Pukul delapan pagi, bel rumah berbunyi tiga kali.
Aku sudah bangun sejak subuh, meski sebenarnya hampir tidak tidur semalaman. Semua dokumen penting sudah kusimpan di dalam tas kerja. Rekaman suara Dimas, tangkapan layar percakapannya dengan Bu Ratna, formulir kredit palsu, dan foto tanda tangan yang dipalsukan sudah memiliki salinan di tiga tempat berbeda.
Rani juga sudah menerima semuanya.
Sebelum keluar dari kamar tamu, aku membaca pesan terakhir darinya.
“Jangan terpancing. Biarkan mereka bicara sebanyak mungkin. Aku sudah menghubungi pihak bank. Ada beberapa hal yang harus kita pastikan.”
Aku menarik napas panjang lalu membuka pintu.
Bu Ratna sudah duduk di ruang makan.
Dia datang mengenakan blus krem, celana hitam, dan membawa tas kulit besar. Di sebelahnya ada seorang laki-laki sekitar empat puluh tahun yang belum pernah kulihat sebelumnya. Kemejanya rapi dan sebuah map biru tergeletak di pangkuannya.
Dimas berdiri dekat jendela.
Wajahnya terlihat lelah.
“Laras,” kata Bu Ratna sambil tersenyum seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi. “Sini. Mama mau bicara baik-baik.”
Aku duduk di kursi paling jauh.
“Siapa Bapak ini?”
Laki-laki itu segera memperkenalkan diri sebagai Arman.
Katanya dia membantu mengurus dokumen pembiayaan.
Aku sengaja tidak bertanya lebih jauh.
Bu Ratna membuka map biru.
“Begini saja. Mama tahu mungkin Dimas menyampaikannya dengan cara yang kurang enak kemarin.”
Kurang enak.
Aku hampir tersenyum.
Mengancam akan mendidikku, mencoba merampas kendali atas gajiku, lalu memalsukan tanda tanganku disebutnya hanya cara yang kurang enak.
“Tapi tujuan kami baik,” lanjutnya. “Keluarga sedang butuh modal usaha. Daripada pinjam ke rentenir, lebih baik pakai fasilitas kredit yang bunganya jelas.”
“Kenapa atas namaku?”
Bu Ratna menghela napas seperti sedang menghadapi anak kecil.
“Karena kamu pegawai tetap. Penghasilanmu jelas. Riwayat kreditmu juga bagus.”
“Jadi Mama sudah memeriksa riwayat kredit saya?”
Tatapannya berubah sepersekian detik.
Dimas buru-buru menyela.
“Sudahlah, Ras. Kita keluarga.”
Aku mengangguk.
“Justru karena kita keluarga, aku ingin semuanya jelas.”
Bu Ratna mendorong beberapa lembar kertas ke arahku.
“Kalau begitu tanda tangan saja. Nanti Mama jelaskan.”
Aku melihat formulir itu.
Nominalnya masih sama.
Rp480 juta.
Jangka waktu delapan tahun.
Angsuran bulanannya cukup besar untuk menggerus hampir separuh penghasilanku.
Aku membalik halaman berikutnya.
Ada satu bagian yang membuatku menahan napas.
Tujuan penggunaan dana ditulis sebagai renovasi rumah milik pemohon.
Padahal aku tidak memiliki rumah.
Aku mengangkat kepala.
“Rumah siapa yang mau direnovasi?”
Bu Ratna menjawab cepat.
“Itu cuma administrasi.”
“Berarti informasinya palsu?”
Arman langsung berdeham.
“Bukan begitu, Bu Laras. Biasanya bisa disesuaikan.”
“Disesuaikan dengan kenyataan atau disesuaikan supaya kreditnya cair?”
Ruangan mendadak sunyi.
Bu Ratna mulai kehilangan kesabaran.
“Kamu ini kenapa jadi ribet sekali?”
Aku menatapnya.
“Karena nama saya ada di sini.”
“Setelah menikah jangan semua dihitung milik sendiri.”
“Kalau begitu kenapa pinjamannya tidak memakai nama Dimas?”
Dimas langsung menunduk.
Itulah reaksi yang kutunggu.
Aku menatap suamiku.
“Kenapa?”
“Riwayat kreditku sedang kurang bagus.”
“Kurang bagus bagaimana?”
“Ya ada beberapa cicilan.”
“Berapa?”
Dimas diam.
Bu Ratna membentak, “Tidak penting!”
“Bagi saya penting.”
Aku mengeluarkan ponsel.
“Karena semalam saya menemukan sesuatu yang jauh lebih penting.”
Wajah Bu Ratna langsung berubah.
Aku memutar pesan suara yang sudah kusalin.
Suara Bu Ratna memenuhi ruang makan.
“Besok pagi kamu buat dia tanda tangan. Kalau masih menolak, tekan saja. Jangan terlalu lembek seperti waktu dengan yang dulu. Setelah kredit cair, baru kita atur gajinya tiap bulan.”
Arman menoleh tajam kepada Bu Ratna.
“Apa ini?”

Bu Ratna berdiri.
“Matikan!”
Aku menghentikan rekaman.
“Kenapa, Mama? Bukankah tadi katanya kita keluarga dan tidak boleh ada yang disembunyikan?”
Dimas berjalan mendekat.
“Laras, cukup.”
Aku berdiri.
“Jangan mendekat.”
Dia berhenti.
Mungkin kejadian semalam masih cukup segar dalam ingatannya.
Aku membuka pesan berikutnya dan membacanya keras-keras.
“Kita sudah pilih Laras karena status pegawainya paling aman dibanding dua perempuan sebelumnya.”
Arman berdiri dari kursinya.
“Saya tidak tahu soal ini.”
Bu Ratna langsung menatapnya.
“Duduk!”
“Tidak, Bu. Anda bilang calon debitur sudah setuju.”
“Dia istri anak saya!”
“Itu tidak sama dengan setuju.”
Untuk pertama kalinya pagi itu, aku menyadari Arman mungkin bukan bagian dari rencana mereka sepenuhnya. Bisa jadi dia hanya perantara yang diberi informasi palsu.
Aku menatap Dimas.
“Siapa dua perempuan sebelumnya?”
Dimas memejamkan mata.
“Tidak usah dibahas.”
“Aku mau nama mereka.”
Bu Ratna tertawa sinis.
“Kamu pikir karena punya rekaman kamu bisa mengancam keluarga ini?”
“Aku tidak mengancam siapa pun.”
Aku mengangkat ponsel.
“Aku hanya menyimpan bukti.”
Bu Ratna tiba-tiba meraih formulir di meja.
“Kalau kamu tidak mau membantu keluarga, ya sudah. Tidak perlu dibuat drama.”
Dia hendak merobek dokumen itu.
“Silakan.”
Tangannya berhenti.
“Salinannya sudah ada.”
Wajahnya memucat.
Aku melanjutkan dengan tenang.
“Termasuk formulir yang sudah memakai tanda tangan palsu saya.”
Dimas menatap ibunya.
“Mama bilang formulir itu belum dikirim.”
Bu Ratna tidak menjawab.
Dimas mengulang lebih keras.
“Mama bilang belum dikirim!”
Untuk pertama kalinya, ketakutan di wajahnya bukan ditujukan kepadaku.
Melainkan kepada ibunya sendiri.
Ponselku bergetar.
Pesan dari Rani.
“Sudah terkonfirmasi. Ada aplikasi yang masuk dua minggu sebelum pernikahan kalian. Jangan beri tahu mereka dulu.”
Jantungku seperti dipukul.
Dua minggu sebelum pernikahan.
Berarti ketika aku masih sibuk memilih dekorasi pelaminan, mereka sudah mengajukan utang menggunakan namaku.
Aku menatap Dimas.
“Kapan pengajuan kredit pertama dibuat?”
Dia tidak menjawab.
“Dua minggu sebelum kita menikah?”
Kepalanya langsung terangkat.
Reaksinya sudah cukup menjadi jawaban.
Bu Ratna menatapku tajam.
“Kamu bicara dengan siapa?”
“Pengacara saya.”
Suasana langsung berubah.
Arman mengambil tasnya.
“Saya tidak mau terlibat lebih jauh.”
Bu Ratna menghadangnya.
“Kamu mau ke mana?”
“Saya diberi tahu semua dokumen diperoleh dengan persetujuan Bu Laras. Kalau tanda tangan dipalsukan, saya harus menjelaskan ini kepada kantor.”
“Arman!”
Laki-laki itu tetap pergi.
Begitu pintu tertutup, Bu Ratna menampar meja.
“Lihat apa yang kamu lakukan!”
Aku tidak bergeming.
“Saya?”
“Kalau kredit ini gagal, usaha keluarga bisa hancur!”
“Usaha apa?”
Dia terdiam.
“Usaha apa yang membutuhkan Rp480 juta?”
Dimas tiba-tiba duduk.
Kedua tangannya menutup wajah.
“Bukan untuk usaha.”
Bu Ratna menatap anaknya dengan marah.
“Diam!”
Aku menoleh kepada Dimas.
“Lalu untuk apa?”
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya dia berkata lirih.
“Bayar utang lama.”
Utang itu ternyata jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.
Dimas mengaku keluarganya memiliki beberapa pinjaman dari berbagai tempat. Sebagian berasal dari bisnis katering Bu Ratna yang bangkrut, sebagian lagi dari investasi bodong yang mereka ikuti tiga tahun sebelumnya.
Totalnya hampir Rp900 juta.
“Terus apa hubungannya dengan perempuan-perempuan sebelum aku?”
Dimas tidak mampu menatapku.
Bu Ratna justru menjawab.
“Mereka tidak jadi menikah dengannya.”
Aku membeku.
“Intan?”
“Dia mantan tunangannya.”
“Dan perempuan satunya?”
“Namanya Maya.”
Aku menatap Dimas.
“Kalian juga mencoba mengajukan kredit atas nama mereka?”
Dimas berbisik, “Mama yang mengurus.”
Bu Ratna langsung membentak.
“Jangan lempar semua ke Mama! Kamu juga menikmati uangnya!”
Kalimat itu menghancurkan pertahanan terakhir Dimas.
Dia berdiri.
“Aku menikmati apa? Semua uangnya dipakai nutup utang Mama!”
“Kalau bukan karena Mama, kamu tidak punya apa-apa!”
Pertengkaran mereka pecah di depanku.
Dan semakin mereka saling menyalahkan, semakin banyak rahasia keluar.
Intan ternyata membatalkan pertunangan setelah menemukan fotokopi KTP dan slip gajinya di kamar Dimas.
Maya bahkan sempat membuat laporan setelah mengetahui tanda tangannya dipalsukan dalam pengajuan pinjaman, tetapi perkara itu tidak berlanjut karena keluarga Dimas mengembalikan sejumlah uang dan membujuknya menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.
Aku berdiri tanpa berkata apa-apa.
Ada rasa mual ketika menyadari pola itu.
Dimas mendekati perempuan yang memiliki pekerjaan stabil.
Bu Ratna mempelajari kondisi keuangan mereka.
Setelah hubungan dianggap cukup serius, dokumen pribadi dikumpulkan.
Kalau perempuan itu curiga sebelum pernikahan, mereka mundur.
Kalau tidak, pernikahan menjadi alat untuk menekan korban dengan kalimat yang sama.
Kita sudah keluarga.
Aku mengambil tas.
Dimas langsung berdiri.
“Kamu mau ke mana?”
“Keluar.”
“Laras, kita bisa perbaiki ini.”
Aku menatapnya lama.
“Semalam mungkin masih ada bagian kecil dalam diriku yang berharap kamu hanya berubah setelah menikah.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Tapi sekarang aku tahu kamu tidak berubah.”
Aku menahan getaran dalam suaraku.
“Kamu memang seperti ini sejak awal. Aku saja yang baru melihatnya.”
Bu Ratna mendengus.
“Kalau keluar dari rumah ini, jangan harap kami menerima kamu kembali.”
Aku menoleh kepadanya.
“Saya memang tidak berniat kembali.”
Aku pergi menemui Rani.
Di kantornya, aku mendapat kejutan berikutnya.
Dia sudah menemukan Intan.
Ternyata Intan menyimpan semua percakapan lamanya dengan Dimas.
Bahkan Maya bersedia memberikan keterangan setelah mengetahui ada korban ketiga.
Bukti yang kami miliki tidak lagi berdiri sendiri.
Ada pola.
Ada dokumen.
Ada percakapan.
Ada saksi.
Dan ada aplikasi kredit yang diajukan tanpa persetujuanku sebelum pernikahan.
Beberapa hari berikutnya menjadi hari-hari terpanjang dalam hidupku.
Aku melaporkan pemalsuan dokumen dan penggunaan data pribadi tanpa izin. Pihak bank menghentikan proses pengajuan kredit dan melakukan pemeriksaan internal. Aku juga memblokir serta memperbarui akses terhadap rekening dan layanan keuanganku.
Dimas mengirim puluhan pesan.
Awalnya meminta maaf.
Kemudian menyalahkan ibunya.
Setelah itu memintaku mencabut laporan.
Ketika semuanya gagal, dia kembali mengancam.
Aku tidak membalas satu pun.
Semua kusimpan sebagai bukti tambahan.
Dua minggu kemudian, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Dimas datang ke kantor Rani.
Sendirian.
Wajahnya kusut dan jauh lebih kurus.
“Aku mau memberikan sesuatu.”
Dia meletakkan sebuah flashdisk di meja.
Di dalamnya terdapat puluhan dokumen.
Formulir pinjaman.
Fotokopi identitas.
Catatan utang.
Percakapan Bu Ratna dengan beberapa orang.
Dan sebuah spreadsheet berisi nama-nama perempuan.
Bukan tiga.
Ada tujuh nama.
Sebagian hanya pernah dikenalkan kepada Dimas. Sebagian pernah berpacaran dengannya. Dua di antaranya bahkan tidak pernah tahu bahwa data mereka sudah dikumpulkan.
Aku menatap Dimas dengan tangan dingin.
“Kenapa kamu memberikan ini?”
Dia menunduk.
“Karena Mama menyuruhku bilang semua ini ideku kalau polisi mulai bertanya.”
Aku hampir tertawa karena ironinya.
Selama bertahun-tahun dia membantu ibunya menjadikan perempuan lain sebagai jalan keluar dari utang.
Sekarang, ketika keadaan berbalik, ibunya menjadikan dia tumbal.
“Aku tidak melakukan ini untuk memaafkanmu,” kataku.
“Aku tahu.”
“Aku juga tidak akan mencabut laporan.”
Dia mengangguk.
“Aku tahu.”
Proses setelah itu panjang.
Pernikahan kami berakhir jauh lebih cepat daripada yang pernah kubayangkan ketika mengenakan cincin tiga hari sebelumnya. Ada keluarga yang menyalahkanku karena dianggap membuka aib. Ada orang yang menyuruhku memaafkan karena Dimas tetap suamiku.
Tapi aku sudah belajar sesuatu.
Status istri tidak menghapus hak seseorang atas tubuhnya, penghasilannya, identitasnya, dan persetujuannya.
Beberapa bulan kemudian, aku kembali mengajar kelas bela diri.
Pada akhir sesi, seorang peserta perempuan muda menghampiriku.
“Mbak Laras, menurut Mbak, bela diri paling penting itu belajar pukulan atau kuncian?”
Aku terdiam sebentar.
Kemudian tersenyum.
“Bukan.”
“Terus apa?”
“Belajar mengenali saat batas kita mulai dilanggar.”
Dia terlihat bingung.
Aku melanjutkan.
“Kadang orang yang membahayakan kita tidak datang dari gang gelap. Kadang dia datang membawa bunga, cincin, dan janji akan menjaga kita selamanya.”
Malam itu aku pulang sendirian.
Aneh sekali, rumah kontrakan kecil yang baru kusewa terasa jauh lebih hangat daripada rumah yang pernah kutempati bersama Dimas.
Sebelum tidur, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.
Aku membukanya.
“Selamat malam, Mbak Laras. Nama saya Siska. Saya menemukan nomor Mbak dari Intan. Saya rasa nama saya ada di daftar itu. Dimas pernah mendekati saya dua tahun lalu.”
Di bawah pesan tersebut ada sebuah foto.
Sebuah formulir pengajuan pinjaman.
Nominal Rp350 juta.
Nama pemohon tercetak jelas.
Siska Maharani.
Aku menatap layar cukup lama.
Ternyata tujuh nama di spreadsheet itu bukan akhir dari semuanya.
Aku meneruskan pesan tersebut kepada Rani.
Lalu kutulis balasan singkat kepada Siska.
“Simpan semua bukti. Jangan hapus apa pun. Kamu tidak sendirian.”
Setelah mengirimnya, aku meletakkan ponsel dan memandang cincin pernikahan yang belum sempat kubuang, tergeletak di dalam laci.
Dulu aku mengira cincin itu adalah bukti seseorang memilihku.
Sekarang aku memahami bahwa dipilih tidak selalu berarti dicintai.
Kadang seseorang memilih kita karena melihat apa yang bisa mereka ambil.
Dan keberanian bukan selalu tentang menjatuhkan orang yang mencoba menyakiti kita.
Kadang keberanian adalah mengatakan tidak ketika semua orang menuntut kita menurut.
Kadang keberanian adalah pergi.
Dan terkadang, satu perempuan yang berani menyimpan bukti bisa menjadi alasan banyak perempuan lain akhirnya berani bersuara.
