebagian?”

Arif menarik napas.

“Sebagian lagi dari Mama.”

Aku tidak sanggup berkata-kata.

Arif kemudian menceritakan sesuatu yang selama puluhan tahun tidak pernah kuketahui.

Ratna tidak benar-benar menghilang dari kehidupan anak-anaknya.

Dia hanya menghilang dari pandangan kami.

Selama bertahun-tahun dia berpindah-pindah kota. Bogor, Semarang, Surabaya, lalu kembali ke Jakarta dengan nama berbeda. Dia bekerja sebagai penjahit, penjaga toko, bahkan pernah menjadi petugas kebersihan.

Dia tidak pernah memiliki rekening atas namanya sendiri dalam waktu lama.

Setiap beberapa bulan, dia mengirim uang melalui orang lain.

“Terus bagaimana Mama tahu keadaan kita?” tanyaku.

Arif terdiam.

Pertanyaan itu membuat sesuatu di dalam diriku berubah.

“Kamu?”

Arif mengangguk.

Aku mundur satu langkah.

“Kamu berhubungan dengan Mama?”

“Enggak sejak awal.”

“Sejak kapan?”

“Waktu aku kuliah.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Berarti lebih dari dua puluh tahun?”

“Enggak sering. Kadang setahun cuma sekali.”

Amarah yang tadi tenggelam tiba-tiba muncul kembali.

“Dan kamu menyembunyikannya dariku?”

“Aku harus melakukannya.”

“Kenapa?”

“Karena Mama masih takut mereka mengawasi Ayah.”

Aku tertawa pendek, tetapi tidak ada sedikit pun rasa lucu di dalamnya.

“Dua puluh delapan tahun, Rif.”

“Aku tahu.”

“Aku membesarkan kalian sambil berpikir ibu kalian membuang kalian.”

“Aku tahu.”

“Aku bahkan pernah berpikir mungkin aku enggak cukup baik sampai dia memilih pergi.”

Arif menunduk.

“Maaf.”

Aku ingin marah kepadanya.

Namun ketika melihat wajahnya, aku kembali melihat anak berusia lima belas tahun yang berdiri di depan pintu kamar pada pagi ketika ibunya menghilang.

Dia juga hanya seorang anak.

Seorang anak yang dipaksa menyimpan rahasia orang dewasa selama hampir seluruh hidupnya.

Aku kembali membaca halaman terakhir.

Ada sesuatu yang lebih penting daripada semua penjelasanku.

Aku ingin kamu tahu bahwa anak-anak memanggilmu Ayah bukan karena aku pergi.

Mereka memanggilmu Ayah karena kamu memilih tinggal.

Aku hanya melahirkan mereka.

Tapi kamu yang menemani mereka tumbuh.

Aku tahu tentang kelulusan Arif.

Aku tahu Sinta menjadi perawat.

Aku tahu Fajar membuka bengkel.

Aku tahu Nisa akhirnya menjadi guru.

Aku tahu semuanya dari jauh.

Dan setiap kali mendengar mereka menyebutmu Ayah, aku merasa lega sekaligus malu.

Karena laki-laki yang baru mengenal mereka beberapa tahun ternyata melakukan sesuatu yang bahkan ibu kandung mereka sendiri tidak mampu lakukan.

Aku menekan bibirku kuat-kuat.

Di bawah tulisan itu masih ada beberapa baris.

Tentang uang.

Semua uang yang kukirim tidak pernah cukup untuk mengganti apa yang kamu korbankan. Setelah aku meninggal, pengacaraku akan menyerahkan sesuatu kepada kalian.

Jangan anggap itu warisan.

Anggap itu sebagai utang seorang ibu kepada keluarganya.

Aku menurunkan surat.

Pengacara yang sejak tadi berdiri beberapa meter dari kami perlahan mendekat.

Namanya Pak Surya.

“Pak Damar?”

Aku mengangguk.

Dia menyerahkan sebuah map.

“Tiga tahun terakhir, Bu Ratna membantu kejaksaan sebagai saksi dalam penyelidikan lama yang dibuka kembali setelah muncul korban baru.”

Aku menatapnya.

“Perusahaan itu?”

“Iya.”

Menurut Pak Surya, beberapa orang yang dahulu terlibat sudah meninggal. Sebagian lainnya akhirnya diperiksa setelah bukti lama Ratna dicocokkan dengan dokumen baru.

Ratna ternyata menyimpan salinan dokumen selama hampir tiga dekade.

Kasus itu akhirnya cukup aman baginya untuk muncul kembali.

“Tapi kenapa dia enggak pulang?” tanyaku.

Pak Surya terdiam sejenak.

“Karena saat semuanya mulai aman, beliau sudah sakit.”

Aku membeku.

“Kanker pankreas.”

Arif menutup wajahnya.

Pak Surya melanjutkan, “Beliau tahu waktunya tidak banyak. Saya pernah menyarankan beliau menemui keluarga.”

“Terus?”

“Beliau menolak.”

“Kenapa?”

Pak Surya menatapku.

“Dia bilang dia tidak punya keberanian untuk berdiri di depan sembilan anak yang sudah tumbuh tanpa dirinya.”

Dadaku seperti dihantam sesuatu.

Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.

Mengetahui Ratna meninggalkan kami.

Atau mengetahui bahwa ketika akhirnya bisa pulang, rasa bersalah membuatnya tetap memilih berada jauh.

Beberapa jam kemudian, kami berkumpul di rumah Arif.

Kesembilan anak duduk di ruang tamu.

Tidak ada yang berbicara.

Pak Surya membuka map terakhir.

Ratna ternyata memiliki rumah kecil di pinggiran Bogor dan sejumlah tabungan.

Tidak banyak jika dibandingkan dengan dua puluh delapan tahun kehidupan.

Namun cukup untuk membuat kami terdiam.

Ratna menuliskan bahwa seluruh asetnya dibagi rata kepada sembilan anak.

Tidak ada bagian untukku.

Anehnya, aku justru tersenyum.

“Itu memang hak kalian.”

Namun Pak Surya belum selesai.

“Ada satu barang khusus untuk Pak Damar.”

Dia mengeluarkan kotak kayu kecil.

Di dalamnya ada sebuah cincin.

Cincin pernikahan kami.

Aku langsung mengenalinya.

Ratna membawanya ketika pergi.

Di bawah cincin itu terdapat sebuah kertas kecil.

Aku membukanya.

Damar, aku tidak pernah menceraikanmu di dalam hatiku. Tapi aku juga tahu aku tidak berhak meminta kamu menungguku.

Jika ternyata kamu menungguku sampai akhir, maafkan aku karena membuat penantian itu sia-sia.

Aku menggenggam cincin itu erat.

Nisa yang duduk di sebelahku mulai menangis.

“Ayah masih sayang Mama?”

Pertanyaan itu begitu sederhana, tetapi aku tidak bisa langsung menjawab.

Aku pernah mencintai Ratna.

Kemudian membencinya.

Kemudian merindukannya.

Kemudian belajar hidup tanpa dirinya.

Sekarang, setelah mengetahui semuanya, aku bahkan tidak tahu nama yang tepat untuk perasaan yang tersisa.

“Ayah enggak tahu,” jawabku akhirnya.

Nisa menggenggam tanganku.

Dan mungkin itulah jawaban paling jujur yang bisa kuberikan.

Seminggu kemudian, aku pergi ke rumah Ratna di Bogor bersama sembilan anak.

Rumahnya kecil.

Sangat sederhana.

Di kamar tidurnya hanya ada lemari, tempat tidur, mesin jahit, dan sebuah meja.

Namun satu dinding membuat kami semua berhenti.

Dinding itu dipenuhi foto.

Foto kelulusan Arif.

Foto pernikahan Sinta.

Foto Fajar di depan bengkelnya.

Foto Nisa ketika wisuda.

Foto cucu-cucu.

Bahkan ada foto diriku sedang berdiri di depan rumah pada ulang tahunku yang keenam puluh.

Aku tidak tahu siapa yang mengambilnya.

Di bawah setiap foto, Ratna menulis tanggal.

Seolah perempuan itu berusaha menjadi bagian dari keluarga kami dengan satu-satunya cara yang masih berani dia lakukan.

Sinta menangis paling keras.

Fajar keluar dari kamar karena tidak sanggup melihat lebih lama.

Aku berdiri di depan foto terakhir.

Itu foto keluarga kami dua tahun sebelumnya.

Sembilan anak.

Pasangan mereka.

Cucu-cucu.

Dan aku duduk di tengah.

Di bawah foto itu Ratna menulis satu kalimat.

Keluargaku lengkap, hanya aku yang tidak ada di sana.

Aku duduk di tepi tempat tidurnya.

Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, aku menangis tanpa mencoba menahannya.

Dua puluh delapan tahun sebelumnya, Ratna memintaku menjaga anak-anaknya.

Saat itu aku mengira dia sedang memberikan beban kepadaku.

Sekarang aku mengerti.

Dia sebenarnya sedang menitipkan satu-satunya hal yang paling berharga dalam hidupnya.

Beberapa bulan kemudian, kami menjual rumah kecil itu.

Bukan untuk membagi uangnya.

Kesembilan anak sepakat menggunakan hasil penjualan untuk membuat sebuah dana pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Kami menamainya Dana Ratna.

Ketika aku bertanya mengapa mereka tetap mau memakai nama ibu yang meninggalkan mereka, Arif menjawab sesuatu yang tidak pernah kulupakan.

“Karena seseorang bisa melakukan kesalahan besar dan tetap mencintai kita, Yah. Dua hal itu bisa benar pada saat yang sama.”

Aku menatap kesembilan anakku.

Ya.

Anakku.

Bukan anak Ratna yang kutitipkan.

Bukan anak orang lain yang kebetulan kubesarkan.

Mereka anak-anakku.

Malam itu, ketika pulang ke rumah, aku mengambil amplop pertama yang ditinggalkan Ratna dua puluh delapan tahun lalu.

Kertas kecil di dalamnya masih kusimpan.

Jaga mereka.

Tolong jangan pisahkan mereka.

Maafkan aku.

Aku mengambil pena dan menulis satu kalimat di bawahnya.

Mereka baik-baik saja, Ratna. Semuanya sudah pulang.

Kemudian aku meletakkan cincin pernikahan kami di atas kertas itu.

Selama hampir tiga puluh tahun, aku selalu berpikir kisah kami adalah kisah tentang seorang perempuan yang pergi.

Ternyata bukan.

Kisah kami adalah tentang orang-orang yang memilih bertahan.

Tentang seorang ibu yang menghilang demi melindungi anak-anaknya, meski caranya meninggalkan luka.

Tentang seorang anak sulung yang membawa rahasia terlalu berat sejak usia lima belas tahun.

Tentang sembilan anak yang tumbuh tanpa jawaban.

Dan tentang seorang laki-laki yang awalnya hanya berniat menikahi seorang perempuan, tetapi akhirnya mendapatkan sembilan anak, sembilan keluarga, dan puluhan cucu yang memenuhi rumahnya setiap Lebaran.

Ratna memang pergi tujuh hari setelah pernikahan kami.

Tetapi dua puluh delapan tahun kemudian, setelah pemakamannya, akhirnya aku memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah terpikirkan.

Pada pagi ketika dia meninggalkan rumah, bukan Ratna yang menyerahkan sembilan anak kepadaku.

Tanpa kusadari, sembilan anak itulah yang kemudian memberiku sebuah keluarga.

Dan untuk pertama kalinya setelah dua puluh delapan tahun, ketika melihat foto Ratna yang tersenyum di meja samping tempat tidur, aku akhirnya mampu mengucapkan kalimat yang selama ini tertahan.

“Aku memaafkanmu.”

Lalu setelah terdiam cukup lama, aku menambahkan pelan,

“Pulanglah dengan tenang. Anak-anak kita sudah aman.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang