SUAMIKU MEMBUANG OBATKU DAN PERGI SELAMA 74 HARI BERSAMA KELUARGANYA, MENUNGGU KEMATIANKU. SAAT DIA KEMBALI DENGAN 12 KOPER, AKU SUDAH MENANDATANGANI SURAT YANG AKAN MENGHANCURKAN HIDUPNYA!

Suara benturan keras terdengar dari arah pintu utama penthouse sekitar empat puluh menit setelah Arini menelepon ayahnya.

Saat itu kesadarannya sudah mulai naik turun.

Tubuhnya menggigil hebat di bawah selimut tipis. Napasnya pendek, tenggorokannya kering, dan setiap detik terasa seperti tubuhnya sedang dihantam dari dalam.

Dari kejauhan, ia mendengar suara seseorang berteriak.

“Bu Arini! Kami dari keamanan gedung!”

Lalu suara lain menyusul.

“Pak, sistem kunci digitalnya sudah diambil alih. Tapi ada penguncian manual dari dalam panel.”

Arini ingin menjawab, tetapi bibirnya hanya mampu mengeluarkan suara lirih.

Beberapa menit kemudian terdengar suara alat menghantam pintu.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Pintu akhirnya terbuka.

Cahaya senter menerobos kamar yang gelap.

Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun masuk paling depan dengan wajah pucat dan rahang mengeras.

Raden Wijaya.

Ayah Arini.

Pria yang selama bertahun-tahun hanya dikenal publik sebagai pendiri Wijaya Capital, salah satu kelompok investasi terbesar di Indonesia.

Namun bagi Arini, malam itu ia bukan konglomerat.

Ia hanya seorang ayah yang melihat putrinya hampir mati.

“Arini!”

Raden berlari mendekat.

Ketika melihat wajah anaknya yang pucat dan bibirnya yang mulai kebiruan, ekspresinya berubah total.

Ia menoleh kepada dokter pribadi yang ikut datang bersamanya.

“Tolong anak saya.”

Tim medis segera memasang oksigen dan infus darurat.

Seorang dokter memeriksa kondisi Arini sambil menggeleng pelan.

“Kalau terlambat beberapa jam lagi, kondisinya bisa jauh lebih buruk.”

Raden tidak menjawab.

Tatapannya berhenti pada botol obat kosong yang tersusun di meja.

Ia mengambil satu botol, membacanya, lalu melihat ke kamar mandi.

“Ini dibuang?”

Arini mengangguk lemah.

“Dimas.”

Satu kata itu cukup.

Raden memejamkan mata beberapa detik.

Selama tujuh tahun pernikahan Arini dan Dimas, ia tidak pernah ikut campur.

Bahkan ketika beberapa orang kepercayaannya mengatakan bahwa Dimas mulai menggunakan fasilitas perusahaan secara berlebihan, Raden memilih diam.

Arini selalu membela suaminya.

“Dimas cuma sedang belajar, Yah.”

“Aku ingin dia merasa dipercaya.”

“Aku tidak mau dia merasa hidup di bawah bayang-bayang keluarga kita.”

Raden menghormati keputusan putrinya.

Malam itu, ia menyesali semua penghormatan itu.

Arini dibawa ke rumah sakit swasta di Jakarta Selatan.

Dua hari pertama, ia hampir tidak mampu melakukan apa pun.

Demamnya tinggi.

Fungsi ginjalnya sempat menurun.

Peradangannya meningkat drastis akibat penghentian obat secara tiba-tiba.

Namun perlahan, kondisi Arini mulai stabil.

Pada malam kelima, ia akhirnya mampu duduk sendiri.

Raden datang membawa sebuah map hitam.

Ia meletakkannya di atas meja kecil dekat ranjang.

“Ayah sudah menyuruh orang memeriksa semuanya.”

Arini menatap map itu.

“Semuanya?”

“Rekening perusahaan. Rekening pribadimu. Kartu kredit. Aset. Transaksi Dimas. Perjalanan mereka. Bahkan percakapan internal beberapa staf yang selama ini bekerja langsung di bawahnya.”

Arini menarik napas panjang.

“Ada apa?”

Raden membuka map.

Di dalamnya terdapat puluhan lembar laporan.

Selama tiga tahun terakhir, Dimas ternyata telah memindahkan dana perusahaan melalui beberapa vendor fiktif.

Jumlahnya mencapai puluhan miliar rupiah.

Sebagian digunakan untuk membeli apartemen atas nama Siska.

Sebagian lagi membayar utang pribadi Bu Lastri.

Ada pembelian mobil mewah, jam tangan, perjalanan, hingga investasi atas nama pihak ketiga.

Yang paling mengejutkan, dua minggu sebelum pergi ke Eropa, Dimas bertemu seorang notaris.

Ia sedang mempersiapkan dokumen yang akan digunakan jika Arini meninggal.

Dimas ingin mempercepat proses penetapan waris dan mengamankan kendali atas saham Arini sebelum keluarga Wijaya mengambil tindakan.

Arini membaca semuanya tanpa suara.

Anehnya, ia tidak menangis.

Ada titik tertentu ketika kesedihan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin.

“Kapan Ayah mengetahui semua ini?”

“Sebagian baru ketahuan setelah malam itu.”

“Kenapa tidak pernah ada yang bilang?”

“Ayah pernah mencoba.”

Arini terdiam.

Raden menatapnya tajam.

“Kamu selalu bilang pernikahanmu baik-baik saja.”

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada tuduhan apa pun.

Karena Arini tahu ayahnya benar.

Ia sudah melihat banyak tanda.

Dimas mulai merendahkannya di depan keluarga.

Dimas menggunakan uangnya tanpa izin.

Bu Lastri memperlakukannya seperti mesin ATM.

Siska pernah menggunakan kartu kredit tambahan milik Arini untuk membeli tas hampir dua ratus juta rupiah.

Setiap kali Arini protes, Dimas selalu mengatakan hal yang sama.

“Kita keluarga.”

Arini akhirnya menyadari bahwa bagi mereka, keluarga berarti hak untuk mengambil tanpa batas.

“Ayah ingin aku melakukan apa?” tanyanya.

Raden menyandarkan tubuh.

“Bukan apa yang Ayah ingin.”

Ia mendorong map itu ke arah Arini.

“Pertanyaannya sekarang, kamu ingin melakukan apa?”

Arini menatap dokumen-dokumen itu lama sekali.

Kemudian ia berkata pelan.

“Aku ingin mereka pulang dengan keyakinan bahwa semuanya masih seperti dulu.”

Raden tidak tersenyum.

Namun sorot matanya berubah.

Sejak hari itu, Arini mulai bekerja.

Bukan dari kantor.

Bukan di depan publik.

Ia bekerja dari kamar rumah sakit, lalu dari rumah keluarga Wijaya setelah dokter mengizinkannya pulang.

Langkah pertama adalah mengambil kembali kendali perusahaan.

Secara hukum, mayoritas saham PT Mahakarya Utama masih dimiliki Arini melalui struktur kepemilikan keluarganya.

Dimas hanya menjabat sebagai Direktur Utama berdasarkan keputusan pemegang saham.

Ia bukan pemilik mayoritas.

Namun bertahun-tahun tampil di media membuat Dimas lupa perbedaan antara jabatan dan kepemilikan.

Rapat pemegang saham luar biasa diadakan secara tertutup.

Dimas resmi diberhentikan.

Aksesnya terhadap rekening perusahaan dibekukan.

Kartu kredit korporatnya dibatalkan.

Seluruh otorisasi tanda tangan dicabut.

Namun berita itu tidak diumumkan kepada publik.

Arini sengaja menunggu.

Ia ingin Dimas tetap menikmati liburannya.

Hari ke-18, Dimas mengirim foto dari Swiss.

Dalam foto itu, ia berdiri memakai mantel mahal sambil tersenyum.

Pesannya singkat.

Semoga kamu masih bertahan.

Arini membaca pesan itu dari nomor baru.

Tidak dibalas.

Hari ke-31, kartu kredit Dimas mulai ditolak.

Ia menelepon bagian keuangan perusahaan berkali-kali.

Staf yang sudah menerima instruksi hanya menjawab bahwa sistem sedang diperbarui.

Dimas marah.

Ia menghubungi sekretaris pribadinya.

Tidak aktif.

Menghubungi CFO.

Tidak dijawab.

Namun karena masih memiliki uang tunai dan beberapa kartu pribadi, perjalanan mereka tetap berlanjut.

Hari ke-46, Bu Lastri mulai mengeluh.

“Kenapa rekening transfer bulanan Ibu tidak masuk?”

Dimas berusaha tenang.

“Mungkin sistem bank.”

Hari ke-52, cicilan apartemen Siska gagal terbayar.

Hari ke-59, sebuah surat elektronik masuk ke akun Dimas dari bank.

Fasilitas kreditnya ditangguhkan.

Siska mulai panik.

“Kak, sebenarnya ada apa di Jakarta?”

Dimas menatap layar ponselnya dengan wajah tegang.

Dalam hatinya, muncul kemungkinan yang tidak ingin diakuinya.

Arini masih hidup.

Tetapi ia segera menghapus pikiran itu.

Tidak mungkin.

Tanpa obat, listrik, air, dan komunikasi, Arini seharusnya tidak mampu bertahan lama.

“Begitu pulang semuanya akan beres,” katanya.

Hari ke-74 akhirnya tiba.

Pesawat mereka mendarat di Bandara Soekarno-Hatta sore hari.

Dimas, Bu Lastri, dan Siska keluar dari terminal dengan dua belas koper besar.

Mereka terlihat lelah tetapi masih membawa barang-barang belanjaan mahal dari berbagai kota Eropa.

Dimas mencoba memesan mobil perusahaan.

Tidak ada yang datang.

Ia menelepon sopir.

Nomornya tidak aktif.

Akhirnya mereka menggunakan taksi menuju Mega Kuningan.

Sepanjang perjalanan, Dimas semakin gelisah.

Ketika mobil berhenti di depan gedung penthouse, ia langsung melihat dua hal yang membuat darahnya serasa berhenti mengalir.

Mobil sport miliknya tidak ada.

Mobil SUV milik Siska juga tidak ada.

Petugas keamanan di lobi yang biasanya menyambutnya dengan hormat kini hanya berdiri tegak tanpa senyum.

Dimas mendekat.

“Bawa koper kami ke atas.”

Petugas itu menatapnya.

“Maaf, Pak. Nama Bapak sudah tidak terdaftar sebagai penghuni.”

Wajah Dimas mengeras.

“Apa?”

Bu Lastri langsung menyela.

“Jangan kurang ajar! Anak saya pemilik penthouse di atas!”

Petugas keamanan menggeleng.

“Pemilik unit tercatat atas nama Ibu Arini Wijaya.”

Dimas kehilangan kesabaran.

“Istri saya!”

Seorang perempuan berseragam manajemen gedung datang menghampiri.

“Pak Dimas?”

“Iya.”

Ia menyerahkan sebuah amplop.

“Ini dititipkan untuk Bapak.”

Dimas membuka amplop itu.

Di dalamnya terdapat pemberitahuan pencabutan akses.

Ia membaca cepat.

Lalu wajahnya berubah.

“Tidak mungkin.”

Siska mulai panik.

“Kak?”

Dimas tidak menjawab.

Ia meninggalkan koper-koper di lobi dan berlari menuju lift.

Petugas keamanan mencoba menghentikan, tetapi pada saat yang sama pintu lift khusus terbuka.

Seorang pria bersetelan gelap berdiri di dalam.

“Silakan, Pak Dimas.”

Dimas tidak mengenalnya.

Namun karena pintu terbuka, ia langsung masuk.

Bu Lastri dan Siska ikut menyusul.

Lift naik menuju lantai tertinggi.

Ketika pintu terbuka, penthouse terlihat berbeda.

Beberapa foto keluarga Dimas sudah tidak ada.

Barang-barang Bu Lastri telah dipindahkan.

Namun sofa, meja, dan dekorasi utama masih sama.

Di ruang tengah, Arini duduk dengan tenang.

Tubuhnya masih lebih kurus dari sebelumnya.

Namun wajahnya tidak lagi pucat.

Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana panjang hitam.

Di hadapannya terdapat beberapa orang.

Raden Wijaya.

Dua pengacara.

Seorang notaris.

Dan seorang penyidik yang tidak dikenal Dimas.

Bu Lastri berhenti melangkah.

Wajahnya langsung kehilangan warna.

“Kamu… hidup?”

Arini menatapnya.

Kalimat itu terasa jauh lebih jujur daripada ucapan apa pun.

Mereka memang berharap dirinya mati.

Dimas memaksakan senyum.

“Rin.”

Ia berjalan mendekat.

“Aku bisa jelaskan semuanya.”

Arini tidak bergerak.

“Duduk.”

Nada suaranya datar.

Dimas berhenti.

“Aku suamimu.”

“Untuk sementara.”

Dimas membeku.

Salah satu pengacara kemudian menyerahkan setumpuk dokumen.

“Pak Dimas Prakoso, hari ini kami menyampaikan beberapa pemberitahuan resmi.”

Dimas mulai membaca.

Pemberhentian sebagai Direktur Utama.

Pencabutan seluruh kewenangan perusahaan.

Tuntutan pengembalian dana.

Pelaporan dugaan penggelapan.

Permohonan perceraian.

Permohonan pembekuan beberapa aset.

Serta laporan polisi terkait tindakan yang menyebabkan kondisi kesehatan Arini berada dalam bahaya serius.

Tangan Dimas gemetar.

“Kamu gila.”

Arini mengangkat alis.

“Yang membuang obat orang sakit lalu mematikan air dan listrik, siapa?”

“Aku sedang emosi!”

“Lalu mengganti kode pintu?”

Dimas diam.

“Lalu membawa ponselku?”

Tidak ada jawaban.

“Lalu memberitahu ibumu bahwa kalau aku mati, kalian akan mengambil asetku?”

Bu Lastri langsung berbicara.

“Kami cuma bercanda.”

Raden akhirnya mengeluarkan suara.

“Bercanda?”

Ia berdiri.

Untuk pertama kalinya Dimas menatap ayah Arini tanpa bisa mempertahankan kesombongannya.

Raden berjalan mendekat.

“Anak saya ditemukan dengan kondisi yang bisa berujung pada kerusakan organ. Dokter sudah membuat laporan lengkap.”

Dimas menelan ludah.

“Pak, ini urusan suami istri.”

“Tidak lagi.”

Arini kemudian mengambil satu dokumen yang sejak tadi berada di depannya.

Inilah dokumen yang paling penting.

Dimas menatapnya.

“Apa itu?”

Arini menjawab tenang.

“Pengalihan seluruh saham pengendali Mahakarya Utama dari kepemilikan pribadi saya ke holding keluarga Wijaya.”

Dimas terlihat tidak memahami.

Arini melanjutkan.

“Artinya, bahkan kalau sesuatu terjadi kepada saya mulai hari ini, kamu tidak akan pernah mendapatkan kendali atas perusahaan.”

Wajah Dimas benar-benar berubah.

Arini mengambil pena.

Kemudian menandatangani halaman terakhir.

Satu goresan.

Sederhana.

Tenang.

Namun Dimas melihat seluruh kehidupan yang ia bangun runtuh di depan matanya.

“Jangan.”

Untuk pertama kalinya suaranya terdengar kecil.

Arini meletakkan pena.

“Terlambat.”

Bu Lastri mendadak menangis.

“Arini, pikirkan keluarga.”

Arini menatap perempuan itu.

“Ketika saya demam empat puluh derajat, Ibu memilih Paris.”

Bu Lastri terdiam.

Siska ikut memohon.

“Aku cuma ikut Kak Dimas.”

Arini menoleh kepadanya.

“Dan laptopku?”

Siska tidak mampu menjawab.

“Power bank?”

Sunyi.

“Ponsel?”

Siska menunduk.

Dimas tiba-tiba kehilangan kendali.

Ia berdiri dan menunjuk Arini.

“Kamu pikir kamu bisa menghancurkan hidupku begitu saja?”

Seorang petugas segera bergerak maju.

Namun Arini mengangkat tangan.

Ia menatap Dimas lurus-lurus.

“Aku tidak menghancurkan hidupmu.”

Dimas tertawa pahit.

“Lalu ini apa?”

“Aku hanya berhenti membiayainya.”

Kalimat itu membuat ruangan sunyi.

Arini berdiri perlahan.

Kakinya masih belum sepenuhnya kuat, tetapi kali ini ia berdiri tanpa bantuan siapa pun.

“Rumah ini milikku.”

Ia menunjuk dokumen di meja.

“Perusahaan itu milik keluargaku.”

Tatapannya berpindah kepada Bu Lastri dan Siska.

“Mobil yang kalian pakai dibeli dengan uangku.”

Kemudian kembali kepada Dimas.

“Jabatan yang membuatmu dihormati orang adalah jabatan yang kuberikan.”

Ia menarik napas.

“Selama bertahun-tahun aku mengira mencintai seseorang berarti membuat hidupnya lebih mudah.”

Mata Arini berkaca-kaca, tetapi suaranya tidak goyah.

“Ternyata kalau kita terus memberikan segalanya kepada orang yang salah, suatu hari mereka akan lupa bahwa semua itu pernah diberikan.”

Dimas berdiri diam.

Tidak ada lagi kalimat yang bisa menyelamatkannya.

Beberapa bulan kemudian, proses hukum berjalan.

Sejumlah aset yang dibeli menggunakan dana perusahaan disita sementara.

Audit menemukan lebih banyak transaksi mencurigakan daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Kasus upaya membahayakan Arini juga masuk proses penyidikan berdasarkan rekaman CCTV koridor, data akses gedung, keterangan dokter, serta rekaman panggilan darurat dari telepon lama Arini.

Perceraian mereka selesai beberapa waktu kemudian.

Dimas kehilangan jabatannya.

Ia kehilangan akses terhadap kehidupan mewah yang selama ini dianggap sebagai miliknya sendiri.

Bu Lastri pindah dari rumah besar yang selama bertahun-tahun biaya operasionalnya dibayar Arini.

Siska menjual sebagian barang bermereknya untuk menutup utang pribadi.

Namun kejutan terbesar baru terungkap setahun kemudian.

Saat sebuah majalah bisnis mewawancarai Arini tentang perubahan besar di Mahakarya Utama, reporter bertanya satu hal.

“Apa keputusan terbesar yang Ibu buat setelah melewati semua kejadian itu?”

Arini tersenyum.

Orang-orang mengira ia akan menjawab perceraian.

Atau pemberhentian Dimas.

Atau restrukturisasi perusahaan.

Ternyata bukan.

“Saya membuat sebuah yayasan.”

“Yayasan apa?”

“Yayasan untuk membantu pasien perempuan dengan penyakit kronis yang terjebak dalam kekerasan domestik dan ketergantungan finansial.”

Reporter itu terdiam.

Arini memandang keluar jendela.

“Dulu saya punya uang, perusahaan, rumah, dan pendidikan. Tapi tetap saja saya hampir mati karena terlalu lama percaya kepada orang yang salah.”

Ia tersenyum tipis.

“Bayangkan mereka yang tidak punya apa-apa.”

Di meja kerja Arini, masih tersimpan ponsel lipat tua yang menyelamatkan hidupnya malam itu.

Baterainya sudah lama dilepas.

Layarnya sudah kusam.

Namun Arini tidak pernah membuangnya.

Bukan karena benda itu mahal.

Melainkan karena ponsel tua itu mengingatkannya pada sebuah kebenaran yang tidak pernah lagi ia lupakan.

Kadang-kadang hidup seseorang tidak berubah ketika ia mendapatkan lebih banyak kekuatan.

Hidupnya berubah ketika ia akhirnya berani menggunakan kekuatan yang sebenarnya sudah ia miliki sejak awal.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang