Nama Maya Kusuma membuat seluruh tubuhku terasa dingin.
Aku berdiri di kamar kerja sambil memandangi dokumen di meja. Untuk pertama kalinya sejak Ayah meninggal, kesedihanku bercampur dengan sesuatu yang lain. Bukan kemarahan. Belum.
Ketakutan.
Tak lama setelah telepon dengan Pak Surya berakhir, terdengar suara mobil memasuki garasi.
Raka pulang.
Aku buru-buru memasukkan semua dokumen ke dalam map, lalu menyelipkannya kembali ke koper Ayah. Ketika pintu kamar terbuka, Raka berdiri di sana sambil melepas jam tangannya.
“Kamu belum tidur?”
“Belum.”

Dia menghela napas dan meletakkan ponselnya di meja.
“Besok kita bicara soal uang rumah tangga. Aku tahu kamu pasti lihat limit kartu.”
Aku menatapnya.
“Kenapa dibekukan?”
“Cash flow perusahaan lagi ketat.”
“Lalu transfer seratus delapan puluh lima juta ke perusahaan Maya?”
Wajah Raka berubah sesaat.
Hanya sesaat.
“Itu biaya profesional.”
“Di hari pemakaman Ayah?”
“Apa hubungannya?”
Kalimat itu membuat dadaku seperti ditusuk.
Aku menatap laki-laki di depanku dan mendadak merasa sedang melihat orang asing.
Raka melonggarkan kerah kemejanya.
“Alya, jangan campur urusan pribadi dengan bisnis. Aku sedang menyelamatkan perusahaan yang menghidupi hampir seratus karyawan.”
“Dengan mengambil uang rumah tangga tanpa bicara denganku?”
“Itu uangku.”
Aku terdiam.
Raka sepertinya baru sadar kalimatnya terlalu jauh, tetapi dia tidak menariknya kembali.
Empat tahun menikah.
Aku berhenti bekerja penuh waktu setelah ibunya meminta aku membantu administrasi perusahaan pada masa-masa awal. Aku mengurus rumah, mendampingi acara bisnis, bahkan menjual sebagian reksa danaku ketika perusahaan kesulitan membayar pemasok.
Sekarang semuanya disebut uangnya.
“Baik,” jawabku pelan.
Raka mengerutkan kening.
Mungkin dia mengharapkan pertengkaran.
Aku justru mengambil koper Ayah.
“Aku mau tidur di kamar tamu.”
“Alya.”
Aku berhenti.
“Lusa malam apresiasi perusahaan. Mama sudah bilang, kan?”
“Iya.”
“Datanglah. Jangan bikin masalah.”
Aku menoleh kepadanya.
“Aku akan datang.”
Pagi berikutnya, Pak Surya tiba sebelum pukul delapan.
Dia membawa laptop dan sebuah tas hitam tebal.
Kami duduk di ruang makan.
“Pak Damar mulai curiga sekitar tiga bulan lalu,” katanya.
Dia membuka beberapa laporan transaksi.
PT Mahendra Niaga membayar PT Laras Cipta Advisory hampir Rp1,3 miliar dalam enam bulan.
Namun sebagian besar invoice menggunakan deskripsi pekerjaan yang samar.
Business restructuring.
Market expansion.
Strategic advisory.
Pak Surya menunjuk sebuah dokumen.
“Perusahaan ini baru berdiri sebelas bulan lalu.”
Aku melihat nama pemegang saham.
Maya Kusuma memiliki enam puluh persen.
Empat puluh persen sisanya dimiliki seseorang bernama Adrian Mahendra.
Aku mengernyit.
“Mahendra?”
Pak Surya mengangguk.
“Sepupu Pak Raka.”
Aku mengenal Adrian. Dia adik sepupu Raka yang tinggal di Surabaya dan beberapa kali meminta modal usaha.
“Jadi mereka memindahkan uang perusahaan?”
“Belum tentu sesederhana itu.”
Pak Surya membuka dokumen berikutnya.
Rancangan transaksi pengalihan aset.
Gudang di Bantul.
Dua belas kendaraan distribusi.
Kontrak dengan tiga klien terbesar.
Semua direncanakan dialihkan kepada perusahaan baru bernama PT LCK Nusantara.
Aku melihat komposisi sahamnya.
Maya Kusuma lima puluh satu persen.
Adrian Mahendra dua puluh empat persen.
Sisanya tercantum atas nama sebuah perusahaan investasi.
“Raka?”
“Namanya tidak muncul.”
Aku hampir merasa lega.
Sampai Pak Surya berkata,
“Tapi perusahaan investasi itu dikendalikan ibunya.”
Aku membeku.
Bu Ratna.
Jadi ini bukan sekadar hubungan Raka dan Maya.
Keluarganya terlibat.
“Kenapa Ayah punya semua ini?”
“Pak Damar masih menjadi kreditur terbesar perusahaan Raka. Dalam perjanjian lama, perusahaan wajib menyerahkan laporan keuangan tertentu selama pinjaman belum lunas.”
Pak Surya menatapku serius.
“Pak Damar melihat mereka sedang mencoba memindahkan aset sehat keluar dari perusahaan lama. Kalau berhasil, PT Mahendra Niaga tinggal cangkang berisi utang.”
“Termasuk utang kepada Ayah.”
“Betul.”
Aku menatap tulisan tangan Ayah yang terlipat di meja.
Mendadak aku mengerti kenapa Ayah memintaku jangan takut pulang.
Dia tahu.
“Sekarang setelah Ayah meninggal, siapa yang memegang piutang itu?”
Pak Surya menatapku.
“Anda.”
Aku kehilangan kata-kata.
“Berdasarkan wasiat dan dokumen perusahaan, hak tagih itu diwariskan kepada Ibu.”
Aku menutup wajah.
Ayah bahkan setelah meninggal masih berdiri di belakangku.
Malam apresiasi perusahaan berlangsung di sebuah hotel di Yogyakarta.
Aku datang mengenakan gaun hitam sederhana.
Raka sedang berdiri bersama Maya ketika melihatku.
Maya mengenakan gaun merah marun dan berdiri terlalu dekat dengannya.
Dia tersenyum.
“Alya. Aku ikut berduka, ya. Maaf belum sempat datang.”
“Terima kasih.”
Bu Ratna mendekat.
Tatapannya langsung memeriksa penampilanku.
“Bagus kamu datang. Senyum sedikit.”
Aku tersenyum.
Untuk pertama kalinya, perintahnya tidak menyakitiku.
Aku sudah mengetahui sesuatu yang belum dia tahu.
Acara dimulai.
Raka naik ke panggung dan berbicara tentang masa depan perusahaan.
Tentang transformasi.
Tentang keberanian mengambil keputusan sulit.
Kemudian dia memanggil Maya.
“Tahun ini perusahaan menghadapi tantangan besar. Namun berkat kerja keras tim pengembangan bisnis yang dipimpin Maya Kusuma, kami mendapat kesempatan melakukan restrukturisasi strategis.”
Tepuk tangan terdengar.
Aku memandang mereka dari meja paling belakang.
Dulu aku pasti cemburu.
Malam itu aku justru memperhatikan wajah para komisaris.
Beberapa tampak tidak nyaman.
Setelah presentasi selesai, seorang pria berjas abu-abu menghampiriku.
Pak Hendra, komisaris senior yang sudah mengenal Ayah.
“Turut berduka soal Pak Damar.”
“Terima kasih, Pak.”
Dia menurunkan suaranya.
“Saya dengar Anda sekarang memegang hak atas pinjaman lama?”
Aku menatapnya.
Berarti kabar itu sudah mulai beredar.
“Sepertinya begitu.”
Pak Hendra mengangguk pelan.
“Kalau begitu jangan tanda tangan apa pun malam ini.”
Belum sempat aku bertanya, Bu Ratna muncul.
“Alya, Mama cari dari tadi.”
Dia menarikku menuju ruang VIP.
Di dalam sudah ada Raka, Maya, Adrian, dan seorang notaris.
Di meja terdapat beberapa dokumen.
Jantungku berdegup cepat.
Raka menunjuk kursi.
“Duduk.”
“Ada apa?”
“Kita perlu tanda tangan persetujuan restrukturisasi.”
Aku mengambil dokumennya.
Salah satu klausul menyebut kreditur lama menyetujui perubahan struktur aset perusahaan.
Aku hampir tertawa.
Mereka membutuhkan persetujuanku.
Raka rupanya belum tahu bahwa aku sudah memahami semuanya.
“Kenapa aku harus tanda tangan?”
Bu Ratna menjawab lebih dahulu.
“Formalitas saja.”
Aku memandang Maya.
Dia tampak tenang, tetapi jemarinya menggenggam gelas terlalu erat.
“Kalau cuma formalitas, kenapa harus malam ini?”
Raka mulai kehilangan kesabaran.
“Alya, jangan mulai.”
Aku meletakkan dokumen.
“Aku tidak akan tanda tangan.”
Ruangan mendadak sunyi.
Bu Ratna membelalak.
“Kamu sadar sedang bicara dengan siapa?”
“Dengan keluarga suamiku.”
Aku membuka tas.
“Dan mungkin dengan orang-orang yang sedang berusaha memindahkan aset perusahaan agar tidak bisa dijangkau kreditur.”
Wajah Maya seketika pucat.
Adrian berdiri.
“Ini tuduhan.”
Aku mengeluarkan salinan rancangan pengalihan aset.
Raka membeku.
“Dari mana kamu dapat itu?”
Pertanyaan itu menjawab semuanya.
Dia tahu.
Air mataku hampir keluar, tetapi kutahan.
“Jadi benar?”
Raka menatap ibunya.
Bu Ratna langsung berkata, “Semua ini dilakukan untuk menyelamatkan perusahaan.”
“Dengan menjadikan Maya pemegang saham mayoritas?”
Maya berdiri.
“Alya, jangan bawa hubungan pribadi ke sini.”
Aku menatapnya.
“Aku belum membahas hubungan pribadi.”
Maya terdiam.
Aku beralih kepada Raka.
“Apakah kamu berselingkuh dengannya?”
“Alya.”
“Jawab.”
Raka mengepalkan tangan.
“Tidak.”
Aku mengangguk.
“Aku ingin percaya.”
Maya mendadak tertawa kecil.
“Kamu memang selalu naif.”
Raka langsung menoleh.
“Maya.”
Namun sudah terlambat.
Maya menatapku.
“Dia mungkin tidak pernah tidur denganku kalau itu yang ingin kamu dengar. Tapi selama setahun terakhir setiap keputusan penting dia diskusikan denganku, bukan denganmu. Saat dia takut, dia meneleponku. Saat bisnisnya hampir jatuh, aku yang ada di sampingnya.”
Dadaku sakit.
Kadang pengkhianatan tidak membutuhkan tempat tidur.
Raka membentak, “Cukup!”
Aku justru merasa sangat tenang.
“Ayahku menjual tanah untuk menyelamatkan perusahaanmu.”
Raka diam.
“Dan ketika Ayah dikuburkan, kamu terlambat karena menjemput perempuan yang sedang kamu siapkan untuk mengambil perusahaan itu.”
“Itu tidak seperti yang kamu pikir.”
“Lalu seperti apa?”
Raka tidak mampu menjawab.
Aku mengeluarkan dokumen terakhir.
“Utang Rp4,2 miliar sudah jatuh tempo delapan bulan lalu.”
Bu Ratna langsung berdiri.
“Kamu tidak mungkin menagih itu kepada suamimu sendiri.”
“Kenapa tidak?”
“Kita keluarga!”
Aku menatapnya lama.
“Menarik. Kemarin ketika kartu rumah tanggaku dibekukan, tidak ada yang mengingat bahwa kita keluarga.”
Wajah Bu Ratna memerah.
Aku beralih kepada Raka.
“Ayah meninggalkan hak tagih itu kepadaku. Dan berdasarkan perjanjian, kalau kewajiban tidak diselesaikan, mekanisme eksekusi jaminan saham bisa dijalankan.”
Maya menatap Raka panik.
“Bukannya kamu bilang pinjaman itu sudah tidak relevan?”
Raka tidak menjawab.
Saat itulah aku mengerti sesuatu.
Maya ternyata tidak mengetahui semuanya.
Raka berbohong kepadanya juga.
Aku berdiri.
“Aku kasih kamu dua pilihan.”
Raka menatapku.
“Batalkan seluruh pengalihan aset, buka laporan keuangan kepada auditor independen, kembalikan dana yang dibayarkan tanpa dasar pekerjaan yang jelas, dan selesaikan kewajiban kepada perusahaan Ayah sesuai mekanisme hukum.”
“Atau?”
“Aku akan meminta kuasa hukum menjalankan semua hak kreditur.”
Bu Ratna membentak.
“Kamu mau menghancurkan suamimu?”
Aku menggeleng.
“Tidak. Aku hanya berhenti menyelamatkannya dari akibat pilihannya sendiri.”
Aku meninggalkan ruangan.
Raka mengejarku sampai lorong hotel.
“Alya!”
Aku berhenti.
Wajahnya terlihat kacau.
“Kalau kamu lakukan ini, perusahaan bisa jatuh.”
“Perusahaanmu hampir jatuh lima tahun lalu. Ayah menyelamatkannya.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Kalau kamu tahu, kamu pasti datang tepat waktu ke pemakamannya.”
Raka terdiam.
Untuk pertama kalinya malam itu, matanya berkaca-kaca.
“Aku takut, Lya.”
Aku tidak menyangka mendengarnya.
“Investor mundur. Bank menolak tambahan fasilitas. Aku panik. Maya menawarkan struktur baru.”
“Dan kamu memilih mempercayainya.”
“Aku memilih perusahaan.”
Aku menggeleng.
“Tidak, Ka. Kamu memilih dirimu sendiri.”
Aku pulang malam itu tanpa Raka.
Tiga hari berikutnya, semuanya meledak.
Pak Hendra bersama dua komisaris menolak transaksi pengalihan aset setelah menerima dokumen dari kuasa hukumku.
Bank menunda restrukturisasi.
Audit independen dimulai.
Maya mengundurkan diri sebelum audit selesai.
Adrian menghilang ke Surabaya.
Namun kejutan terbesar datang dua minggu kemudian.
Pak Surya meneleponku.
“Ada sesuatu yang harus Ibu lihat.”
Dalam audit ditemukan bahwa sebagian pembayaran kepada PT Laras Cipta Advisory memang tidak memiliki dasar pekerjaan memadai.
Tetapi ada temuan lain.
Beberapa transfer tidak disetujui Raka.
Tanda tangan digitalnya digunakan melalui akun internal milik direktur keuangan.
Orang yang memberikan akses ternyata Bu Ratna.
Raka memang mengetahui rencana pengalihan aset, tetapi ibunya dan Maya telah menyiapkan skema yang jauh lebih besar tanpa sepengetahuannya.
Mereka berencana membuat perusahaan lama gagal membayar utang.
Setelah itu aset utama akan berada di perusahaan baru.
Raka sendiri perlahan akan kehilangan kendali.
Maya bukan sedang membantu Raka mengambil perusahaan dari keluarga kami.
Dia sedang mengambil perusahaan dari Raka.
Ketika semuanya terbongkar, Raka datang ke rumah Ayah.
Aku sedang membersihkan halaman ketika dia muncul.
Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus.
“Mama mengaku,” katanya.
Aku tetap menyapu.
“Dia pikir Maya bisa membawa investor dan menyelamatkan bisnis.”
“Lalu?”
“Maya menjanjikan Mama saham di perusahaan baru.”
Aku berhenti.
Raka menunduk.
“Aku bodoh.”
“Iya.”
Dia tertawa pahit.
“Aku kira kamu akan bilang tidak.”
“Aku terlalu capek untuk menghiburmu.”
Raka duduk di bangku kayu tempat Ayah biasanya minum kopi.
“Aku sudah memutus hubungan bisnis dengan Maya. Adrian juga sudah dicopot. Aku akan ikuti audit dan membayar utang sesuai kemampuan perusahaan.”
Aku mengangguk.
“Bagus.”
“Apa itu mengubah sesuatu?”
Aku tahu apa yang dia tanyakan.
Aku duduk beberapa langkah darinya.
“Ayah pernah bilang kalau aku merasa sendirian dalam rumah tangga sendiri, aku tidak boleh takut pulang.”
Raka menutup matanya.
“Aku membuatmu merasa sendirian.”
“Iya.”
“Maaf.”
Kali ini permintaan maafnya tidak disertai alasan.
Aku menangis.
Bukan karena ingin kembali.
Melainkan karena akhirnya mendengar kalimat yang seharusnya datang jauh lebih awal.
Enam bulan kemudian, PT Mahendra Niaga masih berdiri.
Lebih kecil, tetapi sehat.
Raka menjual beberapa aset pribadinya untuk membayar sebagian kewajiban. Sahamnya terdilusi setelah restrukturisasi resmi dan transparan.
Bu Ratna tidak lagi memiliki posisi apa pun di perusahaan.
Aku mengajukan perceraian.
Raka tidak melawan.
Pada hari putusan selesai, dia menyerahkan sebuah kardus kecil kepadaku.
Di dalamnya ada botol sambal teri terakhir buatan Ayah.
“Aku menemukan ini di apartemen,” katanya.
Aku memegangnya sambil tersenyum tipis.
“Ayah selalu ingat kamu suka pedas.”
Raka menunduk.
“Itu yang paling membuatku malu.”
Aku tidak menjawab.
Setahun setelah Ayah meninggal, aku datang ke makamnya sendirian.
Aku membawa bunga dan duduk cukup lama.
Perusahaan Ayah kini dikelola profesional. Sebagian pembayaran utang dari perusahaan Raka kugunakan untuk membuat program modal usaha kecil atas nama Ayah.
Aku tidak menjadi kaya mendadak.
Aku juga tidak merasa menang.
Aku hanya mendapatkan hidupku kembali.
Sebelum pulang, aku membersihkan beberapa daun kering dari batu nisan.
“Ayah benar,” bisikku.
Angin sore bergerak pelan di antara pepohonan.
“Aku akhirnya pulang.”
Saat berdiri, ponselku berbunyi.
Sebuah pesan dari Raka.
Hari ini pembayaran terakhir sudah ditransfer. Terima kasih karena waktu itu kamu tidak menghancurkan perusahaan meskipun kamu bisa. Aku baru mengerti, Pak Damar tidak meninggalkan utang itu supaya kamu bisa membalas dendam. Beliau meninggalkannya supaya tidak ada seorang pun yang bisa membuatmu tidak punya pilihan.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Kemudian memandang nama Ayah di batu nisan.
Barulah aku memahami alasan sebenarnya Ayah tidak pernah menagih utang Raka selama bertahun-tahun.
Bukan karena dia lupa.
Bukan pula karena dia terlalu baik.
Ayah sengaja mempertahankan satu pintu terakhir untukku.
Dia tahu mungkin suatu hari aku akan membutuhkan kekuatan untuk berdiri di hadapan keluarga Raka tanpa meminta belas kasihan.
Aku memasukkan ponsel ke dalam tas.
Tidak membalas pesan Raka.
Aku berjalan meninggalkan pemakaman ketika matahari mulai turun di balik perbukitan Sleman.
Dulu aku mengira warisan terbesar dari Ayah adalah perusahaan, piutang miliaran rupiah, atau dokumen yang membuat keluarga Raka panik.
Ternyata bukan.
Warisan terbesar yang dia tinggalkan adalah satu keyakinan sederhana.
Cinta yang sehat tidak pernah membuat seseorang kehilangan pilihan.
Dan keluarga yang benar-benar mencintaimu tidak akan membangun sangkar agar kamu tetap tinggal.
Mereka akan memastikan bahwa ketika seluruh dunia menutup pintu di depanmu, kamu masih memiliki kunci untuk pulang.
