Langkah kaki itu semakin dekat.
Aku buru-buru memasukkan seluruh dokumen ke dalam map merah, lalu memeluknya erat di dada. Lorong loker Stasiun Bandung terasa jauh lebih sempit daripada beberapa menit sebelumnya. Suara pengumuman keberangkatan kereta terdengar samar dari pengeras suara, bercampur dengan derap sepatu yang semakin jelas.
Aku mundur satu langkah.
Seorang perempuan muncul dari ujung lorong.
Usianya mungkin sekitar enam puluh tahun. Rambutnya pendek dengan beberapa helai uban, kemeja kremnya sederhana, dan sebuah tas kulit hitam tergantung di bahunya.
Dia berhenti ketika melihatku.
“Nadia?”
Aku tidak menjawab.
Tanganku langsung meraih ponsel.
Perempuan itu mengangkat kedua tangannya perlahan.
“Jangan takut. Saya Lestari.”
Aku terdiam.
Nama itu ada di surat Arga.
“Bu Lestari?”
Dia mengangguk.
“Simpan dokumen itu. Kita tidak punya banyak waktu.”
“Bagaimana Ibu tahu saya di sini?”
“Arga menelepon saya empat puluh menit lalu.”
Dadaku langsung terasa lebih ringan.
“Kak Arga di mana?”
Ekspresi perempuan itu berubah.
“Itu yang harus kita cari tahu.”
Aku menatapnya.
“Maksud Ibu?”
“Arga seharusnya menemui saya di kantor notaris lama di Jalan Riau. Tapi dia tidak pernah datang.”
Aku langsung menelepon Arga lagi.
Masih tidak aktif.
Bu Lestari menatap ke belakangku.
“Kita pergi sekarang.”
“Kenapa?”
“Karena Rudi pasti tidak akan tinggal diam setelah tahu kamu membuka loker ini.”
Kami berjalan cepat menuju area parkir. Sepanjang perjalanan, pikiranku dipenuhi pertanyaan.
Begitu masuk ke mobil Bu Lestari, aku langsung mengeluarkan foto lama itu.
“Ibu kenal perempuan ini?”
Bu Lestari melihat foto tersebut.
Matanya langsung berkaca-kaca.
“Sari.”
“Dia ibu kandung saya.”
“Saya tahu.”
Aku membeku.
“Siapa sebenarnya Ibu?”
Bu Lestari tidak langsung menjawab. Dia menyalakan mesin dan membawa mobil keluar dari area stasiun.
“Saya pernah menjadi kepala bagian keuangan Sembada Medika. Jauh sebelum perusahaan itu sebesar sekarang.”
“Jadi Ibu mengenal Ayah?”
“Saya mengenal Bima, Ratih, Sari, dan Rudi sejak mereka bahkan belum punya kantor yang layak disebut kantor.”
Aku memandang map merah di pangkuanku.
“Kenapa saham ibu kandung saya ada di perusahaan keluarga Ayah?”
Bu Lestari menarik napas panjang.
“Karena Sembada Medika bukan perusahaan yang dibangun Bima seorang diri.”
Aku menoleh cepat.
“Perusahaan itu didirikan oleh empat orang. Bima, Ratih, Sari, dan seorang dokter bernama Harun Wicaksana. Sari adalah orang yang membawa modal terbesar.”
Aku merasa tenggorokanku mengering.
“Dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu?”
“Warisan keluarganya. Kakekmu memiliki usaha distribusi alat kesehatan di Semarang. Setelah meninggal, sebagian besar aset jatuh kepada Sari.”
Aku kembali melihat foto.
Selama ini, yang kutahu tentang ibu kandungku sangat sedikit. Dia meninggal ketika aku berusia sebelas tahun. Setahun kemudian, aku diadopsi Ayah dan Ibu.
“Lalu kenapa sahamnya hanya tiga puluh persen?”
“Awalnya empat puluh persen. Kepemilikannya berubah setelah beberapa kali penambahan modal.”
“Kenapa kemudian menjadi lima puluh satu persen atas nama saya?”
Bu Lestari terdiam beberapa saat.
“Karena selama bertahun-tahun, Bima dan Ratih membeli kembali saham dari pemegang lain menggunakan keuntungan yang seharusnya menjadi hak Sari. Mereka menyimpannya untukmu.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Mereka tahu?”
“Mereka tahu semuanya.”
“Lalu kenapa tidak pernah memberitahu saya?”
“Karena mereka takut.”
“Takut kepada siapa?”

Bu Lestari menatapku melalui kaca spion.
“Rudi.”
Nama itu membuat udara di dalam mobil terasa dingin.
