Namun Raka tidak melanjutkan membaca.
Ia berdiri membeku di samping meja makan, sementara kertas di tangannya bergetar begitu keras hingga terdengar suara tipis gesekan lembaran. Aku belum pernah melihat wajah anakku seperti itu. Bahkan ketika bisnisnya bangkrut, ketika akses rekeningnya kubekukan, atau ketika para penagih mulai mencarinya, Raka selalu berhasil mempertahankan kesombongannya.
Kali ini tidak.
“Ayah bohong,” katanya akhirnya.
Suaranya nyaris berbisik.
Aku menatap surat itu.
“Apa yang ditulis ayahmu?”
Raka tidak menjawab.
Pak Fajar mengambil satu langkah maju, tetapi Raka langsung menarik surat itu ke dadanya.
“Jangan sentuh.”
“Raka,” kataku, “baca keras-keras.”
Dia menatapku seolah aku baru saja mengkhianatinya.
“Ibu sudah tahu?”
“Belum.”
“Jangan bohong.”
“Aku menemukan amplop itu pagi ini.”
Raka kembali melihat surat di tangannya. Rahangnya mengeras. Lalu, dengan suara serak, dia mulai membaca.
“Raka, kalau kamu membaca surat ini, berarti ketakutanku akhirnya menjadi kenyataan.”
Ruangan mendadak sunyi.
Bahkan bunyi pendingin udara terasa terlalu keras.
“Ayah tahu tentang judi aku,” gumam Raka.
Aku menahan napas.
Surat itu ternyata ditulis Hendra hampir empat tahun lalu, beberapa bulan sebelum dia meninggal.
Dalam surat tersebut, Hendra menjelaskan bahwa Raka pernah datang kepadanya meminta uang delapan ratus juta rupiah. Saat itu Raka mengaku uang tersebut diperlukan untuk menyelamatkan bisnisnya di Surabaya.
Hendra membayar.
Dua bulan kemudian Raka meminta lagi.
Kali ini satu koma dua miliar.
Hendra mulai curiga dan diam-diam memeriksa rekening anaknya.
Uang itu bukan untuk bisnis.
Sebagian besar mengalir ke rekening yang berkaitan dengan perjudian daring dan taruhan ilegal.
Dadaku terasa sesak.
“Jadi ayahmu sudah tahu sejak lama?”
Raka melempar surat itu ke meja.
“Dia memata-mataiku!”
“Dia mencoba menyelamatkanmu.”
“Dengan menyimpan semua ini?”
Dia menunjuk map cokelat dengan kasar.
Ratih membuka salah satu dokumen.
“Bukan hanya itu yang disimpan Pak Hendra.”
Raka terdiam.
Ratih mengeluarkan beberapa salinan perjanjian.
Hendra ternyata pernah melunasi utang Raka sebanyak tiga kali dengan satu syarat. Setiap pembayaran dicatat sebagai pinjaman pribadi, bukan pemberian ataupun bagian dari warisan.
Jumlah keseluruhannya hampir empat miliar rupiah.
Aku memandang Raka dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Selama bertahun-tahun aku percaya Hendra dan Raka memiliki hubungan yang baik. Tidak pernah sekali pun suamiku menceritakan masalah itu kepadaku.
“Kenapa ayahmu menyembunyikannya dariku?”
Raka tertawa pendek.
“Karena Ayah tahu Ibu akan bereaksi seperti sekarang.”
“Seperti apa?”
“Menghakimi aku.”
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diriku runtuh.
Aku berdiri perlahan dengan bantuan tongkat.
“Semalam kamu mendorongku dari tangga.”
Raka tidak menjawab.
“Kamu meninggalkanku di lantai.”
“Bu, aku nggak sengaja.”
Tiga kata itu membuat semua orang di ruangan menatapnya.
Aku hampir tertawa karena begitu tidak masuk akalnya kalimat tersebut.
“Kamu tidak sengaja mendorongku?”
“Aku cuma emosi. Ibu menarik tangan. Aku refleks.”
“Kemudian kamu memintaku mentransfer uang sebelum mau membawaku ke rumah sakit.”
Raka mengalihkan pandangan.
“Itu juga refleks?”
Dia diam.
Pak Fajar membuka map yang dibawanya.
“Kondisi medis Bu Maya sudah didokumentasikan. Ada cedera pada pinggang, dua tulang rusuk retak ringan, luka kepala, dan bekas cengkeraman pada pergelangan tangan.”
Raka langsung menatapku.
“Ibu mau laporin aku ke polisi?”
Aku tidak segera menjawab.
Aneh sekali.
Semalam, saat tubuhku tergeletak di lantai, aku masih takut menghancurkan masa depan anakku.
Sekarang dia justru khawatir terhadap masa depannya sendiri.
“Aku belum memutuskan.”
Raka mengusap wajahnya kasar.
“Oke. Aku salah.”
Tidak ada permintaan maaf.
Hanya pengakuan karena dia terpojok.
“Aku lagi stres. Orang-orang itu mengancam aku. Mereka bilang kalau besok aku belum bayar, mereka akan datang ke rumah.”
Pak Samuel langsung bertanya, “Siapa mereka?”
“Bukan urusan Bapak.”
“Kalau ancamannya menyangkut Bu Maya dan aset keluarga, itu menjadi urusan kami.”
Raka memukul meja.
“Aku cuma butuh tiga miliar!”
Gelas teh bergetar.
Aku menatap anak yang berdiri di depanku dan akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak ingin kuakui.
Raka tidak datang untuk meminta pertolongan.
Dia datang karena menganggap aku adalah rekening bank yang kebetulan melahirkannya.
Aku mengambil surat Hendra.
Masih ada bagian yang belum dibaca.
Aku membacanya sendiri.
Hendra menulis bahwa setelah mengetahui kecanduan Raka, dia mengubah struktur kepemilikan perusahaan. Saham yang selama ini kukira suatu hari otomatis diwariskan kepada Raka ternyata telah ditempatkan dalam perusahaan induk dengan ketentuan khusus.
Raka tidak memiliki hak otomatis untuk mengendalikannya.
Keputusan akhir berada padaku.
Namun ada kalimat lain yang membuat tanganku berhenti.
“Jika Raka suatu hari mengancam Maya demi uang, jangan selamatkan dia dari akibat perbuatannya.”
Aku menutup mata.
Seolah-olah Hendra sedang duduk di ruangan itu bersamaku.
Aku teringat satu malam sebelum dia meninggal. Hendra pernah menggenggam tanganku dan berkata, “Kalau suatu hari kamu harus memilih antara mencintai Raka dan membiarkan dia menghancurkan dirinya sendiri, jangan salah mengartikan cinta.”
Saat itu aku tidak memahami maksudnya.
Sekarang aku mengerti.
Raka merebut surat dari tanganku.
“Semua ini nggak sah.”
Pak Indra menjawab tenang, “Dokumennya sah.”
“Aku anak tunggal!”
“Status Anda sebagai anak tidak memberikan hak untuk mengambil aset perusahaan sesuka hati.”
“Aku akan gugat.”
“Silakan.”
Jawaban Pak Indra begitu datar sehingga Raka justru semakin panik.
Dia berjalan mondar-mandir.
Kemudian ponselnya berdering.
Raka melihat layar dan langsung mematikannya.

Beberapa detik kemudian telepon masuk lagi.
Dia mematikannya lagi.
Lalu sebuah pesan muncul.
Aku tidak bisa membaca isinya, tetapi ekspresi Raka berubah.
“Bu.”
Nada suaranya berbeda.
Untuk pertama kalinya terdengar seperti anak kecil yang ketakutan.
“Mereka tahu aku di sini.”
“Siapa?”
“Orang yang aku utangi.”
“Berapa sebenarnya utangmu?”
“Tiga miliar.”
“Jangan bohong lagi.”
Dia diam.
“Berapa?”
Raka menunduk.
“Enam koma delapan.”
Aku merasa jantungku berhenti sesaat.
“Enam koma delapan miliar?”
“Sebagian sudah kubayar.”
“Dengan uang dari rekening keluarga?”
Raka tidak menjawab.
Pak Samuel membuka laptopnya.
“Kami menemukan transaksi hampir dua miliar. Kalau jumlah utangnya enam koma delapan, berarti masih ada transaksi lain.”
Raka mendadak pucat.
“Apa yang kalian periksa?”
“Semua rekening yang berkaitan dengan perusahaan.”
“Tidak boleh!”
Reaksinya terlalu kuat.
Ratih langsung menatap Pak Samuel.
Mereka tampaknya menyadari sesuatu bersamaan.
Pak Samuel memutar laptop.
Ada serangkaian transfer dari rekening salah satu anak perusahaan logistik milik keluarga ke sebuah vendor bernama PT Nusa Artha Konsultan.
Nama itu asing bagiku.
“Perusahaan apa ini?”
Raka diam.
Pak Indra menjawab, “Kami mengecek alamat terdaftarnya siang tadi. Kantornya virtual. Direktur perusahaan bernama Dimas Prasetyo.”
Aku mengenal nama itu.
Dimas adalah teman kuliah Raka.
Raka langsung mengambil kunci mobilnya.
“Aku pergi.”
Pak Fajar berdiri menghalangi jalan.
“Kami tidak menahan Anda. Tetapi sebaiknya dengarkan dulu.”
“Apa lagi?”
Pak Samuel menatap Raka.
“Dana yang masuk ke PT Nusa Artha Konsultan bukan dua miliar.”
Raka membeku.
“Dalam dua tahun terakhir, totalnya sebelas koma empat miliar rupiah.”
Aku menatap layar.
Dunia di sekelilingku seakan mengecil.
Sebelas koma empat miliar.
Jauh lebih besar daripada uang yang kukira telah hilang.
“Raka,” kataku pelan. “Kamu mengambil uang perusahaan?”
“Itu uang keluarga.”
“Bukan.”
Aku menatapnya.
“Itu uang perusahaan. Ada karyawan yang bekerja untuk mendapatkannya. Ada sopir yang mengantar barang sampai tengah malam. Ada orang gudang yang bekerja saat Lebaran. Ada keluarga yang hidup dari gaji perusahaan itu.”
“Jangan ceramahin aku!”
“Jawab pertanyaanku.”
Raka menggebrak meja.
“Iya!”
Semua orang terdiam.
Raka bernapas berat.
“Iya, aku ambil. Puas?”
Mataku panas, tetapi kali ini aku tidak menangis.
“Untuk judi?”
“Awalnya untuk menutup kerugian.”
“Kerugian judi.”
“Aku bisa mengembalikannya!”
“Dengan apa?”
Raka menunjuk ke sekeliling rumah.
“Dengan semua ini!”
Saat itulah aku akhirnya memahami cara pikirnya.
Rumah.
Perusahaan.
Tanah.
Saham.
Bahkan aku.
Baginya semua hanyalah angka yang bisa dikorbankan untuk menutup kesalahan berikutnya.
Aku duduk kembali.
“Pak Indra.”
“Ya, Bu.”
“Jalankan keputusan yang kita bicarakan tadi.”
Raka menoleh cepat.
“Keputusan apa?”
Pak Indra mengeluarkan dokumen.
Mulai pagi itu, seluruh kewenangan Raka yang masih tersisa dalam perusahaan dicabut. Semua akses ke rekening, dokumen, aset, kendaraan perusahaan, dan sistem internal diblokir.
Selain itu, audit forensik akan dilakukan terhadap transaksi beberapa tahun terakhir.
Jika ditemukan penggelapan, hasil audit akan diserahkan kepada pihak berwenang.
Raka menatapku seperti tidak mengenaliku.
“Ibu benar-benar mau menghancurkan aku?”
“Tidak.”
Aku menatap matanya.
“Kamu sudah menghancurkan dirimu sendiri. Aku hanya berhenti menutupinya.”
Untuk beberapa detik Raka tidak bergerak.
Kemudian dia tertawa.
Tawa yang aneh dan kosong.
“Oke.”
Dia mengambil ponselnya.
“Kalau begitu jangan salahkan aku.”
Dia membuka sebuah foto dan meletakkan ponselnya di meja.
Foto itu memperlihatkan sebuah dokumen.
Aku mendekat.
Itu salinan akta penjualan rumah di Bandung.
Ada tanda tanganku di sana.
Masalahnya, aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.
Ratih langsung mengambil ponsel Raka.
“Dari mana kamu dapat ini?”
Raka tersenyum tipis.
“Rumah Bandung sudah dijual enam bulan lalu.”
Aku merasakan darahku berdesir.
“Tidak mungkin.”
“Cek saja.”
Pak Samuel segera menelepon seseorang.
Raka terlihat puas.
Mungkin dia mengira akhirnya memiliki senjata untuk membuatku takut.
Namun lima menit kemudian, ekspresi Pak Samuel justru berubah aneh.
Dia menutup telepon.
“Rumah itu memang pernah diajukan untuk transaksi.”
Raka tersenyum.
“Tuh.”
“Tapi transaksi dibatalkan.”
Senyum Raka lenyap.
“Apa?”
“Notaris menolak melanjutkan karena tanda tangan Bu Maya tidak sesuai spesimen.”
Raka menatapnya.
Pak Samuel melanjutkan.
“Dan ada hal lain. Upaya transaksi itu sudah dilaporkan kepada Pak Hendra.”
Ruangan kembali sunyi.
“Hendra?” tanyaku.
“Pengajuan pertama ternyata dilakukan empat tahun lalu, bukan enam bulan lalu.”
Aku memandang Raka.
Wajahnya benar-benar kehilangan warna.
Tiba-tiba aku mengerti mengapa Hendra membuat semua dokumen itu.
Bukan hanya karena judi.
Empat tahun lalu, saat suamiku masih hidup, Raka sudah mencoba menjual aset keluarga menggunakan tanda tanganku.
Hendra mengetahuinya.
Dan memilih menyimpan bukti.
Raka perlahan duduk.
Semua keberaniannya menghilang.
“Ayah bilang dia sudah menyelesaikannya.”
Aku menatapnya.
“Jadi kamu tahu?”
Dia tidak menjawab.
“Raka.”
“Aku waktu itu terdesak.”
Kalimat yang sama.
Selalu terdesak.
Selalu ada alasan.
Aku memandang wajah anakku dan tiba-tiba teringat Raka kecil berumur delapan tahun. Dia pernah memecahkan vas kesayanganku ketika bermain bola di dalam rumah.
Saat itu dia menungguku pulang sambil menangis.
“Aku yang pecahin, Bu. Jangan marah sama Mbak.”
Anak kecil itu pernah memiliki keberanian untuk mengakui kesalahan.
Entah kapan dia berubah menjadi pria yang selalu mencari orang lain untuk menanggung akibat perbuatannya.
“Aku ingin kamu pergi dari rumah ini malam ini.”
Raka mengangkat kepala.
“Apa?”
“Pak Darto sudah mengemasi barang-barangmu.”
“Ibu ngusir aku?”
“Iya.”
“Kalau orang-orang itu menangkap aku bagaimana?”
Aku terdiam cukup lama.
“Pergilah ke polisi. Ceritakan semuanya. Termasuk perjudianmu, ancaman mereka, dan uang perusahaan yang kamu ambil.”
Raka tertawa pahit.
“Supaya aku masuk penjara?”
“Supaya untuk pertama kalinya kamu berhenti berlari.”
Dia menatapku dengan mata merah.
Kemudian sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Raka menangis.
Bukan tangisan keras.
Air matanya hanya jatuh begitu saja.
“Bu, aku takut.”
Dadaku terasa seperti diremas.
Naluri seorang ibu dalam diriku ingin berdiri, memeluknya, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tetapi aku tahu satu pelukan yang salah bisa membuat kami kembali ke lingkaran yang sama.
Aku tetap duduk.
“Aku juga takut semalam.”
Raka menunduk.
“Ketika aku tergeletak di bawah tangga dan anakku sendiri meninggalkanku.”
Dia menutup wajahnya.
Untuk pertama kalinya malam itu, terdengar satu kalimat yang sudah kutunggu.
“Maaf, Bu.”
Aku menangis setelah mendengarnya.
Namun aku tetap tidak mengubah keputusan.
Malam itu Raka pergi ditemani Pak Fajar menuju kantor polisi.
Bukan karena kami menyeretnya.
Dia memilih pergi sendiri.
Audit yang dilakukan selama beberapa minggu berikutnya menemukan kerugian perusahaan lebih dari dua belas miliar rupiah. Sebagian uang memang digunakan untuk berjudi, tetapi sebagian lain dipakai menutup utang lama dan transaksi fiktif bersama Dimas.
Kasusnya kemudian masuk proses hukum.
Aku memberikan keterangan tentang malam ketika Raka mendorongku.
Itulah bagian tersulit.
Ketika petugas bertanya apakah aku yakin ingin memasukkan kejadian itu ke dalam laporan, tanganku sempat gemetar.
Lalu aku teringat kata-kata Hendra.
Jangan selamatkan dia dari akibat perbuatannya.
Aku mengangguk.
Enam bulan kemudian, aku mengunjungi Raka.
Tubuhnya lebih kurus. Rambutnya pendek. Tidak ada jam mahal di pergelangan tangannya. Tidak ada ponsel yang terus berdering.
Kami duduk berhadapan dipisahkan meja.
“Aku ikut konseling,” katanya.
Aku mengangguk.
“Bagus.”
“Aku nggak minta Ibu maafin aku sekarang.”
Aku menatapnya.
Raka tersenyum kecil.
“Aku cuma mau bilang… ternyata Ayah benar.”
“Tentang apa?”
Dia menunduk sebentar.
“Aku selalu pikir kalau Ibu terus menyelamatkan aku, berarti Ibu sayang. Sekarang aku baru ngerti. Selama ini setiap kali kalian menutup utangku, aku justru belajar bahwa apa pun yang kulakukan pasti ada orang yang membereskannya.”
Mataku terasa panas.
Raka mengangkat wajah.
“Malam itu, waktu Ibu nggak kasih tiga miliar, sebenarnya itu pertama kalinya Ibu benar-benar menyelamatkan aku.”
Aku tidak mampu menjawab.
Sebelum waktu kunjungan selesai, Raka mengeluarkan sesuatu dari saku.
Sebuah salinan surat Hendra.
Di bagian belakangnya ada tulisan tangan yang sebelumnya tidak kami perhatikan.
Satu kalimat pendek.
Maya, kalau kamu membaca ini, jangan pernah merasa gagal sebagai ibu hanya karena suatu hari kamu harus mengatakan tidak.
Aku menutup mulut dengan tangan.
Raka menangis di depanku.
Kali ini aku mengulurkan tangan.
Dia menggenggamnya.
Aku tidak tahu apakah hubungan kami akan pernah kembali seperti dulu.
Mungkin tidak.
Beberapa hal yang pecah tidak harus dikembalikan ke bentuk semula agar bisa memiliki arti lagi.
Kadang-kadang cinta seorang ibu adalah menyediakan rumah untuk anaknya pulang.
Tetapi kadang-kadang cinta juga berarti menutup pintu, membiarkannya menghadapi akibat dari pilihannya sendiri, lalu menunggu sampai suatu hari dia kembali bukan untuk meminta uang, melainkan untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab atas hidupnya.
Dan akhirnya aku mengerti mengapa Hendra menyimpan amplop itu.
Surat tersebut sebenarnya tidak pernah ditulis untuk menghukum Raka.
Surat itu ditulis untukku.
Untuk hari ketika aku akhirnya harus belajar bahwa mengatakan tidak kepada anak sendiri bukan berarti berhenti mencintainya.
Kadang-kadang, justru itulah bentuk cinta terakhir yang masih bisa menyelamatkannya.
