Baru saja aku mau duduk karena kelelahan mengurus barang yang mau dibawa mudik, adik ipar langsung teriak padaku.

Aku bahkan tidak sempat berpikir dua kali ketika kakiku menginjak pedal gas.

Di kaca spion, koper hitam milik Mas Aji dan koper merah muda milik Amira terlihat tergeletak di dekat tiang parkiran. Beberapa orang menoleh heran. Aku bisa membayangkan wajah mereka saat kembali dari kafe dan menemukan mobil sudah tidak ada.

Tanganku gemetar memegang setir.

Bukan karena takut.

Lebih karena untuk pertama kalinya setelah tiga tahun menikah, aku berani mengatakan cukup tanpa mengucapkan satu kata pun.

Sakhi duduk tenang di car seat sambil memeluk botol susunya.

“Mama pulang?” tanyanya polos.

Aku menatap wajah kecilnya melalui kaca spion.

“Iya, Sayang. Kita pulang.”

Entah pulang ke mana.

Yang jelas, bukan ke rumah orang tua Mas Aji.

Ponselku mulai bergetar ketika aku baru keluar dari area rest area.

Nama Mas Aji memenuhi layar.

Aku biarkan.

Panggilan kedua.

Ketiga.

Keempat.

Lalu pesan masuk bertubi-tubi.

“Naya, kamu di mana?”

“Balik sekarang!”

“Jangan bikin malu aku!”

“Kamu bawa mobilku!”

Aku hampir tertawa membaca pesan terakhir.

Mobilku?

Mobil yang sedang kukendarai itu dibeli menggunakan uang hasil penjualan sebidang tanah warisan dari almarhum ayahku.

Mas Aji memang ikut memilih warna dan tipe mobilnya, lalu sejak STNK keluar, dia selalu menyebutnya sebagai mobil keluarga.

Lama-lama berubah menjadi mobilnya.

Seperti rumah kami.

Seperti uangku.

Seperti tenagaku.

Semuanya perlahan dianggap miliknya.

Ponsel kembali berbunyi. Kali ini Amira.

“Mbak, kamu gila ya? Koperku ditaruh begitu aja. Balik sekarang sebelum aku aduin ke Ibu!”

Aku menarik napas panjang dan mengaktifkan mode senyap.

Sekitar dua puluh menit kemudian, aku keluar dari jalan tol di gerbang berikutnya.

Aku tidak kembali ke rumah.

Aku menuju rumah Kak Rani, kakak sepupuku yang tinggal tidak jauh dari sana. Ia satu-satunya orang yang selama ini tahu sedikit tentang keadaan rumah tanggaku.

Begitu pintu rumahnya terbuka, Rani menatapku kaget.

“Naya?”

Aku berdiri sambil menggendong Sakhi, membawa tas perlengkapan anak dan masih mengenakan pakaian yang tadi kupakai untuk mudik.

“Aku boleh tinggal di sini sebentar?”

Rani tidak bertanya apa pun.

Ia langsung mengambil Sakhi dari tanganku.

“Masuk.”

Begitu pintu ditutup, seluruh keberanian yang sejak tadi menahan tubuhku mendadak runtuh.

Aku menangis.

Bukan tangisan keras.

Aku hanya duduk di sofa sambil menutup wajah, sementara air mata terus mengalir tanpa bisa dihentikan.

“Tiga tahun, Kak,” lirihku. “Tiga tahun aku berusaha jadi istri yang mereka mau. Tapi rasanya makin aku nurut, makin aku dianggap nggak punya harga diri.”

Rani duduk di sebelahku.

“Terus sekarang Aji di mana?”

“Kutinggal di rest area sama Amira.”

Rani terdiam dua detik.

Lalu ia tertawa.

Aku menatapnya.

“Maaf,” katanya sambil menutup mulut. “Aku tahu ini serius. Tapi aku sudah bertahun-tahun pengin lihat kamu berhenti jadi keset mereka.”

Aku ikut tertawa kecil di tengah air mata.

Namun suasana itu tidak berlangsung lama.

Sekitar satu jam kemudian, Mas Aji menelepon dari nomor lain.

Aku menjawab karena kupikir mungkin ada keadaan darurat.

“Naya!”

Suara bentakannya langsung terdengar.

“Kamu sudah keterlaluan! Aku sama Amira harus naik taksi balik ke kota gara-gara kamu!”

“Terus?”

“Terus? Kamu masih tanya terus?”

Aku diam.

“Aku kasih kamu waktu satu jam. Pulang. Bawa mobilnya. Kita tetap mudik malam ini.”

Kalimatnya begitu biasa.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Seolah aku hanya anak kecil yang sedang ngambek.

“Mas,” kataku perlahan, “aku nggak akan mudik.”

“Apa?”

“Aku juga nggak pulang ke rumah malam ini.”

Suara di seberang berubah.

“Naya, jangan cari masalah.”

“Aku sudah terlalu lama menghindari masalah, Mas. Sekarang aku justru mau menyelesaikannya.”

Ia tertawa sinis.

“Jangan sok berani cuma karena ada yang ngomporin kamu.”

Aku menatap Rani yang duduk beberapa meter dariku.

“Tidak ada yang ngomporin aku.”

“Besok aku jemput Sakhi.”

Jantungku langsung menegang.

“Jangan bawa-bawa Sakhi.”

“Dia anakku juga.”

“Kalau kamu memang ingat dia anakmu, harusnya dari tadi kamu bantu menyiapkan kebutuhannya. Bukan sibuk main game dan memaki ibunya gara-gara kopi.”

Mas Aji terdiam.

Lalu suaranya berubah lebih dingin.

“Kamu bakal nyesel.”

Telepon ditutup.

Malam itu, untuk pertama kalinya aku menceritakan semuanya kepada Rani.

Bukan hanya kejadian hari itu.

Tentang uang belanja yang sering dipotong karena Mas Aji merasa aku terlalu boros, padahal sebagian besar kebutuhan rumah dibayar menggunakan penghasilanku dari toko daring yang kurintis sebelum menikah.

Tentang Amira yang hampir setiap bulan meminta uang dengan alasan biaya kuliah, lalu mengunggah foto nongkrong di restoran mahal.

Tentang ibu mertua yang selalu mengatakan perempuan harus pandai melayani suami.

Tentang Mas Aji yang semakin lama semakin mudah membentak.

Namun ada satu hal yang selama ini bahkan tidak berani kukatakan kepada siapa pun.

“Mas Aji punya utang,” kataku.

Rani menatap tajam.

“Berapa?”

“Aku nggak tahu pastinya.”

“Utang apa?”

“Aku baru tahu dua bulan lalu.”

Aku mengambil ponsel dan menunjukkan foto beberapa surat tagihan yang pernah kutemukan di laci meja kerja Mas Aji.

Ada pinjaman bank.

Ada kartu kredit.

Ada pinjaman daring.

Total yang kuketahui hampir tiga ratus juta rupiah.

Rani langsung berdiri.

“Naya, kamu tahu uangnya dipakai buat apa?”

Aku menggeleng.

“Dia bilang investasi.”

“Investasi apa?”

“Katanya bisnis temannya.”

Rani menghela napas kasar.

“Kamu harus cek asetmu.”

Aku langsung mengernyit.

“Aset?”

“Rumah. Mobil. Rekening. Semuanya.”

Malam itu juga Rani menghubungi temannya yang bekerja sebagai konsultan hukum.

Aku mulai membuka dokumen-dokumen penting yang kusimpan dalam layanan penyimpanan daring.

Dan saat itulah aku menemukan sesuatu yang membuat tubuhku dingin.

Sertifikat rumah kami pernah difoto dan dikirim dari email Mas Aji ke seseorang bernama Dimas Pratama.

Pesannya singkat.

“Dokumen ini cukup buat pengajuan tahap awal?”

Aku membaca berkali-kali.

Rumah itu dibeli setahun sebelum kami menikah.

Atas namaku.

Uang muka berasal dari tabunganku dan bantuan almarhum ayah.

Mas Aji tidak punya hak menjaminkannya tanpa izinku.

Pagi berikutnya aku pergi ke bank tempat KPR rumahku tercatat.

Apa yang kutakutkan ternyata lebih buruk.

Memang belum ada pengalihan resmi.

Namun beberapa bulan sebelumnya, seseorang pernah mencoba mengajukan pinjaman dengan menyertakan salinan dokumen rumah itu sebagai bukti aset keluarga.

Permohonannya ditolak karena nama pemilik tidak sesuai.

Tanganku dingin saat keluar dari bank.

Mas Aji bukan sekadar suami pemalas yang suka membentak.

Dia diam-diam mencoba menggunakan rumahku untuk mendapatkan pinjaman.

Aku tidak langsung pulang.

Aku pergi menemui pengacara yang direkomendasikan Rani.

Namanya Bu Dina.

Setelah mendengar ceritaku, ia meminta aku mengamankan semua dokumen asli dan mengganti akses rekening serta akun finansial.

“Jangan memberi tahu suami Anda dulu tentang apa yang Anda ketahui,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena orang yang terpojok secara finansial bisa melakukan hal tidak terduga.”

Sore harinya, pesan dari ibu mertua masuk.

“Kanaya, Ibu dengar kamu meninggalkan suami dan adiknya di jalan. Pulang sekarang. Jangan mempermalukan keluarga.”

Biasanya aku akan langsung menelepon dan meminta maaf.

Kali ini tidak.

Aku hanya membalas.

“Bu, nanti saya jelaskan setelah semuanya jelas.”

Balasannya datang cepat.

“Apa yang perlu dijelaskan? Seorang istri harus tahu kewajibannya.”

Aku menatap pesan itu lama.

Kemudian mematikan ponsel.

Dua hari kemudian, Mas Aji akhirnya menemukan keberadaanku.

Ia datang ke rumah Rani bersama ibunya dan Amira.

Dari balik pintu aku bisa mendengar ibu mertua berteriak.

“Kanaya! Keluar!”

Rani hendak membuka pintu, tetapi aku menahannya.

“Aku yang hadapi.”

Begitu pintu terbuka, Amira langsung mencibir.

“Nah, akhirnya keluar juga si ratu drama.”

Mas Aji melangkah maju.

“Ambil barangmu. Kita pulang.”

Aku menatapnya.

“Rumah yang mana?”

Ia mengernyit.

“Rumah kita.”

“Rumahku.”

Wajahnya berubah.

“Apa maksudmu?”

Aku mengeluarkan sebuah map.

“Rumah yang sertifikatnya kamu kirim ke Dimas Pratama buat pengajuan pinjaman.”

Mas Aji membeku.

Amira langsung menoleh kepadanya.

Ibu mertua juga terdiam.

“Aku bisa jelasin,” katanya.

“Silakan.”

Mas Aji melirik ibunya.

“Itu cuma rencana bisnis.”

“Dengan menjaminkan rumahku tanpa izin?”

“Belum jadi!”

“Tapi kamu mencoba.”

“Aku suamimu!”

“Dan itu membuatmu berhak mengambil asetku?”

Ibu mertua tiba-tiba menyela.

“Naya, jangan perhitungan sama suami. Kalau Aji berhasil bisnis, kamu juga yang menikmati.”

Aku tertawa pendek.

“Bu tahu?”

Tidak ada jawaban.

Aku menatap satu per satu wajah mereka.

“Jadi Ibu tahu?”

Mas Aji langsung berkata, “Jangan bawa Ibu.”

Namun wajah ibu mertua sudah menjawab semuanya.

Aku merasa seperti baru saja ditampar.

“Berapa banyak yang kalian sembunyikan dariku?”

Amira mendadak menunduk.

Aku melihatnya.

“Mir?”

Ia tidak menjawab.

Mas Aji membentak.

“Amira, diam!”

Saat itulah aku tahu ada sesuatu yang lebih besar.

“Ngomong, Mir.”

“Gak ada apa-apa.”

“Kalau nggak ada apa-apa, kenapa kamu takut?”

Amira mulai menangis.

Dan kalimat berikutnya benar-benar menghancurkan sisa kepercayaanku.

“Mas Aji pakai sebagian uangnya buat bayar kuliahku.”

Aku menelan ludah.

“Uang apa?”

Amira menatap kakaknya.

“Uang pinjaman.”

Ternyata biaya kuliah Amira yang selama ini mereka banggakan bukan dibayar orang tuanya.

Mas Aji yang membiayainya.

Bukan hanya uang kuliah.

Laptop baru.

Ponsel.

Biaya kos yang sebenarnya tidak pernah digunakan karena ia tinggal bersamaku.

Bahkan uang untuk liburan bersama teman-temannya.

Mas Aji berutang demi mempertahankan citra keluarga berada di depan kerabat.

Ibu mertua mengetahuinya.

Dan saat utang mulai menumpuk, mereka berharap rumahku bisa menjadi jalan keluar.

Aku tiba-tiba memahami semuanya.

Mengapa Amira selalu bersikap seperti putri keluarga kaya.

Mengapa ibu mertua selalu menyuruhku membantu suami.

Mengapa Mas Aji semakin tertekan beberapa bulan terakhir.

Aku menatap suamiku.

“Jadi selama ini aku kerja, bayar kebutuhan rumah, mengurus anak, lalu rumahku juga hampir kamu jadikan jaminan supaya keluargamu tetap terlihat kaya?”

“Naya, aku cuma mau bantu keluarga.”

“Lalu aku ini apa?”

Ia tidak menjawab.

Aku mengangguk pelan.

“Itu jawabannya.”

Mas Aji mencoba mendekat.

“Aku salah. Kita bisa perbaiki.”

“Tidak semua yang rusak harus diperbaiki, Mas.”

Aku menyerahkan satu amplop kepadanya.

“Apa ini?”

“Surat dari pengacaraku.”

Wajahnya memucat.

“Kamu mau cerai cuma gara-gara kejadian di rest area?”

Aku hampir tidak percaya mendengarnya.

“Bukan karena rest area.”

Aku menatapnya tepat di mata.

“Rest area cuma tempat aku akhirnya sadar bahwa selama ini aku tidak punya suami. Aku punya dua orang yang kulayani, dan satu keluarga yang menganggap hidupku sumber daya mereka.”

Ibu mertua mulai menangis dan menyalahkanku.

Mas Aji memohon.

Amira hanya diam.

Namun keputusan yang sudah kubuat tidak berubah.

Proses setelah itu tidak mudah.

Ada pertengkaran.

Ada ancaman.

Ada keluarga besar yang menyebutku egois.

Ada orang-orang yang berkata seharusnya aku bertahan demi Sakhi.

Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak mendengarkan suara siapa pun lebih keras daripada suaraku sendiri.

Enam bulan kemudian, perceraian kami selesai.

Rumah tetap menjadi milikku.

Mobil juga.

Mas Aji harus menghadapi sendiri seluruh utangnya.

Amira akhirnya berhenti kuliah selama satu semester dan bekerja paruh waktu untuk membantu membayar biaya pendidikannya sendiri.

Yang mengejutkanku, beberapa bulan setelah semuanya berakhir, ia datang ke rumah.

Tanpa make up tebal.

Tanpa tas mahal.

Ia berdiri di depan pintu dengan wajah canggung.

“Mbak.”

Aku diam.

“Aku mau minta maaf.”

Untuk pertama kalinya, suaranya tidak terdengar menyebalkan.

“Aku dulu pikir Mbak pelit, judes, dan iri sama aku. Ternyata aku yang nggak tahu diri.”

Aku tidak langsung memaafkannya.

Tapi aku mempersilahkannya masuk.

Kami berbicara hampir dua jam.

Sebelum pulang, Amira memeluk Sakhi.

Lalu ia menatapku.

“Mbak tahu nggak, waktu di rest area itu aku marah banget.”

Aku tersenyum tipis.

“Sekarang?”

“Sekarang aku malah bersyukur Mbak ninggalin kami.”

Aku tertawa kecil.

“Kenapa?”

“Kalau nggak, mungkin sampai sekarang aku masih merasa semua orang wajib melayaniku.”

Setelah Amira pergi, aku duduk di teras bersama Sakhi.

Anakku sedang bermain mobil-mobilan kecil.

Ia mengangkatnya lalu berkata, “Mama, kita jalan-jalan lagi.”

Aku tersenyum.

“Mau ke mana?”

“Yang jauh.”

Aku memandang jalan di depan rumah.

Dulu aku mengira keluarga berarti bertahan apa pun yang terjadi.

Ternyata aku salah.

Keluarga seharusnya menjadi tempat seseorang dihargai, bukan tempat seseorang terus-menerus diminta mengorbankan dirinya agar orang lain nyaman.

Hari ketika aku meninggalkan Mas Aji dan Amira di rest area memang terlihat seperti tindakan paling nekat dalam hidupku.

Namun ternyata, hari itu bukan hari aku meninggalkan keluargaku.

Hari itu adalah hari aku berhenti meninggalkan diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang