Aku tidak jadi naik ke pesawat.
Ketika petugas mengumumkan panggilan terakhir menuju Denpasar, aku masih berdiri di depan dinding kaca terminal dengan ponsel menempel di telinga. Nama Dimas terus berputar di kepalaku seperti suara yang menolak berhenti.
Kakakku sendiri.
Orang yang selama ini kupikir satu-satunya keluarga yang masih bisa kupercaya setelah Ayah meninggal.
“Alya?” suara Ratih terdengar lagi. “Kamu masih di sana?”
“Aku nggak jadi pergi.”
“Bagus. Tapi jangan pulang ke rumah.”
“Kenapa?”
Ratih terdiam beberapa detik.
“Aku menemukan nama lain.”
Jari-jariku langsung menegang.
“Siapa?”
“Bu Mira.”
Aku merasa udara di terminal mendadak habis.
Bu Mira.
Ibu Raka.
Ibu mertuaku.
Perempuan yang enam tahun lalu memelukku di hari pernikahan dan berkata bahwa sejak hari itu aku adalah putrinya sendiri.
“Namanya ada di mana?”
“Di perusahaan yang menerima aliran dana dari PT Mahendra Medika. Dimas memang tercatat sebagai direktur, tapi pemegang saham mayoritasnya Bu Mira.”
Aku menutup mata.
“Berapa persen?”
“Enam puluh persen.”
Aku hampir tertawa karena semuanya terdengar terlalu gila untuk menjadi kenyataan.
Suamiku.
Kakakku.
Ibu mertuaku.
Tiga orang yang selama bertahun-tahun duduk bersamaku di meja makan, merayakan ulang tahunku, memperingati kematian Ayah, bahkan berdoa bersama di rumah.
Ternyata diam-diam mereka membangun sesuatu di belakangku.
“Aku mau ketemu kamu,” kataku.
“Satu jam lagi di kantor.”
Aku memesan mobil dan meninggalkan bandara.
Sepanjang perjalanan menuju Kuningan, ponselku terus bergetar.
Raka menelepon sebelas kali.
Bu Mira tujuh kali.
Dimas tiga kali.
Nadine mengirim dua pesan.
Aku tidak membuka satu pun.
Baru ketika mobil berhenti di lampu merah, sebuah pesan dari Raka muncul di layar.
Alya, kamu di mana? Dokter bilang aku harus dibantu untuk beberapa hari. Tolong jangan bikin masalah sekarang.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Bukan “maaf”.
Bukan “kita perlu bicara”.
Bahkan bukan “aku tahu kamu terluka”.
Yang dia pikirkan tetap dirinya sendiri.
Aku mematikan ponsel.
Ratih sudah menungguku di ruang rapat kecil ketika aku tiba. Di atas meja ada laptop, beberapa dokumen, dan dua gelas kopi yang bahkan belum disentuh.
Dia tidak langsung berbicara.
“Ada apa lagi?” tanyaku.
Ratih memutar laptop ke arahku.
“Perusahaan penerima uang itu namanya PT Arunika Sejahtera Investama. Berdiri tiga tahun lalu.”
“Siapa saja pemiliknya?”
“Bu Mira enam puluh persen. Dimas tiga puluh persen. Sisanya sepuluh persen atas nama seseorang bernama Surya Mahendra.”
Aku mengernyit.
“Mahendra?”
Ratih mengangguk.
Nama belakang keluargaku.
“Siapa dia?”
“Itu yang aneh. Aku belum menemukan hubungan resminya dengan kalian.”
Dia membuka dokumen lain.
“Tapi aku menemukan sesuatu yang lebih penting. Enam bulan lalu, setelah dokumen pengalihan saham palsu itu dibuat, ada perubahan struktur pemegang saham PT Mahendra Medika.”
Dadaku mulai berdebar.
“Berapa sahamku sekarang?”
“Di dokumen terbaru, tinggal sepuluh persen.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Dari lima puluh lima?”
Ratih mengangguk.
“Empat puluh lima persen dialihkan.”
“Kepada siapa?”
“Dua puluh persen ke Raka. Lima belas persen ke perusahaan milik Bu Mira dan Dimas. Sepuluh persen sisanya ke Surya Mahendra.”
Aku bangkit dari kursi.
“Berarti mereka mencuri perusahaan Ayah.”
“Belum.”
Aku menatap Ratih.
“Apa maksudmu belum?”
“Secara hukum, dokumen itu masih bisa kita lawan. Apalagi kalau tanda tanganmu terbukti dipalsukan. Tapi kita harus bergerak sebelum mereka melakukan perubahan lain.”
Aku berjalan menuju jendela.
Jakarta terlihat seperti biasa.
Mobil berdesakan.
Orang-orang berjalan tergesa-gesa.
Semua normal.
Padahal hidupku baru saja runtuh.
“Kenapa Dimas melakukan ini?”
“Aku nggak tahu.”
“Aku adiknya.”
Ratih berdiri dan mendekat.
“Justru karena itu kita harus berhenti mencari jawaban dari perasaan. Cari jawabannya dari bukti.”
Kalimat itu menyadarkanku.
Aku kembali duduk.
“Lakukan apa pun yang perlu dilakukan.”
Siang itu kami mendatangi notaris yang namanya tercantum dalam dokumen pengalihan saham.
Awalnya dia mengatakan tidak bisa membuka informasi klien.
Sampai Ratih menunjukkan salinan dokumen dan mengatakan bahwa kami sedang mempersiapkan laporan dugaan pemalsuan tanda tangan.
Wajah notaris itu berubah.
“Saya ingat dokumen ini.”
“Apakah Ibu Alya datang ketika penandatanganan?” tanya Ratih.
Dia menatapku.
Kemudian menggeleng.
“Tidak.”
Dadaku seperti dipukul.
“Lalu siapa yang datang?”
“Pak Raka, Pak Dimas, dan seorang perempuan.”
“Bu Mira?”
“Bukan.”
Aku dan Ratih saling menatap.
“Siapa?”
Notaris itu terlihat ragu.
“Saya tidak tahu namanya. Tapi Pak Dimas memperkenalkannya sebagai perwakilan keluarga.”
Aku mengeluarkan ponsel.
Kutunjukkan foto Bu Mira.
“Bukan.”
Foto Nadine.
“Bukan.”
Aku mulai kehabisan nama.
Sampai Ratih bertanya, “Ada rekaman CCTV?”
Notaris mengangguk.
Dua puluh menit kemudian kami melihat rekaman enam bulan lalu.
Raka masuk lebih dulu.
Dimas menyusul.
Lalu seorang perempuan turun dari mobil hitam.
Ketika wajahnya terlihat jelas, tubuhku membeku.
Aku mengenalnya.
Sangat mengenalnya.
“Tante Lestari?”
Perempuan itu adalah adik kandung ibuku.
Dia tinggal di Bandung dan hampir tidak pernah ikut campur dalam urusan perusahaan.
Setidaknya itulah yang selama ini kupercaya.
Tanganku gemetar ketika meneleponnya.
Dia mengangkat pada panggilan kedua.
“Alya?”
“Tante di mana?”
“Bandung. Kenapa?”
“Aku mau tanya satu hal.”
Aku menatap rekaman di layar.
“Enam bulan lalu Tante datang ke Jakarta bersama Dimas dan Raka?”
Sunyi.
Cukup lama hingga aku tahu jawabannya.
“Alya, dengarkan Tante dulu.”
“Jadi benar?”
“Ada hal tentang Ayahmu yang kamu nggak tahu.”
“Aku nggak tanya soal Ayah.”
Suaraku mulai bergetar.
“Aku tanya kenapa Tante membantu mereka mengambil sahamku.”
“Alya…”
“Jawab!”
Beberapa orang di kantor notaris menoleh.
Aku tidak peduli.
Akhirnya Tante Lestari berkata pelan.
“Karena saham itu sejak awal bukan seluruhnya milikmu.”

Aku membeku.
“Apa?”
“Sebaiknya kita bicara langsung.”
Dua jam kemudian Tante Lestari tiba di Jakarta.
Wajahnya terlihat jauh lebih tua daripada terakhir kali aku melihatnya.
Dia membawa sebuah map biru.
Begitu duduk di kantor Ratih, dia langsung meletakkannya di meja.
“Dimas tahu ini sejak tujuh tahun lalu.”
Aku membuka map itu.
Di dalamnya ada akta lama PT Mahendra Medika.
Nama Ayah tercantum sebagai pendiri.
Namun di bawah namanya ada nama lain.
Surya Mahendra.
“Siapa dia?”
Tante Lestari menunduk.
“Adik ayahmu.”
Aku tidak pernah tahu Ayah punya adik.
“Kenapa aku nggak pernah dengar?”
“Karena mereka bertengkar besar.”
Tante menarik napas panjang.
Dua puluh dua tahun lalu, Ayah dan Surya mendirikan klinik pertama bersama. Modal terbesar ternyata berasal dari Surya, tetapi ketika bisnis mulai berkembang, hubungan mereka rusak.
Surya kemudian pergi ke luar negeri.
“Dia meninggalkan sahamnya?”
“Tidak.”
Tante menggeleng.
“Secara hukum, dia tetap punya hak.”
Aku menatap dokumen.
“Lalu kenapa namanya hilang?”
Tante Lestari terlihat semakin gelisah.
“Karena Ayahmu membuat perubahan dokumen perusahaan setelah Surya pergi.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku tidak ingin mempercayainya.
Ayah adalah orang yang selama hidupku kuanggap paling jujur.
“Jadi Ayah mencuri saham adiknya?”
“Tidak sesederhana itu.”
“Tapi benar?”
Tante tidak menjawab.
Dan diamnya sudah cukup.
Aku menutup map.
“Lalu apa hubungannya dengan Dimas?”
“Dimas menemukan dokumen lama itu setelah Ayah meninggal. Dia kemudian mencari Surya.”
Aku langsung memahami sebagian teka-teki.
“Surya ingin sahamnya kembali.”
“Awalnya iya.”
“Awalnya?”
Tante Lestari menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Surya meninggal dua tahun lalu.”
Aku mengerutkan kening.
“Kalau dia meninggal, siapa yang memakai namanya dalam perusahaan sekarang?”
Ratih yang sejak tadi diam langsung membuka laptop.
Kami saling memandang.
Itulah pertanyaan yang mengubah semuanya.
Kalau Surya sudah meninggal dua tahun lalu, seseorang telah menggunakan identitas orang mati untuk menerima sepuluh persen saham perusahaan.
Dan hanya ada beberapa orang yang tahu sejarah itu.
Dimas.
Raka.
Bu Mira.
Tante Lestari.
Malamnya aku kembali ke rumah.
Bukan untuk tinggal.
Aku ingin mengambil seluruh dokumen perusahaan yang masih tersimpan di ruang kerja.
Namun saat pintu terbuka, lampu ruang tamu sudah menyala.
Dimas duduk di sofa.
“Kamu akhirnya pulang.”
Aku tidak menjawab.
Di meja ada dua cangkir kopi.
“Keluar dari rumahku.”
“Rumah ini juga dibeli dari uang perusahaan.”
Aku berhenti.
“Jadi sekarang kamu bahkan menghitung rumahku?”
Dimas berdiri.
“Aku mencoba memperbaiki kesalahan Ayah.”
“Dengan memalsukan tanda tanganku?”
“Aku nggak memalsukannya.”
“Jangan bohong.”
“Aku cuma saksi.”
Aku tertawa pendek.
“Lima miliar masuk ke perusahaanmu.”
Wajahnya berubah.
“Kamu sudah tahu?”
“Aku tahu lebih banyak daripada yang kamu kira.”
Untuk pertama kalinya kulihat ketakutan di matanya.
Aku melanjutkan.
“Aku juga tahu Surya sudah meninggal.”
Dimas langsung diam.
“Jadi siapa yang menggunakan namanya?”
Dia berjalan mendekat.
“Alya, ada hal yang nggak kamu pahami.”
“Semua orang mengatakan itu hari ini.”
Aku menatapnya.
“Sekarang aku ingin jawaban.”
Dimas akhirnya duduk kembali.
“Raka yang mengatur struktur perusahaan.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Aku hanya ingin mengembalikan bagian keluarga Surya. Itu memang hak mereka. Tapi Raka bilang kalau dilakukan secara terbuka, kamu pasti menolak karena perusahaan itu satu-satunya peninggalan Ayah yang kamu pertahankan.”
“Jadi kamu setuju memalsukan dokumen?”
“Aku pikir cuma sementara.”
“Lima miliar juga sementara?”
Dimas menunduk.
“Dana itu katanya untuk investasi klinik baru.”
“Katanya?”
Saat itulah wajah Dimas benar-benar pucat.
Aku memahami sesuatu.
Dia juga tidak tahu seluruh rencana Raka.
“Dimas, siapa ahli waris Surya?”
Dia tidak menjawab.
Aku mendekat.
“Siapa?”
“Aku nggak tahu.”
“Kamu mencari Surya tapi nggak tahu keluarganya?”
“Raka yang mengurus setelah Surya meninggal.”
Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah pintu.
“Karena memang tidak ada ahli waris yang perlu dicari.”
Aku dan Dimas menoleh bersamaan.
Bu Mira berdiri di sana.
Entah sejak kapan dia masuk.
Di belakangnya ada Nadine.
Aku menatap mereka.
“Kenapa kalian di sini?”
Bu Mira tidak menjawab pertanyaanku.
Dia justru menatap Dimas.
“Kamu terlalu banyak bicara.”
Dimas berdiri.
“Bu Mira, Raka bilang semua ini legal.”
“Dan kamu percaya?”
Nada suaranya begitu dingin hingga aku hampir tidak mengenali perempuan yang selama enam tahun memanggilku anak.
Aku mengambil ponsel.
Bu Mira melihat gerakanku.
“Silakan rekam.”
Aku berhenti.
Dia tersenyum.
“Justru sudah waktunya kamu tahu.”
Nadine tampak gelisah.
“Bu, sebaiknya jangan sekarang.”
“Diam.”
Bu Mira duduk.
“Surya memang sudah meninggal. Nama itu digunakan karena kepemilikan saham harus terlihat seolah kembali kepada keluarga pendiri.”
“Siapa yang mengendalikan saham atas nama Surya?”
Bu Mira menatapku.
“Raka.”
Jawaban itu terasa seperti pisau terakhir.
“Jadi semua ini rencana Raka?”
“Sebagian.”
“Dan Anda?”
“Aku membantu anakku mengambil sesuatu yang menurutku pantas dia miliki.”
“Perusahaan ayahku?”
“Perusahaan yang selama enam tahun dia besarkan sementara kamu hanya menikmati dividennya.”
Aku menahan amarah.
“Aku bekerja di sana sejak umur dua puluh tiga.”
“Dan Raka membuatnya berkembang tiga kali lipat.”
Aku menatap Nadine.
“Lalu dia?”
Nadine mendadak menangis.
“Aku nggak tahu soal saham.”
Anehnya, kali ini aku percaya.
Bu Mira tertawa kecil.
“Dia memang nggak tahu.”
Nadine menatapnya kaget.
“Kamu cuma pengalih perhatian.”
Wajah Nadine kehilangan warna.
Bu Mira melanjutkan seolah sedang membicarakan cuaca.
“Raka butuh Alya sibuk dengan masalah rumah tangga. Pertengkaran, kecemburuan, perselingkuhan. Semakin emosional Alya, semakin sedikit dia memperhatikan perusahaan.”
Aku merasa mual.
“Jadi hubungan mereka…”
“Itu nyata.”
Bu Mira mengangkat bahu.
“Hanya saja sangat berguna.”
Nadine mundur.
“Raka bilang dia akan menikahi saya.”
Bu Mira menatapnya dengan tatapan kasihan.
“Raka tidak pernah berniat menikahimu.”
Nadine menutup mulut.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat bahwa kami berdua adalah korban dari laki-laki yang sama, meskipun luka kami berbeda.
Aku menatap Bu Mira.
“Kenapa Anda mengatakan semuanya?”
Dia tersenyum.
“Karena sudah terlambat.”
Ponselku berdering.
Ratih.
Aku mengangkatnya.
“Alya, rekening utama perusahaan baru saja mencoba mengirim dua belas miliar rupiah ke luar negeri.”
Darahku serasa berhenti mengalir.
“Berhasil?”
“Tidak.”
Aku menatap Bu Mira.
Senyumnya menghilang.
Ratih melanjutkan.
“Aku sudah mengajukan permohonan pemblokiran sementara berdasarkan dugaan pemalsuan dokumen. Bank menahan transaksi itu.”
Untuk pertama kalinya Bu Mira benar-benar panik.
“Kamu nggak berhak!”
Aku menurunkan ponsel.
“Lima puluh lima persen perusahaan itu masih milikku sampai pengadilan mengatakan sebaliknya.”
Bu Mira berdiri.
“Kamu akan menghancurkan keluargamu sendiri.”
Aku menatapnya.
“Keluarga?”
Aku menunjuk Dimas.
“Dia menjual kepercayaanku.”
Lalu Nadine.
“Dia tidur dengan suamiku.”
Terakhir aku menatap Bu Mira.
“Dan anak Anda mencoba mencuri perusahaan ayahku.”
Aku menggeleng.
“Yang kalian bangun bukan keluarga.”
Keesokan paginya, bersama Ratih, aku membuat laporan resmi atas dugaan pemalsuan dokumen dan penggelapan dana perusahaan.
Raka masih berada di rumah sakit ketika penyidik datang meminta keterangan.
Ironisnya, dia meneleponku setelah itu.
Kali ini aku mengangkat.
“Alya, kamu gila?”
Suaranya penuh amarah.
“Kamu tahu apa yang kamu lakukan?”
“Tahu.”
“Kamu bisa bikin semuanya hancur.”
“Bukan aku yang memulainya.”
“Aku suamimu!”
Aku terdiam sejenak.
Lalu untuk pertama kalinya setelah enam tahun, kalimat itu tidak memiliki kekuatan apa pun atas diriku.
“Tidak lama lagi.”
Dia mulai mengancam, memohon, kemudian menyalahkanku.
Aku membiarkannya bicara.
Sampai akhirnya dia berkata sesuatu yang membuatku tersenyum.
“Setidaknya datang ke rumah sakit. Aku bahkan belum bisa mandi sendiri.”
Aku memejamkan mata.
Di tengah semua kekacauan ini, dia masih mengingat permintaannya malam itu.
“Panggil perawat.”
“Alya…”
“Atau panggil Nadine.”
“Nadine nggak bisa dihubungi.”
Aku melihat pesan yang baru masuk dari Nadine.
Dia mengirim seluruh percakapannya dengan Raka selama satu tahun terakhir.
Foto.
Rekaman suara.
Bukti transfer.
Dan satu rekaman yang paling penting.
Suara Raka sedang berbicara dengan ibunya mengenai rencana memindahkan sahamku.
Aku tersenyum.
“Sepertinya Nadine sedang sibuk membantuku.”
Aku memutus sambungan.
Tiga bulan kemudian, pemeriksaan forensik menyatakan tanda tanganku memang dipalsukan.
Pengalihan saham dibatalkan sementara proses pidana berjalan.
Dimas mengembalikan sebagian dana perusahaan dan memilih bekerja sama dengan penyidik. Hubungan kami tidak pernah kembali seperti dulu. Mungkin memang tidak seharusnya.
Bu Mira kehilangan kendali atas perusahaan yang dibangunnya diam-diam bersama Raka.
Sedangkan Nadine mengundurkan diri dan meninggalkan Jakarta.
Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.
Perceraianku dengan Raka selesai delapan bulan kemudian.
Namun kejutan terakhir justru datang setelah semuanya hampir berakhir.
Ratih menemukan surat lama Surya yang tersimpan bersama dokumen notaris.
Surat itu ditulis beberapa bulan sebelum dia meninggal.
Isinya hanya dua halaman.
Surya memang mengakui pernah berselisih dengan Ayah.
Namun dia juga menulis bahwa sebelum Ayah meninggal, mereka telah berdamai.
Ayah telah menawarkan untuk mengembalikan sahamnya.
Surya menolak.
Dia memilih menyerahkan seluruh haknya kepada perusahaan dengan satu syarat.
Sebagian keuntungan PT Mahendra Medika harus digunakan untuk membantu pasien jantung yang tidak mampu.
Aku membaca surat itu berkali-kali.
Ternyata rahasia terbesar bukan bahwa Ayah telah mengambil hak adiknya.
Melainkan bahwa dua bersaudara itu sudah menyelesaikan kesalahan mereka bertahun-tahun lalu tanpa pernah memberi tahu siapa pun.
Raka menemukan sebagian sejarah mereka, tetapi sengaja menyembunyikan bagian akhirnya.
Dia menggunakan dosa lama keluarga kami sebagai alasan untuk melakukan pengkhianatan baru.
Setahun setelah malam di rumah sakit itu, aku berdiri di depan klinik ketiga PT Mahendra Medika.
Di dinding lobi terdapat sebuah papan sederhana.
Program Surya Mahendra.
Program itu membiayai operasi dan pengobatan pasien jantung dari keluarga yang tidak mampu.
Aku tidak mencantumkan nama Ayah.
Tidak juga namaku.
Karena akhirnya aku mengerti bahwa warisan paling berharga bukanlah saham, gedung, atau miliaran rupiah di rekening perusahaan.
Warisan adalah apa yang kita pilih untuk lakukan ketika memiliki kekuasaan atas sesuatu.
Raka memilih mengambil.
Dimas memilih berkhianat karena merasa tindakannya bisa dibenarkan.
Bu Mira memilih keserakahan.
Dan aku memilih berhenti menjadi perempuan yang terus membersihkan kekacauan yang dibuat orang lain.
Malam ketika Raka terluka demi Nadine, dia memintaku memandikan dan merawatnya.
Saat itu dia mengira aku akan tetap menjadi istri yang membersihkan lukanya, menutupi kesalahannya, dan menjaga hidupnya tetap nyaman.
Dia tidak pernah membayangkan bahwa justru dari malam itulah aku mulai membersihkan hidupku sendiri.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa kehilangan seorang suami.
Aku merasa mendapatkan diriku kembali.
