Maya tidak langsung bergerak.
Ia berdiri di bawah gerimis dengan satu tangan menggenggam map dan tangan lain menarik Rizky sedikit ke belakang tubuhnya.
Di seberang jalan, Herlina masih duduk di dalam sedan hitam.
Tatapan perempuan itu tidak lagi seperti seorang ibu mertua yang sedang mengawasi menantunya yang dianggap rapuh.
Tatapan itu seperti seseorang yang baru melihat rahasia tiga tahun muncul dari tanah.
Maya menunduk sedikit kepada Rizky.
“Rizky, dengarkan Tante. Kamu jangan pulang lewat jalan biasa.”
Anak itu terlihat bingung.
“Kenapa?”
“Telepon nenekmu. Bilang kita akan bertemu di tempat lain. Jangan sebut lokasi rumahmu.”
Rizky memandang mobil hitam di seberang jalan, lalu seolah memahami bahwa permainan yang selama ini tidak ia mengerti ternyata lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan.
Maya mengeluarkan ponsel dan memesan taksi daring dari pintu belakang pemakaman.
Mereka berbalik.
Namun baru berjalan beberapa langkah, suara Herlina terdengar dari belakang.
“Maya.”
Langkah Maya berhenti.
Herlina sudah turun dari mobil.
Ia berjalan mendekat tanpa payung, membiarkan gerimis membasahi rambut dan blazer mahalnya.
“Mau ke mana?”
Maya menoleh perlahan.
“Kenapa Ibu mengikuti saya?”
“Siapa anak itu?”
Pertanyaan Herlina terlalu cepat.
Tidak ada sapaan.
Tidak ada penjelasan mengapa ia berada di sana.
Hanya satu pertanyaan.
Siapa anak itu.
Maya tersenyum tipis.
“Anak yang suka wingko babat.”
Wajah Herlina menegang.
“Jangan bermain-main denganku.”
“Justru selama tiga tahun saya yang dipermainkan.”
Herlina melirik Rizky lagi.
“Pulanglah, Nak. Ini urusan keluarga.”
Rizky merapat ke Maya.
Maya melihat reaksi itu.
Lalu sesuatu dalam dirinya berubah.
Selama bertahun-tahun ia selalu menahan diri ketika menghadapi Herlina. Ia menghormatinya karena perempuan itu adalah ibu Aditya. Ia menerima hinaan, tuduhan, bahkan pemeriksaan psikiater yang dipaksakan kepadanya demi menjaga nama keluarga.
Pagi itu, rasa hormat tersebut akhirnya mati.
“Kalau Ibu menyentuh anak ini,” kata Maya pelan, “saya akan pastikan seluruh Surabaya tahu kenapa Ibu begitu takut kepada seorang anak sepuluh tahun.”
Herlina membeku.
Maya menggandeng Rizky dan berjalan pergi.
Kali ini Herlina tidak mengejar.
Dua puluh menit kemudian, Maya dan Rizky berada di dalam mobil menuju kawasan pesisir di sebelah timur Surabaya.
Sepanjang perjalanan, Maya mengirim satu pesan kepada seseorang yang sudah lama tidak ia hubungi.
Namanya Raka Santoso.
Dulu Raka adalah kepala bagian hukum Samudra Pacific sekaligus sahabat dekat Aditya.
Setelah Bimo mengambil alih perusahaan, Raka mengundurkan diri karena menolak menandatangani laporan perubahan kepemilikan saham.
Maya menulis singkat.
Aku mungkin menemukan Aditya. Jangan telepon. Datang ke lokasi yang kukirim. Bawa orang yang bisa dipercaya dan kamera.
Balasan Raka masuk kurang dari semenit.
Aku datang.
Rumah nenek Rizky berada di sebuah kampung nelayan dekat kawasan mangrove.
Bangunannya sederhana, berdinding semen yang catnya mulai terkelupas, dengan halaman kecil penuh pot tanaman.
Seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di depan pintu.
Begitu melihat Maya, ia langsung memeluk Rizky.
“Kamu membawa siapa?”
“Nek, ini Tante Maya.”
Perempuan itu menatap Maya lama.
“Maya?”
Nama itu terdengar seperti sesuatu yang dikenalnya.
Maya merasakan jantungnya kembali berdegup cepat.
“Saya mencari seseorang yang tinggal di sini.”
Wajah perempuan tua itu berubah.
Ia menutup pintu setengah.
“Tidak ada siapa-siapa.”
“Nenek,” kata Rizky, “Tante Maya istrinya Paman Sembilan.”
Keheningan jatuh.
Perempuan itu memejamkan mata beberapa detik.
Kemudian ia membuka pintu.
“Masuk.”
Namanya Sulastri.
Tiga tahun sebelumnya, suaminya yang masih hidup ketika itu menemukan seorang pria tergeletak di lumpur dekat hutan bakau.
Tubuhnya penuh luka bakar dan lebam.
Beberapa tulang rusuknya patah.
Pria itu hampir tidak bisa berbicara.
Mereka membawanya ke klinik kecil menggunakan perahu nelayan.
Dokter mengatakan ia mengalami cedera kepala berat.
Selama berminggu-minggu pria itu bahkan tidak tahu siapa dirinya.
“Kenapa tidak dilaporkan ke polisi?” tanya Maya.
Sulastri menunduk.
“Kami mencoba.”
Ia membuka laci lemari dan mengeluarkan sebuah amplop plastik.
Di dalamnya ada fotokopi laporan lama.
“Kami melapor ke pos polisi dua hari setelah menemukan dia. Tiga hari kemudian, ada dua lelaki datang ke rumah.”
Maya menegang.
“Mereka bilang pria itu buronan kasus penggelapan. Mereka bilang kalau kami menyembunyikannya, keluarga kami bisa ikut ditangkap.”
“Siapa mereka?”
“Saya tidak tahu. Tapi mereka datang dengan mobil perusahaan.”
“Perusahaan apa?”
Sulastri menatap Maya.
“Samudra Pacific.”
Maya merasa tengkuknya dingin.
“Lalu?”
“Suami saya curiga. Kami pindahkan pria itu ke rumah saudara di Gresik selama beberapa bulan. Setelah suami saya meninggal, dia kembali tinggal di sini.”
Maya sulit bernapas.
“Di mana dia sekarang?”
Sulastri menunjuk sebuah pintu di belakang rumah.
“Biasanya di kebun.”
Maya berjalan keluar melalui pintu belakang.
Setiap langkah terasa semakin berat.
Di bawah pohon mangga, seorang pria sedang memperbaiki jaring ikan.
Tubuhnya lebih kurus dibandingkan tiga tahun lalu.
Rambutnya sedikit panjang.
Ada bekas luka bakar di sisi leher.
Maya berhenti.
Pria itu mendengar suara langkah.
Ia menoleh.
Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak.
Maya bahkan tidak mampu mengeluarkan suara.
Wajah itu memang berubah.
Lebih tua.

Lebih letih.
Namun ia mengenali garis rahangnya.
Tatapan matanya.
Cara alisnya sedikit terangkat ketika bingung.
“Aditya.”
Pria itu menjatuhkan jaring.
Tubuhnya menegang.
Ia memandang Maya dengan ketakutan sekaligus sesuatu yang jauh lebih dalam.
“Siapa kamu?”
Pertanyaan itu menghancurkan hati Maya lebih kuat daripada batu nisan kosong mana pun.
Ia melangkah mendekat.
Pria itu mundur.
“Jangan.”
Maya berhenti.
Air matanya turun.
Ia tidak berusaha menyentuhnya.
“Saya Maya.”
Pria itu menatapnya.
“Maya…”
Nama itu keluar seperti serpihan ingatan.
Tangannya mulai gemetar.
“Saya istri kamu.”
Aditya mencengkeram kepalanya.
Potongan-potongan memori datang seperti kilatan.
Sebuah kapal.
Api.
Bau bahan bakar.
Suara seseorang berteriak.
Kemudian wajah Bimo.
Aditya tersandung ke belakang.
“Jangan, Bimo…”
Maya segera mendekat, tetapi tetap menjaga jarak.
Aditya tiba-tiba menarik kerah bajunya.
Di bahu kanannya terlihat bekas luka berbentuk bulan sabit.
Maya menangis tanpa suara.
Tidak ada lagi keraguan.
Suaminya hidup.
Namun pertemuan mereka hanya berlangsung beberapa menit sebelum suara mesin mobil terdengar dari depan rumah.
Sulastri berlari keluar.
“Ada mobil datang!”
Maya langsung menoleh.
Dua SUV hitam berhenti di depan rumah.
Empat laki-laki turun.
Di belakang mereka muncul sedan yang sama dari pemakaman.
Herlina keluar.
Kali ini ia tidak sendiri.
Bimo turun dari sisi lain mobil.
Maya menatap wajah adik iparnya.
Bimo tidak terlihat terkejut melihat Aditya.
Itulah bukti pertama yang Maya butuhkan.
Bimo sudah tahu.
“Kak,” katanya pelan.
Aditya langsung mundur.
Wajahnya pucat.
Tubuhnya mulai gemetar hebat.
“Jangan…”
Bimo mengangkat tangan.
“Tenang. Aku tidak akan melakukan apa-apa.”
“Jangan buang aku…”
Maya berdiri di depan Aditya.
“Jangan mendekat.”
Bimo tersenyum kecil.
“Maya, kamu tidak mengerti kondisinya. Kak Aditya mengalami gangguan otak. Dia bisa mengatakan apa saja.”
“Kamu bahkan belum memeriksanya, tapi sudah tahu dia mengalami gangguan otak?”
Senyum Bimo menghilang.
Herlina maju.
“Maya, pulanglah. Kita bisa membicarakan ini dengan baik.”
Maya menatap ibu mertuanya.
“Ibu tahu dia hidup?”
Herlina tidak menjawab.
“Ibu tahu?”
Suara Maya meninggi.
Herlina menutup mata.
“Awalnya tidak.”
Maya merasa dadanya seperti ditusuk.
“Awalnya?”
“Bimo menemukannya enam bulan setelah kecelakaan.”
Maya menoleh kepada Bimo.
“Kamu menemukannya?”
Bimo menghela napas.
“Aku mencoba melindungi perusahaan.”
“Dengan menyembunyikan kakakmu sendiri?”
“Dia tidak bisa memimpin perusahaan dalam kondisi seperti itu.”
“Lalu kenapa tidak membawanya pulang?”
Bimo mendadak berteriak.
“Karena dia akan menghancurkan semuanya!”
Semua orang terdiam.
Bimo sadar ia telah kehilangan kendali.
Namun sudah terlambat.
Maya memandangnya tajam.
“Apa yang akan dia hancurkan?”
Bimo diam.
Maya mengeluarkan ponsel dari tasnya.
“Teruskan.”
Bimo tertawa sinis.
“Kamu pikir merekam percakapan bisa menyelamatkanmu?”
Maya tidak menjawab.
Bimo melangkah maju.
“Samudra Pacific hampir bangkrut sebelum kecelakaan itu. Aditya menemukan bahwa salah satu direktur melakukan pengalihan dana menggunakan perusahaan cangkang.”
“Direktur itu kamu.”
Bimo menatap Maya.
“Dia mau melaporkanku.”
Herlina memejamkan mata.
Maya akhirnya memahami semuanya.
“Jadi kebakaran kapal itu bukan kecelakaan.”
Bimo tersenyum pahit.
“Aku hanya ingin menakutinya.”
“Dengan membakar kapal?”
“Api seharusnya muncul setelah dia turun.”
Suara lain terdengar dari belakang pagar.
“Bagian itu cukup jelas.”
Bimo menoleh.
Raka berdiri di sana bersama dua orang polisi berpakaian sipil.
Di tangan salah satu polisi terdapat kamera kecil yang terus merekam.
Wajah Bimo langsung berubah.
“Kalian tidak punya surat.”
Raka berjalan masuk.
“Untuk menangkapmu karena percobaan pembunuhan mungkin kami masih membutuhkan penyelidikan. Tapi untuk penggelapan, pemalsuan dokumen, dan manipulasi saham, kami sudah punya cukup.”
Ia mengangkat sebuah flashdisk.
“Aditya menitipkan salinan audit kepada saya dua hari sebelum kapalnya terbakar.”
Bimo pucat.
“Kenapa baru sekarang?”
“Karena tiga tahun lalu saya tidak punya saksi yang bisa membuktikan motif.”
Raka menatap Aditya.
“Sekarang saya punya.”
Herlina tiba-tiba terduduk di kursi teras.
Maya menatapnya.
“Ibu membantu Bimo?”
Air mata muncul di mata Herlina.
“Saya menemukan kebenarannya setahun setelah kejadian.”
“Lalu Ibu tetap diam.”
“Saya sudah kehilangan satu anak.”
Maya tertawa getir.
“Tidak. Ibu tidak kehilangan Aditya. Ibu memilih Bimo.”
Herlina menangis.
“Bimo bilang kalau Aditya kembali, dia akan masuk penjara. Saya takut keluarga ini hancur.”
“Keluarga ini hancur justru karena Ibu memilih kebohongan.”
Bimo tiba-tiba berbalik dan berlari menuju mobil.
Salah satu polisi mengejarnya.
Bimo berhasil membuka pintu, tetapi baru beberapa langkah mobil bergerak, sebuah kendaraan polisi lain menutup jalan.
Ia ditangkap tanpa perlawanan berarti.
Sebelum dibawa pergi, Bimo melihat Aditya.
“Kak!”
Aditya memandangnya.
Untuk pertama kalinya, ketakutan di wajahnya berubah menjadi sesuatu yang lain.
Ingatan.
“Bimo.”
Bimo berhenti.
Aditya memegang kepalanya.
Lalu suara seraknya terdengar.
“Kamu memukulku di kapal.”
Bimo membeku.
“Kamu bilang kalau aku mati, semua saham kembali ke keluarga.”
Maya melihat salah satu polisi menoleh cepat kepada rekannya.
Kesaksian itu direkam.
Herlina menangis semakin keras.
Namun Aditya tidak melihat ibunya.
Ia justru memandang Maya.
“Maya.”
Kali ini nama itu keluar lebih jelas.
Maya mendekat perlahan.
Aditya menatap wajahnya lama.
Kemudian tangannya terangkat ragu-ragu.
Ia menyentuh ujung rambut Maya.
“Aku pernah membeli payung kuning untukmu.”
Maya menangis sambil tertawa.
Itu adalah kenangan kecil yang tidak pernah diketahui siapa pun.
Payung murah yang dibeli Aditya saat mereka masih pacaran karena Maya kehujanan di depan kampus.
Maya akhirnya memegang tangannya.
“Ya.”
Aditya mengangguk perlahan.
“Aku ingat.”
Enam bulan berikutnya menjadi masa yang tidak mudah.
Aditya harus menjalani rehabilitasi neurologis dan terapi trauma.
Ingatan tentang masa lalu kembali sedikit demi sedikit, tetapi tidak sempurna.
Sementara itu, penyelidikan terhadap Bimo mengungkap sesuatu yang jauh lebih besar.
Kebakaran kapal ternyata direncanakan untuk menghancurkan dokumen audit asli yang dibawa Aditya.
Bimo telah mengalihkan dana perusahaan melalui beberapa perusahaan cangkang, lalu memanipulasi kondisi keuangan Samudra Pacific agar bank membekukan fasilitas kredit.
Tujuannya sederhana.
Membuat perusahaan terlihat hampir bangkrut, lalu memaksakan merger dengan PT Costa Lines.
Surya Wijaya ternyata terlibat.
Pernikahannya dengan Maya bukan soal cinta atau penyelamatan keluarga.
Perjanjian pranikah itu dirancang agar saham Maya dapat digunakan untuk mengesahkan pengambilalihan perusahaan.
Namun kejutan terbesar baru muncul ketika penyidik memeriksa rekening Herlina.
Tidak ada uang hasil kejahatan yang masuk ke sana.
Sebaliknya, selama satu tahun terakhir Herlina diam-diam membayar seseorang untuk menjaga Aditya dari jauh.
Ia memang mengetahui bahwa putranya hidup.
Ia memang menyembunyikannya dari Maya.
Tetapi bukan karena ingin Aditya mati.
Ia takut Bimo akan menemukan lokasi Aditya dan menyelesaikan apa yang gagal dilakukan tiga tahun sebelumnya.
Ketika Herlina mengetahui Maya bertemu Rizky di pemakaman, ia datang bukan untuk menculik anak itu.
Ia datang karena takut Bimo sudah mengetahui hal yang sama.
Kesalahannya tetap besar.
Ia memilih merahasiakan kebenaran dan menghancurkan reputasi Maya demi membeli waktu.
Dalam pemeriksaan, Herlina berkata sambil menangis, “Saya kira kalau semua orang percaya Maya gila, Bimo tidak akan pernah menganggap pencariannya serius.”
Maya mendengar penjelasan itu tanpa berkata apa-apa.
Ia akhirnya memahami alasan Herlina.
Namun memahami tidak sama dengan memaafkan.
Setahun setelah hari di pemakaman itu, makam kosong Aditya dibongkar.
Tidak ada upacara besar.
Hanya Maya, Aditya, Rizky, Sulastri, dan Raka yang datang.
Batu nisan diangkat.
Foto lama Aditya dilepas.
Aditya berdiri cukup lama memandang lubang kosong yang selama tiga tahun dianggap sebagai makamnya.
“Aneh,” katanya pelan.
“Apa?”
“Aku seperti melihat kehidupan orang lain.”
Maya menggenggam tangannya.
Di kejauhan, Rizky sedang makan wingko babat sambil berbicara dengan Sulastri.
Aditya tersenyum.
“Anak itu menyelamatkanku dua kali.”
Maya mengerutkan dahi.
“Dua kali?”
“Pertama, keluarganya menemukanku.”
“Yang kedua?”
Aditya melihat Maya.
“Dia membuatmu menemukanku.”
Maya tersenyum.
Sebelum meninggalkan pemakaman, ia mengambil map lama dari tasnya.
Map yang sama yang dibawanya pada hari bertemu Rizky.
Di dalamnya masih terdapat perjanjian pranikah dengan Surya.
Maya merobek dokumen itu menjadi dua.
Kemudian empat.
Lalu delapan.
Ia membuangnya ke tempat sampah di luar gerbang.
Aditya memperhatikannya.
“Itu apa?”
Maya menatapnya sambil tersenyum.
“Surat pernikahan yang tidak pernah terjadi.”
Aditya terdiam beberapa detik.
“Berarti selama aku hilang, ada orang lain yang mau menikahimu?”
Maya tertawa untuk pertama kalinya tanpa rasa berat di dada.
“Panjang ceritanya.”
Aditya mengangguk serius.
“Bagus.”
“Bagus?”
“Aku punya banyak waktu untuk mendengarnya.”
Mereka berjalan keluar dari pemakaman berdampingan.
Tiga tahun sebelumnya, Maya selalu datang ke tempat itu membawa bunga untuk seorang suami yang diyakini semua orang telah mati.
Hari itu, untuk pertama kalinya, ia meninggalkan pemakaman bersama pria yang selama ini namanya tertulis di batu nisan.
Orang-orang pernah menyebutnya gila karena menolak menerima kematian yang tidak bisa dibuktikan.
Pada akhirnya, Maya memahami bahwa terkadang kegilaan hanyalah nama yang diberikan orang lain kepada seseorang yang memilih tidak berhenti mencari kebenaran.
Dan satu-satunya hal yang benar-benar terkubur di makam kosong itu bukanlah Aditya.
Melainkan kebohongan yang selama tiga tahun membuat seluruh keluarga mereka hidup seperti orang mati.
