Aku menatap Ardi cukup lama sampai akhirnya ia menundukkan kepala.
Di balik pintu ruang observasi, Raka tertidur dengan selang infus menempel di tangan kecilnya. Wajahnya masih pucat. Sesekali dahinya mengernyit seperti sedang bermimpi buruk.
“Mas,” kataku pelan, “aku tanya sekali lagi. Kamu tahu Ibu pernah membawa Raka ke rumah sakit?”
Ardi mengusap wajahnya.
“Ran, dengarkan dulu.”
Jawaban itu sudah cukup.
Aku mundur satu langkah.
“Jadi kamu tahu.”
“Tidak semuanya.”
“Tapi kamu tahu.”
Ardi terdiam.
Rasanya seperti ada sesuatu yang runtuh di dalam dadaku. Selama ini aku mengira masalah terbesar kami adalah Bu Mira yang terlalu ikut campur dalam cara kami membesarkan Raka. Ternyata suamiku sendiri menyimpan sesuatu dariku.
“Apa yang kalian lakukan kepada anakku?”
“Bukan seperti yang kamu pikirkan.”
“Lalu seperti apa?”
Ardi menatap pintu ruang observasi, memastikan Raka tidak mendengar.
“Sekitar dua tahun lalu, Ibu mulai khawatir karena berat badan Raka sulit naik. Waktu itu kamu sedang sibuk mengurus ayahmu yang sakit di Bandung. Ibu bilang dia punya kenalan dokter dan ingin memeriksakan Raka.”
“Dan kamu mengizinkannya?”
“Hanya sekali.”
Aku tertawa pendek karena tidak percaya.
“Catatannya empat kali.”
“Aku cuma tahu dua kali.”
Kalimat itu membuatku semakin marah.
“Jadi dua kali saja menurutmu tidak masalah?”
“Ran, waktu itu aku pikir cuma konsultasi.”
Aku hendak menjawab ketika dr. Nadia keluar dari ruang perawat.
“Bu Rani?”
Aku langsung menghampirinya.
“Bagaimana Raka, Dok?”
“Kondisinya sudah lebih stabil. Mualnya berkurang dan tanda vitalnya baik. Tapi kami tetap ingin mengobservasi sampai pagi.”
Aku mengangguk.
“Dok, saya ingin melihat catatan kunjungan yang tadi.”
Dr. Nadia tampak ragu.
“Ada prosedur untuk mendapatkan rekam medis lengkap. Tapi karena Ibu adalah orang tua kandung dan ini berkaitan dengan penanganan sekarang, kami bisa membantu menjelaskan informasi yang relevan.”
Kami kembali duduk.
Dokter membuka layar komputer.
“Kunjungan pertama sekitar dua tahun lalu. Keluhannya berat badan sulit naik dan susah makan.”
Aku masih bisa memahami bagian itu.
“Kunjungan kedua, sekitar tiga bulan setelahnya. Ada keluhan anak mudah lelah dan sering mengantuk.”
Aku menatap Ardi.
Ia tidak berani membalas tatapanku.
“Kunjungan ketiga?”
“Keluhannya wajah terlihat lebih bulat, berat badan naik cukup cepat, dan anak lebih sering haus.”
Jantungku berdegup lebih keras.
Aku mengingat foto-foto Raka tahun lalu. Memang ada masa ketika berat badannya naik cepat. Bu Mira bahkan dengan bangga mengatakan bahwa cucunya akhirnya terlihat sehat.
Aku justru sempat merasa bersalah karena mengira pola makanku selama ini kurang baik.
“Yang keempat?”
Dr. Nadia berhenti beberapa detik.
“Pada kunjungan terakhir, dokter yang memeriksa menyarankan pemeriksaan lanjutan karena mencurigai adanya efek obat tertentu. Tetapi pemeriksaan itu tidak dilanjutkan di rumah sakit kami.”
Aku menatap Ardi.
“Kapan?”
Dokter menyebut tanggalnya.
Aku langsung ingat.
Hari itu Ardi mengatakan akan mengajak Raka ke taman bersama Bu Mira karena aku harus menghadiri acara kantor.
Aku menutup mulut.
“Mas…”
“Aku tidak tahu soal kunjungan terakhir,” katanya cepat.
Untuk pertama kalinya suaranya terdengar benar-benar panik.
“Aku bersumpah.”
Aku tidak tahu lagi mana yang harus kupercaya.
Pagi itu, setelah kondisi Raka stabil, aku menghubungi kakakku, Dimas. Aku memintanya datang ke rumah sakit dan tidak menjelaskan apa pun lewat telepon.
Dimas tiba sekitar pukul enam pagi.
Begitu melihat Raka di tempat tidur rumah sakit, wajahnya berubah.
“Apa yang terjadi?”
Aku menceritakan semuanya.
Dimas tidak banyak bicara. Ia hanya bertanya satu hal.
“Botolnya masih di rumah Bu Mira?”
Aku mengangguk.
“Kalau begitu jangan beri tahu dia dulu kalau kalian tahu terlalu banyak.”
Ardi langsung berdiri.
“Itu ibu saya. Jangan bicara seolah-olah dia penjahat.”
Dimas menatapnya dingin.
“Kalau ada orang memberikan obat diam-diam kepada keponakan saya selama bertahun-tahun, saya tidak peduli dia ibu siapa.”
Suasana menjadi tegang.
Aku memotong sebelum mereka bertengkar.
“Aku mau botol itu.”
Ardi menatapku.
“Bagaimana caranya?”
“Kita ke rumah Ibu.”
“Sekarang?”

“Sekarang.”
Raka kutitipkan sementara kepada Dimas setelah dokter memastikan kondisinya stabil. Aku dan Ardi berangkat ke rumah Bu Mira sekitar pukul tujuh pagi.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang bicara.
Ketika kami sampai, Bu Mira tampak terkejut melihat kami.
“Raka mana?”
“Di rumah sakit,” jawabku.
Wajahnya berubah sesaat.
Hanya sesaat.
Kemudian ia berusaha terlihat tenang.
“Kenapa?”
“Keracunan obat.”
Bu Mira terdiam.
Aku memperhatikan matanya.
“Dokter menemukan jejak obat dalam tubuhnya.”
“Aku sudah bilang itu cuma vitamin.”
“Kalau begitu berikan botolnya.”
“Untuk apa?”
“Diperiksa.”
Bu Mira tidak bergerak.
Aku berjalan menuju dapur.
Ia langsung mengejarku.
“Rani, jangan kurang ajar di rumah saya.”
Aku membuka lemari tempat botol itu disimpan kemarin.
Kosong.
Aku membalikkan badan.
“Di mana?”
“Sudah habis.”
“Semalam masih ada.”
“Sudah saya buang.”
Aku menatap Ardi.
“Mas, sekarang kamu masih mau bilang semua ini normal?”
Ardi menatap ibunya.
“Ibu buang ke mana?”
Bu Mira tidak menjawab.
“Ibu!”
Untuk pertama kalinya aku mendengar Ardi membentak ibunya.
Bu Mira tersentak.
“Apa kalian mau mempermalukan Ibu karena sedikit obat?”
“Obat apa?” tanyaku.
“Itu bukan urusanmu.”
Aku hampir tidak percaya mendengarnya.
“Raka anak saya.”
“Dan saya yang menjaga dia ketika kamu sibuk bekerja!”
Kalimat itu meledak begitu saja.
Bu Mira menunjukku.
“Kamu selalu merasa menjadi ibu paling benar. Anak kurus dibiarkan. Makan sedikit dibiarkan. Semua katanya mengikuti psikologi anak. Dulu Ardi saya besarkan tidak pakai teori macam-macam.”
Aku mendekatinya.
“Obat apa yang Ibu berikan?”
Bu Mira memalingkan wajah.
Ardi tiba-tiba berkata pelan, “Dexamethasone?”
Bu Mira membeku.
Aku menoleh tajam kepada suamiku.
“Kamu tahu namanya?”
Ardi pucat.
“Ibu pernah menyebutnya sekali.”
“Kapan?”
“Setahun lebih lalu.”
Aku merasa lututku lemas.
“Dan kamu diam?”
“Aku tanya. Ibu bilang dosisnya sangat kecil.”
Aku menamparnya.
Suara tamparan itu terdengar keras di dapur.
Ardi tidak membalas.
Air mataku jatuh.
“Kamu tahu nama obatnya dan kamu tidak pernah bilang kepadaku?”
“Aku takut kamu akan melarang Ibu bertemu Raka.”
“Memang seharusnya aku melarang!”
Bu Mira mendadak berteriak.
“Karena obat itu Raka mau makan!”
Aku menoleh kepadanya.
Akhirnya.
Pengakuan itu keluar.
“Jadi benar Ibu memberikannya?”
Bu Mira menyadari kesalahannya dan langsung diam.
Aku mengeluarkan ponsel dari saku.
“Aku merekam semuanya.”
Wajah Bu Mira kehilangan warna.
Ardi menatapku kaget.
Sejak masuk rumah tadi, perekam suara di ponselku memang sudah aktif.
Aku tidak ingin lagi pulang hanya membawa kata-kata.
Namun rahasia sebenarnya baru terbuka beberapa jam kemudian.
Setelah kembali ke rumah sakit, Dimas mengatakan ada seorang perempuan yang datang mencari kami.
Namanya Siska.
Ia pernah bekerja membantu Bu Mira di rumah selama hampir tiga tahun.
Aku mengenalnya. Ia berhenti sekitar delapan bulan lalu dengan alasan pulang kampung.
Siska berdiri di lorong rumah sakit dengan wajah gelisah.
“Saya lihat mobil Mbak tadi pagi di rumah Bu Mira,” katanya. “Saya kebetulan datang mengambil surat lama yang masih dikirim ke sana. Terus tetangga bilang Raka masuk rumah sakit.”
Aku mengajaknya duduk.
“Siska, kamu tahu soal obat yang diberikan Bu Mira?”
Matanya langsung berkaca-kaca.
“Saya kira suatu hari pasti begini.”
Tubuhku terasa dingin.
“Apa maksudmu?”
Siska membuka tasnya dan mengeluarkan ponsel lama.
“Saya sebenarnya berhenti bukan karena mau pulang kampung.”
Ia menunjukkan beberapa foto.
Foto pertama memperlihatkan botol-botol obat di meja dapur Bu Mira.
Foto kedua menunjukkan beberapa tablet yang dihancurkan.
Foto ketiga membuatku hampir kehilangan napas.
Raka sedang duduk di meja makan, sementara Bu Mira menuangkan bubuk dari sendok kecil ke dalam minumannya.
Tanggal pada foto itu hampir satu tahun lalu.
“Kenapa kamu memotretnya?”
“Karena saya takut.”
Siska mengatakan awalnya Bu Mira memang hanya memberikan campuran untuk meningkatkan nafsu makan. Namun ketika Raka mulai menolak, obat dihancurkan dan dicampurkan ke teh, susu, bahkan puding.
“Pernah saya bilang jangan, Bu Mira marah. Katanya beliau tahu obat karena dulu kerja di apotek.”
“Kenapa kamu tidak menghubungi saya?”
“Saya mau.”
Siska menunduk.
“Tapi Pak Ardi meminta saya jangan ikut campur.”
Aku menoleh perlahan.
Ardi yang berdiri beberapa meter dari kami terlihat seperti kehilangan seluruh kekuatannya.
“Mas?”
Siska mulai menangis.
“Waktu itu saya sudah kirim foto ke Pak Ardi.”
Aku berdiri.
“Jadi kamu bukan cuma tahu.”
Ardi tidak menjawab.
“Kamu melihat fotonya.”
“Ran…”
“Kamu melihat anakmu diberi obat diam-diam.”
“Aku minta Ibu berhenti.”
“Tapi kamu tidak memberitahuku.”
Ardi menutup wajah.
“Aku pengecut.”
Untuk pertama kalinya ia mengatakannya tanpa mencari alasan.
“Ibu membesarkanku sendirian sejak Ayah meninggal. Seumur hidup aku tidak pernah bisa melawan dia. Setiap kali aku mencoba, dia bilang aku anak durhaka. Dia bilang semua yang dia lakukan untuk Raka karena sayang.”
Aku menatapnya dengan air mata mengalir.
“Sayang yang membuat anak masuk IGD bukan sayang, Mas.”
Ia mengangguk sambil menangis.
“Aku tahu.”
“Tapi kamu terlambat tahu.”
Kami kemudian menyerahkan foto, rekaman, hasil pemeriksaan, dan informasi medis kepada pihak yang berwenang untuk ditindaklanjuti sesuai prosedur.
Pemeriksaan terhadap Raka juga diteruskan oleh dokter anak. Dokter menjelaskan bahwa kondisi dan efek jangka panjangnya perlu dipantau dengan hati-hati, terutama karena dugaan paparan telah berlangsung cukup lama. Aku tidak lagi peduli pada tuduhan Bu Mira bahwa aku sedang menghancurkan keluarga.
Bagiku, keluarga sudah dihancurkan sejak orang-orang dewasa memilih menjaga rahasia daripada menjaga seorang anak.
Namun ada satu hal yang masih belum terjawab.
Mengapa Bu Mira sampai membawa Raka ke rumah sakit empat kali?
Jawabannya datang dari Siska.
“Ada satu hal lagi, Mbak.”
Ia membuka sebuah percakapan lama di ponselnya.
Ternyata setelah kunjungan ketiga, dokter pernah memperingatkan Bu Mira agar menghentikan semua obat yang tidak diresepkan dan membawa Raka kembali untuk pemeriksaan.
Bu Mira panik.
Bukan hanya karena takut ketahuan.
Ia takut dokter mengetahui bahwa obat yang diberikannya berasal dari stok lama yang ia simpan sejak masih bekerja.
Tetapi kunjungan keempat berbeda.
Yang membawa Raka bukan hanya Bu Mira.
Ardi ada di sana.
Aku menatap tanggal pada bukti pembayaran yang difoto Siska.
Ardi akhirnya mengaku.
Dokter saat itu sudah mengatakan bahwa perubahan pada tubuh Raka bisa berkaitan dengan paparan obat dan menyarankan pemeriksaan lebih lanjut.
“Kenapa kamu tidak melanjutkannya?” tanyaku.
Ardi menangis tanpa suara.
“Ibu bilang kalau kamu tahu, kamu akan membawa Raka pergi dan tidak membiarkan dia bertemu cucunya lagi.”
“Jadi kamu memilih siapa?”
Ardi tidak mampu menjawab.
Karena kami berdua sudah tahu jawabannya.
Ia memilih ibunya.
Dan membiarkan anaknya menanggung risikonya.
Tiga bulan setelah malam di IGD itu, aku dan Raka pindah dari apartemen.
Aku tidak langsung mengambil keputusan besar tentang pernikahanku dalam keadaan marah. Tetapi aku meminta jarak dan menetapkan satu syarat yang tidak bisa dinegosiasikan.
Tidak seorang pun boleh bertemu Raka tanpa persetujuanku dan tanpa memastikan keselamatannya.
Ardi menjalani konseling dan mulai menghadapi sesuatu yang selama puluhan tahun selalu ia hindari, ketakutannya sendiri terhadap ibunya.
Sementara Bu Mira harus menghadapi konsekuensi dari tindakannya melalui proses yang berjalan.
Suatu sore, beberapa bulan kemudian, aku sedang membantu Raka menyusun balok di ruang tamu tempat tinggal kami yang baru.
Tiba-tiba ia bertanya, “Bu, hari Minggu kita harus ke rumah Nenek?”
Aku berhenti.
Dulu, setiap Sabtu malam pertanyaan tentang hari Minggu selalu membuat wajahnya pucat.
Sekarang aku tersenyum dan menggeleng.
“Tidak. Hari Minggu kita boleh memilih mau melakukan apa.”
Raka terdiam sejenak.
“Kalau aku mau makan es krim?”
“Boleh.”
“Kalau nasinya tidak habis?”
“Kalau sudah kenyang, berhenti.”
Matanya berbinar.
Lalu ia memelukku.
Pelukan sederhana itu justru membuatku menangis.
Selama dua tahun aku mengira Raka terlalu sensitif.
Aku mengira tangisnya hanya bentuk penolakan seorang anak terhadap nenek yang disiplin.
Padahal tubuh kecilnya sudah berusaha memberitahuku sesuatu jauh sebelum orang dewasa menemukan buktinya.
Sejak saat itu aku belajar satu hal yang tidak pernah kulupakan.
Ketika seorang anak terus-menerus takut pada tempat, orang, atau kebiasaan tertentu, jangan buru-buru menganggapnya manja.
Kadang anak belum memiliki kata-kata untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.
Maka tubuhnya yang berbicara.
Lewat sakit perut.
Lewat tangisan.
Lewat tangan kecil yang mencengkeram baju ibunya di depan pintu.
Dan sampai hari ini, kalimat yang paling sering terngiang di kepalaku bukanlah penjelasan dokter atau pengakuan Bu Mira.
Melainkan pertanyaan Raka pada Minggu pagi itu.
“Bu, kalau Nenek kasih sirup cokelat itu lagi, aku boleh buang ke wastafel?”
Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku tidak akan menjawab sekadar boleh.
Aku akan memeluknya, menutup pintu, dan berkata,
“Kita tidak akan pergi ke sana.”