Bu Lestari kemudian menceritakan sesuatu yang tidak pernah kudengar selama tiga belas tahun tinggal bersama keluarga Pratama.
Dua bulan sebelum ibu kandungku meninggal, Sari menemukan transaksi mencurigakan di perusahaan. Sejumlah pembayaran kepada pemasok fiktif ternyata masuk ke rekening perusahaan yang terhubung dengan Rudi.
Sari berniat melaporkannya.
Namun sebelum sempat melakukannya, dia jatuh sakit.
“Bukankah Ibu saya meninggal karena kanker?”
“Benar. Tidak ada yang mencelakainya, Nadia. Jangan salah memahami bagian itu. Tapi ketika kondisinya memburuk, Rudi memanfaatkan keadaan.”
Bu Lestari menjelaskan bahwa Sari pernah menandatangani beberapa dokumen saat menjalani perawatan. Dia percaya dokumen itu berkaitan dengan administrasi perusahaan.
Ternyata salah satunya adalah surat persetujuan pemindahan sebagian saham.
“Bima mengetahuinya setelah Sari meninggal.”
“Kenapa Ayah tidak melaporkan Om Rudi?”
“Karena bukti saat itu tidak cukup. Tanda tangan Sari asli. Secara hukum semuanya terlihat sah.”
“Jadi Ayah dan Ibu mengadopsi saya karena merasa bersalah?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Bu Lestari langsung menggeleng.
“Tidak.”
Aku menatap keluar jendela.
“Bagaimana Ibu bisa yakin?”
“Karena Ratih yang meminta.”
Aku kembali menoleh.
Bu Lestari tersenyum sedih.
“Ratih dan Sari bersahabat sejak SMA. Saat Sari tahu penyakitnya tidak bisa disembuhkan, dia meminta Ratih menjaga satu hal yang paling berharga dalam hidupnya.”
Aku tidak perlu bertanya apa.
Aku.
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
Selama bertahun-tahun, ada bagian kecil dalam diriku yang selalu takut bahwa Ayah dan Ibu mengadopsiku karena kasihan.
Ternyata aku adalah janji yang mereka berikan kepada sahabat mereka.
Ponsel Bu Lestari tiba-tiba berbunyi.
Dia melihat layar.
Wajahnya berubah.
“Apa?”
Dia menunjukkan pesan yang baru masuk.
Sebuah foto mobil Arga.
Bagian depannya ringsek setelah menabrak pembatas jalan.
Di bawah foto itu ada tulisan.
Kecelakaan tunggal di Jalan Pasteur. Pengemudi dibawa ke rumah sakit.
Dunia di sekelilingku seolah berhenti.
“Kak Arga.”
Kami langsung menuju rumah sakit.
Aku berlari melewati pintu IGD dengan napas tersengal. Setelah menyebut nama Arga, seorang perawat mengarahkan kami ke ruang observasi.
Dia masih hidup.
Itu satu-satunya hal yang kupedulikan.
Kepalanya diperban dan lengan kirinya mengalami retak tulang, tetapi dokter mengatakan kondisinya stabil.
Ketika akhirnya aku diperbolehkan masuk, Arga membuka mata perlahan.
“Nad?”
Aku langsung memeluknya.
“Bodoh.”
Dia meringis.
“Pelan sedikit. Tulang rusukku masih ingin dipakai.”
Aku menangis sambil tertawa.
Kemudian aku memukul bahunya pelan.
“Kenapa kamu menyembunyikan semuanya dariku?”
Senyumnya menghilang.
“Karena Ayah memintaku.”
Dia menatap Bu Lestari yang berdiri di dekat pintu.
“Dokumennya sudah kamu lihat?”
Aku mengangguk.
“Kenapa surat wasiat dibuat seperti itu?”
“Supaya semua orang percaya kamu tidak mendapatkan apa-apa.”
Aku mengernyit.
Arga menjelaskan bahwa tiga bulan sebelum kecelakaan, Ayah menemukan bukti baru mengenai transaksi lama Rudi. Pada saat bersamaan, proses pengalihan saham kepadaku sudah hampir selesai.
Ayah takut jika namaku muncul dalam surat wasiat, Rudi akan segera memeriksa semua perubahan kepemilikan perusahaan.
Karena itu rumah, tabungan, investasi, dan aset pribadi diberikan kepada Arga.
Sementara saham mayoritas Sembada Medika sudah dipindahkan kepadaku sebelum Ayah dan Ibu meninggal.
“Jadi kalian sengaja membuatku terlihat seperti anak yang dibuang?”
Suara Arga melemah.
“Ayah bilang itu cara paling aman.”
“Dan kamu setuju?”
“Aku marah besar waktu pertama kali tahu.”
“Seharusnya kamu memberitahuku.”
“Aku ingin memberitahumu setelah pemakaman. Tapi malam sebelum kecelakaan mereka, Ayah meneleponku. Dia bilang ada seseorang yang mulai mencari dokumen lama.”
Aku terdiam.
“Om Rudi?”
Arga mengangguk.
“Karena itu setelah Ayah dan Ibu meninggal, aku tidak yakin kecelakaan mereka benar-benar kecelakaan.”
Ruangan menjadi sunyi.
Bu Lestari langsung menatapnya.
“Kamu menemukan sesuatu?”
Arga mengambil ponselnya dari meja samping ranjang.
“Sebelum mobilku menabrak pembatas tadi, ada SUV hitam yang terus menempel dari belakang.”
“Nomor polisinya?”
“Dashcam.”
Arga tersenyum tipis.
“Rekamannya otomatis tersimpan di cloud.”
Untuk pertama kalinya sejak pembacaan wasiat, aku merasa kami memiliki sesuatu yang bisa digunakan untuk melawan.
Namun kejutan terbesar datang keesokan paginya.
Pak Aditya datang ke rumah sakit membawa sebuah flashdisk.
“Ayah kalian menitipkan ini kepada saya enam bulan lalu,” katanya.
Arga mengernyit.
“Kenapa baru diberikan sekarang?”
“Karena ada syaratnya.”
Pak Aditya menatapku.
“Saya hanya boleh menyerahkannya jika seseorang mencoba memaksa Nadia menandatangani pelepasan hak setelah pembacaan wasiat.”
Aku teringat dua lembar kertas yang dibawa Om Rudi.
Pak Aditya memasukkan flashdisk ke laptop.
Sebuah video muncul.
Ayah duduk di ruang kerjanya.
Ibu ada di sebelahnya.
Melihat mereka hidup di layar membuat dadaku terasa sakit.
Ayah menatap kamera.
“Nadia, Arga, kalau kalian menonton ini, berarti kekhawatiran kami benar.”
Ibu menggenggam tangan Ayah.
“Kami minta maaf karena harus membuat kalian menjalani semua ini.”
Ayah kemudian menjelaskan bahwa selama dua tahun terakhir, mereka mengumpulkan bukti penggelapan dana perusahaan yang dilakukan Rudi melalui beberapa perusahaan cangkang.
Bukti tersebut bukan hanya mengenai transaksi lama milik Sari.
Rudi masih melakukannya.
Jumlahnya puluhan miliar rupiah.
Namun bagian terakhir membuat kami semua terdiam.
“Rudi tidak mengetahui satu hal,” kata Ayah di video. “Sebagian transaksi yang dia kira sudah dihapus sebenarnya kami simpan melalui audit forensik independen.”
Pak Aditya membuka folder lain dalam flashdisk.
Puluhan laporan transaksi muncul.
Bu Lestari langsung menutup mulut.
“Ini cukup.”
“Untuk apa?” tanyaku.
“Untuk audit resmi, gugatan perdata, dan kemungkinan laporan pidana.”
Aku memandang layar.
Tiba-tiba semuanya menjadi jelas.
Om Rudi tidak membutuhkan tanda tanganku karena takut aku menggugat warisan.
Dia membutuhkan tanda tanganku karena jika aku melepaskan segala klaim terhadap peninggalan keluarga, dia berharap bisa menggunakan dokumen itu untuk mempersulit posisiku ketika kepemilikan saham terungkap.
Dia belum tahu aku sudah menjadi pemegang saham mayoritas.
Setidaknya, belum sepenuhnya.
Tiga hari kemudian, aku menghadiri rapat luar biasa pemegang saham Sembada Medika.
Om Rudi datang dengan setelan abu-abu dan senyum percaya diri.
Senyumnya bertahan sampai Pak Aditya membacakan komposisi kepemilikan terbaru.
“Nadia Wulandari Pratama, lima puluh satu persen.”
Wajah Om Rudi langsung pucat.
“Tidak mungkin.”
Aku duduk di ujung meja.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, tanganku tidak gemetar.
Om Rudi berdiri.
“Dokumen itu tidak sah.”
Pak Aditya mendorong salinan akta ke arahnya.
“Sudah disahkan dan tercatat sebelum Pak Bima dan Bu Ratih meninggal.”
Om Rudi menatap Arga.
“Kamu melakukan ini?”
Arga menggeleng.
“Ayah.”
Aku kemudian meletakkan laporan audit di meja.
“Dan ini juga dari Ayah.”
Wajahnya benar-benar berubah.
Beberapa minggu berikutnya berjalan seperti badai.
Audit internal dibuka. Beberapa direktur diperiksa. Rekening yang terkait dengan transaksi mencurigakan dilacak. Bukti dari dashcam Arga juga diserahkan kepada polisi. SUV yang mengikutinya ternyata kendaraan sewaan yang dibayar melalui perantara yang terhubung dengan salah satu orang kepercayaan Om Rudi.
Namun penyelidikan atas kecelakaan Ayah dan Ibu menghasilkan sesuatu yang tidak kami duga.
Tidak ditemukan bukti bahwa Rudi menyebabkan kecelakaan mereka.
Mobil Ayah kehilangan kendali saat hujan deras. Rekaman kamera jalan dan pemeriksaan kendaraan menunjukkan tidak ada sabotase.
Aku hampir kecewa mendengarnya.
Bukan karena aku ingin Rudi menjadi pembunuh.
Namun karena manusia terkadang menginginkan satu penjahat untuk menjelaskan seluruh penderitaan.
Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Rudi memang mencuri.
Dia memanipulasi kepercayaan ibu kandungku.
Dia menggelapkan uang perusahaan.
Dia juga diduga mengintimidasi Arga setelah kematian orang tua kami.
Tetapi kematian Ayah dan Ibu adalah kecelakaan.
Kehilangan itu tidak memiliki seseorang untuk disalahkan.
Beberapa bulan kemudian, aku kembali ke rumah Dago.
Rumah itu sekarang secara hukum milik Arga.
Namun ketika aku datang, sebuah papan kecil masih tergantung di pintu kamar lamaku.
NADIA.
Tidak pernah dilepas.
Aku berdiri lama di depannya.
Arga muncul dari belakang membawa dua cangkir kopi.
“Kamu tahu rumah ini setengahnya milikmu, kan?”
Aku menoleh.
“Surat wasiat bilang milikmu.”
“Aku tidak peduli.”
Aku tersenyum.
“Aku juga tidak.”
Kami duduk di lantai kamar seperti ketika masih remaja.
“Lucu,” kataku. “Beberapa bulan lalu aku pikir hal paling menyakitkan adalah tidak mendapatkan warisan.”
Arga menyerahkan kopi kepadaku.
“Sekarang?”
Aku memandang papan nama di pintu.
“Sekarang aku tahu aku salah memahami apa yang mereka tinggalkan.”
Ayah dan Ibu memang tidak menuliskan namaku dalam surat wasiat.
Mereka tidak meninggalkan rumah untukku.
Tidak meninggalkan rekening investasi.
Tidak meninggalkan mobil atau tanah.
Mereka meninggalkan sesuatu yang jauh lebih sulit dinilai.
Mereka mengembalikan hak ibu kandungku.
Mereka menjaga masa depanku.
Dan selama tiga belas tahun, tanpa pernah mengatakannya, mereka menepati janji kepada seorang perempuan yang tahu dirinya tidak akan sempat melihat putrinya tumbuh dewasa.
Beberapa hari kemudian aku mengunjungi makam Ayah dan Ibu.
Aku membawa foto lama yang ditemukan di loker 317.
Aku meletakkannya di antara kedua makam.
Dalam foto itu, Ayah, Ibu, dan Sari tersenyum di depan ruko kecil bertuliskan Sembada Medika.
Tiga orang yang ternyata telah menentukan seluruh hidupku.
“Aku sudah tahu semuanya,” bisikku.
Angin pagi bergerak pelan melewati pepohonan.
“Aku sempat marah karena kalian tidak menulis namaku.”
Aku tersenyum sambil menghapus air mata.
“Tapi sekarang aku mengerti.”
Sebelum pulang, aku mengeluarkan salinan surat wasiat dari tas.
Di sana memang tidak ada namaku.
Dulu halaman itu membuatku merasa seperti orang asing.
Sekarang tidak lagi.
Karena akhirnya aku memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehku.
Warisan terbesar yang diberikan Ayah dan Ibu bukanlah lima puluh satu persen saham perusahaan.
Bukan uang.
Bukan pula kebenaran tentang masa lalu.
Warisan terbesar mereka adalah tiga belas tahun kehidupan di mana seorang anak perempuan yang kehilangan ibu pada usia sebelas tahun tidak pernah sekali pun harus bertanya apakah dirinya masih memiliki keluarga.
Dan untuk pertama kalinya sejak hari pembacaan surat wasiat itu, aku tidak merasa namaku dihapus.
Aku justru merasa namaku telah ditulis di tempat yang jauh lebih penting daripada selembar dokumen.
Di dalam sebuah keluarga yang memilihku, menjagaku, dan mencintaiku sampai akhir.
