SUAMIKU MELARANGKU DATANG KE SEKOLAH ANAK KAMI KARENA DIA MALU AKU BUKAN DARI KELUARGA KAYA. SAAT AKU MENYAMAR SEBAGAI PETUGAS KEBERSIHAN, AKU BARU TAHU WANITA LAIN SUDAH MENGAMBIL TEMPATKU SEBAGAI IBUNYA

Maya tidak langsung keluar dari balik dinding.

Untuk beberapa detik, tubuhnya seperti kehilangan kemampuan untuk bergerak.

Suara Hendra masih terdengar jelas di telinganya.

“Ibu kandungmu yang bodoh itu sudah tidak ada gunanya lagi buat masa depan kita.”

Maya menatap layar ponselnya.

Rekaman masih berjalan.

Tangannya gemetar hebat, tetapi kali ini dia tidak mematikannya.

Di dalam lorong sempit itu, sesuatu dalam diri Maya akhirnya berubah.

Selama bertahun-tahun dia menerima hinaan Hendra sebagai sesuatu yang harus ditelan demi mempertahankan rumah tangga.

Dia membiarkan suaminya mengatur pakaian, pergaulan, bahkan cara dia berbicara.

Dia juga percaya ketika Hendra mengatakan bahwa semua larangan itu dilakukan demi menjaga nama baik keluarga.

Namun sekarang Maya memahami satu hal.

Hendra tidak pernah sedang menjaga keluarga mereka.

Dia sedang membangun kehidupan baru dengan menghapus Maya dari dalamnya.

Dan yang paling tidak bisa dimaafkan, Hendra menyeret Rania ke dalam kebohongan itu.

Viona membuka pintu ruang penyimpanan.

“Masuk.”

Rania menggeleng cepat.

“Tante, aku takut gelap.”

“Cuma lima belas menit.”

“Aku janji tidak akan salah lagi.”

Viona mendecakkan lidah.

“Kalau kamu mau jadi anak yang bisa dibanggakan, jangan cengeng.”

Dia hendak menarik Rania lagi ketika Maya akhirnya melangkah keluar.

“Lepaskan tangan anak saya.”

Suara Maya tidak keras.

Namun cukup untuk membuat Hendra dan Viona membeku.

Viona menoleh lebih dulu.

Matanya menyipit melihat perempuan berseragam petugas kebersihan yang berdiri beberapa meter dari mereka.

“Siapa kamu?”

Maya perlahan menurunkan maskernya.

Wajah Hendra langsung berubah pucat.

“Maya?”

Rania menatap ibunya dengan mata membesar.

“Ibu?”

Dalam satu detik, anak itu berlari memeluk Maya.

Maya berlutut dan memeluk putrinya erat.

Dia bisa merasakan tubuh Rania gemetar.

“Sudah, Sayang. Ibu di sini.”

Hendra melangkah mendekat.

“Apa-apaan ini? Kenapa kamu datang ke sini?”

Maya berdiri sambil tetap memegang tangan Rania.

“Seharusnya aku yang tanya begitu.”

Dia menatap Hendra.

“Kenapa perempuan ini memperkenalkan dirinya sebagai ibu Rania?”

Viona segera memasang wajah tenang.

“Maya, jangan salah paham. Itu cuma untuk kepentingan sosial sekolah.”

Maya tertawa pendek.

“Kepentingan sosial?”

Dia mengangkat ponselnya.

“Termasuk mengurung anak saya kalau dia salah memainkan satu nada?”

Wajah Viona menegang.

Hendra langsung mencoba meraih ponsel itu.

Maya mundur.

“Jangan sentuh.”

“Maya, matikan rekaman itu.”

“Kenapa?”

“Jangan bikin keributan di sekolah.”

Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, Maya tidak merasa takut melihat kemarahan suaminya.

“Yang membuat keributan bukan aku.”

Dia menunjuk Viona.

“Perempuan ini menyiksa anak kita.”

Lalu Maya menatap Hendra.

“Dan kamu membiarkannya.”

Hendra mengembuskan napas kasar.

“Jangan lebay. Viona cuma mendisiplinkan Rania. Anak zaman sekarang memang harus ditegasin.”

Maya menunduk kepada Rania.

“Sayang, Tante Viona pernah mengurung kamu sebelumnya?”

Rania menggigit bibir.

Matanya berpindah kepada ayahnya.

Hendra segera berkata, “Rania, jangan bicara sembarangan.”

Maya menggenggam tangan anaknya.

“Ibu ada di sini.”

Air mata Rania jatuh.

“Tiga kali.”

Maya merasa dadanya seperti ditusuk.

“Di mana?”

“Di ruang alat musik.”

Rania mulai tersedu.

“Kadang Tante Viona matikan lampunya.”

Viona langsung membantah.

“Itu bohong.”

Rania tersentak ketakutan.

Maya berdiri di depan putrinya.

“Jangan bentak dia.”

Suara mereka akhirnya menarik perhatian dua staf sekolah yang sedang melewati lorong.

Salah satunya adalah Wakil Kepala Sekolah, Ibu Ratna.

“Ada apa ini?”

Hendra segera mengubah ekspresinya.

“Ibu Ratna, ini cuma masalah keluarga.”

Namun Maya sudah terlalu lama membiarkan Hendra menentukan cerita.

Dia berjalan mendekati Ibu Ratna.

“Saya Maya Wijaya.”

Ibu Ratna terlihat bingung.

“Ibu Maya?”

“Saya ibu kandung Rania.”

Tatapan perempuan itu langsung berpindah kepada Viona.

Kebingungan berubah menjadi sesuatu yang menyerupai keterkejutan.

“Tapi selama ini…”

“Iya,” potong Maya. “Saya juga baru tahu apa yang selama ini dikatakan suami saya kepada sekolah.”

Beberapa menit kemudian, mereka dibawa ke sebuah ruang rapat kecil di dekat kantor kepala sekolah.

Rania duduk di samping Maya.

Kepala sekolah, Pak Arief, datang dengan wajah serius.

Maya menjelaskan semuanya.

Tentang larangan Hendra.

Tentang penyamaran.

Tentang pengakuan Viona di podium.

Dan tentang apa yang baru saja terjadi di belakang panggung.

Hendra berkali-kali menyela.

“Itu salah interpretasi.”

“Rania terlalu sensitif.”

“Viona cuma membantu.”

Namun kemudian Maya memutar rekaman.

Ruangan langsung sunyi.

Suara Rania yang memohon agar tidak dikurung terdengar jelas.

Lalu suara Hendra menyusul.

“Ibu kandungmu yang bodoh itu sudah tidak ada gunanya lagi buat masa depan kita.”

Pak Arief menatap Hendra dengan wajah kaku.

Viona tidak lagi berani mengangkat kepala.

Ibu Ratna akhirnya berkata pelan, “Pak Hendra, selama hampir dua tahun kami mengenal Ibu Viona sebagai pasangan Anda.”

Maya memejamkan mata sebentar.

Dua tahun.

Bukan beberapa minggu.

Bukan beberapa bulan.

Dua tahun.

Pak Arief melanjutkan.

“Formulir kegiatan sekolah beberapa kali juga ditandatangani oleh Ibu Viona sebagai wali pendamping.”

Maya langsung membuka mata.

“Ditandatangani sebagai apa?”

Ibu Ratna terlihat semakin tidak nyaman.

“Sebagai ibu sambung.”

Maya menoleh tajam kepada Hendra.

“Kamu bilang aku meninggal?”

Hendra terdiam.

Itu sudah cukup menjadi jawaban.

Rania memegang lengan Maya.

“Bu…”

Maya menatap anaknya.

“Rania pernah dengar Ayah bilang apa tentang Ibu?”

Anak itu menunduk.

“Ayah bilang Ibu sakit dan tidak mau ketemu orang.”

Maya merasakan air matanya hampir jatuh.

Namun Rania belum selesai.

“Ayah juga bilang kalau ada orang tanya, aku harus bilang Tante Viona yang lebih sering urus aku.”

Maya menatap Hendra.

Laki-laki itu bahkan tidak terlihat malu.

Dia justru tampak kesal karena kebohongannya terbongkar.

“Kamu tidak paham cara dunia bekerja, Maya.”

“Aku sangat paham sekarang.”

“Koneksi di sekolah ini penting. Orang-orang di sini investor, pengusaha, pejabat. Viona bisa masuk ke lingkungan mereka. Kamu tidak.”

Maya menatapnya beberapa saat.

Kemudian dia tersenyum kecil.

Senyum itu justru membuat Hendra terlihat tidak nyaman.

“Jadi selama ini kamu pikir aku tidak punya nilai karena aku tidak punya gelar dan tidak berasal dari keluarga kaya?”

“Jangan dipelintir.”

“Jawab.”

Hendra diam.

Maya mengangguk pelan.

“Baik.”

Dia mengambil tas sederhana yang tadi dibawakan Bik Sumi dan mengeluarkan sebuah kartu nama.

Kartu itu diletakkannya di atas meja.

Pak Arief mengambilnya.

Ekspresinya berubah.

“Yayasan Cahaya Pustaka?”

Hendra mengerutkan kening.

Maya menatap suaminya.

“Aku memang tidak menyelesaikan kuliah.”

“Tapi kamu lupa alasan aku berhenti kuliah.”

Hendra tidak menjawab.

Maya melanjutkan.

“Aku berhenti karena ayahku meninggal dan aku harus meneruskan usaha percetakannya.”

“Usaha kecil itu?” Viona tiba-tiba menyela sinis.

Maya menoleh kepadanya.

“Dulu kecil.”

Dia kembali melihat Hendra.

“Sekarang perusahaan itu mencetak buku untuk lebih dari seratus sekolah dan menjalankan program perpustakaan gratis lewat Yayasan Cahaya Pustaka.”

Pak Arief menatap Maya semakin serius.

Maya tersenyum tipis.

“Yayasan yang bulan lalu menyumbang renovasi perpustakaan sekolah ini.”

Ruangan mendadak hening.

Wajah Hendra berubah.

“Kamu?”

Maya mengangguk.

“Donasi itu selama ini memang menggunakan nama perusahaan, bukan nama pribadiku.”

Pak Arief tampak terkejut.

“Jadi PT Pustaka Nusa itu milik Ibu?”

“Enam puluh persen sahamnya milik saya.”

Untuk pertama kalinya, kesombongan di wajah Hendra benar-benar hilang.

Selama sepuluh tahun pernikahan, Hendra hanya mengetahui bahwa Maya mendapat penghasilan dari perusahaan warisan keluarga.

Dia tidak pernah tertarik mencari tahu lebih jauh.

Dia menganggap bisnis percetakan itu terlalu kecil dibandingkan perusahaan konsultan properti miliknya.

Maya juga tidak pernah merasa perlu membuktikan apa pun.

Dia lebih memilih menggunakan keuntungan perusahaan untuk program literasi dan investasi jangka panjang.

Ironisnya, uang yang Hendra gunakan untuk membeli rumah Pondok Indah mereka sebagian besar berasal dari hasil penjualan tanah milik keluarga Maya.

Maya menatap suaminya.

“Dan ada satu hal lagi yang kamu mungkin lupa.”

Hendra mulai terlihat gelisah.

“Rumah tempat kita tinggal bukan atas nama kamu.”

Viona langsung menoleh kepada Hendra.

Maya melanjutkan.

“Tanahnya milik saya sejak sebelum menikah.”

“Maya, jangan bikin ancaman.”

“Aku tidak mengancam.”

Maya mengambil ponselnya.

“Aku hanya memberitahu fakta.”

Setelah kejadian hari itu, sekolah langsung membuka penyelidikan internal.

Viona untuk sementara dilarang mengajar di area sekolah sampai pemeriksaan selesai.

Pihak sekolah juga menghubungi psikolog anak untuk mengevaluasi kondisi Rania.

Namun, bagi Maya, persoalannya tidak berhenti di sana.

Malam itu dia tidak pulang bersama Hendra.

Dia membawa Rania ke apartemen milik adiknya di kawasan Kuningan.

Rania baru benar-benar bicara setelah mereka berada berdua di kamar.

“Ibu marah sama aku?”

Maya terkejut.

“Kenapa Ibu harus marah?”

“Karena aku pernah bilang Ibu jangan datang.”

Maya memeluk putrinya.

“Sayang, Ibu cuma sedih karena kamu harus menanggung semua ini sendirian.”

Rania menangis.

“Ayah bilang kalau aku cerita, Ibu akan pergi.”

Maya memejamkan mata sambil mencium kepala anaknya.

“Ibu tidak pergi.”

Malam itu Rania mengungkap lebih banyak hal.

Viona sudah beberapa kali menginap di rumah saat Maya sedang mengunjungi ibunya di Bandung.

Hendra selalu mengatakan bahwa Viona datang untuk latihan biola.

Namun setelah Rania tidur, dia pernah melihat ayahnya memeluk perempuan itu di dapur.

Lebih buruk lagi, Rania mengaku bahwa beberapa bulan terakhir Viona sering memaksanya memanggil “Mama” ketika mereka sedang berada di acara sekolah.

Jika menolak, Viona mengatakan Rania akan membuat ayahnya malu.

Maya merekam pengakuan itu bukan untuk menyebarkannya, melainkan untuk diserahkan kepada pengacaranya.

Keesokan paginya, Maya menghubungi Dian, sahabat lamanya yang kini menjadi pengacara keluarga.

Selama hampir empat jam, mereka membongkar dokumen.

Dan di situlah Maya menemukan pengkhianatan kedua.

Bukan hanya perselingkuhan.

Hendra ternyata sedang berusaha menjaminkan sebagian aset perusahaan Maya untuk mendapatkan pinjaman bisnis.

Beberapa dokumen memang belum sah karena membutuhkan tanda tangan Maya.

Namun, terdapat draf surat kuasa dengan tanda tangan yang menyerupai tanda tangannya.

Dian menatap dokumen itu lama.

“Kalau ini bukan tanda tanganmu, kita punya masalah besar.”

“Bukan.”

“Berarti ada dugaan pemalsuan.”

Maya menatap kertas itu.

Mendadak semuanya terasa masuk akal.

Selama beberapa bulan terakhir Hendra berkali-kali memintanya menandatangani dokumen rumah tangga tanpa memberikan penjelasan jelas.

Maya selalu menolak karena merasa ada yang aneh.

Mungkin itulah sebabnya Hendra semakin berusaha menyingkirkannya.

Dua hari kemudian, Maya mengajukan gugatan cerai.

Hendra datang ke apartemen adiknya malam itu.

Dia memukul pintu berkali-kali.

“Maya, buka!”

Maya membuka setelah memastikan Dian dan petugas keamanan gedung berada tidak jauh.

Hendra masuk dengan wajah marah.

“Kamu mau menghancurkan keluarga kita cuma karena masalah sekolah?”

Maya menatapnya.

“Masalah sekolah?”

Dia menyerahkan salinan dokumen.

“Ini tanda tangan siapa?”

Hendra langsung pucat.

“Kamu bongkar barang-barangku?”

“Jawab.”

Hendra terdiam.

Beberapa detik kemudian dia mencoba mengubah nada.

“Maya, aku sedang berusaha menyelamatkan bisnis.”

“Dengan memalsukan tanda tanganku?”

“Aku akan mengembalikan semuanya.”

“Dan Viona?”

Hendra mengusap wajah.

“Itu cuma…”

“Jangan.”

Maya menggeleng.

“Aku sudah terlalu lama mendengar versi cerita yang kamu buat.”

Hendra mulai panik.

Dia menatap Maya seperti baru pertama kali menyadari bahwa perempuan di depannya bukan lagi istri yang bisa diperintah dengan satu kalimat kasar.

“Pikirkan Rania.”

Maya menatapnya dingin.

“Aku sedang memikirkan Rania.”

Enam bulan kemudian, proses perceraian mereka masih berjalan ketika kasus pemalsuan dokumen Hendra mulai memasuki tahap pemeriksaan.

Perusahaan konsultasinya kehilangan dua investor besar setelah masalah keuangan internal terbongkar.

Viona juga tidak lagi mengajar di Bina Bangsa School.

Namun, bagi Maya, perubahan terbesar bukanlah kehancuran hidup Hendra.

Perubahan terbesar terjadi suatu sore ketika dia datang ke sekolah mengenakan gaun biru tua yang dulu dihina suaminya.

Gaun diskon dari toko kecil di Tebet itu.

Hari itu Rania kembali tampil memainkan biola.

Ketika Maya masuk ke aula, beberapa orang tua mengenalinya dan menyapa.

Namun Maya tidak peduli pada siapa yang tahu namanya atau berapa banyak orang yang mengetahui bisnisnya.

Dia hanya duduk di kursi barisan kedua.

Rania naik ke panggung.

Anak itu terlihat lebih tenang daripada enam bulan sebelumnya.

Dia memainkan lagu sederhana.

Di tengah permainan, satu nada terdengar sedikit meleset.

Maya menahan napas.

Rania berhenti sejenak.

Kemudian anak itu melihat ke arah ibunya.

Maya tersenyum dan mengangkat dua ibu jari.

Rania tersenyum kembali.

Lalu dia melanjutkan permainan sampai selesai.

Tepuk tangan memenuhi aula.

Namun Rania tidak langsung membungkuk seperti murid-murid lain.

Dia mengambil mikrofon kecil di samping panggung.

“Ibu guru bilang hari ini kami boleh mengucapkan terima kasih kepada orang yang paling membantu kami.”

Maya menatap putrinya.

Rania melanjutkan.

“Aku mau bilang terima kasih kepada ibuku.”

Beberapa orang mulai menoleh kepada Maya.

Rania tersenyum.

“Ibuku bilang salah satu nada tidak menentukan seluruh lagu.”

Mata Maya mulai panas.

“Dan satu orang yang bilang kita tidak cukup baik juga tidak menentukan siapa kita.”

Aula menjadi sangat sunyi.

Rania mengangkat biolanya.

“Dulu aku takut kalau salah.”

“Sekarang aku tahu aku boleh salah dan tetap disayang.”

Maya menutup mulut menahan tangis.

Setelah acara selesai, Rania berlari turun dari panggung dan memeluknya.

“Ibu lihat aku?”

Maya memeluknya erat.

“Dari awal sampai akhir.”

Rania tersenyum lebar.

Maya baru menyadari saat itu bahwa selama bertahun-tahun dia mengira dirinya bertahan demi anak.

Padahal, tanpa disadari, dia sedang mengajari Rania bahwa penghinaan adalah harga yang harus dibayar untuk mempertahankan sebuah keluarga.

Hari ketika Maya akhirnya pergi bukanlah hari dia menghancurkan rumah tangganya.

Itulah hari pertama dia benar-benar menyelamatkannya.

Bukan rumah tangga yang dibangun dari kebohongan Hendra.

Melainkan sebuah keluarga kecil yang akhirnya memiliki ruang untuk tumbuh tanpa rasa takut.

Maya memang tidak berasal dari keluarga kaya.

Dia tidak memiliki gelar bergengsi.

Dia tidak berbicara dengan aksen yang menurut Hendra cukup pantas untuk lingkungan elite.

Namun pada akhirnya, bukan kekayaan, jabatan, atau pakaian mahal yang membuat Rania bangga menyebut seseorang sebagai ibunya.

Melainkan satu hal yang selama ini tidak pernah bisa dibeli Hendra dengan uang sebanyak apa pun.

Keberanian untuk tetap berdiri di sisi anaknya ketika seluruh dunia mencoba membuatnya merasa tidak layak berada di sana.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang