Selama dua puluh tiga hari setelah keluarga Wijaya diusir dari rumah Pondok Indah, Arya tidak pernah berhenti menyalahkan Siti.
Bukan dirinya.
Bukan Dimas.
Bukan keputusan-keputusan bisnis bodoh yang selama bertahun-tahun mereka tutupi dengan utang baru.
Bagi Arya, semua kehancuran itu hanya memiliki satu penyebab.
Istrinya yang akhirnya berani berkata tidak.
Arya, Kartika, dan Dinda pindah sementara ke apartemen servis di kawasan Kuningan. Porsche Arya ditarik perusahaan pembiayaan lima hari kemudian setelah jaminan pribadi Siti dicabut dan tunggakan lama muncul kembali dalam pemeriksaan.
Kartika yang biasanya menghabiskan pagi di salon premium mulai marah-marah karena kartu tambahannya tak lagi aktif.
Dinda yang terbiasa memamerkan tas baru di media sosial mulai menjual beberapa koleksi melalui akun anonim.
Tetapi pukulan terbesar justru terjadi di kantor.
Akuisisi senilai Rp520 miliar yang selama berbulan-bulan dibanggakan Arya akhirnya ditunda.
Investor meminta laporan keuangan tambahan.
Bank meminta klarifikasi atas posisi utang.
Salah satu kreditur bahkan mengirim auditor independen.
Di depan para karyawan, Arya tetap bertingkah seolah semuanya terkendali.
“Kita hanya mengalami gangguan administrasi sementara,” katanya dalam rapat direksi.
Namun di ruangannya sendiri, ia melempar gelas ke dinding.
“Cari cara untuk mengembalikan akses pendanaan itu!” bentaknya kepada Dimas.
Dimas duduk di seberang meja dengan wajah pucat.
“Tidak bisa semudah itu. Siti sudah mengunci seluruh jaminan yang berkaitan dengan perusahaan pengelola asetnya.”
“Kalau begitu cari celah!”
“Aku sedang mencoba.”
Arya menatapnya tajam.
“Kau direktur keuangan. Jangan bilang kau tidak bisa mengalahkan seorang akuntan.”
Kalimat itu membuat Dimas terdiam.
Karena dia tahu persis Siti bukan sekadar akuntan.
Dan lebih buruk lagi, ada satu hal yang tidak boleh sampai ditemukan Siti.
Sementara itu, Siti menyewa sebuah apartemen sederhana di Kebayoran Baru.
Ia menolak tawaran pengacaranya untuk tinggal di hotel mewah.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia justru menikmati keheningan.
Tidak ada suara Kartika memerintah pelayan.
Tidak ada Dinda mengambil barang-barangnya tanpa izin.
Tidak ada Arya yang masuk ke kamar sambil membicarakan rapat, investasi, citra, dan keuntungan seolah kehidupan Siti hanya salah satu aksesori dalam kariernya.
Setiap pagi, Siti membuat kopi sendiri.
Lalu ia membuka laptop dan mulai memeriksa dokumen.
Bukan untuk menghancurkan Arya.
Setidaknya bukan itu tujuannya.
Siti ingin memastikan bahwa namanya tidak lagi terikat pada kewajiban apa pun yang bisa menyeretnya ketika perusahaan Wijaya benar-benar jatuh.
Hari ke-24, pukul 01.17 dini hari, Siti menemukan sesuatu.
Awalnya hanya angka kecil yang tidak konsisten.
Sebuah pembayaran Rp2,4 miliar dicatat sebagai biaya konsultasi proyek logistik.
Penerimanya bernama PT Mandala Strategi Nusantara.
Siti mengernyit.
Nama perusahaan itu terasa asing.
Ia mencari dokumen pendukung.
Kontrak ada.
Faktur ada.
Bukti transfer ada.
Sekilas semuanya normal.
Tetapi tidak ada laporan pekerjaan.
Tidak ada korespondensi proyek.
Tidak ada nama konsultan.
Tidak ada hasil studi.
Siti membuka laporan tahun sebelumnya.
Ada pembayaran lain.
Rp1,8 miliar.
Tahun sebelumnya lagi, Rp1,3 miliar.
Ia mulai menyusun pola.
Dalam empat tahun, lebih dari Rp7 miliar telah mengalir ke perusahaan yang sama.

Siti memasukkan nama PT Mandala Strategi Nusantara ke dalam basis data korporasi yang biasa digunakannya untuk pekerjaan forensik.
Beberapa menit kemudian, layar menampilkan struktur kepemilikan.
Direktur perusahaan tersebut adalah seorang pria bernama Surya Mahendra.
Pemegang saham mayoritasnya sebuah perusahaan investasi kecil.
Namun ketika Siti menelusuri lapisan berikutnya, napasnya tertahan.
Pemilik manfaat akhirnya adalah Dimas Pranoto.
Direktur keuangan perusahaan keluarga Wijaya.
Siti bersandar ke kursi.
Itu belum cukup untuk membuktikan kejahatan.
Konflik kepentingan memang serius, tetapi bisa saja ada penjelasan.
Ia kemudian memeriksa waktu transaksi.
Hampir semua transfer dilakukan dua atau tiga hari sebelum laporan arus kas menunjukkan perusahaan membutuhkan tambahan pendanaan.
Siti mengambil kalkulator.
Angkanya mulai berbicara.
Dimas tidak hanya menerima uang dari perusahaan.
Ia membuat perusahaan tampak kekurangan kas.
Kekurangan itu kemudian ditutup menggunakan fasilitas dana yang selama ini dijamin oleh aset Siti.
Dengan kata lain, sebagian uang yang mengalir kepada perusahaan milik Dimas secara tidak langsung berasal dari perlindungan keuangan yang disediakan Siti.
Tangannya terasa dingin.
Namun temuan berikutnya jauh lebih buruk.
Di antara folder lama, Siti menemukan sebuah file dengan nama generik: Revisi Proyeksi Akuisisi.
File itu dilindungi kata sandi.
Ia tidak mencoba membobolnya.
Siti menghubungi pengacaranya.
Besok paginya, melalui prosedur legal dan salinan data perusahaan yang secara sah masih menjadi bagian dari dokumentasi yang pernah ia kelola, tim audit independen mulai memeriksa berkas tersebut.
Dua hari kemudian, pengacara Siti menelepon.
“Kami menemukan sesuatu yang mungkin mengubah semuanya.”
“Apa?”
“Transaksi ke PT Mandala bukan satu-satunya.”
Siti terdiam.
“Dimas menggunakan sedikitnya empat perusahaan perantara. Nilainya jauh lebih besar daripada yang pertama kita lihat.”
“Berapa?”
“Sekitar tiga puluh enam miliar rupiah dalam lima tahun.”
Siti menutup mata.
“Apakah Arya tahu?”
“Itu yang belum jelas.”
Siti tidak langsung membawa temuannya ke polisi.
Ia tahu tuduhan tanpa fondasi yang kuat justru akan memberi kesempatan kepada Dimas untuk menghancurkan bukti.
Sebaliknya, pengacaranya mengirimkan hasil awal kepada auditor independen perusahaan dan bank yang sedang meninjau fasilitas kredit.
Tiga hari kemudian, keadaan di kantor Wijaya berubah menjadi kekacauan.
Dimas mengetahui audit internal diperluas.
Ia masuk ke ruangan Arya dan mengunci pintu.
“Kita harus menghentikan auditor itu.”
Arya menatapnya.
“Kenapa?”
“Mereka terlalu jauh.”
“Apa maksudmu terlalu jauh?”
Dimas tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, Arya melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat di wajah sepupunya itu.
Ketakutan.
Arya berdiri perlahan.
“Kau melakukan apa?”
Dimas berjalan mondar-mandir.
“Aku cuma mengatur beberapa transaksi.”
“Transaksi apa?”
“Untuk menjaga perusahaan.”
“Jangan bicara seperti pengacara. Jelaskan.”
Dimas menatap Arya.
“Selama bertahun-tahun perusahaan tidak pernah sekuat yang kau kira.”
Arya membeku.
“Apa?”
“Kita selalu kekurangan kas.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Maksudku jauh sebelum masalah sekarang.”
Dimas membuka laptopnya dan memperlihatkan beberapa laporan.
“Beberapa proyek yang kau banggakan sebenarnya merugi. Aku pindahkan biaya, atur pembayaran, dan menutup lubang supaya rasio perusahaan tetap terlihat sehat.”
Wajah Arya berubah.
“Dengan mencuri uang?”
“Aku tidak mencuri semuanya!”
Jawaban itu justru membuat suasana semakin dingin.
Arya menatap Dimas lama sekali.
“Berapa?”
Dimas tidak menjawab.
“BERAPA?”
“Tiga puluh enam miliar.”
Arya menghantam meja.
“Kau gila!”
“Aku melakukan sebagian untuk perusahaan!”
“Dan sisanya?”
Dimas diam.
Arya akhirnya memahami sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan Porsche atau rumah.
Orang yang selama ini dianggapnya sebagai tangan kanan ternyata telah menggunakan bisnis keluarga sebagai mesin pribadi.
Namun kesadaran itu datang terlambat.
Keesokan harinya, bank membekukan fasilitas baru.
Dua investor utama mundur dari proses akuisisi.
Auditor kemudian menemukan bahwa beberapa laporan internal telah dimanipulasi untuk menyembunyikan transaksi pihak terafiliasi.
Rapat pemegang saham luar biasa dipanggil.
Arya datang dengan jas gelap dan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua.
Kartika menunggu di luar gedung sambil terus menelepon kenalan keluarga.
Dinda bahkan tidak datang.
Siti hadir bersama pengacaranya.
Ia duduk di ujung meja.
Tidak ada senyum kemenangan di wajahnya.
Arya memperhatikannya sejak awal.
Beberapa minggu sebelumnya, perempuan itu dipaksa mengambil kue dari lantai di depan keluarganya.
Sekarang semua orang di ruangan menunggu Siti berbicara.
Ketua rapat membuka dokumen.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan independen, perusahaan menghadapi pelanggaran tata kelola serius, transaksi tidak diungkapkan, dan risiko gagal memenuhi kewajiban.”
Arya menunduk.
“Direktur keuangan telah dinonaktifkan sementara menunggu proses hukum.”
Dimas yang duduk beberapa kursi di belakang Arya menatap meja.
“Selanjutnya,” lanjut ketua rapat, “karena kondisi likuiditas dan pelanggaran beberapa ketentuan pembiayaan, pihak kreditur memiliki hak untuk menjalankan mekanisme restrukturisasi.”
Arya mengangkat kepala.
“Restrukturisasi seperti apa?”
Pengacara Siti menjawab.
“Konversi sebagian kewajiban menjadi kepemilikan.”
Ruangan menjadi sunyi.
Arya menatap Siti.
“Tidak.”
Siti tidak menjawab.
Pengacara membuka halaman berikutnya.
“Perusahaan pengelola aset milik Ibu Siti adalah kreditur terbesar yang masih memiliki posisi terjamin.”
Wajah Arya langsung berubah.
“Kau sudah merencanakan ini.”
Siti akhirnya berbicara.
“Tidak.”
“Kau bohong.”
“Kalau aku merencanakannya, aku tidak akan membiarkan perusahaanmu menggunakan jaminanku selama lima tahun.”
Arya terdiam.
Siti menatapnya tanpa amarah.
“Yang membuat perusahaan ini sampai ke titik ini bukan satu klausul. Bukan aku. Tapi kebiasaan kalian menganggap uang yang menyelamatkan kalian sebagai sesuatu yang otomatis menjadi milik kalian.”
Arya mengepalkan rahang.
“Jadi sekarang kau akan mengambil perusahaan keluargaku?”
Siti menarik napas.
“Aku akan mengambil kendali sementara supaya perusahaan tidak bangkrut dan ratusan karyawan tidak kehilangan pekerjaan karena kesalahan empat orang.”
Kalimat terakhir terasa seperti tamparan.
Beberapa minggu kemudian, restrukturisasi resmi dilakukan.
Dimas dicopot dari jabatan dan menghadapi proses hukum atas transaksi yang sedang diperiksa.
Arya kehilangan posisi direktur utama.
Ia masih memiliki sebagian kecil saham warisan keluarga, tetapi tidak lagi memiliki kontrol.
Kartika menjual sebagian aset pribadinya untuk melunasi kewajiban yang selama ini ia kira akan selalu ditanggung Arya.
Dinda menghapus hampir seluruh unggahan glamornya dari media sosial.
Namun perubahan paling mengejutkan justru dilakukan Siti.
Pada hari pertamanya sebagai ketua komite restrukturisasi, ia mengumpulkan para manajer perusahaan.
Sebagian dari mereka terlihat takut.
Mereka mengira istri mantan direktur utama itu datang untuk membalas dendam.
Siti berdiri di depan ruangan.
“Tidak ada pemecatan massal.”
Beberapa orang saling memandang.
“Karyawan yang tidak terlibat dalam manipulasi tidak akan dihukum karena kesalahan manajemen.”
Siti kemudian membatalkan beberapa fasilitas mewah direksi, menjual dua kendaraan perusahaan, menutup satu kantor representatif yang tidak produktif, dan mengalihkan anggarannya untuk membayar vendor kecil yang tagihannya telah tertunda berbulan-bulan.
Perusahaan perlahan stabil.
Tiga bulan kemudian, Siti akhirnya bertemu Arya lagi.
Bukan di restoran mewah.
Bukan di rumah besar.
Mereka bertemu di kantor pengacara untuk menyelesaikan perceraian.
Arya terlihat berbeda.
Tidak ada jam tangan mahal.
Tidak ada sopir.
Ia datang sendiri.
Setelah dokumen selesai ditandatangani, Arya tidak langsung berdiri.
“Siti.”
Siti menoleh.
“Aku mau tanya sesuatu.”
“Apa?”
“Kenapa malam itu kamu tidak melawanku?”
Siti terdiam sejenak.
“Waktu kue itu jatuh?”
Arya mengangguk.
“Kau bisa berteriak. Bisa menamparku. Bisa mempermalukanku di depan semua orang.”
Siti menatapnya.
“Karena saat itu aku akhirnya mengerti bahwa aku tidak perlu menang dalam ruangan itu.”
Arya mengerutkan kening.
Siti melanjutkan.
“Aku hanya perlu keluar.”
Arya menundukkan pandangan.
Beberapa detik kemudian ia berkata pelan, “Aku benar-benar mengira semua yang kita punya adalah hasil kerjaku.”
“Memang ada hasil kerjamu di sana.”
Arya terlihat terkejut.
“Tapi kesalahanmu adalah mengira kontribusi orang lain membuatmu menjadi lebih kecil.”
Siti berdiri dan mengambil tasnya.
Sebelum pergi, ia meletakkan satu amplop kecil di atas meja.
Arya membukanya setelah Siti keluar.
Di dalamnya bukan tagihan.
Bukan tuntutan hukum.
Bukan daftar aset.
Hanya sebuah foto lama.
Foto ketika mereka baru menikah.
Arya masih bekerja dari ruko kecil.
Siti duduk di sampingnya sambil memegang kalkulator.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan Siti yang dibuat bertahun-tahun sebelumnya.
Kita tidak harus kaya. Yang penting jangan kehilangan diri sendiri saat mengejarnya.
Arya duduk sendirian cukup lama.
Enam bulan kemudian, perusahaan Wijaya berganti nama.
Bukan menjadi perusahaan Siti.
Siti justru menghapus nama keluarga mana pun dari papan depan kantor.
Nama baru itu adalah Arunika Logistics Indonesia.
Para wartawan sempat bertanya mengapa ia tidak menggunakan kesempatan tersebut untuk menaruh namanya sendiri.
Siti hanya menjawab singkat.
“Perusahaan yang sehat tidak membutuhkan nama seseorang untuk terlihat besar.”
Pada ulang tahunnya yang ke-36, Siti tidak mengadakan pesta.
Ia pulang sedikit lebih awal, membeli kue vanila kecil dari toko dekat apartemennya, lalu duduk di balkon sendirian.
Untuk beberapa detik, ia menatap krim putih di atas kue itu.
Ingatan tentang lantai restoran Senopati masih ada.
Suara Arya.
Tawa Kartika.
Ponsel Dinda.
Senyum Dimas.
Semua masih tersimpan jelas.
Namun kali ini Siti tidak merasa malu.
Ia memotong sepotong kecil kue, meletakkannya di piring, lalu memakannya perlahan.
Bukan dari lantai.
Bukan karena diperintah.
Bukan untuk menyenangkan siapa pun.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Siti merayakan ulang tahunnya dengan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada rumah, mobil, kartu kredit, atau perusahaan senilai ratusan miliar rupiah.
Kebebasan untuk menentukan harga dirinya sendiri.
