“Aku dengar Aditya sampai membelikan perempuan itu mobil.”
Kalimat itu diucapkan sambil tertawa, seolah hanya gosip ringan yang tak layak dipikirkan. Saat itu aku juga ikut tersenyum.
Bukan karena lucu.
Aku hanya terlalu percaya kepada suamiku.
Istri direktur itu, Bu Rina, kemudian menjelaskan bahwa beberapa bulan sebelumnya seorang rekan bisnis membawa Citra ke sebuah acara privat. Entah apa tujuannya, tetapi semua orang mengira perempuan itu sengaja diperkenalkan kepada Aditya.
“Suamimu marah besar,” katanya. “Dia bahkan bilang jangan pernah membawa perempuan sembarangan ke dekatnya lagi.”

Aku masih mengingat rasa hangat yang muncul di dadaku ketika mendengarnya.
Aku bangga.
Aku merasa beruntung menikahi laki-laki yang setelah dua belas tahun pernikahan masih begitu menjaga batas.
Namun Bu Rina melanjutkan sesuatu yang waktu itu tidak terlalu kupikirkan.
“Lucunya, setelah kejadian itu justru Aditya yang membantu Citra.”
“Membantu bagaimana?”
“Katanya perempuan itu punya masalah keluarga. Utangnya banyak. Aditya mencarikan tempat tinggal, membayar utangnya, lalu memberi modal usaha.”
Aku terdiam.
Bu Rina buru-buru menambahkan, “Tapi jangan salah paham. Mereka bilang Aditya tidak pernah menyentuh dia. Bahkan kalau datang ke tempat Citra, cuma makan lalu pergi.”
Aku tertawa kecil.
“Kalau begitu mungkin memang cuma kasihan.”
Saat itu aku benar-benar mempercayai kalimatku sendiri.
Sekarang, sambil duduk di ruang tunggu rumah sakit dengan Tiara bersandar di bahuku, kalimat itu terdengar seperti lelucon paling bodoh yang pernah kukatakan.
“Mama.”
Aku menoleh.
Tiara memandangku dengan wajah pucat.
“Ayah tadi ke mana?”
Aku membeku.
“Ke kantor.”
“Tapi tadi Tiara lihat Ayah.”
Jantungku berdegup satu kali lebih keras.
“Di mana?”
“Di jalan tadi. Yang ada Tante pakai jaket Ayah.”
Aku menatap putriku beberapa detik.
Anak sembilan tahun ternyata melihat lebih banyak daripada yang kukira.
Aku mengusap rambutnya.
“Mungkin Tiara salah lihat.”
Dia mengangguk, tetapi tidak membantah.
Dokter kemudian memanggil kami. Kondisi Tiara sudah membaik, hanya perlu istirahat dan melanjutkan obat. Setelah pemeriksaan selesai, aku membawanya pulang.
Sepanjang perjalanan, ponselku tidak berbunyi.
Aditya tidak bertanya bagaimana hasil kontrol anaknya.
Sore hari pun tidak.
Baru pukul delapan malam dia pulang.
Aku sedang menemani Tiara tidur ketika suara pintu kamar terbuka.
“Sudah tidur?”
“Hampir.”
Aditya mendekati ranjang dan menyentuh dahi putrinya.
“Sudah tidak panas.”
Tiara membuka mata.
“Ayah.”
“Iya, Sayang?”
“Tadi mobil Ayah tabrakan?”
Tanganku yang sedang merapikan selimut berhenti.
Wajah Aditya berubah sangat tipis.
Hanya sepersekian detik.
Namun aku melihatnya.
“Mobil Ayah?”
“Yang dipinjam teman Ayah.”
Tiara menunjuk jaket yang sedang dikenakan Aditya.
“Tante tadi pakai jaket ini.”
Kamar mendadak sunyi.
Aditya menoleh kepadaku.
Tatapan kami bertemu.
Aku tersenyum.
“Anak kecil kadang ingatannya bagus sekali, ya.”
Dia tidak menjawab.
Setelah Tiara tidur, Aditya mengikutiku keluar kamar.
“Nadia.”
Aku terus berjalan menuju dapur.
“Nadia, tunggu.”
Aku mengambil segelas air.
“Ada apa?”
“Kamu lihat aku tadi?”
“Ya.”
Dia mengembuskan napas panjang.
“Kenapa tidak menghampiri?”
Pertanyaan itu membuatku hampir tertawa.
“Untuk apa?”
“Nadia, jangan seperti ini.”
“Seperti apa?”
Aditya mengusap wajah.
“Citra kecelakaan. Dia panik. Aku cuma datang membantu.”
“Mobil itu?”
Dia diam.
“Katamu dipinjam teman.”
“Citra memang temanku.”
“Kenapa tidak bilang namanya?”
“Karena aku tahu kamu pernah dengar gosip tentang dia. Aku tidak mau kamu salah paham.”
Aku meletakkan gelas.
“Jadi supaya aku tidak salah paham, kamu memilih berbohong?”
“Nadia.”
“Mobil itu milik siapa?”
Dia terdiam terlalu lama.
Aku sudah mendapatkan jawabannya.
“Aditya.”
“Aku membelikannya.”
Aneh.
Saat mendengar pengakuan itu, aku justru tidak merasa marah.
Hanya dingin.
“Berapa?”
“Tidak penting.”
“Berapa?”
“Sekitar enam ratus juta.”
Aku menatapnya.
Enam ratus juta.
Tiga bulan lalu, ketika aku ingin membawa Tiara ke Singapura untuk pemeriksaan alerginya yang sering kambuh, Aditya mengatakan kami sebaiknya tidak membuang uang untuk sesuatu yang masih bisa ditangani di Jakarta.
Namun untuk seorang perempuan yang katanya bukan siapa-siapa, enam ratus juta ternyata tidak penting.
“Utangnya juga kamu lunasi?”
Dia kembali diam.
“Berapa?”
“Sekitar tiga ratus.”
Aku mengangguk perlahan.
“Hampir satu miliar.”
“Itu uangku.”
Aku tertawa pendek.
“Uangmu?”
Aditya langsung menyadari kesalahannya.
“Nadia, maksudku bukan begitu.”
“Tidak. Aku justru senang kamu mengatakannya.”
Aku mengambil ponsel dan berjalan pergi.
Dia menahan lenganku.
“Aku tidak pernah tidur dengannya.”
Aku menatap tangannya sampai dia melepaskanku.
“Menurutmu itu membuat semuanya lebih baik?”
“Aku bersumpah. Aku tidak pernah menyentuh Citra.”
“Jadi definisi setia menurutmu hanya tidak tidur dengan perempuan lain?”
Aditya terdiam.
Aku melanjutkan, “Kamu tahu utangnya. Kamu tahu bisnis apa yang ingin dia buka. Kamu tahu dia kecelakaan bahkan sebelum polisi menghubungimu. Kamu tahu kapan dia takut dan kapan dia butuh pertolongan.”
Suaraku mulai bergetar.
“Tapi anakmu kena Influenza A selama empat hari dan kamu baru tahu pagi ini.”
Wajahnya berubah.
“Nadia, aku sibuk.”
“Untuk kami kamu sibuk. Untuk dia kamu selalu punya waktu.”
“Itu tidak sama.”
“Benar. Tidak sama.”
Aku meninggalkannya.
Malam itu aku tidak tidur.
Bukan karena membayangkan Aditya dan Citra berada di ranjang yang sama.
Justru sebaliknya.
Aku membayangkan suamiku duduk di meja makan perempuan lain setiap hari.
Makan masakannya.
Mendengarkan ceritanya.
Membereskan masalahnya.
Menjadi tempat aman baginya.
Semua hal yang perlahan berhenti dia lakukan di rumah kami.
Aku baru menyadari bahwa perselingkuhan tidak selalu dimulai dari sentuhan.
Kadang seseorang memberikan bagian terbaik dirinya kepada orang lain, lalu pulang membawa sisa-sisanya kepada keluarga.
Pagi berikutnya aku menghubungi seorang pengacara lama keluarga kami.
Aku tidak langsung meminta perceraian.
Aku meminta satu hal.
Periksa seluruh aset bersama kami.
Hasilnya datang tiga hari kemudian.
Dan ternyata mobil serta utang Citra hanyalah permukaan.
Dalam delapan bulan terakhir, Aditya telah mentransfer uang hampir dua miliar rupiah ke beberapa rekening yang berhubungan dengan usaha Citra.
Ada sewa ruko.
Renovasi.
Modal.
Bahkan biaya rumah yang ditempati perempuan itu.
Namun satu transaksi membuatku terdiam.
Pembayaran rumah tersebut bukan dilakukan langsung kepada pemilik.
Uang dikirim kepada seseorang bernama Surya Mahendra.
Nama itu kukenal.
Dia mantan kepala keuangan perusahaan ayahku.
Perusahaan yang kemudian diwariskan kepadaku setelah Ayah meninggal.
Aditya memang menjalankan perusahaan itu sekarang, tetapi sebagian besar saham tetap atas namaku.
Aku segera meminta tim audit internal memeriksa transaksi perusahaan.
Dua hari kemudian, kepala audit datang ke rumah.
Wajahnya pucat.
“Bu Nadia, ada sesuatu yang sebaiknya Ibu lihat sendiri.”
Dia membuka laptop.
Sejumlah dana perusahaan dipindahkan melalui beberapa vendor.
Totalnya lebih dari dua belas miliar rupiah.
Sebagian akhirnya masuk ke rekening Surya.
Sebagian lagi digunakan untuk bisnis Citra.
Tanganku dingin.
“Pak Aditya tahu?”
Kepala audit tidak langsung menjawab.
“Semua persetujuan digital menggunakan otorisasi beliau.”
Aku menutup mata.
Jadi ini bukan lagi tentang perempuan lain.
Ini tentang pengkhianatan yang jauh lebih besar.
Malam itu aku menunggu Aditya di ruang kerja.
Dia pulang hampir pukul sebelas.
Begitu melihatku, dia tahu sesuatu telah terjadi.
“Ada apa?”
Aku memutar laptop ke arahnya.
“Dua belas miliar.”
Wajahnya langsung pucat.
“Nadia, dengarkan aku.”
“Silakan.”
Dia duduk perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku melihat Aditya benar-benar takut.
“Uang itu akan dikembalikan.”
“Dari mana?”
Dia tidak menjawab.
“Dari bisnis Citra?”
Aditya menunduk.
Aku tertawa getir.
“Jadi selama ini kamu bukan sekadar menyelamatkan perempuan malang.”
“Nadia, Citra tidak tahu semuanya.”
“Lalu siapa yang tahu?”
“Surya.”
Nama itu membuatku menegang.
Aditya akhirnya mengaku.
Dua tahun sebelumnya, dia melakukan investasi pribadi tanpa sepengetahuanku. Investasi itu gagal. Dia kehilangan miliaran rupiah dan meminjam uang kepada Surya untuk menutup kerugian.
Surya kemudian memanfaatkan keadaan.
Dia meminta Aditya membantu memindahkan dana perusahaan melalui vendor fiktif.
Citra adalah adik Surya.
Usaha yang dibiayai Aditya sebenarnya dirancang sebagai jalur untuk mengembalikan uang secara perlahan.
“Kenapa mobil?”
Aditya menutup wajah.
“Karena aku merasa bersalah.”
“Kepada siapa?”
“Citra.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Dia kehilangan rumah karena utang kakaknya. Dia tidak tahu apa-apa. Surya menggunakan namanya.”
“Jadi kamu menjadi pahlawannya?”
“Aku hanya ingin memperbaiki keadaan.”
“Dengan menghancurkan keluarga sendiri?”
Aditya berdiri.
“Aku melakukan semua ini supaya kamu tidak tahu aku pernah gagal!”
Kalimat itu menggema di ruangan.
Akhirnya semuanya jelas.
Bukan cinta kepada Citra yang menghancurkan rumah tangga kami.
Melainkan ego.
Aditya begitu ingin tetap terlihat sebagai suami sempurna, pengusaha berhasil, laki-laki yang selalu bisa menyelesaikan masalah, sampai dia memilih berbohong kepada semua orang.
Termasuk dirinya sendiri.
“Aku tidak pernah mencintai Citra,” katanya dengan suara serak.
Aku mengangguk.
“Aku percaya.”
Dia menatapku, seperti melihat secercah harapan.
Namun aku melanjutkan, “Dan justru itu yang membuat semuanya lebih menyedihkan.”
Wajahnya membeku.
“Kamu menghancurkan kepercayaanku bukan karena cinta besar yang tidak bisa kamu lawan. Kamu melakukannya hanya karena ingin merasa dibutuhkan.”
Aditya tidak mampu menjawab.
Seminggu kemudian, audit resmi dimulai.
Surya mencoba melarikan diri, tetapi berhasil diamankan sebelum meninggalkan Indonesia.
Dan Citra?
Dia datang menemuiku.
Aku hampir menolak.
Namun akhirnya kami bertemu di sebuah kafe.
Perempuan yang selama ini kubayangkan sebagai perusak rumah tangga ternyata terlihat jauh lebih lelah daripada yang kuingat.
Hal pertama yang dia lakukan adalah meletakkan kunci mobil di meja.
“Ini milik Mbak.”
“Bukan milikku.”
“Dibeli dengan uang yang seharusnya tidak pernah saya terima.”
Matanya merah.
“Saya baru tahu semuanya setelah Mas Aditya menjelaskan.”
Aku tidak berkata apa-apa.
Citra menarik napas.
“Saya memang bergantung kepadanya. Saya tahu dia punya istri. Saya tahu seharusnya saya menjaga jarak.”
Setidaknya dia tidak berpura-pura suci.
“Tapi kami tidak pernah punya hubungan fisik.”
“Aku tahu.”
Dia tampak terkejut.
“Aku sudah tidak peduli soal itu.”
Aku berdiri.
Sebelum pergi, Citra memanggilku.
“Mbak Nadia.”
Aku menoleh.
“Mas Aditya selalu bilang rumah Mbak adalah satu-satunya tempat yang benar-benar ingin dia pulangi.”
Aku tersenyum tipis.
“Sayangnya, seseorang bisa ingin pulang ke rumah sambil tetap menghancurkan rumah itu sedikit demi sedikit.”
Enam bulan kemudian, aku resmi bercerai.
Aditya kehilangan jabatannya di perusahaan, tetapi aku tidak menghalangi hubungannya dengan Tiara.
Dia tetap ayahnya.
Dan anehnya, setelah kehilangan hampir semua yang selama ini dia banggakan, Aditya justru mulai benar-benar menjadi ayah.
Dia hafal jadwal sekolah Tiara.
Dia tahu nama dokter anaknya.
Dia tahu putrinya tidak suka wortel tetapi suka brokoli.
Hal-hal kecil yang seharusnya sudah dia ketahui bertahun-tahun lalu.
Suatu sore, ketika Aditya mengantar Tiara pulang, dia berdiri cukup lama di depan pintu.
“Nadia.”
Aku menatapnya.
“Aku dulu benar-benar merasa aku suami yang baik.”
“Aku tahu.”
“Aku pikir selama aku tidak menyentuh perempuan lain, bekerja keras, dan selalu pulang, berarti aku sudah melakukan semuanya dengan benar.”
Aku tidak menjawab.
Dia tersenyum pahit.
“Ternyata pulang tidak selalu berarti hadir.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat Aditya tanpa kemarahan.
Hanya sebagai seorang laki-laki yang terlambat memahami harga dari kesalahannya sendiri.
Tiara memanggilku dari dalam rumah.
“Mama, lihat! Ayah beliin buku yang Tiara mau!”
Aku tersenyum.
“Masuk dulu, Sayang.”
Aditya berbalik hendak pergi.
“Dit.”
Dia berhenti.
“Terima kasih sudah mulai memperhatikan Tiara.”
Matanya memerah.
“Seandainya aku sadar lebih cepat.”
Aku menatap putriku yang sedang membuka buku barunya di ruang tamu.
“Kadang orang memang baru belajar menjaga sesuatu setelah kehilangan hal lain.”
Aditya mengangguk, lalu pergi.
Aku menutup pintu perlahan.
Dulu aku mengira kehancuran rumah tanggaku dimulai ketika melihat suamiku menyampirkan jaket ke bahu perempuan lain.
Ternyata aku salah.
Rumah tangga kami mulai retak jauh sebelum itu, ketika aku berhenti menuntut kehadirannya dan Aditya mulai menganggap kepulangannya setiap malam sudah cukup untuk disebut cinta.
Hari itu aku akhirnya memahami satu hal.
Kesetiaan bukan hanya tentang tubuh yang tidak menyentuh orang lain.
Kesetiaan adalah tentang kepada siapa kita memberikan waktu, perhatian, kejujuran, dan bagian terbaik dari diri kita.
Karena seseorang bisa tidur di sebelahmu setiap malam, memanggilmu istrinya, bahkan bersumpah tidak pernah berselingkuh.
Namun jika seluruh kepeduliannya sudah diberikan kepada kehidupan lain, mungkin yang pulang kepadamu selama ini hanyalah tubuhnya.
