Bunyi logam dari arah dapur terdengar untuk ketiga kalinya.
Kali ini lebih keras.
Nadia menatap saya dengan wajah pucat. Saya segera mencabut perangkat penyimpanan dari laptop, memasukkannya ke saku celana, lalu menutup layar.
“Masuk ke kamar Ibu. Kunci pintunya dari dalam.”
“Tapi Ibu bagaimana?”
“Lakukan sekarang.”
Nadia mengenal nada suara itu. Nada yang dulu sering saya gunakan ketika masih bertugas dan keadaan tidak memberi ruang untuk perdebatan.
Dia berlari ke kamar.
Saya mengambil ponsel, tetapi tidak langsung menelepon polisi. Ancaman Arga di depan rumah masih terngiang di kepala.
Saya punya kenalan di kepolisian.
Biasanya kalimat seperti itu hanyalah gertakan.
Namun setelah melihat nama Hendra Kusuma di dalam perangkat tersebut, saya tidak bisa mengambil risiko.
Saya membuka daftar kontak lama.
Nama yang saya cari masih ada.
Komisaris Besar Bima Prasetyo.
Dulu dia anak buah termuda di tim saya. Sekarang dia bertugas di Mabes Polri dan, sejauh yang saya tahu, termasuk sedikit orang yang masih berani menelepon saya setiap Lebaran tanpa membutuhkan apa pun.
Saya mengetik singkat.
Bima. Rumah saya dimasuki orang. Jangan hubungi polsek setempat dulu. Datang sendiri dan bawa orang yang benar-benar kamu percaya.
Pesan terkirim.
Beberapa detik kemudian tanda dibaca muncul.
Saya menyelipkan ponsel ke saku.
Suara pagar berhenti.
Hening.
Justru itu yang membuat saya lebih waspada.
Saya mengambil tongkat besi pendek yang biasa saya simpan di bawah meja dapur. Saya tidak berniat menjadi pahlawan. Usia saya sudah enam puluh dua tahun. Lutut kanan saya bahkan sering sakit kalau terlalu lama berdiri.
Namun ada perbedaan besar antara mencari masalah dan mempertahankan rumah tempat anak Anda berlindung.
Tiba-tiba terdengar suara dari luar.
“Bu Ratna.”
Saya mengenal suara itu.
Bukan Arga.
“Bu Ratna, kami cuma mau bicara.”
Saya tidak menjawab.
“Serahkan barang milik Pak Arga. Kami pergi.”
Saya mendekati pintu belakang tanpa membukanya.
“Kalau kalian masuk, wajah kalian terekam.”
Itu bohong.
Kamera belakang rumah mati bersama listrik.
Namun mereka tidak tahu.
Beberapa detik kemudian terdengar langkah menjauh.
Saya mengembuskan napas.
Lalu kaca jendela dapur pecah.
Sebuah benda dilempar masuk.
Saya mundur cepat.
Bukan bom.
Hanya batu yang dibungkus kertas.
Saya membuka kertas itu.
Ada satu kalimat.
JANGAN BUKA KASUS DEDI LAGI.
Untuk pertama kalinya malam itu, saya benar-benar merasa takut.
Bukan karena ancamannya.
Melainkan karena kalimat itu membuktikan bahwa orang-orang di luar tahu persis apa yang baru saja saya lihat.
Artinya rumah saya mungkin sudah diawasi sebelum Nadia tiba.
Atau perangkat tersebut memiliki pelacak.
Saya langsung memeriksa benda kecil itu.
Benar.
Di bagian casing terdapat titik kecil yang tidak saya kenali.
Saya membongkarnya menggunakan obeng.
Di dalamnya ada modul tipis.
Pelacak.
“Pintar,” gumam saya.
Saya mengambil sebuah kotak logam dari lemari, memasukkan perangkat tersebut ke dalamnya, lalu menutup rapat.
Sekitar dua puluh menit kemudian terdengar suara beberapa kendaraan mendekat.
Orang-orang di belakang rumah pergi.
Saya tidak langsung membuka pintu.
Ponsel bergetar.
Bima menelepon.
“Saya di depan, Bu.”
Saya mengintip dari jendela.
Bima berdiri di bawah hujan bersama empat orang berpakaian sipil.
Barulah saya membuka pintu.
Dia menatap wajah saya, kemudian kaca dapur yang pecah.
“Apa yang terjadi?”
Saya menunjuk kamar.
“Pertama, bawa Nadia ke rumah sakit. Dokumentasikan semua luka. Jangan gunakan rumah sakit milik keluarga Wijaya.”
Ekspresi Bima langsung berubah.
“Wijaya?”
“Ya.”
Saya mengeluarkan kotak logam.

“Dan kedua, benda ini tidak boleh masuk sistem barang bukti biasa sebelum kita tahu siapa yang masih bisa dipercaya.”
Bima menatap saya lama.
“Seberapa buruk?”
“Saya menemukan nama Hendra.”
Dia terdiam.
Bima tahu kasus Dedi Santoso.
Semua orang di tim lama kami tahu.
Dua belas tahun sebelumnya, Dedi ditemukan meninggal di mobilnya di sebuah area parkir di Jakarta Selatan. Kesimpulan awal menyebut bunuh diri.
Saya tidak percaya.
Ada memar di belakang kepalanya. Posisi tubuhnya aneh. Sidik jari di kendaraan tidak sesuai dengan narasi. Lebih mencurigakan lagi, dua hari sebelum meninggal Dedi menghubungi saya dan mengatakan memiliki bukti pencucian uang dari proyek pemerintah.
Dia berjanji menyerahkan dokumen.
Dia meninggal sebelum pertemuan itu terjadi.
Saya meminta penyelidikan dilanjutkan.
Hendra memerintahkan penghentian.
Katanya tidak cukup bukti.
Tiga bulan kemudian saya dipindahkan.
Dua tahun setelahnya, saya memilih pensiun lebih cepat.
“Bu,” kata Bima pelan, “Hendra sekarang komisaris di salah satu perusahaan Wijaya.”
Saya menatapnya.
Itulah potongan yang selama ini hilang.
Kami membawa Nadia ke rumah sakit swasta di luar pusat Jakarta. Dokter mencatat memar di wajah, lengan, punggung, serta retakan kecil pada tulang rusuk.
Ketika dokter bertanya siapa yang melakukannya, Nadia terdiam lama.
Saya menggenggam tangannya.
Dia akhirnya menjawab.
“Suami saya.”
Dua kata itu terdengar sederhana.
Namun saya tahu betapa besar keberanian yang dibutuhkan untuk mengucapkannya.
Pagi belum tiba ketika pengacara Arga mulai bergerak.
Nadia dilaporkan atas dugaan pencurian data perusahaan, akses ilegal, dan penggelapan dokumen rahasia.
Pada pukul tujuh pagi, media daring sudah memuat berita.
Istri Pengusaha Arga Wijaya Diduga Mencuri Data Perusahaan.
Tidak ada berita tentang wajah Nadia yang lebam.
Tidak ada berita tentang tulang rusuknya.
Narasinya sudah dibentuk.
Persis seperti ancaman Arga.
Saya membaca artikel itu di ruang tunggu rumah sakit.
Nadia duduk di sebelah saya.
“Dia akan menang, ya, Bu?”
Saya mematikan layar.
“Kenapa kamu berpikir begitu?”
“Karena dia selalu menang.”
Saya menoleh kepadanya.
“Nadia, dengarkan Ibu. Orang seperti Arga terlihat selalu menang karena selama ini semua orang yang dia sakiti dibuat merasa sendirian.”
Saya menunjuk pintu ruang pemeriksaan.
“Kamu tidak sendirian lagi.”
Hari itu kami tidak pulang ke rumah.
Bima memindahkan kami ke sebuah rumah aman.
Sementara itu, tim kecilnya mulai memeriksa salinan data.
Untungnya, Nadia ternyata lebih cermat daripada yang saya kira.
Sebelum melarikan diri, dia sudah mengirim satu salinan terenkripsi ke penyimpanan daring yang hanya bisa dibuka menggunakan kombinasi kata sandi yang dia hafal.
Perangkat yang dibawanya bukan satu-satunya bukti.
Selama tiga hari berikutnya, gambaran sebenarnya mulai muncul.
Wijaya Group menggunakan belasan perusahaan cangkang untuk memindahkan uang dari proyek properti dan konstruksi. Sebagian dana mengalir kepada pejabat, konsultan, dan beberapa nama di institusi penegak hukum.
Hendra termasuk di dalamnya.
Namun temuan terbesar bukan transaksi terbaru.
Melainkan transaksi tahun 2014.
Dedi Santoso ternyata pernah menjadi auditor eksternal untuk salah satu perusahaan yang kemudian diakuisisi keluarga Wijaya.
Dia menemukan aliran dana mencurigakan.
Dedi membuat salinan.
Lalu mencoba menyerahkannya kepada polisi.
Kepada saya.
Sebelum itu terjadi, dia meninggal.
Saya membaca dokumen tersebut berkali-kali.
Ada pembayaran sebesar dua miliar rupiah kepada sebuah perusahaan keamanan tiga hari sebelum kematian Dedi.
Pemilik perusahaan itu adalah kakak ipar Hendra.
Setelah Dedi meninggal, pembayaran lain masuk.
Jumlahnya lebih besar.
Bima menatap saya.
“Kita belum punya bukti bahwa pembayaran itu untuk pembunuhan.”
“Saya tahu.”
“Tapi cukup untuk membuka kembali penyelidikan.”
Saya mengangguk.
Kemudian dia membuka sebuah rekaman suara.
Suara Hendra terdengar.
Lebih muda, tetapi jelas.
“Masalah Dedi sudah selesai. Ratna masih ribut. Pindahkan dia kalau perlu.”
Saya menahan napas.
Suara lain menjawab.
“Kalau Ratna menemukan dokumennya?”
“Dia tidak akan menemukan.”
Rekaman berhenti.
Dua belas tahun.
Selama dua belas tahun saya mengira saya gagal memecahkan kasus itu karena kurang bukti.
Ternyata seseorang sengaja memastikan saya tidak pernah mendapatkannya.
Malam berikutnya, Arga menghubungi Nadia.
Nomor tidak dikenal.
Nadia menyalakan pengeras suara.
“Nadia.”
Dia langsung gemetar mendengar suara suaminya.
Saya memberi isyarat agar dia tetap tenang.
“Arga.”
“Pulang.”
“Tidak.”
“Aku bisa mencabut semua laporan.”
“Aku tidak peduli.”
Arga tertawa pendek.
“Kamu pikir ibumu bisa melindungimu?”
Nadia menatap saya.
Untuk pertama kalinya saya tidak melihat ketakutan di matanya.
Saya melihat kemarahan.
“Kamu takut pada Ibu.”
Hening.
Kemudian Arga berkata, “Kamu tidak tahu apa yang kamu bawa.”
“Aku tahu sekarang.”
“Keluargaku membangun semuanya selama empat puluh tahun.”
“Dengan uang siapa?”
Suara Arga berubah.
“Nadia, jangan bodoh.”
“Yang bodoh adalah kamu.”
Nadia menarik napas.
“Kamu memukulku karena sebuah flashdisk, padahal kamu tidak pernah sadar aku sudah menyalin datanya tiga minggu lalu.”
Saya menoleh cepat.
Dia belum pernah memberi tahu saya bagian itu.
Di seberang sana Arga terdiam.
Nadia tersenyum tipis.
“Dan percakapan ini direkam.”
Telepon langsung terputus.
Dua hari kemudian, penyelidikan resmi dimulai.
Bukan dari kepolisian daerah.
Kasus tersebut ditarik ke tingkat pusat setelah bukti awal diserahkan melalui jalur yang tidak bisa dikendalikan jaringan Hendra.
KPK ikut menelusuri dugaan aliran dana yang berkaitan dengan pejabat negara.
Berita berubah cepat.
Nama Arga yang sebelumnya muncul sebagai suami korban pencurian data mulai disebut dalam penyelidikan korupsi.
Hendra dipanggil.
Tiga eksekutif Wijaya Group dicegah ke luar negeri.
Kemudian satu orang ditangkap.
Mantan kepala keamanan perusahaan.
Namanya Surya Mahendra.
Dia adalah orang terakhir yang tercatat bertemu Dedi sebelum kematiannya.
Saat diperiksa, Surya bertahan hampir sebelas jam.
Kemudian dia meminta pengacara.
Setelah itu, dia bicara.
Hendra memang memerintahkan agar Dedi “dibungkam”.
Namun Hendra bukan orang yang membayar.
Perintah uang datang dari ayah Arga.
Bambang Wijaya.
Saya pikir itulah akhir kejutan.
Ternyata saya salah.
Ketika Bima datang ke rumah aman malam berikutnya, wajahnya terlihat aneh.
“Ada satu hal lagi.”
Dia meletakkan map di meja.
“Apa?”
“Dedi tidak memilih Ibu secara kebetulan.”
Saya membuka map.
Di dalamnya ada surat tulisan tangan yang ditemukan dalam arsip lama keluarga Dedi.
Surat itu ditujukan kepada saya.
Ratna, kalau kamu membaca ini, berarti saya mungkin sudah tidak punya kesempatan menjelaskan langsung.
Saya mengenali tulisan Dedi.
Tangan saya mulai gemetar.
Saya membaca sampai bagian terakhir.
Dedi menulis bahwa dia sudah lama mengenal suami saya, almarhum Santoso.
Mereka pernah bekerja bersama.
Bahkan Santoso-lah yang pertama kali meminta Dedi menyelidiki transaksi keluarga Wijaya.
Saya mengangkat kepala.
“Suami saya?”
Bima mengangguk.
Saya merasa ruangan bergerak.
Santoso meninggal karena serangan jantung pada 2016.
Selama hidupnya, dia tidak pernah bercerita tentang hubungan itu.
Saya melanjutkan membaca.
Kalimat terakhir membuat saya menangis.
Kalau sesuatu terjadi pada saya, jangan salahkan dirimu. Santoso dan saya memilih kamu karena kami tahu kamu satu-satunya orang yang tidak bisa dibeli.
Saya menutup surat.
Selama bertahun-tahun saya merasa kasus Dedi adalah kegagalan terbesar dalam karier saya.
Ternyata suami saya sendiri pernah percaya bahwa suatu hari saya akan menyelesaikannya.
Enam bulan kemudian, Arga duduk di ruang sidang.
Bukan hanya karena dugaan kekerasan terhadap Nadia.
Bukti keuangan menyeretnya ke perkara pencucian uang dan perintangan penyidikan. Hendra juga menjadi terdakwa dalam perkara terpisah terkait kematian Dedi.
Bambang Wijaya tidak pernah sampai ke persidangan.
Dia meninggal akibat stroke beberapa minggu setelah ditetapkan sebagai tersangka.
Saya tidak merasa puas.
Keadilan ternyata tidak terasa seperti kemenangan.
Kadang hanya terasa seperti pintu yang akhirnya terbuka setelah terlalu lama terkunci.
Setelah sidang pertama, Nadia dan saya berjalan keluar dari gedung pengadilan.
Puluhan wartawan menunggu.
Nadia berhenti di tangga.
Dulu dia selalu menundukkan kepala ketika kamera mengarah kepadanya.
Hari itu tidak.
Seorang wartawan bertanya, “Apa yang ingin Ibu Nadia sampaikan kepada perempuan lain yang mengalami kekerasan rumah tangga?”
Nadia terdiam.
Kemudian dia menjawab, “Jangan tunggu sampai luka kalian terlihat agar orang percaya bahwa kalian sedang disakiti.”
Saya menatap putri saya.
Saya teringat malam ketika dia berdiri di depan pintu rumah tanpa alas kaki, basah kuyup, dengan wajah penuh memar.
Saya pernah berpikir malam itu adalah malam ketika hidupnya hancur.
Ternyata saya salah.
Itu adalah malam ketika dia akhirnya mengambil hidupnya kembali.
Kami berjalan menuju mobil.
Sebelum masuk, Nadia memegang tangan saya.
“Bu.”
“Ya?”
“Kalau malam itu Ibu tidak membukakan pintu bagaimana?”
Saya tersenyum.
“Seorang ibu selalu membuka pintu untuk anaknya.”
Dia memeluk saya.
Di dalam tas saya masih tersimpan salinan surat Dedi.
Kasus yang menghantui saya selama dua belas tahun akhirnya menemukan jawabannya bukan karena saya kembali menjadi penyidik.
Bukan karena saya lebih pintar daripada orang-orang yang menutupinya.
Melainkan karena seorang perempuan yang ketakutan memutuskan bahwa satu malam sudah cukup.
Dia mengambil bukti.
Dia berlari.
Dan dia mengetuk pintu ibunya.
Arga Wijaya mengira kekayaan, koneksi, dan nama keluarganya membuat Nadia tidak punya tempat untuk pergi.
Kesalahan terbesarnya bukan meremehkan polisi.
Bukan pula menyimpan bukti kejahatan keluarganya.
Kesalahan terbesarnya adalah lupa siapa ibu dari perempuan yang selama bertahun-tahun dia paksa untuk diam.
Saya memang sudah pensiun.
Tetapi ada satu hal yang tidak pernah bisa dipensiunkan dari seorang penyidik.
Naluri untuk mengetahui kapan seseorang sedang berbohong.
Dan ada satu hal yang bahkan lebih sulit dimatikan.
Naluri seorang ibu ketika anaknya pulang dalam keadaan terluka.
