DI MALAM PERTUNANGANKU, PRIA YANG KUTINGGALKAN SEBULAN LALU MENGUNCI PINTU RUANG ARSIP, LALU CALON SUAMIKU MENGETUK DARI LUAR—NAMUN FOTO DI TANGANNYA MEMBUKTIKAN BAHWA PENGKHIANAT SEBENARNYA SELAMA INI TINGGAL DI RUMAH KELUARGAKU DAN SEMUA ORANG SALAH MENUDUH ORANG YANG KUCINTAI

Klik.

Pintu gudang terbuka perlahan.

Aku buru-buru memasukkan amplop cokelat ke balik map daftar tamu yang kupeluk di dada. Raka mundur ke sisi lemari besi, tepat di sudut yang tertutup bayangan.

Dimas muncul di ambang pintu dengan napas sedikit terengah.

“Alya?”

Wajahnya langsung berubah ketika melihatku.

“Kamu nggak apa-apa? Aku cari kamu dari tadi.”

Aku memaksakan senyum.

“Listrik mati. Pintunya juga sempat macet.”

Dimas melangkah masuk. Matanya menyapu ruangan.

Aku bisa mendengar napasku sendiri.

Raka hanya berjarak beberapa meter darinya.

“Aku dengar suara orang,” kata Dimas.

“Mungkin petugas gedung.”

Dimas menatapku beberapa detik terlalu lama.

Kemudian dia tersenyum.

“Ayo turun. Om Darmawan sudah menunggu. Notaris juga sudah datang.”

Kata terakhir itu membuat tengkukku dingin.

“Notaris?”

“Iya. Ada beberapa dokumen perusahaan yang sekalian mau dibereskan malam ini.”

Tanganku otomatis mencengkeram map.

Persis seperti yang dikatakan Raka.

Aku mengangguk.

“Kamu duluan. Aku mau ke toilet sebentar.”

Dimas tampak hendak membantah, tetapi ponselnya berbunyi.

“Jangan lama-lama.”

Setelah langkahnya menghilang, Raka keluar dari bayangan.

“Dia curiga,” bisiknya.

“Kalau semua ini benar, kenapa kamu baru datang sekarang?”

“Aku mencoba datang sejak tiga minggu lalu.”

“Jangan bohong.”

Raka mengeluarkan ponselnya. Layarnya retak di satu sisi.

Dia menunjukkan foto mobil hitam dengan bagian depan ringsek.

“Delapan belas hari lalu rem mobilku dipotong.”

Aku menatap luka di pelipisnya.

“Itu…”

“Kecelakaan yang seharusnya membuatku tidak pernah sampai ke sini.”

Darahku terasa mengalir menjauh dari wajah.

“Siapa yang melakukannya?”

“Aku belum punya bukti.”

“Lalu Maya?”

Raka diam sesaat.

“Maya auditor internal perusahaan ayahmu.”

Aku tercekat.

“Dia menghubungiku karena menemukan transaksi mencurigakan. Kami bertemu diam-diam karena dia yakin ada orang di kantor yang memantau email perusahaan.”

“Foto apartemen itu?”

“Itu apartemen kakaknya. Kami mengambil salinan dokumen yang dia sembunyikan di sana.”

Aku teringat foto yang diberikan Dimas.

Sudut pengambilannya terlalu sempurna.

Seolah seseorang memang menunggu mereka keluar.

“Kenapa kamu tidak menjelaskan waktu itu?”

“Maya menghilang dua hari setelah kamu menanyaiku.”

Aku menatapnya.

“Apa maksudmu menghilang?”

“Nomornya mati. Apartemennya kosong. Kantor bilang dia mengundurkan diri.”

Suara musik dari ballroom mulai terdengar kembali ketika listrik menyala.

Acara pertunanganku akan dimulai.

Raka menatapku.

“Turunlah.”

“Kamu?”

“Aku akan menunggu.”

Aku menahan lengannya.

“Kalau orang di rumahku terlibat, siapa?”

Tatapannya berubah berat.

“Aku belum bisa memastikan.”

“Reza?”

Raka tidak menjawab.

Itu sudah cukup membuat dadaku sesak.

Kakakku sendiri.

Pria yang sejak kecil selalu berdiri di depanku ketika aku dimarahi Ayah.

Aku meninggalkan ruang arsip dengan kepala penuh suara.

Ballroom Gedung Arunika dipenuhi hampir dua ratus tamu. Lampu kristal menyala keemasan. Bunga mawar putih menghiasi panggung.

Dari luar, semuanya tampak sempurna.

Ayah berdiri di dekat panggung ditemani Reza.

Kakakku tersenyum ketika melihatku.

“Nah, calon pengantinnya datang.”

Aku memperhatikan wajahnya.

Kemeja putih.

Jas abu-abu.

Senyum yang kukenal seumur hidup.

Benarkah dia?

Reza mendekat dan merapikan rambutku.

“Kamu pucat. Gugup?”

“Mas Reza…”

“Hm?”

“Kalau suatu hari aku bikin kesalahan besar, Mas masih akan melindungi aku?”

Dia tertawa kecil.

“Pertanyaan apa itu?”

“Jawab.”

Senyumnya perlahan menghilang.

“Selama aku hidup, kamu tetap adikku.”

Entah mengapa jawaban itu justru membuat mataku panas.

Acara dimulai.

Dimas berdiri di sampingku ketika kedua keluarga bertukar sambutan. Dia menggenggam tanganku di depan semua orang.

Seharusnya aku merasa aman.

Namun yang terbayang justru tanda tanganku yang dipalsukan.

Setelah cincin dipasang, tepuk tangan memenuhi ruangan.

Ayah memelukku.

“Ibu pasti bahagia kalau masih ada,” bisiknya.

Aku hampir menangis.

Ibuku meninggal enam tahun lalu.

Setelah itu rumah kami hanya dihuni Ayah, aku, Reza, dan Tante Mira, adik mendiang Ibu yang tinggal bersama kami sejak aku kuliah.

Tiba-tiba aku teringat ucapan Raka.

Orangnya tinggal serumah denganmu.

Bukan berarti Reza.

Ada empat orang di rumah kami.

Seusai sesi foto, Dimas menyentuh siku Ayah.

“Om, mungkin dokumennya bisa sekalian ditandatangani sekarang.”

Aku langsung menoleh.

Seorang pria berkacamata membawa map biru mendekat.

Dimas tersenyum kepadaku.

“Ini cuma restrukturisasi saham supaya perusahaan lebih mudah dapat pendanaan.”

Aku mengambil dokumen itu.

Namaku tercantum sebagai pemberi kuasa.

Penerima kuasanya adalah Dimas.

Lebih buruk lagi, terdapat klausul yang memberikan hak pengelolaan sementara atas sebagian saham milikku jika perusahaan gagal memenuhi kewajiban tertentu.

“Aku mau baca dulu.”

Dimas tersenyum kaku.

“Sudah diperiksa notaris.”

“Aku tetap mau baca.”

Ayah mengerutkan kening.

“Ada masalah?”

“Belum tahu.”

Dimas menurunkan suaranya.

“Alya, jangan bikin suasana jadi aneh.”

Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku berubah.

Aku menatapnya.

“Kalau tidak ada yang disembunyikan, kenapa kamu takut aku baca?”

Beberapa kerabat mulai memperhatikan.

Reza datang.

“Ada apa?”

Aku mengeluarkan salinan surat kuasa palsu dari amplop.

“Mas pernah lihat ini?”

Wajah Reza berubah.

Hanya sepersekian detik.

Namun aku melihatnya.

Dimas juga melihatnya.

“Alya, dari mana kamu dapat itu?”

Aku tidak menjawab.

Sebaliknya aku menatap kakakku.

“Tanda tanganku dipalsukan.”

Reza mengambil kertas itu.

Tangannya gemetar.

“Siapa yang kasih?”

“Jawab dulu.”

Dia memandang Dimas.

Tatapan singkat itu menghancurkan separuh keyakinanku.

Mereka saling tahu.

Dimas tiba-tiba meraih lenganku.

“Kita bicara di dalam.”

Aku menepisnya.

“Jangan sentuh aku.”

Suasana ballroom menjadi senyap.

Ayah berjalan mendekat.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Dimas menarik napas.

“Om, Alya sedang emosional. Sepertinya ada orang yang sengaja mengacaukan acara.”

“Orang itu saya.”

Suara dari pintu ballroom membuat semua kepala berbalik.

Raka berdiri di sana.

Wajah Ayah langsung memerah.

“Kamu!”

Beberapa petugas keamanan bergerak.

Namun Raka mengangkat kedua tangannya.

“Saya tidak datang untuk membuat keributan. Saya membawa bukti pencurian dana perusahaan.”

“Usir dia!” bentak Ayah.

“Yah!”

Aku berdiri di depan Raka.

Semua orang menatapku.

Termasuk Dimas.

“Aku yang minta dia tetap di sini.”

Itu bohong.

Tetapi malam itu aku sudah terlalu lelah menjadi perempuan yang hanya mengikuti keputusan orang lain.

Raka mengeluarkan flashdisk.

“Transaksi selama sebelas bulan terakhir. Vendor fiktif. Surat kuasa palsu. Rekening penampung.”

Reza tiba-tiba berkata, “Aku tahu.”

Dunia seakan berhenti.

Aku menoleh perlahan.

“Apa?”

Kakakku menunduk.

“Aku tahu tanda tanganmu dipalsukan.”

Ayah menampar Reza.

Suara tamparan itu menggema.

“Kamu melakukan ini?”

Reza tidak membalas.

Air matanya jatuh.

“Aku ikut menutupinya.”

Aku hampir tidak mengenali suaraku sendiri.

“Kenapa?”

Reza menatapku.

“Karena aku takut.”

“Takut sama siapa?”

Belum sempat dia menjawab, suara perempuan terdengar dari belakang para tamu.

“Reza.”

Aku mengenali suara itu.

Tante Mira berjalan mendekat.

Wajahnya pucat, tetapi langkahnya tenang.

“Tidak perlu mengatakan apa pun.”

Raka langsung menatapnya.

Ekspresinya berubah.

Tante Mira tersenyum tipis.

“Jadi kamu akhirnya menemukan jalannya juga, Raka.”

Aku memandang mereka bergantian.

“Kalian saling kenal?”

Raka mengeluarkan sebuah foto dari saku dalam jasnya.

Foto lama.

Seorang perempuan muda berdiri bersama tiga pria di depan proyek pembangunan.

Salah satu pria adalah Ayah.

Yang lain ayah Raka.

Perempuan itu Tante Mira.

Pria ketiga tidak kukenal.

Raka menunjuk pria tersebut.

“Namanya Hendra Kusuma. Ayah Dimas.”

Dimas langsung pucat.

Ayah mengambil foto itu dengan tangan gemetar.

“Foto ini seharusnya sudah hilang.”

Tante Mira tertawa kecil.

“Sayangnya masa lalu tidak pernah benar-benar hilang, Mas.”

Raka kemudian menjelaskan sesuatu yang mengubah seluruh hidupku.

Lima belas tahun lalu, perusahaan Ayah dan ayah Raka bekerja sama mengembangkan proyek perumahan besar. Hendra bertugas mengurus pembelian tanah dan perizinan.

Dana proyek menghilang.

Dokumen menunjukkan ayah Raka sebagai pihak yang melakukan penggelapan.

Perusahaannya bangkrut.

Namanya hancur.

Beberapa tahun kemudian dia meninggal karena serangan jantung.

Namun dokumen itu ternyata dipalsukan.

Orang yang membuat akses administrasinya adalah Tante Mira.

“Kenapa?” tanyaku.

Tante Mira menatap Ayah.

“Karena kakakmu.”

Ayah membeku.

“Mendiang ibumu mengetahui Hendra mengambil uang perusahaan. Dia mau melapor. Aku memohon supaya dia diam.”

“Kenapa Tante melindungi Pak Hendra?”

Dimas menatap Tante Mira dengan mata merah.

Seolah dia sudah tahu jawabannya.

Tante Mira tersenyum pahit.

“Karena Dimas anakku.”

Ruangan itu mendadak seperti kehilangan udara.

Aku menatap Dimas.

“Apa?”

“Hendra dan aku berhubungan sebelum dia menikah. Ketika aku hamil, keluarga memaksaku menyerahkan bayi itu kepada Hendra dan istrinya.”

Dimas mundur.

“Jangan.”

“Dimas sudah mengetahui semuanya sejak tiga tahun lalu.”

Aku menatap calon suamiku.

Dia tidak menyangkal.

Tante Mira melanjutkan.

“Kami hanya ingin mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik Hendra.”

Ayah menggeram.

“Dia mencuri uangku!”

“Dan kamu membiarkan Mahendra menanggung kesalahannya!”

“Aku tidak tahu bukti itu palsu!”

Tante Mira terdiam.

Raka maju satu langkah.

“Itulah sebabnya Maya menghilang.”

Aku menoleh.

Raka mengeluarkan ponsel.

“Maya tidak mengundurkan diri. Dia bersembunyi setelah seseorang mengancam keluarganya.”

Dia menyalakan rekaman suara.

Suara Dimas terdengar jelas.

Kalau kamu menyerahkan audit itu, jangan salahkan saya kalau adikmu kehilangan pekerjaan dan ayahmu mendapat masalah.

Dimas langsung meraih ponsel Raka.

Reza menahannya.

“Sudah, Dim!”

Dimas mendorong Reza.

“Semua ini gara-gara kamu!”

Reza menghantam meja.

“Gara-gara aku? Aku menutupi transaksi karena Tante Mira bilang cuma sementara! Aku nggak pernah tahu kalian mau mengambil saham Alya!”

Aku menatap kakakku.

“Jadi Mas memang terlibat.”

Reza menangis.

“Aku berutang hampir dua miliar karena investasi bodong. Tante Mira melunasinya. Sebagai gantinya aku diminta memberikan akses sistem perusahaan.”

Aku merasa ingin muntah.

Orang-orang yang paling kupercaya ternyata menyimpan rahasia masing-masing.

Ayah terduduk.

Dalam satu malam, keluarga kami runtuh di depan ratusan orang.

Namun Dimas belum selesai.

Dia menatapku dengan wajah yang tak lagi kukenal.

“Kamu pikir Raka datang karena cinta?”

Aku diam.

“Dia ingin balas dendam pada keluargamu.”

Raka tidak menyangkal.

Dimas tertawa.

“Nah. Tanya dia. Tanya apa tujuan awalnya mendekatimu.”

Aku memandang Raka.

“Jawab.”

Raka menutup mata sesaat.

“Awalnya benar.”

Dadaku seperti ditusuk.

“Dua tahun lalu aku mendekatimu karena ingin mencari bukti tentang kehancuran perusahaan ayahku.”

Air mataku jatuh.

“Jadi aku cuma jalan masuk?”

“Awalnya.”

Aku menamparnya.

Raka menerimanya tanpa bergerak.

“Tapi setelah tiga bulan, aku berhenti mencari lewat kamu. Aku jatuh cinta.”

“Jangan.”

“Aku tahu aku tidak berhak meminta kamu percaya.”

“Jangan bicara lagi.”

Aku melepas cincin pertunanganku.

Kutaruh di atas meja.

Kemudian kulepas gelang pemberian Raka.

Untuk beberapa detik aku memandang benda kecil itu.

Dua pria.

Dua kebohongan.

Dua jenis pengkhianatan.

Aku meletakkan gelang itu di samping cincin.

“Aku tidak memilih siapa pun malam ini.”

Dimas menatapku tidak percaya.

“Alya…”

“Pertunangan ini batal.”

Aku memandang Raka.

“Dan hubungan kita juga tetap selesai.”

Raka mengangguk pelan.

“Aku mengerti.”

Polisi tiba dua puluh menit kemudian setelah Raka menyerahkan laporan yang sebelumnya sudah disiapkan Maya.

Dimas dan Tante Mira diperiksa atas dugaan pemalsuan dokumen, penggelapan, dan intimidasi saksi.

Reza juga menjalani proses hukum karena memberikan akses internal, meski kemudian bekerja sama sebagai saksi.

Ayah tidak kehilangan perusahaan.

Namun dia kehilangan sesuatu yang lebih besar.

Keyakinannya bahwa selama bertahun-tahun dia adalah pihak yang sepenuhnya benar.

Tiga bulan kemudian, Ayah datang ke makam ayah Raka.

Aku menemaninya.

Raka berdiri beberapa meter dari kami.

Ayah meletakkan bunga.

“Saya terlambat lima belas tahun,” katanya lirih.

Raka tidak menjawab.

“Maaf.”

Untuk pria sekeras Ayah, satu kata itu mungkin lebih berat daripada seluruh kekayaannya.

Raka hanya berkata, “Saya tidak bisa menjawab atas nama orang yang sudah meninggal.”

Ayah mengangguk.

“Tapi saya tetap harus mengatakannya.”

Setelah itu Ayah pergi lebih dulu.

Aku masih berdiri di depan makam.

Raka menatap pergelangan tanganku yang kosong.

“Kamu kelihatan lebih sehat.”

“Aku memang lebih sehat.”

Dia tersenyum.

Aku mengeluarkan sesuatu dari tas.

Gelang perak itu.

Raka terdiam.

“Kukira kamu membuangnya.”

“Aku mengambilnya lagi malam itu.”

Harapan muncul di matanya, tetapi aku segera berkata, “Bukan berarti aku mau kembali.”

Dia tertawa kecil.

“Aku tahu.”

“Aku masih marah.”

“Aku tahu.”

“Mungkin lama.”

“Aku bisa menunggu.”

Aku menatapnya.

“Dulu masalah kita adalah semua orang membuat keputusan untukku. Ayah memilih siapa yang boleh kucintai. Dimas memilih kenyataan apa yang boleh kuketahui. Kamu juga memilih menyembunyikan kebenaran dengan alasan melindungiku.”

Raka menunduk.

“Kamu benar.”

“Kalau suatu hari kita bicara lagi, tidak boleh ada rahasia.”

“Tidak ada.”

“Dan jangan menungguku.”

Dia mengangkat wajah.

“Kenapa?”

“Karena kalau aku kembali, aku ingin kembali kepada seseorang yang tetap menjalani hidupnya. Bukan seseorang yang berdiri di tempat yang sama menungguku.”

Raka tersenyum.

Untuk pertama kalinya, senyum itu tidak terasa seperti luka.

Aku berjalan meninggalkannya.

Enam bulan setelah malam pertunangan itu, perusahaan keluarga kami berhasil pulih. Ayah mengembalikan nama baik keluarga Mahendra secara terbuka dan memberikan kompensasi kepada para pemegang saham lama yang dirugikan.

Reza menerima hukuman percobaan karena bekerja sama dalam penyidikan dan mengembalikan kerugian.

Dimas dijatuhi hukuman penjara.

Tante Mira juga dinyatakan bersalah.

Aku pindah dari rumah keluarga.

Bukan karena membenci Ayah.

Aku hanya ingin belajar hidup tanpa selalu menjadi anak perempuan seseorang, adik seseorang, atau calon istri seseorang.

Suatu sore aku membuka kedai kopi kecil di Surabaya bersama sahabatku.

Hari pertama pembukaan, seorang pelanggan terakhir datang lima menit sebelum tutup.

Aku sedang membalik papan menjadi “TUTUP” ketika aroma kopi pahit dan parfum kayu membuat tanganku berhenti.

Raka berdiri di depan pintu.

Tidak membawa bunga.

Tidak membawa hadiah.

Hanya sebuah map tipis.

“Apa itu?” tanyaku.

“Kontrak.”

Aku mengangkat alis.

“Kontrak apa?”

“Perusahaanku mau menyewa katering kopi untuk acara kantor.”

Aku tertawa.

“Jadi sekarang kamu pelanggan?”

“Kalau pemiliknya mengizinkan.”

Aku mengambil map itu.

“Harus kubaca dulu.”

“Tentu.”

“Setiap halaman.”

“Wajib.”

“Dan kalau ada yang mencurigakan?”

“Jangan tanda tangan.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Kemudian kami tertawa.

Aku tidak tahu apakah akhirnya aku akan menikah dengan Raka.

Aku juga tidak tahu apakah luka yang kami bawa akan benar-benar hilang.

Namun untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak takut pada ketidakpastian.

Karena malam pertunanganku mengajarkanku satu hal yang tidak pernah diajarkan keluargaku.

Pengkhianatan paling berbahaya tidak selalu datang dari orang yang kita benci.

Kadang ia duduk di meja makan bersama kita, mengenal seluruh kelemahan kita, bahkan memanggil kita keluarga.

Dan cinta yang benar bukanlah tentang mempercayai seseorang tanpa bertanya.

Cinta adalah keberanian untuk mencari kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu mungkin menghancurkan semua yang selama ini ingin kita pertahankan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang