MANTAN ISTRIKU MENOLAK PENCAIRAN RP85 MILIAR UNTUK OPERASI IBUKU, LALU MENUDUHKU SEBAGAI PENIPU—SAMPAI SEORANG JENDERAL DATANG, MEMBERI HORMAT, DAN MEMANGGILKU “PAK ARGA” DI DEPAN SELURUH NASABAH

“Arga, dengarkan aku.”

Untuk pertama kalinya sejak aku masuk ke ruangan itu, suara Renata kehilangan seluruh ketegasannya. Wajahnya pucat, sementara jemarinya gemetar di atas meja.

“Aku tidak pernah membuat instruksi pemindahan itu.”

Aku menatapnya tanpa menjawab.

Mayor Jenderal Bima memberi isyarat kepada pejabat kementerian yang memegang tablet.

“Jam berapa instruksi tersebut masuk?”

“Pukul 14.41, Pak. Empat menit setelah rekening PT Sentra Medika Nusantara ditandai oleh cabang ini.”

Renata langsung menggeleng.

“Tidak mungkin. Saya hanya melakukan pemblokiran sementara.”

“Dengan otorisasi siapa?” tanya salah seorang anggota tim hukum.

“Saya sendiri.”

“Berarti Anda membuka akses administratif terhadap rekening tersebut.”

Renata terdiam.

Aku melihat jam.

14.51.

Semua orang di ruangan itu mungkin sedang memikirkan penyelidikan, audit, dan siapa yang mencoba mengambil Rp85 miliar.

Aku hanya memikirkan satu hal.

Ibuku.

“Pak Bima,” kataku. “Kita bisa urus masalah ini nanti. Saya perlu membayar rumah sakit sekarang.”

Jenderal Bima mengangguk.

“Prioritaskan transaksi rumah sakit.”

Pejabat kementerian segera berbicara dengan petugas bank.

Renata mendekat kepadaku.

“Arga, aku benar-benar tidak tahu soal Arunika.”

Aku menatapnya.

“Kamu tahu perusahaan itu.”

Dia membeku.

“Tiga tahun lalu kamu pernah menyebut namanya.”

“Itu perusahaan milik Pak Adrian.”

“Direktur wilayahmu.”

Renata mengangguk perlahan.

“Dia yang merekomendasikanku untuk jabatan kepala cabang.”

“Dan sekarang uang kontrak negara hampir dipindahkan ke perusahaan miliknya.”

“Aku tidak terlibat.”

Aku ingin mempercayainya.

Bagaimanapun, pernah ada masa ketika perempuan di depanku adalah orang yang paling kupercaya.

Tetapi hari ini dia merobek dokumen resmi, menuduhku penipu, memblokir rekening perusahaan, dan secara tidak langsung membuka celah bagi seseorang untuk mencoba mengambil dana tersebut.

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

Seorang pegawai perempuan masuk dengan napas terengah-engah.

“Bu Renata.”

“Ada apa?”

“Pak Adrian datang.”

Ruangan langsung sunyi.

Renata menoleh ke pintu.

Aku melihat perubahan kecil di wajahnya.

Bukan lega.

Takut.

Beberapa detik kemudian seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun memasuki ruangan. Jasnya gelap, rambutnya tersisir rapi, dan langkahnya tenang seperti seseorang yang terbiasa membuat orang lain berdiri ketika dia datang.

Adrian Kusuma.

Direktur wilayah bank.

“Ada apa ini?” tanyanya.

Matanya melewati Renata, Jenderal Bima, lalu berhenti padaku.

Hanya sesaat.

Namun aku melihatnya.

Dia mengenaliku.

“Pak Adrian,” kata Renata cepat. “Ada instruksi pemindahan dana dari rekening Pak Arga ke PT Arunika Konsultan Utama.”

Adrian mengernyit.

“Arunika?”

“Perusahaan Bapak.”

Ekspresinya tidak berubah.

“Perusahaan keluarga saya. Saya sudah tidak terlibat dalam operasionalnya.”

Pejabat kementerian maju.

“Instruksi menggunakan jalur internal bank.”

Adrian tersenyum tipis.

“Kalau begitu lakukan audit. Tidak perlu membuat keributan di depan nasabah.”

Dia lalu menatapku.

“Pak Arga, saya memahami Anda sedang menghadapi situasi keluarga. Tetapi membawa pejabat militer ke bank bukan cara menyelesaikan persoalan administratif.”

Jenderal Bima menatapnya.

“Tidak ada yang membawa saya ke sini.”

Adrian terdiam.

“Saya datang karena Rp85 miliar itu merupakan pembayaran kontrak pemerintah yang berada dalam pengawasan kami.”

Senyum Adrian menghilang.

Bima melanjutkan.

“Dan sekarang seseorang mencoba mengalihkannya.”

Aku kembali memandang jam.

14.57.

“Transaksi rumah sakit?”

Seorang pegawai menjawab dari luar ruangan.

“Masih diproses, Pak.”

“Berapa lama?”

“Kami sedang membuka blokir rekening.”

“Berapa lama?”

Pegawai itu menunduk.

“Sepuluh sampai lima belas menit.”

Aku mengepalkan tangan.

Tiba-tiba ponselku berdering.

Rumah sakit.

Aku segera menjawab.

“Pak Arga,” suara dokter terdengar lebih tegang daripada sebelumnya. “Kondisi ibu Anda menurun.”

Dadaku terasa kosong.

“Seberapa buruk?”

“Kami tidak ingin menunggu sampai pukul empat. Tim bedah ingin mempercepat prosedur.”

“Lakukan.”

“Ada komponen kateter khusus yang harus dikeluarkan dari penyimpanan distributor. Administrasi membutuhkan jaminan pembayaran.”

Aku menatap Renata.

Perempuan itu mendengar semuanya.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Dok, beri saya lima belas menit.”

“Pak Arga…”

“Lima belas menit.”

Aku menutup telepon.

Renata langsung meraih telepon mejanya.

“Buka blokir rekening Sentra Medika sekarang.”

Adrian menoleh tajam.

“Jangan.”

Renata membeku.

Semua orang menatapnya.

Adrian menyadari kesalahannya.

“Maksud saya, jangan melakukan apa pun sebelum tim kepatuhan selesai memeriksa.”

“Pak Adrian,” kata Renata pelan, “ibunya sedang menunggu operasi.”

“Kita bekerja berdasarkan prosedur, bukan emosi.”

Kalimat itu membuatku teringat bagaimana Renata berbicara kepadaku beberapa menit sebelumnya.

Aneh sekali.

Sekarang dia mendengarnya dari orang lain.

Renata menatap Adrian.

“Kalau transaksi itu sah, saya bertanggung jawab atas pemblokirannya.”

“Renata.”

“Saya akan membuka blokirnya.”

“Jangan membuat keputusan yang menghancurkan kariermu.”

Renata terdiam.

Lalu sesuatu di wajahnya berubah.

Mungkin untuk pertama kalinya hari itu dia menyadari bahwa jabatan yang selama ini begitu dibanggakannya bisa menjadi rantai.

Dia menekan nomor internal.

“Buka blokir rekening PT Sentra Medika Nusantara. Sekarang.”

Adrian maju satu langkah.

“Saya melarangnya.”

Renata menatap atasannya.

“Dengan dasar apa?”

Tidak ada jawaban.

“Pak Adrian?”

Pria itu menatapnya dingin.

“Kamu akan menyesali ini.”

Renata tersenyum pahit.

“Mungkin saya sudah menyesali terlalu banyak hal hari ini.”

Pukul 15.06, blokir dibuka.

Aku segera melakukan transfer jaminan pembayaran rumah sakit.

Tanganku yang selama bertahun-tahun tetap stabil ketika memegang peralatan di lapangan justru gemetar ketika menekan tombol konfirmasi.

Transaksi berhasil.

Aku menelepon rumah sakit.

“Sudah masuk,” kata petugas administrasi beberapa menit kemudian.

Aku mengembuskan napas panjang.

“Operasinya?”

“Kami mulai persiapan sekarang.”

Untuk pertama kalinya sejak pukul dua siang, aku merasa bisa bernapas.

Namun masalah di bank baru dimulai.

Tim audit internal tiba tidak lama kemudian.

Log akses diperiksa.

Semua aktivitas sejak dana Rp85 miliar masuk ditelusuri.

Pada pukul 15.24, seorang auditor menemukan sesuatu.

Instruksi pemindahan dana memang menggunakan kredensial pegawai cabang.

Tetapi bukan milik Renata.

Kredensial itu milik seorang staf operasional bernama Dimas.

Masalahnya, Dimas sedang cuti sejak tiga hari sebelumnya.

“Berarti akunnya dipakai orang lain,” kata Renata.

Auditor mengangguk.

“Dari perangkat mana?” tanyaku.

Dia memeriksa layar.

Kemudian wajahnya berubah.

“Terminal direktur wilayah.”

Semua kepala menoleh kepada Adrian.

Adrian tertawa pendek.

“Tidak masuk akal. Terminal saya bisa diakses staf.”

“Dengan autentikasi biometrik?” tanya auditor.

Ruangan kembali sunyi.

Adrian menatap layar.

“Ini jebakan.”

Jenderal Bima mengangkat alis.

“Siapa yang menjebak Anda?”

“Saya tidak tahu.”

Tiba-tiba Adrian menunjuk Renata.

“Mungkin dia.”

Renata menatapnya tidak percaya.

“Pak?”

“Kamu punya akses ke kantor saya.”

“Saya bahkan tidak datang ke kantor wilayah minggu ini.”

“Kamu sedang mencoba menyelamatkan dirimu.”

Aku memperhatikan mereka.

Kemudian sebuah ingatan muncul.

Tiga tahun lalu, beberapa minggu sebelum perceraian kami, Renata pernah pulang hampir tengah malam.

Dia mengatakan sedang bertemu seorang senior yang menawarkan promosi.

Nama orang itu Adrian.

Saat itu aku tidak peduli.

Pernikahan kami sudah hampir runtuh.

Sekarang aku bertanya, “Renata, kapan Adrian pertama kali tahu tentang Sentra Medika?”

Dia menoleh kepadaku.

“Apa?”

“Perusahaanku.”

“Aku tidak pernah membicarakannya.”

“Pikirkan.”

Renata diam cukup lama.

Kemudian wajahnya berubah.

“Waktu kami masih menikah.”

“Kapan?”

“Saat proses promosi pertamaku. Pak Adrian pernah bertanya pekerjaanmu.”

Adrian langsung memotong.

“Percakapan tiga tahun lalu tidak relevan.”

Tetapi Renata terus mengingat.

“Saya bilang Arga membuat bahan medis di bengkel.”

“Lalu?”

“Bapak bertanya apakah produknya berhubungan dengan militer.”

Adrian membentak, “Cukup.”

Itu justru membuat semua orang semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikannya.

Tim hukum kementerian kemudian membuka dokumen lain.

PT Arunika Konsultan Utama ternyata sudah tiga kali mengikuti tender sebagai perantara pengadaan alat medis pertahanan.

Tiga kali gagal.

Tender terakhir kalah dari konsorsium yang menggunakan teknologi milik Sentra Medika Nusantara.

Perusahaan milikku.

Aku akhirnya memahami semuanya.

Adrian sudah mengetahui keberadaan proyekku jauh sebelum Renata menyadarinya.

Dia hanya menunggu pembayaran pertama masuk.

“Jadi saya dipromosikan karena Arga?” tanya Renata dengan suara nyaris berbisik.

Adrian tidak menjawab.

Renata tertawa kecil.

Tetapi air matanya jatuh.

“Selama ini saya pikir Bapak percaya kemampuan saya.”

“Jangan dramatis.”

“Saya merusak pernikahan saya demi karier ini.”

Aku menatapnya.

Renata menggeleng pelan.

“Bukan salahmu, Ga. Aku yang memilih.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mungkin itulah permintaan maaf paling jujur yang pernah kudengar darinya.

Tak lama kemudian, pihak kepolisian dan penyidik internal datang.

Adrian dibawa untuk dimintai keterangan setelah tim menemukan komunikasi antara salah satu staf Arunika dan nomor pribadinya beberapa jam sebelum pencairan dana.

Sebelum keluar, Adrian menatap Renata.

“Kamu pikir mereka akan mempertahankanmu setelah kekacauan ini?”

Renata tidak menjawab.

Aku yang menjawab.

“Setidaknya dia masih punya kesempatan memperbaiki kesalahannya.”

Adrian menatapku tajam.

Aku tidak membalas dengan kemarahan.

Aku sudah terlalu lelah.

Pukul 16.12 aku meninggalkan bank dan langsung menuju rumah sakit.

Operasi Ibu sudah dimulai.

Aku duduk sendirian di lorong rumah sakit selama hampir empat jam.

Jenderal Bima sempat datang.

Dia duduk di sampingku tanpa banyak bicara.

“Terima kasih sudah datang ke bank,” kataku.

Dia menggeleng.

“Saya datang bukan untuk menyelamatkan Anda.”

Aku menatapnya.

“Kami datang karena negara harus memastikan dana itu digunakan sebagaimana mestinya.”

Dia tersenyum.

“Tapi kalau kami bisa sekaligus membantu seorang anak memastikan ibunya mendapat operasi, itu bonus.”

Menjelang pukul delapan malam, dokter keluar.

Aku langsung berdiri.

“Operasinya berhasil.”

Aku menundukkan kepala.

Entah mengapa, setelah seharian menahan semuanya, justru saat mendengar kabar baik itu lututku terasa lemas.

Dua hari kemudian Ibu sadar sepenuhnya.

Hal pertama yang dia tanyakan bukan tentang operasinya.

“Renata bagaimana?”

Aku mengerutkan kening.

“Kenapa malah tanya dia?”

Ibu tersenyum lemah.

“Karena wajahmu kalau marah sama dia masih sama seperti dulu.”

“Kami sudah bercerai, Bu.”

“Ibu tahu.”

Aku menceritakan semuanya.

Renata dinonaktifkan sementara selama pemeriksaan internal, tetapi bukti menunjukkan dia tidak terlibat dalam upaya pengalihan dana. Sebaliknya, keputusannya membuka blokir dan menyerahkan seluruh log komunikasi membantu penyelidikan.

Beberapa minggu kemudian Adrian ditetapkan sebagai tersangka bersama dua orang dari PT Arunika.

Kasus itu berkembang jauh lebih besar daripada yang kami bayangkan.

Ternyata bukan hanya dana perusahaanku yang pernah mereka incar.

Ada beberapa transaksi pengadaan lain yang diduga diarahkan melalui perusahaan perantara.

Renata mengundurkan diri sebelum bank menyelesaikan pemeriksaan disiplin.

Aku mengetahui itu ketika dia datang menjenguk Ibu.

Dia berdiri di depan kamar membawa buah dan bunga sederhana.

Tidak ada blazer mahal.

Tidak ada papan nama kepala cabang.

Hanya Renata.

“Aku boleh masuk?”

Aku mengangguk.

Ibu langsung tersenyum melihatnya.

“Masih suka bertengkar sama Arga?”

Renata tertawa sambil menangis.

“Masih, Bu.”

Setelah Ibu tertidur, kami duduk di kantin rumah sakit.

“Aku minta maaf,” katanya.

Aku diam.

“Bukan cuma soal bank.”

Dia menatap kedua tangannya.

“Aku minta maaf karena dulu aku menganggap hidupmu gagal hanya karena jalannya tidak seperti yang kubayangkan.”

Aku mengaduk kopi.

“Aku memang sedang kacau waktu itu.”

“Tapi aku menjadikan keadaanmu alasan untuk merasa lebih tinggi.”

Aku menatapnya.

“Aku juga bukan suami yang mudah diajak hidup saat itu.”

“Kita sama-sama gagal.”

Aku tersenyum tipis.

“Mungkin.”

Renata menarik napas.

“Aku tidak datang untuk minta kita kembali.”

“Bagus.”

Dia tertawa kecil.

“Masih menyebalkan.”

“Masih suka merobek dokumen?”

“Tidak lagi.”

Kami tertawa untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.

Enam bulan kemudian, Sentra Medika membuka fasilitas produksi baru di Bekasi.

Bukan lagi bengkel kecil.

Lebih dari dua ratus orang bekerja di sana.

Produk yang dulu disebut Renata sebagai sampah kini digunakan oleh rumah sakit lapangan, unit tanggap bencana, dan beberapa fasilitas kesehatan daerah.

Pada hari peresmian, Jenderal Bima datang.

Ibu juga hadir dengan kursi roda.

Saat aku selesai memberikan sambutan, seorang perempuan berdiri di belakang kerumunan.

Renata.

Dia tidak bekerja di bank lagi.

Belakangan aku tahu dia bergabung dengan lembaga pendampingan korban kejahatan finansial dan membantu membangun sistem pelaporan konflik kepentingan di beberapa perusahaan.

Ketika acara selesai, dia menghampiriku.

“Selamat, Pak Arga.”

Aku tertawa.

“Jangan panggil begitu.”

“Kenapa? Jenderal saja boleh.”

Ibu yang mendengar percakapan kami langsung menyela.

“Kalau mau bertengkar, jangan di depan Ibu.”

Kami bertiga tertawa.

Kemudian Renata mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Sebuah map bening.

Di dalamnya ada selembar kertas yang sudah disatukan dengan selotip.

Aku langsung mengenalinya.

Surat konfirmasi pembayaran Rp85 miliar yang dia robek hari itu.

“Aku mengambil sobekannya sebelum meninggalkan bank,” katanya.

“Untuk apa?”

“Pengingat.”

“Pengingat apa?”

Dia menatapku.

“Bahwa kadang-kadang kita tidak menghancurkan hidup orang lain karena kita membenci mereka. Kita menghancurkannya karena terlalu yakin bahwa kita sudah tahu siapa mereka.”

Aku memandang kertas itu cukup lama.

Kemudian aku menyerahkannya kembali.

“Simpan.”

Renata mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Karena aku tidak membutuhkannya lagi.”

Aku menoleh ke fasilitas produksi di belakang kami.

Ke para teknisi yang sedang berbicara dengan dokter.

Ke Ibu yang tersenyum sambil memegang dadanya yang kini pulih.

Ke tempat yang lahir dari sebuah bengkel kecil yang pernah dianggap sebagai bukti kegagalanku.

“Aku sudah punya pengingat yang lebih baik.”

Renata mengikuti arah pandangku.

Untuk beberapa saat kami hanya berdiri dalam diam.

Aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah kupahami ketika masih mengenakan seragam.

Tidak semua kemenangan datang ketika seseorang mengalahkan musuhnya.

Kadang kemenangan terbesar terjadi ketika kita berhenti membiarkan penghinaan orang lain menentukan nilai diri kita.

Tiga tahun lalu Renata meninggalkanku karena menganggap aku lelaki yang tidak punya masa depan.

Hari ketika kami bertemu lagi di bank, dia hampir menghancurkan masa depan itu untuk kedua kalinya.

Namun anehnya, justru hari itulah kami berdua akhirnya terbebas dari masa lalu.

Aku tidak mendapatkan kembali istriku.

Renata juga tidak mendapatkan kembali jabatan yang selama ini dia kejar.

Tetapi Ibu mendapatkan kesempatan hidup.

Negara mendapatkan kembali uang yang hampir dicuri.

Renata mendapatkan keberanian untuk mengakui kesalahannya.

Dan aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada Rp85 miliar.

Aku akhirnya tidak perlu membuktikan kepada siapa pun bahwa hidupku berharga.

Termasuk kepada perempuan yang pernah paling meragukanku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang